Pengujian Hipotesis Pengaruh Penggunaan Lahan terhadap Kualitas Udara

  • Indah Nur Azizah Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung
  • Hilwati Hindersah Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung
Keywords: Pengaruh, Kualitas Udara, Parameter Polutan

Abstract

Abstract. Air is an important factor in life, but its quality has changed due to the physical development of cities such as industrial centres and settlements, so that the air that was initially clean is now dirty due to pollution from human activities such as transportation and industry According to the United States Environmental Protection Agency, air pollution contains harmful substances such as particulates, gases, vapours, dust, and smoke coming from vehicles, factories, and other human activities The city of Bandung consists of 8 sub-regions, and this study focuses on SWK Bojonegara because of its diverse land uses and proximity to the city centre, which leads to high mobilisation and pollutionKeywords: Land use, air quality, pollutant parameters. Deforesta tion and urbanisation in the region reduce natural carbon sequestration, whilst Bandung's mountainous morphology exacerbates air pollution containment Air quality monitoring is important for pollution control, and the test results are compared to ambient air quality standards In this study, the bivariate method was used to explore the relationship between land use and air quality, with quantitative analysis comparing pollutant parameters and qualitative analysis through interviews with related agencies The air quality index method is used to determine the condition of pollutants, regulated in Government Regulation number 41 of 1999, and multiple linear regression analysis shows the influence of land use on air quality, with results varying from strong (Codan NO2) to weak (TSP, PM25). Therefore, the development of stricter environmental policies and support for clean technology is needed to improve air quality and land use management in the city of Bandung

Abstrak. Udara merupakan faktor penting dalam kehidupan, namun kualitasnya mengalami perubahan akibat perkembangan fisik kota seperti pusat industri dan permukiman, sehingga udara yang awalnya bersih kini menjadi kotor akibat pencemaran dari aktivitas manusia seperti transportasi dan industri. Menurut United States Environmental Protection Agency, polusi udara mengandung zat berbahaya seperti partikulat, gas, uap, debu, dan asap yang berasal dari kendaraan, pabrik, dan aktivitas manusia lainnya. Kota Bandung terdiri dari 8 sub-wilayah, dan penelitian ini berfokus pada SWK Bojonegara karena beragam penggunaan lahannya dan kedekatannya dengan pusat kota, yang menyebabkan tingginya mobilisasi dan polusi. Deforestasi dan urbanisasi di kawasan ini mengurangi penyerapan karbon alami, sementara morfologi Bandung yang dikelilingi pegunungan memperburuk penahanan polusi udara. Pemantauan kualitas udara penting untuk pengendalian pencemaran, dan hasil pengujian dibandingkan dengan baku mutu udara ambien. Dalam penelitian ini, metode bivariat digunakan untuk mengeksplorasi pengaruh antara penggunaan lahan dan kualitas udara, dengan analisis kuantitatif membandingkan parameter polutan dan analisis kualitatif melalui wawancara dengan instansi terkait. Metode indeks kualitas udara digunakan untuk mengetahui kondisi polutan, diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1999, dan analisis regresi linier berganda menunjukkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kualitas udara, dengan hasil yang bervariasi dari pengaruh kuat (CO dan NO2) hingga lemah (TSP, PM2.5). Oleh karena itu, pengembangan kebijakan lingkungan yang lebih ketat dan dukungan teknologi bersih diperlukan untuk meningkatkan kualitas udara dan pengelolaan penggunaan lahan di Kota Bandung.

References

D. Rosseana, H.Hindersah. "Kajian Konsep Infrastruktur Hijau untuk Menurunkan Suhu Udara di Kawasan Teknopolis SWK Gedebage" Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.3, no.2, pp. 569-576, 2023, doi: https://doi.org/10.29313/bcsurp.v3i2.8693.

S. Nugraha, H. Hindersah, and I. Fardani, “Kajian Penggunaan Green Infrastruktur dalam Upaya Penurunan Suhu Permukaan di Wilayah SWK Tegalega,” Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota, vol. 1, no. 1, pp. 62–71, 2021, doi: 10.29313/jrpwk.v1i1.150.Durianto D. Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama; 2001.

I. Fardani and M. R. Yosliansyah, “Kajian Penentuan Prioritas Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Fenomena Urban Heat Island Di Kota Cirebon,” Jurnal Sains Informasi Geografi, vol. 5, no. 2, p. 93, 2022, doi: 10.31314/jsig.v5i2.1708.

DLH Kota Bandung. 2022. Hasil pengukuran parameter pengukuran polutan tahun 2022. Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Bandung.

Soedomo, M. (2001). Pencemaran udara (kumpulan karya ilmiah). ITB, Jl.Ganesha 10, Bandung-40132.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 22 tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 41 tahun 1999. Pengendalian Pencemaran Udara.

Firdaus, H. S., & Nasrudin Usman, D. (2022). Pengaruh Perubahan Curah Hujan dan Perubahan Tutupan Lahan terhadap Bencana Longsor berdasarkan Analisis Spasial. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 1(2), 159–166. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v1i2.480.

Nurhasan, A. U., & Damayanti, V. (2022). Evaluasi Fungsi Ekologis Taman Kota dalam Upaya Peningkatan Kualitas Ruang Perkotaan. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 1(2), 149–158. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v1i2.479.

Wijayakusuma, B. (2023). Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Daerah Resapan Air Kecamatan Cimenyan. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 29–38. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v3i1.1929.

Published
2024-08-14