Bandung Conference Series: Pharmacy https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP <p><strong>Bandung Conference Series: Pharmacy </strong>merupakan wadah publikasi hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang Ilmu Farmasi yang telah dipresentasikan pada Seminar Nasional UNISBA yang diselenggarakan tahunan oleh UPT Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bandung. <strong><a title="BCSP" href="https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/" target="_blank" rel="noopener">BCSP</a> </strong>ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN <a title="ISSN BCSP" href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220215121121950">2828-2116</a> yang diterbitkan oleh <a title="UPT Publikasi" href="https://portal-publikasi.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">UPT Publikasi Ilmiah</a>,&nbsp;<a title="unisba" href="https://www.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Islam Bandung</a>. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-<em>indeks</em>&nbsp;di&nbsp;<a title="GS" href="https://scholar.google.com/citations?user=IdGxK-gAAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a>,&nbsp;<a title="Id Garuda" href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/27908" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a>,&nbsp;<a title="doi" href="https://search.crossref.org/?q=unisba&amp;from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">Crossref</a>, dan&nbsp;<a title="DOAJ" href="https://doaj.org/search/journals?ref=quick-search&amp;source=%7B%22query%22%3A%7B%22filtered%22%3A%7B%22filter%22%3A%7B%22bool%22%3A%7B%22must%22%3A%5B%7B%22terms%22%3A%7B%22bibjson.publisher.name.exact%22%3A%5B%22Universitas%20Islam%20Bandung%22%5D%7D%7D%5D%7D%7D%2C%22query%22%3A%7B%22query_string%22%3A%7B%22query%22%3A%22universitas%20islam%20bandung%22%2C%22default_operator%22%3A%22AND%22%2C%22default_field%22%3A%22bibjson.publisher.name%22%7D%7D%7D%7D%7D" target="_blank" rel="noopener">DOAJ</a>. &nbsp;Terbit setiap <strong>Maret</strong> dan <strong>September.</strong></p> UNISBA Press en-US Bandung Conference Series: Pharmacy 2828-2116 Formulasi Nanogel Kurkumin Berbasis Alginat Dialdehid https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16155 <p><strong>Abstract.</strong> Breast cancer is one of the leading causes of death among women in Indonesia. Current chemotherapy treatments often cause toxicity and have low drug bioavailability. This study aims to develop a curcumin nanogel formulation based on dialdehyde alginate as an alternative therapy for breast cancer. Curcumin, which possesses antioxidant and anticancer activities, was formulated using a nanoemulsion encapsulation technique. Dialdehyde alginate obtained through an oxidation process was used to enhance gel stability. The nanogel was evaluated based on particle size, polydispersity index (PDI), and zeta potential. The results showed that the best formula produced particle sizes below 1000 nm (polymeric nanoparticles), PDI values &lt; 0.5, and a zeta potential approaching ±30 mV. The drug release system was controlled, potentially improving the effectiveness of cancer therapy. This nanogel formulation offers an innovative natural-based approach utilizing nanotechnology to overcome the limitations of chemotherapy. Furthermore, this formulation provides advantages such as high penetration, biocompatibility, and biodegradability, making it safe for topical applications. With promising evaluation results, this study makes a significant contribution to the development of nanotechnology-based pharmaceutical preparations, offering a more effective and safer alternative therapy for cancer in the future.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian pada wanita di Indonesia. Pengobatan kemoterapi yang tersedia saat ini sering menimbulkan toksisitas dan memiliki bioavailabilitas obat yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi nanogel kurkumin berbasis alginat dialdehid sebagai alternatif terapi kanker payudara. Kurkumin, yang memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker, diformulasikan menggunakan teknik enkapsulasi nanoemulsi. Alginat dialdehid yang diperoleh melalui proses oksidasi digunakan untuk meningkatkan stabilitas gel. Evaluasi nanogel meliputi analisis ukuran partikel, indeks polidispersitas (PDI), dan zeta potensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terbaik menghasilkan ukuran partikel di bawah 1000 nm (nanopartikel polimerik), nilai PDI &lt; 0,5, dan zeta potensial mendekati ±30 mV. Sistem pelepasan obat berlangsung secara terkendali, yang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas terapi kanker. Formulasi nanogel ini menawarkan pendekatan inovatif berbasis bahan alam dengan memanfaatkan teknologi nanoteknologi untuk mengatasi keterbatasan pengobatan kemoterapi. Selain itu, formulasi ini memiliki keunggulan berupa penetrasi tinggi, biokompatibilitas, dan biodegradabilitas yang membuatnya aman untuk aplikasi topikal. Dengan hasil evaluasi yang menjanjikan, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan sediaan farmasi berbasis nanoteknologi, sehingga diharapkan dapat menjadi alternatif terapi kanker yang lebih efektif dan aman di masa mendatang.</p> Saviola Arlina Prima Putri Hanifa Rahma Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-25 2025-01-25 5 1 1 9 10.29313/bcsp.v5i1.16155 Sintesis Heksapeptida Siklik Analog Pipecolisporin sebagai Kandidat Antimalaria https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16446 <p><strong>Abstract. </strong>Malaria remains a global challenge with a significant increase in cases in various countries, including Indonesia. The resistance of <em>Plasmodium falciparum</em> to conventional antimalarial drugs has created an urgent need for new effective therapies. This study aims to synthesize cyclic hexapeptide analogs based on pipecolisporin (Ile – β-Ala – Trp – Pip – Arg – Pro) as potential antimalarial candidates. The method employed combines Solid Phase Peptide Synthesis (SPPS) to produce linear hexapeptides and Liquid Phase Peptide Synthesis (LPPS) for cyclization. The HATU-HOAt reagent was chosen for its ability to enhance efficiency and reduce the risk of epimerization during synthesis. The analog structure was designed by substituting leucine (Leu) residues with arginine (Arg) to optimize the balance between cationic properties and hydrophobicity relevant to antimalarial activity. The synthesis was carried out until the target compound was obtained, which was then characterized using HR-ToF-MS mass spectrometry, showing the presence of a molecular ion peak at m/z [M+H]<sup>+</sup> 735.5688, corresponding to the calculated mass of m/z [M+H]<sup>+</sup> 734.90. The results of the study demonstrate that pipecolisporin analogs can be successfully synthesized using this combined method.</p> <p><strong>Abstrak</strong>.&nbsp;Penyakit malaria masih menjadi tantangan global dengan peningkatan angka kasus yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Resistensi <em>Plasmodium falciparum</em> terhadap obat antimalaria konvensional menimbulkan kebutuhan mendesak akan terapi baru yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis analog heksapeptida siklik berbasis pipecolisporin (Ile – β-Ala – Trp – Pip – Arg – Pro) sebagai kandidat antimalaria. Metode yang digunakan adalah kombinasi <em>Solid Phase Peptide Synthesis</em> (SPPS) untuk membentuk heksapeptida linier dan <em>Liquid Phase Peptide Synthesis</em> (LPPS) untuk proses siklisasi. Reagen HATU-HOAt dipilih karena kemampuannya meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko epimerisasi selama sintesis. Struktur analog dirancang dengan substitusi residu leusin (Leu) menjadi arginin (Arg) untuk meningkatkan keseimbangan antara sifat kationik dan hidrofobisitas yang relevan dengan aktivitas antimalaria. Sintesis dilakukan hingga diperoleh senyawa target, yang kemudian dikarakterisasi menggunakan spektrometri massa HR-ToF-MS menunjukkan adanya puncak ion molekul pada m/z [M+H]<sup>+</sup> 735.5688, yang sesuai dengan massa yang dihitung pada m/z [M+H]<sup>+</sup> 734.90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analog pipecolisporin dapat disintesis dengan baik menggunakan metode kombinasi tersebut.</p> Nazilah Alifah Nety Kurniaty Rani Maharani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-28 2025-01-28 5 1 10 18 10.29313/bcsp.v5i1.16446 Pola Penggunaan dan Interaksi Obat pada Pasien Rawat Inap Sindrom Metabolik di RSUD Bandung Kiwari https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16483 <p class="s12"><span class="s13"><strong>Abstract</strong>.</span> <span class="s14">Metabolic syndrome is a significant global health issue, including in Indonesia, with a prevalence of 23.34% of the total population. This study aims to analyze the patterns of drug use and the depiction of harmful drug interactions in patients with metabolic syndrome at RSUD Bandung Kiwari during the period from January to December 2023. The method used is a non-experimental study with retrospective data collection from patient medical records. Samples were taken using total sampling techniques based on predetermined inclusion criteria. The results of the study indicate that the majority of patients with metabolic syndrome are women (65%), with the largest age group being in the range of 56-65 years (45%). The use of drug combinations, particularly Amlodipine, Atorvastatin, and Insulin, is the primary approach in managing metabolic syndrome. The most commonly found drug interaction is between Amlodipine and Atorvastatin, which interacts through pharmacokinetic mechanisms with a moderate severity level, potentially leading to rhabdomyolysis. Interactions between medications such as Ramipril, Furosemide, Glimepiride, and Insulin can be well managed, allowing patients to avoid serious complications.</span></p> <p class="s12"><span class="s13">Keywords: </span><span class="s15">Metabolic Syndrome, Cardiovascular, Drug Interactions, Patterns of Drug Use</span></p> <p class="s16">&nbsp;</p> <p class="s12"><span class="s13"><strong>Abstrak</strong>.</span> <span class="s14">Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan yang signifikan secara global, termasuk di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 23,34% dari total populasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan obat dan gambaran interaksi obat</span><span class="s14"> yang merugikan</span><span class="s14"> pada pasien sindrom metabolik di RSUD Bandung Kiwari selama periode Januari hingga Desember 2023. Metode yang digunakan adalah penelitian non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dari rekam medis pasien. Sampel diambil menggunakan teknik </span><span class="s14">total</span><span class="s14"> sampling berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien sindrom metabolik adalah wanita (65%), dengan kelompok usia terbanyak berada di rentang 56-65 tahun (45%). Penggunaan kombinasi obat, terutama Amlodipin, Atorvastatin, dan Insulin, menjadi pendekatan utama dalam pengelolaan sindrom metabolik. Gambaran interaksi obat yang paling umum ditemukan adalah antara amlodipin dan atorvastatin, yang berinteraksi melalui mekanisme farmakokinetik dengan tingkat keparahan moderat, berpotensi menyebabkan rhabdomyolisis. Interaksi antara obat-obatan seperti ramipril, furosemid, glimepiride, dan insulin dapat dikelola dengan baik, sehingga pasien tidak mengalami komplikasi serius</span><span class="s14">.</span></p> <p class="s12"><span class="s13">Kata Kunci: </span><span class="s13">Sindrom metabolik, Kardiovaskular, Interaksi Obat, Pola Penggunaan Oba</span><span class="s13">t</span></p> Raissa Firda Amanda Umi Yuniarni Suwendar Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-28 2025-01-28 5 1 19 27 10.29313/bcsp.v5i1.16483 Observasi Pelaksanaan Dispensing Aseptik Sediaan Steril di RSUD Bandung Kiwari https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16504 <p><strong>Abstract. </strong>Dispensing of sterile preparations is a series of changes in the form of drugs from their original condition to new products by dissolving or adding other ingredients which are carried out aseptically by pharmacists in health care facilities. The purpose of this study was to determine the implementation of aseptic dispensing of sterile preparations according to applicable standards. The research design conducted was observational with quantitative descriptive analysis. This research was conducted in the sterile room of Bandung Kiwari Hospital. Researchers made observations of facilities and infrastructure and observed the implementation of aseptic dispensing of sterile preparations compared to the SOP. Based on the results of observations of 9 routine production activities of dispensing parenteral nutrition preparations with a total of 391 TPN bags, the percentage of conformity of aseptic dispensing in the preparation stage includes hand washing procedures by 100% and the use of Personal Protective Equipment (PPE) by 63%, the mixing stage by 85%, the final stage includes cleaning the mixing room by 100% and dating Personal Protective Equipment (PPE) by 74%.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Dispensing sediaan steril adalah rangkaian perubahan bentuk obat dari kondisi semula menjadi produk baru dengan proses pelarutan atau penambahan bahan lain yang dilakukan secara aseptik oleh apoteker di sarana pelayanan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan dispensing aseptik sediaan steril sesuai standar yang berlaku. Desain penelitian yang dilakukan adalah observasional dengan Analisa deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di ruang steril RSUD Bandung Kiwari. Peneliti melakukan observasi terhadap sarana dan prasarana dan pengamatan pelaksanaan dispensing aseptik sediaan steril dibandingkan dengan SOP. Berdasarkan hasil observasi dari 9 kegiatan produksi rutin dispensing sediaan nutrisi parenteral dengan jumlah 391 <em>bag </em>TPN memperoleh persentase kesesuaian dispensing aseptik pada tahap penyiapan meliputi prosedur cuci tangan sebesar 100% serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sebesar 63%, tahap pencampuran sebesar 85%, tahap akhir meliputi pembersihan ruang pencampuran sebesar 100% serta penanggalan Alat Pelindung Diri (APD) sebesar 74%.</p> Annisa Nurul Husna Fetri Lestari Lanny Mulqie Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-28 2025-01-28 5 1 28 36 10.29313/bcsp.v5i1.16504 Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien terhadap Penyakit Diabetes dan Kepatuhan Penggunaan Antidiabetes di Puskesmas Kalipucang Kabupaten Pangandaran https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16679 <p><strong>Abstract.</strong> Diabetes is the third cause of death in Indonesia after stroke and coronary heart disease. Knowledge plays an important role not only in the prevention and early detection of this disease, but also in its future development. However, non-adherence to treatment plans presents complex challenges. The aim of this study was to determine the relationship between knowledge and medication adherence in diabetes patients. This research uses an analytical approach with a cross-sectional design. The target population included 660 people, of which 87 respondents were randomly selected based on inclusion and exclusion criteria. Data collection was carried out using the DKQ knowledge questionnaire and the MARS medication adherence questionnaire. Based on the results of the Spearman's rho test, the correlation between the level of knowledge of diabetes patients at the Kalipukan Pangandaran Community Health Center and diet compliance produced a p-value of 0.154, while the correlation with medication adherence showed a p-value. value 0.153. These findings indicate that there is no significant relationship between knowledge and adherence to taking medication in diabetes patients in the Kalipukan Community Health Center area. Health workers are encouraged to continue providing education and outreach to diabetes patients regarding their disease and treatment compliance through community-based activities such as health posts, integrated service posts, and home visits.<br><strong>Abstrak.</strong> Penyakit diabetes mellitus menjadi penyebab mortalitas ke tiga di Indonesia setelah penyakit stroke dan penyakit jantung coroner. Pengetahuan memainkan peran penting dalam setiap perkembangan penyakit di masa depan, pencegahan penyakit, dan deteksi dini. Kepatuhan terhadap rejimen terapi yang buruk merupakan masalah yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada penderita diabetes mellitus. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 660 orang dengan pengambilan sampel secara simple random sampling sebanyak 87 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner pengetahuan DKQ, dan minum obat MARS. Berdasarkan hasil uji Spearman Rho Hubungan tingkat pengetahuan penderita diabetes dengan kepatuhan diet di Puskesmas Kalipucang Pangandaran diperoleh hasil p value 0,154, minum obat p value 0,153. Tidak terdapat hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada penderita diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Kaipucang Pangandaran. Diharapkan petugas kesehatan terus selalu memotivasi dan memberikan edukasi kepada penderita diabetes mengenai penyakit diabetes dan kepatuhan dalam penggunaan obat melalui kegiatan pelayanan di luar gedung seperti kegiatan posbindu, posyandu dan kunjungan rumah.</p> Nissa Asri Reza Wardaningtyas Suwendar Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 37 46 10.29313/bcsp.v5i1.16679 Nano-Alfamangostin : Gelasi Ionik dan Karakterisasi https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16700 <p><strong>Abstract.</strong> Alpha-mangostin is a secondary metabolite isolated from mangosteen rind extract and is a xanthone derivative found in mangosteen rind (Garcinia mangostana L.) which has various pharmacological activities such as antioxidant, anticancer and anti-inflammatory. The use of alpha-mangostin as a therapeutic agent is limited due to its low solubility and limited bioavailability. This research aims to synthesize and characterize nano alpha-mangostin using the ionic gelation method. Synthesis was carried out by combining α-mangostin, chitosan, sodium tripolyphosphate (TPP), and alginate.</p> <p>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Nanoparticle characterization was carried out using Particle Size Analyzer (PSA), Transmission Electron Microscope (TEM), Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy, High-Performance Liquid Chromatography (HPLC), and zeta potential analysis. The results show that the nanoparticles in the study have an average size of 417,6 nm with a polydispersity index value of 1.704, which indicates quite good physical stability. Morphology using SEM and TEM interpreted the nanoparticles to be round in shape with a smooth surface, while FTIR analysis indicated successful interaction between α-mangostin and the polymer matrix. The percent content of encapsulated α-mangostin was 0.9%, and the zeta potential value of -31 mV indicated high electrostatic</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Alfa-mangostin adalah metabolit sekunder yang diisolasi dari ekstrak kulit buah manggis dan merupakan turunan xanthone&nbsp; yang terdapat dalam kulit buah manggis (<em>Garcinia mangostana </em>L.) yang memiliki berbagai aktivitas farmakologi seperti antioksidan, antikanker, dan antiinflamasi. Penggunaan alfa-mangostin sebagai agen terapeutik terbatas karena kelarutannya yang rendah dan bioavaibilitasnya yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi nano alfa-mangostin menggunakan metode gelasi ionik.</p> <p>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Sintesis dilakukan dengan menggabungkan α-mangostin, kitosan, natrium tripolifosfat (TPP), dan alginat. Karakterisasi nanopartikel dilakukan menggunakan <em>Particle Size Analyzer</em> (PSA), <em>Transmission Electron Microscope</em> (TEM), <em>Fourier Transform Infrared</em> (FTIR) spectroscopy, <em>High-Performance Liquid Chromatography</em> (HPLC), dan analisis zeta potensial. Hasil menunjukkan bahwa nanopartikel pada penelitian memiliki ukuran rata-rata 417,6 nm dengan nilai indeks polidispersitas 1,704 yang menunjukkan stabilitas fisik yang cukup baik. Morfologi menggunakan SEM dan TEM menginterpretasikan nanopartikel berbentuk bulat dengan permukaan halus, sedangkan analisis FTIR mengindikasikan keberhasilan interaksi antara α-mangostin dengan matriks polimer. Persen kadar α-mangostin yang terenkapsulasi adalah 0,9%, dan nilai zeta potensial -31 mV menunjukkan stabilitas elektrostatik yang tinggi.</p> Ulsana Siesi Alifah Taufik Muhammad Fakih Muchtaridi Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-29 2025-01-29 5 1 47 55 10.29313/bcsp.v5i1.16700 Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Eksokarp Buah Semangka Merah (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum & Nakai) terhadap Bakteri Propionibacterium acnes https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16762 <p><strong>Abstract.</strong> Acne vulgaris is a chronic inflammation of the pilosebaceous follicles caused by various factors, including genetics, hormones, diet, and environmental influences. One of the primary bacteria responsible for acne is <em>Propionibacterium acnes</em>. The use of conventional antibiotics to treat acne often leads to bacterial resistance. Therefore, this study aims to investigate the potential of watermelon (<em>Citrullus lanatus</em>) exocarp extract as a natural antibacterial alternative against <em>Propionibacterium acnes</em>. This research employs the maceration extraction method using 96% ethanol as a solvent to obtain active compounds from the watermelon exocarp. The antibacterial activity test was conducted using the agar well diffusion method against <em>Propionibacterium acnes</em>. The results showed that the watermelon exocarp extract exhibited inhibitory effects on <em>Propionibacterium acnes</em>, with moderate inhibition zones at concentrations of 20%, 21%, 25%, and 30%, measuring 8.1 mm, 8.5 mm, 9 mm, and 10.6 mm, respectively. Phytochemical analysis identified active compounds such as saponins, alkaloids, polyphenols, tannins, and flavonoids, which contribute to antibacterial activity. In conclusion, this study suggests that watermelon exocarp extract has potential as a natural antibacterial agent against <em>Propionibacterium acnes</em> and may be developed as an alternative natural acne treatment.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Acne vulgaris</em> merupakan peradangan kronis pada folikel polisebasea yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti genetik, hormon, diet, dan lingkungan. Salah satu bakteri utama penyebab jerawat adalah <em>Propionibacterium acnes</em>. Penggunaan antibiotik konvensional untuk mengatasi jerawat seringkali menimbulkan resistensi bakteri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekstrak eksokarp buah semangka (<em>Citrullus lanatus</em>) sebagai alternatif antibakteri alami terhadap <em>Propionibacterium acnes</em>. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi maserasi dengan pelarut etanol 96% untuk memperoleh senyawa aktif dari eksokarp buah semangka. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar cara sumuran terhadap <em>Propionibacterium acnes</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak eksokarp buah semangka memiliki daya hambat terhadap <em>Propionibacterium acnes</em> dengan zona hambat berkategori sedang pada konsentrasi 20%; 21%; 25% dan 30%, dengan zona hambat 8,1mm; 8,5mm; 9mm dan 10,6mm. Analisis fitokimia mengidentifikasi senyawa aktif seperti saponin, alkaloid, polifenol, tanin, dan flavonoid, yang berperan dalam aktivitas antibakteri. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak eksokarp buah semangka memiliki potensi sebagai antibakteri alami terhadap <em>Propionibacterium acnes</em> yang dapat dikembangkan sebagai alternatif obat antijerawat berbasis bahan alami.</p> Angelica Khusuma Wardani Livia Syafnir Yani Lukmayani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-30 2025-01-30 5 1 56 64 10.29313/bcsp.v5i1.16762 Analisis Kandungan Senyawa Metabolit Primer dalam Tepung Serangga untuk Pakan Kucing https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16774 <p><strong>Abstract.&nbsp;</strong>Insects are one option as an alternative protein source that can be utilized as an economical substitute raw material for making animal feed because they are cheap and easy to find and have nutritional content that is not inferior to other protein sources such as chicken. Cat nutritional requirements (Balance ration). Balance ration is the nutrients needed for cats every day for the growth and development physiological functions. The insect flour used from three types of insects, which is maggots, crickets and meal worm. The purpose of this study was to obtain data on primary metabolites contained in insect flour that can fulfill Balance Ration in animals focused on cats. The determination process of the three types of insects was carried out at the Faculty of Biology, Gadjah Mada University and obtained three species of insects, namely, maggot (Hermetia illucens), cricket (Teleogryllus mitratus) and Hongkong caterpillar (Tenebrio molitor) Insects are dried and pulverized to obtain powder or commonly called insect flour. Proximate analysis was carried out to determine the content of primary metabolites in insect flour and the results obtained from Hongkong caterpillar flour met the requirements with crude protein content of 52.6 %, fat 32.28 %, carbohydrates 9.69 %.</p> <p><strong>Abstrak.&nbsp;</strong>Serangga merupakan salah satu opsi sebagai sumber protein alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pengganti ekonomis untuk pembuatan pakan hewan karena harganya murah dan mudah ditemukan serta memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dengan sumber protein lain seperti ayam. Kebutuhan nutrisi kucing (<em>Balance ration</em>)<em>. Balance ration</em> merupakan nutrisi yang dibutuhkan bagi kucing setiap harinya untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai fungsi fisiologisnya Tepung serangga yang digunakan berasal dari ketiga jenis serangga berupa, maggot, jangkrik&nbsp; dan ulat hongkong. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh data metabolit primer yang terdapat dalam tepung serangga yang dapat memenuhi <em>Balance Ration</em> pada hewan yang terfokus untuk hewan kucing. Dilakukan proses determinasi terhadap ketiga jenis serangga di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada dan diperoleh ketiga spesies serangga yaitu, maggot (<em>Hermetia illucens</em>), jangkrik (<em>Teleogryllus mitratus</em>) dan ulat hongkong (<em>Tenebrio molitor</em>) Serangga dilakukan pengeringan dan penghalusan hingga diperoleh serbuk atau biasa disebut dengan tepung serangga. Dilakukan analisa proksimat untuk menentukan kandungan metabolit primer pada tepung serangga dan didapat hasil tepung ulat hongkong memenuhi persyaratan dengan kandungan protein kasar 52,6 %, lemak 32,28 %, karbohidrat 9,69 %.</p> Muhammad Rachman Alviannudin Gita Cahya Eka Darma Taufik Muhammad Fakih Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-30 2025-01-30 5 1 65 73 10.29313/bcsp.v5i1.16774 Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Alga Merah (Gracilaria sp.) dan Penetapan Kadar Fenol Total https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16871 <p><strong>Abstract.</strong> Indonesia has abundant biodiversity, including red algae (<em>Gracilaria</em> sp.) from the Rhodophyta division which has the potential as a source of bioactive compounds such as antioxidants. This study aims to determine the antioxidant activity and total phenol content produced by ethanol extract of red algae (<em>Gracilaria </em>sp.). This study used maceration extraction method with 96% ethanol solvent to obtain active compounds from red algae simplisia. Antioxidant activity was measured using DPPH (<em>1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl</em>) method through calculation of IC₅₀ value and total phenol content was analyzed by Folin-Ciocalteu method. The results obtained from this study are antioxidant activity obtained with IC₅₀ value of 2,521.2 ppm which is classified as very weak and total phenol content of 1.6729 mg GAE/g extract. Antioxidant activity has a relationship with total phenol content, namely the greater the total phenol content, the stronger the antioxidant strength.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, termasuk alga merah (<em>Gracilaria </em>sp.) dari divisi Rhodophyta yang berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif seperti antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan kadar fenol total yang dihasilkan oleh ekstrak etanol alga merah (<em>Gracilaria</em> sp.). Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi maserasi dengan pelarut etanol 96% untuk memperoleh senyawa aktif dari simplisia alga merah. Aktivitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2- pikrilhidrazil) melalui perhitungan nilai IC₅₀ dan kadar fenol total dianalisis dengan metode Folin-Ciocalteu. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah aktivitas antioksidan diperoleh dengan nilai IC₅₀ sebesar 2.521,2 ppm yang tergolong sangat lemah dan kadar fenol total sebesar 1,6729 mg GAE/g ekstrak. Aktivitas antioksidan mempunyai hubungan dengan kadar fenol total, yaitu semakin besar kadar fenol total maka, kekuatan antioksidannya semakin kuat.</p> Vie Angel Julia Livia Syafnir Vinda Maharani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-30 2025-01-30 5 1 74 82 10.29313/bcsp.v5i1.16871 Safety of Proton Pump Inhibitors in Patients with Cirrhosis: A Systematic Literature Review https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16925 <p><strong>Abstract.</strong> Drug safety is a very important concept in therapy, especially regarding the risk of Adverse Drug Reactions (ADRs). Proton Pump Inhibitors (PPIs) are one of the most widely prescribed drugs in the world with diverse indications such as gastritis, GERD, and peptic ulcers. However, the side effects of PPIs in cirrhosis are still a concern. This study aims to review the safety of PPI use in cirrhotic patients through a systematic literature review method. The results showed that the safety of PPI use in cirrhotic patients is associated with an increased risk of PPI side effects, worsening of the disease, and causing new diseases. However, further research is needed to evaluate mechanisms and strategies to prevent the risk of PPI side effects in cirrhotic patients.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kemanan obat merupakan konsep yang sangat penting dalam terapi, terutama terkait resiko Adverse Drug Reactions (ADRs). Proton Pump Inhibitor (PPI) merupakan salah satu obat yang paling banyak diresepkan di dunia dengan indikasi yang beragam seperti gastritis, GERD, dan tukak lambung. Namun, efek samping PPI pada sirosis masih menjadi perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau keamanan penggunaan PPI pada pasien sirosis melalui metode kajian literatur sistematik. Hasil penelitian menunjukkan keamanan penggunaan PPI pada pasien sirosis berhubungan dengan peningkatan resiko efek samping PPI, perburukan penyakit, hingga menimbulkan penyakit baru. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi mekanisme dan strategi pencegahan resiko efek samping PPI pada pasien sirosis.</p> Miyazaki Umar Fetri Lestari Bambang Tri Laksono Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-30 2025-01-30 5 1 83 91 10.29313/bcsp.v5i1.16925 Kajian Pemanfaatan Kulit Pisang sebagai Prebiotik Alami untuk Meningkatkan Kesehatan https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16931 <p><strong>Abstract.</strong> Banana peel has been recognized as a nutrient-rich source of polysaccharides and oligosaccharides with potential prebiotic activity. Components such as resistant starch, cellulose, and inulin can support the growth of probiotic bacteria. These compounds play a role in enhancing the growth of microorganisms such as <em>Lactobacillus</em> and <em>Bifidobacterium</em>, as well as increasing the production of short-chain fatty acids (SCFAs), which are beneficial for health. This study aims to evaluate the prebiotic potential of banana peel based on its variety, bioactive content, and the types of probiotic bacteria it supports. The review was conducted using a narrative descriptive literature review method, which involves collecting, analyzing, and synthesizing information from various scientific sources. The findings indicate that the resistant starch and inulin content in banana peel effectively promote the growth of <em>Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum</em>, and <em>Bifidobacterium longum</em>. Additionally, the prebiotic activity of banana peel has the potential to inhibit the growth of certain pathogenic bacteria, thereby contributing to microbiota balance in the digestive tract and skin health.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kulit pisang telah dikenal sebagai sumber nutrisi yang kaya polisakarida dan oligosakarida dengan potensi aktivitas prebiotik. Kandungan seperti pati resisten, selulosa, dan inulin mampu mendukung pertumbuhan bakteri probiotik. Senyawa-senyawa tersebut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme seperti <em>Lactobacillus</em> dan <em>Bifidobacterium</em>, serta meningkatkan produksi <em>short chain fatty acid</em> (SCFA) yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi prebiotik kulit pisang berdasarkan varietas, kandungan bioaktif, dan jenis bakteri probiotik yang didukung pertumbuhannya. Kajian ini dilakukan dengan metode tinjauan pustaka secara naratif deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan, menganalisis, dan menyusun informasi dari berbagai sumber ilmiah terkait. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kandungan pati resisten dan inulin dalam kulit pisang efektif meningkatkan pertumbuhan <em>Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum</em>, dan <em>Bifidobacterium longum</em>. Selain itu, aktivitas prebiotik kulit pisang juga berpotensi menekan pertumbuhan bakteri patogen tertentu, sehingga berkontribusi terhadap keseimbangan mikrobiota dalam saluran pencernaan dan kesehatan kulit.</p> Debby Dwi Lestari Bertha Rusdi Umi Yuniarni Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 92 100 10.29313/bcsp.v5i1.16931 Literature Study of Methods for Determination of Retinol Levels in Topical Cosmetic Products https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16959 <p><strong>Abstract.</strong> Retinol is one of the whitening products in cosmetic product of the face that is circulating on the market and is obtained without a doctor's prescription. Retinol is widely used in topical preparations especially on the face because it has many benefits for the skin such as dark spots, anti-aging, improving skin structure, preventing acne, and as a comedolytic. According to BPOM, retinol can be used in topical preparations but must be at a safe level of 0.3%. Currently, many facial products contain retinol more than 0.3% without a doctor's prescription so it causes side effects. This study aims to conduct a literature review on the analysis method for determining retinol levels in topical preparations with the validation parameters. Based on the results of the literature, it is known that the analysis methods that can be used for the quantitative analysis of retinol in topical facial preparations are High-Performance Liquid Chromatography (HPLC), Spectrophotometer UV-Vis, and Voltammetry. The analysis methods that have good validation are HPLC and Spectrophotometry UV-Vis, this is characterized by all tested parameters meeting the requirements, while voltammetry has poor validation parameters because it only meets the value of linearity.</p> <p><strong>Abstrak.&nbsp;</strong>Retinol merupakan salah satu produk pemutih dalam sediaan kosmetika pada wajah yang beredar di pasaran dan didapatkan tanpa menggunakan resep Dokter. Retinol banyak digunakan dalam sediaan topikal khususnya pada wajah karena memiliki banyak manfaat untuk kulit seperti flek hitam, anti penuaan, memperbaiki struktur kulit, mencegah jerawat dan sebagai komedolitik. Menurut BPOM retinol dapat digunakan dalam sediaan topikal tetapi harus dalam kadar yang aman yaitu 0,3%. Namun saat ini banyak beredar banyak produk wajah yang mengandung retinol dengan kadar &gt; 0,3% tanpa menggunakan resep dokter sehingga menimbulkan efek samping yaitu peradangan kulit dan teratogenik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui metode analisis yang dapat digunakan untuk penentuan kadar retinol dalam sediaan topikal beserta parameter validasi metode analisisnya sehingga dapat bermanfaat dalam penggunaan kosmetika, informasi ilmiah, serta uji eksperimental. Berdasarkan hasil literatur diketahui bahwa metode analisis yang dapat digunakan untuk analisis kuantitatif senyawa retinol dalam sediaan topikal wajah adalah Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), Spektrofotometer UV-Vis dan Voltametri. Metode analisis yang memiliki validasi yang baik adalah KCKT dan Spektrofotometri UV-Vis hal ini ditandai dengan seluruh parameter yang diuji memenuhi persyaratan sedangkan voltametri memiliki parameter validasi kurang baik karena hanya memenuhi nilai linieritas.</p> Diana Afrhelia Farendina Suarantika Hanifa Rahma Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-30 2025-01-30 5 1 100 109 10.29313/bcsp.v5i1.16959 Formulasi Sampo Padat dari Ekstrak Etanol Daun Tin (Ficus carica L.) sebagai Antioksidan https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/16987 <p><strong>Abstract. </strong>Free radicals are atoms or molecules with unpaired electrons that are reactive and can cause adverse effects on the skin. The presence of free radicals in the hair or scalp can trigger hair loss and premature aging, such as the onset of gray hair. Antioxidants are able to stabilize free radicals. Tin leaf (<em>Ficus carica</em> L.) is known to have strong antioxidant activity. Tin leaf extract was obtained through maceration method using 70% ethanol solvent. This extract was then formulated into a solid shampoo preparation to help reduce free radicals in the hair and scalp. This study aims to measure the antioxidant activity of tin leaf extract, determine the best solid shampoo formula containing tin leaf extract, and test the antioxidant activity of the shampoo. Antioxidant activity test was conducted using 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) free radical method. The results showed that the ethanol extract of tin leaves had very strong antioxidant activity with an IC<sub>50</sub> value of 22.32 ± 0.43 ppm. All solid shampoo formulas with tin leaf extract gave good evaluation results based on organoleptic, pH, foam height, and hardness tests. The best formula is formula 5 with 15% tin leaf extract and 1% vitamin E, showing a percent inhibition value of 53.43%.</p> <p><strong>Abstrak.&nbsp;</strong>Radikal bebas adalah atom atau molekul dengan elektron tidak berpasangan sehingga bersifat reaktif dan dapat menyebabkan efek merugikan pada kulit. Keberadaan radikal bebas pada rambut atau kulit kepala dapat memicu kerontokan serta penuaan dini, seperti timbulnya uban. Antioksidan mampu menstabilkan radikal bebas. Daun tin (<em>Ficus carica</em> L.) diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Ekstrak daun tin diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak ini kemudian diformulasikan ke dalam sediaan sampo padat yang bertujuan sebagai antioksidan rambut. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur aktivitas antioksidan ekstrak daun tin, menentukan formula sampo padat terbaik yang mengandung ekstrak daun tin, dan menguji aktivitas antioksidan sampo tersebut. Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun tin memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC<sub>50</sub> sebesar 22,32 ± 0,43 ppm. Semua formula sampo padat dengan ekstrak daun tin memberikan hasil evaluasi yang baik berdasarkan uji organoleptik, pH, tinggi busa, dan kekerasan. Formula terbaik adalah formula 5 dengan kandungan 15% ekstrak daun tin dan 1% vitamin E, menunjukkan nilai persen inhibisi sebesar 53,43%.</p> Muh. Gipari Alfarisi Ratih Aryani Sani Ega Priani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-30 2025-01-30 5 1 110 120 10.29313/bcsp.v5i1.16987 Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Jambu Bol (Syzygium malaccense L.) https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17028 <p><strong>Abstract.</strong> Antioxidants are compounds that play a role in preventing and repairing damage to body cells caused by free radicals. Free radicals are unstable molecules that can cause damage to body cells. Guava bol (Syzygium malaccense L.) leaves are plant parts that contain phenolic and flavonoid compounds that have antioxidant activity. This study aims to isolate and characterise compounds from guava extract that have antioxidant activity through monitoring using DPPH solution. Extraction was done using soxhlet method with 70% ethanol solvent. Fractionation was carried out by liquid liquid extraction (ECC) method using n-hexane, ethyl acetate, and water solvents. Extracts and fractions were monitored using thin layer chromatography (KLT) and DPPH solution. Quantitative antioxidant activity testing was carried out by measuring IC50 using UV-Vis spectrophotometric method at a maximum wavelength of 516 nm. The test results showed IC50 values for ethanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction were 34.04 ppm; 60.32 ppm; 44.44 ppm; 45.65 ppm.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Antioksidan adalah senyawa yang berperan dalam mencegah dan memperbaiki kerusakan pada sel-sel tubuh akibat radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil dan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh. Daun jambu bol (Syzygium malaccense L.) adalah bagian tanaman yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa dari ekstrak jambu bol yang memiliki aktivitas antioksidan melalui pemantauan menggunakan larutan DPPH. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode soxhlet dengan pelarut etanol 70%. Fraksinasi dilakukan dengan metode ekstraksi caircair (ECC) menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan air. Ekstrak dan fraksi dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan dilakukan pemantauan dengan larutan DPPH. Pengujian aktivitas antioksidan secara kuantitatif dilakukan dengan mengukur IC50 menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 516 nm. Hasil pengujian menunjukkan nilai IC50 untuk ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air berturut-turut sebesar 34,04 ppm; 60,32 ppm; 44,44 ppm; 45,65 ppm.</p> Azzahra Rahmanita Kiki Mulkiya Yuliawati Livia Syafnir Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 121 127 10.29313/bcsp.v5i1.17028 Literature Search on the Potential Antioxidant Activity of All Organs of Kersen (Muntingia calabura L.) https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17108 <p><strong>Abstract.</strong> Kersen plant (<em>Muntingia calabura L.) </em>is one of the plants that has a natural source of antioxidants, such as flavonoids, phenolic compounds, tannins, saponins and triterpenoids. These compounds work by binding free radicals that can damage body cells, can prevent various degenerative diseases, such as cancer, heart disease, and premature aging. Research using the systematic literature search method aims to find information about the potential antioxidant activity of the entire kersen plant such as roots, bark, leaves, flowers and fruits. The literature search was conducted by looking for literature sources in the form of journals on online media. Collecting data, antioxidant activity test methods and various kinds of solvents used, the content of phytochemical compounds that have the potential as antioxidants, such as flavonoids, polyphenols, and vitamin C. Based on the literature search, it can be seen the data on the results of (Inhibitory Concentration 50%) IC50 from the kersen plant parts.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tanaman kersen <em>(Muntingia calabura </em>L.<em>) </em>merupakan salah satu tanaman yang memiliki sumber antioksidan alami, seperti <em>senyawa flavonoid</em>, <em>fenolik</em>, <em>tanin</em>, <em>saponin </em>dan <em>triterpenoid</em>. Senyawa-senyawa ini bekerja dengan cara mengikat radikal bebas yang dapat merusak sel-sel tubuh, dapat mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker, penyakit jantung, dan penuaan dini. Penelitian dengan metode penelusuran pustaka sistematis bertujuan untuk mencari informasi mengenai potensi aktivitas antioksidan dari keseluruhan tanaman kersen seperti akar, kulit batang, daun, bunga dan buah kersen. Penulusuran pustaka dilakukan dengan mencari sumber pustaka berupa jurnal pada media online. Mengumpulkan data, metode uji aktivitas antioksidan dan berbagai macam pelarut yang digunakan, kandungan senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai antioksidan, seperti <em>flavonoid</em>, <em>polifenol</em>, dan vitamin C. Berdasarkan penulusuran pustaka dapat dilihat data hasil <em>(Inhibitory Concentration </em>50%) IC50 dari bagian tanaman kersen.</p> Rida Farida Yani Lukmayani Livia Syafnir Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 128 135 10.29313/bcsp.v5i1.17108 Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Kulit Buah Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17255 <p><strong>Abstract.</strong> Flavonoids are secondary metabolite compounds with biological activities such as antioxidant, anti-inflammatory, and antimicrobial properties. These compounds are widely found in various parts of plants, including fruit peels. One potential source of flavonoids is the lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) fruit peel, which has been underutilized. This study aims to determine the total flavonoid content in lamtoro fruit peel using the UV-Vis spectrophotometry method with AlCl₃ reagent. The sample was extracted using 70% ethanol as a solvent through maceration, followed by total flavonoid content analysis by measuring absorbance at a wavelength of 428.25 nm. The results showed that lamtoro fruit peel contains a significant amount of flavonoids, with a total flavonoid content of 17.987%, indicating its potential as a natural antioxidant source.<br><strong>Abstrak.</strong> Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis, seperti antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Senyawa ini banyak ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan, termasuk kulit buah. Salah satu sumber flavonoid yang potensial adalah kulit buah lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit), yang selama ini kurang dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar flavonoid total dalam kulit buah lamtoro menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan reagen AlCl₃. Sampel diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70% melalui metode maserasi, kemudian dilakukan analisis kadar flavonoid total dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang 428,25 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit buah lamtoro mengandung flavonoid dalam jumlah yang cukup signifikan yaitu sebesar 17,987% yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami.</p> Fayza Khalida Yani Lukmayani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 136 144 10.29313/bcsp.v5i1.17255 Manajemen Regimen Terapi pada Pasien Tuberculosis Multidrug Resistan (TB-MDR) di Indonesia https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17260 <p><strong>Abstract. </strong>Drug-Resistant Tuberculosis is a big challenge in controlling tuberculosis in Indonesia. The resistance of&nbsp; Mycobacterium tuberculosis to Anti-Tuberculosis Drugs (OAT) causes increasing difficulties in treating this disease, especially in the case of Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB). This study aims to examine the TB-RO therapy regimen that applies in Indonesia through a descriptive analysis approach. The research process was carried out by searching, selecting and analyzing scientific literature from various trusted sources, taking into account inclusion and exclusion criteria. The research results show that since 2023, Indonesia has implemented several TB-RO therapy regimens, namely BPaLM (6 months), BPaL (6 months), 9 month regimen, and long-term regimen (18-24 months). The choice of regimen is based on the patient's condition, treatment history, and level of resistance to certain OAT. The BPaLM and BPaL regimens are the main choice for patients with MDR-TB, while the 9-month regimen and long-term regimen are intended for patients with special conditions or more widespread resistance.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO) merupakan tantangan besar dalam pengendalian tuberkulosis di Indonesia. Resistensi <em>Mycobacterium tuberculosis</em> terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) menyebabkan peningkatan kesulitan dalam penanganan penyakit ini, terutama dalam kasus <em>Multidrug-Resistant Tuberculosis</em> (MDR-TB). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji regimen terapi TB-RO yang berlaku di Indonesia melalui pendekatan analisis deskriptif. Proses penelitian dilakukan dengan pencarian, seleksi, dan analisis literatur ilmiah dari berbagai sumber terpercaya, dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2023, Indonesia telah menerapkan beberapa regimen terapi TB-RO, yaitu BPaLM (6 bulan), BPaL (6 bulan), regimen 9 bulan, serta regimen jangka panjang (18-24 bulan). Pemilihan regimen didasarkan pada kondisi pasien, riwayat pengobatan, serta tingkat resistansi terhadap OAT tertentu. Regimen BPaLM dan BPaL menjadi pilihan utama bagi pasien dengan TB-MDR, sementara regimen 9 bulan dan regimen jangka panjang diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi khusus atau resistansi lebih luas.</p> Tari Nur Fauziyantini Umi Yuniarni Lanny Mulqie Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 145 154 10.29313/bcsp.v5i1.17260 Identifikasi Enzim pada Maggot Black Soldier Flies (H.illucens) yang Telah Dikeringkan https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17463 <p><strong>Abstract.</strong> BSF <em>maggot</em> (Hermetia illucens) is the larva of the black soldier fly which is widely used as a waste bioconversion agent. This study aims to see the characterization and enzyme activity of amylase, protease, and lipase in dried BSF <em>maggot</em>. The determination of enzyme activity was carried out colorimetrically using a UV-Vis spectrophotometer. Identification of amylase enzyme was carried out using amylum and DNS reagent which was then measured absorbance at a wavelength of 540 nm. For protease enzyme, the test was carried out using casein and TCA (Trichloroacetic Acid) then, the absorbance was measured at a wavelength of 660 nm. In the lipase enzyme, the test was carried out using the Kwon and Rhee method and the absorbance was measured at a wavelength of 715 nm.The results of this study showed the presence of amylase enzyme activity in BSF <em>maggot</em> Freeze Drying (FD) of 0.0273 µg/ml and in BSF <em>maggot</em> oven (Ov) of 0.0298 µg/ml. The protease activity of BSF <em>maggot</em> FD and Ov was 0.2320 µg/ml &amp; 0.3808 µg/ml, respectively. Then, the lipase enzyme activity produced in BSF FD and Ov <em>maggot</em> amounted to 0.5756 µg/ml and 0.5686 µg/ml. Based on the results of this study, it shows that the characterization test on BSF maggot (water content &amp; ash content) meets the requirements and enzyme activity is not affected by the drying method.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Maggot</em> BSF (<em>Hermetia illucens)</em> merupakan larva dari lalat tentara hitam yang banyak dimanfaatkan sebagai agen biokonversi limbah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakterisasi dan aktivitas enzim amilase, protease, dan lipase pada <em>maggot</em> BSF yang telah dikeringkan. Penentuan aktivitas enzim dilakukan secara kolorimetri menggunakan spektrofotometer UV-Vis. &nbsp;Identifikasi enzim amilase dilakukan menggunakan amilum dan pereaksi DNS yang selanjutnya diukur absorbansi pada panjang gelombang 540 nm. Untuk enzim protease, pengujian dilakukan menggunakan kasein dan TCA (Trichloroacetic Acid) lalu, &nbsp;absorbansi diukur pada panjang gelombang 660 nm. Pada enzim lipase, pengujian dilakukan dengan menggunakan metode Kwon dan Rhee dan absorbansi diukur pada panjang gelombang 715 nm.Hasil dari penelitian ini menujukkan adanya Aktivitas enzim amilase pada <em>maggot</em> BSF <em>Freeze Drying</em> (FD) sebesar&nbsp; 0,0273 µg/ml dan pada <em>maggot</em> BSF oven (Ov) sebesar 0,0298 µg/ml. Pada aktivitas protease <em>maggot</em> BSF FD dan Ov masing-masing sebesar 0,2320 µg/ml &amp; 0,3808 µg/ml. Kemudian, aktivitas enzim lipase yang dihasilkan pada <em>maggot</em> BSF FD dan Ov sebesar 0,5756µg/ml dan 0,5686 µg/ml. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengujian karakterisasi pada maggot BSF (kadar air &amp; kadar abu) memenuhi syarat dan aktivitas enzim tidak dipengaruhi metode pengeringan.</p> Salma Awalya Putri Yuliani Vinda Maharani Dina Mulyanti Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 155 163 10.29313/bcsp.v5i1.17463 Identifikasi Senyawa Rhodamin B, Metanil Yellow, dan Malachite Green pada Minuman Sirup Serbuk dengan Menggunakan Metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17545 <p><strong>Abstract.</strong> This study aims to identify the presence of hazardous synthetic dyes such as Rhodamine B, Methanyl Yellow, and Malachite Green in powdered syrup beverages available on the market using Thin Layer Chromatography (KLT). These synthetic dyes are prohibited in food products due to their carcinogenic properties, which pose serious health risks. Sample collection was conducted by obtaining three types of powdered syrup products from various online stores. The identification results using KLT indicated that one syrup sample contained dyes suspected to be Rhodamine B, Methanyl Yellow, and Malachite Green, with <em>Rf</em> values close to those of standard references. This research is expected to provide valuable information to the public regarding the dangers of unsafe synthetic dyes in food products and to raise awareness of the importance of choosing safe, BPOM-registered products.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan zat pewarna sintetis berbahaya seperti Rhodamin B, Methanyl Yellow, dan Malachite Green dalam minuman sirup serbuk yang beredar di pasaran menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Pewarna sintetis tersebut dilarang penggunaannya dalam makanan karena sifatnya yang karsinogenik dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengumpulkan tiga jenis produk sirup serbuk dari berbagai toko online. Hasil identifikasi dengan KLT menunjukkan bahwa satu sampel sirup mengandung pewarna yang diduga Rhodamin B, Methanyl Yellow, dan Malachite Green dengan nilai <em>Rf</em> mendekati nilai baku pembanding. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya penggunaan pewarna sintetis yang tidak aman dalam produk pangan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya memilih produk yang aman dan telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).</p> Dita Yuriany Tanjung Taufik Muhammad Fakih Farendina Suarantika Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 164 169 10.29313/bcsp.v5i1.17545 Studi Literatur Pemanfaatan Koenzim Q10 sebagai Antioksidan https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17572 <p><strong>Abstract</strong>. Coenzyme Q10 (CoQ10) is a lipophilic antioxidant that plays an important role in cellular energy metabolism and protection against oxidative stress. As we age and increase exposure to external factors such as UV rays and pollution, coenzyme Q10 levels in the body decrease, which can lead to skin aging and various degenerative diseases. This study aims to determine the dosage form of coenzyme Q10 and the route of administration and to determine the number of doses of coenzyme Q10 that are commonly used. The method used in this research is a systematic literature study by analyzing various relevant scientific sources, including international and national journals related to the use of coenzyme Q10 as an antioxidant. The study results show that coenzyme Q10 can be administered orally, topically and intravenously, with each route having different effectiveness. Oral administration is the most common, with dosage forms such as tablets, capsules, softgels, and liquids, where ubiquinol is more easily absorbed than ubiquinone. Topical application of coenzyme Q10 has been shown to increase coenzyme Q10 levels in the epidermis, reduce free radicals, and protect the skin from oxidative stress and aging due to UV and pollution. Intravenous administration shows potential in reducing damage from heart and brain infarction, but no approved clinical formulation is available. The dosage commonly used varies from 30 mg to 3000 mg.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Koenzim Q10 (CoQ10) adalah antioksidan lipofilik yang berperan penting dalam metabolisme energi seluler dan perlindungan terhadap stres oksidatif. Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya paparan faktor eksternal seperti sinar UV dan polusi, kadar koenzim Q10 dalam tubuh menurun, yang dapat menyebabkan penuaan kulit dan berbagai penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk sediaan dari koenzim Q10 serta rute pemberiannya dan untuk mengetahui jumlah dosis dari koenzim Q10 yang biasa digunakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur sistematis dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan, termasuk jurnal internasional dan nasional terkait pemanfaatan koenzim Q10 sebagai antioksidan. Hasil kajian menunjukkan bahwa koenzim Q10 dapat diberikan melalui oral, topikal, dan intravena, dengan masing-masing rute memiliki efektivitas berbeda. Pemberian oral adalah yang paling umum, dengan bentuk sediaan seperti tablet, kapsul, softgel, dan cairan, di mana ubiquinol lebih mudah diserap dibandingkan ubiquinone. Aplikasi topikal koenzim Q10 terbukti meningkatkan kadar koenzim Q10 di epidermis, mengurangi radikal bebas, dan melindungi kulit dari stres oksidatif serta penuaan akibat UV dan polusi. Pemberian intravena menunjukkan potensi dalam mengurangi kerusakan akibat infark jantung dan otak, tetapi belum tersedia formulasi klinis yang disetujui. Dosis yang biasa digunakan beragam mulai dari 30 mg hingga 3000 mg.</p> Rahmalia Putri Hanifa Rahma Sani Ega Priani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 170 178 10.29313/bcsp.v5i1.17572 Studi Literatur Potensi Tanaman Bandotan (Ageratum conyzoides L.) sebagai Antidiabetes https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17591 <p>Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia (high blood glucose levels), which can occur due to insulin deficiency, insulin resistance, or both. The utilization of plants as traditional medicine or as an alternative treatment for diabetes is increasing over time, and also as an alternative approach that is easy to implement. Bandotan or Babadotan (<em>Ageratum conyzoides</em> L.) is one of the plants from the Asteraceae tribe that has long been used in the treatment of diabetes. The purpose of this study was to determine the potential of antidiabetic activity in bandotan plants and secondary metabolite compounds that are thought to have potential as antidiabetics. The research was conducted using the Systematic Literature Review method by collecting data from 17 articles and obtained from database search engines like <em>Google scholar</em>, <em>Science Direct</em>, <em>SpringerLink</em>, and <em>PubMed</em>. Data used from scientific articles are in the form of plant parts used, plant sources, extraction methods, types of solvents, test animals, test methods, effective doses of extracts and the amount of reduction in blood glucose levels. The results of in vivo and in vitro tests proved that bandotan plant parts such as flowers, leaves, stems and roots, can reduce blood glucose levels with various mechanisms of action. Bandotan plants (<em>Ageratum conyzoides</em> L.) contain a class of compounds, including flavonoids, alkaloids, tannins and saponins which are thought to have potential as antidiabetics.</p> Ajeng Fitriani Sri Peni Fitrianingsih Siti Hazar Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 179 187 10.29313/bcsp.v5i1.17591 Penghantaran Obat Senyawa Antioksidan dari Daun Tin (Ficus carica L) melalui Sistem Nanoformulasi https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17632 <p><strong>Abstract.</strong> Free radicals are reactive compounds that can cause damage to body tissues, including the skin. Antioxidants play a crucial role in neutralizing free radicals and preventing their negative effects. Fig leaves extract (<em>Ficus carica</em> L.) contains quercetin as its primary flavonoid, which has significant potential in combating free radicals and protecting the skin from oxidative stress. However, the limited water solubility of active compounds such as quercetin restricts their effectiveness in pharmaceutical and cosmetic applications. This study aims to evaluate the effectiveness of nanoformulation systems in enhancing bioavailability. The method used is a literature review examining various journals discussing the antioxidant activity of fig leaves and nano delivery systems. The findings indicate that nanoformulations can improve skin permeability, extend the release time of active compounds, and protect them from degradation. Thus, nanoformulation systems have the potential to be an innovative solution for enhancing the effectiveness of fig leaves extract in topical applications.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Radikal bebas merupakan senyawa reaktif yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh, termasuk kulit. Antioksidan berperan dalam menetralisir radikal bebas dan mencegah dampak negatifnya. Ekstrak daun tin (<em>Ficus carica</em> L.) mengandung kuersetin sebagai flavonoid utama dalam daun tin yang memiliki potensi besar dalam menangkal radikal bebas dan melindungi kulit dari stres oksidatif. Namun, keterbatasan kelarutan senyawa aktif, seperti kuersetin, dalam air membatasi efektivitasnya dalam aplikasi farmasi dan kosmetik. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem nanoformulasi dalam meningkatkan ketersediaan hayati. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan meninjau berbagai jurnal yang membahas aktivitas antioksidan daun tin dan sistem penghantaran nano. Hasil kajian menunjukkan bahwa nanoformulasi dapat meningkatkan permeabilitas kulit, memperpanjang waktu pelepasan senyawa aktif, serta melindunginya dari degradasi. Dengan demikian, sistem nanoformulasi berpotensi menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan efektivitas ekstrak daun tin dalam aplikasi topikal.</p> Shopy Zakia Nadila Ratih Aryani Hanifa Rahma Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 188 195 10.29313/bcsp.v5i1.17632 Studi Literatur Nanostructured Lipid Carriers (NLC) untuk Pengobatan Jerawat https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17691 <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN" style="font-size: 11.0pt;">Abstract.</span></strong><span lang="IN" style="font-size: 11.0pt;"> Acne is a chronic inflammatory disorder of the pilosebaceous unit. The first-line treatment for acne is topical medications made from synthetic compounds. However, synthetic compounds usually cause skin irritation, dryness and itching. To overcome these limitations, it can be done by encapsulating in lipid-based nano-delivery systems such as Nanostructured Lipid Carriers (NLC). This study aims to assess the formulation and characteristics of NLC containing anti-acne compounds. The method used was Systematic Literature Review (SLR) with articles taken from various reputable databases. The results of the literature review showed that NLC formulations containing anti-acne compounds were made with a combination of solid lipids, liquid lipids, and non-ionic surfactants. Characterization showed that the particle size of the NLCs was in the range of 158.4 to 762 nm, the polydispersity index (PDI) was less than 0.5, the zeta potential was in the range of -28.3 to -53.1 mV, and the sorption efficiency was in the range of 91.16% to 98.58%. Based on these results, NLCs containing anti-acne compounds show good physical stability and have the potential to increase the effectiveness of anti-acne compounds for topical application.</span></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Jerawat merupakan kelainan peradangan kronis pada unit pilosebaseus. Pengobatan lini pertama untuk jerawat adalah obat topikal yang terbuat dari senyawa sintetis. Namun senyawa sintesis biasanya menyebabkan iritasi kulit, kekeringan dan gatal. Untuk mengatasi keterbatasan ini, dapat dilakukan dengan mengenkapsulasi dalam sistem penghantaran nano berbasis lipid seperti <em>Nanostructured Lipid Carriers </em>(NLC). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji formulasi dan karakteristik NLC yang mengandung senyawa antijerawat. Metode yang digunakan yaitu <em>Systematic Literature Review </em>(SLR) dengan artikel yang diambil dari berbagai basis data bereputasi. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa formulasi NLC yang mengandung senyawa antijerawat dibuat dengan kombinasi lipid padat, lipid cair, dan surfaktan non-ionik. Karakterisasi menunjukkan ukuran partikel NLC berada dalam rentang 158,4 hingga 762 nm, indeks polidispersitas (PDI) kurang dari 0,5, zeta potensial dalam rentang -28,3 hingga -53,1 mV, dan efisiensi penjerapan dalam rentang 91,16% hingga 98,58%. Berdasarkan hasil tersebut, NLC yang mengandung senyawa antijerawat menunjukkan stabilitas fisik yang baik dan berpotensi meningkatkan efektivitas senyawa antijerawat untuk aplikasi topikal.</p> Muhammad Daffa Alfayruz Hanifa Rahma Budi Prabowo Soewondo Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 196 203 10.29313/bcsp.v5i1.17691 Penetapan Kadar Asam Retinoat dalam Sediaan Krim Wajah yang Dijual Bebas di Salah Satu Toko Kosmetik di Kota Bandung dengan Menggunakan Metode Kromatografi Lapis Tipis Preparatif dan Spektrofotometer UV-Vis https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17720 <p><strong>Abstract</strong>. Retinoic acid is a compound that is often added to facial creams because it can remove dead skin cells, giving a whitening effect to the skin. Retinoic acid has a dangerous risk to the skin, which can cause redness of the skin such as a burning sensation, and redness of the skin and can cause carcinogens if used for a long period of time for more than 6 months in a row. The samples used were 3 facial cream products circulating in the Bandung City area. This study was conducted qualitatively and quantitatively using thin layer chromatography methods to determine the content of retinoic acid in the sample, then for separation or isolation using the TLC-Preparative method and for determination of levels using UV-Vis spectrophotomer. The results showed that the levels of retinoic acid in sample A were 0.12%, sample B 0.25% and sample C 0.13%, where the use of retinoic acid is prohibited in cosmetics according to the latest BPOM regulations, and validation of the analysis method was carried out to test the performance of the analysis method. for the validation parameters tested include: linearity, accuracy and precision.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Asam retinoat adalah senyawa yang sering ditambahkan dalam kirm wajah karena dapat mengangkat sel – sel kulit mati sehingga memberikan efek putih pada kulit. Asam retinoat mempunyai resiko berbahaya pada kulit yaitu dapat menimbulkan kemerahan pada kulit seperti rasa terbakar, dan kemerahan pada kulit serta dapat mengakibatkan karsinogen jika digunakan dalam jangka waktu yang lama lebih dari 6 bulan secara berturut – tururut. Sampel yang digunakan adalah 3 produk krim wajah yang beredar di daerah Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis untuk menentukan kandungan asam retinoat dalam sampel, kemudian untuk pemisahan atau isolasi dengan metode KLT-Preparatif dan untuk penetapan kadar menggunakan spektrofotomer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukan kadar asam retinoat pada sampel A adalah 0,12%, sampel B 0,25% dan sampel C 0,13%, dimana penggunaan asam retinoat dilarang penggunaannya dalam kosmetik menurut peraturan BPOM terbaru, serta dilakukan validasi metode analisis untuk menguji kinerja metode analisis. untuk parameter validasi yang diuji diantaranya : linieritas, akurasi dan presisi.</p> Ruli Fauzyan Azhari Farendina Suarantika Taufik Muhammad Fakih Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 204 210 10.29313/bcsp.v5i1.17720 Kualitas Hidup Pengobatan Pasien Diabetes-Hipertensi di RSUD Bandung Kiwari https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/17845 <p><strong>Abstract</strong>. Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease that often co-occurs with hypertension as a comorbidity. This metabolic disease affects changes in the patient's quality of life. This study aims to analyze the quality of life of patients with diabetes mellitus who also suffer from hypertension, considering the duration of treatment and the type of drug combination used. This study was conducted at Bandung Kiwari Hospital during the period November to December 2024 using a descriptive observational approach based on the cross-sectional method. Data were collected through the Diabetes Quality of Life Brief Clinical Inventory (DQoL-BCI) questionnaire, which evaluates the physical, psychological, and social and environmental aspects of patients. The results showed that patients who used a combination of three drugs metformin, captopril, and amlodipine had a better quality of life than other groups, with an average score of 74.17, which was in the good enough category, in addition, the duration of treatment for 5-10 years showed a better quality of life than other groups with an average score of 61.83.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Diabetes melitus adalah penyakit metabolik kronis yang sering kali muncul bersamaan dengan hipertensi sebagai penyakit penyerta. Penyakit metabolik ini berpengaruh dalam perubahan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas hidup pasien diabetes melitus yang juga menderita hipertensi, dengan mempertimbangkan durasi pengobatan serta jenis kombinasi obat yang digunakan. Studi ini dilakukan di RSUD Bandung Kiwari selama periode November hingga Desember 2024 menggunakan pendekatan observasional deskriptif berbasis metode <em>cross-sectional</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner <em>Diabetes Quality of Life Brief Clinical Inventory</em> (DQoL-BCI), yang mengevaluasi aspek fisik, psikologis, serta hubungan sosial dan lingkungan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan kombinasi tiga obat metformin, captopril, dan amlodipin memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan kelompok lain, dengan skor rata-rata 74,17, yang termasuk kategori cukup baik, selain itu, durasi pengobatan selama 5-10 tahun menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan kelompok lain dengan skor rata rata 61.83.</p> Rifa Tazkiatul Kusmawan Umi Yuniarni Bambang Tri Laksono Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-01-31 2025-01-31 5 1 211 218 10.29313/bcsp.v5i1.17845 Analisis Manfaat Jahe Merah, Madu, dan Lemon dalam Fortifikasi Kombucha sebagai Antidislipidemia https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/18066 <p><strong>Abstract.</strong> Obesity and dyslipidemia are global health issues that require alternative approaches for their management. Kombucha, a tea-based fermented beverage, is known to have health benefits, particularly as an antidyslipidemic agent. This study aimed to evaluate the formulation of second-fermentation kombucha fortified with red ginger, honey, and lemon. The kombucha was fortified through a two-stage fermentation process. Physical characteristics were evaluated through organoleptic tests, homogeneity, pH, specific gravity, alcohol content, and hedonic tests. Antidyslipidemic activity was tested using Wistar rats induced with a high-fat diet. Data on HDL and triglyceride levels were analyzed using ANOVA. The results showed that the best formulations were formulas 3, 4, and 6, based on physical evaluation and hedonic tests. However, formula 3 had a greater effect on increasing HDL levels and reducing triglyceride levels compared to formulas 4 and 6. This was attributed to the higher lemon content in formula 3, which increased flavonoid and citric acid levels, playing a role in reducing triglycerides and increasing HDL cholesterol. ANOVA analysis indicated significant differences between groups (p &lt; 0.05). In conclusion, kombucha fortified with red ginger, honey, and lemon has potential as a non-pharmacological alternative for dyslipidemia management.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Obesitas dan dislipidemia merupakan masalah kesehatan global yang membutuhkan pendekatan alternatif untuk pengelolaannya. Kombucha, minuman fermentasi berbasis teh, diketahui memiliki manfaat kesehatan, khususnya sebagai antidislipidemia. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi formulasi kombucha fermentasi kedua yang difortifikasi dengan jahe merah, madu, dan lemon. Kombucha difortifikasi melalui fermentasi dua tahap. Evaluasi karakteristik fisik dilakukan dengan uji organoleptik, homogenitas, pH, bobot jenis, kadar alkohol, dan hedonik. Aktivitas antidislipidemia diuji menggunakan tikus Wistar yang diinduksi pakan tinggi lemak. Data hasil pengukuran kadar HDL dan trigliserida dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan formula terbaik adalah formula 3, 4, dan 6 berdasarkan evaluasi fisik dan uji hedonik. Namun, formula 3 memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap peningkatan kadar HDL dan penurunan kadar trigliserida dibandingkan formula 4 dan 6. Hal ini disebabkan kandungan lemon pada formula 3 yang lebih banyak, sehingga meningkatkan kadar flavonoid dan asam sitrat, yang berperan dalam menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kolesterol HDL. Analisis ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p &lt; 0,05). Kesimpulan, kombucha fortifikasi dengan jahe merah, madu, dan lemon memiliki potensi sebagai alternatif non-farmakologi untuk pengelolaan dislipidemia.</p> Aprilia Utami 10060321049 Gita Cahya Eka Darma Siti Hazar Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-02-01 2025-02-01 5 1 219 228 10.29313/bcsp.v5i1.18066 Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Daun Mint (Mentha piperita L.) terhadap Mencit Galur BALB-C Jantan dengan Metode Proteksi dan Transit Intestinal https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/18138 <p><strong>Abstract. </strong>Diarrhea is a condition of defecation with a watery stool consistency three or more times in 24 hours. Antidiarrheal drugs that are sold freely are known to have limitations for use in children under 5 years of age. Therefore, other alternatives are needed to treat diarrhea that come from natural ingredients. One natural ingredient that can potentially be used as an antidiarrhea is mint leaves, which is based on its secondary metabolite content, namely tannin. This study aims to determine the effect of administering ethanol extract of mint leaves to male balb-c mice which were tested using 2 methods, namely the protection method and the intestinal transit method. In the protection method, Oleum ricini can reduce the frequency of defecation, increase stool consistency, and reduce stool weight. The intestinal transit method provides an antimotility effect on the intestine so that it can slow intestinal peristaltic movements and reduce the path length of the norit marker in the mouse intestine.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Diare adalah kondisi buang air besar dengan konsistensi feses yang encer sebanyak tiga kali atau lebih dalam 24 jam. Obat antidiare yang dijual secara bebas diketahui memiliki keterbatasan untuk digunakan pada anak usia dibawah 5 tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif lain dalam pengobatan diare yang berasal dari bahan alam. Salah satu bahan alam yang berpotensi dapat digunakan sebagai antidiare yaitu daun mint yang didasarkan pada kandungan metabolit sekundernya yaitu berupa tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian dari ekstrak etanol daun mint pada mencit galur balb-c Jantan yang diuji dengan 2 metode yaitu metode proteksi dan metode transit intestinal. pada metode proteksi <em>Oleum ricini </em>dapat menurunkan frekuensi defekasi, meningkatkan konsistensi feses, dan menurunkan bobot feses. Pada metode transit intestinal memberikan efek antimotilitas pada usus sehingga dapat memperlambat gerakan peristaltik usus dan mengurangi panjang lintasan penanda dari marker norit terhadap usus mencit.</p> Fajarudin ahmad 10060320136 Siti Hazar Fetri Lestari Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-02-01 2025-02-01 5 1 229 235 10.29313/bcsp.v5i1.18138 Pengujian Aktivitas Antioksidan dengan Menggunakan Metode DPPH dari Hidrolisat Protein Maggot BSF (Hermetia ilucens L.) https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/18208 <p><strong>Abstract.</strong> BSF maggot (<em>Hermetia illucens L</em>.) is an effective biodegradant in treating organic waste, producing high-value biomass rich in proteins known to have antioxidant activity. Oxidative stress due to the presence of free radicals is a common problem. This study aims to determine the antioxidant activity of Maggot BSF protein hydrolysate using DPPH method. The drying method used was freeze drying and oven, then the protein was hydrolyzed with alkalase, pepsin, and trypsin enzymes. The antioxidant activity testing method used DPPH method. The results of this study showed that antioxidant activity with IC<sub>50</sub> values on protein hydrolysates of alkalase, pepsin, and trypsin enzymes were 111.83 ppm; 17.05 ppm; and 71.74 ppm, respectively.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Maggot BSF</em> (<em>Hermetia illucens </em>L.) merupakan biodegradasi yang efektif dalam mengolah limbah organik, menghasilkan biomassa bernilai tinggi kaya akan protein yang diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Stress oksidatif karena adanya radikal bebas merupakan masalah yang sering terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan hidrolisat protein <em>Maggot BSF</em> dengan metode DPPH. Metode pengeringan yang digunakan adalah <em>freeze drying</em> dan oven, kemudian protein dihidrolisis dengan enzim alkalase, pepsin, dan tripsin. Metode pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan dengan nilai IC<sub>50</sub> pada hidrolisat protein enzim alkalase, pepsin, dan tripsin secara berturut-turut sebesar 111,83 ppm; 17,05 ppm; dan 71,74 ppm<em>.</em></p> Fahre Wicaksono Riyanto Vinda Maharani Patricia Yani Lukmayani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-02-02 2025-02-02 5 1 236 245 10.29313/bcsp.v5i1.18208 Literatur Review: Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Kulit Nanas https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/18211 <p><strong>Abstract.</strong> Pineapple peels (<em>Ananas comosus L. Merr</em>), which are often considered waste and rarely utilized, have great potential as a source of natural antioxidants. This literature study aims to assess the antioxidant activity of various pineapple peel extracts based on the extraction method and type of solvent used. Data were collected from various published studies and analyzed based on IC₅₀ values as an indicator of antioxidant power. The results showed that the extraction method and solvent type had a significant effect on antioxidant activity. Pineapple peel extract using reflux method on Queen variety showed the highest antioxidant activity with IC₅₀ value of 0.13 ppm. Meanwhile, the solvent with the highest antioxidant activity was obtained by the solvent with lower polarity among the various extraction methods. While at the fraction level, the strongest antioxidant activity was shown by the ethyl acetate fraction. This study confirms that pineapple peel has potential as a source of natural antioxidants that can be utilized in the food, pharmaceutical, and cosmetic industries.<strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kulit nanas (<em>Ananas comosus</em> L. Merr), yang sering dianggap limbah dan jarang dimanfaatkan, ternyata memiliki potensi besar sebagai sumber antioksidan alami. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan dari berbagai ekstrak dan fraksi kulit nanas berdasarkan berbagai macam metode ekstraksi dan jenis pelarut yang digunakan. Data dikumpulkan dari berbagai penelitian yang telah dipublikasikan dan dianalisis berdasarkan nilai IC<sub>50</sub> sebagai indikator kekuatan antioksidan. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan jenis pelarut memiliki pengaruh signifikan terhadap aktivitas antioksidan. Ekstrak kulit nanas dengan metode refluks pada varietas Queen menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC<sub>50</sub> sebesar 0,13 ppm. Sementara itu, pelarut yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi didapatkan oleh pelarut dengan polaritas yang lebih rendah diantara berbagai metode ekstraksi. Sedangkan pada tingkat fraksi, aktivitas antioksidan paling kuat ditunjukan oleh fraksi etil asetat. Studi ini menegaskan bahwa kulit nanas memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik.</p> Dalifa Fathiana Tartila Farendina Suarantika Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-02-02 2025-02-02 5 1 245 252 10.29313/bcsp.v5i1.18211 Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Maserasi Bertingkat Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.) dengan Metode DPPH https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSP/article/view/18244 <p><strong>Abstract.</strong> Oxidative stress is a state of imbalance between the production of reactive oxygen species (ROS) and antioxidant defense mechanisms. ROS can cause oxidative damage to cellular biomolecules including DNA, proteins, nucleic acids, and membrane lipids. Increased oxidative stress plays a major role in the occurrence of various degenerative diseases. Avocado seeds are known to contain compounds that act as antioxidants. This study aims to determine the antioxidant activity of avocado seed extract using the DPPH method. Extraction was carried out using multistage maceration using n-hexane, ethyl acetate and methanol as solvents. The research results showed that the n-hexane extract of avocado seeds showed an lC50 value of 59.319 ppm, the ethyl acetate extract of avocado seeds showed an lC50 value of 119.581 ppm and the methanol extract of avocado seeds had an lC50 of 93.392 ppm.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Stress oksidatif adalah keadaan yang tak seimbang antara produksi reactive oxygen species (ROS) dan mekanisme pertahanan antioksidan. ROS dapat mengakibatkan kerusakan oksidatif pada biomolekul seluler termasuk DNA, protein, asam nukleat, dan lipida membran. Peningkatan stres oksidatif sangat berperan pada terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Biji alpukat diketahui mengandung senyawa yang berperan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak biji alpukat menggunakan metode DPPH. Ekstraksi dilakukan secara maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan methanol. hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana biji alpukat menunjukkan nilai lC50 sebesar 59,319 ppm, ektrak etil asetat biji alpukat menunjukkan nilai lC50 sebesar 119,581 ppm dan ekstrak metanol biji alpukat memiliki lC50 sebesar 93,392 ppm.&nbsp;</p> Muhamad Nizarul Aqmal Kiki mulkiya Vinda Maharani Patricia Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Pharmacy 2025-02-02 2025-02-02 5 1 253 259 10.29313/bcsp.v5i1.18244