Tinjauan Fikih Muamalah terhadap Penggunaan Dana Arisan Kurban Idul Adha

  • Krisdianti Budi Lestari Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Nandang Ihwanudin Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Arif Rijal Anshori Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
Keywords: Fikih Muamalah, Arisan Kurban

Abstract

Abstract. There are many ways that can be taken by Muslims to be able to carry out sacrificial worship, one of which is social gathering. According to muamalah fiqh, gathering uses a qardh contract and a wadi'ah contract. In this sacrificial social gathering practice, there is an agreement that the collected funds may not be used. However, the funds collected are used by the deposited party. This has an impact on the purchase of sacrificial animals. This study aims to review in terms of fiqh muamalah how the practice of social gathering for sacrifice in Jatimulya Village, North Sumedang District, Sumedang Regency. The research method used descriptive qualitative using a case study research approach. Sources of data used are primary data and secondary data. Data collection techniques used are interviews, observation and documentation. This study concludes that the practice of social gathering for sacrifice is in accordance with the pillars and conditions, but there are debt and credit ethics and elements of wadi'ah that are violated. The implementation of the qardh contract in the implementation of the gathering on the recipient of the deposit uses the arisan money for personal interests and also lies in the seven qurban winners who owe it to themselves and the six gathering members who have not become arisan winners. Whereas in wadi'ah contracts, the social gathering for the sacrifice is identified as the object, namely money or funds that are deposited with the party who receives the gathering money deposited.

Abstrak. Banyak cara yang dapat ditempuh oleh umat Islam untuk dapat melaksanakan ibadah kurban, salah satunya adalah dengan arisan. Menurut fikih muamalah arisan menggunakan akad qardh dan akad wadi’ah. Dalam praktik arisan kurban ini terdapat kesepakatan yaitu dana yang terkumpul tidak boleh digunakan. Namun, dana yang terkumpul digunakan oleh pihak yang dititipkan. Hal tersebut berdampak pada pembelian hewan kurban. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau dari segi fikih muamalah bagaimana praktik arisan kurban di Desa Jatimulya Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskripstif dengan menggunakan pendekatan penelitian studi kasus. Sumber data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik arisan kurban sudah sesuai dengan rukun dan syarat, namun terdapat etika utang piutang dan unsur wadi’ah yang dilanggar. Penerapan akad qardh dalam pelaksanaan arisan terletak pada pihak yang menerima titipan menggunakan uang arisan tersebut untuk kepentingan pribadi dan juga terletak pada tujuh orang pemenang kurban melakukan utang piutang terhadap dirinya dan enam anggota arisan yang belum menjadi pemenang arisan. Sedangkan dalam akad wadi’ah, arisan kurban ini diidentifikasi terletak pada objeknya yaitu uang atau dana yang dititipikan kepada pihak yang menerima titipan uang arisan.

Published
2022-01-15