Studi Deskriptif Regulasi Emosi pada Mahasiswa di Kota Bandung
Abstract
Abstract. The issues faced by students encompass various academic pressures, such as the burden of assignments, exams, and the demand to achieve high performance. Additionally, social pressures, including social interactions, interpersonal relationships, and adjustment to new environments, also impact their emotional regulation. Individuals experiencing crises and unable to cope may encounter emotional instability. Therefore, effective emotional regulation skills are necessary. This phenomenon highlights the importance of developing emotional regulation as a skill to support academic success and personal well-being. Furthermore, it is a crucial transitional period in which individuals learn to become independent and develop their identities. Bandung, as one of the largest educational cities in Indonesia, is a relevant location for studying emotional regulation among students. The aim of this research is to provide an overview of the level of emotional regulation in Bandung. This study employed convenience sampling to collect data from 356 respondents (110 males and 246 females) among students in Bandung aged between 18-25 years. The instrument used to measure emotional regulation was the Indonesian version of the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), adapted by Radde, Nurrahmah, Nurhikmah, and Saudi (2021). The research method utilized was descriptive statistical analysis with a quantitative approach. The results indicate that the majority of students in Bandung possess a high level of emotional regulation, at 76.1%.
Abstrak. Permasalahan yang dihadapi mahasiswa mencakup berbagai tekanan akademik seperti beban tugas, ujian, dan tuntutan untuk mencapai prestasi tinggi. Selain itu, tekanan sosial seperti pergaulan, hubungan interpersonal, dan penyesuaian diri dengan lingkungan baru juga turut mempengaruhi regulasi emosi mereka. Individu yang mengalami krisis dan tidak mampu mengatasinya dapat mengalami ketidakstabilan emosional. Oleh karena itu, diperlukan keterampilan regulasi emosi yang baik. Fenomena ini menunjukkan pentingnya regulasi emosi sebagai keterampilan yang perlu dikembangkan untuk mendukung kesuksesan akademik dan kesejahteraan pribadi mahasiswa. Serta periode transisi yang krusial dalam kehidupan seseorangndividu belajar untuk mandiri dan mengembangkan identitasnya. Kota Bandung, sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia, menjadi lokasi yang relevan untuk meneliti regulasi emosi pada mahasiswa. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran tingkat regulasi emosi di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling untuk mengumpulkan data dari 356 responden (110 laki-laki dan 246 perempuan pada mahasiswa di kota Bandung yang berusia antara 18-25 tahun. Instrumen yang digunakan untuk mengukur regulasi emosi adalah Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) versi bahasa Indonesia dari alat ukur ini diadaptasi oleh Radde, Nurrahmah, Nurhikmah, dan Saudi (2021). Metode penelitian yang digunakan adalah studi statistic deskriptif dengan metode kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa di Kota Bandung memiliki kemampuan regulasi emosi yang tinggi sebesar 76.1%.
References
[2] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, -. (2020). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/3514/
[3] Bocknek, E. L., Brophy‐Herb, H. E., & Banerjee, M. (2009). Effects of parental supportiveness on toddlers’ emotion regulation over the first three years of life in a low‐income African American sample. Infant Mental Health Journal, 30(5), 452–476. https://doi.org/10.1002/imhj.20224
[4] Doygun, O., & Gulec, S. (2012). The Problems Faced by University Students and Proposals for Solution. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 47, 1115–1123. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012.06.788
[5] egsaugm. (2020, November 27). Darurat Kesehatan Mental bagi Remaja – Environmental Geography Student Association. https://egsa.geo.ugm.ac.id/2020/11/27/darurat-kesehatan-mental-bagi-remaja/
[6] Fridovich, I., Poole, L. B., Holmgren, A., Lou, M. F., Gladyshev, V. N., David, S. S., Osborne, R. L., Dawson, J. H., Copley, S. D., Kadokura, H., Beckwith, J., Gilbert, H. F., & Ragsdale, S. W. (2007).
[7] Antioxidant Enzymes. In Redox Biochemistry (pp. 49–134). John Wiley & Sons, Ltd. https://doi.org/10.1002/9780470177334.ch3
[8] Gross, J. J. (Ed.). (2014). Handbook of emotion regulation, 2nd ed (pp. xviii, 669). The Guilford Press.
[9] Hulukati, W., & Djibran, M. R. (2018). ANALISIS TUGAS PERKEMBANGAN MAHASISWA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO. Jurnal Bikotetik (Bimbingan Dan Konseling: Teori Dan Praktik), 2(1), 73–80. https://doi.org/10.26740/bikotetik.v2n1.p73-80
[10] Indah, D. R., Kamala, I., & Anggraini, H. (2020). REGULASI EMOSI PADA MAHASISWA SELAMA PROSES PEMBELAJARAN DARING DI PROGRAM STUDI PG-PAUD FKIP UPR. 16(2).
[11] Kesyha, P., Tarigan, T. B., Wayoi, L., & Novita, E. (2024). Stigma Kesehatan Mental Dikalangan Mahasiswa. 06 (02).
[12] Margaretta, E. E., & Risnawaty, W. (2021). The Role of Family Functioning in Emotional Regulation Among Undergraduate Students. 993–999. https://doi.org/10.2991/assehr.k.210805.156
[13] Media, K. C. (2019, October 12). “20 Persen Mahasiswa di Bandung Berpikir Serius untuk Bunuh Diri...” Halaman all. KOMPAS.com. https://regional.kompas.com/read/2019/10/12/19563181/20-persen-mahasiswa-di-bandung-berpikir-serius-untuk-bunuh-diri
[14] PDDikti—Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. (n.d.). Retrieved January 15, 2024, from https://pddikti.kemdikbud.go.id/
[15] Philippot, P., & Feldman, R. S. (Eds.). (2004). The Regulation of Emotion (0 ed.). Psychology Press. https://doi.org/10.4324/9781410610898
[16] Radde, H. A., & Saudi, A. N. A. (2021). Uji Validitas Konstrak dari Emotion Regulation Questionnaire Versi Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Confirmatory Factor Analysis.
[17] Ratnasari, S., & Suleeman, J. (2017). Perbedaan Regulasi Emosi Perempuan dan Laki-Laki di Perguruan Tinggi. Jurnal Psikologi Sosial, 15(1), 35–46. https://doi.org/10.7454/jps.2017.4
[18] Retnowati, S., Widhiarso, W., & Rohmani, K. W. (n.d.). PERANAN KEBERFUNGSIAN KELUARGA PADA PEMAHAMAN DAN PENGUNGKAPAN EMOSI.
[19] Saifullah, S., & Djuwairiyah, D. (2019). PERAN KEBERFUNGSIAN SISTEM KELUARGA PADA REGULASI EMOSI REMAJA. Maddah : Jurnal Komunikasi dan Konseling Islam, 1(2), 82–93. https://doi.org/10.35316/maddah.v1i2.510
[20] Santrock, Jhon W. (2011). Life – Span Development : Perkembangan Masa Hidup, Edisi 13, Jilid II. Jakarta : Erlangga.
[21] Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Bisnis : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi dan R&D (3rd ed.). Alfabeta.
[22] Vidiawati, D., Iskandar, S., & Agustian, D. (2017). Masalah Kesehatan Jiwa pada Mahasiswa Baru di Sebuah Universitas di Jakarta. eJournal Kedokteran Indonesia, 5(1), 27–33. https://doi.org/10.23886/ejki.5.7399.27-33
[23] Yahya, M., & Bahri, S. (2016). IDENTIFIKASI MASALAH-MASALAH YANG DIALAMI MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK DAN EKONOMI UNSYIAH. Jurnal Suloh, 1(1), Article 1. https://jurnal.usk.ac.id/suloh/article/view/8257