Analisis Maqashid Syariah terhadap Regulasi Cryptocurrency sebagai Alat Pembayaran dan Instrumen Investasi Digital

Authors

  • Rafli Darmawan Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Intan Nurrachmi Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Liza Dzulhijjah Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcssel.v6i2.25957

Keywords:

Cryptocurrency, Alat Pembayaran Digital, Investasi Digital

Abstract

Abstract. The rapid development of financial technology has positioned cryptocurrency as both a digital payment method and an investment instrument, creating regulatory challenges in Indonesia and Malaysia. This study analyzes the regulation of cryptocurrency in both countries from the perspective of maqashid syariah, focusing on hifz al-mal, maslahah, and mafsadah. The research employs a normative juridical method with statutory and comparative approaches, supported by legal materials, relevant literature, and interviews with Islamic economic law experts from Indonesia and Malaysia. The findings show that both countries reject cryptocurrency as legal tender while allowing it as an investment asset under different legal frameworks. Indonesia classifies cryptocurrency as a tradable commodity under the Financial Services Authority (OJK), whereas Malaysia regulates it as a security under the Securities Commission Malaysia. From the perspective of maqashid syariah, both regulatory approaches seek to protect wealth by balancing the benefits of digital investment with the risks of speculation and volatility. The study concludes that differences in legal classification are the main source of regulatory divergence and recommends that Indonesia strengthen its regulatory framework by considering relevant aspects of Malaysia's model.

Abstrak. Perkembangan teknologi keuangan digital menjadikan cryptocurrency sebagai alat pembayaran digital sekaligus instrumen investasi yang menimbulkan tantangan regulasi di Indonesia dan Malaysia. Penelitian ini bertujuan menganalisis regulasi cryptocurrency di kedua negara berdasarkan perspektif maqashid syariah, dengan menitikberatkan pada prinsip hifz al-mal, maslahah, dan mafsadah. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan perbandingan hukum yang didukung bahan hukum, literatur ilmiah, serta wawancara dengan pakar hukum ekonomi syariah dari Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua negara tidak mengakui cryptocurrency sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi memperbolehkannya sebagai instrumen investasi melalui kerangka regulasi yang berbeda. Indonesia mengklasifikasikan cryptocurrency sebagai komoditas di bawah pengawasan OJK, sedangkan Malaysia mengaturnya sebagai sekuritas di bawah Securities Commission Malaysia. Dalam perspektif maqashid syariah, kedua pendekatan tersebut bertujuan melindungi harta dengan menyeimbangkan kemaslahatan investasi digital dan risiko spekulasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan klasifikasi hukum menjadi faktor utama yang membedakan regulasi kedua negara serta merekomendasikan penguatan regulasi Indonesia dengan mempertimbangkan aspek model regulasi Malaysia.

References

Ajidin, Z. A., & Kuswanjono, A. (2025). Epistemologi Mulla Sadra dan Relevansinya dalam Pengilmuan Ekonomi Islam. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 173–182. https://doi.org/10.29313/jres.v5i2.8000

Antonopoulos, A. M., & Harding, D. A. (2024). Mastering Bitcoin: Programming the open blockchain. O'Reilly Media.

Ardanu, L. F., Setyowati, E., & Astanti, D. I. (2025). Analisis yuridis terhadap perusahaan yang menggunakan cryptocurrency di Indonesia (studi kasus token ASIX milik Anang Hirmasnyah). Semarang Law Review (SLR), 6(2), 426–440. https://doi.org/10.26623/slr.v6i2.12391

Arner, D. W., Barberis, J. N., & Buckley, R. P. (2015). The evolution of fintech: A new post-crisis paradigm? Georgetown Journal of International Law, 47(4), 1271–1319. https://doi.org/10.2139/ssrn.2676553

Bhari, A. B. (2026). Wawancara via e-mail dengan peneliti.

Cheong, S. (2025). Malaysia's cryptocurrency landscape 2024. Oppotus. https://www.oppotus.com/malaysias-cryptocurrency-landscape-2024/

Djalaludin, M. M. (2015). Pemikiran Abu Ishaq Al-Syatibi dalam kitab Al-Muwafaqat. Ad-Daulah, 4(2), 289–300.

Fauzi. (2022). Mata uang digital (cryptocurrency): Apakah statusnya memenuhi kriteria harta (maal) dan mata uang dalam Islam? Jurnal Hukum Ekonomi Syariah.

Khan. (2023). The legality of cryptocurrency from an Islamic perspective. Journal of Islamic Finance.

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum. Kencana.

Mutakin. (2025). Analisis SWOT terhadap Implementasi Fintech Syariah. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 183–190. https://doi.org/10.29313/jres.v5i2.7582

Narayanan, A., Bonneau, J., Felten, E., Miller, A., & Goldfeder, S. (2016). Bitcoin and cryptocurrency technologies: A comprehensive introduction. Princeton University Press.

Naz, & Nazir. (2024). Examining the adoptability of cryptocurrency in the Islamic financial system. Journal of Islamic Economics and Finance.

Putra, P. A. A. (2026). Wawancara bersama peneliti.

Rahmah, N., Asmuni, & Anggraini, T. (2024). Harta benda (Al-Maal) dalam fiqih muamalah. Rayah Al-Islam, 8(3), 966–977. https://doi.org/10.37274/rais.v8i3.1025

Rani, M. A. H. C., & Afandi, M. S. A. (2025). Cryptocurrency and Shariah: Analyzing the implications of Islamic jurisprudence on Bitcoin and its ethical framework. International Journal of Research and Innovation in Social

Science, 9(10), 1420–1431. https://doi.org/10.47772/IJRISS.2025.910000122

Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Lembaran Negara RI Tahun 2011 Nomor 64.

Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Lembaran Negara RI Tahun 2023 Nomor 4.

Securities Commission Malaysia. (2019). Capital Markets and Services (Prescription of Securities) (Digital Currency and Digital Token) Order 2019.

Securities Commission Malaysia. (2026). Digital assets – guidelines. https://www.sc.com.my/regulation/guidelines/digital-assets

Shidiq, G. (1970). Teori maqashid al-syari'ah dalam hukum Islam. Majalah Ilmiah Sultan Agung, 44(118), 117–130.

Windari, W., Nizar, M., & Iltiham, M. F. (2025). Menggali Potensi Keterlibatan Masyarakat di Masjid Merah (Moekhlas Sidik) Pandaan untuk Pemberdayaan yang Efektif. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 83–92. https://doi.org/10.29313/jres.v5i1.6969

Downloads

Published

2026-08-03