Perkembangan Wilayah Peri-Urban Kota Bandung Bagian Selatan
Abstract
Abstract. The rapid development of the Bandung City area as the center of the Bandung Metropolitan Area has led to the expansion of the urban area into the outskirts. The peri-urban areas affected by the development of Bandung City include Dayeuhkolot District, Bojongsoang District, Baleendah District, Pameungpeuk District, Banjaran District, and Arjasari District, which are located in the southern part of Bandung City. Development must be aimed at achieving growth, equity, and sustainability. As a result, this rapid development can have both positive and negative impacts on spatial planning. This study aims to map the development of the peri-urban areas in the southern part of Bandung City, specifically in the Bandung-Banjaran Corridor. The analytical method used in this study is spatial analysis, including built-up area analysis and overlay. Based on the study results, the zoning development of the peri-urban area in Dayeuhkolot District falls into the zobikot category, while Banjaran District, Pameungpeuk District, Baleendah District, and Bojongsoang District fall into the zobidekot category. The influence of this development has led to spatial deviations that occurred in 2023, with identified deviations in built-up land covering an area of 958.14 hectares (4.86%).
Abstrak. Pesatnya perkembangan wilayah Kota Bandung sebagai pusat Kawasan Metropolitan Bandung mengakibatkan perkembangan wilayah meluas ke wilayah pinggiran. Wilayah peri-urban yang terdampak oleh perkembangan Kota Bandung diantaranya Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Bojongsoang, Kecamatan Baleendah, Kecamatan Pameungpeuk, Kecamatan Banjaran, dan Kecamatan Arjasari yang terletak di bagian selatan Kota Bandung. Perkembangan pembangunan mesti ditujukan pada terjadinya pertumbuhan, pemerataan, dan keberlanjutan. Akibatnya perkembangannya yang pesat dapat berdampak positif dan negatif terhadap rencana tata ruang. Studi ini bertujuan untuk memetakan perkembangan wilayah peri-urban Kota Bandung bagian selatan khususnya di Koridor Kota Bandung – Banjaran. Metode analisis yang dilakukan dalam studi ini adalah analisis spasial berupa built up area dan overlay. Berdasarkan hasil studi, perkembangan zonasi wilayah peri-urban untuk Kecamatan Dayeuhkolot pada kategori zobikot, sedangkan Kecamatan Banjaran, Kecamatan Pameungpeuk, Kecamatan Baleendah dan Kecamatan Bojongsoang pada kategori zobidekot. Dari pengaruh perkembangan tersebut berdampak pada terjadinya peyimpangan ruang yang terjadi pada tahun 2023, berdasarkan hasil identifikasi perkembangan lahan terbangun mengalami penyimpangan seluas 958,14 (4,86%).
References
Noviyanti, Dian, Andrea Emma Pravitasari, dan Sahara Sahara. 2020. “Analisis Perkembangan Wilayah Provinsi Jawa Barat Untuk Arahan Pembangunan Berbasis Wilayah Pengembangan.” Jurnal Geografi 12(01): 280. doi:10.24114/jg.v12i01.14799.
Mardiansjah, Fadjar Hari, Wiwandari Handayani, dan Jawoto Sih Setyono. 2018. “Pertumbuhan Penduduk Perkotaan dan Perkembangan Pola Distribusinya pada Kawasan Metropolitan Surakarta.” Jurnal Wilayah dan Lingkungan 6(3): 215. doi:10.14710/jwl.6.3.215-233.
Oroh A, Kumurur VA, Fela W. Analisis Karakteristik Wilayah Peri Urban Berdasarkan Aspek Fisik Di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Jurnal Spasial [Internet]. 2019;6(2).
Yunus HS. Dinamika Wilayah Peri-Urban Determinan Masa Depan Kota. 1 ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2008. 486 hlm.
Brenner, Neil. 2014. Implosions / Explosions: Towards a Study of Planetary Urbanization.
Firman, Tommy, dan Ida Ayu Indira Dharmapatni. 1995. “The Emergence Of Extended Metropolitan Regions In Indonesia: Jabotabek And Bandung Metropolitan Area.” Review of Urban & Regional Development Studies 7(2): 167–88. doi:10.1111/j.1467-940X.1995.tb00069.x.
Puspita IY, Kurniati AC, Sujarto D, Babarsari J. Identifikasi Preferensi Bermukim Masyarakat Di Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY). 2020;1(1):11.
Samat N, Mahamud MA, Tan ML, Maghsoodi Tilaki MJ, Tew YL. Modelling Land Cover Changes in Peri-Urban Areas: A Case Study of George Town Conurbation, Malaysia. Land. 5 Oktober 2020;9(10):373.
Haifa Aulia Shoobiha Dananjaya, & Fachmy Sugih Pradifta. (2023). Identifikasi Urban Loneliness pada Pengunjung Kiara Artha Park. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 167–174. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v3i2.2763
Yolanda, W., & Djoeffan, S. H. (2022). Pengaruh Urban Sprawl terhadap Kondisi Fisik Kota. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 119–128. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v2i2.1276
Prayogi, W. A., Asyiawati, Y., & Nasrudin, D. (2021). Kajian Kerentanan Pantai terhadap Pengembangan Wilayah Pesisir Pangandaran. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 1(2), 89–98. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v1i2.370