Studi Deskriptif Penerimaan Diri pada Odapus

  • Kirana Amirah Astasya Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung
  • Eni Nurlaili Wangi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung
Keywords: SLE, Penerimaan Diri, Dewasa Awal

Abstract

Abstract Systemic Lupus Erythematosus is an autoimmune disorder that affects several body systems. SLE cannot be cured and will always be present in the patient's body. Early adult women diagnosed with lupus can be at risk of experiencing low self-acceptance, this is due to physical and psychological changes. The purpose of this study is to see how the picture of self-acceptance in Odapus. This research method uses a descriptive study with quantitative methods. The sampling technique used was purposive sampling with early adult female participants aged 18-25 years who were diagnosed with lupus and were in Bandung City. The measuring instrument used was the Unconditional Self-Acceptance Quettionare which has been adapted into Indonesian. The result of this study is that the self-acceptance of early adult Odapus is in the medium to high range.

Abstrak. Systemic Lupus Erythematosus adalah gangguan autoimun yang berdampak terhadap beberapa sistem tubuh. SLE ini tidak bisa sembuh akan selalu ada pada tubuh penderita. Wanita dewasa awal yang terdiagnosis penyakit lupus bisa beresiko mengalami penerimaan diri yang rendah, hal ini dikarenakan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis yang dirasaka oleh Odapus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat bagaimana gambaran penerimaan diri pada Odapus. Metode penelitian ini menggunakan studi deskriptif dengan metode kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan partisipan wanita dewasa awal usia 18-25 tahun yang terdiagnosis penyakit lupus dan berada di Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah Unconditional Self-Acceptance Quettionare yang sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini yaitu penerimaan diri Odapus dewasa awal berada pada rentang sedang sampai dengan tinggi.

References

[1] Abdelstar Farouk, Y., Hafez Afefe Barakat, A., & Saied Adam Mohamed, S. (2023). Level of Stress, Coping, and Self-Acceptance among Patients with Systemic Lupus Erythematosus. Egyptian Journal of Health Care, 14(2), 1129–1144. https://doi.org/10.21608/ejhc.2023.31429
[2] Article, R., Floden, A, Combs, C., & Article, R. (2008). 基因的改变NIH Public Access. Bone, 23(1), 1–7. https://doi.org/10.1016/j.semarthrit.2008.10.007.Understanding
[3] Chamberlain, J. M., & Haaga, D. A. F. (2001). Unconditional self-acceptance and psychological health. Journal of Rational - Emotive and Cognitive - Behavior Therapy, 19(3), 163–176. https://doi.org/10.1023/A:1011189416600
[4] Citra, L. R. A., & Eriany, P. (2015). Penerimaan Diri Pada Remaja Puteri Penderita Lupus. Psikodimensia, 14(1), 67–86.
[5] Cutrona, C. E., & Russell, D. W. (1990). Type of social support and specific stress: Toward a theory of optimal matching. Social Support: An Interactional View., January, 319–366.
[6] Dienillah, A. N., & Chotidjah, S. (2021). Dukungan sosial bagi penderita lupus: Dapatkah menjadi moderator bagi efek penerimaan diri terhadap rasa syukur? Jurnal Psikologi Sosial, 19(1), 89–98. https://doi.org/10.7454/jps.2021.10
[7] Hibatullah, M. H., Sitasari, N. W., & M, S. (2018). Hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan penerimaan diri pada penderita lupus. Digilib.Esaunggul, 1–10. https://digilib.esaunggul.ac.id/hubungan-dukungan-sosial-dengan-penerimaan-diri-pada-penderita-lupus-9895.html
[8] Hurlock, E.B. (2006). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
[9] InfoDatin Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. (2017). Situasi Lupus di Indonesia. In Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (pp. 1–6).
[10] Jordan J, Thompson Nj, Dunlop-Thomas C, Sam Lim S, D. C. (2019). 乳鼠心肌提取 HHS Public Access. Physiology & Behavior, 46(2), 248–256. https://doi.org/10.1177/0961203318815573.Relationships
[11] Kasjmir, Y. I., Handono, K., Wijaya, L. K., Hamijoyo, L., Albar, Z., Kalim, H., Hermansyah, Kertia, N., Achadiono, D. N. W., Manuaba, I. A. R. W., Suarjana, N., Sumartini, D., & Ongkowijaya, J. A. (2011). Rekomendasi Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. In Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
[12] Laeli, S. A. (2016). Pengalaman Sakit Pada Penderita Lupus : Interpretative Phenomenological Analysis. Jurnal Empati, 5(3), 566–571. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/view/15409/14901
[13] Lestari, R. L., Nasution, T. H., Wibisono, A. H., Jannah, M., Widiyanti, U. N., & Dewi, E. S. (2021). Hubungan Tingkat Penerimaan diri dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Pasien Lupus di Yayasan Kupu Parahita Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan, 49(4), 215–222. https://doi.org/10.22435/bpk.v49i4.3822
[14] Novianty, M. E. (2014). Penerimaan Diri dan Daya Juang Pada Wanita Penderita Systhemic Lupus Erythematosus (SLE). Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(1), 28–33. https://doi.org/10.30872/psikoborneo.v2i1.3570
[15] Nurmalasari, Y., & Putri, D. E. (2015). Dukungan Sosial dan Harga Diri pada Remaja Penderita Lupus. Jurnal Psikologi, 8(100), 46–51.
[16] Prastiwi, T., & Febri. (2013). Developmental and Clinical Psychology. Kualitas Hidup Penderita Kanker, 1(1), 21–27.
[17] Sugiono. (2017). Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi dan R&D (3rd ed). Alfabeta
[18] Sumariyono, S. et al. (2019). Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. In The American Journal of Nursing (Vol. 53, Issue 10, p. 113). Perhimpunan Reumatologi Indonesia. https://doi.org/10.2307/3460461
[19] Tanzilia, M. F., Tambunan, B. A., & Dewi, D. N. S. S. (2021). Tinjauan Pustaka: Patogenesis Dan Diagnosis Sistemik Lupus Eritematosus. Syifa’ MEDIKA: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 11(2), 139. https://doi.org/10.32502/sm.v11i2.2788
[20] Ugarte-Gil, M. F., González, L. A., & Alarcón, G. S. (2019). Lupus: the new epidemic. Lupus, 28(9), 1031–1050. https://doi.org/10.1177/0961203319860907
[21] Widiantari, I. A., & Valentina, T. D. (2023). Hubungan antara dukungan sosial keluarga dan penerimaan diri individu dengan lupus. Jurnal Psikologi Udayana, 10(1), 223. https://doi.org/10.24843/jpu.2023.v10.i01.p02
[22] Wijayanti, D., Psikologi, P. S., & Samarinda, U. M. (2015). Subjective Well-Being Dan Penerimaan Diri Ibu Yang. Psikoborneo, 3(2), 224–238.
[23] Wilson, C., & Stock, J. (2019). The impact of living with long-term conditions in young adulthood on mental health and identity: What can help? Health Expectations, 22(5), 1111–1121. https://doi.org/10.1111/hex.12944
[24] Zimet, G. D., Dahlem, N. W., Zimet, S. G., & Farley, G. K. (1988). The Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Journal of Personality Assessment, 52(1), 30–41. https://doi.org/10.1207/s15327752jpa5201_2
Published
2024-08-05