Analisis Fikih Muamalah terhadap Syarat Minimal Cetak Emas Digital BSI

Authors

  • Mochammad Ilham Sabilah Trigha Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Neng Eva Fauziah Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Maman Surahman Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcssel.v6i2.25209

Keywords:

Emas Digital, Qabd Hukmi, Milk al-Tamm

Abstract

Abstract. he growth of digital financial services has encouraged the development of digital gold products in Islamic financial institutions, including Bank Syariah Indonesia's (BSI) Digital Gold. The product allows customers to buy, store, resell, and redeem gold digitally. However, BSI requires a minimum balance of 2 grams for physical redemption, with 0.2 grams retained as a residual balance, raising questions regarding its compliance with fiqh muamalah. This study analyzes the physical redemption policy and evaluates the minimum redemption and resale requirements from a fiqh muamalah perspective. A qualitative case study was conducted using normative-juridical and conceptual legal approaches. Primary data were collected through interviews with BSI representatives, digital gold customers, and a fiqh muamalah expert, while secondary data were obtained from DSN-MUI Fatwa No. 77/DSN-MUI/VI/2010 and relevant literature. The findings show that the 2-gram minimum redemption requirement is an operational policy that does not affect customers' ownership rights. Digital gold ownership fulfills the concept of milk al-tamm through qabd hukmi, making the requirement a valid condition (syarth shahih) rather than an invalid one (syarth bathil).

Abstrak. Perkembangan layanan keuangan digital mendorong hadirnya produk Emas Digital Bank Syariah Indonesia (BSI) yang memungkinkan nasabah membeli, menyimpan, menjual kembali, dan mencetak emas secara digital. BSI menetapkan syarat minimal saldo 2 gram untuk pencetakan emas fisik dengan saldo mengendap 0,2 gram, sehingga menimbulkan beragam persepsi mengenai kesesuaiannya dengan prinsip fikih muamalah. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketentuan pencetakan fisik, meninjau syarat minimal pencetakan dan penjualan kembali dari perspektif fikih muamalah, serta menentukan status hukumnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dipadukan dengan pendekatan hukum normatif dan konseptual. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pihak BSI, nasabah, dan pakar fikih muamalah, sedangkan data sekunder berasal dari Fatwa DSN-MUI dan literatur terkait. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syarat minimal pencetakan 2 gram merupakan kebijakan operasional yang tidak menghilangkan hak kepemilikan nasabah. Kepemilikan emas digital telah memenuhi konsep milk al-tamm melalui qabd hukmi, sehingga ketentuan tersebut termasuk syarth shahih, bukan syarth bathil, berdasarkan 'urf tijari.

References

Agustina, A. D., & Yazid, M. (2026). Analisis fiqih muamalah kontemporer terhadap tren bank emas digital: Studi pada layanan bank emas di aplikasi Byond. 5, 1–13.

Akbar, M. A. A., & Yasin, N. (2023). Jual beli emas tidak tunai pada aplikasi Dana perspektif DSN-MUI Nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 tentang jual beli emas secara tidak tunai. Journal of Islamic Business Law, 7(2).

Amri, U. (2025). Aplikasi multi akad produk gadai emas pada Bank Sumsel Babel Syariah KCP Muhammadiyah Palembang: Tinjauan fikih muamalah dan tata kelola biaya (ujrah). 2, 128–130.

Armia, M. S. (2022). Penentuan metode dan pendekatan penelitian hukum. Lembaga Kajian Konstitusi Indonesia (LKKI).

Ascarya. (2011). Akad dan produk bank syariah. PT Grafindo Persada.

Azzahra, M., Alma, L. D., Azzahra, I. N., & Wismanto, W. (2024). Gharar konsep memahami dalam fiqih: Definisi dan implikasinya dalam transaksi. Hikmah: Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam, 1(4), 145–153.

Chapra, M. U. (2016). The future of economics: An Islamic perspective (Vol. 21). Kube Publishing Ltd.

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage Publications.

Ghozali, I. Al. (1993). Al-Mustashfa min ilmin al-ushul.

Imas Maesah, Ifa Hanifia Senjiati, & Arif Rijal Anshori. (2023). Analisis Kendala Penyajian Laporan Keuangan Sesuai PSAK No. 112 pada Nazhir Wakaf. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 105–112. https://doi.org/10.29313/jres.v3i2.2806

Juzairi, S. A. al. (2003). Fikih empat madzhab.

Kurniawan, R. R. (2024). Analisis produk dan praktik “bank emas” di Indonesia berdasarkan syariah Islam. 29–47.

Kurniawan, R. R. (2025). Implementasi bank emas di Indonesia: Analisis hukum positif dan tinjauan syariah (Studi kasus Bank Syariah Indonesia). 4(17), 350–368.

Mahipal, Suryana, M. P., Hidaya, N. A., Putri, N. S., & Putr, J. S. (2025). Tinjauan hukum ekonomi syariah terhadap pembelian emas elektronik di platform digital. 9, 11300–11305.

Marianti, D. J., & Utami, E. (2021). Analisis praktik murabahah emas pada bank syariah di Indonesia berdasarkan tinjauan hukum fikih muamalah. 28(2).

Masrur, A. R., & Holis, M. (2025). Digitalisasi emas dalam perspektif syariah: Studi pada ekosistem bullion bank Indonesia. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 11(05).

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis. Sage Publications.

Mufadhol, A. T., & Nuraeni, N. (2025). Metode istinbath ahkam dalam menyelesaikan masalah kontemporer: Studi kasus tentang fatwa dan ijtihad. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 3(2), 110–118.

Mustika, S. (2024). Pengaruh harga emas dan integrated marketing communication (IMC) terhadap minat masyarakat pada pembiayaan cicilan emas pada Bank Syariah Indonesia (Studi kasus BSI KC Lhokseumawe). 1–16.

Mutakin. (2025). Analisis SWOT terhadap Implementasi Fintech Syariah. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 183–190. https://doi.org/10.29313/jres.v5i2.7582

Najmah Salamah, Iwan Permana, & Intan Nurrachmi. (2024). Implementasi Akad Musyarakah Mutanaqisah pada Produk Pembiayaan BSI Griya. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 9–16. https://doi.org/10.29313/jres.v4i1.3650

Nasional, D. S. (2010). Fatwa DSN-MUI Nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 tentang jual beli emas secara tidak tunai.

Qardhawi, Y. al. (1997). Al Fiqh Al Muashirah. Maktabah Wahbah.

Ratnaningtyas, E. M., Ramli, Syafruddin, Saputra, E., Suliwati, D., Nugroho, B. T. A., Karimuddin, et al. (2021). Metodologi penelitian kualitatif.

Rusyd, I. (2007). Bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtashid (I. G. Sa’id, Trans.). Pustaka Amani.

Sari, D. S. (2022). Analisis kebolehan Fatwa DSN MUI Nomor 77/DSN-MUI/V/2010 tentang jual beli emas secara tidak tunai ditinjau dari pendapat para ulama.

Satar, M., Ambo, N. J., & Kadir, S. (2024). Relevansi kinerja keuangan Bank Syariah Indonesia terhadap pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia. Al Rikaz: Jurnal Ekonomi Syariah, 2(2), 23–33.

Soekanto, S. (2007). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat.

Sugiono. (2013). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D.

Umam, K., & Kimberly, V. B. (2022). Analysis of the merger of PT Bank Syariah Indonesia in legal and sharia perspective. Pandecta Research Law Journal, 17(1), 78–91.

Wibawa, G., Rizqi, A. R., Faroha, D., & Oktaviani, R. (2023). Analisis kesesuaian Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010 terhadap pembiayaan murabahah cicil emas. 5(77), 109–123.

Zuhaili, W. az. (2011). Fiqih Islam wa adillatuhu. Darul Fikir.

Downloads

Published

2026-08-02