Resistensi Pedagang Kaki Lima di Jl. Ahmad Yani dan Jl. Cikuray pada Kebijakan Relokasi ke Gedung PKL Intan Medina Kabupaten Garut

  • Ferdian Hilmi Riswandi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung
  • Verry Damayanti Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung
Keywords: Resistensi, Pedagang Kaki Lima, Relokasi

Abstract

Abstract. Garut Regency is one of the areas with a fairly high development of the number of street vendors, especially in Garut Kota District, resulting in irregular traffic, both vehicle movements on the road body and pedestrian movements on pedestrian paths and reduced urbanaesthetic value so that it seems shabby. Efforts to organize and regulate street vendors carried out by the Garut Regency Government are by relocating street vendors, especially those in the red zone, especially on Jl. Ahmad Yani and Jl. Cikuray to the Intan Medina PKL Building in 2015. The Intan Medina PKL Building, which was originally planned as a street vendors relocation location, in fact until 2023 the building has not functioned optimally and is abandoned. The relocation policy carried out by the Garut Regency Government is considered to reduce the opportunities and income of street vendors so that resistance occurs. This study aims to identify the forms and causes of street vendors resistance on Jl. Ahmad Yani and Jl. Cikuray to the relocation policy to the Intan Medina PKL Building. The approach method in this study is descriptive research with a qualitative approach. The research method involved field observations and in-depth interviews with street vendors and related policy stakeholders. The forms of resistance of street vendors vary, ranging from open resistance or rejection such as demonstrations, installation of rejection banners and closed resistance such as pretending not to know and still selling at the initial location. The causes of resistance of street vendors include relocation locations far from crowds, long adaptation times, fears of losing buyers, and declining income of traders.

Abstrak. Kabupaten Garut menjadi salah satu wilayah dengan perkembangan jumlah PKL yang cukup tinggi khususnya di Kecamatan Garut Kota sehingga mengakibatkan lalu lintas yang menjadi tidak teratur baik pergerakan kendaraan di badan jalan maupun pergerakan pejalan kaki di jalur pedestrian dan berkurangnya nilai estetika perkotaan sehingga terkesan kumuh. Upaya penataan dan penertiban PKL yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Garut yaitu dengan kebijakan merelokasi PKL terutama yang berada di zona merah khususnya di Jl. Ahmad Yani dan Jl. Cikuray ke Gedung PKL Intan Medina pada tahun 2015. Gedung PKL Intan Medina yang pada awalnya direncanakan sebagai lokasi relokasi PKL pada kenyataannya hingga tahun 2023 gedung tersebut belum berfungsi secara optimal dan terbengkalai. Kebijakan relokasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Garut dianggap menurunkan peluang dan pendapatan para PKL sehingga terjadinya resistensi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk dan penyebab resistensi PKL di Jl. Ahmad Yani dan Jl. Cikuray Terhadap kebijakan relokasi ke Gedung PKL Intan Medina. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian melibatkan observasi lapangan dan wawancara mandalam terhadap pedagang kaki lima dan pemangku kebijakan terkait. Bentuk resistensi para pedagang kaki lima beragam, mulai dari resistensi atau penolakan terbuka seperti demonstrasi, pemasangan spanduk penolakan serta resistensi tertutup seperti pura-pura tidak tahu dan tetap berjualan di lokasi awal. Penyebab resistensi para pedagang kaki lima diantaranya meliputi lokasi relokasi yang jauh dari keramaian, waktu adaptasi yang lama, kekhawatiran kehilangan pembeli, serta menurunnya pendapatan para pedagang.

References

Alisjahbana. (2005). Sisi Gelap Perkembangan Kota Resistensi Sektor Informal dalam Persfektif Sosiologis. Laksbang Pressindo.

Amis, P. (2016). Symbolic politics, legalism and implementation: the case of street vendors in India. Commonwealth Journal of Local Governance, 18, 36–47. https://doi.org/10.5130/cjlg.v0i18.4841

Andreasmi, S., & Utomo, B. (2018). Resistensi Pedagang Terhadap Relokasi Pasar Tradisional Di Kelurahan Mariana Kecamatan Banyuasin 1 Kabupaten Banyuasin. JURNAL SWARNABHUMI : Jurnal Geografi Dan Pembelajaran Geografi, 3(2), 130. https://doi.org/10.31851/swarnabhumi.v3i2.2604

Damayanti, V. (2019). Potensi Pengembangan Infrastruktur Hijau dalam Upaya Mewujudkan Cimahi sebagai Kota Hijau Berkelanjutan. ETHOS (Jurnal Penelitian Dan Pengabdian), 7(2), 233–243. https://doi.org/10.29313/ethos.v7i2.4560

Dhea Viranti Alaydrus, & Ina Helena Agustina. (2022). Kepuasan Pengendara Motor Terhadap Penggunaan Smart system parking di Ruas Jalan Braga, Kota Bandung. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 54–60. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v2i1.928

Ghani, H. (2019). Tak Mau Pindah Jualan, PKL Demo di Lokasi Pelantikan DPRD Garut. Detiknews. https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4663982/tak-mau-pindah-jualan-pkl-demo-di-lokasi-pelantikan-dprd-garut

Muhammad Fakhriza, & Ira Safitri Darwin. (2023). Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kenyamanan Berjalan Kaki di Jalan Otto Iskandardinata Bandung. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 91–96. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v3i2.2646

Muhammad Vino Fahlen, & Weishaguna. (2022). Studi Kinerja Walkability Jalur Pejalan Kaki. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah Dan Kota, 69–75. https://doi.org/10.29313/jrpwk.v2i1.930

Mustafa, A. I. (2008). Model transformasi sosial sektor informal : sejarah, teori, dan praksis pedagang kaki lima. In-Trans Publishing.

Pasciana, R., Pundenswari, P., & Sadrina, G. (2019). Relokasi Pedagang Kaki Lima (Pkl) Untuk Memperindah Kota Garut. Kolaborasi : Jurnal Administrasi Publik, 5(3), 288–303. https://doi.org/10.26618/kjap.v5i3.2649

Sagir, S. (1989). Membangun manusia karya: masalah ketenagakerjaan dan pengembangan sumber daya manusia. Pustaka Sinar Harapan, 1989

Published
2024-08-12