Normalisasi Perilaku Israf dalam Tren Self Reward: Analisis Etika Ekonomi Syariah terhadap Gaya Hidup Netizen di Tiktok

Authors

  • Muhammad Rival Tyo Anggara Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Neng Eva Fauziah Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Maman Surahman Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcssel.v6i2.25457

Keywords:

Israf, Self-Reward, TikTok

Abstract

Abstract. TikTok has become a contemporary space of muamalah that shapes the consumption patterns of urban Indonesian Muslims, particularly through the self-reward trend that risks normalizing israf (extravagant spending). This study analyzes how self-reward narratives are constructed on TikTok, how israf is normalized through netizen interaction in the comment section, and how this phenomenon is evaluated from the perspective of Islamic economic ethics, especially its impact on hifz al-mal (protection of wealth). A descriptive-qualitative approach with a netnographic case-study design, adapted from Kozinets' procedure, was used. Primary data were drawn from four sample videos and twenty-seven netizen comments through purposive sampling, then analyzed with the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña and triangulated with secondary literature. The findings show that self-reward narratives are constructed through positive psychological framing that blurs the boundary between hajah (needs) and syahwat (desires). In the comment sections, 74% of netizen responses normalized israf through self-justification, social validation, and distortion of the creators' educational messages, while only 26% showed critical awareness. From an Islamic economic ethics perspective, the phenomenon violates the principle of maratib al-hajah, undermines hifz al-mal, and produces greater mafsadah than the momentary maslahah obtained. The study recommends strengthening cyber-syariah literacy and more algorithmically competitive digital da'wah for Islamic financial institutions.

Abstrak. TikTok telah menjelma menjadi ruang muamalah kontemporer yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat Muslim urban di Indonesia, khususnya melalui tren self-reward yang berpotensi menormalisasi perilaku israf. Penelitian ini menganalisis konstruksi narasi self-reward pada konten TikTok, proses normalisasi israf melalui interaksi netizen di kolom komentar, serta mengevaluasi fenomena tersebut dari perspektif etika ekonomi syariah, khususnya dampaknya terhadap prinsip hifz al-mal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus netnografi yang mengadaptasi prosedur Kozinets. Data primer dihimpun dari empat video sampel dan dua puluh tujuh data komentar netizen melalui purposive sampling, dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, serta ditriangulasi dengan sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi self-reward dikonstruksi melalui pembingkaian psikologis positif yang mengaburkan batas antara hajah dan syahwat. Pada kolom komentar, mayoritas reaksi netizen (74%) menormalisasi israf melalui pembenaran diri, validasi sosial, dan distorsi makna pesan edukatif kreator, dibandingkan hanya 26% yang menunjukkan kesadaran kritis. Ditinjau dari etika ekonomi syariah, fenomena ini melanggar prinsip maratib al-hajah, mencederai hifz al-mal, serta menghasilkan mafsadah yang lebih besar dibandingkan maslahah sesaat. Penelitian merekomendasikan penguatan literasi cyber-syariah bagi masyarakat serta strategi dakwah digital yang lebih kompetitif secara algoritmik bagi lembaga keuangan syariah.

References

Ajidin, Z. A., & Kuswanjono, A. (2025). Epistemologi Mulla Sadra dan Relevansinya dalam Pengilmuan Ekonomi Islam. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 173–182. https://doi.org/10.29313/jres.v5i2.8000

Al-Ghazali, A. H. (2004). Ihya Ulumuddin (Jilid 3). Darul Hadits.

Al-Qaradawi, Y. (2003). Halal dan Haram dalam Islam (W. Ahmadi dkk., Terj.). Era Intermedia.

Al-Qaradawi, Y. (2018). Norma dan Etika Ekonomi Islam (Z. Arifin, Terj.). Gema Insani Press.

Al-Syatibi, A. I. (1997). Al-Muwafaqat fi Ushul al-Shari’ah (Jilid 2). Dar Ibn Affan.

Asyur, I. (2001). Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah. Dar An-Nafais.

Az-Zuhaili, W. (1991). At-Tafsir al-Munir (Jilid IV). Dar al-Fikr.

Aziz, A., & Putri, D. M. (2023). Disonansi kognitif antara identitas religius dan gaya hidup konsumtif pada Muslim urban pengguna media sosial. Al-Iqtishad: Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah, 15(2), 211–228.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1991). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Penguin Books.

Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58.

Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.

Fitriani, A. (2024). Mekanisme legitimasi digital atas perilaku israf dalam konten self reward di media sosial. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 7(2), 101–118.

Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Kemp, S. (2024). Digital 2024: Global overview report. DataReportal, We Are Social, Meltwater. https://datareportal.com/reports/digital-2024-global-overview-report

Kozinets, R. V. (2020). Netnography: The essential guide to qualitative social media research (3rd ed.). Sage Publications.

Lestari, P. D., & Maulana, F. R. (2024). Pengaruh social proof dalam komentar TikTok terhadap intensi pembelian impulsif pada pengguna Muslim. Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia, 14(1), 43–58.

Mauladi, M. S., Saripudin, U., & Nuzula, Z. F. (2025). Tinjauan Hukum Islam terhadap Distribusi Zakat untuk Pembangunan Huntara Korban Bencana Gempa Cianjur. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 47–54. https://doi.org/10.29313/jres.v5i1.6499

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.

Nafilah, J., Safitri, D., & Sujarwo. (2025). Fenomena self-reward dalam budaya konsumerisme digital: Studi literatur tentang tren Gen Z di media sosial. JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, 2(3), 2935.

Nurhayati, S. (2023). Algoritma TikTok dan pembentukan perilaku konsumtif pada remaja Muslim perkotaan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam, 9(1), 55–72.

Nurrachmi, I., & Putra, P. A. A. (2025). Pesantren sebagai Agen Perlindungan dan Pemberdayaan Anak Jalanan: Perspektif Fikih Sosial. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 133–140. https://doi.org/10.29313/jres.v5i2.7871

Pariser, E. (2011). The filter bubble: What the internet is hiding from you. Penguin Press.

Putri, V. A., Tartila, L., Nadya, A., & Sari, N. (2025). Implikasi buy now pay later (BNPL) pada perilaku konsumtif generasi Z dalam perspektif ekonomi Islam. Media Riset Bisnis Manajemen Akuntansi, 1(1), 114–126. https://doi.org/10.71312/mrbima.v1i1.351

Ramadhan, F. (2024). Cyber-syariah: Etika konsumsi di era TikTok dan Instagram. Jurnal Komunikasi Islam dan Media Digital, 12(1), 45.

Widianti, A., dkk. (2026). Self-reward, perilaku hedonisme, dan pemahaman konsumsi Islam: Analisis moderasi pada mahasiswa Muslim UPI. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(3), 5920–5925

Downloads

Published

2026-08-03