Keputusan Bertahan pada Perempuan yang Menjalani Hubungan Toxic dari Masa Pacaran Hingga Pernikahan
DOI:
https://doi.org/10.29313/bcsps.v6i2.24222Keywords:
abuse relationship, emerging adulthood, keputusan bertahan, toxic marriage, toxic relationshipAbstract
Abstract. Toxic relationships can have detrimental effects on individuals, causing suffering and decreasing well-being. However, many women choose to remain in toxic relationships, even from courtship to marriage. This study aims to understand the decision to stay among women who experience toxic relationships continuously from courtship to marriage. This research uses a qualitative phenomenological approach with Giorgi's Descriptive Phenomenological Analysis (DPA) method. Participants were three women who married at age 18-29 (emerging adulthood), were aware of their partner's toxic behavior before marriage, and married voluntarily. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using the Five Components of Decision Making framework (Ranyard, 1997) and the Investment Model (Rusbult, 1980). The results reveal eleven essential themes: (1) attachment foundation at the start of the relationship; (2) normalization and disregard of toxic behavior; (3) lack of protective social support; (4) social pressure to stay; (5) hope for change as a driver to stay; (6) limited coping strategies; (7) escalation of violence and control after marriage; (8) hope-disappointment cycles hindering exit; (9) sunk cost bias and structural dependence; (10) emotional dependence; and (11) entrapment in normative status as wife and mother. Furthermore, this study finds that motives initially serving as reasons such as hope for economic stability and pride in partner's social status transform after marriage into forms of structural dependence that trap women within the relationship.
Abstrak. Hubungan toxic dapat berdampak buruk bagi yang menjalaninya, salah satunya dapat menimbulkan penderitaan dan menurunkan kesejahteraan individu. Namun, banyak perempuan tetap memutuskan bertahan pada hubungan toxic, bahkan sejak masa pacaran hingga pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami keputusan bertahan pada perempuan yang menjalani hubungan toxic secara berkesinambungan dari masa pacaran hingga pernikahan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan metode Descriptive Phenomenological Analysis (DPA) dari Giorgi. Partisipan berjumlah tiga orang perempuan yang menikah pada usia 18–29 tahun (emerging adulthood), menyadari perilaku toxic pasangan sebelum menikah, serta menikah secara sukarela. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan kerangka Five Components of Decision Making (Ranyard, 1997) dan Investment Model (Rusbult, 1980). dulthood), menyadari perilaku toxic pasangan sebelum menikah, serta menikah secara sukarela. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan kerangka Five Components of Decision Making (Ranyard, 1997) dan Investment Model (Rusbult, 1980). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan bertahan mencakup sebelas tema esensial, yaitu: (1) fondasi keterikatan di awal relasi; (2) normalisasi dan pengabaian perilaku toxic; (3) minimnya dukungan sosial yang protektif; (4) tekanan sosial untuk bertahan; (5) harapan akan perubahan sebagai pendorong bertahan; (6) strategi koping yang terbatas; (7) eskalasi kekerasan dan kontrol setelah pernikahan; (8) siklus harapan-kekecewaan yang menghambat keluar dari relasi; (9) bias sunk cost dan ketergantungan struktural; (10) ketergantungan emosional; serta (11) keterjebakan pada status normatif sebagai istri dan ibu. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa motif yang semula menjadi alasan seperti harapan akan stabilitas ekonomi maupun kebanggaan atas status sosial pasangan bertransformasi pascapernikahan menjadi bentuk ketergantungan struktural yang menahan perempuan di dalam relasi tersebut.
References
Aundrea (2024). Quarter-Life Crisis and Readiness for Marriage in Early Adulthood. Jurnal Psikologi Terapan, 7(2), 84–87. https://doi.org/10.29103/jpt.v7i2.20372
Berliana, F. T. M. (2025, December 12). UNAIR perkuat upaya penanganan KDRT melalui pendekatan individu dan komunitas. Universitas Airlangga. https://unair.ac.id/unair-perkuat-upaya-penanganan-kdrt-melalui-pendekatan-individu-dan-komunitas/
Firmansyah, M. R., Putra, A. D., & Rahmanawati, A. (2024). Memilih bertahan: bias kognitif pada korban kekerasan dalam pacaran. Jurnal Psikologi Sosial, 22(2), 135-148.
Glass, L. (2015). Toxic People: 10 Ways of Dealing with People Who Makes Your Life Miserable. New York: Harmony Publisher.
Hasanah, S. A. N. (2025). Rational Choice Perempuan terhadap Calon Suami di Era 4.0 Kota Makassar (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS HASANNUDDIN).
Herdiansyah, H. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Psikologi. Salemba Humanika.
Huda, K. I. N. (2021). Penerapan konseling kelompok dalam memutuskan toxic relationship pada remaja di Desa Panompuan Jae Kecamatan Angkola Timur (Doctoral dissertation, IAIN Padangsidimpuan).
Kahija, La. (2017). Penelitian Fenomenologis: Jalan Memahami Pengalaman Hidup. Daerah Istimewa Yogyakarta: PT Kanisius.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (2026). Catatan tahunan 2025: Kekerasan terhadap perempuan di ranah personal. Komnas Perempuan. https://komnasperempuan.go.id/catatan-tahunan
Panggabean, Y. R. N., Wijono, S., & Hunga, A. I. R. (2020). Penerapan expressive writing therapy dalam pemulihan post traumatic stress disorder pada perempuan korban kekerasan masa pacaran (Studi kasus di Kota Salatiga). Jurnal Molucca Medica, 13(1), 82–97.
Pattiradjawane, Christina. Dan Sutarto Wijono, Jacob Daan Engel. 2019. “Uncovering Violence Occurring In Dating Relationsip: An Early Study Of Forgiveness Approach”. Journal Psikodimensia. Vol. 18, No.1.
Poerwandari, E. K. (2013). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3).
Prameswari, F. H. K., & Nurchayati, N. (2021). Dinamika Psikologis Remaja Perempuan Korban Kekerasan Dalam Pacaran Yang Memilih Mempertahankan Hubungan Pacarannya. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 8(7), 204-2017. https://doi.org/10.26740/cjpp.v8i7.42609
Qusyairi, F. U. L., Adinda, P., Rijal, K., & Abror, M. N. (2025). An analysis of women's persistence in toxic marriages. Sociale: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi, 2(2). https://doi.org/10.19105/sociale.v2i2.21077
Ranyard, R., Missier, F. D., & McEachern, S. (2012). Decision making: A psychological analysis of conflict, choice, and commitment. In Handbook of Psychology, Vol. 5: Personality and Social Psychology (2nd ed., hlm. 43–65). Wiley.
Ranyard, R., Crozier, W. R., & Svenson, O. (Eds.). (1997). Decision making: Cognitive models and explanations. Routledge.
Rusbult, C. E. (1980). Commitment and satisfaction in romantic associations: A test of the investment model. Journal of Experimental Social Psychology, 16, 172–186.
Sintyasari, D., & Fridari, G. (2021). Faktor-faktor yang melatarbelakangi keputusan perempuan untuk bertahan dalam abusive dating relationship. Jurnal Psikologi Udayana, 8(2), 58-71.
Walker, L. E. (1979). The battered woman. New York, NY: Harper & Row.
Widyastuti, N. L. W., Styawati, N. K. A., & Wirawan, K. A. (2022). Perlindungan hukum terhadap korban toxic relationship di kalangan remaja. Jurnal Konstruksi Hukum, 3(1), 166–171. https://doi.org/10.22225/jkh.3.1.4413.166-171