Teknik Komunikasi Interpersonal Dokter dalam Edukasi Literasi Kesehatan Gigi

Authors

  • Muhammad Fathan Ayfa Syauqi Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia
  • Ani Yuningsih Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcspr.v6i2.25365

Keywords:

Teknik Komunikasi, Self-Diagnosis, Komunikasi Kesehatan

Abstract

Abstract. The phenomenon of self-diagnosis emerged alongside the rise of social media and the proliferation of information including health-related content which has led to misconceptions among some individuals. This study aims to explore in depth the interpersonal communication patterns employed by dentists when interacting with patients, particularly those who engage in self-diagnosis. A qualitative research method utilizing a case study approach was adopted. Data collection involved observation, interviews, and documentation, with dentists from the Unisba clinic and the N.P. Suryawati clinic serving as the research subjects. The findings indicate that interpersonal communication characterized by an empathetic, persuasive, and informative approach can alter the erroneous beliefs held by patients who self-diagnose. The study aims to encourage greater public awareness regarding oral health literacy and to foster a more critical attitude toward information of unverified validity.

Abstrak. Fenomena self-diagnosis merupakan suatu kejadian dimana mulai muncul pada saat berkembangnya media sosial dan banyaknya informasi tersebar termasuk informasi kesehatan yang mengakibatkan salah persepsi bagi sebagian orang. Tujuan dari penelitian ini adalah menggali secara mendalam pola komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh dokter gigi dalam berinteraksi dengan pasien, khususnya pasien yang berperilaku self-diagnosis. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan subjek penelitian adalah dokter gigi dari klinik Unisba dan klinik N.P. Suryawati. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa komunikasi interpersonal dengan pendekatan secara empatik, persuasif, dan informatif dapat merubah keyakinan yang salah dari pasien self-diagnosis. Dampak yang diharapkan dari penelitian ini adalah masyarakat umum bisa lebih peduli terhadap literasi kesehatan gigi dan tidak mudah termakan oleh informasi yang belum jelas validitasnya.

References

Adinda, R. (2022). Self Diagnosis: Pengertian, Ciri, Bahaya, dan Cara Mengatasinya.
Aji Muhawarman, S. M. (2025). 57 % Warga Alami masalah Gigi, Kemenkes Imbau segera tangani di Puskesmas. Kementerian Kesehatan.
Anggraini, C., Ritonga, D. H., Kristina, L., Syam, M., & Kustiawan, W. (2022). Komunikasi Interpersonal. Jurnal Multidisiplin Dehasen (MUDE), 1(3), 337–342. https://doi.org/10.37676/mude.v1i3.2611
Badan Litbang Kesehatan. (2018). Laporan Riskesdas 2018 Nasional.pdf. In Lembaga Penerbit Balitbangkes (p. hal 156).
Batubara, S. O., Wang, H. H., & Chou, F. H. (2020). Literasi Kesehatan: Suatu Konsep Analisis. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 5(2). https://doi.org/10.30651/jkm.v5i2.5683
Diwandita, K. J. (2025). Ketika Google Lebih Dipercaya: Self-Diagnosis Kesehatan Gigi di Era Digital (Oleh: Kalila Jasmine Diwandita).
Komdigi. (2025). Komitmen Pemerintah Melindungi Anak di Ruang Digital. Indonesia.Go.Id.
Lestari, D. B. (2024). Self-diagnosis Adalah Musuh bagi Mental Health Loh!
Organization, W. H. (2024). Kekuatan bercerita untuk dampak kesehatan.
Suatan, A. T., & Irwansyah, I. (2021). Studi Review Sistematis: Aplikasi Teori Disonansi Kognitif dan Upaya Reduksinya pada Perokok Remaja. JURNAL LENSA MUTIARA KOMUNIKASI, 5(1). https://doi.org/10.51544/jlmk.v5i1.1556

Published

2026-08-03