Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Teh Hijau (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus Penyebab Bau Kaki

Authors

  • Delfiana Aura Efrida Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung
  • Sani Ega Priani
  • Ratih Aryani

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcsp.v3i2.7950

Keywords:

Bau Kaki, Ekstrak Etanol Daun Teh Hijau, Antibakteri, Foot Odor, Ethanol Extract of Green Tea Leaves, Antibacterial

Abstract

Abstrak. Bau kaki dapat menandakan kehigienisan seseorang yang buruk dan berdampak pada hubungan sosial dengan menurunnya kepercayaan diri yang disebabkan oleh adanya bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) mengandung epigallocatechin gallate (EGCG) yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun teh hijau terhadap bakteri penyebab bau kaki. Telah dilakukan penetapan parameter standar simplisia daun teh hijau. Metode ekstraksi yang dilakukan yaitu metode refluks menggunakan pelarut etanol 96%. Dilakukan penapisan fitokimia pada simplisia dan ekstrak etanol daun teh hijau. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun teh hijau dilakukan dengan metode difusi sumuran agar. Penetapan parameter standar simplisia berupa parameter spesifik dan nonspesifik telah memenuhi persyaratan. Penapisan fitokimia simplisia dan ekstrak etanol daun teh hijau mengandung golongan senyawa berupa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, polifenolat, kuinon, monoterpen dan seskuiterpen, serta triterpenoid dan steroid. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun teh hijau terhadap bakteri penyebab bau kaki diperoleh nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sebesar 0,1%.

Abstract. Foot odor can indicate a person’s poor hygiene and impact social relationships with decreased self-confidence caused by the presence of Staphylococcus epidermidis and Staphylococcus aureus bacteria. Green tea leaves (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) contain epigallocatechin gallate (EGCG) which has antibacterial potential. This study aims to determine the antibacterial activity of ethanol extract of green tea leaves against bacteria that cause foot odor. Standard parameters of green tea leaf simplisia have been determined. The extraction method was carried out by reflux method using 96% ethanol solvent. Phytochemical screening was carried out on simplisia and ethanol extract of green tea leaves. The antibacterial activity test of ethanol extract of green tea leaves was carried out by the agar well diffusion method. Determination of standard parameters of simplisia in the form of specific and nonspecific parameters has met the requirements. Phytochemical screening of simplisia and ethanol extract of green tea leaves contains compound groups in the form of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, polyphenolates, quinones, monoterpenes and sesquiterpenes, as well as triterpenoids and steroids. The antibacterial activity of ethanol extract of green tea leaves against bacteria that cause foot odor obtained a Minimum Inhibitory Concentration (MIC) value of 0.1%.

References

[1] American Podiatric Medical Association, “Public opinion research on foot health and care,” pp. 3–6, 2014.
[2] T. Pickett, “Correlating the perception of foot odor and the amount of odorous,” MSc Thesis. North Carolina State Univeristy, 2017.
[3] M. Kanlayavattanakul and N. Lourith, “Body malodours and their topical treatment agents,” Int. J. Cosmet. Sci., vol. 33, no. 4, pp. 298–311, 2011, doi: 10.1111/j.1468-2494.2011.00649.x.
[4] K. Ara, M. Hama, S. Akiba, K. Koike, K. Okisaka, T. Hagura, T. Kamiya, and F. Tomita, “Foot odor due to microbial metabolism and its control,” Can. J. Microbiol., vol. 52, no. 4, pp. 357–364, 2006, doi: 10.1139/W05-130.
[5] D. G. Nagle, D. Ferreira, and Y. D. Zhou, “Epigallocatechin-3-gallate (EGCG): chemical and biomedical perspectives,” Phytochemistry, vol. 67, no. 17, pp. 1849–1855, 2006, doi: 10.1016/j.phytochem.2006.06.020.
[6] D. N. Paramita dan M. T. Wahyudi, “Uji efek antibakteri infusum teh hijau (Camellia sinensis) terhadap bakteri Staphylococcus aureus In Vitro,” Jurnal Medika Planta, vol. 1, no. 3. pp. 67–73, 2011.
[7] F. U. Sineke, E. Suryanto, dan S. Sudewi, “Penentuan kandungan fenolik dan sun protection factor (SPF) dari ekstrak etanol dari beberapa tongkol jagung (Zea mays L.),” Pharmacon, vol. 5, no. 1, pp. 279–280, 2016.
[8] A. Najib, A. Malik, A. R. Ahmad, V. Handayani, R. A. Syarif, dan R. Waris, “Standardisasi ekstrak air daun jati belanda dan teh hijau,” J. Fitofarmaka Indonesia, vol. 4, no. 2, pp. 241–245, 2017.
[9] N. N. Latifa, L. Mulqie, dan S. Hazar, “Penetapan kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol simplisia buah tin (Ficus carica L.),” Bandung Conf. Ser. Pharm., vol. 2, no. 2, 2022, doi: 10.29313/bcsp.v2i2.4575.
[10] M. P. Marpaung dan A. Septiyani, “Penentuan parameter spesifik dan nonspesifik ekstrak kental etanol batang akar kuning (Fibraurea chloroleuca Miers),” J. Pharmacopolium, vol. 3, no. 2, pp. 58–67, 2020.
[11] Depkes RI, Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2017.
[12] D. S. Hermawan, Y. Lukmayani, dan U. A. Dasuki, “Identifikasi senyawa flavonoid pada ekstrak dan fraksi yang berasal dari buah berenuk (Crescentia cujete L.),” Pros. Farm., vol. 2, no. 2, pp. 253–259, 2016.
[13] M. Balouiri, M. Sadiki, and S. K. Ibnsouda, “Methods for in vitro evaluating antimicrobial activity: a review,” J. Pharm. Anal., vol. 6, no. 2, pp. 71–79, 2016, doi: 10.1016/j.jpha.2015.11.005.
[14] S. L. Nurhayati, N. Yahdiyani, dan A. Hidayatulloh, “Perbandingan pengujian aktivitas antibakteri starter yogurt dengan metode difusi sumuran dan metode difusi cakram,” J. Teknol. Has. Peternak., vol. 1, no. (2), pp. 41–46, 2020, doi: 10.24198/jthp.v1i2.27537.
[15] R. B. Yanto, N. E. Satriawan, dan A. Suryani, “Identifikasi dan uji resistensi Staphylococcus aureus terhadap antibiotik (Chloramphenicol dan Cefoxime Sodium) dari pus infeksi piogenik di puskesmas proppo,” J. Kim. Ris., vol. 6, no. 2, p. 154, 2021, doi: 10.20473/jkr.v6i2.30694.
[16] P. Sujowardojo, T. E. Susilorini, dan G. R. B. Sirait, “Daya hambat dekok kulit apel (Malus sylvestrs mill.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp. penyebab mastitis pada sapi perah,” J. Ternak Trop., vol. 16 (2), pp. 40–48, 2015.
[17] S. P. Singh, A. Qureshi, and W. Hassan, “Mechanisms of action by antimicrobial agents: A review,” McGill J. Med., vol. 19, no. 1, 2021, doi: 10.26443/mjm.v19i1.217.
[18] I. Antarini, N. Puspawati, N., dan B. Nugroho, “Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanolik daun kelor (Moringa oleifera lamk), daun teh hijau (Camellia sinensis L.), daun binahong (Anredera cordifolio (Tenore) Steen.), dan meniran hijau (Phyllantuhus niruri L.) terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 2785,” J. Labora Med., vol. 5, pp. 48–56, 2021.

Downloads

Published

2023-08-27