Keabsahan Rahn Tasjily atas Harta Waris yang Belum Dibagikan
DOI:
https://doi.org/10.29313/bcssel.v6i2.24881Keywords:
rahn tasjily, harta waris, hak tanggunganAbstract
Abstract. Undistributed inherited property is, in principle, the collective right of all heirs and has not become the exclusive right of any individual heir. In practice, however, such property is still used as collateral for debt, raising legal questions about the validity of the encumbrance. This study analyzes the validity of rahn tasjily over undistributed inherited property from the perspective of fiqh muamalah, examines its validity under Law Number 4 of 1996 concerning Mortgage Rights (UUHT), and compares the two legal systems. This is normative legal research using the statute, conceptual, and case approaches. Primary legal materials include the Qur'an, Hadith, DSN-MUI Fatwa Number 68/DSN-MUI/III/2008 on Rahn Tasjily, Law Number 4 of 1996, and Malang Religious Court Decision Number 108/Pdt.G/2025/PA.Mlg, used as supporting legal facts. Secondary materials include classical fiqh literature, books, and scholarly journals, analyzed descriptively-analytically and comparatively. The findings show that encumbering undistributed inherited property as rahn tasjily does not meet the validity requirements of fiqh muamalah because the elements of milku al-rahin (full ownership) and wilayah tammah (full authority) are not fulfilled. Under Article 8 paragraph (1) of the UUHT, such encumbrance likewise fails to meet the requirement of full authority by the grantor. Both legal systems converge on the same conclusion: undistributed inherited property cannot be unilaterally pledged as collateral, although each relies on different legal reasoning.
Abstrak. Harta waris yang belum dibagikan pada dasarnya merupakan hak bersama seluruh ahli waris sehingga belum menjadi hak penuh masing-masing ahli waris. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan penggunaan harta waris yang belum dibagikan sebagai objek jaminan utang, sehingga menimbulkan persoalan mengenai keabsahan pembebanan jaminan tersebut. Penelitian ini menganalisis keabsahan rahn tasjily terhadap objek harta waris yang belum dibagikan berdasarkan perspektif fikih muamalah, menganalisis keabsahannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan (UUHT), serta menganalisis persamaan dan perbedaan keduanya melalui pendekatan komparatif. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Bahan hukum primer meliputi Al-Qur'an, Hadis, Fatwa DSN-MUI Nomor 68/DSN-MUI/III/2008 tentang Rahn Tasjily, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, dan Putusan Pengadilan Agama Malang Nomor 108/Pdt.G/2025/PA.Mlg. yang digunakan sebagai fakta hukum pendukung. Bahan hukum sekunder diperoleh dari kitab fikih, buku, dan jurnal ilmiah, yang dianalisis secara deskriptif-analitis dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembebanan rahn tasjily terhadap harta waris yang belum dibagikan belum memenuhi syarat keabsahan menurut fikih muamalah karena belum terpenuhinya unsur milku al-rahin (kepemilikan penuh) dan wilayah tammah (kewenangan penuh). Berdasarkan Pasal 8 ayat (1) UUHT, pembebanan tersebut juga belum memenuhi ketentuan karena pemberi hak tanggungan belum memiliki kewenangan penuh atas objek yang dijaminkan. Kedua sistem hukum bermuara pada kesimpulan yang sama, meskipun menggunakan dasar hukum yang berbeda.
References
Al-Bukhari, A. A. M. bin I. (2002). Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Rahn. Dar Ibn Katsir.
Al-Zuhaili, W. (2013). Tafsir Al-Munir Jilid 2 (Juz 3–4): Akidah, Syariah, Manhaj. Gema Insani.
Az-Zuhaili, W. (2011). Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jilid 6. Gema Insani.
Departemen Agama RI. (2004). Al-Qur'an dan terjemahnya. CV Penerbit J-ART.
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. (2008). Fatwa DSN-MUI Nomor 68/DSN-MUI/III/2008 tentang Rahn Tasjily.
Diantha, I. M. P. (2019). Metodologi penelitian hukum normatif dalam justifikasi teori hukum (3rd ed.). PrenadaMedia Group.
Febriadi, S. R. (2017). Aplikasi maqashid syariah dalam bidang perbankan syariah. Amwaluna: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah, 1(2), 231–245.
Fikriani, F., & Permana, I. (2022). Tinjauan Fikih Muamalah dan Peraturan Daerah terhadap Penggunaan Tanah Hak Milik Pemerintah. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 137–146. https://doi.org/10.29313/jres.v2i2.1402
Hosnah, A. U., Wijanarko, D. S., & Sibuea, H. P. (2021). Karakteristik ilmu hukum dan metode penelitian hukum normatif (1st ed.). PT Rajagrafindo Persada.
Kompilasi Hukum Islam. (1991). Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
Mutakin. (2025). Analisis SWOT terhadap Implementasi Fintech Syariah. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 183–190. https://doi.org/10.29313/jres.v5i2.7582
Nianda, V., Astanti, D. I., & Supriyadi. (2020). Kekuatan hukum hak tanggungan atas objek sertifikat hak atas tanah yang akan diturun waris. E-ISSN, 1(1), 114–127.
Nidal, A. (2023). Analisis yuridis terhadap jual beli tanah warisan tanpa izin ahli waris menurut hukum Islam (Studi kasus Mahkamah Syar'iyah Sigli). Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, 11(2), 359–380.
Ni'mah, S. B. O., Andraini, F., & Listyarini, D. (2024). Penyelesaian sengketa jual beli tanah warisan tanpa persetujuan ahli waris yang lain (Studi kasus Putusan Nomor 1300/Pdt.G/2023/PA.Pt). Jurnal Hukum Lex Generalis, 5(8), 1–18.
Pengadilan Agama Malang. (2025). Putusan Nomor 108/Pdt.G/2025/PA.Mlg.
Qudamah, I. (2007). Al-Mughni Jilid 6 (Terjemahan). Pustaka Azzam.
Respati, F., & Noor, E. Z. (2024). Keabsahan hukum pengikatan jaminan tanah dalam produk rahn tasjily di PT Pegadaian – Studi kasus Pegadaian Unit Bungah. HUKMY: Jurnal Hukum, 4(2), 776–792.
Septian Nugraha, Zaini Abdul Malik, & Neng Dewi Himayasari. (2024). Efektivitas Penyaluran Zakat Produktif Melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dalam Meningkatkan Kesejahteraan Mustahik. Jurnal Riset Ekonomi Syariah, 31–38. https://doi.org/10.29313/jres.v4i1.3666
Simanjuntak, K., Hayani, M., & Hutabarat, D. T. H. (2023). Tinjauan terhadap tanah warisan yang dijadikan agunan peminjaman uang tanpa sepengetahuan ahli waris (Studi Putusan PN Kisaran No. 65/Pdt.G/2022/PN.Kis). MODELING: Jurnal Program Studi PGMI, 10, 654–664.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.
Wulan, D. N., & Aryatie, I. R. (2023). Prinsip kaffah pada rahn tasjily di Pegadaian Syariah. Notaire, 6(3), 345–362.