Kelayakan Fisik Pengembangan Ekowisata Kawasan Pasca Tambang
Abstract
Abstract. Kaolin Lake Kolong Murai, also known as Blue Kaolin Lake in Belitung, is a post-mining area covering 5 hectares out of a total 66 hectares of active mining land that has now been repurposed as a tourist attraction. Despite its strategic location, the tourist appeal of this area remains underdeveloped due to limited management. As part of a post-mining reclamation area, the development of this site requires a conservative approach, with ecotourism being a viable option for further development. The physical feasibility of ecotourism development was evaluated by analyzing the environmental carrying capacity using the Cifuentes (1992) method, which includes physical carrying capacity (PCC), real carrying capacity (RCC), and effective carrying capacity (ECC). The analysis results showed that PCC > RCC > ECC, indicating that the environmental carrying capacity is still in good condition. With an average of 25 visitors per day during peak hours, the area has the capacity to accommodate up to 4,150 visitors per day, making it suitable for further development. This evaluation highlights the importance of developing the area to increase tourist numbers and ensure that the actual capacity aligns with existing conditions at the Blue Kaolin Lake tourist site.
Abstrak. Danau Kaolin Kolong Murai, atau dikenal juga sebagai Danau Biru Kaolin di Belitung, merupakan area pascatambang seluas 5 hektar dari total lahan tambang aktif seluas 66 hektar yang kini beralih fungsi menjadi objek wisata. Meskipun lokasinya strategis, daya tarik wisata di kawasan ini masih kurang berkembang karena keterbatasan pengelolaan. Sebagai bagian dari kawasan reklamasi pascatambang, pengembangan kawasan ini memerlukan pendekatan yang konservatif, dan ekowisata menjadi opsi yang layak untuk dikembangkan. Evaluasi kelayakan fisik pengembangan ekowisata dilakukan dengan menganalisis daya dukung lingkungan menggunakan metode Cifuentes (1992), yang meliputi daya dukung fisik (PCC), riil (RCC), dan efektif (ECC). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai PCC>RCC>ECC, menandakan bahwa daya dukung lingkungan masih dalam kondisi baik. Dengan rata-rata 25 pengunjung per hari pada jam padat, kawasan ini memiliki kapasitas untuk menampung hingga 4.150 pengunjung per hari, sehingga masih layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Hasil evaluasi ini menegaskan pentingnya pengembangan kawasan dalam rangka meningkatkan jumlah wisatawan dan memastikan kapasitas aktual yang sesuai dengan kondisi eksisting di objek wisata Danau Biru Kaolin.
References
Amanda, F., & Akliyah, L. S. (2022). Analisis Kondisi Kelayakan Wisata Oray Tapa berdasarkan Komponen Pariwisata. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 17–22. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v2i1.755
Aryanto, T., Purnaweni, H., & Soeprobowati, T. R. (2017). Daya Dukung Jalur Pendakian Bukit Raya Di Taman Nasional Bukit Baka Raya Kalimantan Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 14(2). https://doi.org/10.14710/jil.14.2.72-76
Lucyanti, S., Hendrarto, B., & Izzati, M. (2013). Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan.
Mafliyanti, F. F. (2019). Pola Spasial Atraksi Wisata Dan Fasilitas Penunjang Pariwisata Di Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung. Seminar Nasional Geomatika, 3, 457. https://doi.org/10.24895/SNG.2018.3-0.986
Marcelina, S. D., Febryano, I. G., Setiawan, A., & Yuwono, S. B. (2018). PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP FASILITAS WISATA DI PUSAT LATIHAN GAJAH TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS. Jurnal Belantara, 1(2). https://doi.org/10.29303/jbl.v1i2.60
Mas’ud, M. Z., & Rochman, G. P. (2022). Kohesi Sosial dalam Pengembangan Wisata Budaya: Studi terhadap Generasi Muda Kota Cirebon. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 177–184. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v2i2.1405
Mayaning Sari, N. K., Wahyuningsih, E., & Webliana B, K. (2022). Daya Dukung Wisata Alam Air Terjun Segenter Di Taman Hutan Raya Nuraksa, Kabupaten Lombok Barat. Journal of Forest Science Avicennia, 5(2), 125–136. https://doi.org/10.22219/avicennia.v5i1.21422
Munir, M., & Setyowati. (2017). Kajian Reklamasi Lahan Pasca Tambang Di Jambi, Bangka, Dan Kalimantan Selatan. 1(1), 11–16.
Sriwijaya, & Asyiawati, Y. (2022). Evaluasi Pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman Eksisting Berdasarkan Daya Dukung dan Daya Tampung Lahan di Kecamatan Rancaekek. Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning, 3, 85–95. https://doi.org/10.29313/bcsurp.v3i1.6844
Wiwin Yuli Astari, & Gina Puspitasari Rochman. (2023). Hubungan Timbal Balik antar Aktor dalam Pengembangan Wisata Budaya Keraton Kota Cirebon. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 47–54. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v3i1.1950
Yeoman, J. (2001). Ecotourism and Sustainable Development. Who Owns Paradise? Tourism Management, 22(2), 206–208. https://doi.org/10.1016/S0261-5177(00)00045-5
Yoeti, O. A. (2008). Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata.
Yulianda, F. (2019). Ekowisata Perairan.
Zulia, M., Supratman, O., & Puspita Sari, S. (2019). KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA MANGROVE DI DESA KURAU DAN DESA KURAU BARAT KABUPATEN BANGKA TENGAH Suitability and Carrying Capacity of Mangrove Ecotourism in Kurau Village and West Kurau Village of Central Bangka Regency. 13.