https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/issue/feedBandung Conference Series: Psychology Science2025-02-24T18:10:04+08:00Unang Arifinuptpublikasi@unisba.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>Bandung Conference Series: Psychology Science </strong>merupakan wadah publikasi hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang Ilmu Psikologi yang telah dipresentasikan pada Seminar Nasional UNISBA yang diselenggarakan tahunan oleh UPT Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bandung. <strong><a title="BCSPS" href="https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/" target="_blank" rel="noopener">BCSPS</a> </strong>ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN <a title="ISSN BCSPS" href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220215381198331" target="_blank" rel="noopener">2828-2191</a> yang diterbitkan oleh <a title="UPT Publikasi" href="https://publikasi.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">UPT Publikasi Ilmiah</a>, <a title="unisba" href="https://www.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Islam Bandung</a>. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-<em>indeks</em> di <a title="GS" href="https://scholar.google.com/citations?user=uSM1vNgAAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a>, <a title="Id Garuda" href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/26847" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a>, <a title="doi" href="https://search.crossref.org/?q=unisba&from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">Crossref</a>, dan <a title="DOAJ" href="https://doaj.org/search/journals?ref=quick-search&source=%7B%22query%22%3A%7B%22filtered%22%3A%7B%22filter%22%3A%7B%22bool%22%3A%7B%22must%22%3A%5B%7B%22terms%22%3A%7B%22bibjson.publisher.name.exact%22%3A%5B%22Universitas%20Islam%20Bandung%22%5D%7D%7D%5D%7D%7D%2C%22query%22%3A%7B%22query_string%22%3A%7B%22query%22%3A%22universitas%20islam%20bandung%22%2C%22default_operator%22%3A%22AND%22%2C%22default_field%22%3A%22bibjson.publisher.name%22%7D%7D%7D%7D%7D" target="_blank" rel="noopener">DOAJ</a>. Terbit setiap <strong>Maret</strong> dan <strong>September.</strong></p>https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15780Studi Deskriptif Active Procrastination pada Mahasiswa Bekerja di Kota Bandung2025-02-16T01:21:02+08:00Anggit Tria Anggraenianggit.tria09@gmail.comDewi Rosianadewirosiana@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Procrastination involves the tendency of individuals to delay starting or completing tasks, often leading to negative effects. Chu and Choi (2005) present a contrasting view, suggesting that procrastination can also have positive aspects. Active procrastination is a type of delaying behavior that can be beneficial, involving intentional delays based on rational considerations, a preference for working under time pressure, and the ability to complete tasks on time with satisfactory results. In an academic context, procrastination is commonly seen among college students, including those studying while working part-time. This research aims to describe active procrastination among part-time working students in Bandung. Conducted using a quantitative approach and descriptive method, the study sampled 148 part- time working students aged 18-24 with a minimum GPA of 2.75. The Active Procrastination Scale (APS) by Cho and Moran (2009), adapted by Purwanto & Natalya (2019) into Indonesian, was used for measurement. Results indicate that most part-time students in Bandung exhibit low levels of active procrastination, suggesting they are less likely to delay academic tasks. This study provides data on active procrastination among part-time working students, with implications and further results discussed in detail.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Prokrastinasi melibatkan pada kecenderungan seseorang untuk melakukan penundaan dalam memulai atau menyelesaikan tugas dan sering kali meneliti pada efek negatif dari bentuk dari perilaku meunda. Chu dan Choi (2005) memberikan pandangan yang bertentangan mengenai perilaku menunda dan menyampaikan bentuk positif dari perilaku menunda. Prokrastinasi aktif adalah bentuk dari perilaku menunda yang memiliki dampak positif yang melibatkan pada tindakan disengaja untuk menunda atas dasar pertimbangan rasional dan memiliki preferensi dibawah tekanan waktu, serta mampu menyelesaikan tugas tepat waktu dan mencapai hasil yang memuaskan. Pada konteks akademik, prokrastinasi dapat ditemukan pada kalangan mahasiswa, termasuk juga pada mahasiswa yang melakukan perkuliahan sekaligus bekerja part-time. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan prokrastinasi aktif pada mahasiswa bekerja part-time di kota Bandung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan metode deskriptif dengan sampel berjumlah 148 mahasiswa bekerja part-time di kota Bandung, berusia 18-24 tahun dan minimal IPK 2.75. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian menggunakan Active Procrastination Scale (APS) oleh Cho dan Moran (2009) dan telah diadaptasi oleh Purwanto & Natalya (2019) ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi aktif pada kalangan mahasiswa yang bekerja part- time di kota Bandung sebagian besar di tingkat rendah, menunjukan bahwa mahasiswa yang bekerja part-time di kota bandung memiliki kemungkinan kecil untuk melakukan prokrastinasi aktif dalam menunda tugas akademik di perkuliahan. Penelitian ini memberikan gambaran data mengenai prokrastinasi aktif di kalangan mahasiswa bekerja part-time. Implikasi dan hasil penelitian lebih lanjut dijelaskan pada hasil dan pembahasan penelitian.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15800Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior pada Guru Honorer SMAN2025-02-15T20:51:25+08:00Firdha Hamidahfirdhaa.hamidah@gmail.comAyu Tuty Utamiayu.tutyutami@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Teachers have an important role as educators and teachers. However, behind the importance of this role, it turns out that teachers in Indonesia have low performance. One of the factors can be seen from the lack of organizational commitment, which is a psychological state that characterizes the employee's relationship with the organization and the implications of the decision to continue or stop membership of an organization. The factor that affects organizational commitment is OCB, which is voluntary behavior that is carried out without being listed in the job description or directly related to the reward system, which can increase organizational effectiveness and efficiency. The purpose of this study was to determine the effect of organizational commitment on organizational citizen behavior in honorary teachers of senior high school. The subjects in this study were 77 honorary teachers of senior high schools in Bandung City. The method used in this research is quantitative causality method using multiple linear regression analysis. The measuring instrument used is a questionnaire based on the theory of organizational commitment from Meyer & Allen (1991) which has been adapted by Suseno, M. N. M. (2019) and the organizational citizen behavior measuring instrument based on Organ's theory (2006) which has been adapted by Tentama, F. (2018). The results of this study indicate that the effect of each dimension of organizational commitment is 6.7% for affective commitment, 0.33% for continuance commitment, and 0.96% for normative commitment.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Guru memiliki peran yang penting yaitu sebagai tenaga pendidik dan juga pengajar. Namun, dibalik pentingnya peran tersebut ternyata guru di Indonesia memiliki kinerja yang masih rendah. Salah satu faktornya terlihat dari kurangnya komitmen organisasi, yaitu keadaan psikologis yang mencirikanhubungan karyawan dengan organisasi dan implikasi keputusan untuk melanjutkan atau berhenti keanggotaandari suatu organisasi. Adapun faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi adalah OCB, yaitu perilaku sukarela yang dilakukan tanpa tercantum dalam job description atau terkait langsung dengan sistem reward, yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh komitmen organisasi terhadap organizational citizen behavior pada guru honorer SMAN. Subjek pada penelitian ini adalah guru honorer SMAN di Kota Bandung yang berjumlah 77 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif kausalitas dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner yang didasarkan pada teori komitmen organisasi dari Meyer & Allen (1991) yang telah diadaptasi oleh Suseno, M. N. M. (2019) dan alat ukur organizational citizen behavior berdasarkan teori Organ (2006) yang telah diadaptasi oleh Tentama, F. (2018). Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh dari masing-masing dimensi komitmen organisasi adalah sebesar 6,7% untuk komitmen afektif, 0,33% untuk komitmen berkelanjutan, dan 0,96% untuk komitmen normatif.</p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15847Hubungan antara Kedekatan Guru-Siswa dan Prestasi Belajar Siswa Berkebutuhan Khusus2025-02-24T18:05:38+08:00Diva Athiya Khairunnisadivaathiyak@gmail.comDewi Rosianadewi.rosiana@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong>This study aims to explores the relationship between teacher-student closeness and the academic achievement of students with special needs. Teacher-student closeness is characterized by warmth, openness, and affection, enabling students to see teachers as secure attachment figures. Such relationships are vital for learning outcomes and developmental progress in school. Using a quantitative correlational method, the research involved 116 special-needs students and 110 inclusion school teachers in Bandung City, selected through purposive sampling. Data were collected using the Student-Teacher Relationship Scale (STRS), adapted into Indonesian based on Pianta’s (2001) model, with a Likert scale. The results indicate that Spearman’s Rho correlation test yielded a correlation coefficient 0.380, suggesting a positive relationship between teacher-student closeness and students’ academic achievement. The findings suggest that teachers should prioritize fostering warm relationships to encourage students’ openness and exploration. Schools are also encouraged to provide facilities and activities to strengthen teacher-student bonds, supporting students' growth and development at school.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji hubungan antara kedekatan guru-siswa dengan prestasi belajar siswa berkebutuhan khusus. Kedekatan guru-siswa ditandai dengan kehangatan, keterbukaan, dan kasih sayang, yang memungkinkan siswa memandang guru sebagai figur <em>attachment</em> yang aman. Relasi antar guru dan anak ini sangat penting untuk capaian pembelajaran dan kemajuan perkembangan anak di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan melibatkan 116 siswa berkebutuhan khusus dan 110 guru sekolah inklusi di Kota Bandung yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan <em>Student-Teacher Relationship Scale</em> (STRS) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia berdasarkan model Pianta (2001) dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji korelasi Spearman’s Rho menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0.380, yang menunjukkan adanya hubungan positif antara kedekatan guru-siswa dengan prestasi akademik siswa berkebutuhan khusus. Temuan ini mengindikasikan bahwa guru sebaiknya memprioritaskan dalam membangun hubungan yang hangat untuk mendorong keterbukaan dan eksplorasi siswa. Selain itu, sekolah juga dianjurkan untuk menyediakan fasilitas dan kegiatan yang dapat mempererat hubungan antara guru dan siswa, guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan siswa di sekolah.</p>2025-01-22T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15862Hubungan antara Fear of Missing Out dengan Kesejahteraan Subjektif Siswa SMP2025-02-24T18:05:35+08:00Listiani Puji Lestarillistianipl@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.idTia Inayatillahtiainayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> FoMO (Fear of Missing Out) describes individuals' tendency to use social media to avoid missing out or feeling left behind by others. This study examines the contribution of FoMO to subjective well-being (SWB) among junior high school students in Bandung. A cross-sectional quantitative method was used, with stratified cluster random sampling for participant selection. The study involved 767 students aged 12–16 years, comprising 50.6% female and 49.4% male students. The ON-FoMO and Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale 5 (CW-SWBS5) were employed as measurement tools. Results indicate that FoMO among participants falls within the moderate category, while their SWB (M = 70.8; SD = 26.9) is significantly lower than average based on Cummins set-points (p < .05). Linear regression analysis revealed that FoMO negatively affects SWB, particularly through the dimensions of belongingness (β = -.237, p < .000) and addiction (β = -.150, p = .007). These findings suggest that FoMO can diminish SWB among junior high school students. Consequently, it is essential to provide guidance to help adolescents manage social media use effectively and promote better well-being.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Fear of Missing Out merupakan keadaan individu yang menggunakan media sosial karena tidak ingin terlewatkan dan tidak ingin tertinggal dengan individu lain. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kontribusi antara FoMO dengan kesejahteraan subjektif pada siswa SMP di Kota Bandung. Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif <em>cross-sectional</em>. Teknik sampling yang digunakan yaitu <em>stratified cluster random sampling</em>. Alat ukur yang digunakan <em>Online Fear of Missing Out</em> (ON-FoMO) dan Children’s World yaitu <em>Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale</em> 5 (CW-SWBS5). Partisipan penelitian ini 767 siswa SMP berusia 12 – 16 tahun dengan persentase 50.6% siswa perempuan dan 49.4% siswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan FoMO siswa SMP di Kota Bandung berada pada kategori sedang. Rata-rata kesejahteraan subjektif siswa SMP di Kota Bandung (M = 70.8; SD = 26.9) signifikansi (<em>p </em>< .05). Berdasarkan <em>set-point</em> Cummins, hasil penelitian menunjukkan kesejahteraan subjektif lebih rendah dari rata-rata. Analisis yang digunakan adalah regresi linear untuk mengetahui kontribusi FoMO terhadap kesejahteraan subjektif siswa. FoMO memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan subjektif, terutama kebutuhan akan rasa memiliki (β = -.237, <em>p </em>< .000) dan kecanduan (β = -.150, <em>p</em> = .007). Kedua dimensi memberikan kontribusi negatif yang menunjukkan FoMO dapat menurunkan kesejahteraan subjektif siswa SMP. Karena itu dibutuhkan bimbingan kepada remaja SMP dalam menggunakan media sosial.</p>2025-01-22T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15863Kontrol Diri sebagai Moderator pada Problematic Smartphone Use Terhadap Pelaku Phubbing2025-02-24T18:05:32+08:00Annisa Salsabila Dwi Lestariannisaslsbladl90@gmail.comEndah Nawangsihendah.nawangsih@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Phubbing is the behavior of focusing on a smartphone while interacting with others, thereby neglecting interpersonal communication. Problematic smartphone use (PSU), characterized by excessive and impulsive usage, significantly contributes to phubbing, often linked to weak self-control. This study aims to examine the effect of PSU on phubbing behavior and the moderating role of self-control. A quantitative research method with a causal approach was employed, using accidental sampling. The study involved 179 participants from the general public aged 18-25 years. Measurement tools included the Problematic Smartphone Use Scale, GSP, and a self-control scale. Data analysis using simple regression and MRA tests revealed a determination coefficient of 43% and a significance value of 0.000 < 0.05. These findings suggest that PSU positively influences phubbing behavior, meaning higher PSU levels correlate with increased phubbing. The MRA test results also showed a significant value of .000, indicating that self-control can moderate the relationship between PSU and phubbing. Higher self-control can reduce the impact of PSU on phubbing behavior, while lower self-control can exacerbate it.<br><br><strong>Abstrak.</strong> Phubbing merupakan perilaku seseorang yang melihat atau sibuk menggunakan smartphone saat berbicara dengan orang lain sehingga mengabaikan komunikasi interpersonal. penggunaan smartphone yang bermasalah (PSU), seperti penggunaan yang berlebihan dan impulsif, memainkan peran penting dalam menyebabkan phubbing dan hal ini mungkin disebabkan oleh lemahnya kontrol diri Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Problematic smartphone use terhadap pelaku phubbing dan kontrol diri sebagai moderator. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan kausal. Teknik sampling yang digunakan yaitu accidental sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Problematic smartphone use, GSP dan kontrol diri. Partsipan penelitian ini 179 masyarakat umum yang berusia 18-25 tahun. Analisis yang digunakan adalah uji regresi sederhana dan uji MRA, diketahui nilai koefisien determinasi sebesar 43% dan nilai signifikasi sebesar 0.000 < 0.05. Hasil tersebut menunjukan bahwa Problematic smartphone use menjadi penyebab phubbing artinya semakin tinggi tingkat Problematic smartphone use yang dimiliki, maka akan semakin tinggi juga perilaku phubbingnya. Berdasarkan hasil uji MRA diketahui nilai sig uji MRA sebesar .000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel kontrol diri dapat memoderasi Problematic smartphone use terhadap pelaku phubbing. Artinya, kontrol diri yang tinggi dapat mengurangi Problematic smartphone use terhadap pelaku phubbing dan sebaliknya.<br><br></p>2025-01-22T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15865Hubungan Kepercayaan Interpersonal dengan Pengungkapan Diri Online Pengguna Akun Kedua Instagram2025-02-24T18:05:29+08:00Hasna Farihatul Jannahfarihatuljannahh@gmail.comEndah Nawangsihendah.nawangsih@unisba.ac.id<p><strong>Abstract<em>.</em></strong> The use of social media is in demand to connect online, ranging from personal relationships to business activities. A second Instagram account allows individuals to express themselves freely. This study investigated the relationship between Bandung residents aged 18-25 years who use a second Instagram account with online self-disclosure and interpersonal trust, using a quantitative correlational approach. The interpersonal trust measurement tool is based on Gita and Rottenberg, while self-disclosure is measured using the Leung scale. Of the 300 respondents, a small but positive relationship was found between interpersonal trust and online self-disclosure, with a p value <0.05, a significant value of 0.000, and a Pearson correlation of 0.274. This means that the higher the interpersonal trust, the greater the online self-disclosure among respondents.<em> </em></p> <p><strong>Abstrak. </strong>Penggunaan media sosial diminati untuk terhubung secara <em>online</em>, mulai dari hubungan personal hingga aktivitas bisnis. Akun kedua Instagram memungkinkan individu mengungkapkan diri dengan bebas. Penelitian ini menyelidiki hubungan antara warga Bandung berusia 18-25 tahun yang menggunakan akun kedua Instagram dengan pengungkapan diri <em>online</em> dan kepercayaan interpersonal, menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Alat ukur kepercayaan interpersonal berdasarkan Gita dan Rottenberg, sementara pengungkapan diri diukur dengan skala dari Leung. Dari 300 responden, ditemukan hubungan kecil namun positif antara kepercayaan interpersonal dan pengungkapan diri <em>online</em>, dengan nilai p < 0.05, nilai signifikan 0.000, dan korelasi Pearson 0.274. Artinya, semakin tinggi kepercayaan interpersonal, semakin besar pengungkapan diri <em>online</em> di kalangan responden.</p>2025-01-22T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15908Pengaruh Sifat Qana’ah terhadap Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa2025-02-24T18:05:27+08:00Wahdan Aldi Januar Dahjanaaldiwahdan12@gmail.comLilim Halimahaumisyanida@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>College students are at a stage where they are given their own responsibilities, especially in managing finances. In reality, there are students who have not fully mastered controlling their financial expenses according to their needs, resulting in many students engaging in consumptive shopping. Buying something that is not based on need or benefit is contrary to the nature of qana'ah. This study aims to examine the effect of qana'ah on consumptive behavior among students. This study uses a quantitative research design with a causal method using simple linear regression analysis with a purposive sampling technique, and obtained 273 respondents. The measurement instrument used is the qana'ah trait measurement tool developed by Julitasari, R (2017) and the consumptive behavior measurement tool developed by Aini, R.D (2016). The results of this study show that the significance value is <0.001, meaning that the qana'ah trait has an effect on consumptive behavior among students at the Islamic University of Bandung. The R<sup>2</sup> value obtained is 0.110, which means that the qana'ah trait contributes 11% to consumptive behavior, and 89% is influenced by other factors. In this study, a comparison of consumptive behavior between males and females was found, with a significance value of 0.000, indicating a significant difference between the consumptive behavior of males and females. The results of this study support previous research conducted by Kurniawan, A (2020) that there is an effect of qana'ah on consumptive behavior among students. It is suggested for future research to enrich demographic data such as social status, friendship environment, or the type of product purchased.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Mahasiswa berada pada tahapan mulai diberikan tanggung jawab sendiri dalam pengelolaan keuangan. Pada kenyataannya terdapat mahasiswa yang belum sepenuhnya dapat mengontrol pengeluaran keuangannya sesuai dengan kebutuhan, sehingga banyak mahasiswa yang berbelanja secara konsumtif. Pembelian sesuatu yang bukan didasari oleh kebutuhan atau manfaatnya bertolak belakang dengan sifat qana’ah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh sifat qana’ah terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif hubungan kausalitas dengan menggunakan uji analisis regresi linier sederhana. Melalui teknik purposive sampling dan didapatkan 273 responden. Instrumen pengukuran yang digunakan yaitu menggunakan alat ukur sifat qana’ah yang disusun oleh Julitasari, R (2017) dan alat ukur perilaku konsumtif yang disusun oleh Aini, R.D (2016). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa nilai signifikansi <0.001 artinya sifat qana’ah memiliki pengaruh terhadap perilaku konsumtif pada Mahasiswa di Universitas Islam Bandung. Nilai R<sup>2</sup> sebesar 0.110, yang artinya sifat qana’ah berkontribusi sebesar 11 % terhadap perilakukonsumtif dan 89% lainnya merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku konsumtif pada Mahasiswa di Universitas Islam Bandung. Pada penelitian ditemukan suatu hasil perbandingan perilaku konsumtif pada laki-laki dan juga perempuan dengan hasil nilai siginifikansi yang didapatkan sebesar 0.000 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara perilaku konsumtif laki-laki dengan perempuan. Hasil penelitian tersebut menunjukan hasil yang mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kurniawan, A (2020) bahwa terdapat pengaruh sifat qana’ah terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswa. Adapun disarankan untuk penelitian selanjutnya untuk memperkaya data demografi seperti status social, lingkungan pertemanan, ataupun jenis produk yang dibeli.</p>2025-01-22T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/15945Pengaruh Kontrol Diri terhadap Adiksi Game Online pada Dewasa Awal di Purwakarta2025-02-24T18:05:25+08:00Mutia Naurah Nazhiifahoyatam1123@gmail.comHedi Wahyudihediway@yahoo.co.id<p><strong>Abstract.</strong> Online games are the most popular and popular games, but individuals who cannot control themselves well when playing online games will result in the individual being addicted to online games. The effect of self-control on online game addiction in early adulthood in Purwakarta City is a study that aims to determine the level of self-control, the level of online game addiction and how much influence self-control has on online game addiction in early adulthood in Purwakarta City. This study uses a quantitative causality approach. A total of 150 respondents were involved in this study. The measuring instruments used were the brief self-control scale for self-control and the game addiction scale for online game addiction. The results obtained in the self-control aspect, 53% were at a low level and 47% were at a high level. In the online game addiction aspect, 50.6% were in the high category and 49.4% were in the low category. Self-control has a positive effect on online game addiction by 45%.<br><br></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Game online merupakan permainan yang paling banyak diminati dan digemari, akan tetapi individu yang tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik terhadap bermain game online akan mengakibatkan individu tersebut adiksi game online. Pengaruh kontrol diri terhadap adiksi game online pada dewasa awal di kota Purwakarta adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kontrol diri, tingkat adiksi game online dan seberapa besar pengaruh kontrol diri terhadap adiksi game online pada dewasa awal di kota Purwakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausalitas. Sebanyak 150 responden terlibat dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan adalah brief self-control scale untuk kontrol diri dan game addiction scale untuk adiksi game online. Didapat hasilnya pada aspek kontrol diri, sebanyak 53% berada di tingkat rendah dan 47% berada di tingkat tinggi. Pada aspek adiksi game online, sebanya 50,6% berada di kategori tinggi dan 49,4% berada di kategori rendah. Kontrol diri berpengaruh positif terhhadap adiksi game online sebesar 45%.</p>2025-01-22T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16035Studi Komparasi Critical Thinking Siswa SMP dalam Pembelajaran Matematika2025-02-24T18:05:22+08:00Tsaniya Zahrah Hamdanitsaniyazhamdani@gmail.comDewi Rosianadewirosiana@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> The ability to think critically is one of the competency skills that students must have in the 21st century. Critical thinking skills are very important to help students understand mathematical concepts in depth and apply them in everyday life. This research aims to examine differences in critical thinking abilities in students who use project-based learning methods and conventional methods in learning mathematics at Cibiru Labschool Middle School using critical thinking measuring tools. This research involved two class groups, namely the regular class which used the project based learning method and the bilingual class which used the conventional method. Data collection in this study used a questionnaire with a Likert scale which was distributed to grade 9 students at Labschool UPI Cibiru Middle School with 59 students as respondents. 30 regular class students, 29 bilingual class students. Data were processed and analyzed using the Wilcoxon matched-paired signed test. The research results showed that there was no significant difference in critical thinking abilities between the two groups. This is due to the integration of critical thinking skills in each subject carried out by each teacher at Middle School which has proven to be effective in developing each student's critical thinking skills.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu skill kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa di abad 21 ini. Kemampuan berpikir kritis sangat penting untuk membantu siswa memahami konsep-konsep matematika secara mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan kemampuan berpikir kritis pada siswa yang menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan metode konvensional dalam pembelajaran matematika di SMP Labschool Cibiru menggunakan alat ukur critical thinking. Penelitian ini melibatkan dua kelompok kelas, yaitu kelas reguler yang menggunakan metode project based learning dan kelas bilingual yang menggunakan metode konvensional. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket dengan skala likert yang disebarkan kepada siswa kelas 9 SMP Labschool UPI Cibiru dengan responden berjumlah 59 siswa. 30 siswa kelas regular, 29 siswa kelas bilingual. Data diolah dan dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon matched-paired signed test. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan berpikir kritis antara kedua kelompok. Hal tersebut disebabkan oleh integrasi keterampilan berpikir kritis dalam setiap mata pelajaran yang dilakukan oleh setiap guru di SMP yang terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis setiap siswa.</p>2025-01-23T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16053Pengaruh Kesepian terhadap Quarter Life Crisis pada Emerging Adulthood2025-02-24T18:05:20+08:00Alifa Rahima Az Zahraalifarahima01@gmail.comSulisworo Kusdiyatidyati.hadiwardoyo21@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Loneliness is a condition where an individual feels that their social relationships aren’t as expected. In emerging adulthood phase, loneliness becomes a factor that worsens the quarter life crisis (QLC), where the demands and anxiety of social relationships are one of the main causes. This study aims to determine the role of loneliness on QLC in emerging adulthood in Bandung City with N = 409 respondents. This study uses a quantitative causality design, with convenience sampling techniques and questionnaires distributed online. The measuring instruments used were the UCLA Loneliness Scale 3 adapted by Ramadhani (2023), with reliability value of 0.931 and the QLC-Scale measuring instrument adapted by Afandi et.al (2023) with reliability value of 0.913. The results of the simple regression analysis test showed that the calculated t-value was 9.209> t-table 1.966, which means that there is a positive influence between loneliness on QLC with an R2 value of 0.172, which means that 17.2% of loneliness affects QLC in emerging adulthood in Bandung, while 82.8% influenced by other factors. Based on the research results, it can be concluded that the higher the level of loneliness, the higher the level of a person's QLC, and vice versa.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kesepian adalah kondisi individu merasa hubungan sosialnya tidak sesuai yang diharapkan. Pada fase emerging adulthood, kesepian menjadi faktor yang memperburuk quarter life crisis (QLC), dimana tuntutan dan kecemasan hubungan sosial menjadi salah satu penyebab utama terjadinya krisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kesepian terhadap QLC pada emerging adulthood di Kota Bandung dengan N=409 responden. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif kausalitas, dengan teknik convenience sampling dan kuesioner dibagikan secara online. Alat ukur yang digunakan yakni UCLA Loneliness Scale version 3 diadaptasi oleh Ramadhani (2023), dengan nilai reliabilitas sebesar 0.931 dan alat ukur QLC-Scale yang diadaptasi oleh Afandi et. al (2023) dengan nilai reliabilitas 0.913. Hasil uji analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 9.209 > t tabel 1.966 yang artinya terdapat pengaruh positif antara kesepian terhadap QLC dengan nilai R2 sebesar 0,172 yang artinya sebesar 17,2% kesepian berpengaruh terhadap QLC pada emerging adulthood di Kota Bandung, sedangkan 82,8% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Berdasarkan hasil uji analisis regresi sederhana, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kesepian maka tingkat QLC seseorang akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kesepian seseorang, maka tingkat QLC akan semakin rendah.</p>2025-01-23T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16061Pengaruh Religiusitas terhadap Work Engagement pada PT Al Qosbah Karya Indonesia2025-02-24T18:05:18+08:00Devori Vhianza Berniedevorivb@gmail.comSuhanahanspsikologi@gmail.com<p><strong><span lang="IN">Abstract</span></strong><span lang="IN">. </span><span lang="EN">Work Engagement is believed to be able to create conditions where employees not only become productive workers, but also employees can feel satisfaction and meaning in every aspect of their work. Religiosity is believed to provide long-term satisfaction so that it can increase employees' abilities in facing existing work challenges. Prior research has demonstrated that religiosity has a positive impact on work engagement. The goal of this study was to determine the degree to which employee religiosity affects work engagement in PT. Al Qosbah Karya Indonesia, a religious company. This study employed the quantitative method of research, which involves using a questionnaire to gather data from 120 participants, all of whom are company employees. Among the measuring tools used are the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) measuring tool from Schaufeli and Bakker (2003) adapted by Febrianthi et al., and the Centrality of Religiosity Scale Interreligious (CRSi) from Huber & Huber (2012) adapted by Yahya Nailul Harom. The study's findings demonstrate that religiosity has a positive and significant impact on work engagement, with PT. Al Qosbah Karya Indonesia employees contributing 15.2% of the total.</span></p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak</strong>. Work Engagament dipercaya bisa menciptakan kondisi dimana karyawan tidak hanya menjadi pekerja yang produktif, tetapi juga karyawan bisa merasakan kepuasan dan makna dalam tiap-tiap aspek dari pekerjaan mereka. Religiusitas diyakini bisa memberikan kepuasan jangka panjang sehingga bisa meningkatkan kemampuan karyawan dalam menghadapi tantangan pekerjaan yang ada. Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa secara positif work engagement mendapat pengaruh dari religiusitas. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengukur seberapa besar pengaruh religiusitas karyawan terhadap work engagement di perusahaan religi yaitu PT. Al Qosbah Karya Indonesia. Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang diimplementasikan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuisioner sebagai alat untuk mengumpulkan data dengan total populasi sejumlah 120 yaitu karyawan dari perusahaan. The Centrality of Religiosity Scale Interreligious (CRSi) dari Huber & Huber (2012) yang diadaptasi oleh Yahya Nailul Harom, dan alat ukur Utrecht Work Engagement Scale (UWES) dari Schaufeli dan Bakker (2003) yang diadaptasi oleh Khristiana et all adalah sejumlah alat ukur yang digunakan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa secara positif dan signifikan work engagement mendapat pengaruh dari religiusitas dengan kontribusi sekuat 15,2% pada karyawan PT. Al Qosbah Karya Indonesia.</p>2025-01-23T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16069Pengaruh Growth Mindset terhadap Kegigihan pada Guru SMA Negeri di Kota Bandung2025-02-24T18:05:16+08:00Anisa Nur Fadhilahanisa.nurfadhilah31@gmail.comAndhita Nurul Khasanahandhita.khasanah@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Teachers in digital era have a demand to develop their duties and roles in teaching by the times, this can be achieved by having a growth mindset. Growth mindset involves what teachers think about in developing their teaching skills and abilities. Developing and maintaining a growth mindset will lead to persistence or grit. Teachers who have persistence will have higher improved pedagogical thinking, effective performance, and better teacher cognition. This study examines the impact of growth mindset and grit on teachers persistence when facing challenges. This study used a non-experimental quantitative approach with cluster random sampling technique involving research subjects as many as 306 public high school teachers in Bandung city. The measuring instruments used are Dweck Mindset Instrument (2006) which has been adapted by Novanto (2023) and Grit created by Duckworth (2007) which has been adapted by Novanto (2023). The data analysis method in this study is simple linear regression analysis. The results showed that the level of growth mindset and grit in public high school teachers in Bandung City was in the low category and there was an influence between the growth mindset variable on grit.<br><br><strong>Abstrak.</strong> Guru di era digital memiliki tuntutan untuk terus mengembangkan tugas dan perannya dalam mengajar sesuai dengan perkembangan zaman, hal ini dapat dicapai dengan memiliki growth mindset. Growth mindset melibatkan apa yang dipikirkan guru dalam mengembangkan keterampilan dan kemampuan mengajar mereka. Dengan mengembangkan dan mempertahankan growth mindset akan mengarahkan pada kegigihan atau grit. Guru yang memiliki kegigihan akan memiliki pemikiran pedagogis yang lebih tinggi, memiliki kinerja profesional yang lebih efektif, serta dapat berdampak pada kognisi dan kinerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh growth mindset dan grit yang akan mendorong dalam pengembangan kemampuan diri melalui usaha yang nantinya akan berdampak pada kegigihan (grit) ketika terdapat permasalahan atau tantangan yang harus dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non eksperimen dengan teknik cluster random sampling yang melibatkan subjek penelitian sebanyak 306 guru SMA Negeri di kota Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah Dweck Mindset Instrument (2006) yang telah diadaptasi oleh Novanto (2023) dan Grit yang dibuat oleh Duckworth (2007) yang telah diadaptasi oleh Novanto (2023). Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisiS regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan tingkat growth mindset dan grit pada guru SMA Negeri di Kota Bandung berada pada kategori rendah dan growth mindset berpengaruh terhadap grit.<br><br></p>2025-01-23T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16079Pengaruh Transformational Leadership terhadap Work Engagement pada Karyawan Pabrik Es Saripetojo Bandung2025-02-24T18:05:15+08:00Zayyan Zakiyyahzayyanzakiyyah@gmail.comAyu Tuty Utamiayu.tutyutami@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Leaders who use transformational leadership styles can have a lot of potential to create a positive work environment, so that employees can feel engaged in their work. The purpose of this study was to determine the effect of Transformational Leadership on Work Engagement in employees of Saripetojo Bandung Ice Factory. This research uses quantitative research with a non-experimental causality approach and data collection techniques using a questionnaire in the form of a google form. The data analysis technique was carried out using simple regression. This study involved 55 employees who worked at Saripetojo Bandung Ice Factory. The measuring instruments used in this study are Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) developed by Bass & Avolio, Mind Garden, inc, and adapted by Ancok (2012). And Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) developed by Schaufeli & Bakker (2003). The results of the study obtained an R of 0.408 and an R-Square of 0.166, it can be concluded that transformational leadership has a positive influence on work engagement by 16.6%. Based on the results of this study, it is recommended that the manager of the saripetojo ice factory pay more attention to his employees by using the transformational leadership model.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Pemimpin yang menggunakan gaya transformational leadership dapat memiliki banyak potensi untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif, sehingga karyawan dapat merasakan engaged dalam pekerjaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Transformational Leadership terhadap Work Engagement pada karyawan Pabrik Es Saripetojo Bandung. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan kausalitas non eksperimen dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner berupa google form. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi sederhana (simple regression). Penelitian ini melibatkan 55 karyawan yang bekerja pada Pabrik Es Saripetojo Bandung. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) yang dikembangkan oleh Bass & Avolio, Mind Garden, inc, dan diadaptasi oleh Ancok (2012). Dan Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) yang dikembangkan oleh Schaufeli & Bakker (2003). Hasil penelitian mendapatkan hasil R sebesar 0,408 dan R-Square 0,166, maka dapat disimpulkan bahwa transformational leadership memiliki pengaruh positif terhadap work engagement sebesar 16,6%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar manager pabrik es saripetojo lebih sering lagi memperhatikan karyawannya dengan menggunakan model transformational leadership.</p>2025-01-23T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16081Resiliensi sebagai Moderator antara Perundungan dan Kesejahteraan Subjektif pada Siswa SMP2025-02-24T18:05:13+08:00Bayu Rachmantyobrachmantyo86@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.idTia Inayatillahtiainayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Bullying negatively affects the subjective well-being of junior high school students. This study examines the moderating role of resilience in the relationship between bullying and subjective well-being among students in Bandung City. Resilience refers to the ability to utilize psychological, social, cultural, and physical resources to maintain well-being and adapt to adversity. A total of 254 students from various junior high schools were selected through stratified cluster random sampling. This research employed a quantitative cross-sectional survey, utilizing instruments such as the School Bullying scale, CW-SWBS5, and CYRM-R Plus Spirituality and Religiosity. Data analysis involved descriptive statistics, compare means, and ANOVA. Findings revealed that students who experienced bullying had significantly lower subjective well-being (M = 63.91; SD = 28.52) at (p < .01), falling below the 75-point benchmark from Cummins' theory. Furthermore, resilience significantly moderated the bullying-subjective well-being relationship, particularly in spirituality (p = .023) and religiosity (p = .021). These results suggest that resilience, especially in spiritual and religious aspects, may help mitigate the adverse effects of bullying on students' well-being.<br><br><strong>Abstrak.</strong> Perundungan berdampak negatif terhadap kesejahteraan subjektif siswa sekolah menengah pertama. Penelitian ini meneliti peran moderasi resiliensi dalam hubungan antara perundungan dan kesejahteraan subjektif di kalangan siswa di Kota Bandung. Resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya psikologis, sosial, budaya, dan fisik guna mempertahankan kesejahteraan serta beradaptasi terhadap kesulitan. Sebanyak 254 siswa dari berbagai sekolah menengah pertama dipilih melalui stratified cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan desain survei kuantitatif cross-sectional dengan instrumen seperti School Bullying, CW-SWBS5, dan CYRM-R Plus Spirituality and Religiosity. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif, compare means, dan ANOVA. Hasil menunjukkan bahwa siswa yang mengalami perundungan memiliki kesejahteraan subjektif yang secara signifikan lebih rendah (M = 63,91; SD = 28,52) pada (p < .01), berada di bawah ambang batas 75 berdasarkan teori Cummins. Selain itu, resiliensi terbukti berperan sebagai moderator yang signifikan dalam hubungan antara perundungan dan kesejahteraan subjektif, terutama dalam aspek spiritualitas (p = .023) dan religiositas (p = .021). Temuan ini menunjukkan bahwa resiliensi, khususnya dalam aspek spiritual dan religius, dapat membantu mengurangi dampak negatif perundungan terhadap kesejahteraan siswa.<br><br></p>2025-01-23T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16083Pengaruh Social Support terhadap Body Dissatisfaction pada Perempuan di Fitness Center Bandung2025-02-24T18:05:12+08:00Amalia Mardhiyatus Sa'diyahmale.amalia@gmail.comEni Nuraeni Nugrahawatienipsikologi@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>Many early adult women exercise in fitness center to maintain their appearance and increase their self-confidence. This is due to the beauty standards in society that make them feel dissatisfied with their body shape even though they already have an ideal body. In addition, this phenomenon is also rarely researched in Indonesia, especially in Bandung City. Researchers also have not found many similar studies that link these two variables without any other variables. The purpose of this study was to determine the effect of social support on body dissatisfaction in women at Bandung fitness center. This study used a quantitative approach with the causality method on 363 respondents. The research instrument contains a social support questionnaire (Sarafino, 2011) modified by Maulana (2015) and a body dissatisfaction questionnaire (Rosen & Reiter, 1995) modified by Ananta (2022). The results of this study were women who exercised at the fitness center had low social support as mani as 325 respondents (89,53%) and high body dissatisfaction in 186 respondents (51,24%). It is known that there is a significantly negative influence on the social support variables on body dissatisfaction by 8,7% and the rest is influenced by other variables that are not in this study.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Berolahraga di pusat kebugaran banyak dilakukan oleh perempuan usia dewasa awal guna menjaga penampilan dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Hal ini dikarenakan adanya standar kecantikan di masyarakat yang membuat mereka merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya meskipun sudah memiliki tubuh yang ideal. Selain itu fenomena ini juga masih jarang diteliti di Indonesia, khususnya di Kota Bandung. Peneliti juga belum banyak menemukan penelitian serupa yang mengaitkan antara kedua variabel ini tanpa adanya variabel lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap ketidakpuasaan tubuh pada perempuan di pusat kebugaran Bandung. Penelitian ini <br>menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kausalitas terhadap 363 responden. Instrumen penelitian berisikan kuesioner dukungan sosial (Sarafino, 2011) yang dimodifikasi oleh Maulana (2015) dan kuesioner ketidakpuasan tubuh (Rosen & Reiter, 1995) yang dimodifikasi oleh Ananta (2022). Hasil penelitian ini adalah perempuan yang berolahraga di pusat kebugaran memiliki dukungan sosial yang rendah sebanyak 325 responden (89,53%) dan ketidakpuasan tubuh tinggi pada 186 responden (51,24%). Sehingga diketahui bahwa terdapat pengaruh yang secara signifikan negatif pada variabel dukungan sosial terhadap ketidakpuasan tubuh sebesar 8,7% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada pada penelitian ini.</p>2025-01-23T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16122Pengaruh Social Support terhadap Worklife Balance pada PNS DPMPTSP Kota Bandung 2025-02-24T18:05:10+08:00Daffa Azzam MuzhaffarDaffanexus@gmail.comAnna Rozanaannadyreza93@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Work Life Balance for employees is very important and Social Support can be a factor that encourages employees to achieve balance in their performance. This study aims to determine the effect of Social Support on Work Life Balance for Civil Servants, especially in DPMPTSP Bandung City, Licensing and Non-Licensing Service Fields A, B, and C. The research subjects were 28 Civil Servants in DPMPTSP Bandung City, Licensing Service Fields A, B, and C using the total sampling method. Data collection using the Social Support and Work Life Balance scales, using SPSS software to analyze data using simple linear regression techniques. The regression significance value of 0.04 which is smaller than 0.05 indicates a significant influence between Social Support and Work Life Balance on Civil Servants, especially on Civil Servants at DPMPTSP Bandung City in the Field of Licensing Services A, B, and C. This study proves that Social Support has an influence of 27.4% on Work Life Balance. The results of this study prove that the hypothesis regarding the influence of Social Support on Work Life Balance is accepted. Thus, the hypothesis is proven that Social Support is one of the elements that has an influence on Work Life Balance.<br><br></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Work Life Balance pada pegawai sangatlah penting dan Dukungan Sosial (Social Support) dapat menjadi faktor yang mendorong pegawai mencapai keseimbangan dalam kinerjanya. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh Social Support terhadap Worklife Balance pada PNS khususnya di DPMPTSP Kota Bandung Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan A, B, dan C. Subjek penelitian yang berjumlah 28 PNS di DPMPTSP Kota Bandung Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan A,B, dan C dengan memakai metode total sampling. Pengumpulan data memakai skala Social Support dan Work Life Balance, Menggunakan software SPSS untuk melakukan analisis data memakai teknik regresi linear sederhana. Nilai signifikansi regresi sejumlah 0.04 yang lebih kecil dari 0.05 menunjukan adanya pengaruh signifikan antara Social Support dengan Work Life Balance pada PNS khususnya pada PNS di DPMPTSP Kota Bandung Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan A,B, dan C. Dalam penelitan ini membuktikan bahwa Social Support mempunyai pengaruh sebesar 27.4% terhadap Worklife Balance. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa hipotesis yang mengenai adanya pengaruh Social Support terhadap Worklife Balance diterima. Dengan demikian dibuktikan hipotesis memaparkan bahwa Social Support yakni salah satu unsur yang memiliki pengaruh terhadap Worklife Balance.</p>2025-01-24T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16126Pengaruh Psychological Capital terhadap Readiness For Change pada Karyawan PT. XYZ2025-02-15T21:17:40+08:00Satrio Adhi Wicaksonosatrioadhiw14@gmail.comAnna Rozanaannadyreza93@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Employees at PT. XYZ are facing organizational changes that pose various challenges, such as concerns about new tasks, changing organizational culture, and loss of previously earned status. These challenges may lead to resistance to change. Psychological capital, which includes the ability to maintain positive beliefs and persevere in difficult situations, is believed to enhance employees readiness for organizational change. This study aims to examine the influence of psychological capital on readiness for change among employees at PT. XYZ. The study population consists of PT. XYZ employees (N=330). The research design is non-experimental causality with a quantitative approach, using Simple Random Sampling for sampling and simple linear regression analysis via SPSS version 25. The first measurement tool is the Psychological Capital Questionnaire (PCQ), adapted into Indonesian. The second tool is the Readiness for Change Scale, also adapted into Indonesian. The results show a significant effect with an R Square value of (0.601), meaning psychological capital influences (60.1%) readiness for change among PT. XYZ employees. These findings indicate that psychological capital is a key factor in enhancing employees' readiness for change. The study suggests the need for programs and interventions focusing on the development of psychological capital to improve readiness for change.<br><br></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Karyawan di PT. XYZ tengah menghadapi perubahan organisasi yang menimbulkan berbagai tantangan, seperti kekhawatiran akan tugas baru, budaya organisasi yang berubah, serta kehilangan status yang sebelumnya didapatkan. Ini berrpotensi menimbulkan resistensi terhadap perubahan. Psychological capital, yang mencakup kemampuan untuk mempertahankan keyakinan positif dan bertahan di situasi sulit, diyakini dapat meningkatkan kesiapan karyawan menghadapi perubahan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh psychological capital terhadap readiness for change pada karyawan di PT. XYZ. Populasi penelitian ini adalah karyawan PT. XYZ (N=330). Penelitian ini menggunakan desain kausalitas non-eksperimen dan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling dan analisis data dilakukan dengan regresi linier sederhana menggunakan SPSS versi 25. Alat ukur pertama adalah Psychological Capital Questionnaire (PCQ) yang diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Alat ukur kedua adalah Readiness for Change Scale yang di adaptasi ke dalam bahasa indonesia. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai R Square sebesar (0,601), yang berarti psychological capital berpengaruh (60,1%) terhadap readiness for change karyawan PT. XYZ. Temuan ini menunjukkan bahwa psychological capital adalah faktor kunci dalam meningkatkan kesiapan karyawan menghadapi perubahan. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya program dan intervensi yang fokus pada pengembangan psychological capital untuk meningkatkan readiness for change karyawan.</p>2025-01-24T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16130Pengaruh Self Control terhadap Adiksi Judi Online Slot di Kota Bandung 2025-02-15T21:19:07+08:00Syalsa Anugrah SofiyullohAnugrahsofiyulloh@gmail.comSuhanahansunisba@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> This study explores the tendency of online gambling addiction among university students, focusing on the role of self-control in influencing addiction levels. Self-control is believed to help reduce addictive behaviors, as individuals with high self-control can manage impulsive urges that may lead to harm. The research aims to assess the extent of self-control's impact on gambling addiction tendencies among online slot players. Using a quantitative approach with a non-probability Snowball sampling method, the study involved 140 respondents, including 79 university students and 61 online motorcycle taxi drivers aged 18-25. Data analysis was conducted through multiple regression and descriptive statistics. The study utilized the Self-Control Scale by Tangney, Baumeister, and Boone (2004) and the Problem Gambling Severity Index (PGSI) by Ferris & Wynne (2001). Results indicated that self-control contributed 35.7% to gambling addiction tendencies, with a significance value of 0.00 < 0.05 and a statistical value of 14.905, confirming a strong simultaneous effect. This suggests that higher self-control is associated with lower levels of online slot gambling addiction.<br><br><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini mengeksplorasi kecenderungan kecanduan judi online di kalangan mahasiswa, dengan fokus pada peran kontrol diri dalam mempengaruhi tingkat kecanduan. Kontrol diri diyakini dapat mengurangi perilaku adiktif, karena individu dengan kontrol diri yang tinggi mampu mengendalikan dorongan impulsif yang berpotensi merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pengaruh kontrol diri terhadap kecenderungan kecanduan judi slot online. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode non-probability Snowball sampling, penelitian ini melibatkan 140 responden, terdiri dari 79 mahasiswa dan 61 pengemudi ojek online berusia 18-25 tahun. Analisis data dilakukan dengan regresi berganda dan statistik deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah Self-Control Scale oleh Tangney, Baumeister, dan Boone (2004) serta Problem Gambling Severity Index (PGSI) oleh Ferris & Wynne (2001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri berkontribusi sebesar 35,7% terhadap kecenderungan kecanduan judi online, dengan nilai signifikansi 0,00 < 0,05 dan nilai statistik 14,905, yang mengonfirmasi adanya pengaruh yang kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kontrol diri, semakin rendah tingkat kecanduan judi slot online pada pemain.</p>2025-01-24T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16135Studi Deskriptif Mengenai Subjective Well-Being pada Mahasiswa di Kota Bandung2025-02-15T21:20:35+08:00Zahraini Rahma Fatimahzahrainirahma8@gmail.comUmar Yusuf Supriatna kr_umar@yahoo.co.id<p><strong>Abstract</strong> This study aims to describe the levels of <em>Subjective well-being</em> (SWB) among university students in Bandung. SWB reflects an individual's overall mental and emotional well-being, encompassing life satisfaction, positive emotions, and the absence of negative emotions. A total of 397 students from four universities in Bandung were randomly selected as participants. Data collection was conducted through questionnaires, which were analyzed using SPSS version 25. The results revealed that 61.5% of the students exhibited high levels of SWB, while 38.5% displayed low levels of SWB. This descriptive study provides a snapshot of the well-being status among university students in Bandung, offering insights into their mental health and emotional resilience in the face of academic and social challenges.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat <em>Subjective well-being</em> (SWB) pada mahasiswa di Kota Bandung. SWB mencerminkan kesejahteraan mental dan emosional individu secara keseluruhan, yang mencakup kepuasan hidup, emosi positif, dan ketiadaan emosi negatif. Sebanyak 397 mahasiswa dari empat universitas di Bandung dipilih secara acak sebagai partisipan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, yang kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,5% mahasiswa memiliki tingkat SWB yang tinggi, sedangkan 38,5% menunjukkan tingkat SWB yang rendah. Penelitian deskriptif ini memberikan gambaran tentang kondisi kesejahteraan mahasiswa di Kota Bandung, serta memberikan wawasan mengenai kesehatan mental dan ketahanan emosional mereka dalam menghadapi tantangan akademik dan sosial.</p>2025-01-24T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16160Pengaruh Loneliness terhadap Celebrity Worship pada Penggemar K-Pop di Kota Bandung2025-02-15T21:22:24+08:00Sevia Sri Rahayuseviasr12@gmail.comMuhammad Ilmi Hattam.ilmi.hatta@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Celebrity worship is characterized by obsessive and addictive behavior among fans who immerse themselves in the lives of their idols. A significant contributing factor to this phenomenon is loneliness, where individuals feel sad and undervalued due to a lack of social connections. In K-Pop fans, feelings of loneliness can lead to social withdrawal and a focus on their idols through social media. This study investigates the impact of loneliness on celebrity worship among K-Pop fans in Bandung, utilizing a quantitative approach and simple linear regression design with a sample of 332 fans from EXO-L and NCTzen fandoms. Data was collected using the Celebrity Attitude Scale (CAS) and UCLA Loneliness Scale Version 3. Results indicate a positive correlation between loneliness and celebrity worship, with a significance score of 0.000 (p<0.05) and an R Square value of 0.116, meaning loneliness influences celebrity worship by 11.6%.<br><br><strong>Abstrak.</strong> Perilaku obsesif dan adiktif oleh penggemar guna senantiasa terlibat dalam tiap kehidupan idolanya, sehingga terbawa dalam kehidupannya sehari-hari disebut sebagai celebrity worship. Faktor yang memengaruhi terwujudnya Celebrity worship ialah Loneliness. Perihal tersebut merupakan perasaan sedih, tidak bersemangat, merasa dirinya tidak berharga karena individu tersebut tidak mendapatkan kehidupan sosial seperti yang diinginnya. Apabila terjadi kepada penggemar K-Pop, yang mempunyai keterlibatan sosial rendah, akan menjadikannya menarik diri, mengisolasikan diri dari lingkungan sosialnya, dan memiliki kegagalan dalam hubungan di masalalu. Mereka akan mempunyai kecenderungan menghabiskan waktunya guna memfokuskan diri kepada idolanya lewat media sosial. Penelitian ini ditujukan guna mengetahui apakah loneliness mempengaruhi celebrity worship pada penggemar K-Pop di Kota Bandung. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan kuantitatif dengan desain studi regresi linear sederhana. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 332 orang penggemar K-Pop yang tergabung dalam fandom EXO-L dan NCTzen di Kota Bandung. Pengambilan data dijalankan melalui penggunaan kuesioner Celebrity Attitude Scale (CAS) dan UCLA Loneliness Scale Version 3. Penelitian ini dalam hasilnya memperlihatkan bahwasanya terdapat pengaruh positif antara loneliness terhadap celebrity worship pada penggemar K-Pop di Kota Bandung. Perihal tersebut memperoleh bukti oleh skor signifikansi sejumlah 0,000 (p<0,05) serta skor R Square sejumlah 0,116. Artinya loneliness mempengaruhi celebrity worship sejumlah 11,6%.<br><br></p>2025-01-26T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16163Hubungan antara Escapism dengan Kecenderungan Kecanduan Game Online pada Mahasiswa Fakultas Teknik2025-02-15T21:24:27+08:00Aisyah Amatullahaisyah.amatullah111@gmail.comLilim Halimahaumisyanida@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Students face academic demands. It’s found that students turn to escapism. Most students are internet users leading to escape into online gaming. Excessive use leads to online game addiction tendency phenomenon, resulting negative impacts. The purpose to investigate relationship between escapism and online game addiction tendency among Faculty of Engineering students, Islamic University of Bandung. Employs a correlational quantitative design. The population is Faculty of Engineering students, Islamic University of Bandung who play online games more than 4 hours per-day, total of 285 subjects using convenience sampling. Measurement tools are the Escapism Scale (20 items, α = 0.920) developed by Maxentia and Rahmandani (2022) based on aspects of Warmelink et al. (2009), and the Online Game Addiction Tendency Scale (37 items, α = 0.940) developed by Maxentia and Rahmandani (2022) based on aspects of Lemmens et al. (2009). Data analysis using Spearman's Rho correlation test, yielding a result of 0.839 and p = 0.000 (p<0.05). There is a positive relationship between escapism and online game addiction tendency among Faculty of Engineering students, Islamic University of Bandung. Indicated that the higher of escapism level, the higher of online game addiction tendency level. Suggestion for students to receive self-development about healthy routines.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Mahasiswa dihadapkan dengan tuntutan akademik. Maka ditemukan banyak mahasiswa melakukan <em>escapism</em>. Hampir seluruh mahasiswa adalah pengguna internet sehingga dengan mudah melarikan diri ke <em>game online</em>. Penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan fenomena kecenderungan kecanduan <em>game online</em> yang menimbulkan dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara <em>escapism</em> dengan kecenderungan kecanduan <em>game online</em> pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional. Populasi penelitian adalah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung yang bermain <em>game online</em> lebih dari 4 jam perhari dengan teknik sampling adalah <em>convenience sampling</em> sebanyak 285 subjek. Alat ukur yang digunakan adalah Skala <em>Escapism</em> (20 aitem α = 0.920) dikembangkan oleh Maxentia dan Rahmandani (2022) berbasis aspek dari Warmelink et al. (2009) dan Skala Kecenderungan Kecanduan <em>Game Online</em> (37 aitem, α = 0.940) dikembangkan oleh Maxentia dan Rahmandani (2022) berbasis aspek dari Lemmens et al. (2009). Analisis data menggunakan uji korelasi <em>Spearman’s Rho</em> dengan hasil 0.839 dan p = 0.000 (p<0.05). Artinya terdapat hubungan positif antara <em>escapism</em> dengan kecenderungan kecanduan <em>game online</em> pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung. Hasil penelitiannya adalah tingkat <em>escapism</em> nya tinggi, maka tingkat kecenderungan kecanduan <em>game online</em> nya juga tinggi. Sarannya adalah mahasiswa mendapatkan pelatihan pengembangan diri terkait rutinitas sehat.</p>2025-01-26T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16166Pengaruh Growth Mindset terhadap Kegigihan pada Siswa SMA di Pondok Pesantren2025-02-15T21:26:18+08:00Indah Nurfadilaindahnurfadila02@gmail.comAndhita Nurul Khasanah andhita.khasanah@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> <span lang="IN">High school students in Islamic boarding schools face challenges both in the boarding school environment and at school. They encounter to adapt to new surroundings that require them to have clear goals and to balance their time between the boarding school and school environments, necessitating resilience to overcome these challenges. Such conditions can interfere their performance in both places and may lead to negative outcomes. Therefore, having persistence in the field of education is crucial for academic success. To foster persistence, it is important to have encouragements that can influence it, one of which is a growth mindset. This study used a quantitative method with data collection techniques through questionnaires distributed to 384 high school students in Islamic boarding schools in West Bandung Regency. The sampling technique used was cluster random sampling. The data were analyzed using simple regression and descriptive statistics to depict demographic data. The measurement tools used were the Dweck Mindset Instrument (2006), adapted by Novanto (2023), and the Grit Scale developed by Duckworth (2007), also adapted by Novanto (2023). The results showed that the levels of growth mindset and persistence among high school students in Islamic boarding schools were high, and growth mindset had an impact on persistence among these students.</span></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Siswa SMA yang berada di pondok pesantren mengalami tantangan baik dalam lingkungan pesantren atau sekolah, kesulitan dalam lingkungan baru yang menuntut mereka untuk memiliki tujuan, dan menyeimbangkan waktu baik di lingkungan pesantren maupun sekolah, sehingga diperlukan ketahanan dalam menghadapi tantangan. Kondisi tersebut akan menganggu mereka baik di lingkungan pesantren maupun sekolah dan akan berakibat buruk. Maka penting memiliki <em>grit</em> dalam bidang pendidikan untuk keberhasilan belajar dan pendidikan. untuk menumbuhkan <em>grit</em> penting memiliki dorongan yang dapat mempengaruhi, salah satu variabel yang mempengaruhi <em>grit</em>, yaitu <em>growth mindset</em>. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada 384 siswa SMA di pondok pesantren di Kabupaten Bandung Barat. Teknik pengambilan sampel yaitu, <em>cluster random sampling</em>. Data dianlisis dengan menggunakan teknik regresi sederhana dan statistik deskriptif untuk menggambarkan data demografi. Alat ukur yang digunakan adalah <em>Dweck Mindset Instrument</em> (2006) yang telah diadaptasi oleh Novanto (2023) dan kegigihan (<em>Grit</em>) yang dibuat oleh Duckworth (2007) yang telah diadaptasi oleh Novanto (2023). Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat <em>growth mindset</em> dan kegigihan (<em>grit)</em> pada siswa SMA di pondok pesantren tinggi dan <em>growth mindset</em> memiliki pengaruh terhadap kegigihan (<em>grit</em>) pada siswa SMA di pondok pesantren.</p>2025-01-26T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16206Hubungan antara Kepuasan Sekolah dengan Kesejahteraan Subjektif pada Remaja Korban Perundungan2025-02-15T21:27:57+08:00Mutia Athaya Zuhramutiaathaya001@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.idTia Inayatillahtiainayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Bullying is a social phenomenon that can be experienced by various age groups and educational levels. Schools, which should be places for learning and development, often become places where bullying occurs. The purpose of this study is to determine the contribution between school satisfaction and subjective well-being (SWB) focused on adolescent victims of bullying in Junior High School. The samples in this study were junior high school students in Bandung City aged 12 to 16 years (N=254; 52% male, 48% female), selected using stratified cluster random sampling technique with cross-sectional quantitative survey research design. Measurements were made using instruments from Children's Worlds, namely School Satisfaction, Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 (CW-SWBS5) and School Bullying. The results showed that school satisfaction contributed to SWB at a significant level (<em>p < .</em>05), with 46.1% of SWB variability explained by school satisfaction. So when students are dissatisfied with their school environment, this is significantly associated with a decrease in their SWB. There is SWB of adolescent victims of bullying (<em>M = </em>63.91<em>; SD = </em>28.52) is below average, this refers to the set-point from Cummins. These findings highlight the importance of creating more supportive and safe school environments to help improve school satisfaction and SWB of students who experience bullying.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perundungan merupakan fenomena sosial yang dapat dialami oleh berbagai kelompok usia dan jenjang pendidikan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan berkembang, seringkali menjadi tempat terjadinya perundungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi antara kepuasan sekolah dengan kesejahteraan subjektif (SWB) yang difokuskan pada remaja korban perundungan di SMP. Sampel dalam penelitian ini merupakan siswa SMP di Kota Bandung yang berusia 12 hingga 16 tahun (N=254; 52% laki-laki, 48% perempuan), dipilih menggunakan teknik <em>stratified cluster random sampling</em> dengan desain penelitian kuantitatif <em>cross-sectional survey</em>. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen dari <em>Children’s Worlds</em>, yaitu <em>School Satisfaction, Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 (</em>CW-SWBS5<em>) </em>dan<em> School Bullying</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan sekolah berkontribusi terhadap SWB pada tingkat yang signifikan (<em>p < .</em>05), dengan 46.1% variabilitas SWB dapat dijelaskan oleh kepuasan sekolah. Sehingga ketika siswa merasa tidak puas dengan lingkungan sekolah mereka, hal ini secara signifikan berhubungan dengan penurunan SWB mereka. Adapun SWB remaja korban perundungan (<em>M= </em>63<em>.</em>91<em>; SD =</em>28<em>.</em>52) berada di bawah rata-rata, hal ini mengacu pada set-point dari Cummins. Temuan ini menyoroti pentingnya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih mendukung dan aman untuk membantu meningkatkan kepuasan sekolah dan SWB siswa yang mengalami perundungan.</p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16214Pengaruh Self-regulated Learning terhadap Kematangan Karir pada Mahasiswa Politeknik di Kota Bandung2025-02-15T21:29:31+08:00Anisa Falasyifa Islamicaanisafalasyifa21@gmail.comSiti Qodariahsiti.qodariah@yahoo.co.id<p><strong>Abstract. </strong>Studies that discuss the influence of self-regulated learning with career maturity produce varying strengths of influence ranging from low to high. This study aims to evaluate the effect of self-regulated learning on the career maturity of polytechnic students in Bandung City. This study used a quantitative approach with participants totaling 117 polytechnic students in Bandung City. Data collection used questionnaires filled out by participants by utilizing the Motivated Stategies for Learning Questionaire (MSLQ) and Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) measuring instruments. Data analysis was conducted using simple linear regression. Today the results of data analysis show some results of the level of self-regulated learning in polytechnic students in Bandung City, the majority are in the low self-regulated learning category. Second, the level of career maturity in polytechnic students in Bandung City is mostly in the low career maturity category. Third, self-regulated learning affects career maturity by 29.8% in polytechnic students in Bandung City. This study found that the effect of self-regulated learning on career maturity in polytechnic students in Bandung City is in the low category. Future researchers can pay attention to the proportion of the sample so that the data is more representative and can be generalized.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Penalitian-penelitian yang membahas pengaruh <em>self-regulated learning </em>dengan kematangan karir menghasilkan kekuatan pengaruh yang bervariasi mulai dari rendah hingga tinggi. Peneliatian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh <em>self-regulated learning </em>terhadap kematangan karir mahasiswa politeknik di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan partisipan berjumlah 117 mahasiswa politeknik di Kota Bandung. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diisi oleh partisipan dengan memanfaatkan alat ukur <em>Motivated Stategies for Learning Questionaire (MSLQ) </em>dan <em>Career Adapt-Abilities Scale (CAAS). </em>Analisis data dilakukan dengan regresi linear sederhana. Hari hasil analisis data menunjukkan beberapa hasil tingkat <em>self-regulated learning </em>pada mahasiswa politeknik di Kota Bandung mayoritas berada pada kategori <em>self-regulated learning </em>rendah. Kedua, tingkat kematangan karir pada mahasiswa politeknik di Kota bandung mayoritas berada pada kategori kematangan karir rendah. Ketiga, <em>self-regulated learning </em>mempengaruhi kematangan karir sebesar 29,8% pada mahasiswa Politeknik di Kota Bandung. Penelitian ini menemukan bahwa pengaruh <em>self-regulated learning </em>terhadap kematangan karir pada mahasiswa politeknik di Kota Bandung berada pada ketegori rendah. Peneliti selanjutnya dapat memperhatikan proporsi sampel agar data lebih representative dan dapat digeneralisasikan.</p>2025-01-26T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16215Pengaruh Nilai Individu terhadap Niat Berwirausaha pada Mahasiswa di Kota Bandung2025-02-15T21:30:53+08:00Aisyah Nuryasmin Aini10050020098@unisba.ac.idSusandarisusandari@unisba.ac.id<p><strong>Abstract. </strong>This study aims to determine the effect of individual values on entrepreneurial intentions of students in Bandung City. This study uses a quantitative approach with sample (N = 151) students in Bandung City who have intention to be an entrepreneur and selected using convenience sampling techniques. Data were collected by using Portrait Value Questionnaire (PVQ-40) by Schwartz and the Entrepreneurial Intention Inventory (EII) by Liñán and Chen. Data was analysed using multiple linear regression to see the effect of self-direction, stimulation, hedonism, achievement, power on entrepreneurial intentions. The results showed that all values has significant positive effect simultaneously on entrepreneurial intentions (p = .000) and p <.05 for each values. The contribution of all individual values to entrepreneurial intentions was 40.7%.</p> <p><br><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai-nilai individu terhadap intensi berwirausaha mahasiswa di Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan sampel (N=151) mahasiswa di Kota Bandung yang memiliki intensi berwirausaha dan dipilih dengan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan Portrait Value Questionnaire (PVQ-40) oleh Schwartz dan Entrepreneurial Intention Inventory (EII) oleh Liñán dan Chen. Data dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda untuk melihat pengaruh pengarahan diri, stimulasi, hedonisme, prestasi, kekuasaan terhadap niat kewirausahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua nilai berpengaruh positif signifikan secara simultan terhadap niat kewirausahaan (p = .000) dan p < .05 untuk setiap nilai. Kontribusi semua nilai individu terhadap intensi berwirausaha sebesar 40,7%. </p>2025-01-26T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16239Hubungan Psychological Well-Being dengan Burnout pada Perawat Jiwa di RS Jiwa Provinsi Jawa Barat2025-02-15T21:33:16+08:00Fauziyah Nahdah Aviantifauziyahavianti@gmail.comHedi Wahyudihediway@yahoo.co.id<p><strong>Abstract.</strong> A psychiatric nurse at RS Jiwa Provinsi Jawa Barat was found to have moderate burnout. Where mental nurses are professionals who deal with mental health disorders and require a high level of patience, often interact with patients who experience emotional difficulties continuously, so they can experience emotional fatigue or burnout. Burnout is a psychological syndrome characterized by emotional exhaustion, depersonalization, cynicism, and dissatisfaction with work performance. Internal factors such as psychological well-being have an important role in managing burnout. Individuals with high psychological well-being are better able to manage stress. This study aims to determine the relationship between psychological well-being and burnout in psychiatric nurses at RS Jiwa Provinsi Jawa Barat. The research design used was quantitative correlation with a sample of 96 respondents. The measurement of psychological well-being uses the psychological well-being scale by Ryff which has been adapted into Indonesian Language, while burnout is measured using the Maslach-Trisni Burnout Inventory (M-TBI) scale which has also been adapted into Indonesian Language. The results showed that there was a significant negative relationship between psychological well-being and burnout with a coefficient of -0.325 and a low level of relationship strength. This means that improved psychological well-being tends to lower burnout rates.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perawat jiwa di RS Jiwa Provinsi Jawa Barat ditemukan mengalami burnout sedang. Dimana perawat jiwa adalah tenaga profesional yang menangani gangguan kesehatan mental dan membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi, sering berinteraksi dengan pasien yang mengalami kesulitan emosional secara terus-menerus, sehingga dapat mengalami kelelahan emosional atau burnout. Burnout adalah sindrom psikologis yang ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, sikap sinis, dan ketidakpuasan terhadap prestasi kerja. Faktor internal seperti psychological well-being memiliki peran penting dalam mengelola burnout. Individu dengan kesejahteraan psikologis yang tinggi lebih mampu mengelola stres. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara psychological well-being dan burnout pada perawat jiwa di RS Jiwa Provinsi Jawa Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan sampel sebanyak 96 responden. Pengukuran kesejahteraan psikologis menggunakan skala psychological well-being oleh Ryff yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia, sementara burnout diukur menggunakan skala Maslach-Trisni Burnout Inventory (M-TBI) yang juga telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara psychological well-being dan burnout dengan koefisien -0.325 dan tingkat kekuatan hubungan rendah. Hal ini berarti bahwa peningkatan psychological well-being cenderung menurunkan tingkat burnout.</p>2025-01-26T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16246Pengaruh Father Involvement terhadap Preferensi Pemilihan Pasangan pada Dewasa Awal di Kota Bandung2025-02-15T21:36:52+08:00Ayisha Galeaayishagaleaa@gmail.comEni Nuraeni Nugrahawatienipsikologi@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Fathers' involvement in parenting is important for children's development, yet many fathers contribute less emotionally. Early adults who have lost their fathers tend to experience anxiety and distrust, which can make them fearful of marriage and commitment [1]. Although they see commitment as positive, there is pessimism about its viability, making them more cautious in choosing a partner. Previous studies have shown mixed results regarding the influence of father involvement on partner selection. This study aims to determine and obtain empirical data on how much influence father involvement has on partner selection preferences among early adults in Bandung City. This study uses quantitative methods with non-probability sampling techniques, namely convenience sampling. The measuring instrument used in this study is the Nurturant Fathering Scale (NFS) which measures father involvement, and the Nine Mate Criteria Selection measuring instrument which measures partner selection preferences. This study involved 119 respondents in accordance with the selected research criteria. Data analysis was conducted using simple linear regression test to determine the effect of independent variables on the dependent variable under study. The results showed that there is a significant influence of father involvement on partner selection preferences in early adults aged 20 to 39 years with a coefficient of determination of 0.417, which means that the influence of father involvement on partner selection preferences is 41.7%.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Keterlibatan ayah dalam pengasuhan penting bagi perkembangan anak, namun banyak ayah kurang berkontribusi secara emosional. Dewasa awal yang kehilangan peran ayah cenderung mengalami kecemasan dan ketidakpercayaan, yang dapat membuat mereka takut terhadap pernikahan dan komitmen [1]. Meskipun mereka melihat komitmen sebagai hal yang positif, ada pesimisme terhadap kelangsungan komitmen tersebut, sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. Studi sebelumnya menunjukkan hasil yang beragam mengenai pengaruh keterlibatan ayah dengan pemilihan pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan data empiris mengenai seberapa besar pengaruh father involvement terhadap preferensi pemilihan pasangan pada dewasa awal di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik sampling non-probability sampling yaitu convenience sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nurturant Fathering Scale (NFS) yang mengukur keterlibatan ayah, serta alat ukur Nine Mate Criteria Selection yang mengukur preferensi pemilihan pasangan. Penelitian ini melibatkan 119 responden sesuai dengan kriteria penelitian yang dipilih. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji regresi liniear sederhana untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan father involvement terhadap preferensi pemilihan pasangan pada dewasa awal usia 20 sampai 39 tahun dengan nilai koefisien determinasi 0,417 yang artinya bahwa pengaruh father involvement terhadap preferensi pemilihan pasangan adalah sebesar 41,7%.</p>2025-01-26T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16255Pengaruh Work-Family Conflict terhadap Work Engagement pada Polisi Wanita2025-02-24T18:09:16+08:00Mutiara Azahra Dahliadahliaazahra23@gmail.comTemi Damayanti Djamhoertemidamayanti@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Female police officers face dual roles as professionals and housewives. They are expected to be fully committed to their police duties while also fulfilling family responsibilities. This dual burden can lead to work-family conflict, where the demands of work and home create role strain. Police work requires strong work engagement, including dedication, enthusiasm, and focus. However, when work and family demands clash, engagement may decline. This study aims to examine the impact of work-family conflict on work engagement among female police officers. Using a quantitative, non-experimental causality design, the study employed convenience sampling with 138 participants. The Work-Family Conflict Scale by Indah Soca Retno Kuntari (2011) and the Utrecht Work Engagement Scale by Aulia (2016) were used for measurement. Data analysis was conducted using simple linear regression. Findings indicate a significant relationship between work-family conflict and work engagement. Work-family conflict accounts for a 15% decrease in work engagement among female police officers. This highlights the need for strategies to help policewomen balance their roles, ensuring both professional effectiveness and personal well-being</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Karyawan wanita menghadapi dua peran utama, yaitu sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pekerja. Hal ini juga dialami oleh polisi wanita (Polwan), yang diharapkan berkomitmen penuh pada tugas kepolisian sekaligus menjalankan tanggung jawab keluarga. Ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan keluarga dapat menyebabkan work-family conflict, yaitu konflik peran yang terjadi ketika tekanan dari keduanya tidak dapat diatasi secara bersamaan. Pekerjaan di kepolisian menuntut work engagement yang tinggi, termasuk dedikasi, semangat, dan fokus dalam menjalankan tugas. Namun, ketika tuntutan pekerjaan dan keluarga bertentangan, keterlibatan dalam pekerjaan dapat terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris mengenai pengaruh work-family conflict terhadap work engagement pada Polwan. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain kausalitas non-eksperimental. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling dengan 138 responden. Alat ukur yang digunakan adalah Work-Family Conflict Scale dari Indah Soca Retno Kuntari (2011) dan Utrecht Work Engagement Scale dari Aulia (2016), dengan analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-family conflict berpengaruh signifikan terhadap work engagement. Work-family conflict berkontribusi sebesar 15% terhadap penurunan work engagement pada Polwan, sehingga diperlukan strategi untuk membantu mereka menyeimbangkan peran agar tetap optimal dalam bekerja dan menjalankan peran keluarga.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16280Hubungan antara Kehidupan Keluarga dengan Kesejahteraan Subjektif pada Siswa SMP di Kota Bandung2025-02-15T21:40:04+08:00Difa Septya Fathinnisa Anwardifaasfa@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.idTia Inayatillahtiainayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Subjective well-being (SWB) is an individual's overall evaluation of their life. SWB is particularly crucial during adolescence, a period marked by complex physical, emotional, and social changes and the search for self-identity. This study examines family life components that contribute the SWB of junior high school students in Bandung City. Using a cross-sectional survey method, data were collected from 766 students aged 12–16 years (50.52% female, 49.48% male) through stratified cluster random sampling. Adolescents' perceptions of family life were measured using the Family-Life Item Scale from Children's World, SWB was measured using the Children's World Subjective Well-Being Scale 5 Items (CW-SWBS5). Linear regression analysis revealed that family life accounts for 37.6% of the variance in SWB. Key family life components contributing significantly (<em>p</em> < .05) to SWB include family attention <em>(ꞵ</em> = .120; <em>p</em> = .007), enjoyable family time <em>(ꞵ</em> = .094; <em>p</em> = .042), a sense of security at home <em>(ꞵ</em> = .360; <em>p</em> = .000), and involvement in decision-making with parents <em>(ꞵ</em> = .140; <em>p</em> = .001). These findings highlight the critical role of emotional support and positive family interactions in enhancing adolescents' SWB.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kesejahteraan subjektif (SWB) adalah evaluasi keseluruhan individu terhadap kehidupan mereka. SWB sangat penting terutama pada masa remaja, masa yang ditandai dengan perubahan fisik, emosi, dan sosial yang kompleks serta pencarian identitas diri. Penelitian ini meneliti komponen kehidupan keluarga yang berkontribusi terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung. Dengan menggunakan metode <em>cross-sectional survey</em>, data dikumpulkan dari 766 siswa berusia 12-16 tahun (50.52% perempuan, 49.48% laki-laki) melalui <em>stratified cluster random sampling</em>. Persepsi remaja terhadap kehidupan keluarga diukur dengan menggunakan <em>Family-Life Item Scale</em> dari <em>Children's World</em>, SWB diukur dengan menggunakan <em>Children's World Subjective Well-Being Scale 5 Items</em> (CW-SWBS5). Analisis regresi linier menunjukkan bahwa kehidupan keluarga menyumbang 37.6% dari varians SWB. Komponen kehidupan keluarga utama yang berkontribusi secara signifikan (<em>p</em> <.05) terhadap SWB termasuk perhatian keluarga (<em>ꞵ</em> = .120; <em>p</em> = .007), waktu keluarga yang menyenangkan <em>(ꞵ</em> = .094; <em>p</em> = .042), rasa aman di rumah <em>(ꞵ</em> = .360; <em>p</em> = .000), dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dengan orang tua <em>(ꞵ</em> = .140; <em>p</em> = .001). Temuan ini menyoroti peran penting dari dukungan emosional dan interaksi keluarga yang positif dalam meningkatkan SWB remaja.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16300Pengaruh Hardiness terhadap Prososial Perawat Instalasi Gawat Darurat RSHS Bandung2025-02-15T21:41:32+08:00Alfina Zahra Sutrisno14alfinazs@gmail.comSita Rositawati79sita@gmail.comMelani Shintya Andianidr.melanisa@gmail.comN. Deati Kurniawatideatikurniawati@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Hardiness is understood as a personality that allows individuals to survive stressful situations, while prosocial behavior refers to the act of helping voluntarily. This study aims to analyze the effect of hardiness on prosocial behavior of nurses in the Emergency Department of RSHS Bandung with 56 subjects. Quantitative method was used as an approach in this study. The measuring instrument utilized is the Occupational Hardiness Questionnaire developed by Jimenez, et al (2014) and has been adapted to the Indonesian language by Widiatmoko (2022). The prosocial measuring instrument is a prosocial scale compiled by Rudyanto (2010) based on aspects of Mussen et al., (in Cholidah, 1996) which includes dimensions of sharing, cooperation, helping, honesty, donating and paying attention to welfare. Data were processed using multiple linear regression with the results showing that hardiness has a significant contribution of 24.3% to nurses' prosocial behavior.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Hardiness dipahami sebagai kepribadian yang memungkinkan individu bertahan menghadapi situasi penuh tekanan, sementara perilaku prososial merujuk pada tindakan menolong secara sukarela. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hardiness terhadap perilaku prososial perawat Instalasi Gawat Darurat RSHS Bandung dengan jumlah subjek 56 perawat. Metode kuantitatif dipakai sebagai pendekatan dalam penelitian ini. Alat ukur yang dimanfaatkan yaitu Occupational Hardiness Questionnaire yang dikembangkan oleh Jimenez, et al (2014) dan telah diadaptasi ke bahasa Indonesia oleh Widiatmoko (2022). Alat ukur prososial yaitu skala prososial yang disusun oleh Rudyanto (2010) berdasarkan aspek-aspek Mussen et al., (dalam Cholidah, 1996) yang meliputi dimensi membagi, kerjasama, menolong, kejujuran, menyumbang dan memperhatikan kesejahteraan. Data diolah menggunakan regregsi liniear berganda dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa hardiness memiliki kontribusi signifikan sebesar 24,3% terhadap perilaku prososial perawat.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16307Studi Deskriptif Mengenai Perilaku Perundungan Dunia Maya Pada Remaja Pengguna Instagram 2025-02-15T21:43:02+08:00Arum Galuh Lugina Atiarumgaluh28@gmail.comUmar Yusuf Supriatnakr_Umar@yahoo.co.id<p><strong>Abstract. </strong> Cyberbullying is a problem that adversely affects the excessive use of the internet. This phenomenon often occurs with the development of technology, one of which is social media which is easily accessible can increase the occurrence of cyber bullying behavior. Cyber bullying behavior occurs due to the inability to control negative emotions. Therefore, this study aims to determine the level of cyber bullying behavior in adolescent Instagram users. Researchers used a descriptive study method using a quantitative approach. This study involved 100 respondents aged 12-18 years who used the Snowball Sampling method. Of the 100 respondents, 49 people were at a high level, 20 people were at a very high level, and 22 people were at a low level. This happens because of the inability to control emotions.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perundungan Dunia Maya menjadi masalah yang berdampak buruk dari penggunaan internet yang dilakukan secara berlebihan. Fenomena ini sering terjadi dengan berkembangnya teknologi, salah satunya yaitu media sosial yang mudah diakses dapat meningkatkan terjadinya perilaku perundungan dunia maya. Perilaku perundungan dunia maya terjadi karena ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi negatif. Maka dari itu dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat perilaku perundungan dunia maya pada remaja pengguna Instagram. Peneliti menggunakan metode studi deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini melibatkan 100 responden dengan usia 12-18 tahun yang menggunakan metode <em>Snowball Sampling. </em>Dari 100 responden, 49 orang berada pada tingkat yang tinggi, 20 orang berada pada tingkat yang sangat tinggi, dan 22 orang yang berada pada tingkat yang rendah. Hal tersebut terjadi karena ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16308Pengaruh Work Stress terhadap Work Life Balance pada Karyawan Bank X2025-02-15T21:44:29+08:00Annisa Kurnia Puteriichaaakhmad@gmail.comAnna Rozanaannapsikologi98@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Work-life balance is a major concern for all employees and organizations because it has two or more competing demands to fulfill. Work life balance and work stress go hand in hand, how employees balance their lives and how well workplace policies and practices support it. For bank employees, the emergence of a lot of work pressure triggers stress at work, namely job, physical, role and interpersonal demands. So you have to increase your working hours, and you are also unable to provide quality time for your family. The need for work-life balance arises as a response to the struggle between the personal and the professional that occurs when personal role requirements do not match organizational roles and vice versa. This research aims to find out how much work stress affects work-life balance in banking employees. Using a quantitative approach and using simple linear regression, 61 people were used as samples. Data collection was carried out using the Job Stress Scale developed by Parker & Decotiis which has been adapted and the Work-Life Balance Scale developed by Fisher which has been adapted. The research results show that there is an influence of 57.9% between work stress and work-life balance. There is a negative correlation between the variables work stress and work-life balance, that is, when work stress is low, work-life balance will be high, and vice versa.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Work-life balance</em> merupakan perhatian utama bagi semua karyawan dan organisasi karena memiliki dua atau lebih tuntutan yang saling bersaing untuk dipenuhi. Work life balance dan <em>work stress</em> berjalan beriringan, bagaimana karyawan menyeimbangkan kehidupan mereka dan seberapa baik kebijakan dan praktik di tempat kerja mendukung. Pada karyawan bank munculnya banyak tekanan pekerjaan memicu terjadinya stres dalam pekerjaan yaitu adanya tuntutan pekerjaan, fisik, peran, dan interpersonal. Sehingga harus menambah jam kerja, dan juga tidak dapat memberikan waktu yang berkualitas untuk keluarga. Kebutuhan akan keseimbangan kehidupan kerja muncul sebagai respon terhadap pergulatan antara pribadi dan professional yang terjadi ketika persyaratan peran pribadi tidak sesuai dengan peran organisasi dan sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar <em>work stress</em> mempengaruhi <em>work-life balance</em> pada karyawan perbankan. Menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan menggunakan regresi linear sederhana, 61 orang dijadikan sebagai sampel. Pengambilan data dilakukan menggunakan <em>Job Stress Scale</em> yang dikembangkan oleh Parker & Decotiis yang sudah diadaptasi serta <em>Work-Life Balance Scale</em> yang dikembangkan oleh Fisher yang sudah diadaptasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh sebesar 57.9% antara <em>work stress</em> dengan <em>work-life balance.</em> Adanya korelasi negatif antara variabel <em>work stress</em> dan <em>work-life balance</em>, yaitu ketika <em>work stress</em>-nya rendah maka <em>work-life balance</em> yang dimiliki akan tinggi, dan sebaliknya.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16312Studi Deskriptif Mengenai Character Strength pada Wirausahawan Remaja di Kota Bandung2025-02-15T21:45:47+08:00Roselva Della Ajivaroselvadella@gmail.comSusandarisusandari@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Character Strength is a positive personality trait in a person that describes their basic identity and brings benefits to other. Positive traits are predicted to drive success in various lives, such as goals, overcoming challenges, and building strong relationships with others, including the field of entrepreneurship. This study aims to determine what characters that contribute in adolescent who running business. This method was descriptive with sample 39 of teenage entrepreneurs in Bandung City, aged 13-17 years, selected with convenience sampling technique. The instrument used in this study was the Values in Action Youth (VIA-Youth) by Peterson and Seligman, and has been adapted into Indonesia by Septianti. Data was collected via a google form and analyzed by mean ranking. The results showed Hope, Spirituality, Open-Mindedness, Teamwork, and Love of learning characters were the most dominant.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Character Strength adalah sifat sifat kepribadian positif dalam diri seseorang yang menggambarkan identitas dasar mereka dan membawa manfaat bagi orang lain. Karakter positif diprediksi dapat mendorong kesuksesan dalam berbagai kehidupan, seperti pencapaian tujuan, mengatasi tantangan, dan membangun hubungan yang kuat dengan orang lain, termasuk dalam bidang kewirausahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter apa saja yang berkontribusi pada remaja yang menjalankan bisnis. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan sample 39 orang wirausahawan remaja di Kota Bandung, berusia 13-17 tahun yang dipilih dengan teknik <em>convenience sampling</em>. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah <em>Values In Action Youth</em> (VIA-<em>Youth</em>) oleh Peterson dan Seligman, , dan telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Septianti. Data dikumpulkan melalui <em>google form</em> dan dianalisis dengan <em>mean ranking</em>. Hasil penelitian menunjukkan karakter Harapan, Spiritualitas, Keterbukaan Pikiran, Kerja sama Tim, dan Cinta Belajar adalah yang paling dominan.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16314Dinamika Interaksi Pasangan Suami Istri pada Era Digital2025-02-15T21:47:13+08:00Ilkham Aimanilkhamaiman@gmail.comAgus Budimanagusbudiman1105@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> Spousal interaction is vital for fostering healthy and harmonious relationships. However, the rise of information and communication technology in the digital era has significantly altered how couples interact. Gadgets and social media can enhance communication but also disrupt direct interaction, potentially reducing relationship quality. This study explores how couples manage communication, resolve conflicts, and maintain harmony amid rapid technological advancements. Using a qualitative method with a phenomenological approach, the research involved two couples (four individuals) selected through purposive sampling. The criteria included being married for at least seven years (indicating relationship experience and maturity), holding stable jobs, and residing in Bandung. Data were collected through interviews and analyzed using Descriptive Phenomenological Analysis. The results reveal four key themes: the impact of gadget usage, interaction balance, emotional connectedness, and gadgets' influence on communication. Effective gadget management emerged as crucial for maintaining communication and harmony. One couple succeeded in setting boundaries to create quality time together, enhancing their connection. In contrast, the other faced challenges from excessive gadget use, leading to reduced intimacy. This study highlights the importance of balancing technology use with nurturing emotional bonds to sustain spousal harmony in the digital age.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Interaksi pasangan suami istri sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Namun, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah mengubah cara pasangan berinteraksi. Gadget dan media sosial dapat meningkatkan komunikasi, namun juga dapat mengganggu interaksi langsung, yang berpotensi mengurangi kualitas hubungan. Penelitian ini mengkaji bagaimana pasangan mengelola komunikasi, menyelesaikan konflik, dan menjaga keharmonisan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini melibatkan dua pasangan (empat individu) yang dipilih melalui purposive sampling. Kriteria pemilihan meliputi pasangan yang telah menikah selama minimal tujuh tahun (menunjukkan pengalaman dan kedewasaan hubungan), memiliki pekerjaan yang stabil, dan tinggal di Bandung. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dianalisis dengan Descriptive Phenomenological Analysis. Hasil penelitian mengungkapkan empat tema utama: dampak penggunaan gadget, keseimbangan interaksi, keterikatan emosional, dan pengaruh gadget terhadap komunikasi. Manajemen gadget yang efektif muncul sebagai kunci untuk mempertahankan komunikasi dan keharmonisan. Salah satu pasangan berhasil menetapkan batasan untuk menciptakan waktu berkualitas bersama, yang meningkatkan hubungan mereka. Sebaliknya, pasangan lainnya menghadapi tantangan akibat penggunaan gadget yang berlebihan, yang menyebabkan berkurangnya keintiman. Penelitian ini menyoroti pentingnya menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan memelihara ikatan emosional untuk menjaga keharmonisan pasangan di era digital.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16327Pengaruh Work Family Conflict terhadap Work Stress pada Guru Wanita di SD Negeri Kota Bandung2025-02-15T21:48:59+08:00Risma Aprilianiaprilianirismaa6@gmail.comAyu Tuty Utamiayu.tutyutami@unisba.ac.id<p><strong>Abstrac: </strong>An increasing number of women are working, including as teachers, which presents challenges in balancing work and family responsibilities. Female teachers in public elementary schools face significant duties, such as teaching, managing extracurricular activities, and administrative tasks, which trigger Work-Family Conflict <strong>(</strong>WFC)<strong>. </strong>This imbalance can lead to increased work stress, reduced productivity, and heightened anxiety. A study involving 180 married female teachers in Bandung utilized the Work-Family Conflict Scale (Greenhaus & Carlson) and the Job Stress Scale (Parker & DeCotiis). The findings revealed that WFC has a positive and significant impact on work stress, contributing 24.7% to its increase. These results highlight WFC as a key factor influencing work stress, emphasizing the need for effective strategies to maintain role balance and mitigate its effects.</p> <p><strong>Abstrak: </strong>Semakin banyak wanita bekerja, termasuk sebagai guru, menghadapi tantangan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Guru wanita di sekolah dasar negeri memiliki tanggung jawab besar, seperti mengajar, mengelola ekstrakurikuler, dan tugas administratif, yang memicu Work Family Conflict (WFC). Ketidakseimbangan ini dapat meningkatkan stres kerja, memengaruhi produktivitas, dan memicu kecemasan Penelitian terhadap 180 guru wanita menikah di Bandung menggunakan Work-Family Conflict Scale (Greenhaus & Carlson) dan Job Stress Scale (Parker & DeCotiis) menemukan bahwa WFC berpengaruh positif dan signifikan terhadap stres kerja, dengan kontribusi sebesar 24,7%. Hasil ini menunjukkan WFC sebagai faktor utama yang memengaruhi stres kerja, sehingga diperlukan strategi efektif untuk menjaga keseimbangan peran dan mengurangi dampaknya.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16345Studi Komparatif Keterampilan Sosial Siswa SMA di Wilayah Kota dan Desa2025-02-15T21:50:17+08:00Zahra Shibghoh Nurrahmahzhrashbgh@gmail.comDewi Rosianadewirosiana@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> This study aims to analyze and compare the social skills of high school students in Sumedang based on the area where the school is located, namely urban and rural areas. The subjects of this study involved 100 students selected using cluster sampling techniques. The data collection instrument was the MESSY social skills scale which had been adapted into Indonesian by Adelia Septanti. The data were analyzed using descriptive statistical methods and using the Mann Whitney test. The results of the study showed that overall the social skills of high school students in Sumedang were classified as low. In the dimension of aggressiveness, most students were in the medium category. The dimension of assertiveness was in the high category, arrogance in the medium category, while the dimension of loneliness was in the low category. Women's social skills were higher than men's. The results of the Mann Whitney test were greater than 0.05 (0.754> 0.05) which means that there was no significant difference in social skills between respondents living in urban and rural areas.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan keterampilan sosial siswa SMA di Kabupaten Sumedang berdasarkan wilayah tempat sekolah, yaitu daerah perkotaan dan pedesaan. Subjek penelitian ini melibatkan 100 siswa yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Instrumen pengumpulan data adalah skala keterampilan sosial MESSY yang telah diadaptasi ke bahasa Indonesia oleh Adelia Septanti. Data dianalisis menggunakan metode statistika deskriptif dan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan keterampilan sosial siswa SMA di Kabupaten Sumedang tergolong rendah. Pada dimensi agresivitas, sebagian besar siswa berada pada kategori sedang. Dimensi asertivitas berada pada kategori tinggi, kesombongan pada kategori sedang, sedangkan dimensi kesepian pada kategori rendah.. Keterampilan sosial perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Hasil uji Mann Whitney lebih besar dari dari 0.05 (0. 754 > 0.05) yang artinya tidak terdapat perbedaan keterampilan sosial yang signifikan antara responden yang tinggal di perkotaan dan pedesaan.</p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16349Hubungan antara Persepsi Remaja terhadap Perilaku Phubbing Orang Tua dengan Kesejahteraan Subjektif Remaja2025-02-15T21:51:44+08:00Yula Suci Fitrianiyulsuci1@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.idTia Inayatillahtiainayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstrack.</strong> The spread of gadgets and Indonesian government policies have encouraged more and more people to use the internet, supporting the development of technology in Bandung City from 2015 until now in its community governance has created the phenomenon of phubbing, where parents' attention to gadgets is greater than attention to their children.forming subjective interpretations, where children feel neglected because parents prefer gadgets. The impact of parental phubbing affects children's psychological and cognitive mechanisms in the perception of disinterest and difficulty building relationships between parents and students. This is negative because the relationship between parents and adolescents is one source of family experience that is strongly correlated to be a major contribution to children's well-being. This study aims to see the description of the contribution of parental phubbing with subjective well-being (SWB) in Bandung City, aged 12-16 years (49.2% male students; 50.8% female students), with the majority coming from middle economic status families (78%), obtained through cluster random sampling technique. The instruments used include Parental Phubbing Scale, Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5, and Children's Worlds Positive Affect Negative Affect Scale given through questionnaires (G-form). This analysis used frequencies, percentages, contigency tables, and compare means to compare respondent characteristics and parental phubbing levels; respondent characteristics and subjective well-being. The purpose of the analysis was to describe the profile of respondents and examine the relationship between demographic variables and the frequency of parental phubbing behavior. The results showed that students' SWB was significantly lower than average (M = 71.08; SD = 26.72) at (P<.01). The findings indicated that moderate levels of parental phubbing had little effect on SWB but increased students' negative feelings (R² CW-SWBS5 = 3.7%; R² CW-PANAS (NA)= 14.5%).</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Penyebaran gadget dan kebijakan pemerintah Indonesia telah mendorong semakin banyak orang menggunakan internet, mendukung perkembangan teknologi pada Kota Bandung mulai 2015 hingga sekarang dalam tatakelola masyarakatnya telah menciptakan fenomena <em>phubbing</em>, di mana perhatian orang tua terhadap <em>gadget</em> lebih besar daripada perhatian kepada anak mereka.Membentuk interpretasi subjektif, dimana anak merasa diabaikan karena orang tua lebih menyukai <em>gadget</em>. Dampak <em>parental phubbing</em> ini mempengaruhi mekanisme psikologis dan kognitif anak dalam persepsi ketidaktertarikan dan kesulitan membangun hubungan antara orang tua dan siswa. Hal ini menjadi negatif dikarenakan hubungan orang tua dan remaja menjadi salah satu sumber pengalaman keluarga yang berkorelasi kuat menjadi sumbangan besar pada kesejahteraan anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kontribusi <em>parental phubbing</em> dengan kesejahteraan subjektif di Kota Bandung, berusia 12-16 tahun (49.2% siswa laki-laki; 50.8% siswa perempuan), dengan mayoritas berasal dari keluarga berstatus ekonomi menengah (78%), diperoleh melalui Teknik <em>cluster random sampling</em>. Instrumen yang digunakan meliputi Parental Phubbing Scale, Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale 5, dan Children’s Worlds Positive Affect Negative Affect Scale yang diberikan melalui kuisioner (G-form). Analisis ni menggunakan frekuensi, presentase, table kontigensi, dan <em>compare means</em> untuk membandingkan karakteristik responden dan tingkat <em>parental phubbing</em>; karakteristik responden dan kesejahteraan subjektif. Tujuan analisis adalah untuk menggambarkan profil responden dan menguji hubungan antara variable demografis dengan frekuensi perilaku <em>parental phubbing</em>. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesejahteraan subjektif siswa signifikan lebih rendah dari rata-rata (M = 71.08; SD = 26.72) pada (P<.01). Temuan ini menunjukan bahwa <em>parental phubbing</em> dalam tingkat sedang memiliki pengaruh kecil terhadap kesejahteraan subjektif tetapi meningkatkan perasaan negatif siswa (R² CW-SWBS5 = 3.7%; R² CW-PANAS (NA)= 14.5%).</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16350Studi Kontribusi Social Support terhadap Work Study Life Balance pada Mahasiswa yang Bekerja 2025-02-15T21:53:11+08:00Salsabila Mardiantimardiantisalsabila@gmail.comAli Mubarakmubarakspsi@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>According to Sarafino (2012) social support is the pleasure, care, appreciation or availability of assistance that individuals receive from other people or groups, so that these individuals feel loved, valued, and helped. Work Study Life Balance combines three categories of student roles, namely studying, working, and balancing their lives based on work life balance theory without any conflict between the three roles (Nina, Milka Iva, 2021). This study aims to determine how social support contributes to work study life balance. The method used in this study uses a cross-sectional non-experimental quantitative approach with multiple regression analysis. The measuring instrument used is the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) to measure social support which has been adapted by Winahyu, Hemchayat, & Charoensuk (2015) from the original measuring instrument built by Zimet et al. (1988), while Work Study Life Balance uses the work study life balance measuring instrument developed by Nina Poloski (2021) according to the scale that has been modified by Bacharach, Bamberger, and Conley (1991) and adapted into the Indonesian version by the researcher. The results showed that 95% of working students had high social support and 84% of working students had high work study life balance. Simultaneously, social support contributed 5.1% to work study life balance. Partially, the family aspect in the social support variable has a significant effect on work study life balance.</p> <p><strong>Abstract. </strong>Menurut Sarafino (2012) <em>social support</em> yaitu kesenangan, kepedulian, penghargaan atau tersedianya bantuan yang diterima oleh individu dari orang lain atau kelompok, sehingga individu tersebut merasa disayangi, dihargai, dan dibantu. mengacu pada memberikan kenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya. <em>Work Study Life Balance</em> menggabungkan tiga kategori peran siswa diantaranya studi, pekerjaan, dan keseimbangan hidup mereka yang didasarkan teori keseimbangan kehidupan kerja (work life balance) dengan tidak adanya konflik diantara ketiga peran tersebut (Nina, Milka Iva, 2021). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontribusi <em>social support</em> terhadap <em>work study life balance</em>. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif <em>non-eksperimental</em><em>cross-sectional</em> dengan analisis <em>multiple regression</em>. Alat ukur yang digunakan adalah <em>Multidimensional Scale of Perceived Social Support</em> (MSPSS) untuk mengukur <em>social support</em> yang telah diadaptasi oleh Winahyu, Hemchayat, & Charoensuk (2015) dari alat ukur asli yang dikonstruksi oleh Zimet et al. (1988), sedangkan <em>Work Study Life Balance</em> menggunakan alat ukur <em>work study life balance</em> yang dikembangkan oleh Nina Poloski (2021) sesuai dengan skala yang dimodifikasi oleh Bacharach, Bamberger dan Conley (1991) dan diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% mahasiswa yang bekerja memiliki <em>social support</em> yang tinggi dan 84% mahasiswa yang bekerja memiliki <em>work study life balance</em> yang tinggi. Secara simultan, <em>social support</em> memberikan kontribusi sebesar 5.1% terhadap <em>work study life balance</em>. Secara parsial, aspek <em>family</em> di variabel <em>social support</em> berpengaruh signifikan pada <em>work study life balance</em>.</p>2025-01-27T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16360Hubungan antara Work-Life Balance dengan Kepuasan Kerja pada Medical Representative di Kota Bandung2025-02-15T21:54:42+08:00Mila Fahira Karaminamilafahirak@gmail.comAnna Rozanaannapsikologi98@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Job satisfaction have a very important role in helping organizations understand their employees reactions to their work and the behavior impacts that will occur in the future. Jobstreet survey (2014) involving 17.623 employees in Indonesia shows a high level of job dissatisfaction at 73%, primarily due not having work-life balance. Medical representative promote pharmaceutical products to doctors under high work pressure and mobility demands, often face situations where they have to work beyond formal working hours can sacrificing personal time. This can lead to resignation, reluctance to complete tasks, increased absenteeism, and even turnover. The purpose of this study is to determine the relationship between work-life balance and job satisfaction among medical representative in Bandung City. Method of this study is quantitative correlational with a sample of 100 medical representative in Bandung City. This study use work-life balance scale from Fisher et al. (2009) adapted into Indonesian by Gunawan et al. (2019) and job satisfaction scale from Luthans (2006) developed by Setyawan and Tobing (2022). The results show a significant positive relationship between work-life balance and job satisfaction with a significance value of 0.000 (<0.05) and a Pearson correlation coefficient of 0.506. This indicates the higher work-life balance, the higher job satisfaction, and vice versa.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kepuasan kerja memiliki peran sangat penting dalam membantu organisasi memahami reaksi karyawannya terhadap pekerjaan yang dilakukan beserta dampak perilaku yang akan terjadi di masa mendatang. Survei <em>Jobstreet</em> (2014) kepada 17.623 karyawan di Indonesia menunjukkan tingkat ketidakpuasan kerja tergolong tinggi sebesar 73%, terutama disebabkan oleh tidak memiliki <em>work-life balance</em>. <em>Medical representative </em>mempromosikan produk farmasi kepada dokter dengan tekanan kerja dan mobilitas yang tinggi seringkali menghadapi keadaan harus bekerja di luar jam kerja formal yang dapat mengorbankan waktu pribadi, sehingga mengakibatkan pengunduran diri, malas menyelesaikan pekerjaan, absensi yang meningkat, bahkan <em>turnover</em>. Tujuan penelitian ini guna mengetahui hubungan antara <em>work-life balance </em>dengan kepuasan kerja pada <em>medical representative </em>di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif korelasional dengan sampel sebanyak 100 <em>medical representative </em>di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan skala <em>work-life balance </em>dari Fisher et al. (2009) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gunawan et al. (2019) serta skala kepuasan kerja dari Luthans (2006) yang dikembangkan oleh Setyawan dan Tobing (2022). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara <em>work-life balance </em>dengan kepuasan kerja memperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000 (<0.05) dan nilai korelasi Pearson sebesar 0.506. Artinya semakin tinggi <em>work-life balance</em>, maka kepuasan kerja semakin tinggi pula, begitu pun sebaliknya.</p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16423Pengaruh Sensation Seeking terhadap Risk Taking Behavior pada Pengguna Aplikasi Kencan Online2025-02-15T21:56:17+08:00Khoirunnisa Nur Azharikhoirunnisanurazhari@gmail.comEni Nuraeni Nugrahawatienipsikologi@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Research discusses the phenomenon of the use of online dating apps by married individuals, which is done even though they have a spouse. married individuals, who do so even though they have a spouse. Factors such as emotional needs, curiosity, or simply entertainment are the main reasons. the main reasons. This study uses a causality design with a quantitative approach and involved subjects aged 18-30 years old who have been married for between 1-5 years and have children, and use dating apps at least 1-3 times a month. in a month. The theory used in this study is Sensation Seeking. used in this study are Sensation Seeking (Zuckerman, 2006) and Risk Taking Behaviour (Trimpop, 1994). Sensation seeking measured with the BSSS-1 (Brief Sensation Seeking Scale-1) tool which was translated into Indonesian by Sunu Bagaskara (2021). into Indonesian by Sunu Bagaskara (2021), with a reliability of α = 0,79. Meanwhile, risk-taking behaviour was measured using the Domain-Specific Risk Taking (DOSPERT) tool, which has been adapted by Nim'ah (2021) with a fit model test (p-value = 0.79). fit model (p-value = 0.08016). The results showed that the R-square value of 0.829 (82.9%), which indicates that sensation seeking affects risk-taking behaviour by 82.9%. affects risk-taking behaviour by 82.9%. Individuals with individuals with a high level of sensation seeking are more likely to take risks, including in using online dating apps even though they are married.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini membahas fenomena penggunaan aplikasi kencan <em>online </em>oleh individu yang sudah menikah, yang dilakukan meskipun mereka memiliki pasangan. Faktor-faktor seperti kebutuhan emosional, rasa ingin tahu, atau sekadar hiburan menjadi alasan utama. Penelitian ini menggunakan desain kausalitas dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan subjek berusia 18-30 tahun yang telah menikah antara 1-5 tahun dan memiliki anak, serta menggunakan aplikasi kencan minimal 1-3 kali dalam sebulan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah <em>Sensation Seeking</em> (Zuckerman, 2006) dan <em>Risk Taking Behavior</em> (Trimpop, 1994). <em>Sensation seeking</em> diukur dengan alat BSSS-1 (<em>Brief Sensation Seeking Scale</em>-1) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Sunu Bagaskara (2021), dengan reliabilitas α = 0,79. Sedangkan, <em>risk-taking behavior</em> diukur menggunakan alat <em>Domain-Specific Risk Taking</em> (DOSPERT), yang telah diadaptasi oleh Nim’ah (2021) dengan uji model yang fit (p-<em>value</em> = 0,08016). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R-<em>square</em> sebesar 0.829 (82,9%), yang mengindikasikan bahwa <em>sensation seeking</em> mempengaruhi <em>risk-taking behavior</em> sebesar 82,9%. Individu dengan tingkat <em>sensation seeking</em> yang tinggi lebih cenderung berani mengambil risiko, termasuk dalam menggunakan aplikasi kencan <em>online</em> meskipun sudah menikah.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16438Pengaruh Loneliness terhadap Adiksi Media Sosial pada Remaja Pengguna TikTok2025-02-15T21:57:42+08:00Shire Hisanahshirehisanah@gmail.comLilim Halimahaumisyanida@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> The use of social media among teenagers has increased in recent years, with TikTok being one of the most popular platforms. However, excessive use can lead to social media addiction, where users struggle to control and limit their activity. This may stem from feelings of loneliness when teens cannot meet their social and emotional needs. This study aims to examine the effect of loneliness on social media addiction among TikTok users, using a quantitative research method with a causal effect design. The UCLA Loneliness Scale Version 3 is used to measure loneliness, while the Social Media Disorder (SMD) scale assesses social media addiction. The sample for this study consists of 122 TikTok users, with data analysis using binary logistic regression, which resulted in a significance value of 0.000 < 0.05, indicating that loneliness has a significant influence on social media addiction among TikTok users. The R2 value of 0.177 shows that loneliness contributes 17.7% to social media addiction. This study concludes that loneliness is one of the factors triggering social media addiction among TikTok users in Bandung City, highlighting the need for strategies to address loneliness and support healthy social media usage.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penggunaan media sosial di kalangan remaja telah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, dengan TikTok menjadi salah satu platform yang sangat populer. Namun, penggunaan yang berlebihan dan tidak terkendali dapat mengarah pada adiksi media sosial, ditandai dengan kesulitan mengontrol dan digunakan secara berlebihan. Hal ini dapat dilatarbelakangi oleh kondisi remaja yang merasakan <em>loneliness</em> ketika tidak dapat memenuhi kebutuhan sosial dan emosionalnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh <em>loneliness</em> terhadap adiksi media sosial pada remaja pengguna TikTok, dengan metode penelitian kuantitatif dengan desain kausalitas. Alat ukur yang digunakan adalah <em>UCLA Loneliness Scale Version 3</em> untuk mengukur variabel <em>loneliness</em> dan <em>Social Media Disorder (SMD)</em> untuk mengukur variabel adiksi media sosial. Sampel pada penelitian ini sebanyak 122 remaja pengguna TikTok dengan analisis data menggunakan regresi logistik biner yang menghasilkan nilai signifikansi 0.000<0.05 yang menggambarkan <em>loneliness</em> memiliki pengaruh yang signifikan terhadap adiksi media sosial pada remaja pengguna TikTok dan R square .177 menunjukan bahwa <em>loneliness</em> berkontribusi sebanyak 17.7% terhadap adiksi media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa <em>loneliness</em> merupakan salah satu faktor yang memicu adiksi media sosial pada remaja pengguna TikTok di Kota Bandung, sehingga perlu diterapkan strategi untuk mengatasi kesepian dan mendukung penggunaan media sosial yang sehat.</p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16478Pengaruh Job Satisfaction terhadap Turnover Intention pada Karyawan PT. S2025-02-15T21:58:55+08:00Ramdhan Maulana Gustiantoramdanmaulana2020@gmail.comM. Ilmi Hattam.ilmi.hatta@gmail.com<p><strong><em>Abstract.</em></strong> <em>Turnover intention</em> is the level of employee's desire to stop working at a company (Mobley, 2011). This research was conducted to determine the level and influence of job satisfaction on turnover intention among PT S.’s employees. The research method in this research is causality. The measuring instrument in this research for job satisfaction uses a measuring instrument adapted by Nur Setiawan and Tobing (2022) from Luthans' theory (2006) and for turnover intention uses a three-item turnover intent questionnaire adapted by Abid & Butt and translated by Farhan Farisan ( 2022) from the theory of Mobley and Hellingsworth (1978). The results of the analysis show a significant negative relationship between job satisfaction and turnover intention (P = 0.002 < 0.05), with a contribution of 19%. This shows that increasing job satisfaction has a direct impact on reducing turnover intention.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. <em>Turnover intention</em> merupakan tingkat keinginan karyawan untuk berhenti bekerja di suatu perusahaan (Mobley, 2011). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat dan pengaruh <em>job satisfaction</em> terhadap <em>turnover intention</em> pada karyawan PT. S. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah kausalitas. Alat ukur pada penelitian ini untuk <em>job satisfaction</em> memakai alat ukur yang diadaptasi oleh Nur Setiawan dan Tobing (2022) dari teori Luthans (2006) dan untuk <em>turnover intention</em> memakai kuesioner <em>three-item turnover intent questionnaire </em>yang diadaptasi Abid & Butt dan diterjemahkan oleh Farhan Farisan (2022) dari teori Mobley dan Hellingsworth (1978). Hasil analisis menunjukkan hubungan signifikan negatif antara job satisfaction dan turnover intention (P = 0,002 < 0,05), dengan kontribusi sebesar 19%. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan job satisfaction berdampak langsung pada penurunan <em>turnover intention</em>.</p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16484Pengaruh Psychological Capital terhadap Work Engagement pada Karyawan PT Givaudan Indonesia2025-02-15T22:00:32+08:00Larasati Nurhaliza Munawarrastinurhaliza376@gmail.comAyu Tuty Utamiayu.tutyutami@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Surveys show that despite low stress levels, 45% of Indonesian employees face mental well-being challenges that emphasize the importance of psychological capital. Another survey shows that only 24% of employees in Southeast Asia, including Indonesia, are actively involved and reflect work engagement challenges in their workplace. This study aims to determine the effect of psychological capital on work engagement among employees of PT Givaudan Indonesia. Data collection was conducted using a questionnaire with purposive sampling. The participants of this study were employees of PT Givaudan Indonesia in the Production Division (N = 65 92.3% male; 7.7% female). Psychological capital was measured using the psychological capital questionnaire (PCQ) and work engagement was measured using the Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9). Data were analyzed using simple linear regression analysis to determine the effect of psychological capital on work engagement among employees of PT Givaudan Indonesia. The results showed that there was a significant effect between psychological capital on work engagement among employees of PT Gvaudan Indonesia with an R2 of 0.673. In addition, the results of the analysis conducted showed that the influence of psychological capital on work engagement was 67.3%.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Survey menunjukkan bahwa meskipun tingkat stres rendah, 45% karyawan Indonesia menghadapi tantangan kesejahteraan mental yang menekankan pentingnya <em>psychological capital</em>. Survey lain menunjukkan bahwa hanya 24% karyawan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang terlibat aktif dan mencerminkan tantangan <em>work engagement</em> di tempat kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara <em>psychological capital </em>terhadap <em>work engagement </em>pada karyawan PT Givaudan Indonesia. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan <em>purposive sampling</em>. Partisipan penelitian ini adalah karyawan PT Givaudan Indonesia bagian Divisi Produksi (N= 65 92,3% laki-laki; 7,7% Perempuan). <em>Psychological capital </em>diukur mengunakan alat ukur <em>psychological capital questionnaire </em>(PCQ) dan <em>work engagement </em>diukur dengan menggunakan <em>utrecht work engagement scale</em>-9 (UWES-9). Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh antara <em>psychological capital </em>terhadap <em>work engagement</em> pada karyawan PT Givaudan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara <em>psychological capital </em>terhadap <em>work engagement</em> pada karyawan PT Gvaudan Indonesia denga R<sup>2</sup> sebesar 0,673. Selain itu hasil analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa pengaruh <em>psychological capital </em>terhadap <em>work engagement </em></p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16493Hubungan Psychological Well-Being dan Job Performance pada Karyawan PT X di Kabupaten Karawang2025-02-15T22:01:59+08:00Denita Salsabiladenitasal@gmail.comMilda Yanuviantimilda.yanuvianti@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Job performance is one of the key factors in determining the success of an organization. To achieve organizational goals, companies are required to provide optimal welfare to their employees. Based on Tire Production data at PT X, a decrease in production results occurred in 2021-2022 with a difference of 2%. This also happened at the beginning of 2024 which did not reach the production target with a lack of 8,479 pieces of tires. In addition, PT X employees show low psychological well-being characterized by the dimension of environmental mastery, where they have difficulty in managing work affairs, thus hampering their work productivity. Based on this phenomenon, the problems in this study are: (1) How is psychological well-being in PT X employees in Karawang Regency? (2) How is job performance in PT X employees in Karawang Regency? (3) Is there a relationship between psychological well-being and job performance in PT X employees in Karawang Regency? Researchers used the Rank Spearman Correlational analysis technique method using a quantitative approach. The population in this study were employees in the Production Department of PT X in Karawang Regency, totaling 1,100 employees with a sampling technique, namely Simple Random Sampling, obtained a total research sample of 285 employees. The data collection techniques used in this study were questionnaires, interviews, and literature studies. The data analysis technique used in this research is descriptive analysis technique. The result of this study is that there is a positive relationship between psychological well-being and job performance in PT X employees in Karawang Regency by 59.4% which is included in the moderate category.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Job perfomance</em> merupakan salah satu faktor kunci dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi. Untuk mencapai tujuan organisasi, perusahaan dituntut untuk memberikan kesejahteraan yang optimal kepada karyawan mereka. Berdasarkan data <em>Tire Production</em> pada PT X, penurunan hasil produksi terjadi pada tahun 2021-2022 dengan selisih 2%. Hal tersebut terjadi juga pada awal tahun 2024 yang tidak mencapai target produksi dengan kurangnya 8.479 <em>pieces</em> ban. Selain itu, karyawan PT X menunjukkan kesejahteraan psikologis yang rendah ditandai pada dimensi penguasaan lingkungan, dimana mereka kesulitan dalam mengelola urusan pekerjaan sehingga menghambat produktivitas kerjanya. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimana <em>psychological well-being</em> pada karyawan PT X di Kabupaten Karawang? (2) Bagaimana <em>job performance</em> pada karyawan PT X di Kabupaten Karawang? (3) Apakah terdapat hubungan antara <em>psychological well-being</em> dengan <em>job performance </em>pada karyawan PT X di Kabupaten Karawang?. Peneliti menggunakan metode teknik analisis <em>Rank Spearman Correlasional</em> dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan di Departemen Produksi PT X Kabupaten Karawang yang berjumlah 1.100 karyawan dengan teknik pengambilan sampel yaitu <em>Simple Random Sampling </em>diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 285 karyawan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, dan studi pustaka. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknis analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara <em>psychological well-being</em> dengan <em>job performance </em>pada karyawan PT X di Kabupaten Karawang sebesar 59,4% yang termasuk kategori sedang.</p> <p> </p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16501Studi Deskriptif Kesejahteraan Subjektif pada Remaja yang Memiliki Orang Tua Bercerai2025-02-15T22:03:29+08:00Rafiqah Dewanti Dongoranrafiqahdewanti08@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.idTia Inayatillahtiainayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> In Indonesia, divorce cases have increased in recent years. Based on several recent studies, divorce has traumatizing effects and negative feelings on adolescents. There is limited research on divorce and its relationship with adolescents' subjective well-being (SWB) in Indonesia. This study aims to provide a description of the SWB of junior high school adolescents who have divorced parents in Bandung City and also includes the emotional feelings they feel. This study involved 102 students from various junior high schools in Bandung City. The sampling technique used was stratified cluster random sampling. The measuring instruments used in this study are from Children's Worlds, namely CW-SWBS5 (Children's Worlds Subjective Well- Being Scale 5) and CW-PNAS (Children's Worlds Positive and Negative Affect Scale). The results showed that the mean SWB score of male students with divorced parents (M = 67.07; SD = 31.68) was significantly higher than that of female students (M = 50.9; SD = 29.73). Male students showed significantly higher positive affect (M = 62.84; SD = 29.06) than female students (M = 46.93; SD = 25.76). Students who had divorced parents were more dominant in middle economic status (81.4%). Overall, junior high school students who have divorced parents in Bandung City have a SWB score (M = 57.21; SD = 31.44), which means it is below the average SWB set-point of 75. It is expected that parents can ensure their children still get full emotional support even in a divorce situation.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Di Indonesia, kasus perceraian telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan beberapa studi belakangan ini, perceraian memberikan efek trauma dan perasaan negatif pada remaja. Penelitian yang membahas mengenai perceraian dan kaitannya dengan kesejahteraan subjektif remaja di Indonesia masih sangat terbatas dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi kesejahteraan subjektif remaja SMP yang memiliki orang tua bercerai di Kota Bandung dan juga meliputi perasaan emosional yang mereka rasakan. Penelitian ini melibatkan 102 siswa dari berbagai SMP di Kota Bandung. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini dari Children’s Worlds yaitu CW-SWBS5 (Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale 5) dan CW-PNAS (Children’s Worlds Positive and Negative Affect Scale). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kesejahteraan subjektif siswa laki-laki yang memiliki orang tua bercerai (M = 67.07; SD = 31.68) lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan skor kesejahteraan subjektif siswa perempuan (M = 50.9; SD = 29.73). Siswa laki-laki lebih menunjukkan afek positif lebih tinggi (M = 62.84; SD = 29.06) secara signifikan dibandingkan siswa perempuan (M = 46.93; SD = 25.76). Siswa yang memiliki orang tua bercerai lebih mendominasi pada status ekonomi menengah (81.4%). Secara keseluruhan siswa SMP yang memiliki orang tua bercerai di Kota Bandung memiliki skor kesejahteraan subjektif (M = 57.21; SD = 31.44), yang berarti berada di bawah rata-rata set-point kesejahteraan subjektif yaitu 75. Diharapkan agar orang tua dapat memastikan anak mereka tetap mendapatkan dukungan emosional secara penuh meskipun dalam situasi perceraian.</p>2025-01-28T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16559Pengaruh Harga Diri Korban KDP terhadap Alasan Tetap Bertahan pada Hubungan2025-02-15T22:04:54+08:00Arsy Latifa Fiorentinaarsyy.latifa@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Dating violence is a form of aggressive or manipulative behavior that occurs in romantic relationships, which can negatively impact the psychological well-being of the victim. However, many victims still stay in abusive relationships which refers to the factors that drive the victim's reasons for staying in the relationship despite the violence. In this context, self-esteem plays an important role in determining how victims perceive themselves and how victims' self-esteem influences this decision. This study aims to understand the influence of dating violence victims' self-esteem on reasons for staying in the relationship. This study used a quantitative approach with a survey method on 220 respondents aged 18-25 years old who are currently in or have had a dating violence relationship and reside in West Java. Data were collected through a questionnaire that measured the victim's self-esteem and looked at the reasons for the victim's decision to stay in the relationship. The sampling technique used was accidental sampling. This study used the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) and Decision To Leave Scale measuring instruments. The results of the analysis using the Structural Equation Model (SEM) technique showed that self-esteem influenced the reasons for staying in the relationship by 11.6%, where victims with lower self-esteem strengthened their reasons for staying even though the relationship contained violence, in terms of several aspects.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kekerasan dalam pacaran adalah bentuk perilaku agresif atau manipulatif yang terjadi dalam hubungan romantis, yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis korban. Namun, masih banyak korban tetap bertahan pada hubungan kekerasan yang mengacu pada faktor-faktor yang mendorong alasan korban untuk tetap berada dalam hubungan meskipun terdapat kekerasan. Dalam konteks ini, harga diri berperan penting dalam menentukan bagaimana korban memandang dirinya dan bagaimana harga diri korban memengaruhi keputusan ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh harga diri korban kekerasan dalam pacaran terhadap alasan tetap bertahan dalam hubungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei pada 220 responden berusia 18-25 tahun yang sedang menjalani atau pernah memiliki hubungan kekerasan dalam pacaran dan berdomisili di Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur harga diri korban dan melihat alasan keputusan korban tetap bertahan. Teknik sampling yang digunakan yaitu <em>accidental sampling. </em>Penelitian ini menggunakan alat ukur <em>Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) </em>dan <em>Decision To Leave Scale. </em>Hasil analisis menggunakan teknik <em>Structural Equation Model (</em>SEM) menunjukkan bahwa harga diri memengaruhi alasan tetap bertahan pada hubungan sebesar 11,6% , di mana korban dengan harga diri yang lebih rendah memperkuat alasannya untuk tetap bertahan meski hubungan tersebut terdapat kekerasan , yang ditinjau dari beberapa aspek didalamnya.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16565Pengaruh Celebrity Worship terhadap Agresi Verbal Penggemar JKT48 Usia Dewasa Awal2025-02-15T22:06:19+08:00Adinda Azrina Darliadindaazrina@gmail.comEni Nuraeni Nugrahawatienipsikologi@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Globalization has brought foreign cultures to Indonesia, including Japanese culture through J-Pop. JKT48, sister group of AKB48, is famous for “idols you can meet” concept, which allows fans to interact directly with group members and has successfully attracted the attention of Indonesian society with diverse music genres. The love fans have can drive them to perform various actions for their idols, such as aggressive behavior. Celebrity worship, which is excessive worship of celebrities, can trigger verbal aggression behaviors like insults and harsh comments if fans feel their idols are attacked or treated unfairly. This excessive worship of celebrities has the potential to trigger verbal aggression behavior on social media among fans, which can disrupt social relationships and individual well-being. There are still inconsistencies in the results of previous studies. The purpose of this study is to determine the influence of celebrity worship on verbal aggression among early adulthood JKT48 fans in Bandung. The method used is quantitative approach. The research sample involved 192 respondents selected by purposive sampling. The research instruments include verbal aggression scale questionnaire (The Aggression Scale) adapted by Eliani et al. (2018) and celebrity worship scale (Celebrity Attitude Scale) adapted by Afifah (2022). Data analysis was performed using simple linear regression to test the influence of the independent variable on the dependent variable. The results showed a positive influence of celebrity worship on verbal aggression among early adulthood JKT48 fans in Bandung. The contribution of celebrity worship to verbal aggression among early adulthood JKT48 fans in Bandung is 30%, with 70% influenced by other variables.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Globalisasi telah membawa budaya asing ke Indonesia, termasuk Budaya Jepang melalui J-Pop. JKT48, <em>sister group </em>AKB48, terkenal dengan konsep “<em>idols you can meet</em>” yang memungkinkan penggemar berinteraksi langsung dengan anggota grup dan telah berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia dengan genre musik beragam. Rasa cinta yang dimiliki dapat mendorong penggemar untuk melakukan berbagai tindakan demi idolanya, seperti berperilaku agresif. <em>Celebrity worship</em>, yaitu pemujaan berlebihan terhadap selebriti dapat memicu perilaku agresi verbal seperti hinaan dan komentar kasar jika penggemar merasa idola mereka diserang atau diperlakukan tidak adil. Pemujaan berlebihan terhadap selebriti ini berpotensi memicu perilaku agresi verbal di media sosial pada kalangan penggemar yang dapat menganggu hubungan sosial maupun kesejahteraan individu. Masih juga terdapat inkonsistensi dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh <em>celebrity worship</em> terhadap agresi verbal penggemar JKT48 usia dewasa awal Bandung. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian melibatkan 192 responden yang dipilih dengan <em>purposive sampling</em>. Instrumen penelitian mencakup kuesioner skala agresi verbal (<em>The Aggression Scale</em>) yang diadaptasi Eliani et al. (2018) dan skala <em>celebrity worship</em> (<em>Celebrity Attitude Scale</em>) yang diadaptasi Afifah (2022). Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana yang akan menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif <em>celebrity worship</em> terhadap agresi verbal pada penggemar JKT48 usia dewasa awal Bandung. Kontribusi <em>celebrity worship</em> terhadap agresi verbal penggemar JKT48 usia dewasa awal Bandung sebesar 30%, dan 70% dipengaruhi oleh variabel lain.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16569Trauma bonding pada Korban Kekerasan dalam Pacaran 2025-02-22T22:52:55+08:00Utari Mahestymahestytari@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>Dating violence is a serious phenomenon that has negative physical and psychological impacts on victims. Despite these negative consequences, many victims choose to maintain the relationship, disregarding their own well-being. This phenomenon can be explained through the concept of trauma bonding, where victims develop a strong emotional attachment to the perpetrator of violence in romantic relationships. This study aims to examine the phenomenon of trauma bonding in victims of dating violence in West Java. The research employs a descriptive study method with a quantitative approach. It is part of a larger study investigating the relationship between empathy and trauma bonding in victims of dating violence. The study sample consists of 115 respondents selected using purposive sampling techniques. The data collected indicate that the majority of respondents exhibit high levels of trauma bonding, suggesting a strong emotional attachment between the victims and the perpetrators of dating violence.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Kekerasan dalam pacaran merupakan fenomena serius yang menimbulkan dampak negatif baik secara fisik maupun psikologis bagi korban. Meski berdampak negatif, banyak korban kekerasan justru memilih mempertahankan hubungan tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan konsep <em>trauma bonding</em>, dimana korban mengembangkan ikatan emosional yang kuat dengan pelaku kekerasan dalam hubungan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat fenomena <em>trauma bonding</em> pada korban kekerasan dalam pacaran di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian lain yang meneliti mengenai hubungan antara empati dan <em>trauma bonding</em> pada korban kekerasan dalam pacaran. Sampel penelitian terdiri dari 115 responden, yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa mayoritas responden menunjukkan tingkat <em>trauma bonding</em> tinggi yang mengindikasikan adanya keterikatan emosional yang kuat antara korban dengan pelaku kekerasan dalam pacaran.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16570Pengaruh Problematic Social Media Use terhadap Perilaku Cyberbullying pada Penggemar K-Pop2025-02-22T22:53:48+08:00Nailul Muna Ardliahnailulmuna.ard@gmail.comAndhita Nurul Khasanahandhitanurul@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> This study examines the influence of Problematic Social Media Use (PSMU) on cyberbullying among K-Pop fans in Indonesia, focusing on the high intensity of social media use within this community. Using a quantitative approach, data were collected via an online questionnaire based on the Cyberbullying Perpetration Scale (CBPS) and Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS), both adapted into Indonesian. The sample consisted of 459 respondents aged 15–22 years, selected through convenience sampling. Simple linear regression was used to analyze the relationship between PSMU and cyberbullying. Results indicate that 95% of respondents exhibit high PSMU levels, and 16.8% show high involvement in cyberbullying behaviors. A positive but weak correlation exists between PSMU and cyberbullying (R = 0.132, p < 0.05), with PSMU accounting for only 1.7% of the variance in cyberbullying. Social pressure, anonymity, and fandom dynamics further influence this relationship. The findings highlight the importance of preventive measures, such as digital literacy education and time management for social media use, to reduce the negative effects of PSMU on adolescent online behavior. Future studies are encouraged to adopt qualitative methods to explore deeper motives underlying aggressive behaviors in online fandom communities.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Problematic Social Media Use (PSMU) terhadap perilaku cyberbullying pada remaja penggemar K-Pop di Indonesia, mengingat tingginya intensitas penggunaan media sosial dalam komunitas ini. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan kuesioner online berbasis skala Cyberbullying Perpetration Scale (CBPS) dan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) yang sudah di adaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Sampel terdiri dari 459 responden berusia 15–22 tahun, dipilih dengan teknik convenience sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana untuk menguji hubungan antara PSMU dan cyberbullying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% responden memiliki tingkat PSMU tinggi, sedangkan 16.8% menunjukkan keterlibatan dalam perilaku cyberbullying kategori tinggi. Terdapat hubungan positif tetapi lemah antara PSMU dan cyberbullying (R = 0.132; p < 0.05), dengan PSMU hanya menjelaskan 1.7% variasi perilaku cyberbullying. Faktor seperti tekanan sosial, anonimitas, dan dinamika fandom turut memengaruhi hubungan ini. Penelitian ini menyoroti perlunya langkah preventif untuk mengurangi dampak negatif PSMU terhadap perilaku daring remaja, seperti pendidikan literasi digital dan pengelolaan waktu penggunaan media sosial. Pendekatan kualitatif juga disarankan untuk menggali motif yang lebih mendalam di balik perilaku agresif dalam komunitas daring ini.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16641The Effect of Online Social Support on the Self-Esteem of Cyber Dating Abuse2025-02-22T22:54:38+08:00Bilqis Nursyifabilqisnursyifa27@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Research shows that victim of cyber dating abuse tend to experience significant psychological impacts, including decreased self-esteem, anxiety, and depression. Individual self-esteem plays an important role in responding to violence in relationships, with individuals with low self-esteem being more vulnerable to the negative impacts of cyber datinig abuse. Therefore, social support, especially online social support, can function as a protective factor that helps individuals recover or maintain positive self-esteem. This study aims to examine the effect of online social support on the self-esteem of cyber dating abuse victims in West Jawa. This research is a quantitative study with 301 subjects. Yhe measuring instrument used are the online social support scale and Rosenberg’s self-esteem scale adapted by Azwar (2012). The data analysis used is SEM-PLS which produces t-statitic >t-table (22.859>1.968) and significance (p-value) 0.000<0.05, indicating a significant effect of online social support om teh self-esteem of cyber dating abuse victims.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian menunjukkan bahwa korban cyber dating abuse cenderung mengalami dampaka psikologis yang signifikan, termasuk penurunan harga diri, kecemasan, dan depresi. Harga diri indvidu berperan penting dalam merespon kekerasan dalam hubungan, dengan individu yang memiliki harga diri rendah lebih rentan terhadap dampak negatif dari cyber dating abuse. Oleh karena itu, dukungan sosial, khususnya dukungan sosial daring, dapat berfungsi sebagai faktor pelindung yang membantu individu dalam memulihkan atau mempertahankan harga diri yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dukungan sosial daring terhadap harga diri korban cyber dating abuse di Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan subyek sebanyak 301. Alat ukur yang digunakan adalah the online social support scale dan Rosenberg’s self esteem scale yang telah diadaptasi oleh Azwar (2012). Analisis data yang digunakan adalah SEM-PLS yang menghasilkan t-statistik>ttabel (22.859>1.968) dan signifikasnsi (pvalue) 0.000<0.05, yang mana terdapat pengaruh dukungan sosial daring yang signifikan terhadap harga diri korban cyber dating abuse.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16658Pengaruh Kesabaran terhadap Self-acceptance pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Bandung2025-02-22T22:55:33+08:00Wynona Azzahrawynonaazzahraa@gmail.comUmar Yusuf Supriatnakr_umar@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> This research aims to examine the influence of patience on self-acceptance among final-year students in the city of Bandung. Driven by the phenomenon of increasing academic and social pressure faced by final-year students, which can affect their level of self-acceptance. The main objective of this research is to determine the extent to which patience contributes to self-acceptance among final-year students. The research design used is quantitative with a causal approach, where the independent variable is patience and the dependent variable is self-acceptance. Data collection was carried out through a questionnaire that has been tested for validity and reliability, with validity results showing a value above 0.3 and reliability using Cronbach's Alpha of 0.85, which proves that the research instrument is reliable. Data research was conducted using simple linear regression tests with the help of SPSS version 21. The results of the study prove that there is a significant positive influence of patience on self-acceptance, with a regression coefficient of 0.482 and a significance value (p) < 0.05. The following proves that an increase in patience is related to an increase in self-acceptance among students.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kesabaran terhadap <em>self-acceptance</em> pada mahasiswa tingkat akhir di Kota Bandung. Didasari oleh fenomena meningkatnya tekanan akademik dan sosial yang dihadapi mahasiswa tingkat akhir, yang dapat mempengaruhi tingkat <em>self-acceptance</em> mereka. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kesabaran terhadap <em>self-acceptance</em> pada mahasiswa akhir. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan kausalitas, di mana variabel independen adalah kesabaran dan variabel dependen adalah <em>self-acceptance</em>. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan hasil validitas yang membuktikan nilai di atas 0,3 dan reliabilitas memakai Cronbach's Alpha sebesar 0,85, yang membuktikan jika instrumen penelitian dapat diandalkan. Penelitian data dilakukan memakai uji regresi linear sederhana dengan bantuan software SPSS versi 21. Hasil penelitian membuktikan jika terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kesabaran terhadap <em>self-acceptance</em>, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,482 dan nilai signifikansi (p) < 0,05. Berikut ini membuktikan jika peningkatan kesabaran berhubungan dengan peningkatan <em>self-acceptance</em> pada mahasiswa.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16684Profil Gamers Mobile Legends Berusia Emerging Adulthood yang Memiliki Kepribadian Neurotisme2025-02-22T22:56:24+08:00Gitta Putrigittandrlp81@gmail.comFanni Putri Diantinafanni.putri@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>Emerging adulthood is a developmental phase characterized by identity exploration and emotional instability, which often triggers escapism behavior through online gaming. Personality neuroticism, characterized by a tendency to experience negative emotions, has been identified as a contributing factor to Internet Gaming Disorder (IGD). This study aims to identify the profile of Mobile Legends Bang Bang gamers in emerging adulthood (18-25 years old) who have neuroticism personality. This study uses quantitative methods involving 251 gamers who play Mobile Legends Bang Bang with the age criteria of 18-25 years. The data analysis used is multiple linear regression.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Emerging adulthood adalah fase perkembangan yang ditandai dengan eksplorasi identitas dan ketidakstabilan emosional, yang sering kali memicu escapism behavior melalui game online. Kepribadian neurotisme ditandai dengan kecenderungan mengalami emosi negatif, telah diidentifikasi sebagai faktor yang berkontribusi terhadap Internet Gaming Disorder (IGD). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil gamers Mobile Legends Bang Bang berusia emerging adulthood (18-25 tahun) yang memiliki kepribadian neurotisme. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang melibatkan 251 gamers yang bermain Mobile Legends Bang Bang dengan kriteria umur 18-25 tahun. Analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16692Valorant dan Kecanduan Game: Memahami Internet Gaming Disorder di Indonesia2025-02-22T22:57:23+08:00Sofwan Ariq Akbarsofwanariq11@gmail.comFanni Putri Diantianfanni.putridiantina@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Online games are not only a means of entertainment but also form virtual communities that connect players from various parts of the world. Some types of popular games.with the increasing popularity of online games, negative impacts such as Internet Gaming Disorder (IGD) have also emerged.This study aims to analyze Internet Gaming Disorder (IGD) among Valorant players. Using a non-experimental quantitative research method and a causal design, this study involved 108 respondents selected through purposive sampling technique. Data were collected based on the levels of IGD categorized into three levels: mild, moderate, and severe. The research results show that the majority of respondents are at the severe level of IGD with a percentage of 58%. In terms of age, respondents aged 21 years constitute the largest group experiencing severe IGD. Based on gender, males are more prone to experiencing IGD compared to females, with 44.4% of males at the severe level, compared to 13.9% of females. These findings support previous research stating that men are more likely to experience online gaming addiction. These results also underscore the importance of addressing IGD as a mental health issue, especially among online gamers like Valorant players.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Game online tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga membentuk komunitas virtual yang menghubungkan pemain dari berbagai belahan dunia. Beberapa jenis game yang populer.dengan meningkatnya popularitas game online, muncul pula dampak negatif seperti Internet Gaming Disorder (IGD).Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis terhadap Internet Gaming Disorder (IGD) pada pemain game Valorant. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif non-eksperimen dan desain kausalitas, penelitian ini melibatkan 108 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan berdasarkan tingkat IGD yang dikategorikan ke dalam tiga tingkat: mild, moderate, dan severe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada tingkat severe IGD dengan presentase sebesar 58%. Dari segi usia, responden berusia 21 tahun merupakan kelompok terbanyak yang mengalami severe IGD. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih rentan mengalami IGD dibandingkan perempuan, dengan 44,4% laki-laki berada pada tingkat severe, dibandingkan dengan 13,9% perempuan. Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa laki-laki cenderung lebih sering mengalami kecanduan game online. Hasil ini juga menggaris bawahi pentingnya perhatian terhadap IGD sebagai masalah kesehatan mental, terutama di kalangan pemain game online seperti Valorant</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16733Pengaruh Work-Family Conflict terhadap Psychological Well-Being Ibu Bekerja yang Memiliki Anak Autisme2025-02-22T22:58:20+08:00Vinaya Eristi10050019236@gmail.comDewi Sartikadewi.sartika@unisba.ac.idRizka Hadian Permanarizka.hadian@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Managing two roles at once, working and taking care of the family, could be challenging for working mothers. Especially for mothers who have autistic children with special needs. Often, the roles of mothers in caring for children and their work contradicted. The inability to divide the time for both roles is likely to create dissatisfaction and guilt for each role they play, which has an impact on the mother's psychological well-being. This study aims to examine the influence of work-family conflict on the psychological well-being of working mothers who have children with autism in Bandung City. The measuring instrument used was Multidimensional Measure of Work–Family Conflict that was developed by Davin S. Carlson, K. Michele Kacmar, & Larry J. William (2000) which was translated by Kuntari (2018) and Scale of Psychological Well-Being (SPWB), a measuring instrument developed by Ryff (1989) which was translated and adapted by Desiningrum (2019). This study used causality research methods and data analysis using a simple linear regression test. The results showed that the significance value was smaller than 0.05 (0.008 < 0.05) which means that there was a significant influence of work-family conflict on psychological well-being.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Menjalani dua peran sekaligus, bekerja dan mengurus keluarga bukanlah hal yang mudah, terutama bagi ibu yang memiliki anak autis yang butuh penanganan khusus. Seringkali antar peran ibu dalam mengurus anak dan pekerjaannya bertentangan. Ketidakmampuan untuk membagi waktu untuk kedua peran kemungkinan akan menimbulkan rasa ketidakpuasan dan rasa bersalah terhadap setiap peran yang mereka jalani, yang berdampak pada kesejahteraan psikologis sang Ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh <em>work-family conflict</em> terhadap <em>psychological well-being</em> ibu bekerja yang memiliki anak dengan autisme di kota Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah alat ukur <em>Multidimensional Measure of Work–Family Conflict</em> yang dikembangkan Davin S. Carlson, K. Michele Kacmar, & Larry J. William (2000) yang diterjemahkan oleh Kuntari (2018) dan <em>Scale of Psychological Well-Being (SPWB)</em> yang dikembangkan oleh Ryff (1989) yang diterjemahkan dan diadaptasi oleh Desiningrum (2019). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kausalitas dan analisis data menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar lebih kecil dari 0.05 (0.008 < 0.05) yang artinya terdapat pengaruh signifikan dari <em>work-family conflict</em> terhadap <em>psychological well-being</em>.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16751Pengaruh Stres Kerja terhadap Keterlibatan Pengasuhan pada Ayah yang Berprofesi Polisi2025-02-22T22:59:20+08:00M. Rakha Rizka Prasetyarakharizka@gmail.comAndhita Nurul Khasanahandhita.khasanah@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> In recent decades, the role of fathers has expanded beyond being solely financial providers; they are now expected to be actively involved in child-rearing. However, father involvement in parenting remains relatively low in Indonesia. Traditional perceptions that position fathers as family leaders often lead them to prioritize work. Meanwhile, jobs with high pressure, long working hours, and unsupportive work environments can increase work stress. For example, fathers working as police officers face challenges in balancing professional duties and their role as parents, which can lead to time conflicts with family responsibilities. This study aims to analyze the influence of work stress on the parenting involvement of fathers who work as police officers. Using a quantitative approach with a causal design, this research is a population study involving all married male traffic police officers at the Tasikmalaya City Police Department who have children, totaling 49 participants. The variables were measured using scales based on the aspects of work stress from Wu et al. (2018) and father involvement from Hawkins (2002), analyzed through simple linear regression. The findings indicate that most fathers who work as police officers experience high work stress and have low parenting involvement. Work stress significantly affects father involvement with a negative direction and a coefficient of 63%</p> <p><br><strong>Abstrak.</strong> Dalam beberapa dekade terakhir, peran ayah tidak lagi sebatas sebagai pencari nafkah, tetapi juga diharapkan aktif dalam pengasuhan anak. Namun, keterlibatan ayah dalam pengasuhan di Indonesia masih tergolong rendah. Persepsi tradisional yang menempatkan ayah sebagai pemimpin keluarga membuat mereka lebih fokus pada pekerjaan. Padahal, pekerjaan dengan tekanan tinggi, jam kerja panjang, dan lingkungan kerja yang kurang mendukung dapat meningkatkan stres kerja. Contohnya ayah yang berprofesi polisi menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan tugas profesional dan peran sebagai ayah, yang dapat menyebabkan konflik waktu dengan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh stres kerja terhadap keterlibatan pengasuhan ayah yang berprofesi sebagai polisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Penelitian ini merupakan studi populasi dengan subjek seluruh polisi pria satuan lalu lintas Polres Tasikmalaya Kota yang sudah menikah dan memiliki anak, berjumlah 49 orang. Variabel diukur menggunakan skala berdasarkan aspek stres kerja dari Wu et al. (2018) dan skala keterlibatan ayah dari Hawkins (2002), dengan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ayah yang berprofesi sebagai polisi mengalami stres kerja tinggi dan memiliki keterlibatan pengasuhan yang rendah. Stres kerja berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan ayah dengan arah negatif dan koefisien sebesar 63%.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16757Studi Korelasional Kualitas Komunikasi dengan Kualitas Hubungan Pacaran Jarak Jauh2025-02-22T23:00:07+08:00Ferina Reza Megantaraferinarza@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> This study aims to examine the relationship between communication quality and the quality of long-distance dating relationships (LDDR). This phenomenon has become increasingly relevant with the advancement of technology that allows for intensive long-distance communication. The research employs a quantitative approach using a survey questionnaire involving 388 respondents in Bandung. The results of Spearman's correlation analysis indicate a significant positive relationship between communication quality and relationship quality (r = 0.742). This study also emphasizes the importance of communication quality in maintaining long-distance relationships, providing theoretical and practical insights for couples in similar situations.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kualitas komunikasi dengan kualitas hubungan pacaran jarak jauh. Fenomena ini menjadi semakin relevan dengan kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi jarak jauh secara intensif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei kuesioner yang melibatkan 388 responden di Kota Bandung. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara kualitas komunikasi dan kualitas hubungan (r = 0,742). Penelitian ini juga menegaskan pentingnya kualitas komunikasi dalam menjaga hubungan jarak jauh, memberikan wawasan teoretis dan praktis bagi pasangan dalam situasi serupa.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16789Hubungan antara Kesejahteraan Materi dan Pengucilan Sosial dengan Kesejahteraan Subjektif2025-02-22T23:04:39+08:00Rosa Annisa Safirarosatugas08@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Economic conditions are one of the most important factors that impact on the level of life satisfaction of people in Indonesia. Material well-being and social exclusion are efforts to be able to describe economic conditions in children, this has almost never been studied from the perspective of adolescents. The study aimed to determine the relationship between material well-being and social exclusion with subjective well-being in junior high school students in Bandung City. This study used a cross-sectional survey method with stratified cluster random sampling technique. The study sample consisted of 764 junior high school students aged 12-16 years (female 50.7%; male 49.3%). Data were collected offline using Google Form and paper questionnaires. Material well-being was measured using Measurement Resources States (MRS) and family economic status, social exclusion was measured by Social Exclusion Measurement. Subjective well-being was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 items (CW-SWBS5). Data analysis used multiple linear regression to determine variable relationships. Descriptive ANOVA statistics were used to compare means and cross-tabs. The results showed that material well-being and social exclusion had a significant relationship with a coefficient of determination of 38.2% on the subjective well-being of junior high school students in Bandung City. Social exclusion (β=.527; p=.000) showed a greater contribution to subjective well-being than material well-being (MRS: β=.153; p=.000). Therefore, it is important for the government to consider various aspects in formulating policies to improve adolescents' subjective well-being. In addition, collaboration between parents and schools is needed to create a positive environment, pay attention to material well-being, and prevent social exclusion.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kondisi ekonomi merupakan salah satu faktor penting yang berdampak pada tingkat kepuasan hidup orang di Indonesia. Kesejahteraan materi dan pengucilan sosial merupakan upaya untuk dapat menggambarkan kondisi ekonomi pada anak, hal ini hampir belum pernah diteliti dari sudut pandang remaja. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan materi dan pengucilan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada siswa SMP di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode <em>cross-sectional</em> <em>survey</em> dengan teknik <em>stratified cluster random sampling</em>. Sampel penelitian terdiri dari 764 siswa SMP berusia 12 – 16 tahun (perempuan 50.7%; laki-laki 49.3%). Data diambil secara luring dengan <em>Google Form</em> dan kertas kuisioner. Kesejahteraan materi diukur menggunakan Measurement Resources States (MRS) dan status ekonomi keluarga, pengucilan sosial diukur dengan Social Exclusion Measurement. Kesejahteraan subjektif diukur menggunakan <em>Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 items</em> (CW-SWBS5). Analisis data menggunakan regresi linier berganda untuk mengetahui hubungan variabel. Statistika deskriptif ANOVA digunakan untuk melakukan uji <em>compare means</em> dan <em>cross-tab</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan materi dan pengucilan sosial memiliki hubungan signifikan dengan nilai koefisien determinasi 38.2% terhadap kesejahteraan subjektif siswa SMP di Kota Bandung. Pengucilan sosial (β=.527; p=.000) menunjukkan kontribusi lebih besar terhadap kesejahteraan subjektif daripada kesejahrteraan materi (MRS: β=.153; p=.000). Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan berbagai aspek dalam merumuskan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif remaja. Selain itu, kolaborasi antara orang tua dan sekolah sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang positif, memperhatikan kesejahteraan materi, serta mencegah terjadinya pengucilan sosial.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16791Hubungan antara Regulasi Emosi dan Ruminasi pada Orang yang Mengalami Cyberchondria 2025-02-22T23:05:34+08:00Nury Fitriandrinuryfitriandri20@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Cyberchondria is an excessive online health information seeking behavioar that increases health anxiety. This study analyzed the relationship between emotion regulation and rumination in individuals with cyberchondria, using quantitative methods with a correlational design. A total of 127 respondents aged 18-30 years were selected through purposive sampling. Data were collected using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQfor emotion regulation and the Ruminative Thought Style Questionnaire (RTSQ) for rumination. Analysis with Spearman's rho correlation test showed a significant relationship between emotion regulation and rumination (r = 0.308, p = 0.001). Cognitive reappraisal had a negative relationship with rumination (r = -0.839), while expressive suppression showed a positive relationship (r = 0.782). The dimensions of counterfactual thinking (36.2%) and repetitive thought (29.1%) were the dominant aspects of rumination. Adaptive emotion regulation, especially cognitive reappraisal, can reduce the intensity of rumination, while expressive suppression exacerbates maladaptive thought patterns. These findings emphasize the importance of developing adaptive emotion regulation strategies to reduce the negative impact of cyberchondria.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Cyberchondria adalah perilaku pencarian informasi kesehatan daring secara berlebihan yang meningkatkan kecemasan kesehatan. Penelitian ini menganalisis hubungan regulasi emosi dan ruminasi pada individu dengan cyberchondria, menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 127 responden berusia 18–30 tahun dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk regulasi emosi dan Ruminative Thought Style Questionnaire (RTSQ) untuk ruminasi. Analisis dengan uji korelasi Spearman’s rho menunjukkan hubungan signifikan antara regulasi emosi dan ruminasi (r = 0,308, p = 0,001). Cognitive reappraisal memiliki hubungan negatif dengan ruminasi (r = -0,839), sedangkan expressive suppression menunjukkan hubungan positif (r = 0,782). Dimensi counterfactual thinking (36,2%) dan repetitive thought (29,1%) menjadi aspek ruminasi yang dominan. Regulasi emosi adaptif, khususnya cognitive reappraisal, dapat menurunkan intensitas ruminasi, sedangkan expressive suppression memperburuk pola pikir maladaptif. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan strategi regulasi emosi adaptif untuk mengurangi dampak negatif cyberchondria.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16797Pengaruh Self-Monitoring terhadap Impulsive Buying pada Generasi Z Pengguna E-commerce2025-02-22T23:06:43+08:00Aisyah Putri Benanthiaisyahputrib03@gmail.comLilim Halimah aumisyanida@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Online shopping platforms often offer attractive discounts or promotions that can trigger a sudden urge to buy, without considering the impact later on. This phenomenon is known as impulsive buying. Generation Z is known to be hedonistic, consumptive and wasteful, which makes them more susceptible to stimuli that influence purchasing decisions. Generation Z is also often influenced by the social environment, including peers, as well as low self-esteem. As a result, they tend to buy items that are trending around them, which can be understood as high self-monitoring behavior. The purpose of this study is to examine the influence of self-monitoring on impulsive buying among e-commerce users from Generation Z. This research uses a quantitative approach of causality, and data processing utilizes simple linear regression analysis. The study utilized two data collection instruments, namely the Self-Monitoring Scale (SMS) from Snyder (1974), translated by Siagian (2017), and the Impulsive Buying Tendency (IBT) from Verplanken and Herabadi (2001), adapted by Herabadi (2003). Data was obtained through an online survey conducted to 160 respondents aged 18 to 25 years in Bandung City. The results showed a coefficient of determination of 0.761 as well as a significance value of 0.000 <0.05, meaning that there is a significant effect of self-monitoring on impulsive buying. This means that Self-Monitoring is high so that it affects purchases made based on impulse or desire to immediately fulfill their desires.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Berbagai platform belanja daring kerap menawarkan diskon atau promosi menarik yang dapat memicu dorongan membeli secara tiba-tiba, tanpa mempertimbangkan dampaknya di kemudian hari. Fenomena ini dikenal dengan istilah impulsive buying. Generasi Z diketahui memiliki kecenderungan hedonis, konsumtif, dan boros, yang membuat mereka lebih rentan terhadap stimulus yang mempengaruhi keputusan pembelian. Generasi Z juga sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial, termasuk teman sebaya, serta harga diri yang rendah. Akibatnya, mereka cenderung membeli barang-barang yang sedang tren di sekitarnya, yang mana fenomena ini dapat dipahami sebagai perilaku self-monitoring yang tinggi. Studi tujuannya menguji pengaruh self-monitoring terhadap impulsive buying pada pengguna e-commerce dari kalangan Generasi Z. Penelititian ini menggunakan pendekatan kuantitatif hubungan kausalitas, dan pengolahan data memanfaatkan analisis regresi linear sederhana. Studi memanfaatkan dua instrument pengumpulan data, yakni Self-Monitoring Scale (SMS) dari Snyder (1974), telah diterjemahkan Siagian (2017), serta Impulsive Buying Tendency (IBT) dari Verplanken dan Herabadi (2001), disesuaikan oleh Herabadi (2003). Data diperoleh melalui survei online yang dilakukan kepada 160 responden berusia 18 hingga 25 tahun di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan koefisien determinasi sebesar 0.761 juga nilai signifikansi 0,000 < 0.05, maknanya terdapat pengaruh signifikan self-monitoring terhadap impulsive buying. Artinya, Self-Monitoring tinggi sehingga berpengaruh terhadap pembelian yang dilaksanakan berdasarkan dorongan hati atau hasrat untuk segera memenuhi keinginanya.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16817Hubungan antara Keterlibatan Ayah dan Kesejahteraan Subjektif pada Remaja di Kota Bandung2025-02-22T23:07:48+08:00Muhammad Fajar Ramdhanifajarram@gmail.comIhsana Sabriani BorualogoIhsana.sabriani@unisba.ac.icTia Inayatillah Tia.inayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> In Indonesia, parental involvement is crucial for adolescent development, yet the specific contribution of fathers remains underexplored. This study examines the relationship between father involvement and adolescent subjective well-being (SWB) in Bandung. A cross-sectional survey was conducted with 624 adolescents (50.16% female; 49.84% male) living with their fathers. Father involvement was measured using the Nurturant Fathering Scale (NFS), while SWB was assessed through life satisfaction (CW-SWBS5), positive affect, and negative affect (CW-PNAS). Linear regression analysis examined these relationships, considering gender, socioeconomic status (SES), and living arrangements. Findings indicated that male adolescents reported higher SWB (M = 76.45) than females (M = 70.24). NFS scores were positively associated with SWB (p < .001, β = 1.148), suggesting that father involvement significantly contributes to adolescent well-being. These results highlight the importance of engaged fatherhood in enhancing life satisfaction and emotional health among adolescents. Encouraging active paternal involvement may improve adolescent well-being in Indonesian families.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Di Indonesia, keterlibatan orang tua sangat penting bagi perkembangan remaja, namun kontribusi spesifik ayah masih kurang dieksplorasi. Studi ini meneliti hubungan antara keterlibatan ayah dan kesejahteraan subjektif (SWB) remaja di Bandung. Survei cross-sectional dilakukan terhadap 624 remaja (50,16% perempuan; 49,84% laki-laki) yang tinggal bersama ayah mereka. Keterlibatan ayah diukur menggunakan Nurturant Fathering Scale (NFS), sedangkan SWB dinilai melalui kepuasan hidup (CW-SWBS5), afek positif, dan afek negatif (CW-PNAS). Analisis regresi linier meneliti hubungan ini, dengan mempertimbangkan jenis kelamin, status sosial ekonomi (SES), dan pengaturan tempat tinggal. Temuan menunjukkan bahwa remaja laki-laki melaporkan SWB yang lebih tinggi (M = 76,45) daripada perempuan (M = 70,24). Skor NFS berasosiasi positif dengan SWB (p < .001, β = 1,148), yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan remaja. Hasil ini menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam meningkatkan kepuasan hidup dan kesehatan emosional di kalangan remaja. Mendorong keterlibatan aktif ayah dapat meningkatkan kesejahteraan remaja dalam keluarga Indonesia.</p>2025-01-29T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16821Studi Kontribusi Iklim Organisasi terhadap Perundungan di Tempat Kerja2025-02-22T23:08:48+08:00Moh. Syahrul Radjulaniarulradjulani12@gmail.comAli Mubarakmubarakspsi@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>This study aims to find out how much Organizational Climate contributes to Workplace Bullying. Organizational climate is defined as employees' perception of molar constructs which includes work organization, relationships, cooperation, awards, working hours and work-life balance, autonomy, innovation, participation, and attachment to work which can shape the identity and quality of an organization. Regarding bullying in the workplace, it is defined as harmful behavior in the work environment repeatedly, which includes various behaviors such as verbal violence, threats, exclusion, insults, giving sharp criticism, ridicule, missing opportunities, sarcasm, malicious behavior, information closure, and interference in personal affairs of members of the Bandung city satpol PP. The research method used is a quantitative method with a simple linear regression analysis technique, and with a cross-sectional non-manipulation research design. The subjects studied were staff (PNS & PHL) in the Bandung City Satpol PP office N = 125. The measuring tools used are the CLIOR Scale developed by Suarez et al. (2013), and the NAQ-R developed by Erwandi et., al. (2021). The results of the study show that the organizational climate contributes 69% to workplace bullying in Bandung City Satpol PP Members. This study shows that having a positive organizational climate will reduce the likelihood of bullying in the workplace.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi Iklim Organisasi terhadap Perundungan Di Tempat Kerja. Iklim organisasi didefinisikan sebagai persepsi pegawai tentang konstruk molar yang mencakup yaitu organisasi kerja, relasi, kerjasama, penghargaan, jam kerja dan keseimbangan kehidupan kerja, otonomi, inovasi, partisipasi, dan keterikatan terhadap pekerjaan yang dimana dapat membentuk identitas dan kualitas sebuah organisasi. Mengenai perundungan di tempat kerja didefinisikan sebagai perilaku yang merugikan di lingkungan kerja secara berulang, yang mencakup berbagai perilaku seperti kekerasan verbal, ancaman, pengucilan, penghinaan, pemberian kritik yang tajam, ejekan, penghilangan peluang, sindiran, perilaku jahat, penutupan informasi, dan campur tangan dalam urusan pribadi pada anggota satpol pp kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear sederhana, dan dengan desain penelitian cross-sectional non-manipulation. Subjek yang diteliti adalah staf (PNS & PHL) yang ada di kantor Satpol PP Kota Bandung N = 125. Alat ukur yang digunakan yaitu CLIOR Scale yang dikembangkan oleh Suarez et al. (2013), dan NAQ-R yang di kembangkan oleh Erwandi et., al. (2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim organisasi memberikan kontribusi sebesar 69% terhadap perundungan di tempat kerja pada Anggota Satpol PP Kota Bandung. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan memiliki iklim organisasi yang positif maka akan mengurangi kemungkinan terjadinya perundungan di tempat kerja.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16830Pengaruh Regulasi Emosi terhadap Fear of Missing Out pada Mahasiswa Pengguna Instagram di Universitas Islam Bandung2025-02-22T23:09:46+08:00Nanda Mahardhika Nasutionnandamahardhika24@gmail.comMuhammad Ilmi Hatta m.ilmi.hatta@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> The development of social media has had a direct impact on society, particularly on younger generations. One of the most popular social networking platforms today is Instagram. Through Instagram, users can share photos and videos, allowing others to like and even praise their posts. However, Instagram is considered to have a negative influence on young people, especially by fostering feelings of inadequacy and dissatisfaction with their lives or the lives they aspire to. This phenomenon is referred to as the fear of missing out (FoMO). This study examines the impact of emotion regulation on the fear of missing out among university students who use Instagram at Universitas Islam Bandung. The hypothesis of the study posits that emotion regulation significantly influences the fear of missing out among Instagram users at Universitas Islam Bandung. The findings reveal that emotion regulation has an influence on the fear of missing out, with an R-value of 0.007. This indicates that the emotion regulation variable does not have a substantial contribution, accounting for only 0.7% of the fear of missing out.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perkembangan media sosial memiliki dampak langsung terhadap masyarakat, terutama pada generasi muda. Salah satu jejaring sosial paling populer saat ini adalah Instagram. Melalui Instagram, Anda dapat berbagi foto dan video sehingga orang lain yang melihatnya dapat menyukai dan bahkan memuji postingan Anda. Namun, Instagram dinilai membawa pengaruh buruk bagi kaum muda, terutama menimbulkan perasaan tidak berguna dan ketidakpuasan terhadap kehidupan yang mereka jalani atau yang bisa mereka jalani... Itu disebut <em>fear of missing out</em>. Penelitian ini mengkaji dampak regulasi emosi terhadap <em>fear of missing</em> out pada mahasiswa pengguna Instagram di Universitas Islam Bandung. Hipotesis dalam penelitian ini adalah regulasi emosi berpengaruh besar terhadap rasa takut kehilangan pada mahasiswa pengguna Instagram di Universitas Islam Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh regulasi emosi terhadap <em>fear of missing out</em> dengan nilai R sebesar 0,007 atau dapat dikatakan variabel Pengaturan emosi tidak memberi kontribusi besar, hanya menyumbang 0,7% terhadap <em>fear of missing out</em>.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16839Pengaruh Kebersyukuran terhadap Self-Compassion pada Santri Remaja Kelas 12 2025-02-22T23:10:48+08:00Azelya Azzahraazelyayya2106@gmail.comLilim Halimahaumisyanida@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Every adolescent inevitably experiences a phase known as the identity crisis. This phase requires individuals to seek and discover their true selves, ultimately forming a stable identity in late adolescence as they prepare for adulthood. Adolescents who successfully establish their identity are considered to be more stable. Gratitude is one of the values taught in Islam and has been "practiced" in daily life dynamics. By cultivating gratitude, individuals can develop self-compassion. This study aims to understand the influence of gratitude on self-compassion among 12th-grade students at Baitul Izzah Islamic Boarding School in Cimahi. The research employs a quantitative method with a non-experimental causal approach. A population study was conducted, involving all 96 students. The measurement tools used in this study include the Islamic Gratitude Scale (UGS-10) developed by Ahmad Rusdi et al. (2021) to assess gratitude, and the Self-Compassion Scale (SCS) based on Neff’s (2003) theory to measure self-compassion. The findings indicate a significance value of 0.006 < 0.050 with an R-square value of 0.077, meaning that gratitude contributes 7.7% to the increase in self-compassion among adolescent students.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Setiap remaja akan mengalami suatu tahapan yang disebut sebagai tahapan krisis identitas. Tahapan tersebut menuntut seseorang untuk mampu mencari dan menemukan jati diri, hingga pada akhirnya dapat membentuk identitas diri yang stabil pada masa remaja akhir guna bersiap untuk memasuki dewasa awal. Remaja yang telah berhasil menemukan identitas diri dinilai akan menjadi stabil. Syukur merupakan salah satu hal yang diajarkan dalam islam, dan telah “dipraktekkan” pada dinamika kehidupan. Dengan bersyukur maka seseorang dapat menimbulkan welas asih pada diri atau self-compassion. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan guna memahami pengaruh dari sikap yang senantiasa bersyukur terhadap self-compassion santri remaja kelas 12 di pondok pesantren Baitul Izzah Cimahi. Penelitian ini mengadopsi metode kuantitatif dengan adanya pendekatan kausalitas non eksperimen. Peneliti memanfaatkan studi populasi dengan keseluruhan populasi berjumlah 96 santri. Alat ukur pada penelitian ini yaitu Islamic Gratitude Scale (UGS-10) yang dirancang Ahmad Rusdi, dkk (2021). Dalam variabel self-compassion penelitian ini memanfaatkan Self Compassion Scale (SCS) yang merujuk pada teori (Neff, 2003). Pada penelitian ini dihasilkan nilai signifikansi senilai 0.006 < 0.050 dengan nilai R square senilai 0.077, yang artinya telah menyumbangkan kontribusi senilai 7.7% bahwa setiap peningkatan rasa kebersyukuran pada santri remaja, maka akan meningkatkan self-compassion santri remaja</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16846Pengaruh Problematic Internet Use terhadap Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa yang Sedang Menyelesaikan Skripsi 2025-02-22T23:12:02+08:00Elda Heldianieldaheldiani@gmail.comEndah Nawangsihendah.nawangsih@unisba.ac.id<p><strong>Abstract</strong>. Problematic internet use is a multidimensional syndrome consisting of cognitive, emotional and behavioral symptoms that result in difficulty in processing one's life offline. Students are considered a group that is prone to problematic internet use because students have a lot of free time due to an unstructured schedule and the University provides unlimited access via Wifi. This study aims to determine how much influence Problematic Internet Use has on academic procrastination in final students who are completing a thesis at the Islamic University of Bandung. This research uses a quantitative approach with a causality study research design to explain how much influence Problematic Internet Use has on academic procrastination. The research subjects amounted to 135 final students who were completing their theses using the Convenience Sampling method. The measuring instruments used in this study are GPIUS 2 (Generalized Problematic Internet Use Scale 2), compiled by Caplan (2010) and Academic Procrastination Scale (APS) compiled by McCloskey (2015). The results of this study show the R square value which is 0.695. Based on the data obtained, it can be seen that Problematic Internet Use (X) contributes 69.5% to Academic Procrastination (Y).</p> <p><strong>Abstrak</strong>. <em>Problematic internet use</em> merupakan sindrom multidimensional yang terdiri dari gejala kognitif, emosional dan perilaku yang mengakibatkan kesulitan seseorang dalam mengolah kehidupannya saat <em>offline</em>. Mahasiswa dianggap sebagai kelompok yang rawan mengalami P<em>roblematic internet use</em> karena Mahasiswa memiliki banyak waktu luang karena jadwal yang tidak terstruktur serta Universitas menyediakan akses yang tidak terbatas melalui Wifi. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh <em>Problematic Internet Use</em> terhadap Prokrastinasi akademik pada Mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsi di Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitin studi kausalitas untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh <em>Problematic Internet Use</em> terhadap Prokrastinasi akademik. Subjek penelitian berjumlah 135 Mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsi dengan menggunakan metode <em>Convenience Sampling</em>. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah GPIUS 2 (<em>Generalized Problematic Internet Use Scale</em> 2), disusun oleh Caplan (2010) dan <em>Academic Procrastination Scale</em> (APS) yang di susun oleh McCloskey (2015). Hasil penelitian ini menunjukan nilai R <em>square</em> yakni sebesar 0,695. Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa <em>Problematic Internet Use</em> (X) memberikan kontribusi 69,5% terhadap Prokrastinasi Akademik (Y).</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16848Dukungan Sosial Online dan Body Image Remaja di Instagram2025-02-22T23:12:58+08:00Rahmi Noviantirahmi.novianti@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> The phenomenon of social media has become an integral part of teenagers' lives, particularly in Bandung, with significant potential to influence body image and psychological well-being. This study aims to uncover the relationship between online social support and body image among teenagers. Using a quantitative approach and correlational design, 150 teenagers aged 15–18 years who are active social media users in Bandung participated as respondents. Data were collected through questionnaires measuring aspects of online social support and body image and analyzed using SEM-PLS. The results show that most teenagers have a positive body image (73.3%), while online social support is categorized as low (73.3%). Statistical analysis revealed a significant relationship between online social support and body image (p < 0.05), with online social support explaining 76.1% of the variation in body image. These findings emphasize the importance of fostering a supportive digital environment to enhance teenagers’ self-acceptance. Positive online social support, such as encouraging comments or likes, can strengthen a healthy body image, while negative interactions tend to diminish positive body perceptions.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Fenomena media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan remaja, terutama di Kota Bandung, dengan potensi pengaruh besar terhadap body image dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antara dukungan sosial online dengan body image pada remaja. Dengan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional, sebanyak 150 remaja berusia 15–18 tahun yang aktif menggunakan media sosial di Kota Bandung menjadi responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur aspek dukungan sosial online dan body image, kemudian dianalisis menggunakan SEM-PLS. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki tingkat body image positif (73,3%), sementara dukungan sosial online berada pada kategori rendah (73,3%). Analisis statistik mengungkap hubungan signifikan antara dukungan sosial online dengan body image (p < 0,05), dengan variabel dukungan sosial online menjelaskan 76,1% variasi pada body image. Temuan ini menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan digital yang suportif untuk meningkatkan penerimaan diri remaja. Dukungan sosial online yang positif, seperti komentar atau like, dapat memperkuat body image yang sehat, sedangkan interaksi negatif cenderung menurunkan persepsi positif terhadap tubuh.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16855Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial terhadap Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Pengguna TikTok2025-02-22T23:14:00+08:00Kanieda Alma Annasya Nurul Permanakaniedaa@gmail.comLilim Halimahaumisyanida@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>Many students procrastinate on their academic assignments. This phenomenon is called academic procrastination. One of the things that can cause students to experience academic procrastination is being distracted by more enjoyable activities. Currently, the use of social media is one of the fun activities for students. Especially the use of TikTok social media which is being widely used. The purpose of this study was to determine the effect of the intensity of social media use on academic procrastination in TikTok users in Bandung. This study uses a quantitative research design with the causality method. Data analysis using simple linear regression test with accidental sampling technique and obtained as many as 484 TikTok user students in Bandung as research samples. The measurement instrument used is a measuring instrument for the intensity of social media use compiled by Taqwa (2018) and the Academic Procrastination Scale compiled by McClosckey (2011) and has been adapted into Indonesian by Cita Aliviani (2022). The results showed a significance value of 0.000 <0.05 with an R-Squared value of 0.106, meaning that there is an influence between the intensity of social media use on academic procrastination in TikTok user students in Bandung with a contribution of 10.6%.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Banyak mahasiswa yang menunda-nunda pengerjaan tugas akademiknya. Fenomena ini disebut prokrastinasi akademik. Salah satu hal yang dapat menyebabkan mahasiswa mengalami prokrastinasi akademik adalah karena teralihkan pada aktivitas yang lebih menyenangkan. Saat ini, penggunaan media sosial merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan bagi mahasiswa. Terutama pada penggunaan media sosial TikTok yang sedang ramai digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari intensitas penggunaan media sosial terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa pengguna TikTok di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan metode kausalitas. Analisis data menggunakan uji regresi linier sederhana dengan teknik <em>sampling accidental sampling</em> dan didapatkan sebanyak 484 mahasiswa pengguna TikTok di Kota Bandung sebagai sampel penelitian. Instrumen pengukuran yang digunakan alat ukur intensitas penggunaan media sosial yang disusun oleh Taqwa (2018) dan <em>Academic Procrastination Scale</em> yang disusun oleh McClosckey (2011) dan telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Cita Aliviani (2022). Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0.05 dengan nilai <em>R-Squared</em> 0,106, artinya terdapat pengaruh antara intensitas penggunaan media sosial terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa pengguna TikTok di Kota Bandung dengan konstribusi sebanyak 10,6%.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16875Hubungan antara Work Engagement dan Readiness for Change pada Karyawan Gen Z2025-02-22T23:15:08+08:00Lutfiah Nurrizqilutfiahnurrizqi36@gmail.comLisa Widawatilisa.widawati@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> The global workforce has undergone significant changes due to technological advancements, digitalization, and global competition, compelling organizations to continuously adapt to remain relevant (Wahyudi et al., 2023; Lord, 2020). Successful adaptation depends not only on strategies but also on how human resources respond to these transformations. This study analyzes the relationship between work engagement and readiness for change among Generation Z employees working as Digital Marketing Specialists in the e-commerce sector. Using a quantitative approach, the study involved 146 respondents selected through purposive sampling. Data were measured using the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-17) for work engagement and the Readiness for Change Questionnaire (RFCQ II) for readiness for change, with Spearman's Rank correlation method used for analysis. The results showed a positive and significant relationship between work engagement and readiness for change (correlation coefficient = 0.669; p < 0.01), indicating that higher work engagement correlates with greater readiness to embrace change. This study highlights that enhancing work engagement can be a key strategy for organizations to strengthen the readiness of Generation Z employees to face the dynamic challenges of the e-commerce sector.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dunia kerja global mengalami perubahan signifikan akibat kemajuan teknologi, digitalisasi, dan persaingan global, yang memaksa organisasi untuk terus beradaptasi agar tetap relevan (Wahyudi et al., 2023; Lord, 2020). Keberhasilan adaptasi tidak hanya bergantung pada strategi, tetapi juga pada respons sumber daya manusia terhadap transformasi tersebut. Penelitian ini menganalisis hubungan antara work engagement dan readiness for change pada karyawan Generasi Z yang bekerja sebagai Digital Marketing Specialist di sektor e-commerce. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 146 responden yang dipilih melalui purposive sampling, dengan data yang diukur menggunakan Utrecht Work Engagement Scale (UWES-17) dan Readiness for Change Questionnaire (RFCQ II), serta dianalisis menggunakan korelasi Rank Spearman. Hasil menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara work engagement dan readiness for change (koefisien korelasi = 0,669; p < 0,01), yang berarti keterlibatan kerja yang lebih tinggi berkorelasi dengan kesiapan lebih besar menghadapi perubahan. Penelitian ini menegaskan bahwa meningkatkan keterlibatan kerja dapat menjadi strategi penting bagi organisasi untuk memperkuat kesiapan karyawan Gen Z dalam menghadapi dinamika sektor e-commerce.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16880Pengaruh Ruminasi terhadap Forgiveness pada Remaja Broken Home di Kabupaten Bandung2025-02-22T23:16:10+08:00Silmi Hanifahsilmih86@gmail.comSiti Qodariahsiti.qodariah@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> The event of parental divorce has an impact on various aspects of the child: such as the child's perception, emotions, and behavior. There is a change in the way of looking, either at oneself or at parents. The presence of feelings of anger, disappointment, sadness, low self-esteem, etc., causes the child to become angry and resentful towards the parents or one of the parents. Divorce events that affect thoughts and feelings can then continue to revolve in the head (rumination), and can then affect internalizing and externalizing behaviors (Brenning et al., 2022). The purpose of this study was to determine the effect of rumination on forgiveness in broken home adolescents in Bandung Regency. This research design uses causality, and a non-experimental quantitative approach. The subjects in this study were adolescents with both biological parents experiencing divorce. The measuring instrument used is the RRS-10 which has been adapted into Indonesian by Cleopatra Yusainy (Yusainy, 2017), and the TRIM-18 measuring instrument which has been adapted into Indonesian by Iko Maidiarko (Maidiarko, 2020). The data analysis method used is simple linear regression, with a significance result of 0.000, meaning that there is an influence of rumination on forgiveness in broken home adolescents in Bandung Regency. The results of this study indicate that rumination has an influence contribution to forgiveness of 67.2%.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Peristiwa perceraian orang tua memiliki dampak terhadap berbagai aspek pada anak: seperti persepsi, emosi, dan perilaku anak. Terjadinya perubahan dalam cara memandang, baik pada diri sendiri atau pun pada orang tua. Hadirnya perasaan marah, kecewa, sedih, rendah diri, dan lain-lain, menyebabkan anak tersebut menjadi marah dan benci terhadap orang tua atau salah satu orang tua. Peristiwa perceraian yang memengaruhi pikiran serta perasaan itu kemudian dapat terus berputar di dalam kepala (ruminasi), dan kemudian dapat memengaruhi <em>internalizing </em>dan <em>externalizing behaviors</em>. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ruminasi terhadap <em>forgiveness </em>pada remaja <em>broken home </em>di Kabupaten Bandung. Desain penelitian ini menggunakan kausalitas, dan pendekatan kuantitatif non eksperimental. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja dengan kedua orang tua kandung mengalami perceraian. Alat ukur yang digunakan adalah RRS-10 yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Cleopatra Yusainy (Yusainy, 2017), dan alat ukur TRIM-18 yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Iko Maidiarko (Maidiarko, 2020). Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana, dengan hasil signifikansi 0.000, artinya terdapat pengaruh ruminasi terhadap <em>forgiveness </em>pada remaja <em>broken home </em>di Kabupaten Bandung. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ruminasi memiliki kontribusi pengaruh terhadap <em>forgiveness </em>sebesar 67,2%.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16886Pernikahan Pasangan Involuntary Childless2025-02-22T23:17:02+08:00Meutia Alifameutiaalifa59@gmail.comYunita Sariyunita.sari@unisba.ac.id<p><strong>Abstract. </strong>Involuntary childlessness is a significant issue especially in pronatalist country like Indonesia, which strongly emphasize the importance of children in marriage. This condition often causes psychological distress and social stigma, especially for women who are often blamed for the condition of involuntary childlessness. This article aims to explore marriage in involuntary childless couples. Using a scoping review method, this study analyzed 11 empirical studies published between 2013 and 2023, which were selected based on strict inclusion and exclusion criteria. The results showed that involuntary childless couples face significant social and psychological distress. However, spousal support and positive coping strategies can help maintain their marital relationship despite the absence of children.</p> <p><strong>Abstrak. </strong><em>Involuntary childless</em> merupakan isu yang signifikan, terutama di masyarakat pronatalis seperti Indonesia, yang sangat menekankan pentingnya kehadiran anak dalam pernikahan. Kondisi ini sering menyebabkan tekanan psikologis dan stigma sosial, terutama bagi perempuan yang sering disalahkan atas kondisi <em>involuntary childless</em>. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi pernikahan pada pasangan dengan kondisi <em>involuntary childless</em>. Dengan menggunakan metode <em>scoping review</em>, penelitian ini menganalisis 11 studi empiris yang diterbitkan antara tahun 2013 dan 2023, yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan <em>involuntary childless</em> menghadapi tekanan sosial dan psikologis yang signifikan. Namun, dukungan dari pasangan dan <em>strategi coping</em> yang positif dapat membantu menjaga hubungan pernikahan mereka meskipun tanpa kehadiran anak.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16892Pengaruh Konformitas Teman Sebaya terhadap Drinking Intention ada Mahasiswa Pengonsumsi Minuman Beralkohol2025-02-22T23:17:59+08:00Mutiara Siti A'ini Zahra10050020001@unisba.ac.idEni Nueraeni Nugrahawatienipsikologi@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>The phenomenon of alcohol consumption among university students is gaining attention, especially in big cities like Bandung, known as the center of education. Despite the majority of the population being Muslim, the prevalence of alcohol consumption among university students remains high, fueled by the accessibility of illegal alcohol and oplosan drinks. This study aims to analyze the influence of peer conformity on alcohol consumption intention in college students aged 18-29 years, with a sample of 100 people. The measuring instruments used are a modified peer conformity scale by Rizqi Ananda (2021) and binge drinking intention by Kenia Alvita (2021), based on Ajzen's Theory of Planned Behavior (1991). The results of the analysis show that peer conformity has a significant effect on alcohol consumption intention, with a regression coefficient of 0.543 and a significance of 0.001 (p < 0.05). Peer conformity has the highest influence on the subjective norm determinant of 0.081, followed by behavioral control of 0.076 and attitude towards behavior of 0.016.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Fenomena konsumsi alkohol di kalangan mahasiswa semakin mendapat perhatian, terutama di kota besar seperti Bandung, yang dikenal sebagai pusat pendidikan. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, prevalensi konsumsi alkohol di kalangan mahasiswa tetap tinggi, dipicu oleh aksesibilitas terhadap minuman beralkohol dan oplosan ilegal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konformitas teman sebaya terhadap intensi konsumsi alkohol pada mahasiswa berusia 18-29 tahun, dengan sampel sebanyak 100 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala konformitas teman sebaya yang dimodifikasi oleh Rizqi Ananda (2021) dan binge drinking intention oleh Kenia Alvita (2021), berdasarkan Theory of Planned Behavior oleh Ajzen (1991). Hasil analisis menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya berpengaruh signifikan terhadap intensi mengonsumsi alkohol, dengan koefisien regresi 0.543 dan signifikansi 0.001 (p < 0.05). Konformitas teman sebaya memiliki pengaruh tertinggi pada determinan norma subjektif sebesar 0.081, diikuti oleh kontrol perilaku sebesar 0.076 dan sikap terhadap perilaku sebesar 0.016.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16899Gambaran Rasa Percaya Suami Pada Istri 2025-02-22T23:18:55+08:00Nauli Zhoadamara Siregarnaulisrg1605@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract</strong>. Long-distance marriages have become an increasingly common phenomenon due to work and economic demands that require spouses to live apart. Trust is a key factor in maintaining the harmony and continuity of long-distance marriages. This study aims to describe the level of trust husbands have in their wives in long-distance marriages. The study used a descriptive quantitative method with a population of husbands who work and have been in long-distance marriages for at least 5 years. A total of 117 respondents were selected through a convenience sampling technique. Data were measured using the Trust Scale adapted from Rempel et al. (1985), along with several questions related to ways of building trust and resolving issues with their spouse. The results showed that 50.4% of respondents had a high level of trust in their wives, while 49.6% had a low level of trust. Good communication, honesty, and confidence in the spouse were the primary ways to build trust. The majority of respondents chose direct communication as the main method for resolving problems with their spouse. This study highlights the importance of trust and communication in maintaining the stability of long-distance marriages.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak. </strong>Pernikahan jarak jauh menjadi fenomena yang semakin umum seiring dengan tuntutan pekerjaan dan ekonomi yang mengharuskan pasangan suami-istri tinggal terpisah. Kepercayaan menjadi faktor kunci dalam menjaga keharmonisan dan keberlanjutan hubungan pernikahan jarak jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat rasa percaya suami terhadap istri dalam pernikahan jarak jauh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan populasi suami yang bekerja dan menjalani pernikahan jarak jauh selama minimal 5 tahun. Sebanyak 117 responden dipilih melalui teknik convenience sampling. Data diukur menggunakan Trust Scale yang diadaptasi dari Rempel dkk. (1985), serta beberapa pertanyaan terkait cara membangun kepercayaan dan menyelesaikan masalah dengan pasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50,4% responden memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap istri mereka, sementara 49,6% memiliki tingkat kepercayaan yang rendah. Komunikasi yang baik, kejujuran, dan keyakinan terhadap pasangan merupakan cara utama dalam membangun kepercayaan. Mayoritas responden memilih komunikasi langsung sebagai cara utama dalam menyelesaikan masalah dengan pasangan. Penelitian ini menegaskan pentingnya kepercayaan dan komunikasi dalam menjaga stabilitas pernikahan jarak jauh.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16901Pengaruh Perilaku Over Protective Orang Tua terhadap Kemampuan Personal Adjustment pada Mahasiswa Baru Rantau di Kota Bandung2025-02-22T23:19:54+08:00Trinisa Mutiara Raihantrinisa.mutiara@gmail.comSulisworo Kusdiyatidyati.hadiwardoyo21@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Personal adjustment is an essential skill for first-year students from overseas in navigating social and academic challenges. This study examines the impact of overprotective parental behavior, which involves excessive protection and control, on the personal adjustment ability of first-year overseas students in Bandung City. The research employs a quantitative method with a sample of 101 overseas first-year students in Bandung City. Data were collected using the Overprotective Parental Behavior Questionnaire developed and adapted by Hetharia and Huwae, as well as the personal adjustment measurement tool also developed and adapted by Hetharia and Huwae. The study applies regression analysis with a convenience sampling technique, revealing that overprotective parental behavior has a negative effect on personal adjustment ability. This behavior accounts for 5.1% of the variation in personal adjustment ability. Most respondents (97%) reported low levels of overprotective behavior, yet (79%) also exhibited low personal adjustment abilities. The findings indicate that excessive control and continuous protection from parents hinder students' independence and adaptation to new environments. This study provides theoretical contributions to developmental psychology and practical guidance for parents and educational institutions to support overseas first-year students in developing their personal adjustment skills.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penyesuaian diri (personal adjustment) merupakan kemampuan penting bagi mahasiswa baru rantau dalam menghadapi tantangan sosial dan akademik. Penelitian ini mengkaji pengaruh perilaku over protective orang tua, yang melibatkan perlindungan dan kontrol berlebihan, terhadap kemampuan penyesuaian diri mahasiswa baru rantau di Kota Bandung. Metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan sampel pada penelitian ini (N= 101) yaitu mahasiswa baru rantau di Kota Bandung. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Perilaku Over Protective Orang Tua yang dikembangkan dan diadaptasi oleh Hetharia dan Huwae serta alat ukur personal adjustment yang dikembangkan dan diadaptasi oleh Hetharia dan Huwae. Penelitian ini menggunakan analisis data analisis regresi menggunakan teknik convenience sampling dengan ditemukan hasil bahwa perilaku over protective orang tua memiliki pengaruh negatif terhadap kemampuan penyesuaian diri. Perilaku ini menjelaskan 5,1% variasi kemampuan penyesuaian diri. Sebagian besar responden (97%) melaporkan tingkat rendah perilaku over protective, namun (79%) memiliki kemampuan penyesuaian diri yang juga rendah. Temuan menunjukkan bahwa kontrol berlebihan dan proteksi terus-menerus dari orang tua menghambat kemandirian dan adaptasi mahasiswa terhadap lingkungan baru. Studi ini memberikan kontribusi teoretis dalam psikologi perkembangan serta panduan praktis bagi orang tua dan institusi pendidikan untuk mendukung mahasiswa baru rantau mengembangkan kemampuan penyesuaian diri.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16907The Influence of Mental Health Literacy on Academic Stress Levels Among Students in Bandung City2025-02-22T23:20:46+08:00Athaya Tasmara Zahraathayazahraatz@gmail.comAndhita Nurul Khasanahandhita.khasanah@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Mental health has become one of the most frequently discussed topics, particularly among university students. In Indonesia, academic stress is the most dominant mental health issue faced by students. This study aims to explore the impact of mental health literacy on the level of academic stress among students who have utilized psychological services in higher education institutions. The research involved 217 university students in Bandung as participants. Mental health literacy was measured using the Mental Health Literacy Scale developed by Jung et al. (2016), based on Jorm's (1997) theory. Meanwhile, academic stress levels were assessed using the Student-Life Stress Inventory (SLSI) by Gadzella (1997). Data were analyzed using simple linear regression. The results of the analysis revealed a significant negative effect (p = 0.000; p < 0.05) between mental health literacy and academic stress levels, with a coefficient of determination of 28.7%. This finding indicates that the higher the level of mental health literacy among students, the lower their level of academic stress. This study highlights the importance of mental health literacy in reducing academic stress among university students. The implications of these findings can serve as a foundation for developing mental health education programs in higher education institutions to improve students' psychological well-being.<br><br></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kesehatan mental menjadi salah satu topik yang semakin banyak dibicarakan, khususnya di kalangan mahasiswa. Di Indonesia, stres akademik merupakan isu kesehatan mental yang paling dominan di antara mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh literasi kesehatan mental terhadap tingkat stres akademik pada mahasiswa yang telah menggunakan layanan psikologis di perguruan tinggi. Penelitian ini melibatkan 217 mahasiswa di Kota Bandung sebagai partisipan. Literasi kesehatan mental diukur menggunakan Mental Health Literacy Scale yang dikembangkan oleh Jung et al. (2016) berdasarkan teori Jorm (1997). Sementara itu, tingkat stres akademik diukur menggunakan Student-Life Stres Inventory (SLSI) oleh Gadzella (1997). Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh negatif yang signifikan (p = 0.000; p < 0.05) antara literasi kesehatan mental dan tingkat stres akademik, dengan koefisien determinasi sebesar 28,7%. Artinya semakin tinggi literasi kesehatan mental yang dimiliki mahasiswa, semakin rendah tingkat stres akademik yang dialami. Penelitian ini mengindikasikan pentingnya literasi kesehatan mental dalam mengurangi stres akademik di kalangan mahasiswa. Implikasi hasil ini dapat menjadi dasar pengembangan program edukasi kesehatan mental di perguruan tinggi guna meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16945Pengaruh Kesepian terhadap Nomophobia pada Mahasiswa Rantau di Kota Bandung2025-02-22T23:21:39+08:00Alya Rachmasarialyarachmasari2002@gmail.comLilim Halimahaumisyanida@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Smartphones can have an impact on human life. With proper utilization of smartphones, a person can keep up with the development of knowledge and add insight. On the other hand, many smartphone users experience the effects of nomophobia. Individuals become more intense in using smartphones, especially when they feel lonely. The purpose of this study is to determine the effect of loneliness on nomophobia in overseas students in Bandung City more comprehensively. The research method uses a quantitative approach with causality techniques. Social and Emotional Loneliness Scale Short Version adapted by Putri (2022) was used to measure loneliness, nomophobia was measured by Nomophobia Questionnaire adapted by Warsah et al. (2023). Data processing analysis using multiple linear regression. Through purposive sampling, 102 samples of students from outside West Java who migrated in Bandung City were obtained. The results showed that loneliness simultaneously affects nomophobia with a significance value of 0.00 <0.05 with an R Square value of 0.344, meaning that loneliness contributed 34.4% to nomophobia. Partial test results show that romantic loneliness has a significant effect on nomophobia, but family loneliness and social loneliness have no effect on nomophobia.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Smartphone dapat memberi dampak bagi kehidupan manusia. Dengan pemanfaatan smartphone yang tepat, seseorang bisa mengikuti perkembangan ilmu dan menambah wawasan. Di sisi lain pengguna smartphone banyak yang mengalami efek nomophobia. Individu menjadi lebih intens dalam menggunakan smartphone terutama ketika merasa kesepian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kesepian terhadap nomophobia pada mahasiswa rantau di Kota Bandung secara lebih komprehensif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik kausalitas. Social and Emotional Loneliness Scale Short Version yang diadaptasi Putri (2022) digunakan untuk mengukur kesepian, nomophobia diukur dengan Nomophobia Questionnaire yang diadaptasi Warsah et al. (2023). Analisis pengolahan data menggunakan regresi linear berganda. Melalui purposive sampling didapatkan 102 sampel mahasiswa dari luar Jawa Barat yang merantau di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan kesepian berpengaruh terhadap nomophobia dengan nilai signifikansi 0.00 < 0.05 dengan nilai R Square sebesar 0.344, artinya kesepian memberikan kontribusi sebesar 34.4% terhadap nomophobia. Hasil uji parsial menunjukkan kesepian romantis berpengaruh signifikan terhadap nomophobia, tetapi kesepian keluarga dan kesepian sosial tidak berpengaruh terhadap nomophobia.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16950Pengaruh Kontrol Diri terhadap Perilaku Impulsive Buying pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial Tiktok di Bandung2025-02-22T23:22:37+08:00Muthiah Rifatul AisyMuthiarifatul15@gmail.comSiti Qodariahsiti.qodariah@yahoo.co.id<p><strong><em>Abstract.</em></strong> The rapid development of technology has greatly facilitated purchasing activities, including those conducted through social media. TikTok Shop, a new feature of the TikTok application, has become a popular platform for online shopping in Indonesia. This study aims to examine the effect of self-control on impulsive buying behavior among TikTok social media users.This research uses a quantitative method, involving 374 student respondents in Bandung, aged 17-25 years, who actively use TikTok. The study employs the Impulsive Buying Scale (IBS) to measure impulsive buying behavior and the Self-Control Scale (SCS) to measure self-control.The results show that the majority of TikTok users among students in Bandung exhibit high levels of self-control, while their impulsive buying behavior is generally categorized as low. Furthermore, self-control significantly influences impulsive buying behavior among TikTok users in Bandung. This is supported by an F-calculated value (Fₕᵢₜᵤₙg) of 3.393, which exceeds the F-table value (Fₜₐᵦₑₗ) of 3.8728, and a significance value of 0.000, which is less than 0.05. These findings indicate that the null hypothesis (H₀) is rejected, and the alternative hypothesis (Hₐ) is accepted.The data confirm that self-control significantly affects impulsive buying behavior among TikTok users in Bandung<em>.</em></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perkembangan teknologi yang pesat juga mempermudah aktivitas pembelian, termasuk melalui media sosial. TikTok Shop, sebuah fitur baru dari aplikasi TikTok yang menjadi platform populer untuk berbelanja online di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontrol diri terhadap perilaku <em>Impulsive Buying</em> pada pengguna media sosial TikTok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan partisipan 374 responden mahasiswa/i di Bandung, berusia 17-25 tahun, pengguna media sosial TikTok. Penelitian ini menggunakan alat ukur <em>Impulsive Buying Scale (IBS) untuk Impulsive Buying </em>dan<em> Self Control Scale (SCS)</em> untuk Kontrol Diri. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa menunjukkan tingkat kontrol diri pengguna media sosial Tiktok pada mahasiswa/i di Bandung mayoritas berada pada kategori tinggi dan tingkat perilaku <em>Impulsive Buying</em> pengguna media sosial Tiktok pada mahasiswa/i di Bandung berada pada kategori rendah. Selain itu, kontrol diri berpengaruh terhadap <em>Impulsive Buying</em> pengguna media sosial Tiktok pada Mahasiswa di Bandung. Hal ini dibuktikan dengan nilai Fhitung 3,393 > Ftabel 3,8728 atau sig sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Data tersebut menunjukkan bahwa kontrol diri secara signifikan mempengaruhi <em>Implusive Buying</em> diantara mahasiswa/i yang menggunakan TikTok di Bandung. </p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16963Pengaruh Religiusitas terhadap Subjective Well-Being pada Penyintas Kanker Payudara2025-02-22T23:23:32+08:00Diandra Nur Chairunnissadiandranc07@gmail.comSuhanasuhana@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Religiosity is understood as an individual's belief in their religion, which is reflected in the extent to which religious teachings are lived and internalized in daily behavior and outlook on life, while subjective well-being refers to an individual's assessment of their own life, which includes feelings of satisfaction with life (life satisfaction), level of happiness, and emotional well-being. This study aims to examine the effect of religiosity on subjective well-being in breast cancer survivors in Bandung City with a total of 33 breast cancer survivors. Quantitative methods are used as an approach in this study. The measuring instrument used is The Centrality of Religiosity Scale Interreligious (CRSi) by Huber and Huber (2012) which has been adapted by Mubarak, Ali (2023). The subjective well-being measuring instrument is The Satisfaction With Life Scale (SWLS) developed by Diener et al. (1985) and has been adapted by Ade Irma and Raudatussalamah (2018). Then, The Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) compiled by Watson et al. (1988) which has also been adapted by Ade Irma and Raudatussalamah (2018). The data was processed using simple linear regression with the results of the study showing that religiosity has a significant contribution of 20.8% to subjective well-being.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Religiusitas dipahami sebagai keyakinan individu terhadap agamanya, yang tercermin dari sejauh mana ajaran agama dihayati dan diinternalisasi dalam perilaku dan pandangan hidup sehari-hari, sementara <em>subjective well-being</em> merujuk pada penilaian individu terhadap kehidupannya sendiri, yang mencakup perasaan puas dengan hidup (<em>life satisfaction</em>), tingkat kebahagiaan, dan kesejahteraan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh religiusitas terhadap <em>subjective well-being</em> pada penyintas kanker payudara di Kota Bandung dengan jumlah subjek sebanyak 33 penyintas kanker payudara. Metode kuantitatif dipakai sebagai pendekatan dalam penelitian ini. Alat ukur yang dimanfaatkan, yaitu <em>The Centrality of Religiosity Scale Interreligious</em> (CRSi) oleh Huber dan Huber (2012) yang telah diadaptasi oleh Mubarak, Ali (2023). Alat ukur <em>subjective well-being</em>, yaitu <em>The Satisfaction With Life Scale</em> (SWLS) yang dikembangkan oleh Diener et al. (1985) dan telah diadaptasi oleh Ade Irma dan Raudatussalamah (2018). Kemudian, <em>The Positive and Negative Affect Schedule</em> (PANAS) yang disusun oleh Watson et al. (1988) yang juga telah diadaptasi oleh Ade Irma dan Raudatussalamah (2018). Data diolah menggunakan regresi linier sederhana dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas memiliki kontribusi signifikan sebesar 20.8% terhadap <em>subjective well-being</em>.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16965Pengaruh Religiusitas terhadap Penalaran Moral pada Mahasiswa yang Mengikuti Organisasi Kemahasiswaan di Universitas Islam Bandung2025-02-22T23:24:33+08:00Rafie Muhammad Azzizyotiyot.rma@gmail.comEni Nuraeni Nugrahawati enipsikologi@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Participating in student organizations exposes students to difficult moral conundrums, including managing resources, addressing internal organizational problems, and making decisions in social confrontations. Religion is seen as one of the key elements that can influence students' moral reasoning in the context of Islamic universities, such Universitas Islam Bandung. Intellectual, ideological, private, public, and religious experiences are all components of religiosity. Finding out how religiosity affects moral reasoning among students involved in student groups at the Islamic University of Bandung is the aim of this study. This study employs several linear regression analysis approaches in a causal quantitative manner. The CRS-15, created by Huber & Huber and translated into Indonesian by Nugraha, and the moral reasoning assessment, created by Kohlberg and modified by Budiningsih, were the instruments utilized in this study. 420 seventh-semester students who were involved in student organizations at the Islamic University of Bandung made up the study's sample. The study's findings indicate that the religiosity variable has a 2% concurrent impact on moral reasoning. Out of all the dimensions, only the ideology dimension has a negative effect on moral reasoning (.166). The findings of this study can be applied to the creation of curricula and exercises that teach students how to apply religion to moral quandaries in daily life.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan sering dihadapkan pada dilema moral yang kompleks, seperti pengambilan keputusan dalam konflik sosial, pengelolaan sumber daya, dan penyelesaian masalah internal organisasi. Dalam konteks perguruan tinggi Islam, seperti Universitas Islam Bandung, religiusitas dipandang sebagai salah satu faktor penting yang dapat membentuk penalaran moral mahasiswa. Religiusitas mencakup dimensi <em>Intellectual, Ideology, Public Practice, Private Practice</em>, dan <em>Religious Experience</em>. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap penalaran moral pada mahasiswa yang mengikuti organisasi kemahasiswaan di Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausalitas dengan teknik analisis regresi linear berganda. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini yaitu CRS-15 yang dikembangkan oleh Huber & Huber dan telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia oleh Nugraha lalu alat ukur penalaran moral yang dikembangkan oleh Kohlberg dan telah diadaptasi oleh Budiningsih. Sampel pada penelitian ini sebanyak 420 mahasiswa semester 7 yang mengikuti organisasi kemahasiswaan di Universitas Islam Bandung. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh secara simultan pada variabel religiusitas terhadap penalaran moral sebesar 2%. Adapun pengaruh tiap-tiap dimensi hanya dimensi <em>Ideology</em> saja yang memberikan pengaruh negatif sebesar .166 terhadap penalaran moral.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16967Pengaruh Loneliness terhadap Problematic Internet Use pada Mahasiswa di Kota Bandung2025-02-22T23:25:35+08:00Silva Arifah Fauziyyahsilvaarifah04@gmail.comMilda Yanuviantiyanuvianti@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Loneliness is one of the most common problems that students face. In reducing these problems, the use of the internet is one way that can be done by students. However, the internet has negative benefits if its use becomes problematic and has a negative impact on life. This is called problematic internet use. The purpose of this study was to analyze the effect of loneliness on problematic internet use in strata one students in Bandung. This study uses a quantitative approach to the design of causality to determine cause and effect. The research sample consisted of 230 students in Bandung who were selected by utilizing accidental sampling technique. The measurement tool used is UCLA Loneliness Scale Version 3 compiled by Russell (1996) and adapted by Hudiyana et al. (2021) and Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS2) developed by Caplan (2010) and adapted by Sokang (2019). The results showed that the majority of students had a moderate level of loneliness (75.2%) and a moderate level of problematic internet use (58.7%). Regression analysis proved that loneliness has a significant positive effect on problematic internet use (t = 0.000, p-value < 0.05), with a contribution of 13.2%. So it can be interpreted if loneliness increases, then problematic internet use will increase. Conversely, if loneliness decreases, then problematic internet use will decrease.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Loneliness</em> merupakan salah satu masalah umum yang dapat terjadi pada mahasiswa. Dalam mengurangi masalah tersebut, penggunaan internet merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Namun, internet memiliki manfaat negatif jika penggunaannya menjadi bermasalah dan menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan. Masalah ini disebut dengan <em>problematic internet use</em>. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh <em>loneliness</em> terhadap <em>problematic internet use</em> pada mahasiswa strata satu di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas untuk mengetahui sebab-akibat. Sampel penelitian terdiri dari 230 mahasiswa di Kota Bandung yang dipilih dengan memanfaatkan teknik <em>accidental sampling.</em> Alat ukur yang digunakan adalah UCLA <em>Loneliness Scale Version</em> 3 yang disusun oleh Russell (1996) dan diadaptasi oleh Hudiyana et al. (2021) dan <em>Generalized Problematic Internet Use Scale</em> 2 (GPIUS2) yang dikembangkan oleh Caplan (2010) dan diadaptasi oleh Sokang (2019). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas mahasiswa memiliki tingkat <em>loneliness</em> sedang (75.2%) dan tingkat <em>problematic internet use</em> sedang (58.7%). Analisis regresi membuktikan bahwa <em>loneliness</em> memiliki pengaruh<em> positif</em> yang signifikan terhadap <em>problematic internet use</em> (t = 0.000, <em>p-value</em> < 0.05), dengan kontribusi sebesar 13.2%. Maka dapat diartikan jika <em>loneliness</em> mengalami peningkatan, maka <em>problematic internet use</em> akan meningkat. Sebaliknya, jika <em>loneliness</em> mengalami penurunan, maka <em>problematic internet use</em> akan menurun.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16971Hubungan Big Five Personality dengan FOMO pada Penggemar K-Pop di Kota Bandung2025-02-22T23:26:32+08:00Cinta Amanda Wibisanakuliahcinta770@gmail.comSuhanahansunisba@gmail.com<p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="IN">K-Pop fans in Bandung actively use social media to follow their idol’s activities. Fear of Missing Out (FoMO) is often experienced due to the high need to stay connected and access the latest information. This study examines the relationship between Big Five Personality Traits and FoMO in K-Pop fans in Bandung. This quantitative research uses a correlational design with 183 respondents aged 18–25 years. The data analysis technique is the Spearman correlation test. The results show positive relationships between extraversion and FoMO (r = 0.285, p < 0.05), agreeableness and FoMO (r = 0.167, p < 0.05), emotional stability and FoMO (r = 0.184, p < 0.05), and intellect and FoMO (r = 0.201, p < 0.05). Conversely, conscientiousness has a negative relationship with FoMO (r = -0.175, p < 0.05). This indicates that higher levels of extraversion, agreeableness, emotional stability, and intellect increase the likelihood of experiencing FoMO, while higher conscientiousness decreases it. These findings provide insights into the relationship between personality traits and FoMO in K-Pop fans and offer a foundation for interventions to help manage FoMO.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong><span lang="EN-US"> Penggemar K-Pop di Bandung aktif menggunakan media sosial untuk mengikuti aktivitas idola mereka. Fenomena <em>Fear of Missing Out</em> (FoMO) sering dialami karena kebutuhan tinggi untuk terus terhubung dan mendapatkan informasi terkini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan tipe kepribadian <em>Big Five Personality</em> dengan FoMO pada penggemar K-Pop di Bandung. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional dengan 183 responden berusia 18–25 tahun. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi <em>Spearman</em>. Hasil menunjukkan hubungan positif antara <em>extraversion</em> dengan FoMO (r = 0,285, p < 0,05), <em>agreeableness</em> dengan FoMO (r = 0,167, p < 0,05), <em>emotional stability</em> dengan FoMO (r = 0,184, p < 0,05), dan <em>intellect</em> dengan FoMO (r = 0,201, p < 0,05). Sebaliknya, conscientiousness memiliki hubungan negatif dengan FoMO (r = -0,175, p < 0,05). Artinya, semakin tinggi <em>extraversion, agreeableness, emotional stability, dan intellect</em>, semakin tinggi kecenderungan individu mengalami FoMO. Sebaliknya, semakin tinggi <em>conscientiousness</em>, semakin rendah kecenderungan individu mengalami FoMO. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang hubungan kepribadian dan FoMO pada penggemar K-Pop serta dasar intervensi untuk mengelola FoMO.</span></p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16981Attachment Style pada Korban Kekerasan dalam Pacaran2025-02-22T23:27:31+08:00Ereyna Nadhiraereynadhiraa@gmail.comYunita Sariyunita.sari@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Dating violence is an increasing phenomenon and a global concern. This study aims to understand the role of attachment style in increasing individuals' vulnerability to dating violence. Using the scoping review method, this research analyzes 9 relevant articles published between 2014 and 2024. The findings indicate that individuals with insecure attachment, particularly anxious attachment and avoidant attachment, are more susceptible to becoming victims of violence. Anxious attachment is associated with high emotional dependence and an excessive fear of rejection, making it difficult for victims to leave unhealthy relationships. Meanwhile, avoidant attachment increases the risk of violence due to a tendency to avoid conflict and tolerate abusive behavior. The impact of such violence includes psychological disorders such as depression, anxiety, PTSD, and social isolation. This study highlights the importance of psychosocial interventions and education on healthy attachment to prevent dating violence and assist victims in building safer and more supportive relationships in the future.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kekerasan dalam pacaran merupakan fenomena yang semakin meningkat dan menjadi perhatian global. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran attachment style dalam meningkatkan kerentanan individu terhadap kekerasan dalam pacaran. Menggunakan metode scoping review, penelitian ini menganalisis 9 artikel yang relevan dalam kurun waktu 2014–2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan insecure attachment, khususnya anxious attachment dan avoidant attachment, lebih rentan menjadi korban kekerasan. Anxious attachment dikaitkan dengan ketergantungan emosional yang tinggi dan ketakutan berlebihan terhadap penolakan, yang membuat korban sulit keluar dari hubungan yang tidak sehat. Sementara itu, avoidant attachment meningkatkan risiko kekerasan karena kecenderungan untuk menghindari konflik dan menoleransi perlakuan buruk. Dampak dari kekerasan ini mencakup gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, PTSD, serta isolasi sosial. Studi ini menegaskan pentingnya intervensi psikososial dan edukasi tentang kelekatan yang sehat untuk mencegah kekerasan dalam pacaran serta membantu korban membangun hubungan yang lebih aman dan suportif di masa depan.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16992Pengaruh Occupational Stress terhadap Work Engagement pada Karyawan Generasi Millnennial PT. X2025-02-24T18:09:13+08:00Dara Mazaya Russartiyanmazayadara@gmail.comTemi Damayanti Djamhoertemidamayanti@gmail.com<p><em><strong>Abstract. </strong></em>This study aims to analyze the influence of occupational stress on work engagement in millennial generation employees. Occupational stress is defined as pressure that arises because job demands exceed employee abilities, with five main dimensions: responsibility pressure, quality concern, interpersonal conflict, role conflict, and work load. Work engagement is defined as a positive condition of employee attitudes and behavior in carrying out their work, with three main dimensions, namely: vigor, dedication, and absorption. Millennials are the main focus because of their unique characteristics, such as a tendency towards work flexibility, dependence on technology, and high expectations of work-life balance that make them vulnerable to stress. The method used in this research is a quantitative method with a non-experimental causality design involving 316 employees with staff positions at PT X, specifically in the TV and Video division. Data were obtained through a questionnaire using The Occupational Stress Scale measuring instrument for occupational stress, and a measuring instrument developed by Widarnandana (2019), based on the theory formulated by Schaufeli & Bakker (2004) for work engagement. Data were analyzed using simple regression techniques through the SPSS program. The findings of this study indicate that there is no significant influence between occupational stress and work engagement. The results of hypothesis testing show a calculated t value of 0.078 with a p value of 0.938.</p> <p><strong>Abstract. </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh <em>occupational stress</em> terhadap <em>work engagement</em> pada karyawan generasi <em>millennial</em>. <em>Occupational stress </em>didefinisikan sebagai tekanan yang muncul karena tuntutan pekerjaan melebihi kemampuan karyawan, dengan lima dimensi utama : <em>responsibility pressure, quality concern, interpersonal conflict, role conflict, </em>dan <em>work load.</em> <em>Work</em> <em>engagement</em> didefinisikan sebagai kondisi positif sikap dan perilaku karyawan dalam menjalankan pekerjaannya, dengan tiga dimensi utama yaitu: <em>vigor, dedication, </em>dan <em>absorption. </em>Generasi <em>millennial</em> menjadi fokus utama karena karakteristik unik mereka, seperti kecenderungan terhadap fleksibilitas kerja, ketergantungan pada teknologi, dan ekspektasi tinggi terhadap <em>work life balance</em> yang menjadikan mereka rentan mengalami stres. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan rancangan kausalitas non eksperimental yang melibatkan 316 karyawan dengan posisi staff di PT. X, khususnya di divisi TV dan Video. Data diperoleh melalui kuesioner menggunakan alat ukur <em>The Occupational Stress Scale</em> untuk <em>occupational stress, </em>dan alat ukur yang dikembangkan Widarnandana (2019), berdasarkan teori yang dirumuskan oleh Schaufeli & Bakker (2004) untuk w<em>ork engagement.</em> Data yang dianalisis menggunakan teknik regresi sederhana melalui program SPSS. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara <em>occupational stress</em> dan <em>work engagement</em>. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t hitung sebesar 0,078 dengan p value sebesar 0,938.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16998Hubungan Perceived Social Support dengan Kecemasan pada Korban Dating Violence2025-02-22T23:29:28+08:00Hasna Tsaniya Mumtazhasnatsny@gmail.comSiti Qodari'ahsiti.qodariah@yahoo.co.id<p><strong>Abstract.</strong> Dating violence is a significant issue in Indonesia, ranking as the third highest case reported to KOMNAS Perempuan. Psychological violence in dating relationships severely impacts mental health, especially anxiety which can disrupt daily life. This study aims to examine the relationship between perceived social support and anxiety among victims of dating violence. This study used a quantitative approach with a correlational design. A total of 109 respondents, aged 18-24 years, who have experienced or are currently experiencing psychological violence, were recruited using the snowball sampling technique. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MPSS) and the Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A). The Spearman Rank correlation test was used for data analysis. The findings revealed that most respondents had high levels of perceived social support (96.3%) and anxiety (99.1%). However, the correlation between perceived social support and anxiety was very weak and statistically insignificant, both for victims currently experiencing violence (r=0.165; p=0.167) and those who had experienced it (r=0.095; p=0.575). These results indicate that high perceived social support may not always align with victims’ emotional needs, especially when the stressor persists. This study underscores the importance of tailored support to reduce anxiety in victims of dating violence.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Dating violence </em>merupakan salah satu masalah serius di Indonesia dan menempati peringkat ketiga tertinggi yang dilaporkan ke KOMNAS Perempuan. Kekerasan psikologis dalam <em>dating violence</em> berdampak signifikan pada kesehatan mental, terutama kecemasan, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara <em>perceived social support</em> dan kecemasan pada korban <em>dating violence</em>. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional. </em>Sebanyak 109 responden berusia 18-24 tahun, yang pernah atau sedang mengalami kekerasan psikologis, dipilih menggunakan teknik <em>snowball sampling</em>. Instrumen yang digunakan adalah <em>Multidimensional Scale of Perceived Social Support</em> (MPSS) dan <em>Hamilton Anxiety Rating Scale</em> (HAM-A). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi <em>Rank Spearman</em>. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat <em>perceived social support</em> (96,3%) dan kecemasan (99,1%) yang tinggi. Namun, hubungan antara <em>perceived social support</em> dan kecemasan sangat lemah dan tidak signifikan, baik pada korban yang sedang mengalami kekerasan (r=0,165; p=0,167) maupun yang pernah mengalaminya (r=0,095; p=0,575). Temuan ini menunjukkan bahwa <em>perceived social support</em> yang tinggi tidak selalu relevan dalam menurunkan kecemasan korban, terutama jika stresor masih berlangsung. Studi ini menyoroti perlunya dukungan yang lebih spesifik untuk mengurangi kecemasan korban <em>dating violence</em>.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/16999Pengaruh Social Comparison terhadap Body Image Remaja Berjerawat Pengikut Akun Beauty Influencer2025-02-24T18:10:04+08:00Hanna Zakiyyah Nandihhanna.zakiyyah08@gmail.comAndhita Nurul Khasanahandhita.khasanah@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Adolescence is a transition phase towards adulthood marked by physical, hormonal, and psychological changes. One of the changes that adolescent girls often experience is acne, which can affect self-confidence and body image. In the digital era, TikTok plays an important role in shaping beauty standards through beauty influencers. This is closely related to social comparison, where individuals compare themselves to others based on the beauty standards displayed. This study aims to determine the effect of social comparison on the body image of adolescent girls with acne who follow beauty influencer accounts on TikTok. The study used a quantitative approach with a causality design. The subjects in this study were 115 adolescent girls who had acne problems and followed beauty influencer accounts on TikTok. The variables were measured using a scale from the Schaefer & Thompson social comparison theory and the Multidimensional Body Self-Relations Questionnaire Appearance Scales (MBSRQ-AS) scale. The analysis technique used simple linear regression. The results of this study found that the majority of adolescents with acne who followed beauty influencer accounts on TikTok had a high level of social comparison and had a negative body image. Social comparison has a significant effect on body image with a negative direction and a coefficient of 68.2%.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Remaja adalah fase transisi menuju dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik, hormonal, dan psikologis. Salah satu perubahan yang sering dialami remaja perempuan adalah jerawat, yang dapat memengaruhi kepercayaan diri dan body image. Di era digital, TikTok berperan penting dalam membentuk standar kecantikan melalui beauty influencer. Hal ini berkaitan erat dengan social comparison, di mana individu membandingkan diri dengan orang lain berdasarkan standar kecantikan yang ditampilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh social comparison terhadap body image remaja perempuan berjerawat yang mengikuti akun beauty influencer di TikTok. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Subjek pada penelitian ini adalah 115 remaja perempuan yang memiliki masalah jerawat dan mengikuti akun beauty influencer di Tiktok. Variabel diukur menggunakan skala dari teori social comparison Schaefer & Thompson dan skala The Multidimensional Body Self-Relations Questionnaire Appearance Scales (MBSRQ-AS). Teknik analisis dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menemukan bahwa mayoritas remaja berjerawat yang mengikuti akun beauty influencer di Tiktok memiliki tingkat social comparison yang tinggi dan memiliki body image negatif. Social comparison memiliki pengaruh yang signifikan terhadap body image dengan arah pengaruh negatif dan koefisien sebesar 68,2%.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17005Peran Forgiveness dalam Proses Pemulihan Penyintas Cyber Dating Violence2025-02-24T18:10:00+08:00Syilfa Nur Auliyasylfanuaulya@gmail.comYunita Sari yunita.sari@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Cyber Dating Violence (CDV) is a form of violence in romantic relationships that occurs through digital media and has increasingly become a concern among individuals in emerging adulthood. This form of violence can negatively impact survivors' psychological well-being, including increased stress, trauma, and decreased self-esteem. One of the key recovery strategies is forgiveness, which can help reduce negative emotions, rebuild self-identity, and enhance psychological well-being. This study employs a scoping review methodology to explore the factors influencing the forgiveness process in CDV survivors. The review highlights the role of forgiveness in three main aspects: positive emotional growth, self-reconstruction, and improved quality of life. Findings indicate that forgiveness is not merely about absolving the perpetrator but also a healing process that allows survivors to regain control over their lives. Through a comprehensive literature review, this study provides a deeper understanding of the dynamics of forgiveness in CDV survivors and its implications for psychological interventions and recovery policies. The findings are expected to serve as a foundation for future research and the development of more effective rehabilitation strategies for CDV survivors.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Cyber Dating Violence (CDV)</em> merupakan bentuk kekerasan dalam hubungan romantis yang terjadi melalui media digital dan semakin menjadi perhatian di kalangan individu usia dewasa awal. Kekerasan ini dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis penyintas, termasuk peningkatan stres, trauma, dan penurunan harga diri. Salah satu strategi pemulihan yang berperan penting adalah pemaafan (<em>forgiveness</em>), yang dapat membantu mengurangi emosi negatif, membangun kembali identitas diri, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis penyintas. Penelitian ini menggunakan metode <em>scoping review</em> untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi proses pemaafan pada penyintas <em>CDV</em>. Kajian ini menyoroti peran pemaafan dalam tiga aspek utama, yaitu pertumbuhan emosional yang positif, rekonstruksi diri, dan peningkatan kualitas hidup. Temuan menunjukkan bahwa pemaafan bukan hanya sekadar tindakan memberi maaf kepada pelaku, tetapi juga proses pemulihan yang memungkinkan penyintas memperoleh kembali kendali atas kehidupannya. Melalui tinjauan literatur, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika pemaafan pada penyintas <em>CDV</em> serta implikasinya terhadap intervensi psikologis dan kebijakan pemulihan. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut serta pengembangan strategi rehabilitasi yang lebih efektif bagi penyintas <em>CDV</em>.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17008Hubungan Kecemasan Perubahan Iklim dan Perilaku Pro-Lingkungan pada Mahasiswa di Bandung2025-02-24T18:09:57+08:00Anggita Oktavianur10050020236@unisba.ac.idMilda Yanuviantimilda.yanuvianti@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Climate change is a global issue that not only impacts the environment, but also the psychological aspects of individuals, one of which is through climate change anxiety. Although associated with psychological distress, this anxiety is also related to pro-environmental behavior. This study aims to examine the relationship between climate change anxiety and pro-environmental behavior among university students whose majors are relevant to the environment in Bandung. This study used a quantitative approach with a correlational design. The research sample consisted of 134 respondents obtained using the convenience sampling technique. The instruments used in this study were the Climate Change Anxiety Scale (CCAS) developed by Clayton and Karazsia (2020) and adapted into Indonesian by Suciana (2024), as well as the General Ecological Behavior Scale (GEB) developed by Kaiser (1998) and modified by Bronfman et al. (2015), which was also adapted into Indonesian by Arlinkasari et al. (2018). The results of this study indicate that there is a significant positive relationship between climate change anxiety and pro-environmental behavior, with a significance level of 0.000 (p < 0.05) and a correlation coefficient of 0.588. This finding implies that the higher an individual's climate change anxiety, the higher their tendency to engage in pro-environmental behavior.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perubahan iklim merupakan isu global yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek psikologis individu, salah satunya melalui kecemasan perubahan iklim. Meskipun terkait dengan tekanan psikologis, kekhawatiran seperti ini juga terkait dengan perilaku pro-lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kecemasan perubahan iklim dan perilaku pro-lingkungan pada mahasiswa yang jurusannya relevan dengan lingkungan di Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 134 responden yang didapatkan melalui teknik <em>convenience sampling</em>. Instrumen penelitian meliputi <em>Climate Change Anxiety Scale</em> (CCAS) yang dikembangkan oleh Clayton dan Karazsia (2020) dan telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Suciana (2024), serta skala <em>General Ecological Behavior Scale</em> (GEB) yang dikembangkan oleh Kaiser (1998) dan dimodifikasi oleh Bronfman et al. (2015) juga telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Arlinkasari et al. (2018). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecemasan perubahan iklim dan perilaku pro-lingkungan dengan signifikansi sebesar 0.000 (p< 0.05) dan koefisien korelasi sebesar 0.588. Artinya, semakin tinggi kecemasan perubahan iklim yang dimiliki individu, maka semakin tinggi pula kecenderungan individu tersebut untuk melakukan perilaku pro-lingkungan.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17035Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Self-Esteem pada Mahasiswa Korban Kekerasan dalam Pacaran di Kota Bandung2025-02-24T18:09:53+08:00Ridha Fadhilaridhafadhila88@gmail.comFarida Coraliacoralia_04@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> Dating violence is particularly prevalent among individuals aged 18-24, predominantly affecting students and learners. One negative consequence of dating violence is the low self-esteem of victims, who often feel unable to terminate relationships due to fear, perceived threats, or normalization of the violence. Emotional intelligence plays a crucial role in victims' inability to recognize and understand dating violence as an unhealthy relationship dynamic. This study investigates the relationship between emotional intelligence and self-esteem among student victims of dating violence in Bandung City. The research employs a correlational design, utilizing accidental sampling to obtain a sample of 106 respondents. The instruments used include Schutte's Assessing Emotion Scale (AES) to measure emotional intelligence and the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) by Rosenberg to assess self-esteem. Data analysis was conducted using the Spearman Rank correlation technique, yielding a correlation coefficient of 0.467 and a p-value (Sig.) of 0.000 < α = 0.05. The results indicate a moderate relationship between emotional intelligence and self-esteem among student victims of dating violence in Bandung City, with a positive correlation suggesting that higher emotional intelligence is associated with higher self-esteem.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kekerasan dalam pacaran rentan terjadi pada usia 18-24 tahun yang didominasi oleh populasi mahasiswa dan pelajar. Salah satu dampak negatif akibat kekerasan dalam pacaran ialah rendahnya self-esteem korban. Mereka cenderung merasa tidak mampu untuk memutuskan hubungan dengan pasangan karena merasa takut, merasa terancam, atau menilai bahwa kekerasan tersebut sebagai hal yang biasa. Kecerdasan emosional menjadi salah satu faktor penyebab korban tidak mampu untuk melihat dan memahami kekerasan dalam pacaran sebagai bentuk hubungan yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan self-esteem pada mahasiswa korban kekerasan dalam pacaran di Kota Bandung. Metode penelitian yang dipakai ialah korelasional. Teknik pengambilan sampel yakni accidental sampling dengan jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 106 responden. Alat ukur yang dipakai ialah The Assesing Emotion Scale (AES) oleh Schutte guna mengukur kecerdasan emosional dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) oleh Rosenberg guna mengukur self-esteem. Studi ini memakai teknik analisis korelasi Rank Spearman. Nilai korelasi yang dihasilkan yakni 0,467 dan p-value (Sig.) = 0,000 < α = 0,05. Hasil studi ini memperlihatkan hubungan yang sedang antara kecerdasan emosional dengan self-esteem pada mahasiswa korban kekerasan dalam pacaran di Kota Bandung. Nilai positif pada korelasi memperlihatkan makin tinggi kecerdasan emosional maka makin tinggi self-esteem.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17036Hubungan Regulasi Emosi dan Kesepian pada Dewasa Awal2025-02-24T18:09:49+08:00Peby Nuriyantipby.nur28@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Loneliness is a phenomenon that is rampant in the wider community. In Indonesia, loneliness was found in the early adult group aged 18-34 years as many as 79.9% of 5,211 people. Early adults are expected to be able to build intimate relationships. Meanwhile, the loneliness experienced shows that there are obstacles. So the ability to reduce loneliness is needed, such as the ability to perform adaptive emotional regulation. This study aims to determine the relationship between emotion regulation and loneliness in early adulthood. Using quantitative-correlational methods with PLS-SEM analysis techniques. The research sample consisted of 351 respondents aged 18-25 years who were taken with convenience sampling technique. The measuring instruments used were the UCLA Loneliness Scale version 3 to measure loneliness and the Emotion Regulation Questionnare to distinguish the use of emotion regulation into two strategies, namely cognitive reappraisal (CR) and expressive suppression (ES). The results showed a correlation between loneliness and ES of 0.846, meaning that the greater the use of ES causes higher feelings of loneliness, and -0.872 with CR, meaning that the greater the individual uses CR, the lower the loneliness felt. Therefore, individual differences in using emotion regulation strategies play an important role in explaining loneliness.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kesepian merupakan fenomena yang sedang marak terjadi di masyarakat luas. Di Indonesia, kesepian ditemukan pada kelompok dewasa awal berusia 18-34 tahun sebanyak 79,9% dari 5.211 orang. Dewasa awal dihadapkan dapat membangun hubungan intim. Sedangkan kesepian yang dialami menujukkan adanya hambatan. Maka diperlukan kemampuan untuk mengurangi kesepian seperti kemampuan melakukan regulasi emosi yang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan kesepian pada dewasa awal. Menggunakan metode kuantitatif-korelasional dengan teknik analisis PLS-SEM. Sampel penelitian terdiri dari 351 responden berusia 18-25 tahun yang diambil dengan teknik sampling <em>convenience</em>. Alat ukur yang digunakan adalah UCLA <em>Loneliness Scale version</em> 3 untuk mengukur kesepian dan <em>Emotion Regulation Questionnare</em> untuk membedakan penggunaan regulasi emosi kedalam dua strategi yaitu <em>cognitive reappraisal</em> (CR) dan <em>expressive suppression</em> (ES). Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara kesepian dengan ES sebesar 0,846 artinya semakin besar penggunaan ES menyebabkan perasaan kesepian yang semakin tinggi, dan -0,872 dengan CR artinya semakin besar individu menggunakan CR maka semakin rendah kesepian yang dirasakan. Oleh karena itu, perbedaan individu dalam menggunakan strategi regulasi emosi berperan penting dalam menjelaskan kesepian.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17038Hubungan Keterikatan Kerja dengan Kinerja Karyawan PT. RSDH2025-02-24T18:09:45+08:00Dafa Adha Muhammad Rizqidafaadhamrizqi@gmail.comAgus Budimanagusbudiman1105@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> In the working world, the performance of company employees is very important and the factor that can affect employee performance in working in a company/organization is work engagement. Work engagement is an important part of work because if employees are engaged in their work, employees have a feeling of energy and an effective relationship with their work activities, so that performance will also increase, and if the opposite happens where employees are not engaged in their work, performance will also decrease. The purpose of this study was to determine the relationship between work engagement and employee performance in the employees of PT. RSDH. The design used in this research is correlational. This study involved 39 participants, namely employees of PT. RSDH at least 30 years old with a measuring instrument previously used in research by Titien (2016) for work engagement and Widhyaswari (2021). The results of this study found that work engagement and employee performance have a significant relationship in the employees of PT. RSDH.<strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dalam dunia kerja kinerja para karyawan perusahaan sangatlah penting dan faktor yang bisa mempengaruhi kinerja para karyawan dalam berkerja di sebuah perusahaan/organisasi adalah keterikatan kerja. Keterikatan kerja menjadi bagian penting dalam pekerjaan karena jika karyawan engage dalam pekerjaanya maka karyawan mempunyai perasaan energik dan hubungan yang efektif dengan aktivitas kerja mereka, maka dengan begitu kinerja juga akan meningkat, dan jika terjadi sebaliknya dimana karyawan tidak engage dalam pekerjaannya maka kinerja juga akan menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan keterikatan kerja karyawan dan kinerja karyawan pada karyawan perusahaan PT. RSDH. Desain penelitian yang digunakan adalah korelasional. Penelitian ini melibatkan 39 partisipan yaitu karyawan dari PT. RSDH minimal berumur 30 dengan alat ukur yang sebelumnya digunakan pada penelitian oleh Titien (2016) untuk keterikatan kerja dan Widhyaswari (2021). Hasil dari penelitian ini didaptkan bahwa keterikatan kerja dan kinerja karyawan memiliki hubungan yang signifikan pada karyawan PT. RSDH.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17053Perbandingan Motivasi dan Online Self-Disclosure pada Pengguna Media Sosial WhatsApp dan Instagram di Kota Bandung2025-02-24T18:09:42+08:00Hauraa' Dhiyaa'ulhaqqhauraadhiyaaulhaqq@gmail.comFarida Coraliacoralia_04@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> The development of communication in social media has had a significant impact on adolescents, and encourages adolescents to conduct online self-disclosure on social media. Adolescent online self-disclosure behavior can vary according to the satisfaction obtained from the characteristics of social media, and is related to different factors and processes. The purpose of this study was to determine the differences in motivation and level of online self-disclosure between WhatsApp and Instagram users among adolescents in Bandung City. This research design uses a comparative design with a quantitative approach. The subjects of this study were WhatsApp and Instagram users aged 13-18 years who live in Bandung City. The motivation measuring instrument uses a measuring instrument from Masciantonio et al. which has been translated into Indonesian by the researcher. While the online self-disclosure measuring instrument is measured using the Revised Self-Disclosure Scale from Joseph A. DeVito, and has been translated into Indonesian by Ramadhan et al. The data analysis method uses student t test. The significance results show that there is no difference in motivation and level of online self-disclosure between Whatsapp and Instagram user groups.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perkembangan komunikasi dalam media sosial telah memberikan dampak signifikan pada remaja, dan mendorong remaja untuk melakukan <em>online self-disclosure</em> pada media sosial. Perilaku <em>online self-disclosure</em> remaja dapat bervariasi sesuai dengan kepuasan yang didapatkan dari karakteristik media sosial, serta berhubungan dengan faktor dan proses yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan motivasi dan tingkat <em>online self-disclosure</em> antara pengguna WhatsApp dan Instagram pada remaja di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain komparatif. Subjek penelitian adalah pengguna WhatsApp dan Instagram berusia 13-18 tahun yang berdomisili di Kota Bandung. Alat ukur motivasi menggunakan alat ukur dari Masciantonio et al. yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh peneliti. Sedangkan alat ukur <em>online self-disclosure</em> diukur dengan menggunakan <em>Revised Self-</em><em>D</em><em>isclosure Scale</em> dari Joseph A. DeVito, dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ramadhan et al. Metode analisis data menggunakan uji t <em>student</em>. Hasil signifikansi menunjukkan bahwa motivasi dan tingkat <em>online self-disclosure</em> antara kelompok pengguna Whatsapp dan Instagram tidak terdapat perbedaan.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17063Pengaruh Teacher Self Efficacy terhadap Burnout pada Guru Non-ASN SDN Kota Bandung2025-02-24T18:09:37+08:00Intan Tiara Putriintantiaraa03@gmail.comAyu Tuty Utamiayu.tutyutami@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Teachers are required to follow developments in science, technology and comply with applicable regulations. Every teacher at any level of education Different ones have their own challenges. The burden that non-primary elementary school teachers have ASN (Honorary) is the same as ASN teachers, but non-ASN teachers get benefits which is smaller than the benefits for ASN teachers. Teacher self-efficacy is one of the variables that influences teachers when teaching. Teacher Self-Efficacy is the belief that educators have the power to influence student learning outcomes. Stability of teacher performance in the classroom to a large extent depending on their teacher's level of self-efficacy; fatigue will occur by lack of self-confidence. Burnout is a psychological and physical result serious from excessive stress levels at work. The purpose of this research is to find out how teacher self-efficacy affects burnout non-ASN teachers. Bandung City non-ASN elementary school teachers were used as subjects The study numbered 150 people. This research uses quantitative techniques causality based on simple linear regression analysis. Instruments that used was the Sense of Teacher Efficacy Scale by Tschannen-Moran & Woolfolk (2001) and Maslach Burnout Inventory by Maslach & Jackson (1981) and has been adapted by Palupi & Pandjaitan (2022). Results of this research shows that teacher self-efficacy has a significant influence against burnout of 37.9%.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Guru dituntut untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan patuh terhadap aturan yang berlaku. Setiap guru pada jenjang Pendidikan yang berbeda memiliki tantangannya masing-masing. Beban yang dimiliki guru SD Non- ASN (Honorer) sama dengan guru ASN, tetapi guru Non-ASN mendapatkan benefit yang lebih kecil di banding benefit pada guru ASN. Teacher self efficacy merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi guru ketika sedang mengajar. Teacher Self-Efficacy merupakan keyakinan bahwa pendidik mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi hasil belajar siswa. Stabilitas kinerja guru di kelas sebagian besar bergantung pada tingkat teacher self efficacy mereka; kelelahan akan diakibatkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Burnout adalah akibat psikologis dan fisik yang serius dari tingkat stres yang berlebihan di tempat kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana teacher self efficacy mempengaruhi burnout guru non-ASN. Guru SDN non-ASN Kota Bandung yang dijadikan subjek penelitian berjumlah 150 orang. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif kausalitas berdasarkan analisis regresi linier sederhana. Instrumen yang digunakan adalah Teacher Sense of Efficacy Scale oleh Tschannen-Moran & Woolfolk (2001) dan Maslach Burnout Inventory oleh Maslach & Jackson (1981) dan telah diadaptasi oleh Palupi & Pandjaitan (2022). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teacher self efficacy memiliki pengaruh yang signifikan terhadap burnout sebesar 37,9%.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17069Hubungan Kesepian dan Binge-Watching pada Emerging Adulthood Penonton Tayangan Serial2025-02-24T18:09:33+08:00Qorina Amalia Fadhilqori4506@gmail.comSuci Nugrahasucinugraha.psy@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> The use of online streaming services in Indonesia has increased dramatically, reaching 140% compared to previous years. This increase is due to ease of access and loss of self-control in the use of digital media which leads to excessive consumption. Many individuals overuse media to avoid negative emotions, such as loneliness. Lonely individuals tend to choose passive activities to feel satisfaction.However, this contradicts who statements that have established loneliness as a serious threat to health. The purpose of this study is to examine the relationship between loneliness and binge-watching in serial viewers who are in the emerging adulthood age group. This study uses a quantitative approach. The data collection process was carried out using a questionnaire instrument with a total sample of 136 participants obtained emerging adulthood viewers of series shows. The measuring instrument used is UCLA Loneliness Ver 3 from Russell (1996) which has been translated into Indonesian by Raissa Pramitha and Specific Program Binge-Watching Scale (SPBWS) from Viens & Farrar (2021) which has been translated by Riska Miranti. The results of the analysis using the spearman rank correlation test showed no significant relationship between loneliness and binge-watching (p = 0.508), with a correlation coefficient of 0.1. That is, loneliness does not directly contribute to an individual's decision to binge-watch.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penggunaan layanan streaming online di Indonesia meningkat drastis, mencapai 140 % dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan oleh kemudahan akses dan hilangnya kontrol diri dalam peggunaan media digital yang mengarah pada konsumsi berlebihan. Banyak individu menggunakan media secara berlebih untuk menghindari emosi negatif, seperti kesepian. Individu kesepian cenderung memilih aktivitas pasif untuk merasakan kepuasan. Namun, hal ini bertentangan dengan pernyataan WHO yang telah menetapkan kesepian sebagai ancaman serius bagi kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji keterkaitan antara kesepian dan binge-watching pada penonton serial yang berada pada kelompok usia emerging adulthood. Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Proses pengumpulan data dilakukan menggunakan instrument kuesioner dengan jumlah sampel yang diperoleh 136 partisipan emerging adulthood penonton tayangan serial. Alat ukur yan digunakan adalah UCLA Loneliness Ver 3 dari Russel (1996) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Raissa Pramitha dan Spesific Program Binge-Watching Scale (SPBWS) dari Viens & Farrar (2021) yan telah diterjemagkan oleh Riska Miranti. Hasil analisis menggunakan uji korelasi rank spearman menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kesepian dan binge-watching (p = 0.508), dengan koefesien korelasi sebesar 0.1. Artinya, kesepian tidak berkontribusi langsung pada keputusan individu untuk melakukan binge-watching.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17087Pengaruh Coping Stress terhadap Intensi Berhenti Merokok pada Emerging Adulthood di Kota Bandung2025-02-24T18:09:30+08:00Kania Ramadhani Dewikaniardd@gmail.comStephani Raihana Hamdanstephanihamdan@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> The main problem studied in this research is the increasing smoking behavior in emerging adulthood. The underlying reason for smoking during emerging adulthood is the difficulty individuals face in adapting to adult problems, which leads to stress. The coping process plays an important role in the intention to quit smoking, including how individuals handle stressors and appropriate strategies to enhance the quitting process. The strength of an individual's intention to quit smoking determines the individual's success in quitting smoking. This study aims to determine how much influence coping stress (problem focused coping and emotion focused coping) has on the intention to quit smoking among emerging adulthood smokers in Bandung. This research uses quantitative causality methods. The sample consists of 212 emerging adulthood smokers (18-29 years) in Bandung, selected using convenience sampling. The measuring instruments used are the Ways of Coping (Folkman & Lazarus, 1986) and Intention to Quit Smoking (Ajzen,2005). This research uses simple linear regression data analysis. The results of the study showed that problem-focused coping had an effect of 37,1% and emotion-focused coping had an effect of 13,9% on the intention to quit smoking. Emerging adulthood smokers in Bandung who tend to use problem-focused coping have a strong intention to quit smoking. Meanwhile, individuals who tend to use emotion-focused coping exhibit a weaker intentions to quit smoking.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah perilaku merokok pada emerging adulthood yang semakin meningkat. Alasan yang melatarbelakangi emerging adulthood merokok karena individu kesulitan beradaptasi terhadap masalah pada dewasa, sehingga menimbulkan stres. Proses coping memainkan peran penting dalam intensi berhenti merokok, bagaimana menghadapi stressor dan strategi yang tepat untuk meningkatkan proses berhenti merokok. Kuatnya intensi yang dimiliki individu untuk berhenti merokok menentukan keberhasilan individu untuk berhenti merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh coping stress (problem focused coping dan emotion focused coping) terhadap intensi berhenti merokok pada perokok emerging adulthood di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif kausalitas. Jumlah sampel sebanyak 212 perokok emerging adulthood (18-29 tahun) di Kota Bandung dengan convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Ways of Coping (Folkman & Lazarus, 1986) dan Intensi Berhenti Merokok (Ajzen, 2005). Penelitian ini menggunakan analisis data regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa problem focused coping berpengaruh sebesar 37,1% dan emotion focused coping berpengaruh sebesar 13,9% terhadap intensi berhenti merokok. Perokok emerging adulthood di Kota Bandung yang cenderung menggunakan bentuk problem focused coping memiliki intensi berhenti merokok kuat. Sedangkan, individu yang cenderung menggunakan emotion focused coping memiliki intensi berhenti merokok yang lemah.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17133Gambaran Self Efficacy Menjaga Diri Anak dari Kekerasan Seksual pada Anak Usia 9-12 Tahun2025-02-24T18:09:26+08:00Melsan Gadamagadamamelsan02@gmail.comIndri Utami Sumaryantiindri.usumaryanti@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> With 7,842 cases of violence, children are among the most vulnerable victims of violence, and sexual violence has been the most prevalent type of violence since 2019-2024 (1). The Chairperson of the FSGI Board also stated that half of these sexual violence cases occurred in SD/MI (2). Previous research shows that preventing child sexual abuse can only happen if children can protect themselves (12) (13). Based on this fact, the problem of this study is as follows: What is the description of the ability to protect oneself from sexual violence? This study used a quantitative description design approach. The students selected were 4th, 5th, and 6th grade elementary school students in Bandung City and Regency. The research sample was 147 children who were selected using convenience sampling technique and met the criteria set by the researcher, namely being in the age range of 9-12 years by using the <em>self-efficacy</em> measurement tool to protect themselves from sexual violence previously (12). The data analysis technique used in this study is the descriptive analysis technique. The results are: that the moderate category dominates all dimensions of self-efficacy. Even in the magnitude dimension, which is the dimension of self-belief in the ease of the task of protecting oneself from sexual violence, none of the participants reached the high category.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dengan 7,842 kasus kekerasan, anak-anak merupakan salah satu pihak yang paling rentan menjadi korban kekerasan, dan kekerasan seksual menjadi jenis kekerasan yang paling banyak terjadi sejak 2019-2024 (1). Ketua Dewan FSGI juga menyatakan bahwa setengah dari kasus kekerasan seksual ini terjadi di SD/MI (2). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa melakukan upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak hanya dapat terjadi jika anak memiliki kemampuan untuk melindungi diri (12) (13). Berdasarkan fakta ini, masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimana gambaran kemampuan untuk melindungi diri dari kekerasan seksual? Penelitian ini menggunakan pendekatan deskripsi kuantitatif desain. Siswa yang dipilih adalah siswa Sekolah Dasar kelas 4, 5, dan 6 yang berada di Kota dan Kabupaten Bandung. Sampel penelitian merupakan 147 anak yang dipilih dengan teknik convenience sampling dan memenuhi kriteria yang ditetapkan peneliti, yaitu sedang berada pada rentang usia 9-12 tahun dengan menggunakan alat ukur <em>self-efficacy</em> menjaga diri dari kekerasan seksual sebelumnya (12). Teknik analisis dara yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Hasilnya adalah: seluruh dimensi <em>self-efficacy</em> di dominasi oleh kategori sedang. Bahkan pada dimensi magnitude, yaitu dimensi keyakinan diri pada mudah nya tugas menjaga diri dari kekerasan seksual, tidak ada partisipan yang mencapai kategori tinggi.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17143Pengaruh Regulasi Diri terhadap Fear of Missing Out pada Penggemar Korean Pop2025-02-24T18:09:22+08:00Ismi Nurul Hasanahisminurulhasanah0702@gmail.comAgus Budimanagusbudiman1105@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> The Korean Wave phenomenon is often found in Indonesia and its impact is felt in everyday life. The Korean Wave product that is in great demand is pop music which can attract fans called K-Popers. K-Pop fans always find out about their idols' activities and feel afraid of missing out on valuable experiences, which is an indication of Fear of Missing Out. There are several predictors of the influence of FoMO, one of which is self-regulation. The aim of this research is to determine the effect of self-regulation on FoMO in K-Pop fans. The research sample was 324. This research used a quantitative approach with non-experimental causality and purposive sampling methods. Data analysis was carried out using descriptive statistical analysis. Data collection was carried out using measuring instruments from the Miller and Brown scale (1991) for the self-regulation variable and using the scale from Przybylski, et al (2013) which has been adapted by Nadya Akmalia (2020) for the FoMO variable. The results of data analysis show an Rsquare value of 0.415, which means that self-regulation has an effect of 41.5% on FoMO and a significance value of 0.00 < 0.05 and -15.103 < ttable (-1.967) is obtained, so the Self-Regulation variable has a negative effect on the FoMO variable. So it means that the higher the level of self-regulation in K-Pop fans, it will have a significant effect in reducing the level of FoMO.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Fenomena <em>Korean Wave</em> banyak dijumpai di Indonesia dan dampaknya sangat terasa di kehidupan sehari-hari. Produk <em>Korean Wave</em> yang banyak diminati adalah musik pop yang dapat mendatangkan kelompok penggemar yang disebut <em>K-Popers</em>. Penggemar K-Pop selalu mencari tahu aktivitas idolanya dan merasa takut kehilangan pengalaman berharga, yang merupakan indikasi <em>Fear of Missing Out</em>. Terdapat beberapa prediktor yang menjadi pengaruh FoMO, salah satunya yaitu regulasi diri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh regulasi diri terhadap FoMO pada penggemar K-Pop. Sampel penelitian sebanyak 324. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kausalitas non-eksperimental dan purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistic deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur dari skala Miller dan Brown (1991) untuk variabel regulasi diri dan menggunakan skala dari Przybylski, dkk (2013) yang telah diadaptasi oleh Nadya Akmalia (2020) untuk variabel FoMO. Hasil analisis data menunjukkan nilai Rsquare sebesar 0,415 yang berarti bahwa regulasi diri berpengaruh sebesar 41.5% terhadap FoMO dan didapat nilai signifikansi sebesar 0.00 < 0.05 dan sebesar sebesar -15.103 < ttabel (-1.967) maka variabel Regulasi Diri berpengaruh negatif terhadap variabel FoMO. Sehingga diartikan semakin tinggi tingkat regulasi diri pada penggemar K-Pop maka akan berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan tingkat FoMO.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17209Pengaruh Body Image terhadap Self Acceptance pada Mahasiswa UNISBA 2025-02-24T18:09:19+08:00Fahda Nizma Auliafahdanizmaaulia@gmail.comMuhammad Ilmi Hatta m.ilmi.hatta@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Assessment of a person's body appearance from other individuals will build a positive or negative body image perception in a person. This affects a person's self- acceptance, one of which is students. This condition becomes a problem when students receive assessments from friends or others about themselves. Some students cannot accept the assessment and seek solutions by taking care of aspects that they consider lacking. This study aims to examine how body image affects self-acceptance in students of the Islamic University of Bandung. The method used in this study is quantitative with a non-experimental causality approach and quota sampling technique. The subjects of the study were 420 active undergraduate students at the Islamic University of Bandung, aged 18 to 25 years. Data analysis was carried out using simple linear regression and descriptive statistical analysis. Data collection was carried out using the MBRSQ-AS scale measuring instrument for the body image variable and the self-acceptance scale using the measuring instrument from Sheerer's theory. The results of the study found that 72% of students at the Islamic University of Bandung had a moderate level of body image and 70% of students at the Islamic University of Bandung had a moderate level of self-acceptance. Data analysis states that the contribution value is 51.4% and the significance value is 0.00 <0.05. The results indicate that there is a significant positive influence.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Penilaian mengenai penampilan tubuh seseorang dari individu lain akan membangun persepsi body image yang postif maupun negatif pada seseorang. Hal ini memengaruhi penerimaan diri seseorang, salah satunya adalah mahasiswa. Kondisi ini menjadi masalah ketika mahasiswa menerima penilaian dari teman atau orang lain mengenai diri mereka. Beberapa mahasiswa tidak dapat menerima penilaian tersebut dan mencari solusi dengan melakukan perawatan terhadap aspek – aspek yang mereka anggap kurang. Penelitian ini tujuannya untuk mengkaji bagaimana body image memengaruhi self acceptance pada mahasiswa Universitas Islam Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan kausalitas non-eksperimental serta teknik quota sampling. Subjek penelitian adalah mahasiswa aktif program sarjana di Universitas Islam Bandung yang berjumlah 420 orang, dengan usia dari 18 sampai 25 tahun. Analisis data dilakukan dengan regresi linear sederhana dan analisis statistic deskripstif. Pengumpulan data dilakukan menggunakann alat ukur skala MBRSQ-AS untuk variabel body image dan skala self acceptance menggunakan alat ukur dari teori Sheerer. Hasil penelitian menemukan 72% mahasiswa Universitas Islam Bandung memiliki tingkat body image sedang dan 70% mahasiswa Universitas Islam Bandung memiliki tingkat self acceptance sedang. Analisis data menyatakan bahwa nilai kontribusi sebesar 51,4 % dan didapat nilai signifikasi sebesar 0.00 < 0.05. Hasil mengindikasikan bahwasannya terdapat pengaruh positif yang signifikan.</p>2025-01-30T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17295Gambaran Coping Strategy pada Mahasiswa Pengguna Alkohol di Kota Bandung: Berdasarkan Alcohol Use Disorder Identification Test2025-02-24T18:09:11+08:00Claviria Khairani Octaviaclaviriakhairani@gmail.comEndah Nawangsihendah.nawangsih@unisba.ac.id<p><strong>Abstract</strong>, Coping Strategy is an individual's ways or process in dealing with problems that threaten them by changing their cognitive and behavior. This research aims to find out how coping strategies are described in college students in Bandung city who use alcohol based on the categorization of the Alcohol Use Disorder Identification Test (AUDIT) which has been translated into Indonesian by Nanuru (2019). The research was carried out using descriptive statistical test analysis with a sample of 352 students who consumed alcohol in the last 12 months and were aged 18-25 years. The measuring tool used in this research is the Way of Coping Questionnaire by Folkman (1984) which has been translated into Indonesian by Putra (2020). The results of the research show that the majority of students who use alcohol in the AUD categories of low risk to dependence have low levels of problem focused coping and emotion focused coping strategies, this shows that students who use alcohol do not use coping strategies effectively. This research can provide an overview of coping strategies for students who use alcohol. Further research results can be seen in the results and discussion.</p> <p><strong>Abstrak</strong>, Coping Strategy merupakan suatu usaha atau proses individu dalam menghadapi permasalahan yang mengancam dirinya dengan cara mengubah kognitif dan perilakunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran coping strategy pada mahasiswa pengguna alkohol di Kota Bandung berdasarkan kategorisasi dari Alcohol Use Disorder Identification Test (AUDIT) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Nanuru (2019). Penelitian dilakukan dengan analisis uji statistik deskriptif dengan sampel berjumlah 352 mahasiwa yang mengonsumsi alkohol dalam 12 bulan terakhir dan berusia 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Way of Coping Questionnaire oleh Folkman (1984) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Putra (2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa pengguna alkohol dengan kategori AUD low risk hingga dependence memiliki coping strategy problem focused coping maupun emotion focused coping dengan tingkat yang rendah, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa pengguna alkohol tidak menggunakan coping strategy secara efektif. Penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai coping strategy pada mahasiswa pengguna alkohol. Hasil penelitian lebih lanjut dapat dilihat dalam hasil dan pembahasan.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17315Pengaruh Transformational Leadership terhadap Work Engagement Karyawan yang Bekerja Secara Hybrid2025-02-24T18:09:08+08:00 Tiara RahmaRarhere65@gmail.comLisa Widawatilisa.widawati@gmail.com<p><strong>Abstract,</strong> Work engagement is a crucial aspect of human resource management that significantly impacts employee performance and overall organizational success. Transformational leadership is considered vital in enhancing employee engagement as it inspires and motivates employees to perform better. This study is based on the significant role of leadership in improving work engagement, particularly in the context of hybrid work, which has become increasingly common in the digital era. The hybrid work model allows employees to complete tasks from various locations using electronic media to interact with colleagues inside and outside the organization. While it offers flexibility and efficiency, challenges such as a lack of social interaction and potential miscommunication can reduce work engagement levels. This study aims to determine the influence of transformational leadership on work engagement among hybrid employees in Jakarta. It is a quantitative study using multiple linear regression analysis. Based on the Lemeshow formula, a sample of 125 employees was selected using convenience sampling. The transformational leadership instrument is the Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) by Bass and Riggio (2006), while work engagement is measured using the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) by Schaufeli and Bakker (2004). Results show a positive and significant influence (57.5%) of transformational leadership on work engagement, emphasizing the importance of developing this leadership style within organizations.</p> <p><strong>Abstrak, </strong><em>Work engagement</em> adalah salah satu aspek penting dalam manajemen sumber daya manusia yang berdampak signifikan pada kinerja karyawan dan organisasi. <em>Transformational leadership</em> dianggap penting dalam meningkatkan <em>work engagement</em> karena mampu menginspirasi dan memotivasi karyawan untuk bekerja lebih baik. Penelitian ini didasarkan pada peran penting kepemimpinan dalam meningkatkan <em>work engagement</em>, khususnya dalam konteks kerja <em>hybrid</em> yang semakin umum di era digital. Model kerja <em>hybrid</em> memungkinkan karyawan menyelesaikan tugas dari lokasi berbeda menggunakan media elektronik untuk berinteraksi dengan rekan kerja di dalam maupun luar organisasi. Meski menawarkan fleksibilitas dan efisiensi, terdapat tantangan seperti kurangnya interaksi sosial dan potensi miskomunikasi yang dapat menurunkan keterlibatan kerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh <em>transformational leadership</em> terhadap <em>work engagement</em> karyawan <em>hybrid</em> di Kota Jakarta. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan uji regresi linier berganda. Berdasarkan rumus Lemeshow, diperoleh sampel 125 karyawan dengan <em>convenience sampling</em>. Instrumen <em>transformational leadership</em> menggunakan <em>Multifactor Leadership Questionnaire</em> (MLQ) dari Bass dan Riggio (2006), sedangkan keterlibatan kerja menggunakan <em>Utrecht Work Engagement Scale</em> (UWES) dari Schaufeli dan Bakker (2004). Hasil menunjukkan pengaruh positif dan signifikan (57,5%) antara <em>transformational leadership</em> dan <em>work engagement</em>, menunjukkan pentingnya pengembangan gaya kepemimpinan ini dalam organisasi.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17345Pengaruh Flexible Working Arrangement terhadap Work Engagement Karyawan PT. Telkom Indonesia 2025-02-24T18:09:05+08:00Safira Arminalifaharminalifah1106@gmail.comLisa Widawatilisa.widawati@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> In the current era of globalization and digitalization, rapid changes have reduced human physical interaction, while the Covid-19 pandemic has accelerated the public's adaptation to a virtual lifestyle. To enhance employee work engagement, organizations must focus on employees' perceptions of the support they receive, such as flexible working arrangements, which can boost employee engagement. PT. Telkom Indonesia has implemented a Flexible Working Arrangement (FWA) since 2021 to provide work flexibility to its employees, with the expectation that they can achieve optimal performance, fully engage in their tasks, and remain loyal in the long term. Data from the Work Engagement survey at PT. Telkom Indonesia in Bandung shows high levels of work engagement, but interview results indicate low engagement. This study examines the influence of Flexible Working Arrangements (FWA) on employee Work Engagement at PT. Telkom Indonesia. The population of this study is the employees of PT. Telkom Indonesia in Bandung. The research design uses a quantitative causal method. The sample size was determined using the Slovin formula, with a total of 262 respondents. This study uses the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-17) from Wilmar Schaufeli and the Flexible Work Arrangements Scale based on the Flexible Working Arrangement theory from Selby & Wilson (2001) by Farida (2020). Simple linear regression analysis shows a positive and significant effect between FWA and Work Engagement at 23.1%. Employees with high work flexibility tend to be more engaged in their work, indicating that FWA has a significant impact on increasing work engagement.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, perubahan cepat telah mengurangi interaksi fisik manusia, sementara pandemi Covid-19 mempercepat adaptasi masyarakat pada gaya hidup virtual. Untuk meningkatkan keterlibatan kerja karyawan, organisasi harus fokus pada persepsi karyawan tentang dukungan yang mereka terima, seperti pengaturan kerja fleksibel, yang dapat meningkatkan keterlibatan kerja karyawan. PT. Telkom Indonesia menerapkan Flexible Working Arrangement (FWA) sejak 2021 untuk memberikan fleksibilitas kerja kepada karyawannya, dengan harapan karyawan dapat mencapai performa optimal, terlibat penuh dalam tugas mereka, dan tetap loyal dalam jangka panjang. Data hasil survei Work Engagement di PT. Telkom Indonesia di Kota Bandung menunjukkan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi, namun hasil wawancara mengindikasikan adanya keterlibatan kerja yang rendah. Penelitian ini mengkaji pengaruh Flexible Working Arrangement (FWA) terhadap Work Engagement karyawan PT. Telkom Indonesia. Populasi pada penelitian ini adalah Karyawan PT. Telkom Indonesia di Kota Bandung. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif kausalitas. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan jumlah sample sebanyak 262. Penelitain ini menggunakan alat ukur Utrecht Work Engagement Scale (UWES-17) dari Wilmar Schaufeli dan Flexible Work Arrangements Scale yang didasarkan pada teori Flexible Working Arrangement dari Selby & Wilson (2001) oleh Farida (2020). Analisis regresi linear sederhana menunjukkan pengaruh positif dan signifikan antara FWA dan Work Engagement sebesar 23.1%. Karyawan dengan fleksibilitas kerja tinggi cenderung lebih terlibat dalam pekerjaan. Artinya menunjukkan bahwa FWA berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keterlibatan kerja.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17350Studi Deskriptif Mengenai Depresi pada Dewasa Awal di Kota Bandung2025-02-24T18:09:00+08:00Ratu Mutiara Hakimhratumutiara@gmail.comUmar Yusuf Supriatnakr_umar@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Emerging adulthood is the stage that is most vulnerable to experiencing symptoms of depression, anxiety, and stress. This phenomenon occurs because this stage is a transitional stage from adolescence which is still dependent on parents to an independent adult, meaning that this period is full of instability. Complex developmental tasks in early adulthood make this period vulnerable to emotional or psychological difficulties, making it easy to experience symptoms of depression. This study aims to look at the phenomenon of depressive symptoms in early adults in Bandung City. This research uses a descriptive study method with a quantitative approach conducted on research subjects as many as 102 respondents. The sampling method is non probability sampling with convenience sampling technique. The BDI depression scale research instrument consists of 21 groups of items that describe 21 categories of attitudes and symptoms of depression. The data obtained showed that the majority of respondents experienced low, moderate, and high depressive symptoms.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Masa dewasa awal (<em>emerging adulthood</em>) merupakan tahap yang paling rentan mengalami <em>symptom</em> depresi, kecemasan, dan stress. Fenomena ini terjadi karena tahap ini merupakan tahap peralihan dari masa remaja yang masih bergantung kepada orangtua menuju dewasa yang independent, artinya masa ini penuh dengan ketidakstabilan. Tugas perkembangan yang kompleks pada masa dewasa awal mengakibatkan masa ini rentan mengalami kesulitan secara emosional atau psikologis, sehingga mudah mengalami <em>symptom</em> depresi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat fenomena symptom depresi pada dewasa awal di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan pada subjek penelitian sebanyak 102 responden. Metode pengambilan sampel yaitu <em>non probability sampling</em>tengan Teknik <em>convenience sampling</em>. Alat ukur penelitian skala depresi yaitu BDI terdiri dari 21 kelompok item yang menggambarkan 21 kategori sikap dan gejala depresi. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami symptom depresi rendah, sedang, dan tinggi.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17371Hubungan Dukungan Sosial dengan Konsep Diri pada Mahasiswa Korban Kekerasan dalam Pacaran di Kota Bandung2025-02-24T18:08:57+08:00Alifah Dama Kahathuralifahdama212@gmail.comFarida Coraliacoralia_04@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> Dating is a process of building personal relationships that can provide emotional experiences; however, in some cases, dating can lead to violence that affects psychological well-being, especially among college students. One of the protective factors against dating violence is social support, which plays an important role in shaping the self-concept of students who are victims of such violence. This study aims to examine the relationship between social support and self-concept in college students who have experienced dating violence. A correlational approach was used, involving 164 participants aged 18–27 years, selected through purposive sampling. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) to measure social support and the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) to measure self-concept. The results showed that the majority of participants had low levels of social support (79.3%) and low self-concept (75.6%). Spearman’s rho test revealed a significant positive relationship between social support and self-concept (r = 0.524, p < 0.01), indicating that the higher the social support, the more positive the self-concept of college students who are victims of dating violence.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Pacaran adalah proses membangun hubungan pribadi yang dapat memberikan pengalaman emosional, namun dalam beberapa kasus, pacaran dapat menimbulkan kekerasan yang memengaruhi kesejahteraan psikologis, terutama pada mahasiswa. Salah satu faktor pencegah kekerasan dalam pacaran adalah dukungan sosial, yang berperan penting dalam membentuk konsep diri mahasiswa korban kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan konsep diri pada mahasiswa korban kekerasan dalam pacaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan korelasional dengan melibatkan 164 partisipan berusia 18-27 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur dukungan sosial, dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) untuk mengukur konsep diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan memiliki tingkat dukungan sosial rendah (79,3%) dan konsep diri rendah (75,6%). Uji Spearman’s rho mengungkapkan hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan konsep diri (r = 0,524, p < 0,01), menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka semakin positif konsep diri mahasiswa korban kekerasan dalam pacaran.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17454Scoping Review: Persepsi Pernikahan pada Emerging Adulthood2025-02-24T18:08:55+08:00Wenry Ainasya Salsabilanasyasalsabila48@gmail.comYunita Sariyunita.sari@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Emerging adulthood is a crucial stage in building romantic relationships and searching for a life partner or “soul mate”. Individuals' views on marriage take on an important role before they make the decision to marry. These views become the foundation for individuals in shaping their family life. This article aims to review the current literature on perceptions of marriage in emerging adulthood, a developmental period that occurs between the ages of 18 and 29. Databases were searched through Google Scholar, Scopus and SageJournals. Based on studies from 2013 to 2024, several themes emerged in marriage perceptions including marriage knowledge, past experiences, cultural constructs, marriage expectations, sociodemographic characteristics and parenting. This review highlights the need for future research to explore the dynamic process of marriage perception formation in emerging adults.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Emerging adulthood merupakan tahap krusial dalam membangun hubungan romantis dan mencari pasangan hidup atau "belahan jiwa". Pandangan individu tentang pernikahan memainkan peran penting sebelum seseorang mengambil keputusan untuk menikah. Pandangan ini menjadi landasan bagi individu dalam membentuk kehidupan keluarga mereka. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji literatur terkini yang membahas mengenai persepsi pernikahan pada masa emerging adulthood yaitu sebuah periode perkembangan yang terjadi pada usia 18 hingga 29 tahun. Basis data ditelusuri melalui Google Scholar, Scopus, dan SageJournals. Berdasarkan studi dari tahun 2013 hingga 2024, ditemukan beberapa tema yang muncul dalam persepsi pernikahan yaitu pengetahuan pernikahan, pengalaman di masa lalu, konstruksi budaya, harapan pernikahan, karakteristik sosiodemografi dan pola asuh orang tua. Tinjauan ini menyoroti perlunya penelitian di masa depan untuk mengeksplorasi proses dinamis pembentukan persepsi pernikahan pada individu emerging adults.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17457Resilience pada Pelaku UMKM Kota Bandung2025-02-24T18:08:53+08:00Pricyll Cecilliacpricyll@gmail.comAyu Tuty Utamiayu.tutyutami@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> MSMEs have a significant positive impact on economic growth in Indonesia. However, MSMEs are faced with various challenges such as an increasingly uncertain global economic environment and a lack of human resources who have the knowledge and skills to develop businesses and to face existing challenges. This study aims to determine the description of resilience owned by MSME actors in Bandung City. Using quantitative methods to analyze data from 112 micro and small business actors in the fashion and culinary fields in Bandung City. Data collection uses the CD-RISC measuring instrument from Manzano and Ayala (2013) which consists of 23 items with validity results > of 0.1857 and reliability of 0.916. This study found that MSMEs in Bandung City have a high resilience of 71 (63%).</p> <p><strong>Abstrak.</strong> UMKM memberikan dampak positif yang siginifikan terhadap pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Namun UMKM dihadapi berbagai tantangan seperti lingkungan ekonomi global yang semakin tidak menentu dan kurangnya sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan usaha maupun untuk menghadapi tantangan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai resilience yang dimiliki oleh pelaku UMKM di Kota Bandung. Menggunakan metode kuantitatif untuk menganalisis data dari 112 pelaku usaha mikro dan kecil pada bidang fesyen dan kuliner di Kota Bandung. Pengumpulan data menggunakan alat ukur CD-RISC dari Manzano dan Ayala (2013) yang terdiri dari 23 item dengan hasil validitas > sebesar 0.1857 dan reliabilitas sebesar 0.916. Studi ini mendapatkan hasil bahwa pelaku UMKM di Kota Bandung memiliki resilience yang tinggi yaitu sebesar 71 (63%). </p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17465Prediktor Viktimisasi Poly-Bullying pada Siswa SMP di Kota Bandung2025-02-24T18:08:49+08:00Wanda Herdianawandaherdianaa@gmail.comIhsana Sabriani Borualogoihsana.sabriani@unisba.ac.idTia Inayatillahtiainayatillah@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Poly-Bullying is bullying that occurs repeatedly and can take place in one or more environments, which negatively affects students mental and emotional well-being. This study aims to identify factors that increase the likelihood of poly-bullying in adolescents and describe the subjective well-being of students who experience it. The research design used a quantitative approach with a cross-sectional survey and stratified cluster random sampling technique, involving 767 students. The measurement tools used included school bullying, Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 (CW-SWBS5), and supporting factors such as school climate, socioeconomic status, family relationships, and friends. Data were analyzed with SPSS version 26 using binary logistic regression to identify the relationship between predictor variables and poly-bullying victimization. The results showed that the indicator 'my friends are usually nice to me' increased the risk of poly-bullying by 34.6%, while 'frequency of fights at school' increased the risk of poly-bullying by 26.3%. Students who experienced poly-bullying had lower subjective well-being (M = 61.8, SD = 28.9) than those who did not experience it (M = 74.6, SD = 26.9). Females who experienced poly-bullying also showed lower subjective well-being (M = 67.1, SD = 27.1) than males (M = 74.7, SD = 26.3).</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Poly-Bullying adalah perundungan yang terjadi berulang kali dan dapat terjadi di satu lingkungan atau lebih yang berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan emosional siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya <em>poly-bullying</em> pada remaja dan menggambarkan kesejahteraan subjektif siswa yang mengalaminya. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei <em>cross-sectional</em> dan teknik pengambilan sampel <em>stratified cluster random sampling </em>yang melibatkan 767 siswa. Alat ukur yang digunakan antara lain lain <em>school bullying</em>, <em>Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 (CW-SWBS5)</em>, dan faktor pendukung seperti iklim sekolah, status sosial ekonomi, hubungan keluarga, dan teman. Data dianalisis dengan SPSS versi 26 menggunakan regresi logistik biner untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel prediktor dan viktimisasi perundungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator 'teman-teman saya biasanya baik kepada saya' meningkatkan risiko terjadinya perundungan poligami sebesar 34,6%, sedangkan 'frekuensi perkelahian di sekolah' meningkatkan risiko terjadinya perundungan poligami sebesar 26,3%. Siswa yang mengalami perundungan poligami memiliki kesejahteraan subjektif yang lebih rendah (M = 61,8, SD = 28,9) daripada mereka yang tidak mengalaminya (M = 74,6, SD = 26,9). Perempuan yang mengalami perundungan poli-subjektif juga menunjukkan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah (M = 67.1, SD = 27.1) daripada laki-laki (M = 74.7, SD = 26.3).</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17480Studi Deskriptif Perilaku Impulsive Buying Produk Kosmetik pada Mahasiswa di Bandung2025-02-24T18:08:47+08:00An Nisa Auliaannisaaulia671@gmail.comUmar Yusuf Supriatnakr_umar@yahoo.co.id<p><strong>Abstract.</strong> The late adolescent group is individuals who are experiencing a transition period and are trying to assert themselves and be the center of attention, in this case such as creating something new for themselves such as using cosmetics. Not infrequently, these teenagers place cosmetics as a basic need, so they tend to use their money to buy these items. This purchase gives rise to spontaneous shopping behavior without paying attention to needs. Therefore, this research aims to determine the level of impulsive buying behavior of cosmetic products among students in Bandung. Researchers used descriptive study methods with a quantitative approach. This research involved 150 active female students using a purposive sampling method. Of the 150 respondents, 114 people were at a high level, and 36 people were at a very high level. This happens because students are less able to consider and plan procedures when carrying out cosmetic purchases and only calculate on the price and losses obtained.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kelompok remaja akhir merupakan individu yang sedang mengalami masa transisi dan sedang berusaha menonjolkan diri dan menjadi pusat perhatian, dalam hal ini seperti menciptakan sesuatu yang baru pada dirinya seperti menggunakan kosmetik. Tidak jarang, kalangan remaja ini menempatkan kosmetik sebagai suatu kebutuhan pokok, sehingga cenderung menggunakan uangnya untuk membeli barang-barang tersebut. Pembelian ini menimbulkan perilaku berbelanja secara spontan tanpa memperhatikan kebutuhan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat perilaku impulsive buying produk kosmetik pada mahasiswa di Bandung. Peneliti menggunakan metode studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini melibatkan 150 mahasiswi aktif dengan menggunakan metode purposive sampling. Dari 150 responden, 114 orang berada pada tingkat yang tinggi, dan 36 orang berada pada tingkat sangat tinggi. Hal tersebut terjadi karena mahasiswa kurrang mampur mermpertimbangkan dan merencakan sesuatu ketika melakukan pembelian kosmetik dan hanya menekankan pada harga serta keuntungan yang diperoleh.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17546Hubungan Work-life Balance dan Psychological Well-being pada Atlet E-sports 2025-02-24T18:08:44+08:00Ahmad Farly Akbarfarly.akbar@gmail.comOki Mardiawanokimardiawan@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> The high level of <em>e-sports</em> activities in West Java & Jakarta can be seen from the number of <em>e-sports</em> events such as the Governor's Cup and the President's Cup of the <em>e-sports</em> industry. In addition, the high interest in <em>e-sports</em> can be seen from the increasing number of participants in the President's Cup from 18 thousand participants in 2018 to 177 thousand participants in 2020 Anggoro. The high working hours that <em>e-sports</em> athletes have, reaching 12-14 hours, may affect the psychological well-being of these athletes, as previous research only discusses general work such as lecturers and nurses, and for <em>e-sports</em> athletes themselves there has been no research on these two variables. The purpose of this study was to determine the relationship between work-life balance and psychological well-being among <em>e-sports</em> athletes in West Java & Jakarta. This research method uses quantitative with cross-sectional design. Data analysis using structural equation modelling (SEM) with respondents in this study total 230 <em>E-sports</em> athletes in West Java. This study uses a psychological scale with Fisher, Bulger, and Smith's (2009) work-life balance measurement instrument adapted by Gunawan (2019) and Ryff's (1989) psychological well-being measurement instrument adapted and revised by Revelia (2018). The results of this study indicate a positive relationship between work-life balance and psychological well-being in West Java and Jakarta <em>e-sports</em> athletes worth (55%). These results indicate that with an increase in Work-life balance, <em>E-sports</em> athletes will experience an increase in Psychological well-being.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tingginya kegiatan <em>e-sports</em> di Jawa Barat & Jakarta dengan dilihat dari banyaknya event <em>e-sports</em> seperti piala gubernur dan Piala Presiden cabang <em>e-sports</em>. Selain itu tingginya peminat <em>e-sports</em> bisa dilihat dari meningkatnya jumlah pendaftar pada piala presiden dari 18 ribu peserta di tahun 2018 menjadi 177 ribu perserta di tahun 2020 Anggoro. Tingginya waktu bekerja yang dimiliki atlet <em>e-sports</em>, yaitu mencapai 12-14 jam dapat mempenagruhi Psychological well-being pada atlet tersebut, dikarenakan penelitian sebelumnya hanya membahas mengenai pekerjaan umum seperti dosen dan perawat, dan untuk atlet <em>e-sports</em> sendiri belum ada penelitian yang dilakukan mengenai kedua variabel ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara <em>Work-life balance</em> dan <em>Psychological well-being</em> pada atlet <em>E-sports</em> Jawa Barat & Jakarta. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>. Analisis data menggunakan <em>Structural Equation Modeling</em> (SEM) dengan responden pada penelitian ini berjumlah sebanyak 230 orang atlet E-Sport di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan alat ukur <em>Work-life balance</em> dari Fisher, Bulger, and Smith, (2009) yang diadaptasi oleh Gunawan (2019), dan alat ukut <em>Psychological well-being</em> dari Ryff (1989) yang telah diadaptasi dan direvisi oleh Revelia (2018). Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya hubungan positif antara Work-life balance dan Psychological well-being pada atlet <em>E-sports</em> Jawa Barat & Jakarta senilai (55%). Hasil ini menunjukan bahwa atlet <em>e-sports</em> akan mengalami peningaktan <em>Psychological well-being</em> seiring dengan meningkatnya <em>Work-life balance</em>.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17548Kajian Stigma Merokok pada Perokok Aktif2025-02-24T18:08:42+08:00Hisana Syafawani Firdaussyafawanihisana@gmail.comStephani Raihana Hamdanstephanihamdan@unisba.ac.id<p><strong>Abstract.</strong> Smoking behavior is prevalent, including in Indonesia, despite its various negative impacts, such as adverse health effects. The emergence of these negative impacts can create a stigma experienced by active smokers. According to Goffman (1986), the basic definition of stigma is an attribute that greatly discredits an individual. Stuber et al. (2008) conceptualized smoking stigma as labeling, negative stereotypes, social restrictions, emotional reactions, and loss of status or discrimination that occur when a group lacking power deviates from norms. Further research has found that smokers face labeling and negative stereotypes, and that smokers perceive non-smokers as labeling them as lepers, weak-willed, foolish, uncivilized, and unclean. There is even research indicating that smokers experience feelings of separation and alienation from non-smokers (Lozano et al., 2018a). This study aims to understand how smoking stigma manifests among active smokers.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perilaku merokok merupakan sebuah perilaku yang marak dilakukan termasuk di Indonesia, meskipun perilaku merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negative seperti efek buruk pada kesehatan. Munculnya berbagai dampak negatif yang disebabkan oleh perilaku merokok, dapat memunculkan stigma yang dirasakan oleh perokok aktif. Menurut Goffman (1986), definisi dasar dari stigma adalah suatu atribut yang sangat mendiskreditkan seseorang. Stuber et al., (2008) telah mengkonseptualisasikan stigma merokok sebagai pelabelan, stereotip negatif, pembatasan sosial, reaksi emosional, dan hilangnya status atau diskriminasi yang terjadi ketika kelompok yang tidak memiliki kekuasaan menyimpang dari norma. Lebih lanjut lagi, penelitian menemukan bahwasannya perokok dikenakan pelabelan dan stereotip negatif, dan bahwa perokok menganggap bahwa orang yang bukan perokok telah menjuluki mereka sebagai penderita kusta, berkemauan lemah, bodoh, tidak beradab, dan najis, bahkan terdapat penelitian yang menemukan bahwa perokok merasakan rasa keterpisahan dan pemisahan dari nonperokok (Lozano et al., 2018a). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana gambaran stigma merokok pada perokok aktif.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17562Pengaruh Peer Support terhadap Motivasi Berprestasi pada Siswa Atlet Renang Usia Remaja Akhir2025-02-24T18:08:40+08:00Maulidia Purwanti Sudrajatmaulidiapurwa@gmail.comEni Nuraeni Nugrahawatienipsikologi@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Students who are also swimming athletes are required to be able to balance the two tasks undertaken, namely in academics and sports. The tight training time in the midst of their obligations to study can affect their academic quality. The high focus on sporting achievements can distract them from academic tasks. This can be a challenge in the learning process as students are prone to stress and fatigue resulting in poor academic performance. They often have difficulty managing their time, which causes them to postpone assignments and get distracted by other activities such as using social media. In addition, there are still differences in research results in previous studies. This study aims to analyze the effect of peer support on achievement motivation in late adolescent swimming athletes. The method used is a quantitative approach with a causality design. The sample of this study involved students who were also swimming athletes aged 17 and 18 years in Bandung City. The research instrument was a questionnaire consisting of an achievement motivation scale using measuring instruments from Rahmawati (2021) and a peer support scale using measuring instruments from Yanti (2020). Simple linear regression test was used to analyze the effect of the independent variable on the dependent variable under study. The results showed that there was a positive effect of peer support on achievement motivation in 17 and 18 year old late adolescent swimming student athletes with a significance value of 0.000 (p<0.05) and a coefficient of determination of 45.8%. This finding implies the importance of peer support in influencing the achievement motivation of students who are also swimming athletes in Bandung City.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Siswa yang juga merupakan seorang atlet renang dituntut untuk mampu menyeimbangkan kedua tugas yang dijalani yaitu dalam akademik dan olahraga. Padatnya waktu berlatih ditengah kewajiban mereka menuntut ilmu dapat memengaruhi kualitas akademik mereka. Tingginya fokus pada prestasi olahraga dapat mengalihkan perhatian mereka dari tugas akademik. Hal tersebut dapat menjadi suatu tantangan dalam proses pembelajaran karena para siswa rentan mengalami stress serta kelelahan sehingga kinerja dalam akademik tidak maksimal. Mereka sering mengalami kesulitan dalam mengatur waktu, yang menyebabkan mereka menunda pengerjaan tugas dan teralihkan oleh aktivitas lain seperti menggunakan media sosial. Selain itu, masih terdapat perbedaan hasil penelitian pada penelitian terdahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peer support terhadap motivasi berprestasi pada siswa atlet renang usia remaja akhir. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sampel penelitian ini melibatkan siswa yang juga merupakan seorang atlet renang usia 17 dan 18 tahun di Kota Bandung. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang terdiri atas skala motivasi berprestasi menggunakan alat ukur dari Rahmawati (2021) dan skala peer support menggunakan alat ukur dari Yanti (2020). Uji regresi linear sederhana digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif peer support terhadap motivasi berprestasi pada siswa atlet renang usia remaja akhir 17 dan 18 tahun dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p<0.05) dan koefisien determinasi sebesar 45,8%. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya peer support dalam mempengaruhi motivasi berprestasi siswa yang juga seorang atlet renang di Kota Bandung.<br>Kata Kunci: Motivasi Berprestasi, Dukungan Teman Sebaya, Remaja Akhir, Siswa Atlet</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17580Hubungan Identity Fusion dengan Social Dominance Orientation pada Suporter Sepak Bola2025-02-24T18:08:38+08:00Aidul Raihan Nurulhadiraihannurulhadi@gmail.comTemi Damayanti Djamhoertemidamayanti@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> Conflict between football supporters in Indonesia is a complex phenomenon and often involving a range of social, cultural and emotional factors. Such conflicts can include physical clashes between different groups supporters, as well as violent incidents inside stadium or outside the stadium. Several studies have found that intergroup interactions involving identity fusion and social dominance orientation are determinants of intergroup conflict. The purpose of this study is examining the stenght relationship between identity fusion and social dominance orientation among football supporters. The subjects of this study were 138 supporters of Persib Bandung in this city of Bandung. In this study, used the Identity Fusion Verbal Scale measuring instrument by Gomez et al (2011), and SDO₇ Scale by Ho et al where used(2015). The analysis technique used was Kendall's Tau correlation test. The result of data processing is that there is no significant relationship between identity fusion and social dominance orientation among Persib Bandung football supporters in Bandung City with a value of r = .016 and a significance value of p = .810 > .05.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Konflik antar suporter sepakbola di Indonesia merupakan fenomena yang kompleks dan sering kali melibatkan berbagai faktor sosial, budaya, dan emosional. Konflik tersebut dapat mencakup bentrokan fisik antar kelompok suporter yang berbeda, serta insiden kekerasan di stadion atau di luar stadion.. Beberapa penelitian menemukan bahwa interaksi antar kelompok melibatkan identity fusion dan social dominance orientation menjadi faktor penentu terjadinya konflik antar kelompok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat seberapa erat hubungan antara identity fusion dengan social dominance orientation pada suporter sepakbola. Subjek penelitian ini adalah 138 suporter Persib Bandung di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan alat ukur Identity Fusion Verbal Scale dari Gomez et al (2011), dan SDO₇ Scale dari Ho et al (2015). Teknik analisis yang digunakan adalah uji korelasi Kendall’s Tau. Hasil dari olah data adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara identity fusion dengan social dominance orientation pada suporter sepakbola Persib Bandung di Kota Bandung dengan nilai r = .016 dan nilai signifikansi p = .810 > .05.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17609Pengaruh Loneliness terhadap Online Disinhibition: HEXACO’s Personality sebagai Moderator2025-02-24T18:08:36+08:00Nabila Ramadhina Putrinramadhinaputri@gmail.comEndah Nawangsihnawangsihendah@yahoo.com<p><strong>Abstract.</strong> Loneliness is a condition where individuals feel psychological discomfort due to feelings of dissatisfaction in social interactions or relationships. High levels of loneliness in social media users increase the phenomenon of online disinhibition effect, this phenomenon occurs when individuals show less inhibited behaviour in online interactions compared to face-to-face interactions. The HEXACO personality aspects, which include Honesty-Humility, Emotionality, Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, and Openness to Experience, are used to understand how personality differences can moderate the relationship between loneliness and online disinhibition effect. Quantitative methods were used in this study involving 412 social media user respondents. The instruments used include the UCLA Loneliness Scale Version 3, the Online disinhibition effect scale, and the Brief HEXACO Inventory (BHI) scale. Data analysis was conducted using moderation regression to test the research hypothesis. The results showed that loneliness has a significant influence on the online disinhibition effect. The results of moderating regression analysis show that loneliness has an influence of 18.7% on online disinhibition. Individuals who feel lonely show more disinhibited behaviour in their online interactions. In addition, the HEXACO personality aspect moderates the relationship between loneliness and online disinhibition.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Loneliness merupakan suatu kondisi dimana individu merasakan ketidaknyamanan secara psikologis yang diakibatkan perasaan tidak puas dalam interaksi atau hubungan sosial. Tingkat loneliness yang tinggi pada pengguna media sosial meningkatkan fenomena online disinhibition effect, fenomena ini terjadi ketika individu menunjukkan perilaku yang kurang terhambat dalam interaksi secara online dibandingkan dengan interaksi secara tatap muka. Aspek kepribadian HEXACO, yang meliputi Honesty-Humility, Emotionality, Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, dan Openness to Experience, digunakan untuk memahami bagaimana perbedaan kepribadian dapat memoderasi hubungan antara loneliness dan online disinhibition effect. Metode kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan melibatkan 412 responden pengguna media sosial. Instrumen yang digunakan meliputi UCLA Loneliness Scale Version 3, skala Online disinhibition effect, dan skala Brief HEXACO Inventory (BHI). Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi moderasi untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loneliness memiliki pengaruh yang signifikan terhadap online disinhibition effect. Hasil analisis regresi moderating menunjukkan bahwa loneliness memiliki pengaruh sebesar 18.7% terhadap online disinhibition. Individu yang merasa kesepian menunjukkan perilaku yang lebih disinhibisi dalam interaksi online mereka. Selain itu, aspek kepribadian HEXACO memoderasi hubungan antara loneliness dan online disinhibition effect, di mana aspek kepribadian emotionality memperkuat pengaruh loneliness sebesar 20.7% terhadap perilaku online disinhibition. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa loneliness dapat mendorong perilaku disinhibisi online, memperkuat pemahaman tentang mekanisme psikologis di balik fenomena ini. Peran moderasi aspek kepribadian HEXACO menunjukkan bahwa individu dengan profil kepribadian tertentu lebih rentan terhadap efek disinhibisi online ketika merasa kesepian.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17693Pengaruh Self-Compassion terhadap Future Anxiety pada Fresh Graduate2025-02-24T18:08:34+08:00Ghina Salsabilaghinasalsabilaa17@gmail.comSiti Qodariahsiti.qodariah@yahoo.co.id<p><strong>Abstract.</strong> Today, many fresh graduates face challenges in entering the workforce. Intense competition, lack of experience, and uncertainty about the future can trigger high anxiety. In dealing with anxiety, one factor that has the potential to help reduce it is self-compassion. This study aims to determine how much self-compassion affects future anxiety in fresh graduates with 315 respondents. The research method used is quantitative with a causality design. The measuring instrument used in this study is the self compassion measuring instrument from Kristin Neff (2003) self compassion scale which has been adapted into Indonesian by Sugianto, Suwartono & Sutanto (2020), and the future anxiety measuring instrument, namely the dark future scale from Zbigniew Zaleski (2017). The sampling technique in this study used the accidental technique from Silalahi (2015), the results showed that future anxiety in fresh graduates was in the high category, as many as 232 people or 74% of the respondents in this study. (β = -0.244, p < 0.05) The results of hypothesis testing state that self-compassion has a significant effect on future anxiety, which is 0.244 or 24.4% self-compassion affects future anxiety and 75.6% is a factor outside this research model. although self-compassion helps reduce future anxiety, the effect is limited. This indicates the need for other factors, such as career readiness.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Saat ini banyak <em>fresh graduate</em> menghadapi tantangan dalam memasuki dunia kerja. Persaingan yang ketat, minimnya pengalaman, serta ketidakpastian mengenai masa depan dapat memicu kecemasan yang tinggi. Dalam menghadapi kecemasan, salah satu faktor yang berpotensi membantu menguranginya adalah <em>self-compassion</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar <em>pengaruh self-compassion</em> terhadap <em>future anxiety</em> p<em> Anxiety</em><em>, </em><em>Fresh Graduate</em><em>.</em>ada <em>fresh graduate</em> dengan jumlah responden 315 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain kausalitas. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur<em> self compassion</em> dari Kristin Neff (2003) <em>self compassion scale</em> yang telah diadaptasi kedalam bahasa Indonesia oleh Sugianto, Suwartono & Sutanto (2020), dan alat ukur <em>future anxiety</em> yaitu <em>dark future scale</em> dari Zbigniew Zaleski (2017). Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik <em>accidental</em> dari Silalahi (2015), Hasil penelitian menunjukan bahwa <em>future anxiety</em> pada <em>fresh graduate</em> berada dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 232 orang atau 74% responden penelitian ini. (β = -0.244, p < 0.05) hasil uji hipotesis menyatakan bahwa <em>self-compassion</em> berpengaruh dan signifikan terhadap <em>future anxiety</em> yaitu sebesar 0.244 atau 24.4% <em>self compassion</em> mempengaruhi <em>future anxiety</em> dan 75.6% merupakan faktor diluar model penelitian ini. meskipun <em>self-compassion</em> membantu mengurangi <em>future anxiety</em>, efeknya terbatas. Hal ini mengindikasikan perlunya faktor lain, seperti kesiapan karier dan intervensi psikologis, untuk membantu <em>fresh graduate</em> menghadapi ketidakpastian masa depan.</p>2025-01-31T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17808Data Demografi Gamers yang Mengalami Internet Gaming Disorder dengan Karakteristik Kognisi yang Malfungsi2025-02-24T18:08:32+08:00Reghina Indah Tiyanyreghina.indah.t@gmail.comFanni Putri Diantinafanni.putridiantina@unisba.ac.id<p class="PROSIDING-ABSTRAK" style="margin-bottom: 0cm;"><strong><span style="font-size: 11.0pt;">Abstract.</span></strong><span style="font-size: 11.0pt;"> Playing online games, excessively, has become a negative phenomenon that contributes to the emergence of internet gaming disorder among the younger generation. One of the main factors driving the development of internet gaming disorder is maladaptive cognition which is thought to have a strong relationship with the development of internet gaming disorder. This study examines Internet Gaming Disorder (IGD) in Call of Duty players: Mobile players with a focus on maladaptive cognition and demographic data. The results showed that the majority of respondents experienced severe IGD (57.2%), dominated by men (68.7%) with the highest age of 21 years (16.9%). Most played 5-8 hours per day (66.4%), and 57.5% had played 6-12 hours in one session, indicating a pattern of excessive play. In addition, maladaptive cognition was high in both males (68.9%) and females (31.1%), reinforcing gaming engagement.</span></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Bermain game online, secara berlebihan menjadi fenomena negatif yang berkontribusi pada munculnya internet gaming disorder di kalangan generasi muda. Salah satu faktor utama yang mendorong perkembangan internet gaming disorder adalah, maladaptive cognition yang diduga memiliki hubungan yang kuat dengan perkembangan internet gaming disorder. Penelitian ini mengkaji Internet Gaming Disorder (IGD) pada pemain Call of Duty: Mobile dengan fokus pada maladaptive cognition dan data demografis. Hasil menunjukkan mayoritas responden mengalami IGD tingkat berat (57,2%), didominasi laki-laki (68,7%) dengan usia terbanyak 21 tahun (16,9%). Sebagian besar bermain 5–8 jam per hari (66,4%), dan 57,5% pernah bermain 6–12 jam dalam satu sesi, mengindikasikan pola bermain berlebihan. Selain itu, maladaptive cognition tinggi ditemukan pada laki-laki (68,9%) dan perempuan (31,1%), memperkuat keterlibatan dalam game.</p>2025-02-01T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/17942Studi Kontribusi Big Five Personality Traits terhadap Job Crafting pada Tour Guide di Kota Bandung2025-02-24T18:08:31+08:00Mochammad Garin Nurhudagarinnurhuda00@gmail.comAli Mubarakmubarakspsi@gmail.com<p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kontribusi <em>big five personality traits</em> terhadap <em>job crafting</em> pada <em>tour guide</em> di kota Bandung. <em>Personality traits</em> merupakan karakteristik atau sifat-sifat kepribadian seseorang. Ciri-ciri kepribadian dapat dijelaskan sebagai aspek yang memisahkan setiap individu dalam cara mereka berpikir, mengungkapkan emosi, dan bertindak serta merespons situasi tertentu (Costa & McCrae, 2006). <em>Job Crafting</em> merupakan kondisi ketika para karyawan menyadari untuk berupaya mengakomodasi pekerjaan mereka sesuai dengan karaktersitik pribadi mereka, serta memahami batasan-batasan tugas, baik relasional maupun kognitif, dari suatu pekerjaan tidak selalu ditentukan dengan tepat (Wrzesniewski & Dutton, 2001). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan teknik analisi regresi berganda. Subjek yang diteliti merupakan <em>tour guide</em> di kota Bandung (N = 160). Alat ukur yang digunakan yaitu <em>Big Five Personality Inventory</em> (BFI), yang dikembangkan oleh Oliver John pada tahun 1990, dan <em>Job Crafting</em> Scale yang awalnya dikembangkan oleh Tims et al., pada tahun 2012. Hasil menunjukkan bahwa masing-masing <em>traits</em> dari <em>big five personality</em> berkontribusi terhadap <em>job crafting, </em>sebesar; <em>openness to experience </em>(16%), <em>conscientiousness </em>(1,2%), <em>extraversion </em>(5,6%), <em>agreeableness </em>(28,2), dan <em>neuroticism </em>(-4,2%).</p> <p><strong>Abstract.</strong> This study aims to determine the contribution of big five personality traits to job crafting in tour guides in Bandung. Personality traits are characteristics or traits of a person's personality. Personality traits can be explained as aspects that separate each individual in the way they think, express emotions, and act and respond to certain situations (Costa & McCrae, 2006). Job Crafting is a condition when employees realize to try to accommodate their work according to their personal characteristics, and understand the task boundaries, both relational and cognitive, of a job are not always precisely determined (Wrzesniewski & Dutton, 2001). The research method used is quantitative method using multiple regression analysis technique. The subjects studied were tour guides in the city of Bandung (N = 160). The measuring instruments used were the Big Five Personality Inventory (BFI), developed by Oliver John in 1990, and the Job Crafting Scale originally developed by Tims et al. in 2012. Results showed that each of the big five personality traits contributed to job crafting, by; openness to experience (16%), conscientiousness (1.2%), extraversion (5.6%), agreeableness (28.2), and neuroticism (-4.2%).</p>2025-02-01T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/18102Studi Kontribusi Job Insecurity terhadap Turnover Intention Karyawan Generasi Z Kota Bandung2025-02-24T18:08:29+08:00Afina Nur'aini Tsaqilaafinanuraini1@gmail.comLisa Widawatilisa.widawati@gmail.com<p><strong>Abstract. </strong>After the entry of Generation Z into the workforce, Indonesia's employee turnover rate stands at 10% and this has become one of the problems for human resource management in companies. In a survey, 61% of Gen Z employees intend to leave their current company in the next two years. Based on the high employee turnover data and the losses caused by it, companies need to predict employee turnover, one of which is by measuring turnover intention. The indication of turnover intention itself can be influenced by job insecurity factors. In the survey, 55% of Gen Z felt insecure in doing their tasks in the face of changing situations. This led the researcher to the research objective to find out how much contribution job insecurity makes to turnover intention in generation Z employees who work in startup companies in Bandung City. This research is a quantitative study with a non-experimental causality approach. Based on the determination of the number of samples using the Lemeshow formula, a sample of 106 employees was obtained whose sampling technique was taken using convenience sampling. The measuring instrument in this study uses Greenhalgh & Rosenblatt's (1984) theory tested by Ashford et al. (1989), namely the Job Insecurity Scale. For the turnover intention variable, this study uses the Turnover Intention Scale measuring instrument which refers to the Mobley et al. theory (1978). The results showed that the job insecurity variable had a significant effect on turnover intention and obtained a positive direction of influence with an effect size of 9.9%. A positive influence can be interpreted that any increase in job insecurity felt by employees will increase employee turnover intention.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Pasca masuknya generasi Z ke angkatan kerja, tingkat <em>turnover </em>karyawan Indonesia berada di angka 10% dan hal ini menjadi salah satu masalah bagi manajemen sumber daya manusia di perusahaan. Dalam survei menunjukan 61% karyawan Gen Z berniat untuk keluar dari perusahaan mereka saat ini dalam dua tahun ke depan. Berdasarkan data <em>turnover </em>karyawan yang tinggi serta kerugian yang diakibatkan nya, maka perusahaan perlu untuk memprediksi <em>turnover</em> karyawan salah satunya dengan cara mengukur <em>turnover intention</em>. Indikasi dari <em>turnover intention</em> nya sendiri dapat dipengaruhi oleh faktor <em>job insecurity</em>. Dalam survei menyebutkan 55% Gen Z merasa tidak aman dalam mengerjakan tugas mereka dalam menghadapi situasi yang berubah-ubah. Hal ini mengantar peneliti pada tujuan penelitian untuk mengetahui seberapa besar kontribusi yang diberikan <em>job insecurity</em> terhadap <em>turnover intention</em> pada karyawan generasi Z yang bekerja di perusahaan <em>startup</em> di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan kausalitas non eksperimen. Berdasarkan penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Lemeshow, didapatkan sampel sebanyak 106 karyawan yang teknik pengambilan sampel nya diambil menggunakan <em>convenience sampling</em>. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan teori Greenhalgh & Rosenblatt (1984) yang diuji oleh Ashford et al., (1989) yaitu <em>Job Insecurity Scale</em>. Untuk variabel <em>turnover intention,</em> penelitian ini menggunakan alat ukur <em>Turnover Intention Scale</em> yang merujuk pada teori Mobley et al., (1978). Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel <em>job insecurity</em> berpengaruh signifikan terhadap <em>turnover intention</em> dan didapatkan arah pengaruh yang positif dengan besaran pengaruh 9.9%. Pengaruh yang positif dapat diartikan bahwa setiap peningkatan <em>job insecurity </em>yang dirasakan karyawan maka akan meningkatkan <em>turnover intention</em> karyawan.</p>2025-02-01T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Sciencehttps://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSPS/article/view/18292Pengaruh Self Control terhadap Binge-Watching pada Remaja Penggemar K-Drama2025-02-24T18:08:28+08:00Yasmin Mulia Abwa Fitriyasmin.abwa12@gmail.com<p><strong>Abstract.</strong> This study aims to analyze the influence of self-control on binge-watching behavior among K-Drama fans in Indonesia. Using a quantitative approach, data were collected from 110 adolescents aged 18–22 years through a questionnaire. The measurement tools included the Self-Control Scale (SCS) and the Binge-Watching Engagement and Symptoms Questionnaire (BWESQ). The analysis results indicate that self-control has a significant impact on binge-watching behavior. Adolescents with low self-control levels are more likely to engage in excessive binge-watching, which can negatively affect their mental and physical health. This research provides insights into the importance of developing self-control as an effort to reduce excessive binge-watching behavior among adolescents.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self-control terhadap perilaku binge-watching pada remaja penggemar K-Drama di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 110 remaja berusia 18–22 tahun melalui kuesioner. Alat ukur meliputi Self-Control Scale (SCS) dan Binge-Watching Engagement and Symptoms Questionnaire (BWESQ). Hasil analisis menunjukkan bahwa self-control memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku binge-watching. Remaja dengan tingkat self-control yang rendah lebih cenderung mengalami binge-watching secara berlebihan, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik. Penelitian ini memberikan wawasan mengenai pentingnya pengembangan self-control sebagai upaya mengurangi perilaku binge-watching berlebihan pada remaja.</p>2025-02-05T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Psychology Science