Keabsahan Akad Rahn Musta‘ār dalam Perspektif Fikih Muamalah

Authors

  • Rinaz Meikusdanti Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Ira Siti Rohmah Maulida Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Arif Rijal Anshori Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcssel.v6i2.25717

Keywords:

Rahn Musta‘ār, Akad ‘āriyah, Fikih Muamalah

Abstract

Abstract. Rahn musta‘ār refers to the pledging of borrowed property by a musta‘īr, which raises legal issues concerning the authority to use another person’s property as collateral. This study aims to analyze the legal construction of the ‘āriyah contract as the basis for the formation of rahn musta‘ār, the validity of rahn musta‘ār from the perspective of Islamic commercial jurisprudence, and its legal position within the framework of Islamic Economic Law in Indonesia. This study employed a normative juridical method using conceptual, statutory, and comparative approaches. Legal materials were collected through library research involving the Qur’an, hadith, classical Islamic jurisprudential literature, the Compilation of Sharia Economic Law, DSN-MUI fatwas, books, and scientific journals. The collected materials were analyzed qualitatively using descriptive-analytical and prescriptive methods. The findings indicate that the ‘āriyah contract is understood through two legal constructions, namely tamlīk al-manfa‘ah and ibāḥah al-intifā‘, which form the basis of the legal relationship in rahn musta‘ār. The owner’s permission constitutes the basis for the musta‘īr’s legal authority to undertake legal actions concerning the borrowed property. The validity of rahn musta‘ār depends not solely on ownership but also on the existence of legitimate ḥaqq al-taṣarruf. In Indonesian Islamic Economic Law, rahn musta‘ār is recognized under Article 342 of the Compilation of Sharia Economic Law and supported by the general principles governing rahn and I‘ārah in DSN-MUI fatwas. Therefore, rahn musta‘ār may be implemented provided that the owner’s permission is obtained and the transaction remains within the scope of the authority granted.

Abstrak. Akad rahn musta‘ār merupakan penggadaian barang pinjaman oleh musta‘īr yang menimbulkan persoalan mengenai kewenangan untuk menjadikan barang milik pihak lain sebagai objek jaminan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi hukum akad ‘āriyah sebagai dasar terbentuknya rahn musta‘ār, keabsahan rahn musta‘ār dalam perspektif fikih muamalah, serta kedudukannya dalam kerangka Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan perbandingan. Bahan hukum dikumpulkan melalui studi kepustakaan terhadap Al-Qur’an, hadis, kitab fikih klasik, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, fatwa DSN-MUI, buku, dan jurnal ilmiah, kemudian dianalisis secara kualitatif menggunakan metode deskriptif-analitis dan preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akad ‘āriyah dipahami melalui dua konstruksi hukum, yaitu tamlīk al-manfa'ah dan ibāḥah al-intifā', yang menjadi dasar hubungan hukum dalam rahn musta‘ār, sedangkan izin pemilik barang menjadi dasar kewenangan musta‘īr untuk melakukan tindakan hukum. Keabsahan rahn musta‘ār tidak semata-mata bergantung pada kepemilikan, melainkan pada adanya ḥaqq al-taṣarruf yang sah. Dalam Hukum Ekonomi Syariah Indonesia, rahn musta‘ār diakui melalui Pasal 342 KHES dan didukung oleh prinsip umum dalam Fatwa DSN-MUI tentang rahn dan akad I‘ārah. Dengan demikian, rahn musta‘ār dapat diterapkan sepanjang memperoleh izin pemilik dan dilaksanakan sesuai batas kewenangan yang diberikan.

References

Abidin, M. R. S., Anshori, A. R., & Maulida, I. S. R. (2024). Tinjauan Fikih Muamalah pada Praktik Bagi Hasil Pertanian Kentang. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 4(1), 65–70.

Al Khusaini, M. A., Hafiz, M. H., Nurbaiti, S., & Aji, M. (2024). Ariyah and Rahn (A Study of the Dynamics of Human Relations). Al-Fadilah: Islamic Economics Journal, 2(2), 80–93.

Al-Kāsānī, “Alā” al-Dīn Abū Bakr ibn Mas’ūd. (1986). Badā’i’ al-Ṣanā’i’ fī Tartīb al-Syarā’i’, Juz VI. Dār al-Kutub al-’Ilmiyyah.

al-Syarbini, M. al-K. (1994). Mughnī al-Muḥtāj. Dār al-Kutub al-’Ilmiyyah.

Bayu Setiawan, & Annisa Dinda Rahmasari. (2024). Analisis Sharia Compliance Pendekatan Islamicity Performance Index: Perbandingan BSI dan Bank Muamalat. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 79–86. https://doi.org/10.29313/jres.v4i2.4321

Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia. (2024). Fatwa DSN-MUI No. 158/DSN-MUI/V/2024 tentang Akad I’arah.

Dewan Syariah Nasional–MUI. (2002). Fatwa DSN-MUI No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn.

Dewan Syariah Nasional–MUI. (2024). Fatwa DSN-MUI No. 158/DSN-MUI/VII/2024 tentang Akad I‘ārah.

Dewi, G. (2022). Hukum Perikatan Islam di Indonesia (6th ed.). Kencana.

Fadhilah, S. N., Malik, Z. A., & Putra, P. A. A. (2020). Tinjauan Akad Rahn dalam Fikih Muamalah terhadap Praktik Utang Piutang dengan Jaminan Sawah. Prosiding Hukum Ekonomi Syariah.

FAUZAN, M. (2017). KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH Edisi Pertama. 2(2), 290.

Haryanto, B. S., Hukum, F., Jenderal, U., & Tengah, J. (1998). Kedudukan gadai syariah ( rahn ) dalam sistem hukum jaminan indonesia. 22–27.

Ibn Manzur. (n.d.). Lisān al-’Arab. Dār Ṣādir.

Ibnu Qudāmah. (1997). Al-Mughnī. Dār ‘Ālam al-Kutub.

Indrawati, S. (2021). Tinjauan Yuridis Penggunaan Sertifikat Merek sebagai Jaminan dalam Proses Pengajuan Kredit Perbankan. 3(1), 1–14.

Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Mahkamah Agung RI. (2008). Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.

Marzuki, P. (2010). Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media Group.

Mupida, & Mahmadatun. (2021). Maqashid Syariah dalam Fragmentasi Fiqh Muamalah di Era Kontemporer. Al-Mawarid: Jurnal Syariah Dan Hukum, 3(1), 26–35.

Nadiansyah, A., Yusuf, M., & Shabarullah, S. (2025). Rekonstruksi Tiga Pilar Kewenangan Sertifikasi Halal di Indonesia (Telaah Hukum Pembagian Tugas BPJPH, MUI, dan LPH dalam PP Nomor 42 Tahun 2024). Journal of Innovative and Creativity, 5(3), 31219–31229.

Nugraha, A. L. (2025). Hukum Menggadaikan Harta Pinjaman Menurut Hukum Islam. Hamfara: Journal of Islamic Economic Studies, 1(3), 309–319.

Putri, J. K., Harahap, I., & Hasibuan, R. H. (2023). Konsep dan Penerapan Akad Rahn pada Pegadaian Syariah Kota Langsa. El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam, 4(1), 1–6. https://doi.org/10.47467/ELMAL.V4I1.1235

Ramdhani, N., Putra, P. A. A., & Maulida, I. S. R. (2023). Analisis Fatwa DSN-MUI tentang Akad Ijarah terhadap Praktik Jasa Endorsement. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 3(2), 83–90.

Ridwan, M., Ulum, B., Muhammad, F., Indragiri, I., & Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, U. (n.d.). Pentingnya Penerapan Literature Review pada Penelitian Ilmiah (The Importance Of Application Of Literature Review In Scientific Research).

Royani, Haki, S. A., & Setiawan, I. (2023). Akad Tabarru’, Qardh, Rahn dan Wadi’ah: Teori dan Aplikasinya pada Lembaga Keuangan Syariah. Al Mashalih - Journal of Islamic Law, 4(1), 9–21.

Rukmanda, M. R. (2020). Konsep Rahn dan Implementasinya di Indonesia. Eco-Iqtishodi: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Keuangan Syariah, 2(1), 1–13.

Siregar, R., & Perata, C. (2023). Penggunaan Harta Bersama Sebagai Marhun Dalam Pembiayaan di PT PNM ULAMM Syariah Cabang Gunung Tua Perspektif Fatwa Nomor 92/DSN-MUI/IV/2014. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences, 6(1), 506–513.

Siti Sartika, & Ira Siti Rohmah Maulida. (2022). Tinjauan Fikih Muamalah terhadap Jual Beli Bahan Pokok di XY. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 55–60. https://doi.org/10.29313/jres.v2i1.806

Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. Rajawali Pers.

Wahbah az-Zuhaili. (1989). Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu. Dār al-Fikr.

Windari, W., Nizar, M., & Iltiham, M. F. (2025). Menggali Potensi Keterlibatan Masyarakat di Masjid Merah (Moekhlas Sidik) Pandaan untuk Pemberdayaan yang Efektif. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 83–92. https://doi.org/10.29313/jres.v5i1.6969

Yahya bin Syaraf an-Nawawi. (n.d.). Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhażżab. Dār al-Fikr.

Downloads

Published

2026-08-03