https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/issue/feed Bandung Conference Series: Medical Science 2025-02-26T15:35:02+08:00 Unang Arifin uptpublikasi@unisba.ac.id Open Journal Systems <p>BCSMS merupakan wadah publikasi hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang Ilmu kesehatan masyarakat yang telah dipresentasikan pada Seminar Nasional UNISBA yang diselenggarakan tahunan oleh UPT Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bandung. <strong><a title="BCSMS" href="https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/" target="_blank" rel="noopener">BCSMS</a>&nbsp;</strong>ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220215411124923" target="_blank" rel="noopener">2828-2205</a> yang diterbitkan oleh <a title="UPT Publikasi" href="https://portal-publikasi.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">UPT Publikasi Ilmiah</a>,&nbsp;<a title="unisba" href="https://www.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Islam Bandung</a>. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-<em>indeks</em>&nbsp;di&nbsp;<a title="GS" href="https://scholar.google.com/citations?user=mhqRpYwAAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a>,&nbsp;<a title="Id Garuda" href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/26812" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a>,&nbsp;<a title="doi" href="https://search.crossref.org/?q=unisba&amp;from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">Crossref</a>, dan&nbsp;<a title="DOAJ" href="https://doaj.org/search/journals?ref=quick-search&amp;source=%7B%22query%22%3A%7B%22filtered%22%3A%7B%22filter%22%3A%7B%22bool%22%3A%7B%22must%22%3A%5B%7B%22terms%22%3A%7B%22bibjson.publisher.name.exact%22%3A%5B%22Universitas%20Islam%20Bandung%22%5D%7D%7D%5D%7D%7D%2C%22query%22%3A%7B%22query_string%22%3A%7B%22query%22%3A%22universitas%20islam%20bandung%22%2C%22default_operator%22%3A%22AND%22%2C%22default_field%22%3A%22bibjson.publisher.name%22%7D%7D%7D%7D%7D" target="_blank" rel="noopener">DOAJ</a>. &nbsp;Terbit setiap <strong>Maret</strong> dan <strong>September.</strong></p> https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/15967 Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Kadar Kolesterol pada Mencit yang Diberi Pakan Tinggi Lemak 2025-02-17T14:31:26+08:00 Belsa Umilka Jezmi belsaumilka@gmail.com RA Retno Ekowati drretnoekowati@gmail.com Ajeng Kartika Sari akuajengkartika@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong><span lang="IN"> Hypercholesterolemia is a condition when the total cholesterol level in the blood increases and the LDL cholesterol level in the blood exceeds the normal limit. High cholesterol levels can lead to various diseases such as heart disease and stroke. Treatment can be done with lifestyle changes and fasting such as dry intermittent fasting. This study was conducted to determine and analyze the effect of dry intermittent fasting on cholesterol levels in mice (Mus Musculus L) fed high-fat feed. The method used was pure laboratory experiment in vivo conducted with a complete randomized design. The subjects used were 28 adult male mice placed randomly into four groups: Group I, the group that did not do dry intermittent-fasting and received standard feed; Group II, the group that did not do dry intermittent-fasting and received high-fat feed; Group III, the group that did dry intermittent-fasting and received normal feed; Group IV, the group that did dry intermittent-fasting and received high-fat feed. This fasting is done in a 14:10 pattern, which is 14 hours of fasting (17.00-07.00 WIB) and 10 hours of feeding window for 30 days. The results of this study indicate that dry intermittent fasting can significantly reduce cholesterol levels in mice fed high-fat feed. During fasting there are changes in cholesterol metabolism that cause a decrease in blood cholesterol. The conclusion of this study is that dry intermittent fasting can significantly reduce cholesterol levels.</span></p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Hiperkolesterolemia adalah keadaan ketika kadar kolesterol total dalam darah meningkat dan kadar kolesterol LDL dalam darah melewati batas normal. Tingginya kadar kolesterol dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti, penyakit jantung dan stroke. Cara penanganan dapat dilakukan dengan perubahan gaya hidup dan puasa seperti&nbsp; puasa intermiten kering (<em>dry intermittent fasting</em>). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh puasa intermitent kering (<em>dry intermittent fasting)</em> terhadap kadar kolesterol pada mencit (<em>Mus Musculus L</em>) yang diberi pakan tinggi lemak. Metode yang digunakan eksperimental laboratorium murni <em>in vivo </em>yang dilakukan dengan adanya rancangan acak lengkap. Subjek yang digunakan adalah 28 mencit jantan dewasa yang ditempatkan secara acak menjadi empat kelompok : Kelompok I, yaitu kelompok yang tidak melakukan <em>dry intermittent-fasting</em> dan mendapat pakan standar; Kelompok II, yaitu kelompok yang tidak melakukan <em>dry intermittent-fasting</em> dan mendapat pakan tinggi lemak; Kelompok III, yaitu kelompok yang melakukan <em>dry intermittent-fasting</em> dan mendapat pakan normal; Kelompok IV, yaitu kelompok yang melakukan <em>dry intermittent-fasting</em> dan mendapat pakan tinggi lemak. Puasa ini dilakukan dengan pola 14:10, yaitu 14 jam puasa (pukul 17.00-07.00 WIB) &nbsp;dan 10 jam jendela makan selama 30 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dry intermittent fasting dapat menurunkan kadar kolesterol secara signifikan pada mencit yang diberi pakan tinggi lemak. Pada saat puasa terjadi perubahan metabolisme kolesterol yang menyebabkan penurunan kolesterol darah. Kesimpulan pada penelitian ini adalah puasa intermiten kering (<em>dry intermittent fasting</em>) dapat menurunkan kadar kolesterol secara signifikan.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16002 Gambaran Persepsi Mahasiswa Mengenai Problem Based Learning pada Mahasiswa Tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2023/2024 2025-02-20T15:17:18+08:00 Saskia Putri Ramadhanita Saskia.putri2002@gmail.com Yuniarti candytone26@gmail.com Rizki Perdana rizkifkunisba@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Perception is a cognitive process that everyone experiences that includes information about their environment, through sight, hearing, appreciation, touch and smell. Another cause that is able to influence PBL is students. Students' perceptions of PBL can influence their learning behavior and have an impact on whether or not PBL is successfully implemented in a learning context. The purpose of this study was to determine the relationship between student perceptions of problem-based learning among first-year students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung in the academic year 2023/2024. The subjects in this study were 1st year students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung academic year 2023/2024 with a total of 77 respondents. This study used a cross sectional method. The data of this study were collected through a questionnaire of student perceptions of problem-based learning (PBL) with the SPICES model, which previously tested the validity and reliability of the questionnaire. The results in this study showed that students' perceptions of PBL were at a moderate level as many as 39 people (50,6 %). Students' perceptions of PBL can affect their learning behavior and have an impact on whether or not the application of PBL in a learning context is successful.&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Persepsi adalah proses kognitif yang dialami setiap orang yang mencakup informasi tentang lingkungannya, melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, sentuhan, dan penciuman. Penyebab lain yang mampu untuk memengaruhi <em>PBL</em> adalah mahasiswa. Persepsi mahasiswa terhadap <em>PBL</em> dapat memengaruhi perilaku belajarnya dan berdampak pada berhasil atau tidaknya penerapan <em>PBL</em> dalam suatu konteks pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaram antara persepsi mahasiswa mengenai <em>problem based learning</em> pada mahasiswa tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun akademik 2023/2024. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun akademik 2023/2024 dengan jumlah responden yaitu sebanyak 77 orang. Penelitian ini menggunakan metode <em>cross sectional. </em>Data penelitian ini dikumpulkan melalui kuisioner persepsi mahasiswa terhadap <em>problem based learning</em> (<em>PBL</em>) dengan model <em>SPICES </em>yang sebelumnya dilakukan uji validitas dan reabilitas terhadap kuisioner tersebut<em>.</em> Hasil pada penelitian ini menunjukkan persepsi mahasiswa terhadap <em>PBL</em> yaitu berada pada tingkat sedang sebanyak 39 orang (50,6 %). Persepsi mahasiswa terhadap <em>PBL</em> dapat memengaruhi perilaku belajarnya dan berdampak pada berhasil atau tidaknya penerapan <em>PBL</em> dalam suatu konteks pembelajaran.&nbsp;</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16032 Gambaran Dispepsia Fungsional pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun 2024 2025-02-20T15:23:09+08:00 Ratu Adeline Adelineratu@gmail.com Meta Maulida Damayanti meta.fkunisba@gmail.com Nurul Romadhona nromadhonadr@gmail.com <p class="p1"><strong>Abstract</strong>. Functional dyspepsia is a common syndrome consisting of a disturbing and recurrent feeling of fullness after eating, early satiety, or pain/burning in the epigastrium. Functional dyspepsia can be caused by several factors, such as impaired gastric motility, gastric sensation, or inflammation of the stomach and duodenum. The purpose of this study was to determine the picture of functional dyspepsia in students of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung. The subjects of this study were female students of the Academic Stage of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung in the 2023/2024 Academic Year with a total of 98 respondents. This study used a quantitative design with a cross-sectional observational analytical method. Data were collected by administering a functional dyspepsia questionnaire based on the Nepean Dyspepsia Index which had been tested for validity and reliability. The results showed that there were six people (6.12%) who had functional dyspepsia, and the rest (93.88%) did not have functional dyspepsia. Some factors that can influence functional dyspepsia are age and body mass index.&nbsp;</p> <p class="p3"><strong>Abstrak.</strong> Dispepsia fungsional merupakan sindrom yang umum terjadi yang terdiri dari rasa penuh yang mengganggu dan berulang setelah makan, rasa cepat kenyang, atau nyeri/rasa terbakar di epigastrium. Dispepsia fungsional dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti gangguan motilitas lambung, <em>gastric sensation</em>, atau peradangan lambung dan duodenum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dispepsia fungsional pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Subjek penelitian ini adalah mahasiswi Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2023/2024 dengan jumlah responden sebanyak 98 orang. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan metode observasional analitik secara <em>cross-sectional. </em>Data diambil dengan pemberian kuesioner dispepsia fungsional berdasarkan Nepean Dyspepsia Indeks yang telah diuji validitas dan reabilitasnya<em>.</em> Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam orang (6,12%) yang memiliki dispepsia fungsional, dan sisanya (93,88%) tidak memiliki dispepsia fungsional. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi dispepsia fungsional adalah usia dan indeks massa tubuh.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16095 Perbedaan Gambaran Makroskopis dan Mikroskopis Feses pada Balita Diare Akut Disentri dengan Diare Akut Non Disentri di RSUD Al-Ihsan Periode 2023 2025-02-20T15:26:17+08:00 Silvia Dwi Yanti silviadwi147@gmail.com Herry Garna herrygarna@gmail.com Dicky Santosa drdickysantosamm@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstract.</span></strong> Acute diarrhea can be classified based on its manifestations into acute dysentery and non-dysentery diarrhea. Macroscopic and microscopic stool examinations are key modalities in distinguishing the diagnosis.<span lang="EN-US">This study aimed to identify differences in macroscopic and microscopic stool examination results between children with acute dysentery diarrhea and acute non-dysentery diarrhea treated at RSUD Al-Ihsan Bandung during the 2023 period. Macroscopic examination revealed that stool color in children with dysentery diarrhea was dominated by green and yellow (33,9%), while in non-dysentery diarrhea, the majority had yellow stool (60.7%). Stool texture in the dysentery group varied more, with thick and soft textures dominating (44.6%), whereas in the non-dysentery group, soft texture was predominant (84%). Blood and mucus were found in 100% of stools from dysentery cases but were absent in non-dysentery cases. Microscopic results showed increased erythrocyte counts in 93% of dysentery cases, compared to only 1% in non-dysentery cases. Leukocyte counts increased in 100% of dysentery cases but were absent in non-dysentery cases. Helminth eggs were more frequently found in the dysentery group (23%) than in the non-dysentery group (10%), and amebas were more common in dysentery cases (14%). Most children in both groups exhibited bacterial presence in their stools, with 96% in the dysentery group and 76% in the non-dysentery group. This study underscores the importance of stool examinations in distinguishing the etiology of diarrhea in children.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><span lang="EN-US"><strong>Abstrak.</strong> Diare akut dapat diklasifikasikan berdasarkan manifestasinya menjadi diare akut disentri dan non disentri. Pemeriksaan feses secara makroskopis maupun mikroskopis adalah salah satu modalitas dalam membedakan diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan hasil pemeriksaan feses secara makroskopis dan mikroskopis antara balita dengan diare akut disentri dan diare akut non-disentri yang dirawat di RSUD Al-Ihsan Bandung pada periode 2023. Pemeriksaan makroskopis menunjukkan bahwa warna feses pada balita dengan diare disentri didominasi warna hijau dan kuning (33,9%), sedangkan pada diare non-disentri, mayoritas feses berwarna kuning (60,7%). Tekstur feses pada kelompok disentri lebih bervariasi, dengan dominasi tekstur kental dan lembek (44,6%), sementara pada kelompok non-disentri, tekstur lembek mendominasi (84%). Darah dan lendir ditemukan pada 100% feses balita disentri, sedangkan tidak ditemukan pada balita non-disentri. Hasil mikroskopis menunjukkan peningkatan jumlah eritrosit pada 93% balita disentri, sementara pada kelompok non-disentri hanya 1%. Peningkatan jumlah leukosit ditemukan pada 100% balita disentri dan 0% pada balita non-disentri. Telur cacing ditemukan lebih sering pada kelompok disentri (23%) dibandingkan non-disentri (10%), sementara ameba lebih sering ditemukan pada balita disentri (14%). Mayoritas balita dari kedua kelompok menunjukkan keberadaan bakteri dalam fesesnya, masing-masing 96% pada kelompok disentri dan 76% pada kelompok non-disentri. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemeriksaan feses untuk membedakan etiologi diare pada balita.</span></p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16108 Faktor Risiko Mortalitas Pasien COVID-19 Acute Respiratory Distress Syndrome di RSUD Al-Ihsan 2025-02-20T15:37:37+08:00 Anisah Tanzilulwafa tanzilulwafa@gmail.com R.B. Soeherman Herdiningrat drrbsoeherman@gmail.com Yudi Feriandi yudi.feriandi@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) is a common complications in COVID-19 patients. The prevalence of ARDS caused by COVID-19, which is subsequently referred to as COVID-19 Acute Respiratory Distress Syndrome (CARDS), is high, with a mortality rate reaching 75-85%. Several factors are believed to contribute to the increased mortality in CARDS patients. The purpose of this study is to determine the relationship between age, gender, and comorbidities with the mortality of CARDS patients at RSUD Al-Ihsan from 2020-2023. The subject of this study are CARDS patients at RSUD Al-Ihsan in 2020-2023. The results showed that most CARDS patients were aged &gt;60 years (55%), predominantly female (58%), and most of CARDS patients at RSUD Al-Ihsan did not have hypertension comorbidities (70%) or diabetes (81%). The analysis found no significant relationship between age, gender, and comorbidities with the mortality of CARDS patients (p&gt; 0.05). This study analyzes the demographic factors and comorbidities that may influence the mortality of CARDS patients. However, further analysis is needed on other factors that can increase the mortality risk of CARDS patients to better understand the mechanisms underlying the increased mortality risk in CARDS patients.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Acute Respiratory Distress Syndrome</em> (ARDS) merupakan salah satu komplikasi yang paling banyak terjadi pada pasien yang terinfeksi COVID-19. Prevalensi ARDS yang diakibatkan oleh COVID-19, yang kemudian disebut dengan COVID-19 <em>Acute Respiratory Distress Syndrome </em>(CARDS), cukup tinggi, dengan tingkat mortalitas mencapai 75-85%. Terdapat beberapa faktor yang diduga berkontribusi dalam peningkatan mortalitas pada pasien CARDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, dan komorbiditas dengan mortalitas pasien CARDS di RSUD Al-Ihsan pada tahun 2020-2023. Subjek penelitian ini adalah pasien CARDS di RSUD Al-Ihsan pada tahun 2020-2023. Pada penelitian ini didapatkan usia terbanyak pada pasien CARDS adalah &gt;60 tahun (55%), jenis kelamin didominasi oleh perempuan (58%), dan mayoritas pasien CARDS di RSUD Al-Ihsan tidak memiliki komorbid hipertensi (70%), dan tidak memiliki komorbid diabetes (81%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin, komorbid hipertensi, dan komorbid diabetes dengan mortalitas pasien CARDS (p&gt;0,05). Penelitian ini menganalisis mengenai faktor-faktor demografis dan komorbiditas yang mungkin mempengaruhi mortalitas pasien CARDS, namun perlu dilakukan analisis lebih lanjut tentang faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko mortalitas pasien CARDS untuk memahami lebih lanjut mekanisme yang mendasari peningkatan risiko mortalitas pada pasien CARDS.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16110 Pengaruh Asap Rokok dan Diabetes terhadap Ketebalan Intima Media Aorta Tikus Wistar 2025-02-20T15:39:08+08:00 Fina Aulia Nugraha finaaulian28@gmail.com Ismet Muchtar Nur ismet.nur@yahoo.com Yuktiana Kharisma yuktiana@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="IN">Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by elevated blood glucose levels, which may lead to severe microvascular and macrovascular complications. Smoking is a significant risk factor that accelerates vascular damage through endothelial dysfunction and thickening of the media layer in blood vessels. The aim of this study was to investigate the effects of cigarette smoke exposure and a high-fat diet on the media thickness of the aorta in male Wistar rats. A total of 18 rats were divided into three groups: a control group, a DM group exposed to cigarette smoke and a high-fat diet (DTL+DM+smoking), and a DM group treated with glibenclamide and simvastatin (DTL+DM+smoking+medication). Histopathological analysis revealed the highest media thickness in the medication-treated group, although no significant differences were observed between the experimental groups. This suggests that while the medications may influence vascular health positively, exposure to cigarette smoke combined with a high-fat diet contributes to vascular damage in DM. These findings highlight the need for further studies to understand the mechanisms underlying vascular complications in DM and to develop potential therapeutic interventions to mitigate such risks</span><span lang="IN">.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="IN">Diabetes Melitus (DM) adalah gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, yang dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular yang serius. Merokok merupakan faktor risiko yang signifikan yang mempercepat kerusakan vaskular melalui disfungsi endotel dan penebalan lapisan media pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh paparan asap rokok dan diet tinggi lemak terhadap ketebalan tunika media aorta pada tikus Wistar jantan. Sebanyak 18 tikus dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol, kelompok DM yang terpapar asap rokok dan diet tinggi lemak (DTL+DM+merokok), serta kelompok DM yang diberi pengobatan glibenclamid dan simvastatin (DTL+DM+merokok+obat). Analisis histopatologi menunjukkan ketebalan tunika media tertinggi pada kelompok yang diberi pengobatan, meskipun tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok percobaan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pengobatan dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan vaskular, paparan asap rokok yang dikombinasikan dengan diet tinggi lemak berkontribusi pada kerusakan vaskular pada DM. Temuan ini menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme yang mendasari komplikasi vaskular pada DM dan untuk mengembangkan intervensi terapeutik yang dapat mengurangi risiko tersebut.</span></p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16118 Gambaran Metaplasia Intestinal pada Mukosa Lambung Tikus Diabetes Melitus Terpapar Rokok 2025-02-20T15:42:40+08:00 Kharisma Ramadina kharismaramadina02@gmail.com Yuktiana Kharisma yuktianak@gmail.com Rio Dananjaya riodanan@gmail.com <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> Diabetes mellitus and smoking are common health phenomena in Indonesia. Diabetes mellitus and smoking can damage organs, particularly the stomach. This study aims to observe intestinal metaplasia in the gastric mucosa of diabetes mellitus model rats exposed to cigarette smoke, which is one of the assessment categories of the Sydney System. The research method was conducted using an in vivo experimental design with male Wistar strain rats divided into three groups: a control group, a diabetes mellitus group exposed to cigarette smoke, and a diabetes mellitus group exposed to cigarette smoke and treated with simvastatin and glibenclamide. Gastric mucosal samples were observed using hematoxylin-eosin (HE) staining under a microscope with 400x magnification. The results showed homogeneous data across all study groups. This may have occurred due to factors such as the short intervention duration, which may have prevented genetic changes in the DNA of the rats’ mucosal cells.&nbsp;</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Diabetes melitus dan merokok merupakan fenomena kesehatan yang umum terjadi di Indonesia. Diabetes melitus dan merokok dapat merusak organ, terutama organ lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati metaplasia intestinal pada mukosa lambung tikus model diabetes melitus yang terpapar asap rokok yang merupakan salah satu kategori penilaian <em>Sydney System.</em>Metode penelitian dilakukan dengan rancangan eksperimental <em>in vivo</em> menggunakan tikus galur Wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok diabetes melitus yang terpapar asap rokok, dan kelompok diabetes melitus dengan yang terpapar asap rokok, lalu diobati dengan simvastatin dan glibenclamide.&nbsp; Sampel mukosa lambung diamati melalui pewarnaan <em>hematoxylin-eosin</em> (HE) di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasi data homogen dengan tidak ditemukannya metaplasia intestinal di semua kelompok penelitian. Hal ini dapat&nbsp; terjadi&nbsp; karena faktor yang mungkin memengaruhi hasil tersebut antara lain durasi intervensi yang singkat sehingga menyebabkan DNA pada sel mukosa tikus tidak mengalami perubahan genetik.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16120 Pengaruh Puasa Intermiten Air terhadap Kadar Asam Urat pada Mencit yang diberi Pakan Tinggi Lemak 2025-02-20T15:45:30+08:00 Nazlia Rahmadina Sujarwo rahmadinanazlia57@gmail.com Annisa Rahmah Furqaani annisarahmahf@gmail.com Ajeng Kartika Sari akuajengkartika@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Uric acid can use gout if level is more than &gt;7 mg/ml. the prevalence of gout continous to increase so that non-pharmalogic therapy is needed, on of which is water intermittent fasting. This study aims to determine the effect of water intermittent fasting on uric acid level in mice divided into four groups, namely the group fed standard feed, the group fed high-fat feed, the group fed standard feed and given water intermittent fasting treatment, and the group fed high-fat feed and given water intermittent fasting treatment. The fasting period carried out by the research subjects with a 14:10 pattern, namely 14 hours of fasting and 10 hours of eating window (17:00-07:00 WIB) for 28 days. The results of the study showed that there was a significant increase in uric acid levels in mice fed high-fat feed and water intermittent fasting compared to the control group. Although the average results of uric acid levels in all groups were below 3 mg/dL. The conclusion of this study is that Water Intermittent Fasting can significantly increase uric acid levels in mice fed high-fat feed. However, the increase in uric acid levels is still within normal limits.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Asam urat&nbsp; dapat menyebabkan gout jika kadarnya lebih dari &gt;7 mg/dl. Prevalensi gout terus meningkat sehingga diperlukan terapi nonfamakologi salah satunya dengan <em>water intermittent fasting</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh <em>water intermittent fasting</em> terhadap kadar asam urat mencit yang diberi pakan tinggi lemak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan mencit yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok yang diberi pakan standar, kelompok yang beri pakan tinggi lemak, kelompok yang diberi pakan standar dan diberi perlakuan <em>water intermittent fasting</em>, dan kelompok yang diberi pakan tinggi lemak dan diberi perlakuan <em>water intermittent fasting</em> . Periode puasa yang dilakukan oleh subjek penelitian dengan pola 14:10, yaitu 14 jam puasa dan 10 jam jendela makan (pukul 17.00-07.00 WIB) selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan kadar asam urat pada mencit yang diberi pakan tinggi lemak dan melakukan <em>water intermittent fasting</em> dibandingkan dengan kelompok kontrol. Walaupun hasil rata rata kadar asam urat semua kelompok adalah&nbsp; dibawah 3 mg/dL. Water intermittent fasting dapat menyebabkan proses ketosis. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa <em>Water Intermittent Fasting</em> dapat meningkatkan kadar asam urat pada mencit yang diberi &nbsp;pakan tinggi lemak secara signifikan. Namun, peningkatan kadar asam urat tersebut masih dalam batas normal.&nbsp;</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16136 Hubungan Lama Penggunaan Komputer dan Intensitas Pencahayaan dengan Keluhan Kelelahan Mata pada Pekerja Rumah Sakit Amira 2025-02-20T15:47:55+08:00 Hana Salsabila Hafshah hanasalsabilahfsh@gmail.com Abdul Hadi Hassan abdulhadihassan@yahoo.com H. Purnomo poerkesja@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> The widespread use of technology in the workplace has become a primary necessity in today's era; however, it also poses health risks, one of which is eye fatigue (asthenopia). This condition is caused by prolonged computer use and non-standard lighting, which can increase the risk of visual impairment among workers in the long term. This study aims to investigate the relationship between computer usage duration and lighting intensity with complaints of eye fatigue among workers at Amira Hospital, Purwakarta, in 2024. This analytical observational study used a cross-sectional approach. Data collection employed primary data obtained from questionnaires and room lighting measurements using a lux meter. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with a chi-square test. The majority of workers were aged &lt;40 years (49 individuals, 87.5%), and most were female (34 individuals, 60.7%). More than half of the workers had refractive errors (30 individuals, 53.6%) and used computers for less than 4 hours (32 individuals, 57.1%). Most workers performed activities under non-standard lighting conditions (21 individuals, 51.8%), and 30 individuals (53.6%) reported complaints of eye fatigue. The analysis of the relationship between computer usage duration and lighting intensity with complaints of eye fatigue revealed significant p-values of 0.009 and 0.001, respectively, with OR values of 4.4 and 7.4. These findings highlight the importance of managing work time in front of computers and optimizing lighting conditions to prevent complaints of eye fatigue.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penggunaan teknologi secara masif di tempat kerja telah menjadi kebutuhan utama di era sekarang, namun hal ini juga membawa risiko kesehatan, salah satunya adalah kelelahan mata (astenopia). Kondisi ini disebabkan oleh durasi penggunaan komputer yang berkepanjangan serta pencahayaan yang tidak sesuai standar, yang dapat meningkatkan risiko gangguan penglihatan pada pekerja dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti Hubungan Lama Penggunaan Komputer dan Intensitas Pencahayaan dengan Keluhan Kelelahan Mata pada Pekerja di Rumah Sakit Amira Purwakarta 2024. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Pengumpulan data menggunakan data primer yang didapat dari kuisioner dan pengukuran pencayahaan ruangan dengan menggunakan lux meter. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji <em>chi-square</em>. Sebagian besar pekerja tergolong usia &lt; 40 tahun yakni sebanyak 49 orang (87,5%). berjenis kelamin perempuan sebanyak 34 orang (60,7%). Lebih dari setengah pekerja memiliki kelainan refraksi yakni sebanyak 30 orang (53,6%) dan menggunakan komputer &lt;4 jam yakni sebanyak 32 orang (57,1%). Mayoritas pekerja melakukan aktivitas dengan intensitas pencahayaan tidak sesuai standar yakni sebanyak 21 orang (51,8%) dan 30 orang (53,6%) yang mengalami keluhan kelelahan mata. Hasil analisis Hubungan Lama Penggunaan Komputer dan Intensitas Pencahayaan dengan Keluhan Kelelahan Mata didapatkan nilai P berturut-turut sebesar 0,009 dan 0,001 yang menunjukan adanya hubungan yang bermakna dengan OR berturut-turut 4,4 dan 7,4. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan waktu kerja di depan komputer dan optimasi pencahayaan untuk mencegah keluhan kelelahan mata.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16141 Hubungan Tingkat Stres terhadap Derajat Burnout pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung 2025-02-20T15:50:41+08:00 Firli Rahma Deni firlyrahma631@gmail.com Meta Maulida Damayanti meta.fkunisba@gmail.com Miranti Kania Dewi miranti@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> Stress is a dynamic interaction condition that includes physical, emotional, and psychological responses between individuals and their environment. Stress in medical students is more susceptible to psychological stress due to additional stress burdens, namely longer study programs, denser learning, and less rest time. When experiencing high levels of stress and poor coping strategies are the main factors that cause burnout. Burnout is a condition of emotional, physical and mental exhaustion caused by prolonged stress. When someone feels bored both mentally and physically, helpless, has no hope due to increased workload or prolonged stress. This study aims to determine the relationship between stress levels and the incidence of burnout in 3rd year students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University, Academic Year 2023/2024. This study used a cross-sectional analytical design and data collected through the Medical Student Stressor Questionnaire (MSSQ) questionnaire for the stress variable and the Freundenberger and Richelson Burnout scale in Indonesian for the burnout variable. The results of this study indicate that many 3rd year students experience moderate stress, namely 84 people (48.9%), and many 3rd year students experience moderate burnout, namely 93 people (54%). This study uses the Fisher Exact test with a P value &lt;0.000 which shows significance between the two variables, this is because the high activity and academic load of students of the Faculty of Medicine results in increasingly severe stress levels. Stress that continues to occur and is not resolved with good management can cause high burnout.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Stres merupakan kondisi interaksi dinamis yang mencakup respon fisik, emosional, dan psikologis antara individu maupun lingkungannya. Stres pada mahasiswa kedokteran dikarenakan adanya beban stres tambahan yaitu program studi yang lebih lama, pembelajaran yang lebih padat dan waktu istirahat yang kurang. Saat mengalami tingkat stres yang tinggi dan strategi penanggulangan yang buruk menjadi faktor utama yang mengakibatkan burnout. Burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, fisik dan mental yang disebabkan oleh stres yang berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres terhadap kejadian burnout pada mahasiswa tingkat 3 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2023/2024. Penelitian ini menggunakan desain analitik cross sectional serta data dikumpulkan melalui kuesioner Medical Student Stressor Questionnair (MSSQ) untuk variabel stres dan skala Burnout Freundenberger and Richelson berbahasa indonesia untuk variabel burnout. Hasil penelitian ini menunjukkan pada mahasiswa tingkat 3 banyak mengalami stres sedang yaitu sebanyak 84 orang (48,9%), serta banyak mahasiswa tingkat 3 yang mengalami kejadian burnout kategori sedang yaitu 93 orang (54%). Penelitian ini menggunakan uji Fisher Exact dengan P value &lt;0,000 yang menunjukkan signifikan antara kedua variabel, hal ini disebabkan karena tingginya aktivitas dan beban akademik mahasiswa Fakultas Kedokteran mengakibatkan tingkat stres yang dialami semakin berat. Stres yang terus menerus terjadi dan tidak ditangani dengan pengelolaan manajemen yang baik bisa menyebakan burnout yang tinggi.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16146 Hubungan Obesitas dengan Hiperurisemia pada Wanita Usia 40-55 Tahun di Puskesmas Tamansari Bandung Tahun 2024 2025-02-20T15:53:35+08:00 Regina Cintya Darajat reginagina410@gmail.com Ratna Dewi Indi Astuti ratnawidjajadi@unisba.ac.id Ismawati isma.fkunisba@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Obesity is associated with decreased uric acid excretion in the kidneys which can cause hyperuricemia. This study aims to examine the relationship between obesity and hyperuricemia in women aged 40-55 years at Puskesmas Tamansari Bandung. The study was conducted in RW 07 and 17 which is the working area of Puskesmas Tamansari Bandung. This study used cross sectional method. The subjects of this study amounted to 60 women aged 40-55 years who were determined by purposive sampling method. The independent variable in this study is obesity which is determined using BMI calculation. While the dependent variable in this study is hyperuricemia which is characterized by examination results &gt;6 mg/dL. The results showed that the BMI of women aged 40-55 years at Puskesmas Tamansari Bandung was mostly obese 40 respondents (66.6%) and the proportion of hyperuricemia sufferers was 27 respondents (45%). The results of statistical analysis of the chi-square test obtained a p-value of 0.409 which indicates that there is no relationship between obesity and hyperuricemia in women aged 40-55 years. The conclusion of this study is that there is no relationship between obesity and hyperuricemia in women aged 40-55 years at Puskesmas Tamansari Bandung. The absence of a relationship between obesity and hyperuricemia can be caused by esterogen produced by women has the effect of inhibiting uric acid reabsorption in the renal tubules, so that uric acid levels in the blood become lower.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Obesitas berhubungan dengan penurunan ekskresi asam urat di ginjal yang dapat menyebabkan hiperurisemia. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara obesitas dengan hiperurisemia pada wanita usia 40-55 tahun di Puskesmas Tamansari Bandung. Penelitian dilaksanakan di RW 07 dan 17 yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tamansari Bandung. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subjek penelitian ini berjumlah 60 orang wanita usia 40-55 tahun yang ditentukan dengan metode purposive sampling. Variabel bebas pada penelitian ini adalah obesitas yang ditentukan dengan menggunakan perhitungan IMT. Sedangkan variabel terikat pada penelitian ini adalah hiperurisemia yang ditandai dengan hasil pemeriksaan &gt;6 mg/dL. Hasil penelitian didapatkan IMT wanita usia 40-55 tahun di Puskesmas Tamansari Bandung sebagian besar adalah obesitas 40 responden (66,6%) dan proporsi penderita hiperurisemia sebanyak 27 responden (45%). Hasil analisis statistik uji chi-square didapatkan p-value 0,409 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan hiperurisemia pada wanita usia 40-55 tahun. Simpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan hiperurisemia pada wanita usia 40-55 tahun di Puskesmas Tamansari Bandung. Tidak terdapatnya hubungan obesitas dengan hiperurisemia dapat disebabkan esterogen yang diproduksi oleh perempuan memiliki efek menghambat reabsorpsi asam urat di tubulus ginjal, sehingga kadar asam urat dalam darah menjadi lebih rendah.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16147 Angka Kejadian Pasien Hemoroid di RS Al-Ihsan Kabupaten Bandung Periode 2018─2023 2025-02-20T15:55:34+08:00 Usep Ridwan Fauzi usepridwanf@gmail.com Siti Annisa Devi Trusda trusda_75@yahoo.com Yani Triyani ytriyani87@gmail.com <p><strong>Abstract</strong>. Hemorrhoids are dilated blood vessels in the anal area and become a common disturbance affect millions of people worldwide. With a global prevalence of 4.4%, hemorrhoids are a medically and socioeconomically significant health problem. In Indonesia, the incidence of hemorrhoids reached 5.7% in 2018 and is estimated to increase to 21.3 million cases in 2030. This research was aimed to find out the trends in the characteristics and types of therapy for hemorrhoid patients at Al-Ihsan Hospital, Bandung Regency, for the 2018–2023 period. This research method was descriptive observational study using a cross-sectional design taken from secondary data in the form of medical records of hemorrhoid patients in the period January 2018-August 2023 at Al-Ihsan Hospital. A total of 1,010 hemorrhoid patients were registered at Al Ihsan Hospital, Bandung Regency. The results showed that the hemorrhoid incidence rate decreased during the 2019-2020 period, which was thought to be related to the impact of the pandemic, but the trend changed in the following years.&nbsp; The hemorrhoid incidence rate continued to increase until it peaked in 2023, making it the year with the highest hemorrhoid incidence in the last six years. The post-pandemic increase in hemorrhoid incidence shows the impact of lifestyle changes, delayed diagnosis, and lack of access to healthcare, emphasizing the importance of education and early detection for prevention.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah yang umum pada area anus dan berdampak pada jutaan orang di seluruh dunia. Prevalensi global sebesar 4,4%, hemoroid menjadi masalah kesehatan yang signifikan secara medis dan sosial ekonomi. Di Indonesia, angka kejadian hemoroid mencapai 5,7% pada tahun 2018 dan diperkirakan meningkat hingga 21,3 juta kasus pada tahun 2030, penelitian ini betujuan untuk mengetahui angka kejadian pasien hemoroid di RS Al-Ihsan Kabupaten Bandung Periode 2018─2023. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan desain cross sectional yang diambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien hemoroid pada periode Januari 2018-Agustus 2023 di RS Al-Ihsan. Sebanyak 1.010 pasien hemoroid tercatat di RS Al Ihsan Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian hemoroid mengalami penurunan selama periode 2019–2020, yang diduga terkait dengan dampak pandemi, namun tren tersebut berubah pada tahun-tahun berikutnya.&nbsp; Angka kejadian hemoroid terus mengalami peningkatan hingga mencapai puncaknya pada tahun 2023, menjadikannya tahun dengan insidensi hemoroid tertinggi dalam enam tahun terakhir. Peningkatan angka kejadian hemoroid pascapandemi menunjukkan dampak perubahan gaya hidup, keterlambatan diagnosis, dan kurangnya akses layanan kesehatan, menekankan pentingnya edukasi serta deteksi dini untuk pencegahan.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16190 Gambaran Penggunaan Obat Analgesik pada Pasien Kanker Payudara Berdasarkan Stadium Kanker dan Intensitas Nyeri di Cancer Center RSUD Al Ihsan Periode Tahun 2023 2025-02-20T15:57:51+08:00 Mutiara Permatasari mutiaraaap113@gmail.com R. Anita Indriyanti r.anitaindriyanti@gmail.com Miranti Kania Dewi miranti@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="IN">Breast cancer is one of the most common types of cancer in women and symptoms include tumours and pain in the breast or axillary area. WHO issued analgesic ladder guidelines for cancer pain management based on the intensity of pain experienced by patients according to the Numeric Rating Scale (NRS) measurement. This study aims to look at the description of the use of analgesic drugs based on disease stage and pain intensity in breast cancer patients hospitalised at Al Ihsan Hospital in 2023. This research is a descriptive study with secondary data obtained from patient medical records with a total sample size of 174. The results showed that the characteristics of patients with breast cancer at Al Ihsan Hospital in 2023 were in the age range of 36 - 63 years (83.7%).&nbsp; Among the 129 patients, stage II breast cancer was the most prevalent, accounting for 54.3% of cases, and the most common pain complaint reported was mild pain intensity (60.9%). The most frequently used class of analgesic drugs was non-opioid analgesics (94.6%), with ketorolac being the most commonly prescribed analgesic (80.6%). The results of the study indicate that the most prescribed analgesic drugs for breast cancer patients at stages I-IV are non-opioid analgesics. The highest number of non-opioid prescriptions was observed in stage II breast cancer patients, totaling 68 individuals (55.73%). Similarly, the majority of breast cancer patients with mild to moderate pain intensity were predominantly prescribed non-opioid analgesics, with the highest number of prescriptions being for patients with mild pain intensity, totaling 100 individuals (81.96%). The results of this study indicate that the use of non-opioid analgesics dominates in pain management in breast cancer patients, in line with WHO guidelines. This study provides data that can be used as a basis for improving cancer pain management at Al Ihsan Hospital.</span></p> <p class="PROSIDING-KATAKUNCI"><strong><span lang="EN-US">Abstrak. </span></strong><span lang="EN-US">Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak terjadi pada wanita dan gejalanya meliputi tumor dan nyeri di area payudara atau aksila. WHO mengeluarkan pedoman analgesic ladder untuk manajemen nyeri kanker berdasarkan intensitas nyeri yang dialami pasien sesuai dengan pengukuran skala Numeric Rating Scale (NRS). Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penggunaan obat analgesik berdasarkan stadium penyakit dan intensitas nyeri pada pasien kanker payudara yang dirawat inap di RSUD Al Ihsan pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien dengan jumlah total sampel adalah 174. Hasil penelitian menunjukkan karakterisik pasien penderita kanker payudara di RSUD Al Ihsan tahun 2023 berada pada rentang usia 36 – 63 tahun (83,7%).&nbsp; Dari 129 pasien, ditemukan stadium kanker payudara yang paling banyak adalah stadium II (54,3%) dan keluhan nyeri paling banyak yang dialami oleh pasien adalah nyeri dengan intensitas ringan (60,9%). Golongan obat analgesik yang paling banyak digunakan adalah golongan non-opioid (94,6%) dan jenis obat analgesik yang paling banyak digunakan adalah ketorolak (80,6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan obat analgesik yang paling banyak diberikan pada pasien kanker payudara pada stadium I-IV adalah golongan non-opioid, dengan jumlah pemberian golongan non-opioid terbanyak pada pasien kanker payudara stadium II yaitu sebanyak 68 orang (55,73%). Sebagian besar pasien kanker payudara dengan intensitas nyeri ringan maupun sedang juga paling banyak diberikan obat analgesik golongan non-opioid, dengan jumlah pemberian golongan non-opioid terbanyak pada pasien dengan intensitas nyeri ringan yaitu sebanyak 100 orang (81,96%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan analgesik non-opioid mendominasi dalam penanganan nyeri pada pasien kanker payudara, sejalan dengan pedoman WHO. Penelitian ini menyediakan data yang dapat menjadi dasar dalam meningkatkan manajemen nyeri kanker di RSUD Al Ihsan.</span></p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16195 Efek Toksisitas Paparan Subkronis Zat Warna Sintetis Golongan Azo Congo Red terhadap Kadar Kreatinin Tikus Putih Galur Wistar 2025-02-20T16:03:38+08:00 Nayla Nida Syafitri naylansyafitri@gmail.com Meta Maulida Damayanti met_md@unisba.ac.id Meike Rachmawati meikerachmawati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> The Indonesian industrial sector has experienced very rapid development in the last 1 year with the use of dyes that are often used, namely congo red. Congo red produces aromatic compounds that can cause oxidative stress conditions that disrupt many organs such as the kidneys. However, the effects of this dye on the kidneys have not been widely studied. This study aims to analyze the effects of subchronic exposure to congo red on changes in serum creatinine levels. This study is an experimental study using 28 white Wistar rats. The white rats were divided into 4 groups, namely the control group, group P1, group P2, and group P3 equivalent to doses of 0, 190, 375, and 750 mg/kgBW. The duration of exposure to congo red in this study was 91 days. Analysis of creatinine levels in white rats was processed using the one-way ANOVA statistical test. The results of this study showed that the average creatinine levels were almost the same in each group. Statistical analysis showed a P value&gt; 0.05 for creatinine levels in white rats. It was concluded that oral exposure to Congo Red in the subchronic period at doses of 190, 375, and 750 mg/kgBW did not reduce kidney filtration function, the normal average creatinine levels of white mice could be caused by the absence of sufficient damage to interfere with the kidneys in excreting blood creatinine related to the toxic effects of subchronic exposure to Congo Red.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Sektor industri Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam 1 tahun terakhir dengan penggunaan pewarna yang sering digunakan yaitu <em>congo red</em>. <em>Congo red </em>&nbsp;menghasilkan senyawa <em>aromatic </em>yang dapat menyebabkan kondisi stres oksidatif yang banyak mengganggu organ seperti ginjal. Akan tetapi, efek pewarna ini terhadap ginjal belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek paparan subkronis <em>congo red </em>terhadap perubahan kadar kreatinin serum. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan 28 ekor tikus putih Galur Wistar. Tikus putih dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok P1, kelompok P2, dan kelompok P3 setara dengan dosis 0, 190, 375, dan 750 mg/kgBB. Durasi paparan <em>congo red </em>pada penelitian ini yaitu selama 91 hari. Analisis kadar kreatinin tikus putih diolah menggunakan uji statistik <em>one way </em>ANOVA. Hasil penelitian ini menunjukkan rerata kadar kreatinin yang hampir sama pada setiap kelompok. Analisis statistik menunjukkan nilai P&gt;0,05 untuk kadar kreatinin tikus putih. &nbsp;Diperoleh kesimpulan bahwa paparan <em>congo red </em>secara oral dalam periode subkronis dengan dosis 190, 375, dan 750 mg/kgBB tidak menurunkan fungsi filtrasi ginjal, nilai rerata kadar kreatinin tikus putih yang normal dapat disebabkan belum terjadinya kerusakan yang cukup untuk mengganggu ginjal dalam mengeksresikan kreatinin darah terkait efek toksisitas paparan subkronis <em>congo red</em>.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16198 Hubungan Tinggi Badan Ibu dan Pola Makan Anak dengan Stunting 2025-02-20T16:12:23+08:00 Suci Qaashiraathuth Tharfi Fauziah suci121001@gmail.com Heni Muflihah henimuflihah@unisba.ac.id Adjat S. Rasjad adjatsrasjad@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> <em>Stunting is a global health issue characterized by inadequate height for age in children under five years old (toddlers). Maternal height plays a significant role in determining a child's height, while improper feeding practices increase the risk of stunting. This study analyzed the relationship between maternal height and child feeding practices with stunting at Mangunreja Public Health Center in 2024. This quantitative observational study employed a cross-sectional design involving 119 toddlers and their mothers. Maternal height was measured using a stadiometer, and feeding practices were assessed using a modified, validated Indonesian version of the Child Feeding Questionnaire (CFQ). The results indicated that 30 children (25.2%) were stunted, 62 mothers (52.1%) had short stature, and 98 children (82.3%) received proper feeding. Chi-square analysis showed a significant relationship between maternal height and child feeding practices with stunting (p = 0.0001). The Prevalence Ratio (PR) revealed that children of short-statured mothers were 3.69 times more likely to be stunted, and those with improper feeding practices were 3.1 times more likely to experience stunting. These findings emphasize the need for maternal nutritional interventions and proper feeding practices to reduce stunting prevalence.</em></p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Stunting</em> merupakan masalah kesehatan global yang ditandai dengan tinggi badan tidak sesuai usia pada anak di bawah lima tahun (balita). Tinggi badan ibu berpengaruh signifikan terhadap tinggi anak dibanding dengan tinggi ayah, sementara pola makan tidak tepat dapat meningkatkan risiko <em>stunting</em>.&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tinggi badan ibu dan pola makan anak dengan kejadian <em>stunting</em> di Puskesmas Mangunreja tahun 2024. Penelitian observasional analitik kuantitatif ini menggunakan desain <em>cross-sectional </em>pada 119 balita dan ibunya. Tinggi badan ibu diukur menggunakan stadiometer, sedangkan pola makan anak dinilai menggunakan <em>Child Feeding Questionnaire</em> (CFQ) yang telah dimodifikasi ke dalam bahasa Indonesia serta telah diuji validitas dan reabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan kejadian <em>stunting</em> sebanyak 30 anak (25,2%). Ibu pendek sebanyak 62 orang (52,1%), dan anak dengan pola makan tepat sebanyak 98 anak (82,3%). Analisis <em>Chi-Square</em> menunjukkan hubungan signifikan antara tinggi badan ibu dan pola makan anak dengan kejadian <em>stunting</em> (p=0,0001). <em>Prevalence Ratio</em> (PR) menunjukkan anak dari ibu pendek berisiko 3,69 kali lipat lebih tinggi mengalami <em>stunting</em>, sementara anak dengan pola makan tidak tepat berisiko 3,1 kali lipat lebih tinggi. Hasil ini menekankan pentingnya intervensi perbaikan gizi ibu dan pola makan anak untuk mencegah <em>stunting</em>.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16200 Gambaran Karakteristik Pasien Katarak Senilis di RSUD Al-Ihsan Tahun 2023 2025-02-20T16:15:50+08:00 Esa Syarlina Andrea esa.syarlina32@gmail.com Bambang Setiohadji bsetiohadji@gmail.com Eka Hendryanny eka_hendryanny@yahoo.com <p><strong>Abstract.</strong> <em>Cataracts are eye diseases characterized by cloudiness in the lens of the eyeball, which remain a leading cause of blindness worldwide. One of the significant risk factors for the occurrence of cataracts is age, which has a significant correlation with senile cataracts. The aim of this study is to determine the characteristics of senile cataract patients based on age, gender, stage, and management at Al-Ihsan Regional General Hospital in 2023. The research design is descriptive research. The data used are secondary data in the form of medical records of senile cataract patients. The sampling method used was total sampling, resulting in 1892 medical records that met the inclusion and exclusion criteria. The research results show that the most common age group is 61-69 years old, with 847 (44.77%), the most common gender is female, with 1119 (59.14%), the most common stage is immature stage (87.21%), and the most common management is observational management (84.51%). The conclusion of this study indicates that the highest frequency of senile cataract cases is found in females, the 61-69 age group, the incipient stage, and the management provided is observational management. Previous studies showed that the largest group of senile cataract patients were aged 61-69 years, female, in the immature stage, and the treatment given was surgical management. As age increases, there is a degenerative process that will trigger oxidative stress. In women who have entered the menopause phase, there will be a decrease in estrogen that triggers catarogenesis. The type of cataract management is carried out according to the stage of cataract in the patient.</em></p> <p><strong>Keywords</strong><em>: Characteristics, Senile Cataract, Stage, Treatment</em></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Katarak adalah penyakit mata yang ditandai dengan adanya kekeruhan di lensa bola mata yang masih menjadi penyebab utama kebutaan di seluruh dunia. Salah satu faktor risiko signifikan terjadinya katarak adalah usia yang memiliki korelasi signifikan dengan penyakit katarak senilis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran&nbsp; karakteristik pasien katarak senilis berdasarkan usia, jenis kelamin, stadium katarak, dan tatalaksana di RSUD Al-Ihsan tahun 2023. Rancangan penelitian berupa penelitian deskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa rekam medis pasien katarak senilis. Cara pengambilan sampel berupa total sampling dan didapatkan 1892 rekam medis sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik katarak senilis mayoritas adalah kelompok usia 61-69 tahun sebanyak 847 (44,77%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 1119 (59,14%). Stadium katarak terbanyak adalah stadium imatur (87,21%), dan tatalaksana terbanyak adalah tatalaksana observatif (84,51%). Semakin bertambahnya usia, ada proses degeneratif yang akan memicu stress oksidatif. Pada perempuan yang sudah memasuki fase menopause, akan terjadi penurunan estrogen yang memicu katarogenesis. Jenis tatalaksana katarak dilakukan sesuai dengan stadium katarak pada pasien.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Karakteristik, Katarak Senilis, Stadium, Tatalaksana</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16207 Hubungan Status Kerja dengan Pemeriksaan Tuberkulosis Paru di UPT Puskesmas Sukabumi 2025-02-20T16:18:25+08:00 Aulia Ramadhani Johanis Paransa auliaramadhanijp@gmail.com Abdul Hadi Hassan abdulhadihassan@yahoo.com Winni Maharani Mauliani winni.md@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) is a global health problem caused by Mycobacterium tuberculosis and is a major challenge in Indonesia, especially in West Java Province which recorded the highest cases. This study aims to establish the relationship between employment status and molecular rapid test (TCM) results in pulmonary TB patients at the Sukabumi Health Center UPT. Using a quantitative method with a cross-sectional design, data were collected from 407 individuals during 2022–2023 through medical records. The results showed that 67.26% of working individuals had positive TCM results, compared to 32.74% in the unemployed group. The chi-square test showed a significant relationship between employment status and TCM results (p-value &lt;0.001). A work environment that does not support health is one of the risk factors. This study emphasizes the importance of protection for workers through appropriate health socialization and interventions to reduce the risk of TB transmission.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan global yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> dan menjadi tantangan besar di Indonesia, terutama di Provinsi Jawa Barat yang mencatatkan kasus tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara status pekerjaan dan hasil pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) pada pasien TB paru di UPT Puskesmas Sukabumi. Menggunakan metode kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>, data dikumpulkan dari 407 individu selama 2022–2023 melalui rekam medis. Hasil menunjukkan 67,26% individu yang bekerja mendapatkan hasil TCM positif, dibandingkan 32,74% pada kelompok tidak bekerja. Uji <em>chi-square</em> menunjukkan hubungan signifikan antara status pekerjaan dan hasil TCM (p-<em>value </em>&lt;0,001). Lingkungan kerja yang tidak mendukung kesehatan menjadi salah satu faktor risiko. Studi ini menegaskan pentingnya perlindungan bagi pekerja melalui sosialisasi dan intervensi kesehatan yang tepat untuk mengurangi risiko penularan TB.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16216 Gambaran Pengetahuan Menstrual Hygiene Management pada Santriwati di Pondok Pesantren Darussalam Kasomalang 2025-02-20T16:20:58+08:00 Fella Arzetta Perdiansyah fellaarzetta22@gmail.com Eka Nurhayati eka.nurhayati@unisba.ac.id Susan Fitriyana susan.fitriyana@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract</strong>. Menstrual hygiene management (MHM) is an effort of hygiene and health in adolescent girls during menstruation. Menstrual hygiene management has three aspects; aspects of menstrual knowledge, aspects of menstrual product and supporting facilities needed to manage menstruation effectively. MHM knowledge is important for adolescent girls to prevent reproductive health problems such as reproductive tract infections, cervical cancer, sexually transmitted infections, and has a negative impact on pregnancy outcomes. This study aims to describe the level of knowledge about Menstrual Hygiene Management among female students of Madrasah Tsanawiyah at Darussalam Kasomalang Islamic Boarding School. The study used descriptive method with a total of 185 respondents selected by total sampling. Data was collected through questionnaires regarding the characteristics of respondents and knowledge of menstrual hygiene management. The results showed that the majority of respondents were in early adolescence (91.4%) with a good knowledge level of 64.9%. However, there was still a lack of knowledge in several aspects, such as knowledge of the smell of menstrual blood (35.7%), the origin of menstrual blood (20.5%) and how to clean genital organs (67.6%). Based on the results of this study, it shows the importance of education about menstrual hygiene management from an early age and the provision of adequate facilities in the pesantren environment to support adolescent girls during their menstrual period.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Menstrual hygiene management (MHM) merupakan upaya kebersihan dan kesehatan pada remaja perempuan selama menstruasi. Menstrual hygiene management memiliki tiga aspek yaitu aspek pengetahuan menstruasi, aspek pengetahuan produk menstruasi dan fasilitas pendukung yang diperlukan untuk mengelola menstruasi secara efektif. Pengetahuan MHM penting bagi remaja perempuan untuk mencegah masalah kesehatan reproduksi seperti infeksi saluran reproduksi, kanker serviks, infeksi menular seksual, dan berdampak negatif pada hasil kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan mengenai Menstrual Hygiene Management pada santriwati Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Darussalam Kasomalang. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan total 185 responden yang dipilih secara total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai karakteristik responden dan pengetahuan mengenai menstrual hygiene management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia remaja awal (91,4%) dengan tingkat pengetahuan baik sebesar 64,9%. Namun masih terdapat pengetahuan yang kurang pada beberapa aspek, seperti pengetahuan bau darah menstruasi (35,7%), asal darah menstruasi (20,5%) dan cara membersihkan organ genital (67,6%). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan pentingnya edukasi mengenai menstrual hygiene management sejak dini serta penyediaan fasilitas yang memadai di lingkungan pesantren untuk mendukung remaja perempuan selama periode menstruasi.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16217 Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Sooko Kabupaten Mojokerto Tahun 2024 2025-02-20T16:27:33+08:00 Nadia Eka Safitri nadiatalita7474@gmail.com Ismet Mucthar Nur ismet.nur@yahoo.com Eka Nurhayati eka.nurhayati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong><span style="font-weight: 400;">Stunting is a chronic nutritional problem caused by long-term malnutrition. Now </span><span style="font-weight: 400;">s</span><span style="font-weight: 400;">tunting is a major health problem in Indonesia. The level of maternal education is one of the determining factors in meeting the nutritional needs of families, especially toddlers. The purpose of this study was to analyze the relationship between maternal education levels and the incidence of stunting in toddlers at the Sooko Health Center, Mojokerto Regency. This type of research uses an analytical observational method, with a cross-sectional approach, which was conducted in the Sooko Health Center work area, with 135 respondents. Stunting data were obtained from anthropometric data and knowledge data from health center recording data. Data were analyzed using the Spearman Rank Test. The results of the univariate analysis found that most mothers were in early adulthood (20-35 years) with a percentage of 91.1%. Almost all of them were unemployed mothers or housewives, namely 122 people (90.4%) and only 13 mothers were working mothers (9.6%). The cross-tabulation results also show that mothers with secondary and higher education have more children who are not stunted and conversely mothers with primary education and no schooling have more children with stunting. Based on the results of the Spearman test, the p-value was 0.0000 with a correlation coefficient of 0.796. This shows that there is a relationship between education level and the incidence of Stunting at the Sooko Health Center, Mojokerto Regency</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p> <p><strong>Abstrak. </strong><em><span style="font-weight: 400;">Stunting </span></em><span style="font-weight: 400;">merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Sekarang </span><em><span style="font-weight: 400;">stunting </span></em><span style="font-weight: 400;">menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Tingkat pendidikan ibu menjadi salah satu faktor penentu dalam pemenuhan kebutuhan gizi pada keluarga khususnya anak balita. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian </span><em><span style="font-weight: 400;">stunting </span></em><span style="font-weight: 400;">pada balita di Puskesmas Sooko Kabupaten Mojokerto. Jenis penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, dengan pendekatan </span><em><span style="font-weight: 400;">cross sectional</span></em><span style="font-weight: 400;">, yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sooko, dengan jumlah responden 135 orang. Data </span><em><span style="font-weight: 400;">stunting </span></em><span style="font-weight: 400;">diperoleh dari data antropometri dan data pengetahuan diperoleh dari data pencatatan puskesmas. Data dianalisis menggunakan </span><em><span style="font-weight: 400;">Spearman Rank Test</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil analisis univariat mendapatkan bahwa mayoritas ibu berada di usia dewasa awal (20 – 35 tahun) dengan persentase 91,1%. Hampir seluruhnya berstatus sebagai ibu tidak bekerja atau ibu rumah tangga yaitu 122 orang (90,4%) dan hanya 13 orang ibu berstatus sebagai ibu bekerja (9,6%). Hasil tabulasi silang juga menunjukkan bahwa ibu dengan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi lebih banyak memiliki anak yang tidak </span><em><span style="font-weight: 400;">stunting </span></em><span style="font-weight: 400;">dan sebaliknya ibu dengan pendidikan dasar dan tidak sekolah banyak yang memiliki anak dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">stunting</span></em><span style="font-weight: 400;">. Berdasar hasil uji </span><em><span style="font-weight: 400;">spearman </span></em><span style="font-weight: 400;">didapatkan hasil </span><em><span style="font-weight: 400;">p-value </span></em><span style="font-weight: 400;">0,0000 dengan koefisien korelasi 0,796. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian </span><em><span style="font-weight: 400;">Stunting </span></em><span style="font-weight: 400;">di Puskemas Sooko Kabupaten Mojokerto.</span></p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16232 Uji Daya Hambat Ekstrak Kopi Java Preanger terhadap Bakteri Cutibacterium Acnes 2025-02-20T16:33:01+08:00 Tiara Natasya natasyatiara2903@gmail.com Hendro Sudjono Yuwono hsyabc47@gmail.com Mia Yasmina Andarini mia.yasmina@unisba.ac.id <p><strong>Abstract</strong><strong>.</strong> Resistance of Cutibacterium acnes (C. acnes) to the antibiotic minocycline is a serious problem in the treatment of acne vulgaris (AV). Java Preanger arabica coffee (Coffea arabica L) is rich chlorogenic acid and caffeine, can be used as a natural alternative for the treatment of AV. This study aims to compare the inhibitory power of Java Preanger Arabica coffee ethanol extract with minocycline as a first-line treatment for AV against C.acnes bacteria. This research uses an in vitro experimental method with well diffusion to measure the inhibition zone of C.acnes bacteria. Java Preanger Arabica coffee ethanol extract is made using the maceration method with concentrations of 75% and 100%. As a positive control, minocycline was used, while as a negative control, DMSO (Dimethyl Sulfoxide) was used. The bacterial inhibition zone was measured using a sliding period. The results showed that the ethanol extract of Java Preanger Arabica coffee at a concentration of 75% produced an average inhibition zone of 16.30 mm, while a concentration of 100% produced an inhibition zone of 10.18 mm. Minocycline produces the highest zone of inhibition, namely 28.27 mm. This shows that Java Preanger Arabica coffee extract is able to inhibit the growth of C. acnes bacteria, although its inhibitory power is lower than minocycline. (p-value = 0.0001) The mechanism of chlorogenic acid and caffeine by damaging protein synthesis by producing H₂O₂ thereby increasing bacterial membrane permeability and causing cell lysis.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Resistensi Cutibacterium acnes (C.acnes) terhadap antibiotik minosiklin menjadi masalah serius dalam terapi acne vulgaris (AV). Kopi arabika Java Preanger (Coffea arabica L), kaya akan asam klorogenat dan kafein, bisa dijadikan sebagai alternatif alami untuk pengobatan AV. Penelitian ini bertujuan membandingkan daya hambat ekstrak etanol kopi arabika Java Preanger dengan minosiklin sebagai lini pertama untuk pengobatan AV terhadap bakteri C.acnes. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental in vitro dengan&nbsp; difusi sumuran untuk mengukur zona hambat bakteri C.acnes. Ekstrak etanol kopi arabika Java Preanger&nbsp; disiapkan melalui metode maserasi dengan konsentrasi 75% dan 100%. Sebagai kontrol positif&nbsp; digunakan minosiklin, sedangkan kontrol negatif menggunakan DMSO (Dimetil Sulfoksida). Zona hambat bakteri diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kopi arabika Java Preanger pada konsentrasi 75% menghasilkan zona hambat rata-rata 16,30 mm, sedangkan konsentrasi 100% menghasilkan zona hambat 10,18 mm. Minosiklin menghasilkan zona hambat tertinggi, yaitu 28,27 mm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak kopi arabika Java Preanger mampu menghambat pertumbuhan bakteri C.acnes, meskipun daya hambatnya lebih rendah dibandingkan dengan minosiklin. (p-value = 0,0001) mekanisme antibakteri asam klorogenat dan kafein adalah merusak sintesis protein dengan menghasilkan H₂O₂ sehingga meningkatkan permeabilitas membran bakteri dan menyebabkan lisis sel.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16251 Hubungan Obesitas dengan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat 2025-02-20T16:35:21+08:00 Muna Dinur Rafifah munadinurr@gmail.com RB. Soeherman Herdiningrat drrbsoeherman@gmail.com Rizki Perdana rizkifkunisba@gmail.com <p><strong>Abstract</strong>. Obesity, a condition with high body fat levels, contributes to various health problems, including Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), an endocrine disorder associated with insulin resistance and hyperinsulinemia. This condition can interfere with reproductive function and results in decreased fertility rates. This study aims to determine the significant relationship between obesity and PCOS at Al-Ihsan Hospital, West Java. This research used a descriptive analytic method with a cross-sectional study design. The sampling technique being used in this research is the consecutive sampling method with a total of 109 patients at Al-Ihsan Hospital, West Java Province in 2023-2024 whose data were taken from patient medical records according to inclusion and exclusion criteria. Data analysis used chi square statistical test. The results of the study showed that of the 109 patients, most had Class I Obesity (34.9%) and 78% were diagnosed with PCOS. The analysis results of chi square statistical test obtained a p-value of 0.001 &lt;0.05 indicating that there was a significant relationship between obesity and PCOS.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Obesitas, kondisi dengan kadar lemak tubuh tinggi, berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, termasuk Polycysic Ovarian Syndrom (PCOS), gangguan endokrin yang terkait dengan resistensi insulin dan hiperinsulinemia. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi reproduksi berdampak pada turunnya angka fertilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara obesitas dan PCOS di RSUD Al-Ihsan Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling dengan jumlah 109 orang pasien di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Tahun 2023-2024 yang datanya diambil dari rekam medis pasien sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 109 pasien, sebagian besar Obesitas Kelas I (34.9%) dan 78% terdiagnosis dengan PCOS. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p-value sebesar 0,001&lt;0.05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan PCOS.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16267 Hubungan Hipertensi dengan Gangguan Fungsi Kognitif pada Pasien Stroke Iskemik 2025-02-20T16:38:38+08:00 Poca Anida Syahla pocaanidas@gmail.com Alya Tursina alyatursina@unisba.ac.id Mochammad Faisal Afif Mochyadin mochammad.faisal.afif@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Hypertension is one of the leading causes of morbidity and mortality worldwide and can lead to various complications such as stroke, which may result in cognitive function impairment in patients. This study aims to analyze the relationship between hypertension and cognitive function impairment in ischemic stroke patients at RSAU Salamun Bandung in 2024. The research was conducted as an observational analytic study with a cross-sectional design, involving 70 hospitalized ischemic stroke patients. Cognitive function was measured using the MoCA-INA questionnaire, and hypertension data were obtained from medical records. The results showed that 85.7% of the patients had hypertension, with a significant relationship indicated by a p-value of 0.000. Hypertension can trigger ischemia in the brain, particularly in the parahippocampal gyrus area, leading to cognitive impairment in patients.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi merupakan salah satu penyebab paling utama terjadinya morbiditas dan mortalitas di dunia dan dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi seperti stroke yang dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara hipertensi dengan gangguan fungsi kognitif pada pasien stroke iskemik di RSAU Salamun Bandung tahun 2024. Penelitian dilakukan secara analitik observasional dengan desain <em>cross-sectional</em>, melibatkan 70 pasien stroke iskemik rawat inap. Fungsi kognitif diukur menggunakan kuesioner MoCA-INA, dan data hipertensi diperoleh dari rekam medis. Hasil menunjukkan hipertensi (85,7%) dengan hasil analisis menunjukan hubungan yang signifikan dengan nilai P 0,000. Hipertensi dapat memicu terjadia iskemia pada otak terutama di daerah <em>gyrus parahippocampal </em>yang menyebabkan gangguan kognitif pada pasien.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16270 Studi Literatur: Konsumsi Lemak dalam Regulasi Tekanan Darah Penderita Hipertensi 2025-02-20T16:41:33+08:00 Hisyam Sauqi Fatah hisyamsfatah14@gmail.com Rio Dananjaya riodanan@gmail.com Mirasari Putri mirasari.putri@unisba.ac.id <p><span lang="EN-US"><strong>Abstract.</strong> Hypertension is one of the most common non-communicable diseases worldwide and a major risk factor for heart disease, stroke, and kidney failure. In Indonesia, the prevalence of hypertension reached 34.11% in 2018. This literature review aims to explore fat consumption in blood pressure regulation among hypertensive patients. This research was conducted as a literature review by collecting data from various previous literature sources, followed by reading, recording, analyzing, and synthesizing information to draw conclusions related to the discussed topic. Excessive fat consumption can trigger hypertension through obesity-related mechanisms. In obesity, adipose cell dysfunction occurs, leading to reduced blood vessel elasticity and increased blood pressure. Obesity results in increased cardiac output due to increased body mass, triggering sympathetic nervous system activity and the renin-angiotensin-aldosterone system (RAAS). Additionally, elevated leptin levels in obesity promote inflammation by increasing monocytes and inflammatory molecules, leading to blood vessel narrowing and increased hypertension risk. Fat consumption plays a crucial role in blood pressure regulation through various mechanisms including adipose dysfunction, increased cardiac output, RAAS activation, and inflammation-related processes. Therefore, proper fat intake regulation is essential in controlling blood pressure, particularly in hypertensive patients.</span></p> <p><span lang="EN-US"><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang paling sering terjadi di seluruh dunia dan merupakan faktor risiko utama penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 34,11% pada tahun 2018. Studi literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsumsi lemak dalam regulasi tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian ini dilakukan sebagai studi literatur dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber pustaka sebelumnya, kemudian membaca, mencatat, menganalisis, dan menyintesis informasi untuk memperoleh kesimpulan terkait topik yang dibahas. Konsumsi lemak berlebihan dapat memicu hipertensi melalui mekanisme yang terkait dengan obesitas. Pada kondisi obesitas, terjadi disfungsi sel adiposa yang mengakibatkan penurunan elastisitas pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah. Obesitas menyebabkan peningkatan curah jantung akibat bertambahnya massa tubuh, memicu aktivitas sistem saraf simpatis dan sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS). Selain itu, peningkatan kadar leptin pada obesitas memicu peradangan dengan meningkatkan monosit dan molekul inflamasi, yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan risiko hipertensi. Konsumsi lemak memiliki peran penting dalam regulasi tekanan darah melalui berbagai mekanisme termasuk disfungsi adiposa, peningkatan curah jantung, aktivasi RAAS, dan proses terkait inflamasi. Oleh karena itu, pengaturan asupan lemak yang tepat menjadi penting dalam upaya pengendalian tekanan darah, terutama pada penderita hipertensi.</span></p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16275 Gambaran Kualitas Tidur pada Mahasiswa Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2023/2024 2025-02-20T16:46:41+08:00 M. Taqi Isdawarman taqiquq@gmail.com Yuniarti yuniarti@unisba.ac.id Ayu Prasetia ayuprasetia.arief@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Sleep quality is a crucial aspect of human health that reflects subjective satisfaction with the duration, efficiency, and disturbances during sleep. This study highlights the importance of sleep quality, particularly among university students who often face challenges such as academic stress, heavy workloads, and lifestyle disruptions that can affect their sleep patterns. Data indicate that the majority of students experience poor sleep quality, which is associated with negative outcomes, including reduced concentration, cognitive impairments, and mental health risks. By understanding the factors influencing sleep quality, such as sleep duration, sleep efficiency, and stress levels, this research emphasizes the need for intervention strategies to improve sleep quality, thereby supporting the physical and mental health of students.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kualitas tidur merupakan salah satu aspek penting dari kesehatan manusia yang mencerminkan kepuasan subjektif terhadap durasi, efisiensi, dan gangguan selama tidur. Penelitian ini menyoroti pentingnya kualitas tidur, terutama di kalangan mahasiswa yang sering menghadapi tantangan seperti stres akademik, beban tugas berat, dan gangguan gaya hidup yang dapat memengaruhi pola tidur mereka. Data menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kualitas tidur buruk yang dikaitkan dengan dampak negatif, termasuk penurunan konsentrasi, gangguan kognitif, dan risiko kesehatan mental. Melalui pemahaman faktor-faktor yang memengaruhi kualitas tidur, seperti durasi tidur, efisiensi tidur, dan tingkat stres, penelitian ini menegaskan perlunya strategi intervensi untuk meningkatkan kualitas tidur demi mendukung kesehatan fisik dan mental mahasiswa.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16278 Analisis Perubahan Pola Pikir Mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan Menggunakan Prevalence Induced Concept Change 2025-02-20T16:49:07+08:00 Alfhi Maulana Pratama alfhimp@gmail.com Dicky Santosa drdickysantosamm@gmail.com Suganda Tanuwidjadja tanuwidjajasuganda@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>The learning process in medical schools often faces various academic challenges and high levels of stress, which can lead students to develop a fixed mindset. This mindset can negatively impact their mental health and academic performance. This study aims to analyze the changes in the mindset of medical students at Universitas Islam Bandung after the implementation of the prevalence induced concept change method, with the goal of reducing fixed mindsets. Using a quasi-experimental approach, this research involved students identified as having a fixed mindset through a mindset assessment profile questionnaire. The intervention was conducted using the Quizziz platform to test participants by displaying images of academic activities that varied from easy to difficult. Participants were divided into two groups: Group A experienced a gradual decrease in the prevalence of images considered difficult, while Group B received questions with a fixed composition of 50% easy and 50% difficult. The results showed that Group A experienced a significant shift from a fixed mindset to a growth mindset, as evidenced by a T-test analysis yielding a value of 0.000 (&lt;0.05). These findings support the hypothesis that repeated exposure to positive mindsets can influence students' perspectives on academic challenges. Overall, this study confirms the effectiveness of the prevalence induced concept change method in transforming students' mindsets, which in turn can enhance their academic experience and reduce stress. Thus, this method can serve as an effective strategy to support the development of students' mindsets in a challenging academic environment.<br><br><strong>Abstrak. </strong>Proses pembelajaran di Fakultas Kedokteran sering kali menghadapi berbagai tantangan akademis dan tingkat stres yang tinggi, yang dapat menyebabkan mahasiswa mengembangkan pola pikir tetap (fixed mindset). Pola pikir ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan kinerja akademik mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan pola pikir mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung setelah penerapan metode yang berdasarkan perubahan konsep yang dipicu oleh prevalensi (<em>prevalence induced concept change</em>), dengan tujuan mengurangi fixed mindset. Dengan menggunakan pendekatan kuasi-eksperimental, penelitian ini melibatkan mahasiswa yang teridentifikasi memiliki fixed mindset melalui kuesioner profil penilaian pola pikir. Intervensi dilakukan dengan menggunakan platform Quizziz untuk menguji peserta dengan menampilkan gambar kegiatan akademik yang bervariasi dari mudah hingga sulit. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok A mengalami penurunan bertahap dalam prevalensi gambar yang dianggap sulit, sementara Kelompok B menerima soal dengan komposisi tetap, yaitu 50% mudah dan 50% sulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok A mengalami pergeseran signifikan dari fixed mindset menuju growth mindset, yang dibuktikan dengan analisis Uji T yang menunjukkan nilai 0,000 (&lt;0,05). Temuan ini mendukung hipotesis bahwa paparan berulang terhadap pola pikir positif dapat memengaruhi cara pandang mahasiswa terhadap tantangan akademis. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan efektivitas metode prevalence induced concept change dalam mengubah pola pikir mahasiswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pengalaman akademis dan mengurangi stres. Dengan demikian, metode ini dapat menjadi strategi yang efektif untuk mendukung perkembangan pola pikir mahasiswa di lingkungan akademis yang penuh tantangan.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16283 Gambaran Tingkat Pengetahuan Merokok pada Anak Sekolah Dasar 2025-02-20T16:51:22+08:00 Ulul Azminia Primidita ululazmi2341@gmail.com Samsudin Surialaga samsudin_dr@yahoo.co.id Titik Respati Titik.Respati@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Cigarettes are still the biggest health problem in the world. Smoking is one of the main causes of disease and death that can still be prevented or the most avoidable cause of death. In Indonesia, the prevalence of cigarette use is still very high. The largest number of smokers in the world is in China, India, and in 3rd place is Indonesia. Cigarettes are one of the main factors causing health problems. Among them can cause cancer, heart disease, COPD, and so on. This study is a quantitative study using an analytical observational method using a cross-sectional design. Data were obtained through a questionnaire with the research subjects being students in grades VI, V, and VI of a primary school totaling 177 students. Data analysis in this study used univariate. The results showed that 43 students had smoked. For the level of tobacco knowledge in the criteria of good (52%), quite good (34.5%) and poor (13.6%). Seeing the lack of knowledge of the dangers of smoking in elementary school students and some who have smoked, it will be harmful to health. So it is necessary to increase socialization about the risks of smoking to elementary school students.</p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> Rokok masih menjadi masalah kesehatan terbesar di dunia. Rokok termasuk penyebab utama penyakit dan kematian yang masih dapat dicegah atau penyebab kematian yang paling dapat dihindari. Di Indonesia, prevalensi penggunaan rokok masih sangat tinggi. Jumlah perokok terbesar di dunia ada di negara China, India, dan di peringkat ke-3 adalah Indonesia. Rokok merupakan salah satu faktor utama penyebab masalah kesehatan. Diantaranya dapat menyebabkan kanker, penyakit jantung, PPOK, dan lain sebagainya. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan metode observasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Data diperoleh melalui kuesioner dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VI, V, dan VI yang berjumlah 177 siswa. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 43 siswa yang pernah merokok. Untuk tingkat pengetahuan merokok pada kriteria baik (52%), cukup baik (34.5%) dan kurang baik (13.6%). Melihat pengetahuan bahaya merokok yang kurang pada siswa sekolah dasar dan sudah ada yang sampai merokok, pasti akan membahayakan kesehatan. Sehingga perlunya meningkatkan sosialisasi tentang bahaya merokok kepada siswa sekolah dasar.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16303 Hubungan Obesitas dengan Hiperkolesterolemia pada Wanita usia 40-55 Tahun di Wilayah kerja Puskesmas Tamansari 2025-02-20T16:53:57+08:00 Fitri Rahmawati fitrirhm.fky14@gmail.com Ratna Dewi Indi ratnawidjajadi@unisba.ac.id Ismawati isma.fkunisba@gmail.com <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> Consumption of high-cholesterol foods can increase blood cholesterol levels, especially when combined with other risk factors such as lack of physical activity and obesity. The obesity rate of adults in Indonesia continues to increase every year. Pregnancy and menopause increase the risk of obesity in adult women. When entering menopause, a woman's metabolism decreases significantly, which can increase the risk of obesity compared to women before menopause. This study aims to analyze the relationship between obesity and hypercholesterolemia in premenopausal women in the Tamansari Health Center area of ​​Bandung City. The study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A total of 74 respondents were taken purposively, and data were obtained through body mass index (BMI) measurements and total cholesterol level examinations. Data analysis was carried out using the chi-square test to determine the relationship between obesity and hypercholesterolemia. The results showed that of the 74 respondents, 53 people (71.62%) were included in the obesity category, while 21 people (28.38%) were not obese. Based on total cholesterol levels, 22 people (29.73%) had hypercholesterolemia, while 52 people (70.27%) did not. Statistical tests showed no significant relationship between obesity and hypercholesterolemia in women aged 40-55 years (p = 0.675). This study concluded that obesity is not always directly related to hypercholesterolemia and is expected to be a reference for health education and prevention of the risk of diseases related to obesity and hypercholesterolemia.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Konsumsi makanan tinggi kolesterol dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, terutama jika dikombinasikan dengan faktor risiko lain seperti kurangnya aktivitas fisik dan obesitas. Tingkat obesitas orang dewasa di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Kehamilan dan menopause meningkatkan risiko obesitas pada wanita dewasa. Saat memasuki menopause, metabolisme tubuh wanita menurun secara signifikan, yang dapat meningkatkan risiko obesitas dibandingkan dengan wanita sebelum menopause. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan obesitas dengan hiperkolesterolemia pada wanita pramenopause di wilayah Puskesmas Tamansari Kota Bandung. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 74 responden diambil secara purposif, dan data diperoleh melalui pengukuran body mass index (BMI) serta pemeriksaan kadar kolesterol total. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara obesitas dan hiperkolesterolemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 74 responden, 53 orang (71,62%) termasuk dalam kategori obesitas, sementara 21 orang (28,38%) tidak obesitas. Berdasarkan kadar kolesterol total, 22 orang (29,73%) memiliki hiperkolesterolemia, sedangkan 52 orang (70,27%) tidak. Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara obesitas dan hiperkolesterolemia pada wanita usia 40-55 tahun (p = 0,675). Penelitian ini menyimpulkan bahwa obesitas tidak selalu berhubungan langsung dengan hiperkolesterolemia dan diharapkan dapat menjadi acuan untuk edukasi kesehatan serta pencegahan risiko penyakit terkait obesitas dan hiperkolesterolemia.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16324 Pengaruh Pola Makan Buah dan Sayur pada Lingkar Pinggang 2025-02-20T16:57:49+08:00 Junjun Wahyudi jnwhydi10@gmail.com Retno Ekowati retnoekowati@unisba.ac.id Tryando Bhatara tryando.bhatara@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Obesity is a complex health problem caused by various factors and characterized by the accumulation of excess body fat that adversely affects health. Based on 2016 WHO data, more than 1.9 billion adults in the world are overweight, with 650 million of them classified as obese, while in Indonesia, the 2018 Riskesdas recorded an obesity prevalence of 28.7% (BMI &gt;25) and 15.4% (BMI &gt;27) according to the 2015-2019 RPJMN. Obesity is a major concern in the 2030 SDGs agenda because it can increase the risk of non-communicable diseases such as hypertension, diabetes, cardiovascular disease, and reduce quality of life. Waist circumference (WC), which is more accurate than BMI in assessing visceral fat, is an important indicator in detecting obesity, with a cutoff of ≥90 cm for men and ≥80 cm for women in Asia. One of the main risk factors for obesity is poor diet, including low consumption of fruits and vegetables, where the 2018 Riskesdas reported 96.3% of Indonesian adults did not meet the WHO recommendation to consume five servings of fruits and vegetables per day. Based on the high obesity rate and low fruit and vegetable consumption in Indonesia, this study aims to analyze the effect of fruit and vegetable consumption on waist circumference.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Obesitas adalah masalah kesehatan kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor dan ditandai dengan akumulasi lemak tubuh berlebih yang berdampak buruk pada kesehatan. Berdasarkan data WHO 2016, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di dunia mengalami kelebihan berat badan, dengan 650 juta di antaranya tergolong obesitas, sedangkan di Indonesia, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi obesitas sebesar 28,7% (IMT &gt;25) dan 15,4% (IMT &gt;27) menurut RPJMN 2015–2019. Obesitas menjadi perhatian utama dalam agenda SDGs 2030 karena dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular, serta menurunkan kualitas hidup. Lingkar pinggang (WC), yang lebih akurat daripada IMT dalam menilai lemak visceral, menjadi indikator penting dalam mendeteksi obesitas, dengan batasan ≥90 cm untuk pria dan ≥80 cm untuk wanita di Asia. Salah satu faktor risiko utama obesitas adalah pola makan buruk, termasuk rendahnya konsumsi buah dan sayur, di mana Riskesdas 2018 melaporkan 96,3% orang dewasa Indonesia tidak memenuhi rekomendasi WHO untuk mengonsumsi lima porsi buah dan sayur per hari. Berdasarkan tingginya angka obesitas dan rendahnya konsumsi buah dan sayur di Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi buah dan sayur pada lingkar pinggang.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16352 Karakteristik Pasien Dermatitis Atopik di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2019-2023 2025-02-20T17:01:48+08:00 Indria Dewi Subowo indriadewi944@gmail.com Herri S. Sastramihardja herpst099@yahoo.com Mia Yasmina Andarini mia.yasmina@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Atopic dermatitis (AD) is characterized by recurrent itching, sleep disturbances, decreased productivity, as well as stress and anxiety caused by visible skin lesions. This study aims to determine the number and the characteristics of AD patients at RSUD Al-Ihsan Bandung from 2019 to 2023. The study was conducted using a descriptive observational method with secondary data obtained from patient medical records. Sampling was carried out using total sampling, resulting in 481 patients based on inclusion and exclusion criteria. The results showed that the prevalence of AD increased annually during the study period. The characteristics of AD patients at RSUD Al-Ihsan from 2019–2023 revealed that the largest age group was adolescents and adults (39%) and was predominantly female (61%). Most patients were students (63%). The most common atopic history was bronchial asthma (38%), and lesions were most frequently found in the upper extremities (24%). The most commonly prescribed treatment was second-line therapy (53%). This study demonstrates that the prevalence of AD at RSUD Al-Ihsan Bandung increased annually during the 2019–2023 period. The increase in AD prevalence can be attributed to several factors, such as improved public understanding of AD, better accessibility to healthcare services, and the rising prevalence of risk factors such as environmental pollution, lifestyle changes, and genetic predisposition.</p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> Dermatitis atopik (DA) ditandai dengan rasa gatal berulang, gangguan tidur, penurunan produktivitas, serta dapat memicu stres dan kecemasan akibat lesi kulit yang terlihat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan karakteristik pasien DA di RSUD Al-Ihsan Bandung pada tahun 2019–2023. Penelitian ini <span lang="EN-US">dilakukan dengan metode</span>observasional deskriptif menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien. <span lang="EN-US">P</span>engambilan sampel menggunakan total <em>sampling</em>, didapatkan 481 pasien berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DA meningkat setiap tahunnya selama periode penelitian. Karakteristik pasien <span lang="EN-US">DA di RSUD Al-Ihsan tahun </span>2019–2023 menunjukkan kelompok usia terbanyak <span lang="EN-US">pada</span> remaja dan dewasa (39%)<span lang="EN-US"> dan didominasi</span> oleh perempuan (61%). Sebagian besar pasien berasal dari kelompok pelajar (63%). Riwayat atopik terbanyak yang diderita adalah asma bronkial (38%), dan lokasi lesi paling sering ditemukan di area ekstremitas atas (24%). Pengobatan yang paling sering diberikan adalah golongan lini kedua (53%). Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi DA di RSUD Al-Ihsan Bandung mengalami peningkatan setiap tahunnya selama periode 2019–2023. Peningkatan <span lang="EN-US">prevalensi DA</span> dapat dikaitkan dengan beberapa faktor, seperti peningkatan pemahaman masyarakat terhadap penyakit DA, aksesibilitas layanan kesehatan yang lebih baik, serta peningkatan prevalensi faktor risiko seperti polusi lingkungan, perubahan gaya hidup, dan predisposisi genetik.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16368 Gambaran Elektrokardiogram pada Perokok Usia Muda di Fakultas Kedokteran Universitas X 2025-02-20T17:04:26+08:00 Zalfaa' Zaahira Shofaa' zalfaa.zaahira@gmail.com Wida Purbaningsih wida7089@gmail.com Ermina Widiyastuti ermina.widiyastuti@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Smoking is a major risk factor for morbidity and mortality from heart disease. This study aimed to describe the characteristics of electrocardiograms (ECGs) in young adult male smokers at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung. Thirty active smokers who met the inclusion and exclusion criteria participated. Data were collected from ECG examinations taken after 30 minutes rest and absence of smoking, along with questionnaires, including smoking history, blood pressure, weight, height, and waist circumference. Univariate analysis was used. The majority of respondents (63%) had a regular heart rhythm.&nbsp; There was a trend of increased heart rate with increased cigarette consumption.&nbsp; Some QT interval parameters showed significant variations among smoking groups, although these were not statistically significant. One respondent showed a prolonged QT interval, and another showed T-wave inversion. Most respondents (73.3%) had a normal transitional zone.&nbsp; Fragmented QRS complexes were observed in 70% of respondents. There were some notable ECG changes in young adults population. Further research is needed to confirm the causal relationship and consider other influencing factors.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Merokok merupakan faktor risiko utama morbiditas dan mortalitas penyakit jantung. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik elektrokardiogram (EKG) pada mahasiswa perokok usia muda di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Terdapat 30 mahasiswa perokok aktif yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan EKG yang diambil setelah 30 menit beristirahat dan tidak merokok, serta pengisian formulir yang meliputi riwayat merokok, tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan lingkar pinggang. Analisis data menggunakan analisis univariat<strong>. </strong>Sebagian besar responden (63%) memiliki irama jantung yang teratur. Terdapat kecenderungan peningkatan frekuensi jantung seiring dengan bertambahnya jumlah rokok yang dikonsumsi. Beberapa parameter interval QT menunjukkan variasi yang signifikan antar kelompok perokok dengan jumlah konsumsi yang berbeda, meskipun tidak secara statistik signifikan. Satu responden menunjukkan pemanjangan interval QT dan satu lagi memiliki inversi gelombang T. Sebagian besar responden (73.3%) memiliki transitional zone yang normal. Sebanyak 70% responden menunjukkan fragmented QRS. Terdapat perubahan EKG pada perokok muda yang mungkin mencerminkan dampak pada kesehatan jantung pada populasi muda. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hubungan sebab-akibat dan mempertimbangkan faktor lain yang memengaruhi.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16376 Karakteristik Pasien Dermatitis Atopik di RSAI Bandung 2025-02-20T17:06:40+08:00 Malika Alifia Khansa malikalifkh@gmail.com Deis Hikmawati deis@unisba.ac.id Widhy Yudistira Nalapraya widhyyudistira@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Atopic dermatitis (AD) is a chronic inflammatory skin disease with significant physical, psychological, and social impacts. This study analyzes the characteristics of AD patients at RS Al Islam Bandung (January 2019–August 2024) using a descriptive cross-sectional method. Data from 153 medical records, including age, sex, predilection sites, clinical manifestations, history of atopy, and treatment, were analyzed. The highest prevalence was in 2024 (0.022%), with most cases in children &lt;5 years (26.8%), females (54.2%), and predilection in the upper extremities (30.1%). The main complaint was itching (36.9%), and 83% of patients had no history of atopy. Topical corticosteroids (35.1%) were the most common treatment. AD is more prevalent in children due to an underdeveloped skin barrier and in females due to hormonal influences on Th2 activity. Itching is linked to increased transepidermal water loss (TEWL) and reduced stratum corneum water content, with friction-prone upper extremities as a predilection site. This study underscores the need for accurate diagnosis, patient education, and proper treatment to prevent recurrence. Further studies are essential to enhance these findings and improve AD management strategies.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kulit inflamasi kronis yang berdampak signifikan secara fisik, psikologis, dan sosial. Penelitian ini menggambarkan karakteristik pasien DA di Poliklinik Kulit dan Kelamin RS Al Islam Bandung periode Januari 2019–Agustus 2024 menggunakan metode deskriptif cross-sectional. Data dari 153 rekam medis dianalisis univariat meliputi usia, jenis kelamin, lokasi predileksi, manifestasi klinis, riwayat atopi, dan pengobatan. Hasil menunjukkan prevalensi tertinggi pada 2024 (0,022%) dengan kelompok usia &lt;5 tahun (26,8%), perempuan (54,2%), predileksi di ekstremitas atas (30,1%), keluhan utama gatal (36,9%), dan mayoritas tanpa riwayat atopi (83%). Kortikosteroid topikal (35,1%) adalah terapi utama. Dermatitis atopik lebih sering terjadi pada anak &lt;5 tahun akibat skin barrier yang belum optimal, dan pada perempuan karena hormon estrogen dan progesteron memengaruhi aktivitas Th2. Gatal dipicu oleh peningkatan kehilangan air epidermis (TEWL) dan penurunan kadar air stratum korneum dengan lokasi predileksi ekstremitas atas rentan gesekan. Kortikosteroid topikal efektif sebagai terapi antiinflamasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya diagnosis akurat, edukasi pasien, dan pengobatan untuk mencegah kekambuhan. Studi lebih luas diperlukan untuk memperkuat hasil ini dan mendukung strategi manajemen DA yang lebih efektif.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16384 Gambaran Jenis Kelamin dan Usia Pasien Difteri di RSUD Dr. Slamet Garut Tahun 2022-2023 2025-02-20T18:50:17+08:00 Amyra Putri Tsania amyra.pts22@gmail.com Sadiah Achmad achmad.sadiah@gmail.com Mia Kusmiati mia.kusmiati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Diphtheria remains a global health problem, especially in countries with low vaccination coverage. In addition to vaccination status, the distribution of diphtheria cases based on gender shows a varied pattern. This study aims to analyze the impact of low DPT vaccination on diphtheria incidence based on gender at RSUD Dr. Slamet Garut. The study used an analytic observational design with a cross-sectional approach. Secondary data were taken from medical records of diphtheria patients at RSUD dr. Slamet Garut in 2022-2023. A total of 70 patients aged 1-58 years, the study results showed that most patients were in the largest age group, namely 20-44 years.were analyzed, including variables of gender, DPT vaccination status, and diphtheria diagnosis results. Most diphtheria patients were female (62.9%), while males accounted for 37.1%. Variations in distribution by sex may be influenced by factors such as location, time, population conditions, and differences in access to vaccination. This study shows that most diphtheria cases in RSUD Dr. Slamet Garut occurred in women. Gender factors need to be considered in diphtheria control efforts, especially in increasing DPT vaccination coverage evenly and thoroughly.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Difteri masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara-negara dengan cakupan vaksinasi rendah. Selain status vaksinasi, distribusi kasus difteri berdasarkan jenis kelamin menunjukkan pola yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak rendahnya vaksinasi DPT terhadap kejadian difteri berdasarkan jenis kelamin di RSUD dr. Slamet Garut. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data sekunder diambil dari rekam medis pasien difteri di RSUD dr. Slamet Garut tahun 2022-2023. Sebanyak 70 pasien dengan usia 1-58 tahun dianalisis, hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien dengan kelompok usia terbanyak yaitu usia 20-44 tahun. Meliputi variabel jenis kelamin, status vaksinasi DPT, dan hasil diagnosis difteri. Mayoritas pasien difteri adalah perempuan (62,9%), sementara laki-laki mencakup 37,1%. Variasi distribusi berdasarkan jenis kelamin dapat dipengaruhi oleh faktor lokasi, waktu, kondisi populasi, dan perbedaan akses terhadap vaksinasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas kasus difteri di RSUD dr. Slamet Garut terjadi pada perempuan. Faktor jenis kelamin perlu diperhatikan dalam upaya pengendalian difteri, terutama dalam konteks peningkatan cakupan vaksinasi DPT secara merata dan menyeluruh.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16387 Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Stunting di Posyandu Anyelir 6 Desa Kertawangi Kabupaten Bandung Barat Tahun 2024 2025-02-20T18:53:40+08:00 Khairunnisa Surya Pratiwi khairunnisarsy12@gmail.com M. Nurhalim Shahib nurhalimshahib@yahoo.com Siti Annisa Devi Trusda sitiannisadevitrusda@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> <em>Stunting </em>remains a significant issue in Indonesia, with a prevalence rate of approximately 24.4%. In West Java Province, specifically in Bandung Regency, the incidence reaches 8.85%, equivalent to 20,461 children under five. Maternal knowledge plays a critical role in the occurrence of <em>stunting</em>. This study aims to analyze the relationship between maternal knowledge levels and maternal age with <em>stunting</em> cases in Anyelir 6 Posyandu Kertawangi Village West Bandung Regency. The research employed a quantitative analytical <em>observational</em> method with a <em>cross-sectional</em> design and <em>simple random sampling</em> technique. The subjects were mothers with children under five in Anyelir 6 Posyandu Kertawangi Village in 2024, totaling 45 participants aged between 17–45 years. Primary data were collected using a questionnaire about <em>stunting</em>. Data were analyzed using the <em>Fisher Exact</em> statistical test. The results showed a statistically significant relationship between maternal knowledge level and <em>stunting</em> occurrence (p=0.019). These findings suggest that other factors may contribute to <em>stunting</em>, such as dietary patterns, poor sanitation, childhood infections, low socioeconomic status, and sociocultural factors.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Stunting </em>masih menjadi masalah di Indonesia sekitar 24,4%. Salah satunya Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung mencapai 8,85% atau setara 20.461 balita. Pengetahuan ibu berperan terhadap kejadian <em>stunting</em>. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan usia ibu dengan kejadian <em>stunting</em> di Posyandu Anyelir 6 Desa Kertawangi, Kabupaten Bandung Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif analitik <em>observasional</em> dengan desain <em>cross-sectional</em> dan teknik pengambilan <em>simple random sampling</em>. Subjek pada penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki balita di Posyandu Anyelir 6 Desa Kertawangi tahun 2024 sebanyak 45 orang yang berusia 17-45 tahun. Data diambil secara primer menggunakan kuesioner tentang <em>stunting</em>. Data dianalisis dengan uji statistik <em>Fisher Exact</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian <em>stunting</em> (<em>p</em>=0.019). Hasil ini dapat disebabkan karena banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi <em>stunting</em>, yaitu pola makan, sanitasi yang buruk, penyakit infeksi pada anak, status ekonomi rendah, dan sosial budaya.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16404 Studi Literatur: Faktor Risiko Multidrug-Resistant Tuberculosis pada Anak 2025-02-21T10:15:49+08:00 Muthia Rakha Yasyfa muthiarkh@gmail.com Fajar Awalia Yulianto fajar@unisba.ac.id Raden Ganang Ibnusantosa ganang@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) is a contagious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and poses a significant global health issue. This study aims to explore the incidence of Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) in children, as well as the risk factors contributing to its prevalence. The methodology employed is a literature review, with data collection conducted through library searches via EBSCOhost and manual web searches using the search keywords “multidrug-resistant” AND “children” to obtain articles containing both keywords, and “multidrug-resistant” OR “MDR-TB” to broaden the search scope. The combination of AND and OR operators was utilized to obtain the most desired articles with the search keywords (multidrug-resistant OR MDR) AND (children OR pediatric). The articles central to this research were sourced from the WHO Global Report 2023, CDC, EBSCO, Elsevier, Lancet, and PubMed, totaling twenty seven articles. Results indicate that in 2019, there were over 360,000 cases of MDR-TB globally, with Indonesia ranking fourth in terms of the highest incidence. Significant risk factors include age, previous history of TB, co-infection with other diseases, and close contact with MDR-TB patients. This study emphasizes the importance of early detection and appropriate management to reduce mortality rates from TB in children.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> dan menjadi masalah kesehatan global yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kejadian Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) pada anak, serta faktor risiko yang berkontribusi terhadap prevalensinya. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pengumpulan data yang dilakukan dengan penelusuran pustaka melalui EBSCO<em>host</em> dan web pencarian secara manual dengan kata kunci pencarian “<em>multidrug-resistant</em>” <em>AND</em> “<em>children</em>” untuk mendapatkan artikel dengan kedua kata kunci tersebut dan kata kunci “<em>multidrug-resistant</em>” <em>OR</em> “MDR-TB” untuk memperluas cakupan pencarian. Penggabungan operator <em>AND</em> dan <em>OR</em> digunakan untuk mendapatkan artikel yang paling diinginkan dengan kata kunci pencarian (<em>multidrug-resistant OR</em> MDR) <em>AND</em> (<em>children OR pediatric</em>). Artikel yang dimuat sebagai pustaka dalam penelitian ini didapat dari laman WHO Global Report 2023, CDC, EBSCO, Elsevier, Lancet, dan PubMed dengan jumlah dua puluh tujuh artikel. Hasil menunjukkan bahwa pada tahun 2019, terdapat lebih dari 360.000 kasus MDR-TB secara global, dengan Indonesia menempati peringkat ke-4 dalam insidensi tertinggi. Faktor risiko signifikan meliputi usia, riwayat TB sebelumnya, koinfeksi dengan penyakit lain, dan kontak dekat dengan pasien MDR-TB. Penelitian ini menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat untuk mengurangi angka kematian akibat TB pada anak.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16406 Studi Literatur: Status HIV dan Status Sensitivitas Obat pada Pasien Tuberkulosis Paru 2025-02-21T10:16:50+08:00 Bagus Abimanyu bagoesabi03@gamil.com Heni Muflihah henimuflihah@unisba.ac.id Rika Nilapsari rika.nilapsari@yahoo.com <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and remains one of the leading causes of death from infectious diseases. Standard TB treatment involves first-line drugs such as isoniazid, rifampin, ethambutol, and pyrazinamide, which are effective in drug-sensitive TB (DS-TB) cases. However, resistance to first-line drugs, known as drug-resistant TB (DR-TB), has become a major challenge in TB management. This study aims to review drug sensitivity status in pulmonary TB patients, focusing on the distribution of DS-TB and DR-TB, risk factors for resistance, and challenges in managing DR-TB. drug sensitivity status is a critical indicator for the success of TB treatment. While first-line treatment remains effective for most pulmonary TB patients, the increasing prevalence of DR-TB necessitates more comprehensive control strategies, including enhanced screening, improved treatment adherence, and the development of more advanced diagnostic methods. Tuberculosis (TB) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) are two interrelated infectious diseases and global health concerns. HIV-positive patients have a higher risk of developing active TB, including drug-sensitive TB (DS-TB) and drug-resistant TB (DR-TB), due to weakened immune systems.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> dan tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular. Pengobatan TB standar menggunakan obat lini pertama seperti isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid, yang efektif pada kasus TB sensitif obat (TB-SO). Namun, resistensi terhadap obat lini pertama, yang dikenal sebagai TB resistan obat (TB-RO), telah menjadi tantangan utama dalam pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas status sensitivitas obat pada pasien TB paru, khususnya distribusi TB-SO dan TB-RO, faktor risiko resistensi, serta tantangan dalam penanganan TB-RO. Status sensitivitas obat adalah indikator penting untuk keberhasilan pengobatan TB. Meskipun pengobatan lini pertama masih efektif bagi sebagian besar pasien TB paru, meningkatnya kasus TB-RO memerlukan strategi pengendalian yang lebih komprehensif, termasuk penguatan skrining, peningkatan kepatuhan pengobatan, dan pengembangan metode diagnostik yang lebih canggih. Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah dua penyakit infeksi yang saling berkaitan dan menjadi masalah kesehatan global. Pasien HIV memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan TB aktif, baik TB sensitif obat (TB-SO) maupun TB resistan obat (TB-RO), karena lemahnya sistem imun.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16417 Gambaran Karakteristik Pasien Katarak di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Periode 2018─2023 2025-02-21T10:30:13+08:00 Dhimas Giovany Agnely dhimasgiovany2019@gmail.com Nugraha Sutadipura nugrahasutadipura@gmail.com Yani Triyani ytriyani87@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>Cataracts are clouding or cloudiness in the lens of the eye that blocks the flow of light through the lens to the retina of the eye, and is the leading cause of blindness in the world. Based on World Health Organization (WHO) 2023 data, there are 1 billion people in the world who experience visual impairment or blindness. Meanwhile, in Indonesia in 2022 there are around 1.6 million Indonesians experiencing blindness and the average age is over 50 years old and the main cause is cataracts. The majority of cataract patients are women and the type of work that usually occurs in cataract patients is outdoor work. The purpose of this study is to find out the characteristics and types of cataracts at Al-Ihsan Hospital, West Java Province for the 2018-2023 period. Descriptive method, data will be collected from the medical records of cataract patients at Al-Ihsan Hospital, West Java Province for the 2018-2023 period. A total of 1,068 cataract patients were recorded at Al-Ihsan Hospital, West Java Province for the 2018-2023 period. The results of this study show that the most gender is female 576 (54%). The most age is the elderly group, which is &gt;60 years old 786 (74%). The most occupational status is farmers with 317 patients (30%). The most common type of cataract is senile cataract 1,012 (95%). The dominance of senile cataract types (95%) confirms that age-related cataracts remain a major health problem among the elderly population. In addition, the proportion of patients who work as farmers shows the potential to be a risk factor, such as ultraviolet radiation or lifestyle that affects eye health.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Katarak merupakan <em>clouding</em> atau kekeruhan pada lensa mata yang menghalangi aliran cahaya melalui lensa menuju retina mata, dan menjadi penyebab utama kebutaan di dunia. Berdasarkan data <em>World Health Organization </em>(<em>WHO</em>) 2023 terdapat 1 milyar masyarakat di dunia yang mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan. Sedangkan di Indonesia 2022 terdapat sekitar 1,6 juta penduduk Indonesia mengalami kebutaan dan usia rata-rata diatas 50 tahun dan penyebab utama adalah katarak. Mayoritas pasien katarak adalah perempuan dan jenis pekerjaan yang biasa terjadi pada penderita katarak adalah pekerjaan diluar ruangan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan jenis katarak di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Periode 2018─2023. Metode deskriptif, data akan dikumpulkan dari rekam medis pasien katarak di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode 2018─2023. Sebanyak 1.068 pasien katarak tercatat di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat periode 2018─2023. Hasil penelitian ini menujukkan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 576 (54%). Usia terbanyak adalah kelompok lansia yaitu usia &gt;60 tahun 786 (74%). Status pekerjaan terbanyak adalah petani 317 pasien (30%).Jenis katarak terbanyak adalah katarak senilis 1.012 (95%). Dominasi jenis katarak senilis (95%) menegaskan bahwa katarak terkait usia tetap menjadi masalah kesehatan utama di kalangan populasi lanjut usia. Selain itu, proporsi pasien yang bekerja sebagai petani menunjukkan potensi menjadi faktor risiko, seperti radiasi ultraviolet atau gaya hidup yang memengaruhi kesehatan mata.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16441 Gambaran Usia Menarche pada Mahasiswi Universitas Islam Bandung 2025-02-21T10:32:51+08:00 Zenny Nurfajriani zennynr24@gmail.com Eka Nurhayati eka.nurhayati@unisba.ac.id Titik Respati titik.respati@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract. </span></strong>Menarche refers to the first occurrence of menstrual bleeding in a woman’s uterus, indicating that she has reached puberty and begun the reproductive phase and menstrual cycle. This bleeding typically occurs during adolescence as a sign that the body is undergoing hormonal changes to prepare for future fertility. The age of menarche has decreased in various countries since the early 20th century.This study aims to describe the age of menarche among undergraduate students under the age of 19 at the Islamic University of Bandung. The research employs a retrospective cohort method based on primary data. The total sample consists of 111 participants. The age of menarche is categorized into three groups: early menarche, normal menarche, and late menarche. Analysis using SPSS Statistic revealed that 103 participants (92.79%) experienced normal menarche, while early and late menarche were each experienced by 4 participants (3.60%). The average age of menarche was 12.30 years, with a median of 12.00 years, a minimum age of 9.00 years, and a maximum age of 16.00 years.</p> <p class="PROSIDING-KATAKUNCI"><span lang="EN-US"><strong>Abstrak</strong>. </span><em>Menarche</em> adalah peristiwa perdarahan pertama yang terjadi pada rahim seorang wanita, menandakan bahwa seorang wanita telah mengalami pubertas &nbsp;dengan dimulainya fase reproduksi dan siklus menstruasi. Perdarahan ini biasanya terjadi pada usia remaja, sebagai tanda bahwa tubuh mulai mengalami perubahan hormon yang mempersiapkan kemampuan untuk hamil di masa depan. Usia <em>menarche</em> telah menurun di berbagai negara sejak awal abad ke-20. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran usia <em>menarche</em> pada mahasiswi S1 yang berusia maksimal 19 tahun di Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan metode <em>cohort retrospektif</em> berdasarkan data primer. Total subjek penelitian ini melibatkan 111 sampel. Usia <em>menarche </em>dikategorikan menjadi tiga: <em>menarche</em> dini, normal, dan terlambat. Analisis menggunakan SPSS<em> Statistik</em> menunjukkan <em>menarche</em> <span lang="IN">normal sebanyak 103 orang atau (92,79%), menarche dini dan menarche terlambat yaitu masing-masing sebanyak 4 orang atau (3,60%). Untuk rerata <em>menarche</em> yaitu 12,30 tahun, median 12,00 tahun, dan minimum yaitu 9,00 tahun, dengan nilai maksimum yaitu sebesar 16,00 tahun</span>.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16453 Gambaran Kejadian Diare pada Balita Usia 0 - 60 Bulan di Jawa Barat Berdasarkan Analisis Data Riskesdas 2018 2025-02-21T11:25:28+08:00 Arya Adhirajasa Pawitra itsadhirajasa@gmail.com Fajar Awalia Yulianto fajar@unisba.ac.id Nurul Romadhona nromadhonadr@gmail.com <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract</strong><strong>.</strong> Diarrhea remains a communicable disease that continues to be a global health issue, causing 1.9 million deaths among children under the age of 5 annually. Recent data from the 2020 Indonesian Nutrition Status Survey shows a prevalence rate of 12.3% among children under five, with a mortality rate of 4.55% in children aged 12–59 months due to diarrhea. This study aims to describe the occurrence of diarrhea among children aged 0–60 months in West Java. The research employed a descriptive observational study with a cross-sectional design. Data was obtained from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) analysis in West Java, focusing on diarrhea incidents among children under five. A total of 382 respondents out of 6611 children met the inclusion criteria. Statistical analysis was conducted using SPSS Statistics. The results indicated that the majority of children did not experience diarrhea, accounting for 308 children (80.6%), while a minority experienced diarrhea, totaling 74 children (19.4%), with a 95% confidence interval (CI) of 1.8461–1.7665.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Diare merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global, terjadi 1,9 juta kematian anak di bawah usia 5 tahun setiap tahun. Data terbaru dari hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2020. Angka prevalensi untuk balita sebesar 12,3%,&nbsp; Pada kelompok anak balita usia 12 – 59 bulan mengalami kematian akibat diare sebesar 4,55%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di Jawa Barat. Metode Penelitan ini dilakukan dengan desain analisis deskriptifobservasional jenis <em>Cross- sectional</em>. Data diambil dari analisis data riskesdas 2018 di Jawa Barat yang mencakup kejadian diare pada balita.Total responden berjumlah 382 dari 6611 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis menggunakan <em>SPSS Statstics. </em>Hasil menunjukkan mayoritas balita tidak mengalami diare sebanyak 308 orang 80,6%, dan minoritas mengalami diare sebanyak 74 orang 19,4%, dan (95% Cl = 1.8461-1.7665).</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16470 Mahasiswa Kedokteran Cemas: Apakah Mungkin? 2025-02-21T10:36:37+08:00 Rucira Kyla Rubiati 10100121194@unisba.ac.id Eka Nurhayati eka.nurhayati@unisba.ac.id Titik Respati titik.respati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>One of most common mental health problems experienced by university students is anxiety, due to high academic demands that also influenced by other factors like family and social.&nbsp; Anxiety, a common emotional response of individuals in various situations including students, especially who study in demand high levels skill, concentration and pressure, such as Medical Faculty. Unaddressed anxiety disorders can have negative impact on various aspects of medical students' lives. This study aims to analyze the description of anxiety levels and students of the Faculty of Medicine in Bandung during the 2023-2024 academic year. This study used an observational analytic design with cross-sectional approach. Data were collected through questionnaires distributed to 105 students who met the inclusion and exclusion criteria. The instruments used include Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) to measure anxiety levels. The results showed the distribution of students' anxiety levels, ranging mild to severe categories, was not highly significant. The majority of respondents are mild category (36.19%), followed by severe category (33.33%) and moderate category (29.51%), with only one respondent (0.95%) categorized &nbsp;not anxious, shows medical students varying levels of anxiety. These findings underscore the importance of early interventions to reduce anxiety and improve students' mental health and well-being.</p> <p><strong>Abstrak.&nbsp;</strong>Salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum dialami oleh mahasiswa adalah kecemasan. Hal ini disebabkan oleh tuntutan akademik yang tinggi yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti keluarga dan sosial. Kecemasan merupakan respon emosional yang umum dihadapi individu dalam berbagai situasi, termasuk di kalangan mahasiswa, terutama mereka yang belajar di bidang yang menuntut keterampilan, konsentrasi, dan tekanan yang tinggi, seperti Fakultas Kedokteran. Gangguan kecemasan yang tidak ditangani dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan mahasiswa kedokteran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran tingkat kecemasan dan mahasiswa Fakultas Kedokteran di Bandung selama tahun akademik 2023-2024. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 105 mahasiswa FK Unisba yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan meliputi Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) untuk mengukur tingkat kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan distribusi tingkat kecemasan mahasiswa, mulai dari kategori ringan hingga berat, tidak terlalu signifikan. Mayoritas responden masuk dalam kategori ringan (36,19%), diikuti oleh kategori berat (33,33%) dan kategori sedang (29,51%), dengan hanya satu responden (0,95%) yang masuk dalam kategori tidak cemas. Mahasiswa kedokteran menunjukkan tingkat kecemasan yang bervariasi. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya intervensi dini untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesehatan mental serta kesejahteraan mahasiswa.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16472 Perbandingan Pemberian Pemanis Stevia Rebaudiana Sediaan Serbuk dan Cair terhadap Peningkatan Kadar Gula Darah pada Kelompok Dewasa Muda 2025-02-21T10:38:36+08:00 Nadiya Taufiq nadiyaataufiq@gmail.com Raden Anita Indriyanti r.anitaindriyanti@gmail.com Endang Suherlan suherlanendang@gmail.com <p class="PROSIDING-Email"><strong>Abstract. </strong><span lang="EN-US">Type 2 diabetes mellitus (DM) in young adults is on the rise. This disease is caused by insulin resistance such as an unhealthy lifestyle, a high-sugar diet, and lack of physical activity. The use of artificial sweeteners can be one of the sugar substitutes, but its side effects are still controversial. Stevia rebaudiana, a natural sweetener, offers a healthy alternative as it does not increase blood sugar levels. This study aims to compare the effects of stevia in powder and liquid form on blood sugar levels in young adults. This study used a quasi-experimental design, the research sample was young adults taken using purposive sampling technique</span><span lang="EN-US">. </span><span lang="EN-US">The samples were divided into 4 groups, namely, the group without any sweetener (K-), the group given granulated sugar (K+), the powder stevia group (K1), and the liquid stevia group (K2). Blood sugar levels were measured before and 30 minutes after treatment. Data were tested with Repeated ANOVA, Pairwise Comparisons and Paired T. The results showed that the average increase in blood sugar in groups K-, K+, K1, K2 was -3.41, 26.77, 0.23, -2.82 respectively. The statistical test results showed that there was no significant difference between K1 and K2 on the increase in blood sugar of respondents with a value of p = 0.997, but there was a significant difference in the increase in blood sugar between K + with K1 and K2 with a value of p = 0.000. The significant difference between the K+ group and the stevia group indicate the potential of Stevia rebaudiana in regulating blood sugar levels, but there is no significant difference between the powder and liquid stevia groups, indicating that the dosage form of stevia does not significantly affect blood sugar levels. </span></p> <p class="PROSIDING-Email"><strong><span lang="EN-US">Abstrak. </span></strong><span lang="EN-US">Diabetes Melitus (DM) tipe 2 pada dewasa muda terus meningkat. Penyakit ini disebabkan oleh resistensi insulin seperti gaya hidup tidak sehat, pola makan tinggi gula, serta kurang aktivitas fisik. Penggunaan pemanis buatan dapat menjadi salah satu pengganti gula, akan tetapi efek sampingnya masih kontroversi. </span><em><span lang="EN-US">Stevia rebaudiana</span></em><span lang="EN-US">, pemanis alami menawarkan alternatif sehat karena tidak meningkatkan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek stevia dalam bentuk serbuk dan cair terhadap kadar gula darah kelompok dewasa muda. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental kuasi, sampel penelitian merupakan dewasa muda yang diambil menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. </span><span lang="EN-US">Sampel dibagi menjadi 4 kelompok yaitu, kelompok tanpa diberikan pemanis apapun (K-), kelompok yang diberikan gula pasir (K+), kelompok stevia serbuk (K1), dan kelompok stevia cair (K2). Kadar gula darah diukur sebelum dan 30 menit setelah perlakuan. </span><span lang="EN-US">Data di uji dengan </span><em><span lang="EN-US">Repeated ANOVA</span><span lang="EN-US">, </span><span lang="EN-US">Pairwise Comparisons</span></em><span lang="EN-US"> dan T Berpasangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan gula darah rata-rata pada kelompok K-, K+, K1, K2 berturut-turut sebesar -3.41, 26.77, 0.23, -2.82. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara K1 dan K2 terhadap peningkatan gula darah responden dengan nilai p = 0.997, namun terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan gula darah antara K+ dengan K1 dan K2 dengan nilai p = 0.000. Perbedaan signifikan antara kelompok K+ dan kelompok stevia menunjukkan potensi </span><em><span lang="EN-US">Stevia rebaudiana</span></em><span lang="EN-US"> dalam mengatur kadar gula darah, namun tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok stevia serbuk dan cair yang menunjukkan bahwa bentuk sediaan stevia tidak memengaruhi secara signifikan. </span></p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16482 Gambaran Karakteristik Demografis, Status Gizi, Penyakit Komorbid, dan Derajat Asma pada Pasien Asma di Poliklinik Anak Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2023 2025-02-21T10:40:24+08:00 Adissa Aqilah Althaf adissaaqilah21@gmail.com Yuli Susanti yuli.susanti@unisba.ac.id Yudi Feriandi yudiferiandi@gmail.com <p><strong>Abstract</strong>. Asthma is a chronic disease that occurs in the respiratory tract with narrowing of the respiratory tract and also inflammation that generally occurs in childhood and is related to conditions such as eczema and fever. The purpose of this study is to analyze the description of demographic characteristics, nutritional status, comorbid diseases, and asthma degrees in asthma patients at the pediatric polyclinic.&nbsp; This cross-sectional&nbsp; study was conducted at Al-Islam Hospital on 114 patients from September to December. Data was obtained from medical records taken in the 2023 period. The data used a univariate test. The results of univariate analysis were obtained based on gender, the number of males was 66 (57.9%) more than females; the number of age groups with asthma is the highest in the age group &lt; 5 years old as many as 64 people (56%) sufferers; and the lowest age group of asthma sufferers at the age of 10–18 years as many as 15 people (14%) sufferers; the majority of people with normal nutritional status were 65 people (57.2%); the highest number of comorbid diseases in asthmatic children, namely bronchopneumonia as many as 51 children (44.7%) suffered; and 53 people (46.5%) with moderate persistent asthma. In conclusion, children with asthma at Al Islam Hospital are predominantly male, age group &lt; 5 years, normal nutritional status, comorbid bronchopneumonia, and moderate persistent asthma.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Asma merupakan penyakit kronis yang terjadi pada saluran pernapasan dengan penyempitan saluran pernapasan dan juga terjadi peradangan yang umumnya terjadi pada masa kanak-kanak serta berhubungan dengan kondisi seperti eksim dan demam. Tujuan penelitian ini menganalisis gambaran karakteristik demografis, status gizi, penyakit komorbid, dan derajat asma pada pasien asma di poliklinik anak. Penelitian <em>cross sectional </em>ini dilakukan di Rumah Sakit Al- Islam pada 114 pasien selama bulan September hingga Desember. Data diperoleh dari rekam medik yang diambil pada periode tahun 2023. Data menggunakan uji univariat. Hasil analisis univariat didapatkan berdasarkan jenis kelamin jumlah laki-laki 66 orang (57,9%) lebih banyak dibanding dengan perempuan; jumlah kelompok usia penderita asma paling banyak pada kelompok usia &lt; 5 tahun tahun sebanyak 64 orang (56%) penderita; dan jumlah kelompok usia penderita asma paling rendah pada usia 10–18 tahun sebanyak 15 orang (14%) penderita; mayoritas status gizi normal sebanyak 65 orang (57,2%); jumlah terbanyak penyakit komorbid pada anak asma, yaitu bronkopneumonia sebanyak 51 anak (44,7%) penderita; dan 53 orang (46,5%) penderita&nbsp; dengan derajat asma persisten sedang. Simpulan, penderita anak asma di RS Al Islam yang dominan laki-laki, kelompok usia &lt; 5 tahun, status gizi normal, penyakit komorbid bronkopneumonia, dan derajat asma persisten sedang.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16488 Hubungan Antara Kebiasaan Minum Kopi dengan Tingkat Stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2023 2025-02-21T10:42:23+08:00 Intan Berliana intanberliana240404@gmail.com Abdul Hadi Hassan abdulhadihassan@yahoo.com Yudi Feriandi yudiferiandi@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> College students are one of the groups of adults who tend to be very susceptible to stress, especially due to various academic demands, which can be a cause of stress for students. Most college students currently consume significant amounts of coffee every day. The purpose of this study was to analyze the relationship between coffee drinking habits and stress levels in medical school students. This cross-sectional study was conducted at the Faculty of Medicine on 72 people. Data were obtained from questionnaires given to students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University, class of 2023. Data used univariate and bivariate tests. The results of the univariate statistical test showed that the majority had coffee drinking habits in the light category and stress levels were at a light level. The results of the bivariate analysis showed that there was no relationship between coffee drinking habits (P = 0.463) and stress levels.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Mahasiswa adalah salah satu kelompok orang dewasa yang cenderung sangat rentan terhadap stres<em>, </em>terutama karena berbagai tuntutan akademik yang berbeda-beda, yang dapat menjadi penyebab stres bagi mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa saat ini mengonsumsi kopi dalam jumlah yang signifikan setiap hari. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan minum kopi dengan tingkat stres pada mahasiswa fakultas kedokteran. Penelitian <em>cross sectional </em>ini dilakukan di Fakultas Kedokteran pada 72 orang. Data diperoleh dari kuesionar yang diberikan kepada mahasiswa fakultas kedokteran universitas islam bandung angkatan 2023. Data menggunakan uji univariat dan bivariat. Hasil uji statistik univariat didapatkan mayoritas memiliki kebiasaan minum kopi pada kategori ringan dan tingkat stres berada pada tingkat yang ringan. Hasil analisis bivariat didapatkan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan minum kopi (P=0,463) dengan tingkat stres.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16489 Gambaran Minat Belajar Siswa dan Siswi di Pesantren Darul Hikam 2025-02-21T10:44:20+08:00 Dina Nasfuliza dinanasfulizaa@gmail.com Yuniarti candytone26@gmail.com Febriana Kurniasari febriana.kurniasari@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong>&nbsp;Education is an important provision for a child's future. Learning achievement is a student's achievement in education. There are several factors that influence learning achievement, including interest in learning. The aim of this research is to analyze the picture of students' interest in learning in grades VII, VIII and IX at the Darul Hikam Islamic Boarding School. This research was conducted with an analytical observational design with a cross sectional method.&nbsp; Research subjects were calculated using a two-proportion hypothesis test. The research subjects were 68 people who met the inclusion and exclusion criteria and was carried out by taking the total population of data taken by distributing a learning interest questionnaire to measure learning interest. Data analysis used the chi square test (χ2) using the IBM SPSS version 26.0 program at a confidence level of 95% and the degree of significance was determined by p&lt;0.05 to assess the description of students' interest in learning in grades VII, VIII and IX of the Darul Hikam Islamic Boarding School in the academic year 2023/2024. Based on the research results, it was found that the majority of respondents had a high interest in learning, namely 40 students or 59%.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Pendidikan merupakan&nbsp; bekal penting untuk masa depan anak. Prestasi belajar merupakan sebuah capaian seorang siswa dalam pendidikan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar diantaranya minat belajar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis gambaran minat belajar siswa dan siswi kelas VII, VIII, Dan IX di Pesantren Darul Hikam. Penelitian ini dilakukan dengan desain analitik observasional dengan metode <em>cross sectional. </em>&nbsp;Subjek&nbsp; penelitian dihitung menggunakan uji&nbsp; hipotesis dua proporsi. Subjek penelitian berjumlah 68 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi serta dilakukan dengan pengambilan total populasi data diambil dengan menyebarkan kuesioner <em>study interest questionnaire</em> untuk mengukur minat belajar. Analisis univariat untuk menilai gambaran minat belajar siswa dan siswi kelas VII, VIII dan IX&nbsp; Pesantren Darul Hikam tahun ajaran 2023/2024. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mayoritas responden memiliki minat belajar tinggi yaitu sebanyak 40 pelajar atau sebesar 59%.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16490 Hubungan Curah Hujan dan Suhu Udara dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung Tahun 2023 2025-02-21T10:46:17+08:00 Tiara Adisty Ruwayari Tamher adistykuliah@gmail.com Ratna Dewi Indi Astuti ratnawidjajadi@unisba.ac.id Ismawati isma.fkunisba@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Dengue fever is a global health problem, especially in tropical regions such as Indonesia. Bandung City, one of the endemic areas in West Java, reported a significant increase in DHF cases in 2023. This study aims to analyze the relationship between rainfall and air temperature with the incidence of DHF in Bandung City in that year. This study used an analytic design with a cross-sectional approach based on secondary data. DHF incidence data were obtained from the annual recapitulation of the Bandung City Health Office, while rainfall and air temperature data were obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency. Data were analyzed using the Pearson correlation test, after ensuring normal data distribution using the Shapiro-Wilk test. The results of univariate analysis showed that rainfall during 2023 ranged from 18.0 - 365 mm with an average of 145 mm, while air temperature ranged from 23.3°C - 25.5°C with an average of 24.3°C. The lowest number of dengue cases was 71 and the highest was 321, with an average of 154 cases per month and a total of 1,856 cases. Bivariate analysis showed that rainfall (p=0.501) and air temperature (p=0.367) had no significant association with the incidence of DHF (p&gt;0.05). The value of p&gt;0.05 indicates that the observed association was not statistically strong enough to support an association between these two variables and the incidence of DHF. The conclusion of this study confirms that rainfall and air temperature have no direct influence on the number of DHF cases in Bandung City in 2023. This can be explained by the multifactorial nature of the spread of DHF, where environmental factors such as rainfall and air temperature are only some of the elements that affect the life cycle of the Aedes aegypti mosquito. Other factors such as community behavior, the availability of mosquito breeding sites, the level of environmental hygiene, and the effectiveness of vector control programs, play a more dominant role in determining fluctuations in the number of cases. In other words, although rainfall and air temperature can create favorable conditions for mosquito life cycle, these factors are not always directly proportional to the increase in DHF cases. Further research is needed to explore the relationship of these variables by considering the influence of other factors.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Demam berdarah <em>dengue </em>(DBD) adalah penyakit yang menjadi masalah kesehatan global, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Kota Bandung, salah satu daerah endemis di Jawa Barat, melaporkan peningkatan kasus DBD yang signifikan pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara curah hujan dan suhu udara dengan kejadian DBD di Kota Bandung pada tahun tersebut. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan <em>cross- sectional </em>berbasis data sekunder. Data kejadian DBD diperoleh dari rekapitulasi tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandung, sementara data curah hujan dan suhu udara diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi <em>Pearson</em>, setelah memastikan distribusi data normal menggunakan uji <em>Shapiro-Wilk</em>. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa curah hujan selama tahun 2023 berkisar antara 18,0 hingga 365 mm dengan rata-rata 145 mm, sementara suhu udara berkisar antara 23,3°C hingga 25,5°C dengan rata-rata 24,3°C. Jumlah kasus DBD terendah adalah 71 kasus, dan tertinggi adalah 321 kasus, dengan rata-rata 154 kasus per bulan serta total mencapai1.856 kasus. Hasil Analisis bivariat menunjukkan bahwa curah hujan (p=0,501) dan suhu udara (p=0,367) tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian DBD (p&gt;0,05). Nilai p&gt;0,05 menunjukkan bahwa hubungan yang diamati tidak cukup kuat secara statistik untuk mendukung adanya keterkaitan antara kedua variabel tersebut dengan kasus DBD. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa curah hujan dan suhu udara tidak memiliki pengaruh langsung terhadap jumlah kasus DBD di Kota Bandung pada tahun 2023. Hal ini dapat dijelaskan oleh sifat multifaktorial dari penyebaran DBD, di mana faktor lingkungan seperti curah hujan dan suhu udara hanyalah sebagian dari elemen yang memengaruhi siklus hidup nyamuk <em>Aedes aegypti</em>. Faktor-faktor lain, seperti perilaku masyarakat, ketersediaan tempat berkembang biak nyamuk, tingkat kebersihan lingkungan, dan efektivitas program pengendalian vektor, berperan lebih dominan dalam menentukan fluktuasi jumlah kasus. Dengan kata lain, meskipun curah hujan dan suhu udara dapat menciptakan kondisi yang mendukung siklus hidup nyamuk, faktor-faktor tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kasus DBD. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi keterkaitan variabel-variabel tersebut dengan mempertimbangkan pengaruh faktor lain.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16509 Karakteristik, Gambaran Klinis, dan Outcome Pneumonia pada Anak di RSUD Al-Ihsan Tahun 2022-2023 2025-02-21T10:48:06+08:00 Divani Dwilaras divdwilaras@gmail.com Lisa Adhia Garina lisa.adhia@gmail.com Dicky Santosa dickysantosa@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Pneumonia is a leading cause of death in children, especially in developing countries. In 2019, WHO noted that pneumonia caused the deaths of 740,180 children under the age of 5 years. In Indonesia, 503,738 under-fives were infected with pneumonia. This study aimed to explore the characteristics, clinical features, and outcomes of pneumonia in children at Al-Ihsan Hospital, Bandung Regency during 2022-2023. Methods: Observational study with a cross-sectional design, at Al-Ihsan Hospital, Bandung Regency in 2022-2023 which was presented descriptively. Results: The most common age was aged &gt;1 month-11 months 47 patients, the majority were male 64 patients, the most common chief complaint was cough 111 patients and not tachypnea 85 patients, the mean pulse rate &lt;5 years was tachycardia, the leukocyte count in all age groups was within normal limits, rotgen photos were more bilateral bronchopneumonia, the mean body temperature was 37.4°C, the most common outcome was recovery 113 patients, the most commonly used antibiotics were ampicillin + gentamicin 72 patients. Conclusion: Pneumonia in children is more common in the age of &gt;1 month-11 months, with the majority of patients being male. The main complaint was cough, and most patients were without tachypnea, the mean pulse rate of &lt;5 years was tachycardic,leukocyte counts in all age groups were within normal limits, rotgen photos were more bilateral bronchopneumonia and subfebrile body temperature, the antibiotics often used were ampicillin + gentamicin, Outcome most patients recovered.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Pneumonia adalah penyebab utama kematian pada anak-anak, terutama di negara berkembang. Pada 2019, WHO mencatat pneumonia menyebabkan kematian 740.180 anak di bawah usia 5 tahun. Di Indonesia, 503.738 balita terinfeksi pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali karakteristik, gambaran klinis, dan <em>outcome</em> pneumonia pada anak di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung selama 2022-2023. Metode: Penelitian observasional dengan desain <em>cross-sectional</em>, di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung tahun 2022-2023 yang dipresentasikan secara deskripsi. Hasil: Usia terbanyak yaitu berusia &gt;1 bulan–11 bulan 47 pasien, mayoritas laki-laki 64 pasien, keluhan utama terbanyak adalah batuk 111 pasien dan tidak takipneu 85 pasien, rerata laju nadi &lt;5 tahun adalah takikardi, jumlah leukosit pada semua kelompok usia dalam batas normal, foto rotgen lebih banyak bronchopneumonia bilateral, rerata suhu tubuh 37,4°C, <em>outcome </em>terbanyak adalah sembuh 113 pasien, antibiotik yang sering digunakan adalah <em>ampicillin + gentamicin</em> 72 pasien. Kesimpulan: Pneumonia pada anak lebih banyak terjadi pada usia &gt;1 bulan–11 bulan, dengan mayoritas pasien laki-laki. Keluhan utama adalah batuk, dan sebagian besar pasien tanpa takipneu, rerata laju nadi &lt;5 tahun adalah takikardi, jumlah leukosit pada semua kelompok usia dalam batas normal, foto rotgen lebih banyak bronchopneumonia bilateral dan suhu tubuh subfebris, antibiotik yang sering digunakan adalah <em>ampicillin + gentamicin</em>, <em>Outcome</em> sebagian besar pasien sembuh.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16527 Hubungan Kebersihan Diri dengan Kejadian Skabies pada Santri SMP di Pondok Pesantren X Karawang Tahun 2024 2025-02-21T10:50:22+08:00 Adhwa Diacinta Wiedyska Nugroho dwnadhwa03@gmail.com Cice Tresnasari cice@unisba.ac.id Mia Yasmina Andarini mia.yasmina@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Scabies is a contagious skin disease caused by infestation of the Sarcoptes scabiei mite. Personal hygiene factors, such as skin cleanliness, clothing hygiene, and environmental sanitation, influence the prevalence of this disease. This study aimed to determine the level of personal hygiene among students, the prevalence of scabies, and the relationship between these factors at Pondok Pesantren X Medangasem Karawang. The study used an analytical observational design with a cross-sectional approach involving 79 junior high school students selected through simple random sampling. Data were collected through questionnaires and physical examinations using digital photo analysis reviewed by a Dermatology and Venereology Specialist. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods with the Chi-Square test. The findings indicated that most students had good personal hygiene (84.8%), with specific hygiene categories such as clothing (93.7%), skin (100%), and genital hygiene (100%) categorized as clean. However, certain aspects still required improvement, particularly hand and nail hygiene (41.8%). Based on the photo analysis conducted by the Dermatology and Venereology Specialist, no cases of scabies were found (0%), making further bivariate statistical analysis impossible. Despite the absence of scabies cases, other skin conditions were identified.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Skabies merupakan salah satu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau <em>Sarcoptes scabiei</em>. Faktor kebersihan diri, seperti kebersihan kulit, pakaian, dan lingkungan memengaruhi prevalensi penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebersihan diri pada santri, prevalensi kejadian skabies, dan hubungan antara keduanya di Pondok Pesantren X Karawang. Penelitian menggunakan metode desain analitik observasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> dengan subjek penelitian sebanyak 79 santri SMP yang dipilih melalui metode <em>simple random sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dilakukan pemeriksaan fisik menggunakan teknik digital foto analisis yang dianalisis oleh Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji <em>Chi-Square</em>. Sebagian besar santri memiliki tingkat kebersihan diri yang baik (84,8%), dengan kategori bersih untuk kebersihan pakaian (93,7%), kulit (100%), dan alat kelamin (100%), namun terdapat beberapa aspek yang perlu perbaikan, seperti kebersihan tangan dan kuku (41,8%). Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi melalui foto analisis tidak ditemukan kejadian skabies (0%), sehingga tidak dapat dilakukan analisis bivariat. &nbsp;Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun tidak terdapat kejadian skabies tetapi terdapat penyakit kulit lainnya.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16547 Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Etanol Kopi Arabika (Coffea arabica) dan Kunyit (Curcuma longa) terhadap Pertumbuhan Cutibacterium Acnes 2025-02-21T10:53:46+08:00 Alvin Elfaridzi Hamdan alvinelfaridzi1710@gmail.com Hendro Sudjono Yuwono Hsyabc47@gmail.com Winni Maharani winni@unisba.ac.id <p><strong>Abstract</strong>. <em>Cutibacterium acnes</em> resistance to conventional acne treatments highlights the urgent need for alternative therapies. This study evaluated the antibacterial potential of ethanol extracts from Arabica coffee and turmeric against <em>C. acnes</em> in vitro, using cultures standardized to McFarland 0.5. Data analysis included Shapiro-Wilk (p = 0.001), Levene’s test (p = 0.00007), and Kruskal-Wallis comparisons. Arabica coffee extract at 75% concentration exhibited the strongest antibacterial activity, producing a 25.4 mm inhibition zone, significantly outperforming erythromycin (14.2 mm, p = 0.009) and turmeric (7.5 mm, p = 0.003). Turmeric also showed significantly lower inhibition compared to erythromycin (p = 0.012). At 100% concentration, Arabica’s efficacy slightly declined, potentially due to compound interactions. These findings suggest that Arabica coffee ethanol extract, particularly at 75%, has significant antibacterial potential against <em>C.acnes</em> surpassing both erythromycin and turmeric under these experimental conditions. While promising, the results are preliminary and require further validation through broader concentration ranges, detailed compound analyses, and clinical trials. This study highlights Arabica coffee extract as a strong candidate for developing alternative acne treatments, addressing the growing challenge of antibiotic resistance in <em>C. acnes</em>. Its potential merits deeper investigation into its mechanisms and therapeutic applications.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Resistensi <em>Cutibacterium</em> <em>acnes</em> terhadap pengobatan jerawat konvensional menunjukkan perlunya pengembangan terapi alternatif. Penelitian ini meneliti potensi antibakteri ekstrak etanol kopi Arabika dan kunyit terhadap <em>C. acnes</em> secara in vitro, menggunakan kultur bakteri yang distandarisasi sesuai McFarland 0,5. Analisis data dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk (p = 0,001), uji Levene (p = 0,00007), dan uji Kruskal-Wallis. Ekstrak kopi Arabika dengan konsentrasi 75% menghasilkan aktivitas antibakteri tertinggi dengan zona hambat 25,4 mm, secara signifikan lebih besar dibandingkan eritromisin (14,2 mm, p = 0,009) dan kunyit (7,5 mm, p = 0,003). Selain itu, hambatan yang dihasilkan kunyit secara signifikan lebih rendah dibandingkan eritromisin (p = 0,012). Pada konsentrasi 100%, efektivitas ekstrak kopi Arabika sedikit menurun, kemungkinan akibat interaksi antar senyawa. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kopi Arabika, terutama pada konsentrasi 75%, memiliki potensi antibakteri yang cukup baik terhadap <em>C. acnes</em>, melampaui aktivitas eritromisin dan kunyit pada kondisi eksperimental ini. Meskipun demikian, temuan ini masih bersifat awal dan memerlukan penelitian lebih lanjut, seperti pengujian pada rentang konsentrasi yang lebih luas, analisis senyawa aktif, serta uji klinis. Penelitian ini mengidentifikasi ekstrak kopi Arabika sebagai kandidat potensial untuk terapi jerawat alternatif, yang dapat membantu mengatasi masalah resistensi antibiotik pada <em>C. acnes</em>. Potensi ini perlu dikaji lebih mendalam terkait mekanisme dan manfaat terapeutiknya.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16576 Korelasi Tingkat Pengetahuan Pasien dan Perspektif Pasien terhadap Peran Pengawas Menelan Obat dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien TB di RS Muhammadiyah Bandung Tahun 2024 2025-02-21T10:56:51+08:00 Qonita Hazma Mardhiyya Djajalaga qonitadjajalaga@gmail.com Santun Bhekti Rahimah santunbr94@gmail.com Miranti Kania Dewi miranti@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> The incidence of tuberculosis (TB) in Indonesia remains high, with treatment success influenced by patient factors, drug supervisors, and medication. This study analyzed the correlation between patients’ knowledge and their perceptions of Directly Observed Treatment (DOT) supervisors' roles in medication adherence. Using an observational analytic method with a cross-sectional design, the study involved 46 TB patients at Muhammadiyah Hospital Bandung who met inclusion criteria. Data were collected via questionnaires and analyzed using the Spearman test. Results showed that 58.7% of patients had adequate TB knowledge, 78.2% perceived DOT supervisors as supportive, and 74% exhibited high medication adherence. Among those with high adherence, 77.8% had adequate knowledge, and 75.7% viewed DOT supervisors’ roles positively. However, statistical analysis revealed no significant correlation between knowledge and adherence (p &gt; 0.05, r = -0.076) or between perceptions of DOT supervisors and adherence (p &gt; 0.05, r = -0.042).These findings suggest that adherence is influenced by factors beyond knowledge and DOT supervisor perceptions, such as psychological state, family support, and intrinsic motivation. This highlights the need for a more comprehensive approach to understanding and improving TB medication adherence.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Angka kejadian TB di Indonesia masih tinggi, diduga terkait rendahnya keberhasilan pengobatan TB. Keberhasilan pengobatan TB dipengaruhi oleh faktor pasien, pengawas menelan obat, obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi tingkat pengetahuan pasien dan perspektif pasien mengenai peran pengawas menelan obat terhadap kepatuhan minum obat pasien TB. Penelitian dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan kuantitatif desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 46 orang pasien TB di RS Muhammadiyah Bandung, data penelitian didapatkan melalui kuesioner dan analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar pasien TB paru di RS Muhammadiyah memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai TB (58,7%), memiliki perspektif bahwa peran PMO mendukung pengobatan TB (78,2%) dan memiliki tingkat kepatuhan minum obat TB yang tinggi (74%). Sebagian besar pasien TB paru di RS dengan tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi memiliki tingkat pengetahuan yang yang cukup yaitu sebanyak 21 orang (77,8%) dan sebagian besar pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi juga memiliki perspektif bahwa peran PMO mendukung pengobatan TB yaitu sebanyak 28 orang (75,7%). Hasil uji statistik menunjukan tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan kepatuhan minum obat (p&gt;0,05) dengan nilai korelasi r = -0,076 dan tidak terdapat hubungan bermakna antara perspektif pasien terhadap peran PMO dengan tingkat kepatuhan minum obat (p&gt;0,05) dengan nilai korelasi r= -0,042. Hasil ini mengindikasikan bahwa tingkat kepatuhan pasien dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kondisi psikologis, dukungan keluarga, atau motivasi intrinsik pasien. Ketiadaan hubungan ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami faktor yang memengaruhi kepatuhan pasien.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16602 Prevalensi dan Karakteristik Pasien Talasemia pada Anak di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat 2025-02-21T10:59:48+08:00 Muhammad Firdausan Widen Putra firdausan28@gmail.com Lelani Reniarti Marsaman lelanir@yahoo.com Buti Azfiani Azhali butiazhali@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>Thalassemia is a genetic hematological disorder characterized by impaired globin chain synthesis, leading to chronic hemolytic anemia. The prevalence of thalassemia in Indonesia is relatively high, particularly in West Java Province. This study aims to describe the prevalence and characteristics of pediatric thalassemia patients at RSUD Al Ihsan during the 2022–2023 period. The study employed a quantitative descriptive method with a retrospective approach, utilizing medical record data. The analyzed variables included age, gender, domicile, type of iron chelation therapy, hemoglobin (Hb) levels, type of blood transfusion, and transfusion frequency. Among 701 patients, the prevalence of thalassemia in 2022 was 0,09%, which decreased to 0,07% in 2023. Most patients were aged 6–10 years (43.7%) and were male (59.2%), with the majority residing in Bandung (91.3%). The most commonly used iron chelation therapy was deferasirox (63.1%), and most patients had Hb levels ranging from 6–7.9 g/dL (61.2%). The predominant type of blood transfusion was PRC (79.6%), with a transfusion frequency of 6–12 times per year (78.6%). The findings indicate that although the prevalence of pediatric thalassemia at RSUD Al Ihsan has decreased, the case numbers remain relatively high. This highlights the importance of integrated management, particularly in terms of iron chelation therapy and regular blood transfusion requirements.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Talasemia merupakan kelainan genetik hematolog yang bersifat genetik&nbsp; ditandai dengan gangguan sintesis rantai globin, sehingga menyebabkan anemia hemolitik kronis. Angka prevalensi talasemia di Indonesia tergolong tinggi, terutama di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan prevalensi serta karakteristik pasien anak dengan talasemia di RSUD Al Ihsan pada periode 2022-2023. Studi ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif, memanfaatkan data dari rekam medis pasien. Variabel yang dianalisis mencakup usia, jenis kelamin, domisili, jenis terapi kelasi besi, kadar hemoglobin (Hb), jenis transfusi darah, dan frekuensi transfusi. Dari 701 pasien yang diteliti, prevalensi talasemia pada 2022 tercatat sebesar 0,09% dan menurun menjadi 0,07% pada 2023. Mayoritas pasien berusia 6–10 tahun (43,7%) dan berjenis kelamin laki-laki (59,2%), dengan sebagian besar berdomisili di Kota Bandung (91,3%). Terapi kelasi besi yang paling umum digunakan adalah deferasirox (63,1%), dengan kadar Hb terbanyak berada pada rentang 6–7,9 g/dL (61,2%). Jenis transfusi darah yang dominan adalah PRC (79,6%) dengan frekuensi transfusi sebanyak 6–12 kali per tahun (78,6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun prevalensi talasemia anak di RSUD Al Ihsan mengalami penurunan, angka kasusnya tetap cukup tinggi. Hal ini menyoroti pentingnya pengelolaan khusus, terutama terkait terapi kelasi besi dan kebutuhan transfusi darah.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16603 Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting di Desa Kertawangi Kabupaten Bandung Barat Tahun 2023 2025-02-21T11:01:56+08:00 Salmavita Aurelliasani salmavita03@gmail.com Usep Abdullah Husin usep.abdullahusin@gmail.com Siti Annisa Devi Trusda sitiannisadevitrusda@gmail.com <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract</strong>. The prevalence of stunting in Indonesia is 24.4%, with West Java reporting 8.85% (20,461 toddlers). Exclusive breastfeeding during the first six months is crucial in preventing stunting. This study analyzes the relationship between exclusive breastfeeding and stunting incidence in Kertawangi Village, West Bandung Regency. Using an observational analytic-quantitative method with a case-control design and purposive sampling, the study involved 45 mothers with toddlers at Posyandu Anyelir 6. Primary data were collected through questionnaires, while secondary data on toddlers' weight and height were obtained from health records (KMS). The Fisher Exact and odds ratio tests were used for analysis. Results showed that among 30 stunted toddlers, only 12 received exclusive breastfeeding. A significant relationship was found between exclusive breastfeeding and stunting (p &lt; 0.001). The odds ratio (OR = 7) indicated that toddlers without exclusive breastfeeding were seven times more likely to experience stunting. This study concludes that exclusive breastfeeding significantly reduces the risk of stunting. Based on these findings, it is recommended that mothers provide exclusive breastfeeding to minimize stunting risk. Increased awareness, education, and support from healthcare professionals and the community are essential to promoting exclusive breastfeeding practices<em>.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><a name="_Hlk154748840"></a><strong><span lang="IN">Abstrak.</span></strong> Prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4%, dengan Jawa Barat melaporkan angka sebesar 8,85% (20.461 balita). Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama sangat penting dalam mencegah stunting. Penelitian ini menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting di Desa Kertawangi, Kabupaten Bandung Barat. Dengan menggunakan metode analitik observasional-kuantitatif, desain kasus-kontrol, dan teknik purposive sampling, penelitian ini melibatkan 45 ibu dengan balita di Posyandu Anyelir 6. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, sedangkan data sekunder mengenai berat dan tinggi badan balita diperoleh dari catatan kesehatan (KMS). Analisis dilakukan menggunakan uji Fisher Exact dan uji rasio odds. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 balita stunting, hanya 12 yang menerima ASI eksklusif. Ditemukan hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting (p &lt; 0,001). Uji rasio odds (OR = 7) menunjukkan bahwa balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko tujuh kali lebih besar mengalami stunting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian ASI eksklusif secara signifikan menurunkan risiko stunting. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar ibu memberikan ASI eksklusif untuk meminimalkan risiko stunting. Peningkatan kesadaran, edukasi, serta dukungan dari tenaga kesehatan dan masyarakat sangat penting untuk mendorong praktik pemberian ASI eksklusif.</p> 2025-02-01T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16605 Pengaruh Puasa Air Intermiten terhadap Kadar Kolesterol Mencit yang Diberi Pakan Tinggi Lemak 2025-02-21T11:03:14+08:00 Shofuut Nabil Lujain shoputnabil@gmail.com Annisa Rahmah Furqaani annisarahmahf@gmail.com Sandy Faizal sandyfaizal7@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Hypercholesterolemia is a risk factor for coronary heart disease. One alternative for lowering cholesterol levels that is easy to do and does not require large costs is intermittent fasting. This research was conducted to determine the effect of water intermittent fasting on the cholesterol levels of mice (Mus musculus L.) fed high-fat feed. The method used in this research is pure in vivo laboratory experimental research with a completely randomized design. The subjects used were 28 adult male mice who were divided randomly into four groups, namely the group that underwent intermittent water fasting and were given standard food and the group that was given high-fat food, the group that was given standard food and did intermittent water fasting and then the group that was given high-fat food. fat and water intermittent fasting. The fasting period carried out by research subjects was 14:10, namely 14 hours of fasting and 10 eating windows (07.00-17.00) for 28 days. The research results show that fasting can significantly reduce cholesterol levels in mice fed a high-fat diet. The effect of water fasting treatment can disrupt the body's metabolism so that it can reduce cholesterol levels. The conclusion of this study is that the effect of intermittent water fasting can reduce cholesterol levels significantly.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Hiperkolestrolemia menjadi salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner. Salah satu alternatif untuk menurunkan kadar kolesterol yang mudah dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang besar bisa dengan melakukan puasa intermiten. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui&nbsp; pengaruh puasa intermiten air <em>(water Intermittent fasting)</em> terhadap kadar kolesterol mencit <em>(Mus musculus L.) </em>yang diberi pakan tinggi lemak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium murni <em>in vivo </em>dengan rancangan acak lengkap. Subjek yang digunakan adalah 28 mencit jantan dewasa yang dibagi secara acak menjadi empat kelompok, yaitu kelompok yang melakukan puasa intermiten air diberi pakan standar dan kelompok yang diberi pakan tinggi lemak, kelompok yang diberi pakan standar dan melakukan puasa intermiten air kemudian kelompok yang diberi pakan tinggi lemak dan melakukan puasa intermiten air. Periode puasa yang dilakukan oleh subjek penelitian dengan pola 14:10, yaitu 14 jam puasa dan 10 jendela makan (pukul 07.00-17.00) selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat menurunkan kadar kolesterol secara dignifikan pada mencit yang diberi pakan tinggi lemak. Pengaruh perlakuan puasa air dapat mengganggu metabolisme tubuh sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol. Kesimpulan penelitian ini bahwa pengaruh puasa air intermiten dapat menurunkan kadar kolesterol secara signifikan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16606 Hubungan Postur Kerja dengan Nyeri Punggung Bawah pada Staf Gudang 2025-02-21T11:05:32+08:00 Siti Zalfa'a Zhafirah szalfaazhafirah@gmail.com Cice Tresnasari cice@unisba.ac.id R. Kince Sakinah r.kince.sakinah@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Low back pain (LBP) is a common musculoskeletal health problem among workers, including warehouse staff. Non-ergonomic work posture is one of the main factors causing LBP complaints. The raw material warehouse staff at PT Papyrus Sakti Banjaran are at risk of LBP complaints due to non-ergonomic work posture. This study aims to determine the correlation between work posture and the prevalence of low back pain complaints among raw material warehouse staff at PT Papyrus Sakti Banjaran, in 2024. This research used an observational analytic method with a cross-sectional approach. The study subjects were all 47 raw material warehouse staff at PT Papyrus Sakti Banjaran. Data collection for work posture assessment used the Rapid Entire Body Assessment (REBA) method, and low back pain complaints assessment used the Roland-Morris Disability Questionnaire (RMDQ). The study was conducted from August to September 2024 at PT Papyrus Sakti Banjaran. The Pearson test result showed a p-value = 0.001. The conclusion of this study is that there is a significant correlation between work posture and low back pain complaints among raw material warehouse staff at PT Papyrus Sakti Banjaran, in 2024. Improving work posture is necessary to reduce the risk of LBP.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan masalah kesehatan muskuloskeletal yang umum terjadi, terutama di kalangan pekerja. Postur kerja yang tidak ergonomis dapat menjadi salah satu faktor penyebab NPB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara postur kerja dengan prevalensi keluhan nyeri punggung bawah pada staf gudang bahan baku di PT Papyrus Sakti Banjaran tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Subjek penelitian adalah seluruh staf gudang bahan baku di PT Papyrus Sakti Banjaran sebanyak 47 subjek. Pengambilan data penilaian postur kerja menggunakan metode <em>Rapid Entire Body Assessment</em> (REBA) dan keluhan nyeri punggung bawah dinilai menggunakan kuesioner <em>Roland-Morris Disability Questionnaire</em> (RMDQ). Waktu penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September tahun 2024 di PT Papyrus Sakti Banjaran. Hasil penelitian ini menggunakan Pearson didapatkan nilai p = 0,001. Simpulan dari penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara postur kerja dengan keluhan nyeri punggung bawah pada staf gudang bahan baku di PT Papyrus Sakti Banjaran tahun 2024. Perbaikan postur kerja diperlukan untuk mengurangi risiko NPB.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16619 Hubungan Preeklampsia dengan BBLR di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2022 2025-02-21T11:07:32+08:00 Dwi Ulfah Rahmawati 02dwiulfah@gmail.com Jusuf Sulaeman Effendi jusufse@yahoo.com Mira Dyani Dewi miradyani@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> The infant mortality rate in Indonesia is still relatively high with 29 deaths per 1000 live births, the majority of these deaths are caused by LBW. The incidence of LBW can be caused by several factors, one of the main contributors being preeclampsia during their pregnancy. This study aims to examine the Relationship between Preeclampsia and the Incidence of LBW Babies at Sekarwangi Hospital, Sukabumi Regency in 2022. This study is an analytical observational study with a retrospective cohort design. Data were analyzed using univariate and bivariate tests with the chi-square test. The number of respondents was 2,176 with the characteristics of respondents who experienced preeclampsia as many as 81 pregnant women (3.72%), severe preeclampsia as many as 271 (12.46%), and no preeclampsia as many as 1,824 (83.82). Pregnant women who experienced preeclampsia had 28 LBW babies (7.41%) and pregnant women who experienced severe preeclampsia had 84 LBW babies (22.22%). The results of the analysis of the relationship between preeclampsia and the incidence of LBW obtained a P value of 0.001 with a Risk Ratio (RR) value between preeclampsia and non-preeclampsia of 2.37 and a Risk Ratio (RR) value between severe preeclampsia and non-preeclampsia of 2.12. This shows a significant relationship between preeclampsia and LBW. The significant relationship between preeclampsia and LBW indicates a higher risk for pregnant women with preeclampsia to experience LBW, so that screening and prevention processes must be carried out so that LBW does not occur and infant mortality does not increase.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Angka kematian bayi di Indonesia masih terbilang tinggi dengan 29 kematian per 1000 kelahiran hidup, kematian ini mayoritas disebabkan oleh BBLR. Kejadian BBLR dapat disebabkan karena beberapa faktor yang salah satu penyumbang utamanya adalah preeklampsia saat kehamilannya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti Hubungan Preeklampsia dengan BBLR di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2022<strong>. </strong>Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain <em>cohort retrospektive</em>. Sampel penelitian berasal dari rekam medik. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji <em>chi-square</em>. Jumlah responden sebanyak 2.176 dengan karakteristik responden yang mengalami kejadian preeklampsia sebanyak 81 ibu hamil (3.72%), preeklampsia berat sebanyak 271 (12.46 %), dan tidak preeklampsia sebanyak 1.824 (83.82). Ibu hamil yang mengalami preeklampsia memiliki bayi BBLR sebanyak 28 bayi (7,41%) dan ibu hamil yang mengalami preeklampsia berat memiliki bayi BBLR sebanyak 84 (22.22%). Hasil analisis hubungan preeklampsia dengan kejadian BBLR didapatkan nilai P sebesar 0,001 dengan nilai <em>Risk Ratio</em> (RR) antara preeklampsia dengan tidak pereeklampsia sebesar 2.37 dan nilai <em>Risk Ratio</em> (RR) antara preeklampsia berat dengan tidak preeklampsia sebesar 2.12. Hal tersebut menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara preeklampsia dengan BBLR.Adanya hubungan yang signifikan antara preeklampsia dengan BBLR mengindikasikan lebih tingginya risiko ibu hamil dengan preeklampsia untuk mengalami kejadian BBLR, sehingga proses skrining dan pencegahan harus dilakukan agar BBLR tidak terjadi dan angka kematian bayi tidak bertambah.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16627 Hubungan Antara Frekuensi Jaga Malam dengan Kejadian Hipertensi pada Tenaga Kesehatan di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2024 2025-02-21T11:09:21+08:00 Shelfa Tiana shelfaat@gmail.com Wida Purbaningsih wida7089@gmail.com Ermina Widyastuti ermina.widyastuti@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Hypertension is a major risk factor for death worldwide. Nurses and health workers who have rotational work and longer working hours can increase the prevalence of hypertension, especially for nurses who work at night. Health workers, including nurses in hospitals, try their best to provide intensive care to patients in need and work to meet their living needs. The purpose of this study was to analyze the relationship between the frequency of night shifts and the incidence of hypertension in health workers at the Al-Ihsan Hospital, Bandung in 2024. This cross-sectional study was conducted at the Al-Ihsan Hospital, West Java Province on 125 health workers. Data were obtained from questionnaires and blood pressure examinations. Data used univariate and bivariate tests. The results of the univariate statistical test showed that most health workers experienced Pre-Hypertension (52.5%) and hypertension 11 people (9%). The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between age and the incidence of hypertension in health workers (P=0.024), and there was no relationship between the frequency of night shifts (P=0.580), length of rotation (P=0.776) and increased blood pressure (P=1.000) with the incidence of hypertension.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi adalah faktor risiko utama kematian di seluruh dunia. Perawat dan tenaga kesehatan yang memiliki kerja rotasi dan jam kerja yang lebih lama dapat meningkatkan prevelensi hipertensi terutama bagi perawat yang bekerja di malam hari.&nbsp; Tenaga kesehatan, termasuk perawat di Rumah Sakit, berusaha sebaik mungkin untuk memberikan perawatan intensif kepada pasien yang membutuhkan serta bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara frekuensi jaga malam dengan kejadian hipertensi pada tenaga kesehatan di Rsud Al-Ihsan Bandung Tahun 2024. Penelitian <em>cross sectional </em>ini dilakukan di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat pada 125 tenaga kesehatan. Data diperoleh dari kuesionar dan pemeriksaan tekanan darah<em>.</em> Data menggunakan uji univariat dan bivariat. Hasil uji statistik univariat didapatkan sebagian besar tenaga kesehatan mengalami kejadian Pre-Hipertensi (52.5%) dan kejadian hipertensi 11 orang (9%). Hasil analisis bivariat didapatkan terdapat hubungan antara usia dengan kejadian hipertensi pada Tenaga Kesehatan (P=0,024), serta tidak terdapat hubungan antara frekuensi jaga malam (P=0,580), lama rotasi (P=0,776)&nbsp; dan peningkatan tekanan darah (P=1,000) dengan kejadian hipertensi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16633 Gambaran Tingkat Learning Burnout pada Mahasiswa Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2023-2024 2025-02-21T11:11:15+08:00 Andini Aribah Haniyah andiniaribah21@gmail.com Yuli Susanti yuli.susanti@unisba.ac.id Ayu Prasetia ayu.prasetia@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Medical students often face high academic pressures that can lead to learning burnout, characterized by emotional exhaustion, cynicism toward learning, and reduced academic efficacy. This study aims to describe the level of learning burnout among academic-stage medical students at the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung, for the 2023-2024 academic year. A quantitative research method with an observational design was employed. The sample consisted of 98 students selected through stratified random sampling. Data were collected using the Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS), which measures three dimensions of burnout: exhaustion, cynicism, and acacdemic efficacy. The results showed that most students experienced moderate levels of burnout (67%). In the exhaustion dimension, 58% of respondents were in the moderate category, 54% showed moderate levels of cynicism, and 71% showed moderate academic efficacy. These finidings indicate that academic pressures faced by students remain within a moderate range but still require attention due to their potential impact on academic performance.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Mahasiswa kedokteran sering menghadapi tekanan akademik tinggi yang dapat menyebabkan <em>learning burnout</em>. Hal tersebut ditandai dengan kelelahan emosional, sinisme terhadap pembelajaran, dan penurunan efikasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat <em>learning burnout</em> pada mahasiswa tahap akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) Tahun Akademik 2023-2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional. Sampel terdiri atas 98 mahasiswa yang dipilih dengan metode <em>stratified random sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Maslach Burnout Inventory-Student Survey</em> (MBI-SS) yang mengukur tiga dimensi <em>burnout</em>, yaitu <em>exhaustion</em>, <em>cynicism</em>, dan <em>academic efficacy</em>. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami tingkat <em>burnout</em> pada kategori sedang (67%). Pada dimensi <em>exhaustion</em>, 58% responden berada pada kategori sedang, 54% responden memiliki tingkat <em>cynicism</em> sedang, dan 71% responden berada pada tingkat <em>academic efficacy</em> sedang. Temuan ini mencerminkan bahwa tekanan akademik yang dialami mahasiswa masih berada dalam tingkat moderat, tetapi tetap memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi kinerja akademik.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16672 Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dan Status Gizi Ibu Saat Hamil dengan Kejadian Stunting pada Balita 2025-02-21T11:13:05+08:00 Rifa Dzikri Ramdhany rifadzikriramdhany@gmail.com Lelly Yuniarti lelly.yuniarti@gmail.com Eva Rianti Indrasari evaindrasari@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>Stunting is a serious nutritional problem in toddlers, which can be influenced by various factors, including maternal nutritional status during pregnancy and birth weight. This study aims to analyze the relationship between low birth weight and maternal nutritional status with the occurrence of stunting in toddlers at the Sindangjawa Health Center, Cirebon Regency, in 2023. The research method used is an observational study with a cross-sectional design, involving 82 subjects selected using the Slovin formula from the population of toddlers visiting the Health Center. The results show a significant relationship between maternal nutritional status, birth weight, and the occurrence of stunting in toddlers. The discussion reveals the importance of nutritional intervention for pregnant women to prevent stunting, as well as the need for more integrated health programs to improve the nutritional status of mothers and children. The conclusion of this study emphasizes that improving maternal nutritional status can contribute to reducing stunting rates in toddlers, highlighting the need for greater attention from relevant parties in the effort to prevent stunting.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Stunting merupakan masalah gizi yang serius pada balita, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk status gizi ibu saat hamil dan berat badan lahir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara berat badan lahir rendah dan status gizi ibu dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Sindangjawa, Kabupaten Cirebon, pada tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah studi observasional dengan desain cross-sectional, melibatkan 82 subjek yang dipilih menggunakan rumus Slovin dari populasi balita yang berkunjung ke Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara status gizi ibu dan berat badan lahir dengan kejadian stunting pada balita. Diskusi mengungkapkan pentingnya intervensi gizi pada ibu hamil untuk mencegah stunting, serta perlunya program kesehatan yang lebih terintegrasi untuk meningkatkan status gizi ibu dan anak. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa perbaikan status gizi ibu hamil dapat berkontribusi dalam menurunkan angka stunting pada balita, sehingga perlu adanya perhatian lebih dari pihak terkait dalam upaya pencegahan stunting.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16674 Hubungan Status Gizi dan Status Ekonomi Keluarga dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut di Puskesmas Cisaat Kabupaten Sukabumi 2024 2025-02-21T11:14:53+08:00 Leika Bintang Fernanda bintangleika7@gmail.com Herry Garna herrygarna@gmail.com Zulmansyah zulmansyah@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract. </strong>Acute respiratory infections (ARIs) are a leading cause of mortality among children under five in Indonesia, with various risk factors such as nutritional status and family economic status. This study aimed to analyze the relationship between nutritional status and family economic status with the incidence of ARIs in toddlers. The research used a case-control design involving 90 toddlers (45 with ARIs and 45 healthy controls). Data were collected through anthropometric measurements and questionnaires and analyzed using Spearman's Rank test. The results showed that most toddlers with ARIs had good nutritional status (40%), but there was also a group with poor nutritional status (6.7%). Low economic status was more commonly found in the ARI group (14.4%) compared to the healthy group (4.4%). The analysis revealed no significant relationship between nutritional status and ARI incidence (p = 0.200), but a significant relationship was found between family economic status and ARI incidence (p = 0.019). These findings confirm that family economic status significantly influences the incidence of ARIs in toddlers, while nutritional status does not. Therefore, efforts to improve family economic welfare are essential to prevent ARIs in toddlers.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyebab utama kematian balita di Indonesia, dengan berbagai faktor risiko seperti status gizi dan status ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan status ekonomi keluarga dengan kejadian ISPA pada balita.&nbsp; Penelitian menggunakan desain kasus kontrol dengan melibatkan 90 balita (45 balita ISPA dan 45 balita sehat). Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman's Rank. Hasil penelitian menunjukan mayoritas balita dengan ISPA memiliki status gizi baik (40%), tetapi terdapat pula kelompok dengan gizi buruk (6,7%). Status ekonomi rendah lebih sering ditemukan pada kelompok ISPA (14,4%) dibandingkan kelompok sehat (4,4%). Analisis menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara status gizi dan kejadian ISPA (p = 0,200), namun terdapat hubungan signifikan antara status ekonomi keluarga dan kejadian ISPA (p = 0,019). Temuan ini menegaskan status ekonomi keluarga berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA pada balita, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga perlu dilakukan untuk mencegah ISPA pada balita.&nbsp;</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16676 Uji Daya Hambat Ekstrak Air Campuran Kopi Arabika dan Kopi Robusta terhadap Kultur Cutibacterium Acnes 2025-02-21T11:17:55+08:00 Reza Rizqia Oktavian rrizqiaa26@gmail.com Hendro Sudjono Yuwono hsyabc47@gmail.com Rizky Suganda Prawiradilaga rizkysuganda@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Cutibacterium acnes is a Gram-positive anaerobic bacterium that is the main cause of acne vulgaris. The development of antibiotic-resistant bacterial strains encourages alternative treatments such as Arabica and Robusta coffee blend water extracts, which are rich in bioactive compounds with therapeutic potential. The aim of this study was to assess the inhibition ability of Arabica and Robusta coffee blend water extract compared to erythromycin and assess the optimum dose that can inhibit the growth of Cutibacterium acnes bacteria. This research used an in vitro experimental study. The zone of inhibition of the extracts was measured using the agar diffusion method with the study group consisting of six groups, namely extract concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%, positive control (erythromycin), and negative control (aquadest) with 4 repetitions. The median inhibition of 25%, 50%, 75%, and 100% concentration extracts, positive control (erythromycin), and negative control (aquadest) were 6 mm, 7.35 mm, 9.8 mm, and 11.5 mm, 15.2 mm, and 0 mm. The results of this study showed that the inhibitory ability of the aqueous extract of a mixture of Robusta coffee and Arabica coffee 25%, 50%, 75%, and 100% was lower than erythromycin and the optimum dose in this study was 100% concentration extract. Therefore, the water extract of Arabica coffee and Robusta coffee mixture can be developed as an alternative treatment for diseases caused by Cutibacterium acnes, especially acne vulgaris.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Cutibacterium acnes</em> adalah bakteri Gram-positif anaerob penyebab utama akne vulgaris. Berkembangnya strain bakteri yang resisten terhadap antibiotik mendorong pengobatan alternatif seperti ekstrak air campuran kopi Arabika dan kopi Robusta, yang kaya akan senyawa bioaktif dengan potensi terapeutik<em>.</em> Tujuan penelitian ini untuk menilai kemampuan daya hambat ekstrak air campuran kopi Arabika dan kopi Robusta dibandingkan dengan eritromisin dan menilai dosis optimum yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri <em>Cutibacterium acnes</em>. Penelitian ini menggunakan studi eksperimental <em>in vitro. </em>Zona hambat ekstrak diukur menggunakan metode difusi agar dengan kelompok penelitian terdiri dari enam kelompok yaitu ekstrak konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, kontrol positif (eritromisin), dan kontrol negatif (<em>aquadest</em>) dengan 4 kali pengulangan. Median daya hambat ekstrak konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, kontrol positif (eritromisin), dan kontrol negatif (<em>aquadest</em>) yaitu 6 mm, 7.35 mm, 9.8 mm, dan 11.5 mm, 15.2 mm, dan 0 mm<em>.</em> Hasil penelitian ini kemampuan daya hambat ekstrak air campuran kopi Robusta dan kopi Arabika 25%, 50%,75%, dan 100% lebih rendah dibandingkan eritromisin dan dosis optimum pada penelitian ini yaitu ekstrak konsentrasi 100%. Oleh karena itu, ekstrak air campuran kopi Arabika dan kopi Robusta dapat dikembangkan sebagai alternatif pengobatan untuk penyakit yang disebabkan oleh <em>Cutibacterium acnes </em>terutama akne vulgaris.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16685 Efek Ekstrak Etil Asetat Daun Salam terhadap Kadar Asam Urat Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Pakan Tinggi Purin dan Kalium Oksonat 2025-02-21T11:19:53+08:00 Wahidah ozwahidah@gmail.com Santun Bhekti Rahimah santun@unisba.ac.id Widhy Yudistira Nalapraya widhyyudistiranalapraya@gmail.com <p><strong>Abstract</strong>. Hyperuricemia is a condition where uric acid levels in the blood increase and increase the risk of conditions such as gout arthritis, kidney stone formation, kidney damage, and hypertension. Management of hyperuricemia can use natural ingredients that have antihyperuricemic effects. One of the natural ingredients is bay leaves. This study aims to analyze the effect of bay leaf ethyl acetate extract on reducing uric acid levels in male Wistar rats (Rattus norvegicus) with a hyperuricemia model. The study was conducted using a purely experimental method with sample selection using simple random sampling. The sample of this study was 30 male rats and was divided into 5 groups, namely the negative group (CMC 1%), positive control (Allopurinol), and three treatment groups that received bay leaf ethyl acetate extract, namely treatment group I (210 mg/kgBW), treatment group II (420 mg/kgBW), and treatment group III (840 mg/kgBW). The rats were induced with high purine and potassium oxonate feed. Uric acid levels were measured using a spectrophotometer, which was measured twice (t1 as pretest and t2 as posttest), with an average result of t1 (2.011 mg/dL) and t2 (1.657 mg/dL). The results of the uric acid levels showed a decrease compared to before the extract was given. Then the data obtained were analyzed using the repeated ANOVA test, with the results of the analysis showing a significant difference between blood uric acid levels before and after the extract was given with a value (p &lt;0.05). These results show that there is an antihyperuricemic effect of bay leaves because they contain many active substances such as flavonoids, tannins, and alkaloids. Hyperuricemia is a condition where uric acid levels in the blood increase and increase the risk of conditions such as gout arthritis, kidney stone formation, kidney damage, and hypertension. Management of hyperuricemia can use natural ingredients that have antihyperuricemic effects. One of the natural ingredients is bay leaves. This study aims to analyze the effect of bay leaf ethyl acetate extract on reducing uric acid levels in male Wistar rats (Rattus norvegicus) with a hyperuricemia model. The study was conducted using a purely experimental method with sample selection using simple random sampling. The sample of this study was 30 male rats and was divided into 5 groups, namely the negative group (CMC 1%), positive control (Allopurinol), and three treatment groups that received bay leaf ethyl acetate extract, namely treatment group I (210 mg/kgBW), treatment group II (420 mg/kgBW), and treatment group III (840 mg/kgBW). The rats were induced with high purine and potassium oxonate feed. Uric acid levels were measured using a spectrophotometer, which was measured twice (t1 as pretest and t2 as posttest), with an average result of t1 (2.011 mg/dL) and t2 (1.657 mg/dL). The results of the uric acid levels showed a decrease compared to before the extract was given. Then the data obtained were analyzed using the repeated ANOVA test, with the results of the analysis showing a significant difference between blood uric acid levels before and after the extract was given with a value (p &lt;0.05). These results show that there is an antihyperuricemic effect of bay leaves because they contain many active substances such as flavonoids, tannins, and alkaloids.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Hiperurisemia adalah kondisi kadar asam urat dalam darah meningkat dan meningkatkan risiko terjadinya kondisi seperti gout artritis, pembentukan batu ginjal, kerusakan ginjal, dan hipertensi. Penatalaksanaan hiperurisemia dapat mengunakan bahan alam yang mempunyai efek antihiperurisemia. Salah satu bahan alam yaitu daun salam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh efek ekstrak etil asetat daun salam terhadap penurunan kadar asam urat pada tikus jantan galur wistar (Rattus norvegicus) model hiperurisemia. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental murni dengan pemilahan sampel menggunakan simple random sampling. Sampel penelitian ini adalah 30 ekor tikus jantan dan dibagi dalam 5 kelompok, yaitu kelompok negatif (CMC 1%), kontrol positif (Allopurinol), dan tiga kelompok perlakuan yang mendapat ekstrak etil asetat daun salam yaitu kelompok perlakuan I (210 mg/kgBB), kelompok perlakuan II (420 mg/kgBB), dan kelompok perlakuan III (840 mg/kgBB). Tikus diinduksi dengan pakan tinggi purin dan kalium oksonat. Kadar asam urat diukur dengan menggunakan alat spektrofotometer, yang dilakukan pengukuran sebanyak 2 kali (t1 sebagai pretest dan t2 sebagai posttest), dengan hasil rerata t1(2,011 mg/dL) dan t2 (1,657 mg/dL). Hasil dari kadar asam urat ini menunjukkan terdapat adanya penurunan dibandingkan sebelum diberi ekstrak. Kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji repeated ANOVA, dengan hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kadar asam urat darah sebelum dan sesudah pemberian ekstrak dengan nilai (p &lt;0,05). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa terdapat efek antihiperurisemia dari daun salam karena mengandung banyak zat aktif seperti flavanoid, tanin, dan alkaloid.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16693 Pengaruh Penggunaan Kombinasi Insulin dan Obat Anti Hiperglikemik terhadap Konversi Sputum Penderita Tuberkulosis Paru Komorbid Diabetes Melitus 2025-02-21T11:27:00+08:00 Kirey Eldina Azzahrah kireyeldina60@gmail.com Sadeli Masria sadelimasria1945@gmail.com Julia Hartati juliahartati.fkunisba06@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Pulmonary tuberculosis (TB) with comorbid diabetes mellitus (DM) presents a challenge in treatment due to metabolic complications that can affect immune response and the success of TB therapy. This study aims to evaluate the effectiveness of insulin therapy and oral hypoglycemic agents (OHO) on sputum conversion in pulmonary TB patients with DM comorbidity. The study employed an observational design. Sputum conversion was assessed based on the results of acid-fast bacilli (AFB) examinations conducted in the second and fifth months. Pulmonary TB patients with DM comorbidity were treated either with oral hypoglycemic agents alone or in combination with insulin. It was found that the combination therapy of insulin and oral hypoglycemic agents was relatively more effective than oral hypoglycemic agents alone. This suggests that controlling the patient’s blood glucose levels may relatively accelerate sputum conversion. However, the primary factor accelerating sputum conversion remains the regular use of anti-TB drugs. In conclusion, this study indicates that the combination of insulin and oral hypoglycemic agents (OHO) achieves similar sputum conversion rates as OHO therapy alone. This demonstrates that both treatment strategies are equally effective in managing blood glucose levels and enhancing treatment responses in diabetic patients with TB.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) paru komorbid diabetes melitus (DM) merupakan tantangan dalam pengobatan karena komplikasi metabolik yang dapat memengaruhi respons imun dan keberhasilan terapi TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi insulin dan obat anti-hiperglikemik oral (OHO) terhadap konversi sputum pada pasien TB paru komorbid DM. Penelitian ini menggunakan desain observasional. Konversi sputum adalah melihat hasil Pemeriksaan bakteri tahan asam (BTA) dilakukan pada bulan kedua dan kelima. Pasien TB paru dengan komorbid DM ada yang diterapi obat antihiperglikemik saja dan ada yang dengan kombinasi insulin-obat antihiperglikemik. Ternyata pengobatan kombinasi insulin-obat antihiperglikemik relatif lebih baik daripada hanya menggunakan obat antihiperglikemik saja. Artinya dapat mengendalikan kadar gula darah pasien sehingga relatif mempercepat terjadinya konversi sputum. Walaupun factor utama mempercepat terjadinya konversi sputum adalah penggunaan obat anti TB secara rutin. Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa terapi kombinasi insulin dan obat anti-hiperglikemik oral (OHO) memiliki konversi sputum yang sama dengan terapi OHO saja.&nbsp; Hal ini menandakan terapi kombinasi insulin dan OHO dengan terapi OHO saja memiliki kesamaan dalam mengelola kadar glukosa darah dan meningkatkan respon pengobatan pada pasien diabetes yang juga menderita TB.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16699 Hubungan Kurang Energi Kronis Berdasarkan Lingkar Lengan Atas pada Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Janin Berdasarkan Ultrasonografi 2025-02-21T11:29:27+08:00 Najmi Wulan Septiani najmiwulanseptiani@gmail.com Herri S. Sastramihardja herpst099@gmail.com Yuke Andriane andrianeyuke@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Statistical data from West Java Province in 2021 recorded that as many as 19,833 pregnant women experienced Chronic Energy Deficiency (CED). Chronic energy deficiency has an impact on fetal growth and development, so it is necessary to measure the mid upper arm circumference (MUAC) to detect the risk of CED. This study aims to analyze the relationship between CED based on MUAC and fetal weight based on ultrasound. The method of this research is observational analysis with a cross sectional approach. Chronic energy deficiency data was taken based on MUAC measurements while fetal weight was obtained from ultrasound results. Sampling was carried out using a purposive sampling technique&nbsp; on pregnant women at the Kadupandak Health Center, Cianjur Regency which met the inclusion criteria with a sample of 60 people. Data analysis was carried out using the spearman rank correlation test. Univariate analysis showed that the majority of pregnant women in the third trimester do not experience CED and had a fetal weight that was appropriate for gestational age. However, there are still 23.3% of pregnant women who experience CED and 10% have a fetal weight small for gestational age. Statistical analysis showed that there was a significant relationship between CED based on MUAC and fetal weight based on ultrasound (p-value 0.045&lt;0.05). Mid upper arm&nbsp; circumference can be an important indicator in detecting the risk of CED that affects fetal growth.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Data Statistik Provinsi Jawa Barat tahun 2021 mencatat sebanyak 19.833 ibu hamil&nbsp; mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kurang energi kronis berdampak pada tumbuh kembang janin, sehingga diperlukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) untuk mendeteksi risiko KEK. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara KEK berdasarkan LILA dengan berat janin berdasarkan USG. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Data KEK diambil berdasarkan pengukuran LILA sedangkan berat janin diperoleh dari hasil USG. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> pada ibu hamil di Puskesmas Kadupandak Kabupaten Cianjur yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang. Analisa data dilakukan menggunakan uji korelasi <em>rank</em> <em>spearman</em>. Analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil trimester III tidak mengalami KEK dan memiliki berat janin yang sesuai dengan usia kehamilan. Namun, masih terdapat 23,3% ibu hamil yang mengalami KEK dan 10% memiliki berat janin kurang dari usia kehamilan. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara KEK berdasarkan LILA dengan berat janin berdasarkan USG (p-value 0,045&lt;0,05). Pengukuran LILA dapat menjadi indikator penting dalam mendeteksi risiko terjadinya KEK yang berpengaruh pada pertumbuhan janin.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16715 Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah pada Pekerja UMKM Mini Plant Duta Bagian Pengupasan Rajungan Desa Gebang Mekar Kabupaten Cirebon Tahun 2024 2025-02-21T11:36:31+08:00 Anjali Gangga Nadhifah anjaligangganadhifah@gmail.com Budiman budiman.ikm.fkunisba@gmail.com Raden Ganang Ibnusantosa ganang@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Many workers in Indonesia report experiencing back pain, one of the causes of which is poor ergonomic posture. This study aims to analyze the relationship between work posture and complaints of lower back pain among crab shelling workers at Mini Plant Duta Desa Gebang Mekar, Cirebon Regency, in 2024. This research employs a quantitative, observational-analytic method with a cross-sectional design. The study subjects consist of 73 workers engaged in crab shelling at Mini Plant Duta. Observations of work postures carried out directly using the BRIEF Survey questionnaire which showed that subjects with non-ergonomic lower back work postures were 68 people (93.15%). Complaints of low back pain were collected through the Nordic Body Map questionnaire which showed that 10 people (13.7%) felt pain in the lower back. The description of low back pain complaints using the Body Discomfort Map questionnaire showed that the most pain complaints were felt in the buttocks body part, namely 43 people (58.90%). The Chi-Square test results yielded a p-value of 0.356 (p &gt; 0.05), indicating no significant relationship between work posture and lower back pain complaints. This study suggests that other factors such as obesity, age, and work duration may contribute to the occurrence of lower back pain.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Banyak pekerja di Indonesia yang mengelehukan nyeri punggung, salah satu penyebab nyeri punggung bagi pekerja adalah postur yang tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara postur kerja dengan keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja pengupas rajungan di Mini Plant Duta Desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon, pada tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, observasional analitik menggunakan desain <em>cross sectional</em>. Subjek penelitian ini adalah 73 pekerja yang bekerja dalam pengupasan rajungan Mini Plant Duta. Pengamatan postur kerja dilakukan secara langsung menggunakan kuesioner BRIEF<em> Survey</em> yang menunjukkan bahwa subjek dengan postur kerja punggung bawah yang tidak ergonomis sebanyak 68 orang (93,15%). Keluhan nyeri punggung bawah dikumpulkan melalui kuesioner <em>Nordic Body Map</em> yang menunjukkan bahwa yang merasakan nyeri pada punggung bawah sebanyak 10 orang (13,7%). Gambaran keluhan nyeri punggung bawah menggunakan kuesioner <em>Body Discomfort Map </em>yang menunjukkan bahwa keluhan nyeri paling banyak dirasakan pada bagian tubuh bokong yakni sebanyak 43 orang (58,90%). Hasil uji <em>Chi- Square </em>menghasilkan <em>p-value</em> 0,356 (p &gt; 0,05), yang menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara postur kerja dan keluhan nyeri punggung bawah. Penelitian ini mengindikasikan bahwa faktor lain seperti obesitas, usia, dan lama kerja dapat berperan dalam timbulnya nyeri punggung bawah.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16716 Gambaran Kualitas Hidup Pasien Karsinoma Nasofaring di RSUD Al-Ihsan Tahun 2023-2024 2025-02-21T11:39:12+08:00 Cantika Demitria Ludia Cinta cantikacintaaaaa@gmail.com Agung Firmansyah Sumantri dragung@gmail.com R. Kince Sakinah rkinces@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>Nasopharyngeal Carcinoma is a malignancy originating from the nasopharyngeal epithelium. According to the Ministry of Health in 2019, nasopharyngeal carcinoma is a malignancy that is often found in Indonesia and is the fourth cancer with the most cases in Indonesia. This disease can affect the sufferer's condition and quality of life. This study aims to determine the quality of life of nasopharyngeal carcinoma patients. The method in this research uses descriptive research methods with a cross sectional approach design. This research was conducted at Al-Ihsan Regional Hospital, Cancer Center section on 52 respondents taken using a purposive sampling technique. Data was collected through the WHOQoL-BREF questionnaire which was assessed based on each domain and transformed into a scale of poor, moderate, good and very good for each domain. The research results show that the majority of respondents are adults and are dominated by men. Quality of life assessment is assessed based on four domains. The level of quality of respondents' physical health was dominated by a moderate level of 54%, the level of psychological quality of respondents was dominated by a good level of 46%, the level of quality of respondents' social relationships was dominated by a moderate level of 46%, and the level of environmental quality of respondents was dominated by with a moderate level of 54%. The level of quality of life assessed based on each domain, namely physical health, psychological health, social relationships and the environment, shows varying results.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Karsinoma Nasofaring adalah keganasan yang berasal dari epitel nasofaring. Menurut Kemenkes tahun 2019, Karsinoma nasofaring merupakan keganasan yang sering ditemukan di Indonesia dan menduduki urutan ke empat kanker dengan kasus paling banyak di Indonesia. Penyakit ini dapat memengaruhi kondisi penderita dan kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien karsinoma nasofaring. Metode pada penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan desain pendekatan <em>cross sectional</em>. Penelitian ini dilakukan di RSUD Al-Ihsan bagian <em>Cancer Center</em> pada 52 responden yang diambil dengan teknik <em>purposive sampling. </em>Data dikumpulkan melalui kuesioner WHOQoL-BREF yang dinilai berdasarkan setiap domain dan ditransformasikan menjadi skala buruk, sedang, baik dan sangat baik pada setiap domainnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden berada pada usia dewasa dan didominasi oleh laki-laki. Penilaian kualitas hidup dinilai berdasarkan empat domain. Tingkat kualitas kesehatan fisik responden didominasi dengan tingkat sedang sebesar 54%, tingkat kualitas psikologis responden didominasi dengan tingkat baik sebesar 46%, tingkat kualitas hubungan sosial responden didominasi dengan tingkat sedang sebesar 46%, dan tingkat kualitas lingkungan responden didominasi dengan tingkat sedang sebesar 54%. Tingkat kualitas hidup yang dinilai berdasarkan setiap domain yaitu kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan yang menunjukan hasil yang bervariasi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16726 Karakteristik Tipe Sel Kanker Paru di RSUD Al-Ihsan Tahun 2023 2025-02-21T11:41:54+08:00 Ridwan Nurusalam ridwan.nurusalam2002@gmail.com Ismet Muchtar Nur ismet.nur@yahoo.com Widhy Yudistira Nalapraya widhyyudistiranalapraya@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Lung cancer is the uncontrolled growth of cancer cells in lung tissue, which can lead to malignancies originating from the lungs (primary) or metastasizing from other organs (secondary). According to the Global Burden of Cancer in 2020, 60% of new lung cancer cases were recorded in Asia, contributing to 62% of total cancer-related deaths. In Indonesia, there were 34,783 lung cancer cases reported in 2020. The high prevalence of lung cancer is associated with unhealthy lifestyle habits, one of which is smoking. The study employed a descriptive observational method, with sample selection using purposive sampling on 274 lung cancer patients who met the inclusion criteria, yielding 100 patients. Among these 100 patients, the most common cell type was adenocarcinoma (79%), predominantly found in patients aged ≥40 years (94%), male patients (57%), and moderate smokers (57%). These findings are consistent with previous research showing that adenocarcinoma is more frequently detected in older individuals. The incidence in males is higher than in females due to unhealthy lifestyle factors, particularly smoking. To reduce lung cancer mortality, education on the dangers of smoking, avoiding exposure to carcinogens, and early detection, especially among males aged ≥40 years, are crucial.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kanker paru merupakan pertumbuhan sel kanker di dalam jaringan paru yang tidak terkendali dan dapat menyebabkan keganasan yang berasal dari paru (primer) atau metastasis dari organ lain (sekunder). Berdasarkan <em>Global Burden of Cancer</em> pada tahun 2020, tercatat 60% kasus kanker paru baru di Asia dan menyebabkan kematian sebesar 62% dari total kematian. Pada tahun 2020, di Indonesia pasien kanker paru berjumlah 34.783. Tingginya prevalensi kejadian kanker paru dihubungkan dengan pola hidup yang tidak sehat salah satunya adalah kebiasaan merokok. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasional dekriptif dengan pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling pada 274 pasien kanker paru yang memenuhi kriteria inklusi yaitu 100 pasien. Dari total 100 pasien, jenis sel terbanyak adalah adenokarsinoma (79%), kelompok usia ≥ 40 tahun (94%) jenis kelamin laki-laki (57%) dan perokok sedang (57%). Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukan bahwa adenokarsinoma lebih sering ditemukan pada orang lanjut usia. Angka kejadian pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan wanita karena faktor gaya hidup yang tidak sehat salah satunya adalah kebiasaan merokok. Untuk menurunkan mortalitas kejadian kanker paru, pentingnya edukasi tentang bahaya merokok dan menghindari paparan karsinogen serta deteksi dini khususnya pada laki-laki dengan usia ≥ 40 tahun.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16736 Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Nyeri Leher pada Pegawai Administrasi Universitas Islam Bandung Tahun 2024 2025-02-21T11:44:30+08:00 Tsalsa Azizah tsalsaazizah@gmail.com Budiman budiman.ikm.fkunisba@gmail.com Raden Ganang Ibnusantosa ganang@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Poor working posture is one of the main risk factors for work-related musculoskeletal disorders (WMSDs), including neck pain, which significantly impacts workers' productivity and well-being. Neck pain among office workers often caused by prolonged static positions and improper ergonomic practices. This study aims to analyze the relationship between work posture and neck pain complaints among administrative staff at Islamic University of Bandung. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted on 64 administrative staff. Work posture was assessed using the Rapid Upper Limb Assessment (RULA) method, while neck pain complaints were evaluated using the Neck Pain Disability Index (NDI) questionnaire. Statistical analysis was performed using Fisher-Freeman-Halton Exact Test to determine the relationship between the variables. The results showed that the most respondents (92.2%) were in the low-risk work posture category, while 6.3% fell into the medium-high risk category. The majority neck pain complaints were categorized as "no disability" category (59.4%), followed by mild neck pain (35.9%) and moderate neck pain (4.7%). Statistical analysis indicated a significant relationship between work posture and neck pain complaints (p = 0.049).</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Postur kerja yang buruk merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan muskuloskeletal akibat kerja (GOTRAK), termasuk nyeri leher, yang berdampak signifikan terhadap produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Nyeri leher pada pekerja kantor sering kali disebabkan oleh posisi statis yang berkepanjangan dan praktik ergonomi yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara postur kerja dengan keluhan nyeri leher pada pegawai administrasi Universitas Islam Bandung. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan pada 64 pegawai administrasi. Postur kerja dinilai menggunakan metode <em>Rapid Upper Limb Assessment</em> (RULA), sedangkan keluhan nyeri leher dievaluasi menggunakan kuesioner <em>Neck Pain Disability Index </em>(NDI). Analisis statistik dilakukan menggunakan <em>Fisher-Freeman-Halton Exact Test</em> untuk menentukan hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92,19%) berada dalam kategori postur kerja risiko rendah, sementara 6,25% berada dalam kategori risiko sedang, dan 1,56% dalam kategori risiko tinggi. Keluhan nyeri leher paling banyak berada dalam kategori "tidak ada disabilitas" (59,37%), diikuti nyeri ringan (35,94%), dan nyeri sedang (4,69%). Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara postur kerja dengan keluhan nyeri leher (p = 0,049).</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16737 Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Tuberculosis Paru di Puskesmas Rau Kota Serang Tahun 2024 2025-02-21T14:36:19+08:00 Yusha Qorni yushaqrni@gmail.com Nurziwan Acang n.acang@yahoo.com Yuke Andriane andiraneyuke@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong><span lang="IN">Tuberculosis is a contagious infectious disease that primarily affects the lungs and is caused by<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>Mycobacterium tuberculosis</em>. The disease is transmitted through sneezing, coughing, or spitting. Several factors influence the occurrence of tuberculosis, one of which is nutritional status. Individuals with poor nutritional status are more likely to have a weakened immune system, making them highly susceptible to tuberculosis. This study aims to investigate the relationship between nutritional status and the incidence of pulmonary tuberculosis. The research adopts an observational-analytic method with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using a consecutive sampling technique, involving pulmonary tuberculosis patients at Rau Public Health Center, Serang City, in 2024 who met the inclusion criteria. A total of 53 participants were included in the study. Data were collected by measuring height and weight, which were then calculated using the BMI formula. Data analysis was performed using the Fisher Exact Test. The findings revealed a significant relationship between nutritional status and the incidence of pulmonary tuberculosis (<em>p</em>&lt; 0.001). Poor nutritional status increases an individual's vulnerability to tuberculosis infection, especially when in direct contact with tuberculosis patients. Adequate nutritional intake plays a vital role in strengthening the immune system of tuberculosis patients, enabling the body to better resist the disease.</span></p> <p><strong><span lang="IN">Abstrak. </span></strong><span lang="IN">Tuberculosis </span><span lang="IN">merupakan penyakit infeksi menular yang menyerang paru-paru, diakibatkan infeksi <em>Mycobacterium tuberculosis</em>. Penularan penyakit tuberkulosis dapat melalui bersin, batuk, atau meludah. Penyakit <em>tuberculosis</em> dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu status gizi, seseorang dengan status gizi buruk maka sistem pertahanan tubuhnyapun akan lemah sehingga dapat rentan terkena <em>tuberculosis</em>. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian tuberculosis paru. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik <em>concecutive sampling</em> pada penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Rau Kota Serang tahun 2024 yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah sampel sebanyak 53 orang. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengukur tinggi badan dan berat badan yang dihitung dalam rumus BMI. Analisa data dilakukan menggunakan uji <em>Fisher Exact Test.</em> Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian tuberkulosis paru (p&lt;0.001). Status gizi yang buruk dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi tuberkulosis, terutama apabila berinteraksi langsung dengan penderita tuberkulosis. Asupan nutrisi yang baik sangat penting bagi penderita tuberkulosis, karena dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh lebih tahan terhadap penyakit.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16738 Hubungan Stroke Perdarahan dengan Fungsi Kognisi di RSAU Salamun Bandung 2025-02-21T14:39:23+08:00 Fajar Handika fajarhandika10@gmail.com Alya Tursina alyatursina@unisba.ac.id Mochammad Faisal Afif Mochyadin mochammad.faisal.afif@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Stroke is one of the main causes of cognitive dysfunction that has a significant impact on the quality of life of patients. This study aims to analyze the relationship between hemorrhagic stroke and cognitive function in patients at RSAU dr. Salamun Bandung. The study design used was observational analytic with a cross-sectional approach, involving 35 hemorrhagic stroke patients selected through consecutive sampling techniques. Cognitive function was measured using the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment instrument (MoCA-Ina) with score interpretation: ≥26 (normal) and &lt;26 (abnormal). Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. The results showed that the majority of hemorrhagic stroke patients were male (62.86%) and were in the late elderly age range (34.29%). A total of 88.57% of hemorrhagic stroke patients experienced cognitive dysfunction, compared to 68.57% in non-hemorrhagic stroke. Statistical analysis showed a significant relationship between hemorrhagic stroke and cognitive dysfunction (p = 0.041). These findings suggest that brain tissue damage due to intracerebral hemorrhage has a more serious impact on cognitive function than non-hemorrhagic stroke. In conclusion, a comprehensive prevention and treatment strategy is needed to reduce the risk of cognitive impairment in stroke patients, especially hemorrhagic stroke.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Stroke merupakan salah satu penyebab utama gangguan fungsi kognitif yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara stroke perdarahan dan fungsi kognitif pada pasien di RSAU dr. Salamun Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 35 pasien stroke perdarahan yang dipilih melalui teknik consecutive sampling. Fungsi kognitif diukur menggunakan instrumen Montreal Cognitive Assessment versi bahasa Indonesia (MoCA-Ina) dengan interpretasi skor: ≥26 (normal) dan &lt;26 (tidak normal). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien stroke perdarahan adalah laki-laki (62,86%) dan berada pada rentang usia lansia akhir (34,29%). Sebanyak 88,57% pasien stroke perdarahan mengalami gangguan fungsi kognitif, dibandingkan 68,57% pada stroke non-perdarahan. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara stroke perdarahan dan gangguan fungsi kognitif (p=0,041). Temuan ini menunjukkan bahwa kerusakan jaringan otak akibat perdarahan intraserebral memiliki dampak lebih serius terhadap fungsi kognitif dibandingkan stroke non-perdarahan. Kesimpulannya, diperlukan strategi pencegahan dan penanganan yang komprehensif untuk mengurangi risiko gangguan fungsi kognitif pada pasien stroke, terutama stroke perdarahan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16740 Karakteristik Perokok pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun 2024 2025-02-21T14:47:51+08:00 Rahma Reza Zakiyah rezakyh19@gmail.com Ike Rahmawaty Alie ikewaty21@gmail.com Siti Annisa Devi Trusda trusda_75@yahoo.com <p><strong>Abstract.</strong> A smoker is someone who engages in the activity of inhaling substances that are harmful to the body. The 2018 Basic Health Research data shows that the highest percentage of smokers is in West Java Province, with the majority being in the productive age group, one of which includes university students. Medical students are considered to have high knowledge, skills, and capacity regarding health issues and the dangers of smoking. However, it is unexpected that many medical students are still smokers. Nowadays, there are two types of smokers: conventional smokers and electronic smokers. This study was conducted to determine the characteristics of smokers among Medical Students at the Islamic University of Bandung (Unisba) in 2024. This research is an analytical observational study using a cross-sectional method. The sample selection was done through simple random sampling from Unisba medical students who met the inclusion criteria, totaling 80 participants. The results of this study show that the most common age group is 21-24 years, the highest BMI is in the overweight category, and the longest duration of smoking is in the 1-5&nbsp;years&nbsp;group.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perokok adalah seseorang yang melakukan kegiatan menghisap bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan persentase perokok tertinggi ada di Provinsi&nbsp;Jawa Barat dengan kategori terbanyak pada usia produktif, salah satunya adalah mahasiswa. Mahasiswa kedokteran&nbsp;dipandang&nbsp;memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas yang tinggi tentang masalah kesehatan dan bahaya merokok. Namun, tidak diduga bahwa masih banyak mahasiswa kedokteran yang merupakan perokok. Dewasa ini terdapat dua jenis perokok yaitu perokok konvensional dan perokok elektrik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik perokok pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode potong lintang. Pemilihan sampel menggunakan <em>simple random sampling</em> terhadap mahasiswa kedokteran Unisba yang memenuhi kriteria inklusi sejumlah 80 orang. Hasil penelitian ini didapatkan kelompok usia terbanyak pada kelompok 21-24 tahun, dengan IMT terbanyak di kelompok berat badan berlebih, dan lama merokok terbanyak ada pada kelompok 1-5 tahun.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16760 Hubungan Pemberian Asi Ekslusif dengan Derajat Stunting pada Balita di Puskesmas Malangbong Kabupaten Garut Tahun 2022 2025-02-21T14:50:08+08:00 Nabila Putri Hermawan hermawan.nabila03@gmail.com Ahmad Djojosugito mahmaddjojosugito@gmail.com Santun Bhekti Rahimah Santunbr94@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>Indonesia is the highest prevalence of stunting according to UNICEF report, at 31.8%. Stunting is characterized by a height for age of less than 2 standard deviations (SD), which has long-term effects that can hinder a child's growth and development. One factor that can influence the occurrence of stunting is exclusive breastfeeding. This study aims to analyze the relationship between exclusive breastfeeding and the grading of stunting at toddlers the Malangbong Garut Community Health Center. This research is an analytical observational research approach cross sectional. The research sample came from secondary data taken from the Malngbong Community Health Center's annual report. Data were analyzed using univariate and bivariate tests and carried out the chi-square test. The study involved 643 children as respondents, with 57% of them being predominantly male, and 51.8% were toddlers aged 1–3 years. In this study, the majority of respondents experienced stunting (68.9%), although 76.8% had already received exclusive breastfeeding. The results of the chi-square analysis showed a p-value of 0.944 (&gt;0.05), indicating no significant difference between exclusive breastfeeding and stunting among toddlers at Malangbong Garut Public Health Center. According to research conducted by Nugroho et al., stunting is a multifactorial condition influenced by various factors such as inadequate complementary feeding (MP-ASI), recurrent infections, suboptimal parental knowledge and caregiving, as well as economic factors, which can also contribute to the occurrence of stunting.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>United Nations Children’s Fund (UNICEF) melaporkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di Asia Tenggara, sebesar 31,8%. Stunting ditandai dengan tinggi badan menurut usia kurang dari 2 standar deviasi (SD) yang memiliki efek jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya stunting adalah pemberian ASI Ekslusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ASI Ekslusif dengan derajat stunitng pada balita di Puskesmas Malangbong Garut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berasal dari data sekunder yang diambil dari laporan tahunan Puskesmas Malngbong. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat serta dilakukan uji chi-square. Jumlah responden pada penelitian sebanyak 643 anak dimana 57% responden mayoritas berjenis kelamin laki-laki dan 51,8% responden berusia batita 1-3 tahun. Pada penelitian ini sebagian besar responden mengalami stunted (68,9%), akan tetapi 76,8% responden mendapat sudah mendapat ASI Ekslusif.&nbsp; Hasil analisis chi-square didapatkan nilai p sebesar 0,944 (&gt;0,05) yang menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara ASI Ekslusif dengan derajat stunting pada balita di Puskesmas Malangbong Garut. Menurut penelitian yang di lakukan oleh Nugroho, dkk stunting merupakan kondisi multifaktor yang dipengaruhi oleh berbagai penyebab, seperti MP-ASI yang tidak adekuat, infekesi yang berulang, pengetahuan dan pengasuhan orang tua yang tidak optimal, serta ekonomi menjadi faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya stunting.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16777 Hubungan Status Gizi dan Aktivitas Fisik dengan Penggunaan Aplikasi Kesehatan pada Remaja di SMAN 1 Padalarang Tahun 2024 2025-02-21T15:11:31+08:00 Putri Sulastri Anggraini putrisulastria@gmail.com Rizky Suganda Prawiradilaga rizkysuganda@gmail.com Nugraha Sutadipura nugrahasutadipura@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Adolescent health is an increasingly important issue amidst changes in lifestyle and eating patterns that are currently occurring. Currently, the number of health application users is increasing along with the needs of society and technology. This study aims to explore the relationship between nutritional status and physical activity with the use of health applications in adolescents at SMAN 1 Padalarang. The method used is observational analytic with a cross-sectional approach. A total of 132 respondents were selected as samples using a purposive sampling technique. Data were collected through a questionnaire that measured nutritional status, physical activity levels, and use of health applications. The results showed that the majority of respondents had normal nutritional status (48.5%), low physical activity levels (43.2%) and did not use health applications (63.6%). Based on the Chi-Square Test, it was found that there was a significant relationship (p = 0.02, p &lt;0.05) between adolescent nutritional status and the use of health applications but there was no significant relationship (p = 0.08) between adolescent physical activity and the use of health applications. From the results obtained in adolescents of SMAN 1 Padalarang who have low nutritional status as many as 22%, normal as many as 48.5%, overweight as many as 17.4%, and obesity as many as 12.1%. In adolescents of SMAN 1 Padalarang with low levels of physical activity there are 43.2%, moderate as many as 28%, and high as many as 28.8%. So it takes reinforcement through comprehensive school-based education to increase awareness and readiness of adolescents in assessing nutritional status and also increasing their levels of physical activity.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kesehatan remaja merupakan isu yang semakin penting di tengah perubahan gaya hidup dan pola makan yang terjadi saat ini. Pada saat ini, jumlah pengguna aplikasi kesehatan semakin meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara status gizi dan aktivitas fisik dengan penggunaan aplikasi kesehatan pada remaja di SMAN 1 Padalarang. Metode yang digunakan adalah observational analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sebanyak 132 responden dipilih sebagi sampel dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur status gizi, tingkat aktivitas fisik, dan penggunaan aplikasi kesehatan. Hasil menunjukkan mayoritas responden berstatus gizi normal (48,5%), tingkat aktivitas fisik termasuk rendah (43,2%) dan tidak menggunakan aplikasi kesehatan (63,6%). Berdasarkan Uji <em>Chi-Square </em>didapatkan bahwa terdapat hubungan signifikan (p=0,02, p&lt;0,05) antara status gizi remaja dengan penggunaan aplikasi kesehatan tetapi tidak terdapat hubungan signifikan (p=0,08) antara aktivitas fisik remaja dengan penggunaan aplikasi kesehatan. Dari hasil tersebut didapatkan pada remaja SMAN 1 Padalarang yang memiliki status gizi rendah sebanyak 22%, normal sebanyak 48,5%, overweight sebanyak 17,4%, dan obesitas sebanyak 12,1%.&nbsp; &nbsp;Pada remaja SMAN 1 Padalarang dengan tingkat aktivitas fisik rendah terdapat &nbsp;43,2%, sedang sebanyak 28%, dan tinggi sebanyak 28,8%. Sehingga dibutuhkan penguatan melalui edukasi komprehensif berbasis sekolah untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan remaja dalam menilai status gizi dan juga meningkatkan tingkat aktivitas fisik mereka.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16788 Studi Literatur: Efektivitas Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal pada Balita 2025-02-21T15:14:18+08:00 Fatin Amalia Karsari fatinamalia1357@gmail.com Heni Muflihah henimuflihah@unisba.ac.id Miranti Kania Dewi miranti@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Nutritional issues in children under five remain a significant public health challenge in Indonesia, particularly in areas with high prevalence of stunting and malnutrition. One of the interventions implemented is the provision of supplementary feeding (PMT) based on local food ingredients. This study aims to analyze the effectiveness of PMT using local food sources in improving the nutritional status of children under five. Various studies have shown that the use of local foods, such as mung beans, legumes, and fish, can positively impact the nutritional status of young children. In addition to being nutritionally effective, locally-based PMT is more accepted by the community due to the availability of ingredients that are easily sourced and familiar in daily life. However, challenges such as the lack of community education on processing local food and distribution issues in remote areas require further attention. Through collaboration among stakeholders, education, and integrated monitoring, the use of local food in PMT can serve as a sustainable solution to address malnutrition in children under five in Indonesia<em>.</em></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Masalah gizi pada balita masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di daerah dengan prevalensi tinggi stunting dan gizi kurang. Salah satu intervensi yang telah dilakukan adalah pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis bahan pangan lokal. Studi ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas PMT berbahan pangan lokal dalam meningkatkan status gizi balita. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pangan lokal, seperti kacang hijau, kacang-kacangan, dan ikan, dapat memberikan dampak positif terhadap status gizi balita. Selain efektif secara nutrisi, PMT berbasis lokal juga lebih diterima oleh masyarakat karena ketersediaan bahan yang mudah diperoleh dan akrab dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tantangan seperti kurangnya edukasi masyarakat tentang pengolahan bahan pangan lokal dan masalah distribusi di daerah terpencil memerlukan perhatian lebih. Dengan kolaborasi berbagai pihak, edukasi, dan pemantauan yang terintegrasi, penggunaan pangan lokal dalam PMT dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk mengatasi masalah gizi balita di Indonesia.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16796 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Hipertensi pada Pra Lansia di Puskesmas Sangkanhurip Kabupaten Bandung Tahun 2023 2025-02-21T15:17:35+08:00 Yatala Mabrura mabruray@gmail.com Arief Budi Yulianti budi.yulifk@gmail.com Tryando Bhatara tryando.bhatara@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Hypertension, often referred to as the "silent killer," is one of the leading causes of death worldwide. This condition is triggered and influenced by several factors such as genetics, lifestyle, smoking, and obesity. Obesity can be measured through the Body Mass Index (BMI), which can be used as an initial screening tool to assess patients' risk of developing hypertension. This study aims to examine the relationship between Body Mass Index and Hypertension among pre-elderly individuals at Sangkanhurip Public Health Center, Bandung Regency, in 2023. This research is a quantitative observational analytic study with a cross-sectional approach. The study sample was derived from medical records. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square statistical test. The total number of respondents was 88, with the majority being female (74 patients or 84.1%) and aged 55-59 years (36 patients or 40.9%). Most respondents experienced severe hypertension (39 patients or 44.3%) and had a BMI classified as obese (36 patients or 40.9%). The analysis of the relationship between BMI and hypertension revealed a p-value of 0.001, indicating a significant association between hypertension and BMI. The findings of this study underscore the importance of BMI screening as an initial step in identifying individuals at risk of hypertension. Community-based interventions, including education on healthy eating, physical activity, and weight management, could be effective strategies to reduce hypertension prevalence.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi dijuluki sebagai <em>silent killer</em> dan merupakan salah satu penyakit yang menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Penyakit ini dipicu dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti genetik, pola hidup, merokok dan obesitas. Obesitas dapat diukur melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dapat digunakan sebagai screening awal faktor risiko pasien untuk mengalami hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Hipertensi pada Pra Lansia di Puskesmas Sangkanhurip Kabupaten Bandung Tahun 2023<strong>. </strong>Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian berasal dari rekam medik. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji statistik <em>chi-square</em>. Jumlah responden sebanyak 88 dengan karakteristik responden mayoritas berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 74 pasien (84,1%) dan memiliki usia di rentang 55-59 tahun dengan jumlah 36 pasien (40,9%) Mayoritas responden mengalami hipertensi berat dengan jumlah 39 pasien (44,3%) dan mayoritas memiliki IMT Obesitas dengan jumlah 36 pasien (40,9%). Hasil analisis Hubungan IMT dengan hipertensi didapatkan nilai p 0,001 yang menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara hipertensi dengan IMT. Hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya skrining IMT sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi individu dengan risiko hipertensi. Intervensi berbasis komunitas yang mencakup edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan dapat menjadi strategi efektif untuk menurunkan prevalensi hipertensi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16804 Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Frekuensi Timbulnya Gejala Eksaserbasi Asma pada Anak Rawat Inap di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2023 2025-02-21T15:22:25+08:00 Indah Wina Triana indahwt30@gmail.com Widhy Yudistira Nalapraya widhyyudsitira@gmail.com Nuzirwan Acang n.acang@yahoo.co.id <p><strong>Abstract.</strong> Asthma is a chronic disease characterized by inflammation of the respiratory tract, leading to difficulty breathing and recurrent attacks. One of the factors that may influence the severity of asthma symptoms is Body Mass Index (BMI). This study aimed to investigate the relationship between BMI and the frequency of asthma exacerbations in children hospitalized at RSUD Al-Ihsan Bandung during 2023. The study employed an analytical observational approach with a cross-sectional design. The research sample consisted of 47 children treated for asthma. Data were collected from medical records, including information on age, gender, BMI, and frequency of asthma attacks. Statistical analysis was conducted using the Chi-Square test. The results showed that 46.8% of children had normal BMI, 40% were underweight, 2.1% were overweight, and 11.1% were obese. Most asthma attacks were mild (63.8%) and well-controlled (57.5%). The Chi-Square analysis yielded a p-value of 0.63, indicating no significant relationship between BMI and the frequency of asthma exacerbations in these children. While BMI was not found to have a significant relationship with asthma exacerbation frequency, maintaining good nutritional status remains crucial for optimal asthma management.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Asma merupakan penyakit kronis yang ditandai oleh peradangan saluran pernapasan dan dapat menyebabkan kesulitan bernapas serta serangan berulang. Salah satu faktor yang mungkin memengaruhi keparahan gejala asma adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara IMT dengan frekuensi eksaserbasi asma pada anak-anak yang menjalani rawat inap di RSUD Al-Ihsan Bandung selama tahun 2023. Studi ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 47 anak yang dirawat karena asma. Data dikumpulkan melalui rekam medis, mencakup informasi usia, jenis kelamin, IMT, serta frekuensi serangan asma. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan Sebanyak 46,8% anak memiliki IMT normal, 40% tergolong underweight, 2,1% overweight, dan 11,1% obesitas. Sebagian besar serangan asma yang dialami bersifat ringan (63,8%) dan terkontrol (57,5%). Hasil analisis Chi-Square menunjukkan nilai p sebesar 0,63, yang mengindikasikan tidak adanya hubungan signifikan antara IMT dan frekuensi eksaserbasi asma pada anak-anak tersebut. IMT tidak ditemukan memiliki hubungan yang signifikan dengan frekuensi eksaserbasi asma. Meski demikian, mempertahankan status gizi yang baik tetap penting untuk mendukung pengelolaan asma secara optimal.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16808 Gaya Hidup Sedenter pada Anak dan Remaja Pasca Pandemi COVID-19 2025-02-21T15:25:53+08:00 Raissa Sarah Nur Fadilah raissarahfff20@gmail.com Herri S. Sastramihardja herpst099@gmail.com Eva Rianti Indrasari evaindrasari@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> The COVID-19 pandemic has brought significant changes to the lifestyles of children and adolescents around the world. Social restrictions and school closures during the pandemic have led to an increase in sedentary activities due to increased time spent watching television, playing gadgets, and sitting at home. This study aims to evaluate the impact of the COVID-19 pandemic on sedentary lifestyles in children and adolescents and its health implications. The method used was a literature study by reviewing relevant articles from various reputable sources. Results showed that the pandemic increased the duration of sedentary activities by more than 50% compared to before the pandemic. This excessive sedentary activity results in an increased risk of obesity, cardiovascular disorders and decreased mental health. Therefore, urgent interventions are needed to reduce sedentary activities through awareness raising, physical activity promotion, and the implementation of policies that support active lifestyles.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Pandemi COVID-19 telah membawa perubahan signifikan pada gaya hidup anak dan remaja di seluruh dunia. Pembatasan sosial dan penutupan sekolah selama pandemi mendorong peningkatan aktivitas sedenter akibat meningkatnya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, bermain gawai, dan duduk di rumah. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pandemi COVID-19 terhadap gaya hidup sedenter pada anak dan remaja serta implikasinya terhadap kesehatan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan meninjau artikel yang relevan dari berbagai sumber terkemuka. Hasil menunjukkan bahwa pandemi meningkatkan durasi aktivitas sedenter hingga lebih dari 50% dibandingkan dengan sebelum pandemi. Aktivitas sedenter yang berlebihan ini berdampak pada peningkatan risiko obesitas, gangguan kardiovaskular, dan penurunan kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan intervensi segera untuk mengurangi aktivitas sedenter melalui peningkatan kesadaran, promosi aktivitas fisik, dan penerapan kebijakan yang mendukung gaya hidup aktif.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16812 Uji Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Air Kopi Robusta dengan Ekstrak Air Teh Hijau dalam Pertumbuhan Bakteri Cutibacterium Acnes 2025-02-21T15:28:02+08:00 Sugih Arun Kirana Sobur sugiharun26@gmail.com Hendro Sudjono Yuwono hsyabc47@gmail.com Febriana Kurniasari febriana.kurniasari@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.&nbsp;</strong><span lang="IN">Acne vulgaris (AV) is a common chronic inflammatory skin disorder of the pilosebaceous unit, with a prevalence estimated to range between 35% to more than 90% among adolescents. AV is typically treated with antibiotics, which can suppress bacterial activity and provide anti-inflammatory effects. However, antibiotics are limited to a maximum use of 12-18 weeks due to the risk of bacterial resistance, necessitating the exploration of alternative therapies.&nbsp; This study aimed to evaluate the antibacterial effects of Robusta coffee water extract and green tea water extract. The research employed an in vitro descriptive experimental design using C. acnes bacterial isolates. Eight treatment groups were established, consisting of three concentrations of Robusta coffee (Coffea canephora) water extract 50%, 75%, and 100%, three concentrations of green tea (Camellia sinensis) water extract 50%, 75%, and 100%, a positive control (clindamycin antibiotic), and a negative control (aquadest). The samples were incubated for 24 hours at 37°C, and the inhibition zones were measured in millimeters.&nbsp; The results showed that the inhibition zones produced by green tea (Camellia sinensis) water extract were more effective in inhibiting C. acnes bacterial growth compared to Robusta coffee (Coffea canephora) water extract. However, neither extract was as effective as the clindamycin antibiotic.</span></p> <p><br><strong>Abstrak.&nbsp;</strong><span lang="IN">Akne vulgaris (AV) ialah kelainan inflamasi kulit umum pada unit pilosebasea, yang berlangsung kronis, tingkat prevalensinya diperkirakan berkisar antara 35% hingga lebih dari 90% di kalangan remaja. </span><span lang="IN">Pengobatan AV ini umumnya menggunakan antibiotik. Antibiotik dapat menekan aktivitas bakteri dan memberikan efek anti inflamasi, namun antibiotik hanya dapat diberikan maksimal 12-18 minggu karna dapat menyebabkan resistensi, maka perlu dipertimbangkan terapi alternatif. </span><span lang="IN">Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek antibakteri ekstrak air kopi robusta dan ekstrak air teh hijau. Penelitian ini menggunakan studi deskriptif eksperimental <em>in vitro</em> menggunakan isolat bakteri <em>C. acnes</em>. Terdapat delapan kelompok perlakuan terdiri dari tiga konsentrasi ekstrak air kopi robusta (<em>Coffea canephora</em>) 50%, 75%, dan 100%, tiga konsentrasi ekstrak air teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>) 50%, 75%, dan 100%, kontrol positif (antibiotik klindamisin), dan kontrol negatif (<em>aquadest</em>) yang selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37<sup>o</sup>C kemudian zona hambat diukur diameternya dalam milimeter. Hasil penelitian menunjukan zona hambat ekstrak air teh hijau (<em>Camellia sinensis</em>) lebih baik jika dibandingkan dengan ekstrak air kopi robusta (<em>Coffea canephora</em>) dalam menghambat pertumbuhan bakteri <em>C.acnes</em>, namun tidak lebih baik daripada antibiotik klindamisin.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16814 Pengaruh Esktrak Air Daun Kersen terhadap Histopatologi Pankreas Mencit Hiperglikemia 2025-02-21T15:30:00+08:00 Nabila Dzawi Assakina nabilaassakina@gmail.com Maya Tejasari mayatejasari4981@gmail.com Umar Islami umarislami@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> &nbsp;Kersen Leaves (<em>Muntingia calabura L</em>.) contain antioxidants to eliminate Reactive Oxygen Species (ROS). ROS can form in pancreatic beta cells, one of the causes is due to alloxan exposure, causing hyperglycemia and diabetes. Diabetes is known to cause a decrease in the diameter of the pancreatic Islets of Langerhans. This study aims to investigate whether there are differences in the diameter of the Islets of Langerhans in the pancreatic mice between groups treated with water extract of Kersen leaves (K3, K4, K5) and control groups (KN, K1, K2). There are six groups of male Swiss Webster mice: KN, K1, K2, K3, K4, K5. All groups except the KN group were induced with 160 mg/kgBW of alloxan. After 14 days of induction, treatment group were treated with water extract of Kersen leaves at doses of 200, 400, and 800 mg/kgBW for 14 days. The diameter of the Langerhans Islets in the treatment groups were smaller compared to KN group, but larger than K1 group. In the treatment groups, a dose-dependent effect was observed. This study found that there is a difference in the diameter of Langerhans Islets in the pancreatic mice between the treatment groups and the control groups.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Daun kersen (<em>Muntigia calabura L</em>.) merupakan tanaman yang mengandung fenol, flavonoid, alkaloid, tannin, dan saponin yang berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkap <em>Reactive Oxygen Species</em> (ROS). ROS dapat terbentuk pada sel beta pankreas, salah satunya akibat paparan aloksan sehingga menyebabkan hiperglikemia hingga diabetes. Diabetes diketahui dapat menyebabkan penurunan diameter Pulau Langerhans pankreas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan diameter Pulau Langerhans pada pankreas mencit antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak air daun kersen (K3, K4, K5) dan kelompok kontrol (KN, K1, K2). Terdapat 6 kelompok mencit jantan galur Swiss Webster; KN, K1, K2, K3, K4, K5. Aloksan 160 mg/kgBB diberikan pada semua kelompok kecuali kelompok KN. Setelah 14 hari induksi, kelompok perlakuan diberi ekstrak air daun kersen masing-masing dengan dosis 200, 400, dan 800 mg/kgBB selama 14 hari. Diameter Pulau Langerhans pada kelompok perlakuan lebih kecil dibandingkan kelompok KN (kontrol positif), dan lebih besar dibandigkan kelompok K1 (kontrol negatif). Pada kelompok perlakuan, terjadi ’dose-dependent effect’, dimana seiring ditambahkannya dosis ekstrak air daun kersen secara bertahap, terjadi peningkatan diameter Pulau Langerhans. Dari penelitian ini didapatkan adanya perbedaan diameter Pulau Langerhans pada pankreas mencit antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak air daun kersen dan kelompok kontrol.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16820 Perbandingan Penurunan Kadar Ureum dan Kreatinin Post Hemodialisis pada Pasien End-Stage Renal Disease Berdasarkan Usia di RS Al-Islam Bandung 2025-02-21T15:31:53+08:00 Andhini Rafidah Rizqita Sudrajat andien0207@gmail.com Noormartany noormartany@gmail.com Sara Puspita sarapuspita@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Urea and creatinine are waste products of protein metabolism, most of which must be removed from the blood through the kidneys, making them important markers for evaluating kidney function. In patients with End-Stage Renal Disease (ESRD), hemodialysis is an effective treatment to cleanse metabolic waste products. Physiologically, after the age of 40, there is a decline in the number of nephrons, leading to a reduction in kidney function of approximately 10 ml/min/1.73 m² per decade. This decline progresses over time, reducing kidney function to less than 50% by the age of 70. This study aims to compare the reduction in urea and creatinine levels post-hemodialysis in ESRD patients based on age groups under 65 and over 65 years. The research used a quantitative analytical method with a cross-sectional approach, utilizing medical record. A total of 310 data points were obtained. The differences in urea creatinine levels pre- and post-hemodialysis were analyzed using the Wilcoxon test, yielding significant results with p = 0.00 for both parameters. Reductions comparison in post-hemodialysis urea creatinine levels between age groups, using the Mann-Whitney test, showed non-significant results with p = 0.557 and p = 0.488. This indicates that the magnitude of the reduction in urea and creatinine levels post-hemodialysis is not solely dependent on age. Other factors that may influence this include complications and comorbidities. This study is expected to provide further insights into the management of ESRD and support the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs), while contributing to the future management of ESRD.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Ureum dan kreatinin adalah produk sisa metabolisme protein, yang sebagian besar harus dikeluarkan dari darah melalui ginjal, sehingga dapat menjadi penanda penting untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Pada penderita <em>End-Stage Renal Disease </em>(ESRD), dibutuhkan terapi hemodialisis, yang merupakan pilihan pengobatan efektif untuk membersihkan produk sisa metabolisme. Pada usia lebih dari 40 tahun, secara fisiologis akan terjadi penurunan sejumlah nefron, dengan penurunan fungsi ginjal sekitar 10 ml/menit/1,73 m² setiap dekade. Penurunan ini akan terus berlangsung secara progresif, menjadi kurang dari 50% dari kapasitas normalnya hingga usia 70 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penurunan kadar ureum dan kreatinin post hemodialisis pada pasien ESRD berdasarkan kelompok usia kurang dari 65 tahun dan lebih dari 65 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik kuantitatif dengan pendekatan <em>cross sectional</em>, dengan menggunakan data rekam medis. Total data yang diperoleh sebanyak 310 data. Perbedaan kadar ureum, kreatinin pre dan post hemodialisis, dengan mengunakan uji <em>Wilcoxon</em>, masing masing didapatkan hasil signifikan yaitu p = 0.00. Perbandingan penurunan kadar ureum, kreatinin post hemodialisis berdasarkan kelompok usia dengan menggunakan uji <em>Man Whitney</em>, berturut turut, didapatkan hasil tidak signifikan yaitu p = 0,557 dan p = 0,488. Hal ini menunjukan besarnya penurunan kadar ureum kreatinin post hemodialisis tidak hanya bergantung pada&nbsp; usia. Faktor lain yang dapat memengaruhi hal tersebut diantaranya adalah komplikasi dan penyakit penyerta. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang pengelolaan ESRD dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (<em>Sustainable Development Goals</em>) terkait Kesehatan, serta berkontribusi pada pengelolaan ESRD di masa depan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16828 Hubungan Kejadian Infeksi Human Immunodeficiency Virus dengan Infeksi Hepatitis C di RSUD Al-Ihsan Bandung 2025-02-21T15:34:38+08:00 Wardah Aulia Safira wardahauliasafira@gmail.com Noormartany noormartany@gmail.com Ariko Rahmat Putra ariko@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Hepatitis C Virus (HCV) are two chronic infections that often occur together due to similar modes of transmission, such as blood contact, sexual activity, and the use of shared needles. This study aims to analyze the relationship between HIV and HCV infections among patients at Al Ihsan Regional Hospital, Bandung, during the 2022–2023 period. The study design is observational analytic with a cross-sectional approach. The study utilized medical records data from 155 HIV patients and 150 non-HIV patients who met the inclusion and exclusion criteria. Based on the data, there were 155 HIV patients, 14 hepatitis C patients, and no cases of HIV-HCV coinfection. Among the 155 HIV patients, none tested positive for HCV based on anti-HCV screening, while 9.3% of non-HIV patients showed positive results (p&lt;0.001). The primary risk factors for HIV infection included having multiple sexual partners (38.1%), being homosexual/bisexual (31.6%), and sharing needles (9.7%). The study concluded that there was no significant relationship between HIV and HCV infections in the population studied. These findings are expected to serve as a reference for prevention and management strategies for HIV-HCV coinfections, particularly in addressing transmission risks among vulnerable populations in hospital settings.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Human Immunodeficiency Virus</em> (HIV) dan <em>Hepatitis C Virus </em>(HCV) merupakan dua infeksi kronis yang sering kali terjadi bersamaan karena memiliki jalur penularan yang serupa, seperti melalui darah, hubungan seksual, dan penggunaan jarum suntik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara infeksi HIV dengan infeksi HCV pada pasien di RSUD Al Ihsan Bandung selama periode 2022–2023. Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penilitan ini menggunakan data diperoleh dari rekam medis sebanyak 155 pasien HIV dan 150 pasien non-HIV sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat sejumlah 155 pasien HIV, 14 pasien hepatitis C, dan tidak ada pasien koinfeksi HIV-HCV. Pada 155 pasien HIV tidak ada yang terdeteksi positif HCV berdasarkan pemeriksaan anti-HCV, sementara 9,3% pasien non-HIV menunjukkan hasil positif (p&lt;0,001). Faktor risiko utama infeksi HIV meliputi pasangan seksual lebih dari satu (38,1%), homoseksual/biseksual (31,6%), serta penggunaan jarum suntik bersama (9,7%). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ditemukan hubungan signifikan antara infeksi HIV dan HCV dalam populasi yang diteliti. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk strategi pencegahan dan penanganan koinfeksi HIV-HCV, khususnya dalam pengelolaan risiko penularan pada populasi rentan di lingkungan rumah sakit.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16837 Hubungan Pemberian Kombinasi Golongan Obat terhadap Lama Rawat Inap pada Pasien PPOK di RSUD Al-Ihsan Tahun 2023 2025-02-21T15:36:44+08:00 Raissa Edgina Rahma raissaedgira@gmail.com Nugraha Sutadipura nugrahasutadipura@gmail.com R. Anita Indriyanti r.anitaindriyanti@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="EN-US">Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a heterogeneous lung condition characterized by chronic respiratory symptoms due to abnormalities in the airways and/or alveoli that cause persistent and progressive airflow obstruction. Management of COPD includes several classes of drugs, especially bronchodilators and cocticosteroids. In addition, antibiotics and mucolytics can be given to reduce the frequency and severity of exacerbations and hospitalizations due to exacerbations. This study aims to determine the relationship between the administration of a combination of drug classes and the length of stay in COPD patients at Al-Ihsan Hospital bandung in 2023. The study that will be used is observational analytic with a cross-sectional approach. The data in this study were secondary data obtained from medical records of 67 COPD patients at Al-Ihsan Hospital Bandung in 2023. The conclusion of this study is that the majority of COPD patients at Al-Ihsan Hospital Bandung in 2023 were included in the category of administration of 3 drug classes. And the majority of COPD patients at Al-Ihsan Hospital Bandung in 2023 had a length of stay of &lt;5 days. This study also shows that there is a relationship between the administration of a combination of drug classes and the length of stay.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah suatu kondisi paru heterogen yang ditandai dengan gejala pernafasan kronis akibat kelainan pada saluran pernafasan dan/atau alveoli yang menyebabkan penyumbatan saluran pernafasan yang persisten dan progresif. Penatalaksanaan PPOK mencakup beberapa golongan obat, terutama bronkodilator dan koktikosteroid. Selain itu, antibiotik dan mukolitik dapat diberikan untuk mengurangi frekuensi dan keparahan eksaserbasi serta rawat inap akibat eksaserbasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian kombinasi golongan obat dengan lama rawat inap pada pasien PPOK di RS Al-Ihsan bandung tahun 2023. Penelitian yang akan digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari rekam medis 67 pasien PPOK di RS Al-Ihsan Bandung pada tahun 2023. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar pasien PPOK di RS Al-Ihsan Bandung pada tahun 2023 termasuk dalam kategori pemberian 3 kelas obat. Dan pasien PPOK di RS Al-Ihsan Bandung pada tahun 2023 mayoritas memiliki lama rawat &lt;5 hari. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara pemberian kombinasi golongan obat dengan lama rawat inap.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16845 Karakteristik Pasien Tuberkulosis Paru dengan Anemia di RSUD Al-Ihsan Tahun 2023 2025-02-21T15:46:32+08:00 Dian Renanda Aulia Putri gamalielnarendra441@gmail.com Agung Firmansyah dragung@gmail.com Harvi Puspa harvipuspawardani@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) is a disease caused by Mycobacterium tuberculosis infection. Indonesia is in 3rd place in the country with the highest TB cases in the world after India and China. From January to August 2022, 125,000 TB cases were reported in West Java. Chronic diseases such as tuberculosis can cause anemia. Anemia has been proven to be a factor in the development and death of TB patients, and shows that anemia is associated with a poor prognosis for TB patients. Cases of anemia in TB patients range from 20% to 94%. This study aims to determine the incidence of pulmonary tuberculosis with anemia in adult patients at Al-Ihsan Regional General Hospital in 2023. The sample selection technique for this study used a total sampling technique, involving 163 people as subjects, but only 80 people met the inclusion criteria, while the rest do not meet the criteria and are included in the exclusion category. This research uses a descriptive observational method with a cross-sectional approach. Data collection was carried out using medical records at Al-Ihsan Regional Hospital which contained Hb tests. The results of this study showed that the majority of pulmonary tuberculosis patients at Al-Ihsan Hospital who experienced anemia were male (69.7%). The majority of pulmonary tuberculosis patients who suffer from anemia are in the age range 26-35 years (63.2%) A total of (52.5%) pulmonary tuberculosis patients suffer from anemia out of 80 pulmonary tuberculosis patients, with the majority being male and in the range aged 17-25 years.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis. Indonesia berada di urutan ke-3 negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia setelah India dan Cina. Bulan Januari sampai Agustus 2022 sebanyak 125.000 kasus TBC dilaporkan di Jawa Barat. Penyakit kronis seperti tuberkulosis dapat menyebabkan anemia. Anemia telah terbukti menjadi faktor terhadap perkembangan dan kematian pada pasien TBC, serta menunjukan bahwa anemia berhubungan dengan buruknya prognosis pasien TBC. Kasus anemia pada pasien TBC berkisar antara 20% sampai 94%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian tuberkulosis paru dengan anemia pada pasien dewasa di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan tahun 2023.Teknik pemilihan sampel penelitian ini menggunakan tekniktotal sampling, dengan melibatkan 163 orang sebagai subjek, namun hanya 80 orang yang memenuhi kriteria inklusi, sementara sisanya tidak memenuhi kriteria dan termasuk dalam kategori eksklusi. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan rekam medis RSUD Al-Ihsan yang terdapat pemeriksaan Hb. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien tuberkulosis paru di RSUD Al-Ihsan yang mengalami anemia mayoritas berjenis kelamin laki-laki (69,7%). Pasien tuberkulosis paru yang mengalami anemia mayoritas dalam rentang usia 26-35 tahun (63,2%) Sebanyak (52,5%) pasien tuberkulosis paru yang menderita anemia dari 80 pasien tuberkulosis paru, dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki dan berada di rentang usia 17-25 tahun.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16851 Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Komplikasi Neuropati Diabetik di RSUD R. Syamsudin, SH Kota Sukabumi Tahun 2023 2025-02-21T16:01:48+08:00 Radifan Putra Rahadian Syah radifanputra85@gmail.com Samsudin Surialaga samsudin_dr@yahoo.co.id Siti Annisa Devi Trusda trusda_75@yahoo.com <p><strong>Abstract.</strong> Type 2 Diabetes Mellitus is a metabolic disease characterized by high blood sugar levels, with a prevalence that continues to rise annually. One of the most common chronic complications is microvascular complications, with diabetic neuropathy being the most prevalent, accounting for 65% of all cases. This study analyzes the relationship between age and gender with the incidence of diabetic neuropathy (DN) in Type 2 Diabetes Mellitus patients at RSUD R. Syamsudin, S.H, Sukabumi City, in 2023. This research uses an analytical observational design with a cross-sectional approach, based on secondary data from patient medical records in 2023. A total of 374 samples were obtained using a total sampling technique. Data were analyzed univariately using tabulation and bivariately with the Chi-square test. The results showed that most DN patients were female (234), with the highest age group in the low-risk category (188), while the most common type of DN complication was mononeuropathy (260). Statistical analysis indicated a significant relationship between age and DN (p=0.005), but no significant relationship between gender and DN (p=0.440). This study suggests a shift in DN patient age trends to younger groups, possibly influenced by lifestyle, increasing prediabetes prevalence, and other risk factors.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Diabetes Melitus Tipe 2 adalah penyakit metabolik dengan kadar gula darah tinggi dan prevalensi yang terus meningkat setiap tahun. Salah satu komplikasi kronis yang sering terjadi adalah komplikasi mikrovaskuler, dengan neuropati diabetik sebagai jenis komplikasi paling umum, mencapai 65% dari seluruh kasus. Penelitian ini menganalisis hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian neuropati diabetik (ND) pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD R. Syamsudin, S.H, Kota Sukabumi tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, berdasarkan data sekunder rekam medis pasien tahun 2023. Sebanyak 374 sampel diperoleh melalui teknik total sampling. Data dianalisis secara univariat menggunakan tabulasi dan bivariat dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan mayoritas pasien ND adalah perempuan (234), dengan kelompok usia tertinggi berada pada kategori risiko rendah (188), sedangkan jenis komplikasi ND paling umum adalah mononeuropati (260). Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara usia dan ND (p=0,005), tetapi tidak ditemukan hubungan bermakna antara jenis kelamin dan ND (p=0,440). Studi ini mengindikasikan pergeseran tren usia pasien ND ke kelompok lebih muda, yang kemungkinan dipengaruhi oleh gaya hidup, peningkatan prevalensi prediabetes, serta faktor risiko lainnya.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16882 Perbedaan Persepsi Pasien BPJS PBI dan Non-PBI terhadap Kinerja Dokter 2025-02-21T16:05:08+08:00 Tazkya Amallia Putri Suwandi tazkyaputri09@gmail.com Mia Kusmiati mia.kusmiati@unisba.ac.id Ariko Rahmat Putra ariko@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-KATAKUNCI"><strong><span lang="IN">Abstract. </span></strong><span lang="IN">BPJS (Social Security Agency) patients have perceptions of doctor performance. This patient perception can affect patient satisfaction with health services. BPJS patients, both PBI (Contribution Assistance Recipients) and Non-PBI (Non-Contribution Recipients) have the same access to services at the Health Center. This study was conducted to determine whether there are differences in services for BPJS PBI and Non-PBI Patients on Doctor Performance. This study is an observational analytical method, with a cross-sectional approach. A total of 80 BPJS PBI patients and 80 Non-PBI were recruited as participants in this study. Statistical analysis using the Man-Whitney test. The results of this study showed that the average perception of Non-PBI patients on doctor performance as a whole was higher (86.47) than PBI patients (82.66). A statistically significant difference was found in the humanism aspect (p-value = 0.028), while other aspects (accountability, altruism, communication &amp; empathy, and pleasant manner) did not show significant differences. The average perception of Non-PBI patients towards the humanism aspect was 13.16, while PBI patients had an average of 12.26. The average difference of 0.9 indicates a higher perception in Non-PBI patients compared to PBI. The Humanism aspect, which includes the friendliness and attention of doctors to patients, is one of the important dimensions that influences patient perception.</span><em><span lang="IN">&nbsp;</span></em></p> <p class="PROSIDING-KATAKUNCI"><strong><span lang="IN">Abstrak. </span></strong><span lang="EN-US">Pasien bpjs (Badan Jaminan Sosial) memiliki persepsi terhadap kinerja dokter. Persepsi pasien ini dapat mempengaruhi kepuasan pasien terhadap Pelayanan Kesehatan. Pasien BPJS baik PBI (Penerima Bantuan Iuran) maupun Non-PBI (Bukan penerima Iuran) memiliki akses pelayanan yang sama di Puskesmas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pelayanan terhdap Pasien BPJS PBI dan Non-PBI terhadap Kinerja Dokter. </span><span lang="SV">Penelitian ini merupakan metode analitik observasional, dengan pendekatan <em>cross sectional. </em>Sebanyak 80 orang pasien BPJS PBI dan 80 Non-PBI di rekrut sebagai partisipan dalam penelitian ini. Analisis statistik menggunakan uji ManWhitney. Hasil pada penelitian ini menunjukkan, rata-rata persepsi pasien Non-PBI terhadap kinerja dokter secara keseluruhan lebih tinggi (86,47) dibandingkan pasien PBI (82,66). Perbedaan yang signifikan secara statistik ditemukan pada aspek <em>humanism </em>(<em>p-value</em>=0,028), sedangkan aspek lainnya (<em>accountability, altruism, communication &amp; empathy, dan pleasant manner)</em> tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Rata-rata persepsi pasien Non-PBI terhadap aspek <em>humanism</em> adalah 13.16, sedangkan pasien PBI memiliki rata-rata sebesar 12.26. Selisih rata-rata sebesar 0,9 menunjukkan persepsi yang lebih tinggi pada pasien Non-PBI dibandingkan PBI. Aspek </span><span lang="IT">Humanisme, yang mencakup keramahan dan perhatian dokter terhadap pasien, menjadi salah satu dimensi penting yang memengaruhi persepsi pasien.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16920 Tren Hasil Urinalisis pada Pasien Medical Check-Up (MCU) di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Al-Islam pada Tahun 2020−2023 2025-02-21T16:12:31+08:00 Nidaa Zaahidah zaahidahnidaa@gmail.com Yani Triyani ytriyani87@gmail.com Sara Puspita sarapuspita@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Urinalysis is a routine examination in medical check-up (MCU) that can detect various diseases in the early stages. This study aims to analyze the prevalence of urinalysis abnormalities in MCU patients at Al Islam Hospital in 2020─2023. Research methods: descriptive design with retrospective study, using medical record data of MCU patients. An overview of the characteristics of the MCU results, the majority of them are 18─59 years old and female. On the macroscopic examination of urine, abnormalities were found: hematuria 0.1-0.4%. specific gravity (&gt;1.035) 24.1─38%. And pH (&gt;8) 4.3─17.9%. On microscopic examination of urine, abnormalities were found: erythrocytes (&gt;30.7) 2.4─10.8%, leukocytes (&gt;39) 3.8─12.4%, epithelial cells (&gt;45.6) 1.0─3.3%, bacteria (&gt;130.7) 13.1─40%, crystalline (+) 6%, cylindrical (+) 0.1%. In the urine chemistry examination, abnormalities were found: nitrite (+) 0.4─5%, urine protein (+)1.3─1.6%, glucose (+) 0.4─5%, ketones (+) 1.8─3.9%, bilirubin (+) 0.3%, blood (+)8.9─14.1%, leukocytes (+)1.7─15.5%. The majority of the population was 18─59 years old and the gender was female. In the macroscopic examination of urine abnormalities of the highest specific gravity (&gt;1,035), the microscopic examination of urine abnormalities of bacteria (&gt;130.7), and the chemical examination of urine abnormalities of the highest leukocytes (+). Further research is needed to identify risk factors and provide recommendations for appropriate interventions.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Urinalisis merupakan pemeriksaan rutin dalam medical check-up (MCU) yang dapat mendeteksi berbagai penyakit pada tahap awal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi tren abnormalitas urinalisis&nbsp; pasien MCU di Rumah Sakit Al Islam tahun 2020─2023. Metode penelitian: desain deskriptif dengan studi retrospekstif, menggunakan data rekam medis pasien MCU. Gambaran karakteristik hasil MCU, mayoritas usia 18─59 tahun dan jenis kelamin perempuan. Pada pemeriksaan makroskopis urin, ditemukan abnormalitas: hematuria 0,1─0,4 %. berat jenis (&gt;1.035) 24,1─38%. Dan pH (&gt;8) 4,3─17,9 %. Pada pemeriksaan mikroskopis urin, ditemukan abnormalitas: eritrosit (&gt;30.7) 2,4─10,8%, leukosit (&gt;39) 3,8─12,4%, sel epitel (&gt;45,6) 1,0─3,3%, bakteri (&gt;130.7) 13,1─40 %, kristal (+) 6%, silinder (+) 0,1%. Pada pemeriksaan kimia urin, ditemukan abnormalitas: nitrit (+) 0,4─5%, protein urin (+)1,3─1,6%, glukosa (+) 0,4─5%, keton (+) 1,8─3,9%, bilirubin (+) 0,3%, darah (+)8,9─14,1%, leukosit (+)1,7─15,5%. Kesimpulan mayoritas usia 18─59 tahun dan jenis kelamin Perempuan. Pada pemeriksaan makroskpis urin abnormalitas tertinggi berat jenis (&gt;1.035), pemeriksaan mikroskopis urin abnormalitas tertinggi bakteri (&gt;130.7), dan pemeriksaan kimia urin&nbsp; abnormalitas tertinggi leukosit (+).Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengindetifikasi faktor risiko dan memberikan rekomendasi intervensi yang tepat.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16929 Hubungan Emotional Eating dengan Persentase Lemak Tubuh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung 2025-02-21T16:15:35+08:00 Malika Haerani malika.haerani@gmail.com Nurhalim Shahib nurhalimshahib@yahoo.com Rizky Suganda Prawiradilaga rizkysuganda@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Medical students often face a heavy academic workload that can trigger stress, leading to changes in eating behavior, such as emotional eating, as a coping mechanism. This behavior may ultimately result in weight gain. This study aims to analyze the relationship between emotional eating and body fat percentage among medical students at the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung, during the 2023/2024 academic year. This research utilized an observational analytic design with a cross-sectional approach and statistical analysis using the Kruskal-Wallis test. A total of 192 students were selected as samples through purposive sampling. The instruments used included the Emotional Eater Questionnaire (EEQ) to assess emotional eating, followed by measuring body fat percentage using a Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) device. The results showed that 13,0% of students were categorized as non-emotional eaters, 28,1% as low emotional eaters, 50,5% as emotional eaters, and 8,3% as very emotional eaters. Additionally, 4,2% of students had a low body fat percentage, 41,1% had a normal body fat percentage, and 54,7% had a high to very high body fat percentage. The analysis of the relationship between emotional eating and body fat percentage revealed a significant correlation (p=0,025) between levels of emotional eating and body fat percentage among medical students. In conclusion, the study indicates that emotional eating contributes to an increase in body fat percentage among medical students. These findings underscore the importance of developing intervention programs to help students effectively manage their eating behaviors.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Mahasiswa Fakultas Kedokteran memiliki beban akademik yang tinggi yang dapat memicu terjadinya stres, sehingga dapat menimbulkan perubahan perilaku makan menjadi <em>emotional eating</em> sebagai mekanisme <em>coping</em> yang pada akhirnya&nbsp; menyebabkan penambahan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan <em>emotional eating</em> dengan persentase lemak tubuh mahasiswa Fakultas Kedokteran Unversitas Islam Bandung tahun ajaran 2023/2024. Metode yang digunakan adalah desain analitik observasional dengan pendekatan ­<em>cross-sectional</em> dan analisis statistik berupa uji <em>Kruskal-Wallis</em>. <em>&nbsp;</em>Sampel yang diambil berjumlah 192 mahasiswa dengan teknik <em>purposive sampling</em>, dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner <em>Emotional Eater Questionnaire</em> (EEQ), dilanjutkan pengukuran persentase lemak tubuh menggunakan alat <em>Bioelectrical Impedance Analysis</em> (BIA). Hasil penelitian ini menunjukkan, 13,0% mahasiswa <em>non emotional eating</em>, 28,1% mahasiswa mengalami <em>low emotional eating</em>, 50,5% mahasiswa mengalami <em>emotional eating</em>, dan 8,3% mahasiswa mengalami <em>very emotional eating</em>. Selain itu, 4,2% mahasiswa memiliki persentase lemak tubuh <em>low</em>, 41,1% memiliki persentase lemak tubuh normal, dan 54,7% memiliki persentase lemak tubuh <em>high-very high</em>. Hasil analisis hubungan <em>emotional eating</em> dengan persentase lemak tubuh menunjukkan terdapat korelasi signifikan (p=0,025) antara tingkat <em>emotional eating</em> dengan persentase lemak tubuh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2023/2024. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa <em>emotional eating</em> berkontribusi terhadap peningkatan persentase lemak tubuh di kalangan mahasiswa. Implikasi dari temuan ini penting untuk pengembangan program intervensi yang dapat membantu mahasiswa mengelola pola makan mereka.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16956 Hubungan Stadium Glomerular Filtration Rate (GFR) dengan Kadar Hemoglobin pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis 2025-02-21T16:20:20+08:00 Raissa Rahmagia Zahran raissa.rahmagia@gmail.com Herri S. Sastramihardja herpst099@yahoo.com Miranti Kania Dewi miranti@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Chronic kidney disease (CKD) is characterized by a decrease in glomerular filtration rate (GFR) &lt;60 ml/min/1.73 &nbsp;&nbsp;that occurs for more than 3 months. Glomerular filtration rate is one of the parameters commonly used to assess kidney function and can describe the degree of kidney damage. Further deterioration of kidney function can lead to serious complications, including decreased hemoglobin levels that manifest clinically in symptoms of anemia. Changes in hemoglobin levels are one of the indicators that can be used to assess the occurrence of these complications. This study aims to determine the relationship between glomerular filtration rate (GFR) stage and hemoglobin levels in patients with chronic kidney disease (CKD) at Al Ihsan Hospital in 2023. This study was conducted using cross sectional method based on medical record data of 58 patients. The results of the study almost all research subjects had low hemoglobin levels (93.1%). Statistical test results with Chi Square showed a significant relationship between GFR and hemoglobin levels (p&lt;0.05). Anemia in chronic kidney disease patients needs to be corrected with further treatment to achieve hemoglobin targets.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penyakit ginjal kronis (PGK) ditandai dengan adanya penurunan <em>glomerular filtration rate</em> (GFR) &lt;60 ml/min/1.73 &nbsp;yang terjadi selama lebih dari 3 bulan. <em>Glomerular filtration rate </em>merupakan salah satu parameter yang umum digunakan untuk menilai fungsi ginjal dan dapat menggambarkan derajat kerusakan ginjal. Tingkat penurunan fungsi ginjal yang lebih lanjut dapat menyebabkan komplikasi yang serius, diantaranya penurunan kadar hemoglobin yang bermanifestasi klinis pada gejala anemia. Perubahan kadar hemoglobin merupakan salah satu indikator yang dapat dipakai untuk menilai terjadinya komplikasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stadium <em>glomerular filtration rate</em> (GFR) dengan kadar hemoglobin pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) di RSUD Al Ihsan Tahun 2023. Penelitian ini dilakukan dengan metode <em>cross sectional </em>berdasarkan data rekam medis 58 pasien. Hasil penelitian hampir keseluruhan subjek penelitian memiliki kadar hemoglobin yang rendah (93,1%). Hasil uji statistik dengan <em>Chi Square </em>menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara GFR dengan kadar hemoglobin (p&lt;0,05). Anemia pada pasien penyakit ginjal kronis perlu dikoreksi dengan perawatan lebih lanjut untuk mencapai target hemoglobin.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16964 Hubungan Cakupan Imunisasi Dasar dengan Status Gizi pada Balita 2025-02-21T16:23:54+08:00 Tasya Yunida Putri tasyayunidaputri22@gmail.com R.A. Retno Ekowati drretnoekowati@gmail.com Ismawati isma.fkunisba@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Immunization is an effort to prevent infectious diseases by administering vaccines to build immunity. The 2018 Basic Health Research data shows that 57.9% of toddlers in Indonesia received complete basic immunization. Incomplete basic immunization coverage increases the risk of exposure to infectious diseases, which can reduce the nutritional status of toddlers. This study was conducted in August 2024 at the Posyandu of Citalem Village, Cipongkor, West Bandung Regency, to assess the relationship between basic immunization coverage and the nutritional status of toddlers. The method used was an analytic observational approach with a cross-sectional design. Samples were selected using a purposive sampling technique from 85 toddlers aged 2–5 years. The results showed that 59 toddlers (69%) had incomplete immunization coverage, and 15 toddlers (18%) had malnutrition status. The p-value of the chi-square test was 0.027, indicating a significant relationship between basic immunization coverage and nutritional status in toddlers. The calculated r-value from the Spearman Rank test was 0.240, meaning that the strength of the relationship between basic immunization coverage and nutritional status was 24%. In conclusion, there is a significant relationship between basic immunization coverage and nutritional status among toddlers at the Citalem Village Posyandu<span lang="EN-US">.</span></p> <p><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="EN-US">Imunisasi </span>adalah upaya pencegahan penyakit menular dengan memberikan vaksin untuk membentuk kekebalan tubuh. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan bahwa 57,9% balita di Indonesia mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Cakupan imunisasi yang tidak lengkap meningkatkan risiko terpapar penyakit infeksi, yang dapat menurunkan status gizi balita. Penelitian ini dilakukan pada Agustus 2024 di Posyandu Desa Citalem, Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, untuk menilai hubungan antara cakupan imunisasi dasar dan status gizi balita. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel diambil dengan teknik <em>purposive sampling </em>dari 85 balita usia 2–5 tahun. Hasil menunjukkan bahwa <span lang="EN-US">59 balita (69%)</span> memiliki cakupan imunisasi tidak lengkap dan <span lang="EN-US">15 balita (18%)</span> memiliki status gizi kurang. Nilai probabilitas (<span lang="EN-US">nilai </span>p) hasil uji <em>chi</em><em><span lang="EN-US">-</span>square</em> sebesar 0,027 artinya terdapat hubungan signifikan antara cakupan imunisasi dasar dan status gizi pada balita. <span lang="EN-US">N</span>ilai r hitung uji <em>Rank Spearman </em>bernilai 0,240 <span lang="EN-US">berarti </span>kekuatan hubungan cakupan imunisasi dasar d<span lang="EN-US">an</span> status gizi sebesar 24%. Simpulan, penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan antara cakupan imunisasi dasar dan status gizi balita di Posyandu Desa Citalem<span lang="EN-US">.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16989 Scoping Review: Hubungan Infeksi Saluran Kemih dengan Ketuban Pecah Dini Preterm 2025-02-21T17:11:22+08:00 Alfina Syakira Mahardika alvinamahardika@gmail.com Jusuf Sulaeman Effendi jusufse@yahoo.com Indri Budiarti indribudiarti@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>Urinary tract infection (UTI) is a collective term that describes infections affecting various parts of the urinary tract. The incidence of UTI among pregnant women in Indonesia has increased from 20% to 24.4%, which can pose risks during pregnancy, including preterm premature rupture of membranes (PPROM). The aim of this study is to investigate the relationship between urinary tract infections and the occurrence of preterm premature rupture of membranes in preterm pregnancies. This study uses a scoping review methodology to identify and analyze articles from sources such as PubMed, ScienceDirect, and SpringerLink. The study employs the PICOS framework: Population (pregnant women with preterm pregnancies who have UTI), Intervention or Exposure (UTI in pregnant women), Comparison (pregnant women with PPROM without UTI), Outcome (the occurrence of PPROM with UTI), Study (cohort, cross-sectional, and case-control). The PRISMA diagram method was used in this research, resulting in eleven articles that met the inclusion and feasibility criteria. Based on the analysis and discussion of the reviewed articles, seven articles concluded that there is a relationship between UTI and PPROM in preterm pregnancies, while four articles concluded that there is no relationship between UTI and PPROM in preterm pregnancies.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Infeksi saluran kemih merupakan istilah kolektif yang mendeskripsikan infeksi yang mencakup beberapa bagian pada saluran kemih. Melihat angka kejadian ISK di Indonesia yang meningkat dari 20% menjadi 24,4% ibu hamil yang mengalami infeksi saluran kemih sehingga dapat memunculkan risiko kehamilan salah satunya ketuban pecah dini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan infeksi saluran kemih dan kejadian ketuban pecah dini pada kehamilan preterm. Penelitian ini menggunakan studi <em>scoping review</em> untuk mengidentifikasi dan menganalisis artikel melalui sumber <em>PubMed, ScienceDirect, </em>dan<em> SpringerLink</em>. Penelitian ini menggunakan PICOS, <em>Population</em> (ibu hamil dengan kehamilan preterm yang mengalami infeksi saluran kemih), <em>Intervention</em> atau <em>Exposure</em> (infeksi saluran kemih pada ibu hamil), <em>Comparison</em> (ibu hamil dengan ketuban pecah dini tanpa infeksi saluran kemih), <em>Outcome</em> (kejadian ketuban pecah dini dengan infeksi saluran kemih), <em>Study</em> (<em>cohort, cross sectional, </em>dan<em> case control</em>). Metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini menghasilkan sebelas artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kelayakan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari uraian artikel penelitian yang di-<em>review</em>, tujuh artikel menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara ISK dan KPD pada kehamilan preterm, sedangkan empat artikel menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara ISK dan KPD pada kehamilan preterm.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16994 Hubungan Lama Duduk dengan Gejala Nyeri Punggung Bawah pada Mahasiswa Tingkat 4 Fakultas Kedokteran Unisba Tahun Akademik 2024/2025 2025-02-21T16:30:02+08:00 Fardan Muhammad Zharfan fardan.zharfan83@gmail.com Cice Tresnasari ctresnasari@gmail.com Endang Suherlan suherlanendang@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Low Back Pain is a condition characterized by pain between the lower rib border and the buttocks. Prolonged sitting is closely related to a static posture, leading to fatigue. This study aims to analyze the relationship between sitting duration and the occurrence of lower back pain among fourth-year medical students at the Faculty of Medicine, Unisba, in the 2024/2025 academic year. This study employs an analytical observational design with a cross-sectional approach to determine the relationship between sitting duration and lower back pain symptoms among fourth-year medical students at Unisba. The minimum required sample size for this study was determined using Slovin's formula. The sampling technique used in this research is consecutive sampling. The Nordic Body Map was utilized as an instrument to assess lower back pain symptoms. The results showed that most subjects had prolonged sitting duration (≥5 hours, 88%), and the majority did not experience lower back pain symptoms (55%). A bivariate analysis using the Chi-square test yielded a P-value of 0.239 (p&gt;0.05). Based on statistical analysis, there is no significant relationship between sitting duration and lower back pain symptoms among fourth-year medical students at Unisba. Other risk factors for lower back pain include body mass index, exercise habits, ergonomics, and physical workload.Keywords: Low back pain, Medical student<strong>, </strong>Prolonged sitting<strong>.</strong></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Nyeri Punggung Bawah merupakan kondisi ketika rasa nyeri di antara batas bawah tulang rusuk dan bokong. Lama duduk yang berkepanjangan berkaitan erat dengan posisi statis, sehingga menimbulkan kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah pada mahasiswa Tingkat empat Fakultas Kedokteran Unisba tahun Akademik 2024/2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional jenis <em>cross-sectional</em> untuk mengetahui hubungan antara lama duduk dengan gejala NPB pada mahasiswa tingkat empat FK Unisba. Jumlah minimal sampel yang diperlukan untuk penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus <em>Slovin</em>. Teknik pemilihan sampel penelitian ini menggunakan <em>consecutive sampling</em>. Alat ukur yang digunakan untuk NPB adalah <em>nordic body map</em>. Sebagian besar durasi duduk subjek termasuk ke dalam kategori lama, yaitu ≥5 jam (88%) dan mayoritas subjek tidak mengalami gejala nyeri punggung bawah (55%). Setelah dilakukan analisis bivariat dengan uji statistik <em>chi-square</em>, nilai <em>P-value</em> pada penelitian ini adalah 0,239 (p&gt;0,05). Berdasarkan analisis statistik, tidak ada hubungan antara lama duduk dengan gejala nyeri punggung bawah pada mahasiswa tingkat empat FK Unisba. Faktor risiko lain NPB yaitu indeks massa tubuh, olahraga, ergonomi, dan beban fisik.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16996 Efek Hepatoprotektor Ekstrak Etanol Bunga Cengkeh terhadap Model Tikus Intoksikasi Parasetamol 2025-02-21T16:34:02+08:00 Salfa Azizah Giyatsilah salfa.azizah193@gmail.com Santun Bhekti Rahimah santunbr94@gmail.com Yuke Andriane andrianeyuke@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Liver inflammation is a common trigger of liver disease, considered the main cause of liver tissue damage. One of the pathological causes of liver disease is drug-induced liver damage (DILI). Paracetamol is a drug that has characteristics as a hepatotoxin. Cloves serve as an alternative therapy for anti-inflammatory treatment. This study aims to determine the effect of administering ethanol extract of clove flowers (Syzygium Aromaticum) on the histopathological picture of the liver in Wistar strain white rats (Rattus norvegicus) post high-dose paracetamol induction. The research method is an experimental study with subjects consisting of 5 experimental groups, including a normal control group, a negative control group, P1, P2, and P3, with each group comprising 6 Wistar strain white rats. Paracetamol at a dose of 2000mg/kgBW was administered to all groups except the normal control group. After 3 days of paracetamol induction, clove flower ethanol extract was administered to groups P1, P2, and P3 at doses of 150, 300, and 600mg/kg BW, respectively, for 14 days. The group of rats given the ethanol extract of clove flowers experienced milder liver damage compared to the negative control group, where cell damage occurred from the central to the midzone of the liver lobule and half of the lobule experienced necrosis. There is significant effect of clove flower ethanol extract (Syzygium aromaticum) on the histopathology of the liver in Wistar strain white rats (Rattus norvegicus) post high-dose paracetamol induction. This study supports the potential of clove flower extract in anti-inflammatory therapy, particularly in protecting the liver organ from damage caused by toxic agents. Further research is needed to identify the duration of administration and potential side effects of clove flower extract in other animal models and clinical trials in humans.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Inflamasi hepar merupakan pemicu umum <em>liver disease</em> yang dianggap sebagai penyebab utama kerusakan jaringan hepar. <em>Drug-induced liver injury</em> (DILI) merupakan salah satu penyebab patologis terhadap hepar. &nbsp;Cengkeh berperan sebagai terapi alternatif untuk pengobatan anti-inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol bunga cengkeh <em>(Syzigium Aromaticum) </em>terhadap gambaran histopatologis hepar tikus putih Galur Wistar <em>(Rattus norvegicus) </em>pasca induksi parasetamol dosis tinggi. Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan subjek yang terdiri dari 5 kelompok eksperimental termasuk kelompok kontrol normal, kontrol negatif, P1, P2, dan P3 dengan jumlah setiap kelompok 6 ekor tikus putih Galur Wistar. Parasetamol dosis 2000mg/&nbsp;ada seluruh kelompok kecuali kelompok kontrol normal. Setelah 3 hari induksi parasetamol, ekstrak etanol bunga cengkeh diberikan pada kelompok P1, P2, dan P3 masing-masing dengan dosis 150, 300, dan 600mg/kg BB selama 14 hari. &nbsp;Terdapat &nbsp;ari ekstrak etanol bunga cengkeh <em>(Syzigium aromaticum) </em>terhadap histopatologi hepar tikus putih Galur Wistar <em>(Rattus norvegicus) </em>pasca induksi parasetamol dosis tinggi. P&nbsp;khususnya dalam melindungi organ hepar dari kerusakan akibat agen toksik. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi durasi pemberian dan potensi efek samping ekstrak bunga cengkeh pada model hewan lain maupun uji klinis pada manusia.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17040 Karakteristik Pasien dan Penggunaan Kemoterapi Pasien Kanker Paru di RSUD Al-Ihsan 2025-02-21T16:38:21+08:00 Ilham Kelian Ramadhan ilhamkelianedu1@gmail.com Nuzirwan Acang n.acang@yahoo.co.id Widhy Yudistira Nalapraya widhyyudsitira@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> The prevalence of lung cancer worldwide has been increasing year by year. Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) is a type of lung cancer with a higher incidence compared to Small Cell Lung Cancer (SCLC). Management of NSCLC (Non-Small Cell Lung Cancer) includes several options, one of which is chemotherapy. This study aims to describe the characteristics of gender, age, and the use of first-line chemotherapy regimens in NSCLC patients at RSUD Al-Ihsan in 2023. The study employed a descriptive quantitative method using secondary data from the medical records of pulmonary outpatient clinic patients. Purposive sampling was used, with 63 subjects meeting the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the majority of patients were male (67%), with the highest age distribution in the &gt;65 years group (33%). Regarding treatment, carboplatin-based chemotherapy combinations were the dominant regimen, used by 71% of patients, while cisplatin combinations were used by 29% of patients. These findings reflect that the majority of NSCLC patients at RSUD Al-Ihsan are elderly males, with carboplatin being the primary choice for chemotherapy treatment.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Pravelensi kanker paru dunia meningkat dari tahun-ketahun. Kanker Paru Jenis Karsinoma Paru Bukan Sel Kecil (KPKBSK) merupakan jenis kanker paru dengan insidensi lebih tinggi dibandingkan Kanker Paru jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK). Manajemen KPKBSK terdiri atas beberapa pilihan, salah satunya adalah kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik jenis kelamin, usia, dan penggunaan regimen kemoterapi lini pertama pada pasien KPKBSK di RSUD Al-Ihsan tahun 2023. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder dari rekam medis pasien poli paru. Purposive sampling dilakukan, dengan 63 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien adalah laki-laki (67%), dengan distribusi usia terbanyak pada kelompok &gt;65 tahun (33%). Dalam hal terapi, kombinasi kemoterapi berbasis carboplatin menjadi regimen dominan, digunakan oleh 71% pasien, sedangkan kombinasi cisplatin digunakan pada 29% pasien. Temuan ini mencerminkan bahwa pasien KPKBSK di RSUD Al-Ihsan mayoritas adalah laki-laki usia lanjut, dan carboplatin menjadi pilihan utama dalam pengobatan kemoterapi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17054 Studi Literatur: Pengaruh Asupan Karbohidrat terhadap Derajat Hipertensi 2025-02-21T16:40:59+08:00 Ahmad Suheil Faisal suhelsanad@gmail.com Susanti Dharmmika susantidharmmika@yahoo.com Mirasari Putri mirasari.putri@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> This literature study was conducted to collect sufficient data regarding the association between dietary carbohydrate intake and blood pressure in patients with hypertension. The method used is a literature study that contains several previous studies to determine the association between dietary carbohydrate intake and blood pressure in patients with hypertension. The results of this study indicate the role of association between high dietary carbohydrate intake and blood pressure in patients with hypertension by increasing risk of formation of atherothrombosis, natrium transporter response, and chloride transporter response. Therefore, it can be concluded that high carbohydrate intake plays an important role in influencing blood pressure in hypertensive patients, by increasing the risk of atherothrombosis formation, as well as affecting sodium and chloride transporters.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Studi literatur ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang memadai mengenai hubungan asupan karbohidrat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi. Metode yang digunakan adalah dengan melalui studi literatur yang mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu untuk mengetahui hubungan asupan karbohidrat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi. Hasil dari studi ini menunjukan hubungan asupan karbohidrat yang tinggi dengan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan cara meningkatkan risiko pembentukan atherothrombosis,&nbsp; respon transporter natrium, dan respon transporter klorida. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tingginya asupan karbohidrat berperan penting dalam mempengaruhi tekanan darah pada pasien hipertensi, dengan cara meningkatkan risiko pembentukan atherothrombosis, serta mempengaruhi respon transporter natrium dan klorida.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17059 Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Kadar Asam Urat Mencit (Mus musculus L.) 2025-02-21T16:43:50+08:00 Rani Purnamasari ranipurnamasari35@gmail.com RA. Retno Ekowati drretnoekowati@gmail.com Tryando Bhatara Tryando.bhatara@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Lifestyle changes in the modern era such as changes in diet that more often consume high-fat foods cause various diseases, one of which is hyperuricemia which is caused by impaired excretion or excess production of uric acid. One of the non-pharmacological therapies that can be done to control uric acid levels is fasting. This study was conducted to determine the effect of dry intermittent fasting on uric acid levels in mice (Mus musculus L.). The method used in this study was a pure in vivo laboratory experiment with a completely randomized design. The subjects used were 28 adult male Swiss Webster mice divided into four groups. Group I or standard feed and did not do dry intermittent fasting, group II or high-fat feed and did not do dry intermittent fasting, group III or standard feed and dry intermittent fasting, and group IV or high-fat feed and dry intermittent fasting. The fasting period was carried out for 30 days with a fasting duration of 14 hours (5:00 PM-7.00 AM) and 10 hours of eating window. The results showed a significant increase in uric acid levels in the fasting group, namely groups III and IV compared to the non-fasting group (p &lt;0.05). However, this increase is still within normal limits. During fasting, there is a change in metabolism from food to endogenous energy sources which ultimately causes an increase in uric acid levels due to the ketosis process. In addition, dehydration that occurs during fasting is a factor in increasing uric acid levels.</p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="IT">Perubahan gaya hidup di era modern seperti perubahan pola makan yang lebih sering mengonsumsi makanan tinggi lemak menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya adalah hiperurisemia yang disebabkan karena adanya gangguan ekskresi atau kelebihan produksi asam urat. Salah satu terapi nonfarmakologi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kadar asam urat adalah dengan puasa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh puasa intermiten kering terhadap kadar asam urat pada mencit (<em>Mus musculus</em> L.). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium murni <em>in vivo</em> dengan rancangan acak lengkap. Subjek yang digunakan adalah 28 mencit jantan dewasa galur <em>Swiss</em> <em>Webster</em> yang dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok I atau pakan standar dan tidak melakukan puasa intermiten kering, kelompok II atau pakan tinggi lemak dan tidak puasa intermiten kering, kelompok III atau pakan standard dan puasa intermiten kering, serta kelompok IV atau pakan tinggi lemak dan puasa intermiten kering</span><span lang="IT">. </span><span lang="IT">Periode puasa dilakukan selam</span><span lang="IT">a</span><span lang="IT"> 30 hari dengan durasi puasa </span><span lang="FI">14 jam puasa (17.00 – 07.00 WIB) dan 10 jam jendela makan</span><span lang="IT">. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan</span><span lang="IT">kadar asam urat</span><span lang="IT"> pada kelompok puasa </span><span lang="IT">yaitu </span><span lang="IT">kelompok III dan IV dibandingkan kelompok tidak puasa (p &lt;0,05). Namun peningkatan ini masi</span><span lang="IT">h</span><span lang="IT"> dalam batas normal. Pada saat puasa, terjadi perubahan metabolisme dari makanan ke sumber energi endogen yang menyebabkan pada akhirnya meningkatkan kadar asam urat karena adanya proses ketosis. Selain itu, dehidrasi yang terjadi pada saat puasa menjadi faktor peningkatan kadar&nbsp; asam urat. </span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/16089 Perbandingan Peningkatan Berat Badan dan Gangguan Perkembangan pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah dengan dan Tanpa ASI Ekslusif 2025-02-26T15:35:02+08:00 Nanda Amalia Dyan Arisma nandaarsm@gmail.com Jusuf Sulaeman Effendi jusufse@yahoo.com Zulmansyah zulmansyah@unisba.ac.id Mirasari Putri mirasari.putri@unisba.ac.id Siti Annisa Devi Trusda siti.anisa@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> Growth and developmental disorders in low birth weight infants (LBWIs), defined as those with a birth weight of &lt;2500 g, are significant health concerns. Breast milk, as the primary source of nutrition, is superior to formula due to its adaptive composition. This study compared weight gain at 1–6 months and developmental disorders in LBWIs receiving exclusive breastfeeding versus non-exclusive breastfeeding using a case-control design. Data from 65 infants aged 6–12 months in Bandung Wetan, Sukajadi, and Kiaracondong were collected through KPSP, KMS, and interviews, then analyzed with the Mann-Whitney test. Most mothers were aged 26–35 years (52%), multiparous (60%), and high school-educated (80%), with 54% of the infants being female. Exclusive breastfeeding was provided to 49%, and 94% met appropriate KPSP developmental criteria. The mean weight gain for infants aged 1–6 months in the exclusive breastfeeding group was higher (4.85±0.61 kg) compared to the non-exclusive group (4.66±0.70 kg) (P=0.020, OR=0.64). No significant differences were observed in developmental disorders between the groups (P=0.321, OR=3.10). In conclusion, exclusive breastfeeding improved weight gain in LBWIs, but developmental outcomes may depend on factors such as parenting style, parity, and maternal education.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Gangguan Gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada bayi berat lahir rendah (BBLR), yaitu bayi dengan berat lahir &lt;2500 g, merupakan masalah kesehatan yang signifikan. ASI sebagai sumber nutrisi utama memiliki keunggulan dibandingkan susu formula karena komposisinya yang adaptif. Penelitian ini membandingkan peningkatan berat badan usia 1–6 bulan dan gangguan perkembangan pada BBLR yang mendapatkan ASI eksklusif dan tidak, menggunakan desain <em>case control</em>. Data dari 65 bayi usia 6–12 bulan di Bandung Wetan, Sukajadi, dan Kiaracondong dikumpulkan melalui KPSP, KMS, dan wawancara, kemudian dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Mayoritas ibu berusia 26–35 tahun (52%), multipara (60%), berpendidikan SMA (80%), dengan 54% bayi perempuan. Pemberian ASI eksklusif tercatat pada 49% bayi, dan 94% menunjukkan hasil KPSP sesuai perkembangan. Rata-rata peningkatan berat badan bayi usia 1–6 bulan pada kelompok ASI eksklusif lebih tinggi (4,85±0,61 kg) dibandingkan kelompok tidak ASI eksklusif (4,66±0,70 kg) (P=0,020; OR=0,64). Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam gangguan perkembangan antar kelompok (P=0,321; OR=3,10). Kesimpulannya, ASI eksklusif meningkatkan berat badan pada BBLR, namun perkembangan bayi dipengaruhi oleh faktor lain seperti pola asuh, paritas, dan pendidikan ibu.</p> 2025-01-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17080 Perbandingan Tingkat Kebugaran Jasmani pada Mahasiswa yang Melakukan Olahraga Weight Training dan Olahraga Futsal di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung 2025-02-21T16:49:52+08:00 Mudzakkir Rayyis 10100121112 mudzakkirrayyizzz@gmail.com Ike Rahmawaty Alie ikewaty21@gmail.com Eka Hendryany eka.hendryany@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong>&nbsp;Physical fitness is not only a reflection of physical health but also a key to academic success for students. Many sports can improve physical fitness, and the increasing interest in weight training and futsal can have a positive impact on students as these sports can improve physical fitness. This study aims to analyze the comparison of fitness levels between medical students at the Islamic University of Bandung who engage in weight training and futsal. This is an observational analytic study with a cross-sectional approach. Sampling was done using purposive sampling on the population, and research samples were obtained from primary data taken from questionnaires and VO2 max measurements using the Harvard step test. Data was analyzed using univariate and bivariate tests with the chi-square test. The number of research subjects was 103, with 48 subjects engaging in futsal and 55 subjects engaging in weight training. The majority of subjects who engaged in weight training had a moderate fitness level (58.18%), while those who engaged in futsal had a very good fitness level (56.25%). This study found that there was a significant difference in the fitness levels of research subjects who engaged in weight training and those who engaged in futsal, with a p-value of 0.001 (&lt;0.005). The fitness level of futsal subjects was better because futsal is a predominantly aerobic sport and therefore has a greater impact on cardiorespiratory endurance, unlike weight training which is more predominantly anaerobic and has a greater impact on muscular endurance. In addition, differences in fitness levels are also influenced by the consistency and increase in training intensity on a regular basis so that overall fitness continues to improve.</p> <p><strong>Abstrak.</strong>&nbsp;Kebugaran jasmani tidak hanya menjadi cerminan kesehatan fisik, tetapi juga kunci keberhasilan akademik mahasiswa. Banyak olahraga yang dapat meningkatkan kebugaran jasmani, meningkatnya minat terhadap olahraga <em>weight training</em> dan futsal dapat memberikan dampak positif bagi mahasiswa karena olahraga tersebut dapat meningkatkan kebugaran jasmani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan tingkat kebugaran jasmani antara Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung yang melakukan olahraga&nbsp;<em>weight training </em>dengan olahraga futsal.<strong>&nbsp;</strong>Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Pengambilan sampel dengan teknik <em>purposive sampling</em>&nbsp;pada populasi, sampel penelitian berasal dari data primer yang diambil dari kuisioner dan pengukuran VO2&nbsp;maks&nbsp;menggunakan metode <em>Harvard step test</em>. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji <em>chi-square</em>. Jumlah subjek penelitian sebanyak 103 dengan 48 subjek penelitian berolahraga futsal dan 55 subjek penelitian <em>weight training</em>. Mayoritas subjek penelitian yang berolahraga <em>weight training</em>&nbsp;memiliki tingkat kebugaran sedang (58.18%) sedangkan yang berolahraga futsal memiliki tingkat kebugaran sangat baik (56.25%). Penelitian ini mendapati hasil bahwa terdapat perbandingan yang bermakna antara tingkat kebugaran jasmani subjek penelitian yang melakukan olahraga <em>weight training</em>&nbsp;dan subjek penelitian yang melakukan olahraga futsal dengan nilai p sebesar 0.001 (&lt;0.005).&nbsp;Tingkat kebugaran jasmani subjek penelitian futsal lebih baik karena futsal merupakan jenis olahraga dominan aerobik sehingga lebih berpengaruh terhadap ketahanan kardiorespirasinya, berbeda dengan weight training yang lebih dominan anaerobik dan lebih berdampak pada kekuatan daya tahan otot, selain itu perbedaan tingkat kebugaran jasmani juga dipengaruhi oleh konsistensi dan peningkatanan intensitas latihan secara berkala agar kebugaran tubuh terus meningkat.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17081 Prevalensi Gangguan Refraksi Mata pada Anak Sebelum, Selama, dan Setelah COVID-19 di Poliklinik Mata RSUD Al-Ihsan Periode 2018-2023 2025-02-21T16:52:41+08:00 Muhammad Febryan Rizky Dwi Putra m.febryanrdp@gmail.com Bambang Setiohadji bsetiohadji@gmail.com Buti Azfiani Azhali butiazhali@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>Visual impairment is a common occurrence. As individuals age, they generally experience at least one form of visual impairment. Globally, there are at least 1 billion individuals suffering from near or distance vision impairments that should be preventable or still require treatment. The most common visual impairment among children worldwide is refractive disorders, particularly myopia, which has gained global attention due to the loss of vision that cannot be corrected. The inability to correct these refractive disorders has significant impacts on their overall development, especially in terms of education and psychosocial well-being. This study was conducted to analyze the prevalence of refractive disorders among children aged 5 to 18 years visiting the Eye Clinic of Al-Ihsan Regional Hospital from 2018 to 2023. The high incidence of visual impairments in children is a concerning health issue in Indonesia that has the potential to affect the quality of life and education of children. The methodology used is descriptive research with a cross-sectional approach, utilizing secondary data from medical records. The subjects of the study consist of children and adolescents diagnosed with refractive disorders, using a total sampling technique. The results indicate that astigmatism is the most prevalent refractive disorder, followed by myopia and hyperopia, with a higher diagnosis rate in females compared to males. During the COVID-19 pandemic, the prevalence of refractive disorders decreased due to limited access to healthcare services; however, cases of myopia increased due to the use of gadgets for educational purposes. After the pandemic, the prevalence rose again in line with the optimization of healthcare services. Therefore, it can be concluded that refractive eye disorders in children remain a health issue that needs to be addressed. This research provides important insights for the development of strategies for children's eye health in the future, especially in the context of the pandemic.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Gangguan penglihatan adalah hal yang umum terjadi. Setiap individu seiring bertambah usia pada umumnya akan mengalami setidaknya satu gangguan penglihatan. Secara global, setidaknya terdapat 1 miliar individu yang mengalami gangguan penglihatan jarak dekat ataupun jauh yang seharusnya dapat dicegah atau masih perlu ditangani. Gangguan penglihatan yang umum terjadi di seluruh dunia pada anak-anak adalah gangguan refraktif terutama miopia, yang menjadi sorotan dunia akibat kehilangan gangguan penglihatan yang tidak bisa diperbaiki. Ketidakmampuan untuk memperbaiki gangguan refraktif ini memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan mereka secara keseluruhan, terutama dalam hal pendidikan dan kesejahteraan psikososial. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis prevalensi gangguan refraksi di kalangan anak-anak berusia 5 hingga 18 tahun yang berkunjung ke Poliklinik Mata RSUD Al-Ihsan dalam rentang waktu 2018 hingga 2023. Tingginya angka gangguan penglihatan pada anak menjadi prihatin masalah kesehatan di Indonesia yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup serta pendidikan anak-anak. Metodologi yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional, memanfaatkan data sekunder dari rekam medis. Subjek penelitian terdiri dari anak-anak dan remaja yang telah terdiagnosis dengan gangguan refraksi, dengan teknik pengambilan sampel total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa astigmatisma adalah gangguan refraksi mata terbanyak, diikuti oleh miopia dan hipermetropia, kemudian perempuan lebih banyak yang terdiagnosa dibandingkan dengan laki-laki. Selama pandemi COVID-19, prevalensi gangguan refraksi menurun akibat terbatasnya akses layanan kesehatan, di sisi lain kasus miopia meningkat karena penggunaan gawai untuk menempuh pendidikan. Setelah pandemi, prevalensi kembali meningkat seiring dengan optimalisasi layanan kesehatan. Sehingga dapat disimpulkan, gangguan refraksi mata pada anak tetap menjadi masalah kesehatan yang perlu ditangani. Penelitian ini memberikan wawasan penting untuk pengembangan strategi kesehatan mata anak di masa yang mendatang khususnya pandemi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17083 Hubungan Shift dan Non Shift Kerja dengan Stres Kerja Perawat di Bagian Rawat Inap dan Poli Anak RSUD Ciamis 2025-02-21T16:54:24+08:00 Restu Dhiya Ulhaq Setiawan dhiyarestu@gmail.com Caecielia Makaginsar caecielia@gmail.com Purnomo poerkesja@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Nurses at RSUD Ciamis work under both shift and non-shift systems. Shift work may increase the risk of stress due to biological rhythm disruptions, high workload, and limited rest periods. This study aims to analyze the relationship between shift and non-shift work systems and the level of work-related stress among nurses in the inpatient and pediatric outpatient departments of RSUD Ciamis. The research employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. A total of 35 nurses were selected using total sampling based on inclusion and exclusion criteria. Stress levels were measured using Robbins' Job Stress Scale, and the relationship between work systems and stress was analyzed using the Fisher Exact test. Among the 35 nurses studied, 27 (77%) worked under the shift system, while 8 (23%) worked non-shift. Most nurses experienced moderate work-related stress, with 20 nurses (57.1%) falling into this category. Bivariate analysis revealed a significant relationship between shift and non-shift work systems and stress levels (p = 0.011; p &lt; 0.05). The findings indicate that shift work is significantly associated with higher stress levels among nurses at RSUD Ciamis. Work-related stress can negatively affect nurses' performance, including reduced concentration and service quality. This study recommends effective stress management and improved work system arrangements to enhance nurses' well-being and healthcare service quality.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perawat di RSUD Ciamis bekerja dalam sistem shift dan non-shift. Shift kerja dapat meningkatkan risiko stres akibat gangguan ritme biologis, beban kerja tinggi, dan waktu istirahat yang terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara sistem kerja shift dan non-shift dengan tingkat stres kerja perawat di bagian rawat inap dan poli anak RSUD Ciamis. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sebanyak 35 perawat dipilih menggunakan <em>total sampling</em> berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat stres diukur menggunakan Robbins' Job <em>Stress Scale</em>, dan hubungan antara sistem kerja dengan stres dianalisis menggunakan uji <em>Fisher Exact</em>. Dari 35 perawat yang diteliti, 27 orang (77%) bekerja dalam sistem shift, sedangkan 8 orang (23%) bekerja non-shift. Sebagian besar perawat mengalami stres kerja dalam kategori sedang, yaitu 20 orang (57,1%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sistem kerja shift dan non-shift dengan tingkat stres kerja (p = 0,011; p &lt; 0,05). &nbsp;Temuan menunjukkan bahwa sistem kerja shift berhubungan signifikan dengan tingkat stres kerja perawat di RSUD Ciamis. Stres kerja dapat berdampak negatif pada kinerja perawat, termasuk penurunan konsentrasi dan kualitas pelayanan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya manajemen stres yang efektif serta perbaikan dalam pengaturan sistem kerja untuk meningkatkan kesejahteraan perawat dan kualitas pelayanan kesehatan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17084 Hubungan Beban Kerja dengan Stres Kerja pada Pegawai Tatalaksana Kopsyarkardos Universitas Islam Bandung 2024 2025-02-21T16:56:08+08:00 Farhan Maruf farhanmaruf110203@gmail.com Caecielia Makaginsar caecielia@gmail.com R. Kince Sakinah r.kince.sakinah@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Human resources (HR) are valuable assets to achieve organizational goals. Excessive workload on employees is one of the factors that heavy or excessive HR workload will cause work stress which can have an impact on employee performance which will lead to work stress. Based on research where the working hours of administrative employees exceed the provisions of the Job Creation Law No. 11. This study was conducted with a total population with a minimum number of subjects obtained based on the Slovin formula of 59 people. The general objective of this study is to determine the Relationship between Workload and Work Stress in Administrative Employees of Kopsyarkardos, Bandung Islamic University 2024. This research design uses an analytical observational method with a cross-sectional approach with a questionnaire measuring instrument. The research data comes from primary data taken from filling out the Depression Anxiety Stress Scales (DASS 42) questionnaire to measure work stress and to measure workload will use the National Aeronautics and Space Administration (NASA) - Task Load Index (TLX). Data were analyzed using univariate and bivariate tests with the Chi-Square (χ2) test, but if the chi square (χ2) requirement is not met, then the alternative fisher exact test will be used. The number of respondents was 65 employees. The workload experienced by employees was mostly in the low range (42%) and experienced mild stress (54%). The results of the statistical test showed that there was a relationship between workload and work stress with a value of P = 0.001. Work stress that appears in employees can be caused by external factors outside the work being done. So it can be concluded that there is a significant relationship between workload and work stress in administrative employees of the Islamic University of Bandung.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Sumber daya manusia (SDM) merupakan aset yang berharga untuk mencapai tujuan organisasi. Beban kerja yang berlebih pada karyawan merupakan salah satu faktor beban kerja SDM yang berat atau berlebih akan menyebabkan stres kerja yang dapat berdampak pada kinerja karyawan yang akan berujung pada munculnya stres kerja. Berdasarkan riset dimana jam kerja pada pegawai tatalaksana yang dimana melebihi ketentuan undang-undang cipta kerja No. 11. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan stres kerja Pada Pegawai Tatalaksana Kopsyarkardos Universitas Islam Bandung 2024. Penelitian ini dilakukan dengan total populasi dengan jumlah subjek minimal yang didapatkan berdasarkan rumus slovin sebanyak 59 0rang. Rancangan Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan alat ukur kuesioner. Data penelitian berasal dari data primer yang diambil dari pengisian kuisioner Depression Anxiety Stres Scales (DASS 42) untuk pengukuran stres kerja dan untuk mengukur beban kerja akan menggunakan National Aeronautics and Space Administration (NASA) - Task Load Index (TLX). Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square (χ2), namun jika syarat chi square (χ2) tidak terpenuhi maka akan digunakan alternatif uji fisher exact. Jumlah responden sebanyak 65 pegawai Beban kerja yang dialami pegawai mayoritas berada di rentang rendah (42%) dan mengalami stres ringan (54%). Hasil uji statistik menujukan terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja dengan nilai P=0.001 Stres kerja yang muncul pada karyawan dapat disebabkan karena faktor-faktor eksternal diluar pekerjaan yang dilakukan. Maka dapat di simpulkan bahwa terdapat ada nya hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stres kerja pada pegawai tatalaksana Universitas Islam Bandung.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17088 Hubungan Screen Time Smartphone dengan Kualitas Tidur pada Siswa SMA Tasikmalaya 2025-02-21T16:58:15+08:00 Riesna Sri Mulyanti riesnasrimulyanti@gmail.com Eka Nurhayati eka.nurhayati@unisba.ac.id Ayu Prasetia ayuprasetia.arief@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="EN-US">Excessive smartphone use can negatively impact sleep quality. High screen time can affect the circadian rhythm and lead to poor sleep quality. This study aims to analyze the relationship between smartphone screen time duration and sleep quality among high school students at SMA Negeri 2 Tasikmalaya. The study uses an analytical quantitative design with a cross-sectional approach. The sampling technique employed total sampling, involving 101 students from grades 10 and 11 who met the inclusion criteria and agreed to participate as research subjects. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire to measure sleep quality and questions related to smartphone screen time duration. Data analysis was conducted using the chi-square test. The results showed that 76.2% of students had screen time &gt;4 hours per day, and 74.3% of students had poor sleep quality. Statistical analysis indicated no significant relationship between screen time duration and sleep quality (p = 0.529). This study concludes that there is no relationship between smartphone screen time duration and the sleep quality of students at SMA Negeri 2 Tasikmalaya.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="FI">Penggunaan <em>smartphone</em> yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kualitas tidur. </span><em><span lang="IN">Screen time</span></em><span lang="IN"> yang tinggi dapat memengaruhi <em>circadian rhythm</em> dan menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi <em>screen time smartphone</em> dengan kualitas tidur pada siswa SMA Negeri 2 Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan <em>total sampling</em>, sebanyak 101 siswa kelas 10 dan 11 yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia menjadi subjek penelitian diikutsertakan dalam penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Pittsburgh Sleep Quality Index</em> (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur, dan pertanyaan terkait durasi <em>screen time smartphone</em>. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>chi-square</em>. Hasil penelitian menunjukkan 76,2% siswa dengan <em>screen time</em> &gt;4 jam per hari dan 74,3% siswa memiliki kualitas tidur buruk. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara durasi <em>screen time</em> dan kualitas tidur (p = 0,529). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara durasi <em>screen time smartphone</em> dengan kualitas tidur siswa SMA Negeri 2 Tasikmalaya.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17091 Hubungan Self Compassion dengan Negative Emotional States pada Mahasiswa Tingkat Pertama Fakultas Kedokteran UNISBA Tahun 2023 2025-02-21T17:00:12+08:00 Fandhika Kurniady dhikamamet27@gmail.com Noormatany noormatany@gmail.com Sara Puspita sarapuspita@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Self compassion is the attitude of understanding, accepting, and responding to oneself with kindness when facing problems or suffering, recognizing these experiences as part of the human condition. Additionally, self-compassion helps reduce negative emotional states, including stress, anxiety, and depression. The purpose of this study was to examine the relationship between self-compassion and negative emotional states. The research employed an observational analytic method with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using a random sampling technique among first-year medical students at the Faculty of Medicine, Unisba, in 2023, who met the inclusion criteria, with a total sample size of 75 participants. Data analysis was performed using the Spearman rank correlation test. Univariate analysis revealed that the majority of participants had a moderate level of self-compassion (71%), and most students were in a normal state in terms of stress (95%), anxiety (69%), and depression (81%). Spearman rank analysis showed a correlation between self-compassion and stress (p=0.352), anxiety (p=0.013), and depression (p=0.279). These results indicate a relationship between self-compassion and negative emotional states. The conclusion of this study is that individuals experiencing anxiety, stress, and depression tend to have moderate to low self-compassion, while high self-compassion helps reduce depression, alleviate stress, and prevent excessive anxiety.</p> <p><strong>Abstrak. </strong><em>Self compassion</em> adalah sikap memahami, menerima, dan merespons diri sendiri dengan kebaikan hati saat menghadapi masalah atau penderitaan, dengan menyadari bahwa hal tersebut adalah bagian dari pengalaman manusia. Selain itu <em>self compassion</em> berguna untuk menurunkan nilai <em>negative emotional states</em> diantaranya stres, kecemasan, dan depresi. <em>Negative emotional state </em>sendiri merupakan perasaan negatif berupa depresi, kecemasan, dan stres. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan <em>self compassion</em> dengan <em>negative emotional states.</em> Metode penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Pengambilan sampel menggunakan teknik <em>random sampling</em> pada mahasiswa tingkat pertama fakultas kedokteran unisba tahun 2023 yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah sampel sebanyak 75 orang. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>rank spearman.</em> Hasil analisis univariat menunjukan bahwa sebagian besar memiliki nilai <em>self compassion</em> sedang (71%) dan <strong>s</strong>ebagian besar mahasiswa berada dalam keadaan normal pada kategori stres (95%), kecemasan (69%) dan depresi (81%). Sedangkan berdasarkan analisis <em>rank spearmen</em> menunjukan bahwa nilai korelasi antara <em>self compassion</em> terhadap stres sebesar p=0.352, kecemasan p=0.013, dan depresi p=0.279. Hasil ini menunjukan bahwa adanya hubungan antara <em>self compassion</em> terhadap <em>negative emotional states</em>. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa individu dengan gangguan kecemasan, stres, dan depresi cenderung memiliki <em>self compassion </em>sedang hingga rendah, sementara <em>self compassion</em> tinggi membantu mengurangi depresi, menurunkan stres, serta mencegah terjadi munculnya rasa kecemasan yang berlebihan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17093 Hubungan Faktor Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan Keparahan Stunting pada Anak di Puskesmas Sukadana Kabupaten Ciamis 2025-02-21T17:01:59+08:00 Adinda Fatima Azzahra adindafatima2@gmail.com Nurhalim Shahib nurhalimshahib@yahoo.com Febriana Kurniasari febriana.kurniasari@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong><span lang="IN"> <em>Stunting</em> is a condition where toddlers have a body that is shorter than their age. The problem of <em>stunting</em> reflects inadequate nutritional status with chronic characteristics during growth and development, starting from early life. The most dominant factor contributing to child <em>stunting</em> is LBW, which is estimated to be the main cause of the increase in the number of <em>stunting</em> cases in Indonesia. The aim of this research is to analyze the relationship between low birth weight (LBW) factors and the severity of <em>stunting</em> in children 0-59 months. This research was conducted with a comparative cross sectional design. The sample for this study came from medical records. Data were analyzed using univariate and bivariate tests with the Chi-square test. Research shows that there is a significant relationship between low birth weight (LBW) babies and the severity of <em>stunting</em> in children 0-59 months at the Sukadana Community Health Center, Ciamis Regency for the 2021-2023 period, with a p-value of 0.034. The significant relationship between low birth weight (LBW) and the severity of <em>stunting</em> indicates that the community needs to pay attention to balanced nutrition for children and health centers to always provide education about the impact of <em>stunting</em> on the future.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak</span></strong><span lang="EN-US">. </span><em><span lang="IN">Stunting</span></em><span lang="IN"> adalah kondisi di mana balita memiliki tubuh yang lebih pendek daripada umur mereka. Masalah <em>stunting</em>mencerminkan status gizi yang kurang memadai dengan karakteristik kronis selama masa pertumbuhan dan perkembangan, dimulai dari awal kehidupan. Faktor paling dominan yang berkontribusi pada <em>stunting</em> anak adalah BBLR, yang diperkirakan merupakan penyebab utama dari peningkatan jumlah kasus <em>stunting</em> di Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan faktor berat bayi lahir rendah (BBLR) dan keparahan <em>stunting</em> pada anak 0-59 bulan. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross sectional komparatif. Sampel penelitian ini berasal dari rekam medis. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji Chi-square. Penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara bayi berat lahir rendah (BBLR) dan keparahan <em>stunting</em> pada anak 0-59 bulan di Puskesmas Sukadana Kabupaten Ciamis periode 2021-2023 didapatkan nilai p-value 0,034. Adanya hubungan yang signifikan antara berat bayi lahir rendah (BBLR) dengan keparahan<em>stunting</em> mengindikasikan bahwa masyarakat perlu memperhatikan gizi yang seimbang kepada anak dan puskesmas agar selalu memberikan edukasi tentang dampak <em>stunting</em> terhadap masa depan.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17095 Hubungan Indeks Massa Tubuh Berlebih dengan Kejadian Stroke di Rumah Sakit Banjar Patroman Tahun 2023– 2024 2025-02-21T20:19:00+08:00 Siti Nurhaliza sitzapsitzap@gmail.com Meta Maulida Damayanti meta.fkunisba@gmail.com Rizky Suganda Prawiradilaga rizkysuganda@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Stroke is a serious disease that is a major cause of disability and death in the world, including in Indonesia. Obesity, which is often measured by Body Mass Index (BMI), has been known to be one of the main risk factors for stroke. The purpose of this study was to analyze the relationship between excess body mass index and stroke incidence at Banjar Patroman Hospital in 2023–2024. This research method is observational analytic with a cross-sectional approach. The subjects of this study were 116 inpatient stroke patients at Banjar Patroman Hospital in 2023–2024 who were taken using the Total Population Sampling technique, the research sample came from the medical records of outpatients at the Banjar Hospital neurology polyclinic. Statistical analysis used the chi-square test. The results showed that there was no significant relationship between excess body mass index and stroke incidence at Banjar Patroman Hospital with a p value = 0.998. In conclusion, excess body mass index often occurs and is a risk factor for stroke but does not have much influence in this study. These results suggest that obesity is recognized as a risk factor for stroke, other factors such as hypertension, diabetes, and lifestyle also need to be considered in the analysis of stroke risk. Further research is needed to explore the interaction between various risk factors and their impact on stroke incidence. Although national data show an increasing prevalence of stroke and obesity, there is a lack of specific data regarding the local population at Banjar Patroman Hospital.</p> <p><strong>Abstrak. </strong><em>Stroke </em>merupakan penyakit serius yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia, termasuk di Indonesia. Obesitas, yang sering diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), telah diketahui sebagai salah satu faktor risiko utama untuk kejadian <em>stroke.</em> Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan indeks massa tubuh berlebih dengan kejadian <em>stroke </em>di Rumah Sakit Banjar Patroman tahun 2023–2024. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien stroke rawat inap di RS Banjar Patroman tahun 2023–2024 sejumlah 116 orang yang diambil dengan teknik Total Population Sampling, sampel penelitian berasal dari medical record pasien rawat jalan poli syaraf RS Banjar. Analisis statistik menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara indeks massa tubuh berlebih dengan kejadian <em>stroke </em>di RS Banjar Patroman dengan nilai p=0,998. Simpulan, indeks massa tubuh berlebih sering terjadi dan merupakan salah satu faktor risiko <em>stroke</em> tapi tidak terlalu berpengaruh dalam penelitian ini. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun obesitas diakui sebagai faktor risiko untuk<em> stroke</em>, faktor lain seperti hipertensi, diabetes, dan gaya hidup juga perlu dipertimbangkan dalam analisis risiko stroke. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi interaksi antara berbagai faktor risiko dan dampaknya terhadap kejadian <em>stroke.</em> Meskipun data nasional menunjukkan peningkatan prevalensi <em>stroke </em>dan obesitas, kurangnya data spesifik mengenai populasi lokal di Rumah Sakit Banjar Patroman.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17102 Hubungan Tingkat Pengetahuan Cara Mengangkat Benda dengan Postur Tubuh pada Pegawai Tatalaksana di Unisba Tahun 2024 2025-02-21T20:21:17+08:00 Finna Wiguna finnaw25@gmail.com Budiman budiman.ikm.fkunisba@gmail.com Dony Septriana Rosady dony.septriana@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Lifting objects is one of the activities in manual material handling (MMH), which is currently widely found in Indonesia, one of which is among cleaning service. The process of lifting objects becomes dangerous if the posture or work attitude is not done correctly, which can be caused by a lack of knowledge about the correct way to lift. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge of how to lift objects and body posture in Unisba cleaning service in 2024. The method used in the study was observational analytic with a cross-sectional research design and was carried out on 60 respondents of Unisba cleaning service in 2024 who would undergo body posture analysis using Rapid Entire Body Assessment (REBA), then fill out a questionnaire regarding knowledge of how to lift objects that have been tested for validity and reliability. The results of the analysis of this study used the Chi-Square test. The p-value was obtained at 0.017 so that it can be concluded that there is a relationship between the level of knowledge of how to lift objects and body posture in Unisba cleaning service in 2024, because knowledge affects a person's behavior and actions. It is hoped that the university can improve education on the correct way to lift objects, so that administrative staff can do so in accordance with ergonomic principles.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Mengangkat benda merupakan salah satu aktivitas di dalam <em>manual material handling</em> (MMH), yang sampai saat ini banyak dijumpai di Indonesia, salah satunya dikalangan pegawai tatalaksana. Proses mengangkat benda menjadi berbahaya, jika postur tubuh atau sikap kerja tidak dilakukan dengan benar yang dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai cara mengangkat yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan cara mengangkat benda dengan postur tubuh pada pegawai tatalaksana Unisba 2024. Metode yang digunakan pada penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian <em>cross sectional</em> dan dilakukan pada 60 responden pegawai tatalaksana Unisba tahun 2024 yang akan dilakukan analisis postur tubuh menggunakan <em>Rapid Entire Body Assessement</em> (REBA), kemudian melakukan pengisian kuesioner mengenai pengetahuan cara mengangkat benda yang telah diuji validitas dan realibilitasnya.&nbsp;Hasil analisis dari penelitian ini menggunakan <em>Chi-Square test</em>. Didapatkan hasil <em>p-value</em> 0,017 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan cara mengangkat benda dengan postur tubuh pada pegawai tatalaksana Unisba tahun 2024, karena pengetahuan mempengaruhi perilaku dan tindakan seseorang. Diharapkan pihak universitas dapat meningkatkan edukasi mengenai cara mengangkat benda yang benar, agar pegawai tatalaksana dapat melakukannya sesuai dengan prinsip ergonomis.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17115 Hubungan Usia dan Kontrasepsi Hormonal dengan Fibroadenoma Mammae pada Pasien di Polikinik Bedah Rumah Sakit SMC Tasikmalaya Tahun 2022–2023 2025-02-21T20:23:12+08:00 Azka Ghaida Hauna azkaghaidahauna21@gmail.com Dicky Santosa drdickysantosamm@gmail.com Herry Garna herrygarna@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Approximately 1.3 million women worldwide are diagnosed with breast tumors and cancer each year. Fibroadenoma mammae is the leading cause of breast lumps in women of reproductive age. Women with fibroadenoma mammae have up to twice the risk of developing breast cancer in the future, triggered by factors such as age and the use of hormonal contraceptives. This study aims to analyze the relationship between age and the use of hormonal contraceptives with fibroadenoma mammae in patients at the Surgical Outpatient Clinic of SMC Hospital Tasikmalaya during 2022–2023, with data collection conducted from September to December 2024.This research employs an observational analytic study with a case-control approach. Data collection used secondary data obtained from medical records, and the data were analyzed using univariate and bivariate tests, including the chi-square statistical test. The study involved 106 respondents, the majority of whom were in early to late adolescence (12–25 years old), comprising 63.2%. Among the respondents, 52.8% did not use hormonal contraceptives, while the proportion of subjects with and without fibroadenoma mammae was evenly distributed at 50%. The analysis revealed a significant relationship between age and the use of hormonal contraceptives with fibroadenoma mammae, with p-values of 0.000 and 0.002, respectively. Fibroadenoma mammae may also be influenced by other contributing factors, such as the age at menarche, dietary patterns, and a history of not breastfeeding. In conclusion, there is a significant relationship between age and the use of hormonal contraceptives with fibroadenoma mammae.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Sekitar 1.3 juta wanita di seluruh dunia setiap tahun didiagnosis tumor dan kanker payudara. <em>Fibroadenoma mammae</em> merupakan penyebab utama benjolan pada wanita usia subur. Wanita <em>fibroadenoma mammae</em> memiliki risiko hingga 2 kali akan mengalami kanker payudara di masa mendatang yang dipicu oleh beberapa faktor seperti usia dan penggunaan kontrasepsi hormonal.&nbsp; Penelitian ini bertujuan menganaliis hubungan usia dan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan <em>fibroadenoma mammae</em> pada pasien di Polikinik Bedah Rumah Sakit SMC Tasikmalaya tahun 2022–2023. Metode penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan kasus kontrol. Pengumpulan data menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis. Data dianalisis dengan uji univariat dan biavariat menggunakan uji statistik <em>chi-square. </em>Jumlah subjek 106 responden,&nbsp; mayoritas berusia dewasa awal dan akhir (25–40 tahun) sebanyak 63,2%; tidak menggunakan kontrasepsi hormonal 52,8%; sedangkan jumlah subjek yang mengalami FAM dan tidak masing-masing 50%. Hasil analisis hubungan usia dan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan <em>fi</em><em>broadenoma </em><em>m</em><em>a</em><em>m</em><em>mae</em> bermakna dengan nilai p berturut-turut &lt;0,001 dan 0,002. FAM dapat dipicu oleh kontribusi usia dan kontrasepsi hormonal karena kadar hormon estrogen dan progesteron yang memicu proliferasi jaringan payudara.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17117 Gambaran Motorik Kasar Pasien Stroke Iskemik Setelah Fisioterapi di RSAU Salamun 2025-02-21T20:28:01+08:00 Dhyana Elsya Tiara dhyanaelsya77@gmail.com Alya Tursina alyatursina@unisba.ac.id Yuke Andriane andrianeyuke@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Stroke is the second leading cause of death worldwide, accounting for 11.13% of total deaths, and is the primary cause of disability globally. The most common type of stroke is ischemic stroke, which constitutes about 87% of all stroke cases. The occurrence of ischemic stroke can lead to physical limitations or disturbances in motor abilities due to the loss of muscle strength in the limbs. To assess gross motor function impairments, the Manual Muscle Testing is commonly used. Recovery of gross motor skills in ischemic stroke patients is a crucial goal of rehabilitation. Physiotherapy is a key component of medical rehabilitation aimed at preventing potential injuries and complications, reducing impairments, and ensuring that bodily functions can fully return. This study aims to analyze the relationship between physical therapy and gross motor abilities in ischemic stroke patients at RSAU Salamun Bandung. The research method employed is an analytical observational design with a cross-sectional approach, utilizing secondary data from medical records of ischemic stroke patients from January 2021 - August 2024. The total sample size for this study was 80 subjects, with findings indicating a strong relationship (r value = 0.60 - 0.799) for the hip and knee areas, and a very strong relationship (r value = 0.80 - 0.999) for the shoulder, elbow, wrist, fingers, ankle, and foot regions. Thus, these findings support the importance of physical therapy as an effective intervention in the rehabilitation of ischemic stroke patients, with the hope of maximizing motor function and improving patients' quality of life.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Stroke merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia, 11,13% dari total kematian dan penyebab utama kecacatan di seluruh dunia. Jenis stroke yang paling banyak adalah stroke iskemik, yaitu sekitar 87% dari seluruh kasus stroke. Terjadinya stroke iskemik menyebabkan seseorang mengalami keterbatasan fisik atau gangguan dari kemampuan motorik hal ini disebabkan karena hilangannya kekuatan otot pada anggota gerak. Untuk menilai gangguan kemampuan motorik kasar paling umum biasanya dengan menggunakan uji dari <em>Manual Muscle Testing</em> (MMT). Pemulihan kemampuan motorik kasar pada pasien stroke iskemik menjadi tujuan penting dari rehabilitasi. Fisioterapi merupakan salah satu cakupan dari rehabilitasi medis yang berperan untuk mencegah kemungkinan cedera, komplikasi, mengurangi gangguan, dan memastikan bahwa fungsi tubuh dapat kembali sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan fisioterapi terhadap kemampuan motorik kasar pasien stroke iskemik di RSAU Salamun Bandung. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian <em>crossectional </em>yang diambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien stroke iskemik pada periode Januari 2021-Agustus 2024. Jumlah total <em>sampling</em> pada penelitian ini 80 subjek penelitian dengan hasil adanya hubungan kuat (nilai r = 0.60- 0.799) untuk bagian panggul dan lutut serta hubungan yang sangat kuat (nilai r = 0,80- 0,999) untuk bagian bahu, siku, pergelangan tangan, jari- jari tangan, pergelangan kaki dan telapak kaki. Sehingga, temuan ini mendukung pentingnya fisioterapi sebagai intervensi efektif dalam rehabilitasi pasien stroke iskemik, dengan harapan dapat memaksimalkan fungsi motorik dan kualitas hidup pasien.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17120 Hubungan Tingkat Stres Kerja dengan jadwal Shift Malam pada Perawat 2025-02-21T20:30:46+08:00 Ikmal Adirizki ikmaladirizki8@gmail.com Mieke Hemiawati Satari mieke_satari@yahoo.com Eva Rianti Indrasari evaindrasari@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> The nursing profession is one that is full of challenges and pressure, with significant responsibility in providing healthcare to patients. Nurses often face emotional, complex, and high-risk situations that require quick decision-making and interaction with patients and their families. The high workload often triggers stress and fatigue, with data showing that 47.9% of nurses worldwide experience burnout. Most nurses work in shifts, where the night shift has the longest working hours, while non-shift nurses have a more regular schedule. The rotating shift system, which involves quick rotations, increases the risk of work-related stress due to the imbalance between physical and psychological demands. Work-related stress can result from various factors, including workload, working hours, work environment conditions, and social interactions in the workplace. This article examines the main causes of work stress, particularly those related to the shift system, and its negative impact on the physical and mental health of nurses. Understanding these factors can help develop strategies to reduce stress risks and improve nurses' well-being.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Profesi perawat merupakan pekerjaan yang penuh tantangan dan tekanan, dengan tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Perawat sering kali menghadapi situasi yang emosional, kompleks, dan berisiko tinggi, yang memerlukan pengambilan keputusan cepat serta interaksi dengan pasien dan keluarga mereka. Beban kerja yang tinggi ini sering memicu stres dan kelelahan, dengan data menunjukkan bahwa 47,9% perawat di seluruh dunia mengalami burnout.&nbsp;&nbsp; Sebagian besar perawat bekerja dalam sistem shift, di mana shift malam memiliki durasi kerja terpanjang, sedangkan perawat non-shift memiliki jadwal reguler yang lebih teratur. Sistem shift kerja bergilir yang melibatkan rotasi cepat meningkatkan risiko stres kerja akibat ketidakseimbangan antara tuntutan fisik dan psikologis. Stres kerja dapat terjadi akibat berbagai faktor, termasuk beban kerja, jam kerja, kondisi lingkungan kerja, dan interaksi sosial di tempat kerja. Artikel ini mengulas penyebab utama stres kerja, terutama yang berkaitan dengan sistem shift kerja, serta dampak negatifnya terhadap kesehatan fisik dan mental perawat. Dengan memahami faktor-faktor ini, dapat dikembangkan strategi untuk mengurangi risiko stres dan meningkatkan kesejahteraan perawat.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17124 Hubungan Obesitas dengan Kejadian Hipertensi pada Dewasa Muda di Desa Pondok Kaso Tonggoh Kabupaten Sukabumi Tahun 2024 2025-02-21T20:32:29+08:00 Dzulfikar Ibnu Darmawan dzulfikaribnu.12@gmail.com Cice Tresnasari cice@unisba.ac.id Moch. Faisal Afif Mochyadin aa_fyf@yahoo.co.id <p><span lang="EN-US"><strong>Abstract.</strong> Hypertension usually occurs in the elderly, but some studies show that hypertension can appear in adolescence and has increased in recent decades. This study aims to analyze the relationship between obesity and hypertension in young adults in Pondok Kaso Tonggoh Village in 2024. This study used a cross-sectional village involving 137 people aged 18-40 years who were selected by purposive sampling. Obesity measurements were measured using the Body Mass Index (BMI), blood pressure measurements were measured using a sphygmomanometer according to WHO standards. Data analysis used chi-square to see the relationship between obesity and hypertension. The results showed that the prevalence of obesity was 7.3% and the prevalence of hypertension was 21.9%. The results of statistical analysis of the relationship between obesity and the incidence of hypertension obtained a p-value = 0.151 which indicates that there is no significant relationship between obesity and the incidence of hypertension in young adults in Pondok Kaso Tonggoh Village in 2024. The conclusion of this study is that obesity does not have a significant relationship with the incidence of hypertension in young adults in Pondok Kaso Tonggoh Village in 2024. Further research with larger samples is needed to explore other factors that may influence the incidence of hypertension.</span></p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi biasanya terjadi pada orang tua, tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa hipertensi dapat muncul di usia remaja dan telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas dan hipertensi pada dewasa muda di Desa Pondok Kaso Tonggoh Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desa cross-sectional dengan melibatkan 137 orang berusia 18-40 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran obesitas diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), pengukuran tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer sesuai standar WHO. Analisis data menggunakan chi-square untuk melihat hubungan antara obesitas dan hipertensi. Hasil penelitian menunjukan prevalensi obesitas sebesar 7,3% dan prevalensi hipertensi sebesar 21,9%. Hasil analisis statistic hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi didapatkan nilai p-value=0,151 yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian hipertensi pada dewasa muda di Desa Pondok Kaso Tonggoh tahun 2024. Kesimpulan pada penelitian ini adalah obesitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada dewasa muda di Desa Pondok Kaso Tonggoh tahun 2024. Penelitian lebih lanjut dengan sampel lebih besar diperlukan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi kejadian hipertensi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17129 Hubungan Pengetahuan tentang Sampah dengan Perilaku Pengelolan Sampah pada Masyarakat Desa Karangligar Kabupaten Karawang 2024 2025-02-21T20:34:21+08:00 Indres Fitrialin Putri indresputri@gmail.com Budiman budiman.ikm.fkunisba@gmail.com Titik Respati Titik.respati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> As the fourth most populous country in the world, Indonesia produces the fourth largest amount of waste in the world, both organic and inorganic waste. knowledge can influence human behavior. Most of the knowledge received by humans is acquired through the eyes and ears. Knowledge plays an important role in shaping a person's actions. Waste management behavior can be interpreted as an effort to reduce waste (reduce), reuse items that are still suitable for use (reuse), recycle waste (recyle), and convert waste into energy sources (waste to energy). The purpose of the study was to determine the level of knowledge about waste, the level of waste management behavior and to determine whether there is a relationship between knowledge about waste and waste management behavior in the community of Karangligar Village, Karawang Regency 2024. The research was conducted using observational analytic method with cross sectional quantitative approach. The sample of this research subject was 63 people in Karangligar Village, Karawang Regency. Community data was obtained through a questionnaire with a total of 20 questions about knowledge about waste and 20 questions about waste management behavior. Data analysis was conducted using Chi-Square and fishers exact test. The results of this study showed that the community in Karangligar Village, Karawang Regency had a high level of knowledge (47.62%) and a fairly supportive waste management behavior (57.14). The statistical test results showed that there was no significant relationship between knowledge about waste and waste management behavior P&gt;0.05 with a P value of 0.67. These results indicate that the level of knowledge about waste with waste management behavior is influenced by other factors such as knowledge, attitudes, education, infrastructure.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Sebagai negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia, Indonesia menghasilkan jumlah sampah terbanyak keempat di dunia, baik sampah organik maupun anorganik. pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku manusia. Sebagian besar pengetahuan yang diterima oleh manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan memainkan peran penting dalam membentuk tindakan seseorang. Perilaku pengelolaan sampah dapat diartikan sebagai langkah upaya untuk mengurangi sampah (<em>reduce</em>), memanfaatkan kembali barang-barang yang masih layak pakai (<em>reuse</em>) , melakukan daur ulang sampah (<em>recyle</em>), dan mengubah sampah menjadi sumber energi (<em>waste to energi</em>). Tujuan penelitian untuk mengetahaui tingkat pengetahuan tentang sampah, tingkat perilaku pengelolaan sampah dan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan tentang sampah dengan perilaku pengelolaan sampah pada masyarakat Desa Karangligar Kabupaten Karawang 2024. Penelitian dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan kuantitatif <em>cross sectional</em>. Sampel subjek penelitian ini adalah 63 orang masyarakat di Desa Karangligar Kab. Karawang. Data masyarakat didapatkan melalui kuesioner dengan jumlah pertanyaan 20 soal mengenai pengetahuan tentang sampah dan 20 soal pertanyaan mengenai perilaku pengelolaan sampah. Analisis data dilakukan menggunakan <em>Chi-Square </em>dan dilakukan uji <em>fishers exact</em>. Hasil penelitian ini menunjukkan masyarakat di Desa Karangligar Kab. Karawang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi (47,62%) perilaku pengelolaan sampah yang cukup menunjang (57,14). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan tentang sampah dengan perilaku pengelolaan sampah P&gt;0,05 dengan nilai P <em>value </em>0,67. Hasil ini mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan tentang sampah dengan perilaku pengelolaan sampah di pengaruhi oleh faktor lain seperti pengetahuan, sikap, pendidikan, sarana prasarana.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17138 Gambaran Persepsi Proses Tutorial Problem Based Learning dan Nilai Ujian Lisan 2025-02-21T20:36:18+08:00 Aulia Andriani auuuleea@gmail.com Mia Kusmiati mia.kusmiati@unisba.ac.id Rika Nilapsari rika.nilapsari@yahoo.com <p><strong>Abstract.</strong> Problem Based Learning (PBL) is a problem-oriented learning approach to help students integrate practice, theory, and the development of critical thinking skills. The Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung implements PBL in tutorial packaging and then evaluates it using the Student Objective Oral Case Analysis (SOOCA) exam.&nbsp; This study aims to determine the perception of the PBL tutorial process and SOOCA exam scores in students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung, using an observational analytical method with a cross sectional approach. Data was taken from research subjects who are FK Unisba Level 1-3 students for the 2023/2024 academic year who are included in the inclusion criteria. Based on data obtained from 125 subjects, 22 subjects (17.6%) had a perception of "Good", 85 subjects (68%) were "Adequate", and 18 subjects (14.4%) were "Lacking". The subjects with a SOOCA score of "Very Good" were 72 subjects (57.6%), "Good" as many as 36 subjects (28.8%), "Adequate" as many as 11 subjects (8.8%), and "Below the Minimum Standard" as many as 6 subjects (4.8%). The study also describes the distribution of subject characteristics from level, age, gender and regional origin.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Problem Based Learning</em> (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang mengdepankan masalah guna membantu mahasiswa mengintegrasikan praktik, teori, serta pengembangan kemampuan berpikir kritis. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung menerapkan PBL dalam kemasan tutorial lalu mengevaluasinya menggunakan ujian <em>Student Objective Oral Case Analysis</em> (SOOCA). &nbsp;Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi terhadap proses tutorial PBL dan nilai ujian SOOCA pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Data diambil dari subjek penelitian yang merupakan mahasiswa FK Unisba Tingkat 1-3 tahun ajaran 2023/2024 yang termasuk dalam kriteria inklusi. Berdasarkan data yang diperoleh dari 125 subjek, didapatkan subjek yang memiliki persepsi “Baik” sebanyak 22 subjek (17.6%), “Cukup” sebanyak 85 subjek (68%), dan “Kurang” sebanyak 18 subjek (14.4%). Subjek yang memiliki nilai SOOCA “Sangat Baik” sebanyak 72 subjek (57.6%), “Baik” sebanyak 36 subjek (28.8%), “Cukup” sebanyak 11 subjek (8.8%), dan “Di Bawah Standar Minimum” sebanyak 6 subjek (4.8%). Penelitian juga menjabarkan mengenai distribusi karakteristik subjek dari tingkat, usia, jenis kelamin dan asal daerah.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17139 Studi Literatur: Apakah Kalium dapat Mengontrol Tekanan Darah Pasien Hipertensi? 2025-02-21T20:38:14+08:00 Lisa Amalia Qur'any wishtobeakindhuman@gmail.com Buti Azfiani Azhali butiazhali@gmail.com Mirasari Putri mirasari.putri@unisba.ac.id <p><strong>Abstract</strong><strong>. </strong>Hypertension is one of the major risk factors for cardiovascular disease, influenced by various factors, including electrolyte intake such as potassium. Potassium plays a role in blood pressure regulation through the mechanism of vasodilation, which involves the widening of blood vessels influenced by the hyperpolarization of endothelial cells and vascular smooth muscle. This process reduces intracellular calcium levels, decreases smooth muscle contraction, and increases blood flow, thereby contributing to blood pressure reduction. The method used was an analytical observational approach with a cross-sectional design. Respondents were interviewed regarding age, gender, and hypertension history, followed by blood pressure measurement using a sphygmomanometer. Potassium intake data were obtained through a 3x24-hour dietary recall over two weeks and analyzed by nutritionists using the <em>Nutrisurvey application</em>. The results of the Spearman rank correlation test showed a p-value &lt; 0.05, indicating a significant relationship between potassium intake and blood pressure. This conclusion was drawn without considering hypertension medication use, physical activity, or sleep patterns.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk asupan elektrolit seperti kalium. Kalium berperan dalam regulasi tekanan darah melalui mekanisme vasodilatasi, yaitu pelebaran pembuluh darah yang dipengaruhi oleh hiperpolarisasi sel endotel dan otot polos vaskular. Proses ini mengurangi kadar kalsium intraseluler, menurunkan kontraksi otot polos, dan meningkatkan aliran darah, sehingga berkontribusi pada penurunan tekanan darah. Metode yang digunakan adalah pendekatan analitik <em>observasional </em>dengan desain <em>cross-sectional</em>. Responden di wawancarai mengenai usia, jenis kelamin, dan riwayat hipertensi dilanjutkan pemeriksaan tekanan darah menggunakan <em>sphyngmomanometer</em>. Data asupan kalium diperoleh melalui <em>re-calling nutrisi</em> 3x24 jam selama dua minggu kemudian dilakukan analis oleh ahli gizi menggunakan aplikasi <em>Nutrisurvey</em>. Hasil uji korelasi <em>rank spearman</em> diperoleh p-value &lt;0,05 sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan antara asupan kalium dengan tekanan darah tanpa mempertimbangkan konsumsi obat hipertensi, aktivitas fisik, dan pola tidur.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17149 Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan Skabies pada Santri di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut Tahun 2024 2025-02-21T20:40:19+08:00 Taufiq Elyas taufiq.elyas04@gmail.com Eka Nurhayati eka.nurhayati@unisba.ac.id Nurul Romadhona nromadhonadr@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Scabies is an infectious skin disease that often occurs in high-density environments, including Islamic boarding schools. Factors that can influence the spread of scabies include knowledge and behavior. This study aims to describe the level of knowledge and scabies prevention behavior among students at the Darul Arqam Islamic Boarding School in Garut in 2024. This descriptive observational study used a cross-sectional design with a total sample of 100 male students in grade 3 Aliyah. Data was collected through a validated questionnaire. The research results show that the majority of students have a good level of knowledge about scabies prevention. Scabies prevention behavior is also classified as good, with students in the good behavior category. Behavior that requires improvement is cleaning the bed and dormitory environment, which is only always done by 59% and 44% of students. The conclusion shows that the majority of students have good knowledge and behavior in preventing scabies. Suggestions were given to Islamic boarding schools to improve education, as well as involve community health centers in providing counseling<em>.</em></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Skabies adalah penyakit kulit menular yang sering terjadi di lingkungan dengan kepadatan tinggi, termasuk pondok pesantren. Faktor yang dapat mempengaruhi penyebaran skabies diantaranya pengetahuan dan perlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan skabies pada santri Pondok Pesantren Darul Arqam Garut tahun 2024. Penelitian observasional deskriptif ini menggunakan desain cross-sectional dengan total sampel 100 santri kelas 3 aliyah putra. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah divalidasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas santri memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang pencegahan skabies. Perilaku pencegahan skabies juga tergolong baik, dengan santri masuk kategori perilaku baik. Perilaku yang memerlukan peningkatan adalah membersihkan tempat tidur dan lingkungan asrama, yang hanya selalu dilakukan oleh 59% dan 44% santri. Kesimpulan menunjukkan bahwa mayoritas santri memiliki pengetahuan dan perilaku pencegahan skabies yang baik. Saran diberikan kepada pihak pesantren untuk meningkatkan edukasi, serta melibatkan puskesmas dalam memberikan penyuluhan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17152 Gambaran Heart Rate Variability pada Perokok Usia Muda Berdasarkan Jumlah Batang Rokok Perhari di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung 2025-02-21T20:42:41+08:00 Andi Faza Prasetya andifaza215@gmail.com Wida Purbaningsih wida@unisba.ac.id Ermina Widiyastuti ermina.widiyastuti@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract. </span></strong><span lang="IN">Smoking has been &nbsp;related to the leading cause of preventable death worldwide, with more than 8 million people dying each year due to smoking-related diseases. In Indonesia, the prevalence of young smokers continues to rise, and the impact of smoking on heart’s health, has been known widely. The impact to heart’s health particularly, can be seen from detrction of changes in heart rate variability (HRV), which has become an important concern lately. It has been studied that heart rate duration varies, potentially ranging from 0.9 to 1.2 seconds or longer. Higher HRV has been relared to lower risk to xaediovascular events. ThIs research used method in HRV measurement with the Standard Deviation Of Normal To Normal (SDNN) approach or standard deviation of N-N intervals with a normal HRV value of 35.9 ± 15.5, pNN50 (percentage of NN intervals that differ by more than 50 milliseconds), and RMSSD (Root Mean Square of Successive Differences) to measure heart rate variability (HRV) with a total of subjects is 30 individuals aged 18 to 24 years, with distribution showed 20 subjects dominated in the group with age above 20 years. The results of this study indicated that using the pNN50 method, there were 5 individuals who had low HRV, where among these 5 individuals, 4 have been smoking for more than 4 years and 1 has just started smoking for 1 year. The HRV value using the SDNN method was low for smoker group, and the RMSSD method showed lower HRV results in smokers compared to non-smokers. This research focused on young smoker students at the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung, to explore the impact of smoking on heart rate variability (HRV). The aim of this study was to describe heart rate variability (HRV) in young smokers based on the number of cigarettes consumed per day at the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstrak.</span></strong><span lang="IN"> &nbsp;Rokok terkait dengan salah satu penyebab utama kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia, dengan lebih dari 8 juta jiwa meninggal setiap tahun akibat penyakit terkait rokok. Di Indonesia, prevalensi perokok muda terus meningkat, dan dampak merokok terhadap kesehatan jantung, telah dikenal luas. Dampak terhadap kesehatann jantung khususnya, dapat dilihat melalui adanya perubahan dari variabilitas denyut jantung (HRV), yang kini menjadi perhatian penting. Telah diteliti bahwa durasi detak jantung bervariasi, berpotensi berkisar antara 0,9 hingga 1,2 detik atau lebih lama. Variasi denyut jantung yang tinggi dihubungkan dengan kejadian kardiovaskular yang lebih rendah. &nbsp;</span><span lang="IN">&nbsp;</span><span lang="IN">Metode penelitian yang digunakan pada studi ini adalah pengukuran HRV dengan pendekatan <em>Standard Deviation Of Normal To Normal</em> (SDNN) atau simpangan baku interval N-N dengan nilai normal HRV yaitu 35.9 ± 15.5</span><sup><span lang="EN-US">1</span></sup><span lang="IN">, pNN50 (<em>percentage of NN intervals that differ by more than 50 milliseconds</em>) dan RMSSD (<em>Root Mean Square of Successive Differences</em>) untuk mengukur variabilitas denyut jantung (HRV). &nbsp;Jumlah subyek pada studi ini adalah </span><span lang="IN">30 individu dengan rentang usia 18 hingga 24 tahun dengan distribusi yang menunjukkan 20 subjek mendominasi pada kelompok usia &gt;20 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa HRV pada subyek yang dihitung dengan menggunakan metode</span><span lang="IN"> pNN50</span> <span lang="IN">terdapat 5 orang yang memiliki HRV rendah, dimana dari 5 orang tersebut 4 diantaranya sudah merokok lebih dari 4 tahun dan 1 orang yang baru memulai merokok selama 1 tahun</span><span lang="IN">. </span><span lang="IN">Nilai HRV menggunakan metode SDNN didapatkan rendah pada subyek yang merokok. </span><span lang="IN">Dan metode RMSSD menunjukan hasil HRV lebih rendah pada perokok dibandingkan yang tidak merokok. </span><span lang="IN">Penelitian ini berfokus pada&nbsp;mahasiswa perokok usia muda&nbsp;di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung untuk mengeksplorasi dampak merokok terhadap&nbsp;variabilitas denyut jantung (HRV).&nbsp; Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan variabilitas denyut jantung (HRV) pada perokok usia muda berdasarkan jumlah batang rokok yang dikonsumsi per hari di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17153 Hubungan Kadar Trombosit dengan Lama Rawat Inap pada Pasien Demam Berdarah Dengue Anak di RSUD Dr. Soekardjo Tasikmalaya 2023 2025-02-21T20:44:50+08:00 Muhammad Dzikry Fauzi muhammadzikryfauzi@gmail.com Ieva Baniasih Akbar ieva.b.akbar@gmail.com Eka Hendryanny eka_hendryanny@yahoo.com <p><strong>Abstract</strong>. Dengue hemorrhagic fever is an infectious disease caused by dengue virus which is transmitted through the bite of the aedes aegypti mosquito. Patients may exhibit various sign and symptoms, including high fever accompanied by thrombocytopenia. The ampunt of fluid given for management of dengue hemorrhagic fever and length of hospitalization vary depending on the hematological indices. Thus, platelet levels in patients with dengue hemorrhagic fever can affect the length of hispitalization. The purpose of this research is to analyze the correlation between platelet levels with length of hospitalization in children with dengue hemorrhagic fever at Dr. Soekardjo Tasikmalaya Hospital in 2023. This research used an analytic observational method with cross sectional approach. Platelet velue and length of hospitalization data were taken from medical records. Statistic test used chi square test. The result showed that the majority of patients platelet levels fall into moderate thrombocytopenia (46.2%). The most common length of hospitalization is in the category of ≤ 4 days (57.7%). The statistical analysis result of the correlation between platelet levels with length of hospitalization in children with dengue hemorrhagic fever at Dr. Soekardjo Tasikmalaya Hospital in 2023 is acquired with p value=0,294 (p&gt;0,05). In conclusion, there was no relationship between platelet levels and length of hospitalization in children with dengue hemorrhagic fever at Dr. Soekardjo Tasikmalaya Hospital in 2023. In addition to platelet levels, the length of hospitalization may also be influenced by other factor such as age, hematocrit levels, leukocyte count, and nutrituional status.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Demam berdarah dengue merupakan penyakit menular yang diakibatkan oleh infeksi virus dengue dan disebarkan melalui gigitan nyamuk <em>aedes aegypti</em>. Pasien dapat menunjukkan berbagai tanda dan gejala seperti demam tinggi disertai trombositopenia. Jumlah cairan yang diberikan untuk tatalaksana demam berdarah dengue serta lama rawat inap berbeda-beda bergantung pada indeks hematologi. Dengan demikian, kadar trombosit pasien demam berdarah dengue dapat mempengaruhi lama rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar trombosit dengan lama rawat inap pada pasien demam berdarah dengue anak di RSUD Dr. Soekardjo Tasikmalaya tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional analitik dengan desain <em>cross sectional.</em> Data nilai trombosit dan lama rawat inap diambil dari rekam medis. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji korelasi <em>chi square</em><em>. </em>Hasil penelitian ini menunjukkan kadar trombosit pasien terbanyak terdapat pada kategori trombositopenia derajat <em>moderate</em> (46.2%) dan durasi lama rawat inap terbanyak adalah kategori ≤ 4 hari (57.7%). Hasil analisis hubungan antara kadar trombosit dengan lama rawat inap didapatkan nilai p=0,294 (p&gt;0,05). Tidak terdapat hubungan antara kadar trombosit dengan lama rawat inap pasien demam berdarah dengue anak di RSUD Dr. Soekardjo Tasikmalaya tahun 2023. Selain kadar trombosit, lama rawat inap dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti usia, hematokrit, leukosit, status gizi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17154 Hubungan Pengetahuan dengan Kesiapan Pencegahan Diare Pasca Banjir di Desa Bojongsoang 2025-02-21T20:46:30+08:00 Ndari Sindayani Putri ndari.nsp@gmail.com Siska Nia Irasanti siska@unisba.ac.id Yudi Feriandi yudi.feriandi@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Diarrhea is one of the common diseases after flooding, especially in areas where people do not have access to sanitation and clean water. Diarrhea is a loose bowel movement accompanied by an increase in the frequency, weight or volume of feces. Increasing understanding through knowledge can encourage a person's actions. Knowledge is everything that is obtained as a result of sensing an object, which is known to be able to raise attention to be prepared. Readiness is a person's state of being ready to act and respond to a situation which is one of the efforts to reduce the impact of a disaster. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of knowledge and readiness to prevent post-flood diarrhea in Bojongsoang Village, which is an area that often experiences flooding. This study used a rapid survey method with a cross-sectional approach on 210 respondents, samples were taken using a two-stage cluster method. The data for this study were obtained from a questionnaire on the level of knowledge and readiness to prevent post-flood diarrhea, then analyzed using a frequency distribution and Chi-square test on the SPSS application. The results showed that almost all respondents had a good level of knowledge, namely 186 people (88.6%) and most respondents also had good readiness, namely 118 people (56.2%). The results of the data analysis showed that there was no significant relationship between the level of knowledge and the readiness to prevent post-flood diarrhea (p = 0.516). This is influenced by socioeconomic factors, namely the level of income and the number of dependents at home owned by each head of the family. This study is expected to be a basis for the government and related organizations in improving education in flood-prone areas to prevent the spread of post-flood diarrhea.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Diare termasuk salah satu penyakit umum setelah banjir, terutama di daerah yang masyarakatnya tidak memiliki akses terhadap sanitasi serta air bersih. Diare merupakan buang air besar encer disertai peningkatan frekuensi, berat atau volume feses. Peningkatan pemahaman melalui pengetahuan dapat mendorong tindakan seseorang. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang didapatkan sebagai hasil penginderaan terhadap suatu objek, yang diketahui dapat memunculkan perhatian untuk bersiap siaga. Kesiapan adalah keadaan seseorang siap untuk bertindak dan menanggapi suatu situasi yang menjadi salah satu upaya untuk mengurangi dampak bencana. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan pencegahan diare pasca banjir di Desa Bojongsoang yang termasuk wilayah cukup sering mengalami banjir. Penelitian ini menggunakan metode <em>rapid survey</em> dengan pendekatan <em>cross sectional </em>pada 210 responden, sampel diambil dengan menggunakan metode klaster dua tahap. Data penelitian ini diperoleh dari kuesioner tingkat pengetahuan dan kesiapan pencegahan diare pasca banjir, kemudian dianalisis dengan distribusi frekuensi dan uji <em>Chi-square</em> pada aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu 186 orang (88.6%) dan sebagian besar responden memiliki kesiapan yang baik pula yaitu 118 orang (56.2%). Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan pencegahan diare pasca banjir (p=0,516). Hal ini dipengaruhi oleh faktor sosioekonomi yaitu tingkat penghasilan dan jumlah tanggungan dirumah yang dimiliki oleh setiap kepala keluarga. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pemerintah dan organisasi terkait dalam meningkatkan edukasi di wilayah rentan banjir untuk mencegah penyebaran diare pasca banjir.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17155 Pengaruh Asap Rokok dan Diabetes Melitus terhadap Alveoli Paru-paru Tikus 2025-02-21T20:48:17+08:00 Septina Zahirah Putri savnaazahirah@gmail.com Yuktiana Kharisma yuktiana@gmail.com Meike Rachmawati meikerachmawati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Diabetes mellitus (DM) affects glucose metabolism and various organs, including the lungs. Exposure to cigarette smoke exacerbates lung damage in DM due to toxic substances. This study aimed to identify the impact of cigarette smoke exposure on alveolar width in a rat model of DM. This research was a true in vitro experiment using 18 male Wistar strain rats divided into three groups: the control group (K1), the diabetes group exposed to cigarette smoke (K2), and the diabetes group exposed to cigarette smoke and given simvastatin and glibenclamide (K3). Diabetes was induced in the rats using streptozotocin (STZ), followed by treatment according to their respective groups, and observations were made for one month. Lung tissue was stained using Hematoxylin-Eosin (HE) staining and observed under a microscope at 400x magnification. One-way ANOVA test results showed no significant difference in the average alveolar width with p=0.283. An increase in alveolar width was found in K2 and a decrease in K3. This may be due to inflammatory and oxidative stress mechanisms. The administration of simvastatin and glibenclamide was able to reduce this damage with anti-inflammatory and antioxidant effects. This study provides a scientific basis for the development of additional therapies for DM patients with a risk of lung complications.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Diabetes tidak hanya memengaruhi metabolisme glukosa tetapi juga berdampak pada berbagai organ, termasuk paru-paru. Paparan asap rokok memiliki zat beracun sehingga memperparah dampak DM pada paru-paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak paparan asap rokok terhadap lebar alveoli pada tikus model diabetes melitus (DM). Penelitian ini merupakan <em>true</em> eksperimental invitro menggunakan 18 ekor tikus putih jantan galur Wistar dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol (K1), kelompok diabetes yang terpapar asap rokok (K2), dan kelompok diabetes yang terpapar asap rokok serta diberikan simvastatin dan glibenklamid (K3). Tikus diinduksi diabetes menggunakan streptozotocin (STZ), lalu dilakukan perlakuan sesuai kelompoknya dan diamati selama satu bulan. Jaringan paru-paru diwarnai menggunakan pewarnaan <em>Hematoxylin-Eosin</em> (HE) dan dilakukan pembacaan mikroskop pembesaran 400x. Hasil Uji One-way ANOVA tidak terdapat perbedaan signifikan pada rata-rata lebar alveoli didapatkan p=0.283. Ditemukan adanya peningkatan lebar pada K2 dan menurun pada K3. Hal ini mungkin disebabkan melalui mekanisme inflamasi dan stress oksidatif. Pemberian simvastatin dan glibenklamid mampu mengurangi kerusakan tersebut dengan efek antiinflamasi dan antioksidan. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk pengembangan terapi tambahan bagi pasien DM dengan risiko komplikasi paru-paru.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17156 Hubungan Tingkat Stres Kerja dan Kinerja Perawat di IGD RSUD Cianjur 2025-02-21T20:49:55+08:00 Zahra Fuza Azqia zahrafuzaazqiaa@gmail.com Caecilia Makaginsar caecilia@gmail.com Ariko Rahmat Putra ariko@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong><span lang="IN"> A high workload often causes stress, especially in high-pressure environments such as the emergency department (ED). Nurses working in the ED are at greater risk of experiencing stress due to intense job demands. This stress can negatively impact their performance, reducing effectiveness in providing patient care.This study aims to analyze the relationship between work stress levels and nurse performance in the ED of RSUD Sayang Cianjur. The study was conducted in October 2024 using a cross-sectional design, involving 43 ED nurses as samples. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods with the chi-square test or Fisher Exact test if the conditions were not met.&nbsp; The results showed that 58% of respondents experienced mild stress, while 77% had a fairly good performance. The Fisher Exact test resulted in p = 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between work stress levels and nurse performance. The higher the work stress, the lower the nurse's performance.&nbsp; High stress levels can hinder decision-making and cause uncontrolled behavior. Therefore, effective stress management strategies are necessary to improve nurse performance and maintain the quality of care in the ED.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="IN">Beban kerja yang tinggi sering kali menyebabkan stres, terutama di lingkungan penuh tekanan seperti ruang gawat darurat (IGD). Perawat di IGD berisiko lebih besar mengalami stres akibat tuntutan pekerjaan yang intens. Stres ini dapat berdampak negatif pada kinerja mereka, mengurangi efektivitas dalam memberikan pelayanan kepada pasien.&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres kerja dan kinerja perawat di IGD RSUD Sayang Cianjur. Studi ini dilakukan pada Oktober 2024 dengan desain cross-sectional, melibatkan 43 perawat IGD sebagai sampel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square atau uji Fisher Exact jika syaratnya tidak terpenuhi.&nbsp; Hasil penelitian menunjukkan 58% responden mengalami stres ringan, sementara 77% memiliki kinerja cukup baik. Uji Fisher Exact menunjukkan p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres kerja dan kinerja perawat. Semakin tinggi stres kerja, semakin rendah kinerja perawat.&nbsp; Stres yang tinggi dapat menghambat pengambilan keputusan dan menyebabkan perilaku tidak terkendali. Oleh karena itu, diperlukan strategi manajemen stres yang efektif untuk meningkatkan kinerja perawat dan menjaga kualitas pelayanan di IGD.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17162 Hubungan Anemia pada Ibu Hamil dengan Persalinan Prematur di RS Al-Islam Tahun 2023 2025-02-21T20:51:28+08:00 Aulia Nurafni Juliyanti aulianurafni2525@gmail.com Samsudin Surialaga samsudin_dr@yahoo.co.id Rio Dananjaya riodanan@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Anemia is a condition where the number of red blood cells or the concentration of hemoglobin (Hb) in the blood is lower than the normal limit.&nbsp;Anemia in pregnancy is diagnosed when the hemoglobin (Hb) level is &lt;11 g/dL.&nbsp;One of the impacts of anemia during pregnancy is the birth of a premature baby.&nbsp;Premature babies are babies born at less than 37 weeks of gestation.&nbsp;Complications that can occur when a baby is born prematurely include acute respiratory problems, gastrointestinal issues, immunological problems, central nervous system issues, hearing, vision, as well as motor, cognitive, emotional behavioral, and long-term growth problems.&nbsp;The aim of this study is to determine the relationship between anemia in pregnant women and the incidence of premature births at Al Islam Hospital Bandung in 2023.&nbsp;The research method used is an analytical observational with a cross-sectional approach.&nbsp;The sampling in this study used secondary data in the form of patient medical records from the year 2023 at Al Islam Hospital.&nbsp;Data processing used statistical tests with chi-Square.&nbsp;The results show a relationship between anemia in pregnant women and the incidence of premature births at Al Islam Hospital Bandung in 2023 through the chi-square test with a p-value of 0.022 (&lt; 0.05).Therefore, the researchers concluded that there is a significant relationship between anemia in pregnant women and premature delivery at Al Islam Hospital.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Anemia merupakan kondisi jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin (Hb) didalam darah lebih rendah dari batas normal. Anemia pada kehamilan ditegakkan apabila kadar hemoglobin (Hb) &lt;11 g/dL. Salah satu dampak anemia pada kehamilan adalah bayi yang terlahir prematur. Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Komplikasi yang dapat terjadi ketika bayi terlahir prematur meliputi, masalah pernafasan akut, gastrointestinal, imunologi, sistem saraf pusat, pendengaran, penglihatan, serta masalah motorik, kognitif, perilaku emosional dan pertumbuhan jangka panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan anemia pada ibu hamil dengan angka kejadian persalinan prematur di Rumah Sakit Al Islam Bandung Tahun 2023. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan data sekunder berupa data rekam medis pasien tahun 2023 di Rumah Sakit Al Islam. Pengolahan data menggunakan uji statistik dengan chi-Square. Hasil menunjukkan terdapat hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan angka kejadian persalinan prematur di Rumah Sakit&nbsp; Al Islam Bandung tahun 2023 melalui uji chi-square dengan nilai p-value 0,022&nbsp; (&lt; 0,05).&nbsp; Maka kesimpulan peneliti terdapat hubungan yang signifikan antara anemia pada ibu hamil dengan persalinan prematur di Rumah Sakit Al Islam.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17164 Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Tamansari Kota Bandung Tahun 2024 2025-02-21T20:55:17+08:00 Revi Destiana Yahya revidestiana98@gmail.com Sadeli Masria sadelimasria1945@gmail.com Winni Maharani winni@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Acute Respiratory Infection (ARI) is a disease affecting the respiratory system caused by viruses or bacteria. It can occur at any age but is more common in individuals with weak immune systems, such as toddlers. One environmental risk factor for ARI is exposure to cigarette smoke from family members. This study aims to analyze the relationship between family smoking behavior and ARI incidence in toddlers at Tamansari Health Center, Bandung, in 2024. The study uses an analytical observational method with a cross-sectional approach. A purposive sampling technique was applied to 56 ARI patients aged 1-59 months who met the inclusion criteria. Data analysis was conducted using the chi-square test, resulting in a p-value of 0.713, indicating no significant association between family smoking habits and ARI incidence in toddlers. The study concludes that while family smoking behavior does not significantly impact ARI cases in toddlers, exposure to cigarette smoke may still pose health risks, particularly due to toddlers’ developing respiratory systems and weak immunity, which could increase susceptibility to irritation.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Penyakit Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan dan disebabkan oleh virus maupun bakteri. Penyakit ISPA dirasakan oleh seluruh usia namun rentan terjadi pada mereka yang memiliki sistem imun lemah seperti balita. Salah satu faktor risiko terjadinya ISPA adalah faktor lingkungan yaitu paparan asap rokok yang ditimbulkan oleh anggota keluarga. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan perilaku merokok anggota keluarga terhadap kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Tamansari kota Bandung tahun 2024. Metode penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional.</em> Penelitian dilakukan dengan teknik pengambilan sampel menggunakan <em>purposive sampling</em> pada penderita ISPA berusia 1-59 bulan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 56 orang. Analisis data dilakukan dengan uji <em>chi-square</em>. Hasil penelitian diperoleh nilai <em>p-value</em> sebesar 0,713 yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara perilaku merokok anggota keluarga dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Tamansari kota Bandung tahun 2024. Kesimpulan penelitian ini adalah kebiasaan merokok anggota keluarga tidak berdampak secara signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita namun tidak sepenuhnya menghilangkan potensi risiko yang ditimbulkan oleh paparan asap rokok terhadap kesehatan balita, terutama dengan kondisi kekebalan tubuh balita yang lemah dan saluran pernapasan yang masih dalam tahap pertumbuhan dapat berpotensi untuk meningkatkan iritasi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17165 Perbedaan Pengetahuan Sadari pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Hukum UNISBA 2025-02-21T20:59:51+08:00 Fanny Nur Dwi Amalia fannynurdwiamalia@gmail.com Mia Kusmiati mia.kusmiati@unisba.ac.id Dony Septriana Rosady dony.septriana@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract. </strong>Breast self-examination (BSE) is an early detection method to detect abnormalities in the breast, which is very important for women to do since adulthood. Breast cancer itself is the second largest cause of death from cancer in women worldwide, with a new prevalence reaching 68,858 cases in Indonesia in 2020. This study aims to determine the differencesin women's knowledge levels about BSE as an early detection of breast cancer in female students of the Faculty of Medicine and Law, Bandung Islamic University (UNISBA). The method used is a descriptive observational study with a cross- sectional approach. The sample selection technique used purposive sampling in female students of the Faculty of Medicine and Faculty of Law, UNISBA. The determination of the subjects was obtained using the sample size formula for a comparison of two proportions, consisting of 260 samples. The results showed that most female students of the Faculty of Medicine, UNISBA had good knowledge about BSE (73.05%), as well as female students of the Faculty of Law, UNISBA who had good knowledge (76.34%). Statistical tests using the Mann Whitney test showed that there was no significant difference between the two groups in terms of knowledge about BSE (p = 0.186 &gt; 0.05). In conclusion, knowledge about SADARI is understood by various groups, not only students of the Faculty of Medicine but also by non-medical faculties.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak. </strong>Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah metode deteksi dini untuk mendeteksi kelainan pada payudara, yang sangat penting dilakukan oleh wanita sejak usia dewasa. Kanker payudara sendiri merupakan penyebab kematian terbesar kedua akibat kanker pada wanita di seluruh dunia, dengan prevalensi baru mencapai 68.858 kasus di Indonesia pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan wanita tentang SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara pada mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Hukum Universitas Islam Bandung (UNISBA). Metode yang digunakan adalah penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pemilihan sampel menggunakan purposive sampling pada mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Hukum UNISBA. Penentuansubjek tersebut didapatkan menggunakan rumus ukuran sampel untuk perbandingan dua proporsi, yang terdiri dari 260 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi Fakultas Kedokteran UNISBA memiliki pengetahuan yang baik tentang SADARI (73,05%), demikian pula dengan mahasiswi Fakultas Hukum UNISBA yang memiliki pengetahuan baik (76,34%). Uji statistik menggunakan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaanyang signifikan antara kedua kelompok dalam hal pengetahuan mengenai SADARI (p=0,186 &gt; 0,05). Kesimpulannya, pengetahuan tentang SADARI dipahami oleh berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa Fakultas Kedokteran tetapi juga oleh Fakultas Non Kedokteran.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17171 Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Anemia di SMAN 9 Bandung 2025-02-21T21:02:00+08:00 Adinda Putri Ainiyyah adindaputriainiyyah6@gmail.com Samsudin Surialaga Samsudin_dr@yahoo.co.id Nurul Romadhona nromadhonadr@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Anemia is one of the health issues commonly experienced by adolescent girls, which can impact learning concentration, productivity, and quality of life. Adequate knowledge about anemia is essential to prevent and manage this condition. This study aims to describe the level of knowledge about anemia among adolescent girls at SMAN 9 Bandung. The study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. The population consisted of all adolescent girls at SMAN 9 Bandung, with a total sample of 87 respondents selected using a total sampling technique. Data collection was conducted using a questionnaire covering aspects of definition, symptoms, impacts, prevention, and overall knowledge about anemia. Data analysis was performed univariately to observe the frequency distribution and percentage of respondents' knowledge. The results showed that the majority of respondents had good knowledge about anemia 63% of respondents demonstrated good knowledge about anemia. These findings reflect the success of health education programs and good access to information, although efforts to improve awareness of anemia symptoms are still needed. This study highlights the importance of strengthening more focused and interactive health education to enhance adolescent girls' awareness of anemia<span lang="EN-ID">.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstrak.</strong> Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri, yang dapat berdampak pada konsentrasi belajar, produktivitas, dan kualitas hidup. Pengetahuan yang baik mengenai anemia sangat penting untuk mencegah dan menangani kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang anemia di SMAN 9 Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri di SMAN 9 Bandung, dengan sampel sebanyak 87 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mencakup aspek pengertian, tanda-tanda, dampak, pencegahan, dan anemia secara keseluruhan. Analisis data dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase pengetahuan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik tentang anemia, terutama pada aspek pengertian (60,92%), dampak (55,17%), dan pencegahan (66,67%). Namun, pemahaman terhadap tanda-tanda anemia masih rendah, dengan sebagian besar responden berada dalam kategori cukup (36,78%) dan kurang (36,78%). Secara keseluruhan, sebanyak 63% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang anemia. Hasil ini mencerminkan keberhasilan program edukasi kesehatan dan akses informasi yang baik meskipun masih diperlukan upaya peningkatan pada aspek tanda-tanda anemia. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya penguatan edukasi kesehatan yang lebih fokus dan interaktif untuk meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap anemia.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17174 Hubungan Durasi Konsumsi OAINS dengan Gastritis di RS Al-Irsyad Haurgeulis 2025-02-21T21:04:18+08:00 Akmal Labib akmallabibbajri@gmail.com Abdul Hadi Hasan abdulhadihassan@yahoo.com Mochammad Faisal Afif Mochyadin mochammad.faisal.afif@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are a class of drugs that can reduce inflammation, and are used as antipyretics, anti-inflammatory agents, and analgesics. The use of NSAIDs can lead to the occurrence of gastritis. Gastritis is a condition characterized by inflammation or bleeding in the mucosal lining of the stomach. This study aims to determine the relationship between the duration of NSAID consumption and the incidence of gastritis in patients at Al-Irsyad Al-Islamiyyah Haurgeulis Hospital. The sampling technique used in this study is consecutive sampling. The sample in this study includes 170 surgical outpatients at Al-Irsyad Al-Islamiyyah Haurgeulis Hospital. This study uses a correlational analytic design with a quantitative method and a retrospective cohort approach. Data were collected by obtaining medical records and distributing questionnaires regarding NSAID consumption. Data analysis was conducted using the Chi-Square test and SPSS software. This study's results indicate no significant relationship between NSAID consumption and the incidence of gastritis in patients at Al-Irsyad Al-Islamiyyah Haurgeulis Hospital, with a p-value &gt; 0.05 (p=0,799).</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Obat anti-inflamasi non-steroid (OAIINS) merupakan obat yang dapat menurunkan peradangan, diberikan sebagai antipiretik, antiinflamaasi, dan analgesik. Penggunaan OAINS dapat menyebabkan terjadinya gastritis. Gastritis merupakan kondisi terjadinya peradangan atau perdarahan pada dinding mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama waktu konsumsi OAINS dengan kejadian gastritis pada pasien di Rumah Sakit Al-Irsyad Al-Islamiyyah Haurgeulis. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan <em>consecutive sampling. </em>Sampel pada penelitian ini adalah Pasien poli bedah di Rumah Sakit Al-Irsyad Al-Islamiyyah Haurgeulis sebanyak 160 dari minimal 97 sampel. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelatif dengan metode kuantitatif dan pendekatan <em>cohort retrospective. </em>Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan rekam medis dan penyebaran kuesioner mengenai konsumsi OAINS yang kemudian dianalisis dengan uji <em>chi-square </em>dan perangkat lunak SPSS<em>. </em>Hasil penelitian diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antata konsumsi OAINS dengan gejala gastritis pada pasien di Rumah Sakit Al-Irsyad Al-Islamiyyah Haurgeulis dengan nilai <em>p-value </em>&nbsp;&gt; 0,05 (<em>p</em>=0,799).</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17176 Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mengenai Aktivitas Fisik dengan Persentase Lemak Tubuh pada Remaja Putri di SMAN 1 Padalarang 2025-02-21T21:06:31+08:00 Shalsabila Meidian shalsabila034@gmail.com Ieva Baniasih Akbar ieva.b.akbar@gmail.com Rizky Suganda Prawiradilaga rizkysuganda@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>The prevalence of excessive body fat among adolescents remains a pressing health issue. Changes in dietary patterns, which tend to favor fast food, and a sedentary lifestyle contribute to this health problem. The lack of in-depth research on the relationship between knowledge, attitudes, and physical activity behavior with body fat percentage in adolescent girls in the area, indicating a need to understand the factors that influence adolescent health. The purpose of this study is to determine the relationship between knowledge, attitudes, and behavior regarding physical activity with body fat percentage in female adolescents at SMAN 1 Padalarang. The research method used is analytical observational with a cross-sectional approach and instruments in the form of a questionnaire from Youth Physical Activity Quisionaire (YPAQ)to measure knowledge, attitudes, and physical activity behavior as well as a Bioelectrical Impedance Analyzer (BIA) to measure body fat percentage with 118 female adolescent research subjects aged 15-18 years. The results of the study show, most of the female students at SMAN 1 Padalarang had a lower level of knowledge (59.66%), negative attitudes (95.80), low behavior (61.34%) and most of the female students at SMAN 1 Padalarang have a body fat percentage in the normal category (39.50%). The results of the study showed that the Fisher Exact relationship test showed no relationship.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="EN-US">Prevalensi lemak tubuh berlebih di kalangan remaja tetap menjadi masalah kesehatan yang mendesak. </span><span lang="IN">Perubahan pola konsumsi makanan yang cenderung mengarah pada makanan cepat saji dan gaya hidup yang tidak aktif berkontribusi terhadap masalah kesehatan ini. </span><span lang="EN-US">K</span><span lang="IN">urangnya penelitian yang mendalam mengenai hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku aktivitas fisik dengan persentase lemak tubuh pada remaja putri di daerah tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan remaja. Tujuan penelitian ini adalah </span>untuk mengetahui bagaimana hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai aktivitas fisik dengan persentase lemak tubuh pada remaja putri di SMA 1 Padalarang<span lang="IN">. Metode penelitian yang digunakan adalah </span><span lang="EN-US">observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> dan instrumen berupa kuesioner dari <em>Youth Physical Activity Quisionaire </em>(YPAQ) untuk mengukur pengetahuan, sikap dan perilaku aktivitas fisik serta <em>Bioelectrical Impadance Analyzer</em> (BIA) untuk mengukur persentase lemak tubuh </span><span lang="IN">dengan jumlah </span><span lang="EN-US">118 </span><span lang="IN">subjek penelitian </span><span lang="EN-US">remaja putri berusia 15.</span><span lang="IN">Hasil penelitian menunjukkan</span><span lang="EN-US"> s</span><span lang="IN">iswi SMAN 1 Padalarang lebih banyak yang memiliki tingkat </span><span lang="EN-US">pengetahuan rendah (59,66%), sikap negatif (95,80), </span><span lang="IN">perilaku rendah </span><span lang="EN-US">(61,34%) dan s</span><span lang="IN">ebagian besar siswi SMAN 1 Padalarang memiliki persentase lemak tubuh dengan kategori normal</span><span lang="EN-US"> (39,50%). </span><span lang="IN">Hasil penelitian menunjukan bahwa uji hubungan dengan <em>Fisher Exact</em> menunjukan tidak adanya hubungan.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17183 Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Derajat Nyeri Dismenore Primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Unisba Tahun 2024 2025-02-21T21:08:26+08:00 Farhah Shalihah 10100121184@unisba.ac.id Mia Kusmiati mia.kusmiati@unisba.ac.id Dony Septriana Rosady dony.septriana@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Body mass index (BMI) and the degree of primary dysmenorrhea pain are important factors that are often studied in adolescent reproductive health. This study aims to provide an overview of the distribution of BMI and the degree of primary dysmenorrhea pain in female students. This study used a cross-sectional study with a descriptive approach. A total of 150 respondents were selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and anthropometric measurements, then analyzed using a frequency distribution. The results showed that the majority of respondents had a BMI in the normal category, which was 68 people (45.3%), followed by respondents with an obese category of 30 people (20.0%), thin category of 27 people (18.0%), and overweight category of 25 people (16.7%). The highest degree of dysmenorrhea pain was moderate pain with 74 people (49.3%), followed by mild pain of 39 people (26%), and severe pain of 37 people (24.7%). Conclusion: Most respondents had a normal BMI with a moderate degree of primary dysmenorrhea pain. This information can be a basis for increasing education about healthy lifestyles in reducing the degree of pain in primary dysmenorrhea.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Indeks massa tubuh (IMT) dan derajat nyeri dismenore primer merupakan faktor penting yang sering dikaji dalam kesehatan repsroduksi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran distribusi IMT dan derajat nyeri dismenore primer pada mahasiswi. Peneltian ini menggunakan <em>cross-sectional </em>dengan pendekatan deskriptif. Sebanyak 150 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki IMT dalam kategori normal, yaitu sebanyak 68 orang (45,3%), diikuti responden dengan kategori obesitas 30 orang (20,0%), kategori kurus sebanyak 27 orang (18,0%), dan kategori berat badan lebih 25 orang (16,7%). Derajat nyeri dismenorea terbanyak adalah nyeri sedang&nbsp; dengan jumlah 74 orang (49,3%), lalu diikuti nyeri ringan sebanyak 39 orang (26%), dan nyeri berat sebanyak 37 orang (24,7%). Kesimpulan : Sebagian besar responden memiliki IMT normal dengan derajat nyeri dismenorea primer sedang. Informasi ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan edukasi mengenai pola hidup sehat dalam mengurangi derajat nyeri dismenorea primer.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17207 Profil Hematologi Dengue Fever dan Dengue Hemorragic Fever pada Anak 2025-02-21T21:10:33+08:00 Rainy Nur Azizah Putri Daen rainynurazizah618@gmail.com Lisa Adhia Garina Lisa.adhia@gmail.com Zulmansyah zulmansyah@unisba.ac.id <p><strong>Abstract</strong><strong>.</strong> Dengue fever and Dengue hemmoraghic fever have a high mortality rate in Indonesia, especially in children, so blood laboratory examinations are carried out. This study aims to find out the picture of the hematological profile in DF and DHF patients. The research uses an observational method with a cross sectional study. Secondary data was taken from the medical records of Al-Ihsan Hospital in 2022–2023. The diagnosis of DF and DHF is based on WHO criteria. Variables are expressed in mean and standard deviation, categorical in numbers and percentages using SPSS version 25. Based on the results of 132 children with DF and DHF, it shows that the majority occur in the age group of &lt;10 years and most often in women. There were average Hb levels in DF and DHF ± 12.3 1.8 and 13.0 ± 2.0, average Ht levels in DF and DHF were 35.9 ± 5.1 and 37.4 ± 5.4, average leukocyte count in DF and DHF was 5,580 ± 2,907 and 4,960 ± 2,510, and platelet count in DF and DHF are 98,000 ± 32,000 and 94,000 ± 60,000. Results of Ig M + and Ig G + examinations in children with DHF. The conclusion of the study was that the platelet count was lower in DHF, leukopenia, mostly with Ig M + and Ig G + results.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Dengue fever</em> dan <em>Dengue hemmoraghic fever</em> memiliki angka kematian tinggi di Indonesia terutama pada anak, sehingga dilakukan pemeriksaan laboratorium darah. Penelitian&nbsp; ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil hematologi pada pasien DF dan DHF. Penelitian&nbsp; menggunakan metode observasional dengan studi <em>cross sectional. </em>Data sekunder diambil dari rekam medis RSUD Al-Ihsan pada tahun 2022–2023. Diagnosis DF dan DHF berdasarkan kriteria WHO. Variabel numerik dinyatakan dalam rerata dan simpang baku, variabel kategorik dinyatakan dalam jumlah dan persentase menggunakan SPSS versi 25. Berdasarkan hasil dari 132 anak dengan DF dan DHF menunjukan bahwa mayoritas terjadi pada kelompok usia &lt;10 tahun dan paling sering pada perempuan. Terdapat rerata kadar Hb pada DF dan DHF adalah&nbsp; 12,3 ± 1,8 dan 13,0 ± 2,0, rerata kadar Ht pada DF dan DHF adalah 35,9 ± 5,1 dan 37,4 ± 5,4, rerata jumlah leukosit pada DF dan DHF adalah 5.580 ± 2.907 dan 4.960 ± 2.510, dan rerata jumlah trombosit pada DF dan DHF adalah 98.000 ± 32.000 dan 94.000 ± 60.000. Hasil pemeriksaan Ig M + dan Ig G + pada anak dengan DHF. Kesimpulan penelitian didapatkan rerata jumlah trombosit yang lebih rendah pada DHF, leukopenia,&nbsp; sebagian besar dengan hasil Ig M + dan Ig G +.&nbsp;</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17211 Tren Pola Resistensi Bakteri terhadap Karbapenem di Suatu Fasilitas Pelayanan Kesehatan Bandung pada Tahun 2019–2023 2025-02-21T21:12:37+08:00 Raga Satria demamdenun@gmail.com Yani Triyani ytriyani87@gmail.com Yuke Adriane andrianeyuke@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Antibiotic resistance is a global health crisis, including in Indonesia. Bacterial adaptation to antibiotics threatens the effectiveness of infection treatment, increasing morbidity and mortality. The purpose of this study was to determine the description, trends, and incidence of infectious diseases caused by bacterial resistance to Carbapenem in a Bandung Health Service Facility in the period 2019-2023. This research method is descriptive with a cross-sectional research design. The subjects of this study used 1427 bacterial culture data from various specimens and carbapenem resistance tests of patients at the Bandung Health Service Facility Laboratory during the period 2019─2023 which were taken using the total population sampling technique. The research sample was in the form of secondary data from diagnosis and antibiotic sensitivity tests. The results showed that out of 1427 samples, 504 were resistant, dominated by Staphylococcus epidermidis. The increasing trend of bacterial resistance and incidence of infection peaked in 2021 (97 and 143 cases), with respiratory tract infections showing the highest resistance. Conclusion, shows that bacterial resistance, dominated by Gram-positive, experienced an increasing trend during the period 2019-2023.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Resistansi antibiotik merupakan krisis kesehatan global, termasuk di Indonesia. Adaptasi bakteri terhadap antibiotik mengancam efektivitas pengobatan infeksi, meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran, tren, dan insidensi penyakit infeksi yang diakibatkan resistansi bakteri terhadap Karbapenem di suatu Fasilitas Pelayanan Kesehatan Bandung pada periode 2019-2023. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan penelitian secara secara <em>Cross sectional</em>. Subjek penelitian ini menggunakan 1427 data hasil kultur bakteri dari berbagai spesimen dan uji resistansi Karbapenem pasien di Laboratorium Fasilitas Pelayanan Kesehatan Bandung selama periode 2019─2023 yang diambil dengan teknik <em>total population sampling</em>, Sampel penelitian berupa data sekunder hasil diagnosis dan uji kepekaan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan dari 1427 sampel, 504 resistan, didominasi <em>Staphylococcus epidermidis</em>. Peningkatan tren resistansi bakteri dan insidensi infeksi mencapai puncaknya pada tahun 2021 (97 dan 143 kasus), dengan infeksi saluran napas menunjukkan resistansi tertinggi. Simpulan, menunjukkan bahwa resistansi bakteri, didominasi Gram positif, mengalami tren peningkatan selama periode 2019-2023.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17226 Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Perilaku Remaja Mengenai Stunting 2025-02-21T21:14:48+08:00 Fauziyyah Kesha Ma'arif keshafauziyyah@gmail.com Lelani Reniarti Marsaman lelanir@yahoo.com Rizky Suganda Prawiradilaga rizkysuganda@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Stunting is a serious health issue characterized by impaired growth in toddlers due to insufficient nutritional intake, especially during the first 1,000 days of life. The global stunting prevalence reached 22.9% (WHO, 2016), with Indonesia ranking second highest in Southeast Asia. In West Bandung Regency, the stunting prevalence was 27.3% in 2022, highlighting the need for intervention, particularly through adolescent education as future parents. This study aims to describe the knowledge, attitudes, and behaviors of 10th-grade students at SMAN 1 Padalarang regarding stunting. A quantitative study with a cross-sectional design and observational-analytic approach was conducted, involving 206 respondents. Data were collected using questionnaires measuring knowledge, attitudes, and behaviors related to stunting. Results showed that 44.7% of respondents had low knowledge, while 67% had positive attitudes. Meanwhile, 55.8% demonstrated moderate preventive behaviors. The Chi-Square test revealed a significant relationship between knowledge and attitudes (p=0.003) but no significant relationship between attitudes and behavior (p=0.384) or knowledge and behavior (p=0.124). These findings indicate that while adolescents have positive attitudes, their knowledge remains low, and preventive behaviors need strengthening through comprehensive school-based education to enhance awareness and readiness for stunting prevention.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Stunting </em>adalah masalah kesehatan serius yang ditandai oleh gangguan pertumbuhan balita akibat kurangnya asupan gizi, terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Prevalensi stunting global mencapai 22,9% (WHO, 2016), dengan Indonesia berada di peringkat kedua tertinggi di Asia Tenggara. Di Kabupaten Bandung Barat, prevalensi <em>stunting</em> sebesar 27,3% pada tahun 2022, menekankan pentingnya intervensi, khususnya melalui edukasi remaja sebagai calon orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja kelas 10 di SMAN 1 Padalarang terkait <em>stunting</em>. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em> dan pendekatan observasional analitik. Sebanyak 206 responden dipilih sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja terhadap stunting. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan dengan kategori kurang (44,7%), namun sebagian besar memiliki sikap yang positif (67%). Perilaku responden mayoritas berada pada kategori cukup (55,8%). Uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap (p=0,003), namun tidak signifikan antara sikap dan perilaku (p=0,384) serta pengetahuan dan perilaku (p=0,124). Dari hasil tersebut didapatkan pengetahuan remaja tentang <em>stunting</em> masih rendah, meskipun sikap positif mendominasi. Sedangkan, perilaku pencegahan memerlukan penguatan melalui edukasi komprehensif berbasis sekolah untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan remaja dalam pencegahan stunting.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17240 Hubungan Penghasilan Orang Tua dengan Keparahan Stunting Balita di Kecamatan Ngawen 2025-02-21T21:25:53+08:00 Sofia Alafida Ayunikusuma sofiaalafida@gmail.com Noormartany noormartany@gmail.com R. Kince Sakinah r.kince.sakinah@gmail.com <p><strong>Abstract</strong><strong>.</strong> Stunting is a condition where the height of children and toddlers is less than two standard deviations below the median value of child growth according to the Child Growth Standards. Parental income level is one of the factors in providing the nutritional needs of toddlers. The aim of this research is to analyze the relationship between parental income level and the severity of stunting in toddlers at the Ngawen District Health Center, Blora Regency. This type of research uses analytical observational methods, with a cross sectional approach, which was carried out in the work area of ​​the Ngawen District Health Center, with a total of 87 respondents. Data was obtained using parental income level. Data were analyzed using the chi-square test. Based on the results of univariate analysis, it was found that the majority of parents were of low status. The cross tabulation results also show that parents with high incomes have 4 stunted toddlers (4.6%), medium incomes have 17 stunted toddlers (19.5%), while with low incomes there are 25 stunted toddlers (28 .7%). Very high income levels have no severely stunted toddlers, high incomes have 3 severely stunted toddlers (3.4%), medium incomes have 21 severely stunted toddlers (24.1%), while low incomes have severely stunted toddlers as many as 17 people (19.5%). %). Based on the results of the chi-square test, a p-value of 0.0000 was obtained with a correlation coefficient of 0.796, this shows that there is no relationship between the level of education and the severity of stunting in the Ngawen District Community Health Center, Blora Regency.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama yang sekarang menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Tingkat penghasilan orang tua menjadi salah satu faktor dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan tingkat penghasilan orang tua dengan tingkat keparahan <em>stunting </em>pada balita di Puskesmas Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora. Jenis penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, dengan pendekatan <em>cross sectional</em>, yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Ngawen, dengan jumlah responden 87 orang. Data diperoleh menggunakan formulir tingkat penghasilan orang tua. Data dianalisis menggunakan <em>chi-square test</em>. Berdasarkan hasil analisis univariat didapatkan bahwa mayoritas orang tua berada di usia dewasa awal (20–35 tahun) dengan prosentase 91,1 %. Berdasar jenis pekerjaan ibu, hampir seluruhnya berstatus sebagai ibu bekerja yaitu 122 orang (90,4%) dan hanya 13 orang ibu sebagai ibu rumah tangga (9,6%). Hasil tabulasi silang juga menunjukkan bahwa ibu dengan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi lebih banyak memiliki anak yang tidak stunting dan sebaliknya ibu dengan pendidikan dasar dan tidak sekolah banyak yang memiliki anak dengan stunting. Berdasar hasil uji <em>chi-square </em>didapatkan hasil <em>p-value</em> 0,0000 dengan koefisien korelasi 0,796, hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat keparahan <em>stunting</em> di Puskemas Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17243 Hubungan HbA1c dan Derajat Retinopati Diabetik 2025-02-21T21:26:15+08:00 Gayatri Mia 10100121198@unisba.ac.id Fajar Awalia Yulianto fajar@unisba.ac.id Titik Respati titik.respati@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong><span lang="IN"> Type 2 Diabetes Mellitus is a chronic metabolic disease characterized by hyperglycemia due to insulin resistance or insulin deficiency. One common microvascular complication in DM patients is diabetic retinopathy which can lead to decreased visual acuity and blindness. This study aims to analyze the relationship between </span><span lang="EN-US">HbA1c</span><span lang="IN"> levels and the degree of DR in type 2 DM patients at RS Al-Ihsan Bandung. The research methodology employed an analytical observational design with a cross-sectional approach, involving 37 patients who met inclusion and exclusion criteria. Data were collected from medical records and analyzed using the Chi Square test. The study results indicated that the majority of patients had abnormal HbA1c levels; however, no significant relationship was found between HbA1c levels and the degree of DR in both &lt;5 years and ≥5 years DM duration groups (p=0.357 and p=1.000). The discussion highlights the possibility of other risk factors influencing the development of DR, such as hypertension and dyslipidemia. The study's limitations include a small sample size and incomplete data. The conclusion suggests the necessity for comprehensive DM management and further research with larger samples and more complete variables.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong><span lang="EN-US"> Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh hiperglikemia akibat resistensi insulin atau defisiensi insulin. Salah satu komplikasi mikrovaskular yang umum terjadi pada pasien DM adalah retinopati diabetik yang dapat menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan dan kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar HbA1c dan derajat RD pada pasien DM tipe 2 di RS Al-Ihsan Bandung. Metodologi penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 37 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien memiliki kadar HbA1c tidak normal, namun tidak ditemukan hubungan signifikan antara kadar HbA1c dan derajat RD baik pada kelompok DM &lt;5 tahun maupun ≥5 tahun (p=0,357 dan p=1,000). Pembahasan mengemukakan kemungkinan faktor risiko lain yang mempengaruhi perkembangan RD, seperti hipertensi dan dislipidemia. Keterbatasan penelitian meliputi ukuran sampel yang kecil dan data yang tidak lengkap. Kesimpulan penelitian ini menyarankan perlunya pengelolaan DM yang komprehensif serta penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan variabel yang lebih lengkap.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17244 Hubungan Pola Makan dengan Gejala Gastritis pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun 2024 2025-02-21T21:27:59+08:00 Nasya Firhanti nasyafirhantinurjaman@gmail.com Arief Budi Yulianti budi.yulifk@gmail.com Ajeng Kartikasari akuajengkartika@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Gastritis is a common health issue experienced by adolescents and young adults, including medical students who often face academic pressure and irregular eating patterns. This study aims to explore the relationship between eating patterns and gastritis symptoms among students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung (UNISBA). This research employed an analytical observational approach with a cross-sectional design. Data were collected through questionnaires covering eating patterns and gastritis symptoms from 110 randomly selected students. Data analysis was conducted using the Chi-Square test to determine the relationship between variables.The majority of respondents exhibited good eating patterns (80.9%), while 19.1% showed poor eating patterns. The prevalence of gastritis was 20.9%, with poor eating patterns increasing the risk of gastritis by 7.058 times compared to good eating patterns (OR: 7.058; CI: 2.469-20.179, p &lt; 0.05).Eating patterns are significantly associated with gastritis symptoms among UNISBA medical students. These findings underscore the importance of maintaining regular eating habits to prevent gastritis and highlight the need for educational interventions to promote healthy eating habits among students.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan umum yang dialami oleh remaja dan dewasa muda, termasuk mahasiswa kedokteran yang sering menghadapi tekanan akademik dan pola makan yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara pola makan dengan gejala gastritis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (UNISBA).Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik observasional dengan desain cross-sectional. Data diperoleh melalui kuesioner yang mencakup pola makan dan gejala gastritis dari 110 mahasiswa yang dipilih secara acak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel.Sebagian besar responden memiliki pola makan baik (80,9%), sementara 19,1% menunjukkan pola makan tidak baik. Prevalensi gastritis adalah 20,9%, dengan pola makan tidak baik meningkatkan risiko gastritis sebesar 7,058 kali dibandingkan pola makan baik (OR: 7,058; CI: 2,469-20,179, p &lt; 0,05).Pola makan berhubungan signifikan dengan gejala gastritis pada mahasiswa FK UNISBA. Hasil ini menekankan pentingnya pola makan teratur dalam mencegah gastritis, serta perlunya intervensi edukatif terkait kebiasaan makan sehat pada mahasiswa.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17248 Hubungan Persentase Lemak Tubuh dengan Hipertensi pada Wanita Usia 40 - 55 Tahun di Puskesmas Tamansari 2025-02-21T21:28:04+08:00 Ivania Yuliza Zahrani ivaniayuliza@gmail.com Ratna Dewi Indi Astuti ratnawidjajadi@unisba.ac.id Ayu Prasetia ayu.prasetia@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> <em>Hypertension is a disease that can cause various deadly complications such as coronary heart disease, heart failure and stroke. An increase in the percentage of fat is also a factor in the occurrence of hypertension. This study aims to analyze the relationship between body fat percentage and hypertension in women aged 40-55 years at the Tamansari Community Health Center. <strong>&nbsp;</strong>This study is an analytical observational study with a cross-sectional approach. The study sample was derived from primary data collected through measurements of body fat percentage using an Omron device, and blood pressure measurements using a digital sphygmomanometer. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with a fisher’s exact test. A total of 62 respondents participated in the study. Most respondents experienced increased fat distribution (56 respondents, 90.32%), while the majority had normal blood pressure (37 respondents, 59.68%). The results showed no significant relationship between body fat percentage and hypertension, with a P-value of 0.579 (&gt;0.005</em> <em>Hypertension is a disease caused by many factors, namely gender, age, diet and lifestyle.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi mematikan seperti jantung koroner, gagal jantung dan stroke. Peningkatan persentase lemak juga menjadi salah satu faktor terjadinya penyakit hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Hubungan Persentase Lemak Tubuh dengan Hipertensi pada Wanita Usia 40–55 Tahun di Puskesmas Tamansari. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian berasal dari data primer yang diambil dari pengukuran persentase lemak menggunakan alat <em>BIA</em> serta pengukuran tekanan darah menggunakan alat tensi meter digital. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji <em>fisher’s exact</em>. Jumlah responden sebanyak 62 dengan karakteristik responden mayoritas mengalami peningkatan distribusi lemak sebanyak 56 responden (90.32%), mayoritas memiliki tekanan darah normal sebanyak 37 responden (59.68%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara persentase lemak dengan hipertensi dengan nilai P sebesar 0.579 (&gt;0.005). Hipertensi merupakan penyakit yang disebabkan oleh banyak faktok yaitu jenis kelamin, usia, pola diet dan gaya hidup.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17256 Studi Literatur: Tinjauan Efek Diabetes Melitus dan Rokok pada Kesehatan Pankreas 2025-02-21T21:28:11+08:00 Ratih Syifa Hanifah ratihsyifahanifah@gmail.com Yuktiana Kharisma yuktiana@gmail.com Rizki Perdana rizkifkunisba@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> The pancreas plays a crucial role in both endocrine and exocrine functions, maintaining glucose homeostasis and assisting in digestion. Diabetes mellitus (DM) and smoking are two significant factors that adversely affect pancreatic health, contributing to various disorders such as pancreatitis and pancreatic cancer. DM, a chronic metabolic condition, is characterized by persistent hyperglycemia due to either insulin deficiency or resistance, while smoking introduces harmful chemicals that promote inflammation and oxidative stress, further damaging pancreatic tissue. This literature review explores the effects of diabetes mellitus and smoking on pancreatic health, focusing on their role in pancreatic dysfunction, inflammation, and the development of diseases like pancreatitis. The combination of these factors creates a compounded risk for pancreatic health, highlighting the need for effective prevention and management strategies. A deeper understanding of the interactions between these conditions is essential for improving the diagnosis and treatment of pancreatic diseases.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Pankreas memiliki peran penting dalam tubuh, berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang mengatur kadar glukosa darah dan kelenjar eksokrin yang membantu proses pencernaan. Gangguan pada pankreas, seperti diabetes melitus (DM) dan penyakit pankreas lainnya, dapat berdampak buruk pada metabolisme tubuh. Diabetes melitus, terutama tipe 1 dan tipe &nbsp;2, dapat merusak fungsi pankreas, terutama sel beta yang menghasilkan insulin. Merokok juga merupakan faktor risiko utama untuk berbagai penyakit pankreas, termasuk pankreatitis dan kanker pankreas, serta memperburuk pengelolaan diabetes. Artikel ini bertujuan untuk meninjau efek kombinasi diabetes melitus dan kebiasaan merokok terhadap kesehatan pankreas. Berdasarkan studi literatur, ditemukan bahwa kedua faktor ini memiliki dampak kumulatif yang signifikan terhadap fungsi pankreas, dengan merokok memperburuk resistensi insulin dan inflamasi pankreas, yang pada akhirnya meningkatkan risiko komplikasi diabetes dan gangguan pankreas lainnya. Kesimpulannya, pencegahan dan pengelolaan yang komprehensif terhadap diabetes dan merokok sangat penting untuk menjaga kesehatan pankreas dan mencegah kerusakan lebih lanjut.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17261 Pengaruh Status Gizi terhadap Tuberkulosis Paru Anak di RS Rotinsulu Bandung 2025-02-21T21:30:00+08:00 Mayang Maura mayang.maura@gmail.com Noormartany noormartany@unisba.ac.id Sara Puspita sarapuspita@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Pulmonary Tuberculosis (TB) is a disease caused by bacterial infection Mycobacterium tuberculosis. This disease can affect various organs of the body, especially the lungs. TB can occur in individuals of all ages, but children are one of the groups most susceptible to this disease. Children have a high risk of contracting MTB because their immune system is less strong making them very susceptible to being infected with MTB. One important factor in a child's immunity and ability to fight infection is nutritional status. Children who are malnourished tend to have less strong immune systems, making them more susceptible to infections. This research was conducted on data on pediatric pulmonary TB cases owned by Rs. Paru Dr.H.A Rotinsulu 2022-2024 and aims to see whether nutritional status can influence the occurrence of pulmonary TB cases. This research was carried out using observational analytical methods with the Goodman kruskal gamma test. This research concluded 3 (three) things, namely: The majority of pediatric pulmonary TB sufferers at Rs. Paru Dr.H.A Rotinsulu 2022-2024 is female and aged less than 5 years: Pulmonary TB cases are not only experienced by children who have poor nutrition, but also those who have good nutrition; and it turns out that in this study nutritional status was not related to the presence of pulmonary TB cases in children.</p> <p><strong>&nbsp;Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) Paru adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri <em>Mycobacterium tuberculosis </em>(MTB). Penyakit ini&nbsp; dapat&nbsp; memengaruhi berbagai organ&nbsp; tubuh, terutama paru-paru. Salah satu&nbsp; faktor risiko terinfeksi TB diantaranya adalah&nbsp; faktor usia dan status gizi. Anak-anak dengan gizi buruk memiliki risiko tinggi terinfeksi MTB karena sistem kekebalan tubuh yang belum memadai dan diperburuk dengan status nutrisi yang kurang, sehingga menyebabkan penurunan fungsi imun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan status gizi dengan kejadian kasus tuberkulosis&nbsp; paru anak&nbsp; di&nbsp; Rs.&nbsp; Paru DR.H.A Rotinsulu &nbsp;Jawa Barat Periode 2022-2024. Data penelitian&nbsp;&nbsp; yang digunakan&nbsp; merupakan data sekunder&nbsp; yang diperoleh dari rekam&nbsp; medis pasien, sejumlah 184 data. Metode penelitian&nbsp; menggunakan metode analitik observasional dengan uji <em>Goodman kruskal gamma. </em>Hasil penelitian menunjukkan mayoritas&nbsp; penderita TB paru anak berjenis kelamin perempuan dengan kelompok usia 0-5 tahun. Hasil analisis didapatkan tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kasus baru dan selain baru pada tuberkulosis paru anak dengan nilai p=0.526. Terdapat faktor lain, selain status gizi,&nbsp; yang dapat memengaruhi anak terinfeksi MTB seperti jumlah bakteri, kepadatan hunian, dan kontak erat dengan penderita TB dewasa.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17266 Karakteristik Pasien dan Gambaran Klinis Dermatitis Kontak Iritan 2025-02-21T21:30:02+08:00 Ilham Muhammad Ridwan ilhamridwan1209@gmail.com Deis Hikmawati deis@unisba.ac.id R. Kince Sakinah r.kince.sakinah@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Irritant Contact Dermatitis (ICD) is a skin condition that arises due to contact with chemical substances. It is one of the most common skin diseases in society as a result of daily activities, especially in the workplace. Contact dermatitis is categorized into irritant contact dermatitis (ICD) and allergic contact dermatitis (ACD). Irritant Contact Dermatitis is a local inflammatory response that occurs when chemicals or physical factors directly cause cytotoxic damage to the skin. It is influenced by two risk factors: endogenous factors such as age, gender, skin location, history of atopy, genetics, and exogenous factors such as occupation. This study aims to analyze the characteristics of patients and the clinical presentation of irritant contact dermatitis. This descriptive retrospective study was conducted at RSAl Islam Bandung from 2019-2024 with a sample of 63 patients. Data were obtained from medical records including characteristics such as age, gender, occupation, predilection sites, and subjective and objective complaints. The data were analyzed using univariate analysis. The results showed that the majority of patients were in the Late Adult group (36-45 years) (32%), females (65%), housewives (35%), with hands being the most affected area (42%), subjective complaints of itching (83%), and objective complaints of erythema (45%).</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Le Dermatitis kontak (DK) adalah suatu kondisi kulit yang timbul akibat kontak dengan zat kimia. Dermatitis juga merupakan salah satu jenis penyakit kulit yang umum terjadi dalam masyarakat sebagai dampak dari kegiatan sehari-hari, terutama di lingkungan kerja. Kategori DK terbagi menjadi dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergi (DKA). Dermatitis Kontak Iritan merupakan respon inflamasi lokal yang terjadi ketika zat kimia atau faktor fisik menyebabkan kerusakan sitotoksik secara langsung pada kulit. Dipengaruhi oleh 2 faktor risiko yaitu faktor endogen seperti usia, jenis kelamin, lokasi kulit, riwayat atopi, genetik dan faktor eksogen seperti pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pasien dan gambaran klinis dermatitis kontak iritan. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif, yang dilakukan di RSAl Islam Bandung tahun 2019–2024 dengan jumlah sampel 63 pasien. Data diperoleh dari rekam medis berupa karakteristik yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, predileksi dan keluhan subjektif dan keluhan objektif. Data dianalisis dengan uji univariat<em>.</em> Hasil Penelitian menunjukan pasien terbanyak pada kelompok Dewasa Akhir (36-45) (32%), perempuan (65%), Ibu Rumah Tangga (IRT) (35%), tangan (42%), keluhan subjektif berupa gatal gatal (83%) dan keluhan objektif berupa eritema (45%).</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17282 Korelasi Vaksinasi Pneumokokkus dengan Prevalensi Pneumonia di Puskesmas Kabupaten Garut 2025-02-21T21:21:47+08:00 Abdullah Yhazwan Algifari yhazwan123@gmail.com Lelly Yuniarti Lelly.yuniarti@gmail.com Dicky Santosa drdickysantosamm@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Pneumonia is an inflammation that attacks the bronchi and alveoli, often occurring in children because their immune system is not fully developed. Pneumonia is still a health problem with a high prevalence in Indonesia. Prevention of pneumonia through vaccination, especially with the PCV vaccine, has been proven effective in reducing the risk of infection, increasing immunity, and supporting global health goals in accordance with the Sustainable Development Goals (SDGs). This study aims to analyze the correlation between pneumococcal vaccination coverage (PCV) and the incidence of pneumonia in toddlers at the Garut Regency Health Center. This research was taken from secondary data from the report of health centers in Garut Regency, for the 2022–2023 period. Sample selection is carried out using the total sampling method with predetermined inclusion and exclusion criteria. Data analysis was carried out using the Pearson correlation test. The results of the study showed that the average vaccination coverage at the Garut Regency Health Center was 1.98% and the average incidence of pneumonia at the Garut Regency Health Center was 16.73%. Correlation analysis showed that there was no correlation between PCV vaccination coverage and the incidence rate of pneumonia at (R=-0.11021). The incidence of pneumonia can be caused by various factors other than the administration of the pcv vaccine, namely exclusive breastfeeding and the nutritional status of the child.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Pneumonia adalah inflamasi yang menyerang bronkus dan alveoli, sering terjadi pada anak-anak karena sistem imun mereka belum berkembang sepenuhnya. Pneumonia masih menjadi masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia. Pencegahan pneumonia melalui vaksinasi, khususnya dengan vaksin PCV telah terbukti efektif dalam menurunkan risiko infeksi, meningkatkan kekebalan tubuh, serta mendukung tujuan kesehatan global sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara cakupan vaksinasi pneumokokus (PCV) dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Kabupaten Garut. Penelitian ini diambil dari data sekunder dari laporan puskesmas yang berada di Kabupaten Garut, periode 2022–2023. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode total sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata cakupan vaksinasi di Puskesmas Kabupaten Garut adalah 1,98% dan rerata kejadian pneumonia di Puskesmas Kabupaten Garut 16,73%. Analisis korelasi menunjukkan tidak adanya korelasi antara cakupan vaksinasi PCV dengan tingkat kejadian pneumonia di (R=-0.11021). Kejadian pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai faktor selain pemberian vaksin pcv yaitu pemberian ASI ekslusif dan status gizi anak.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17288 Hubungan Aktivitas Fisik terhadap Usia Menarche pada Anak Sekolah Dasar di Kota Bandung 2025-02-21T21:20:13+08:00 Ghaitsa Zahira Ruslan gaitsahira@gmail.com Nurhalim Shahib nurhalimshahib@unisba.ac.id Eva Rianti Indrasari evaindrasari@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> Menarche is an early indicator of female reproductive life influenced by factors such as physical activity and sedentary lifestyle. The declining age of menarche raises health concerns, including risks of obesity, cardiovascular diseases, and breast cancer. This study analyzed the relationship between physical activity, sedentary lifestyle, and the age of menarche among elementary school children in Bandung. The study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. Subjects were 99 female students in grades 3–6 at Bandung Islamic School (BISc). Data were collected using the PAQ-C questionnaire for physical activity and ASAQ for sedentary lifestyle and analyzed univariately and bivariately using the Chi-square test and prevalence ratio with a 95% confidence interval. Results showed that most respondents had very low physical activity levels (80.81%), only 2.02% had high physical activity, and all had a mild sedentary lifestyle (100%). Normal menarche age (≥11 years) was observed in 28.28% of respondents, while 8.08% experienced early menarche (&lt;11 years). Analysis revealed no significant relationship between physical activity and the age of menarche (p = 0.94). The relationship between sedentary lifestyle and menarche age could not be analyzed due to the lack of respondents with high sedentary levels. These findings suggest that low physical activity does not correlate with the age of menarche, aligning with previous studies emphasizing the greater influence of genetic and nutritional factors. The results may reflect the urban lifestyle patterns and the homogeneous study population from a single school.</p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <em>Menarche </em>adalah indikator awal kehidupan reproduksi perempuan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas fisik dan gaya hidup sedentari. Penurunan usia menarche menjadi perhatian karena berdampak pada risiko kesehatan seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, dan kanker payudara. Penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan gaya hidup sedentari dengan usia <em>menarche</em> pada anak sekolah dasar di Kota Bandung. Desain penelitian menggunakan analitik observasional dengan pendekatan<em> cross-sectional. </em>Subjek penelitian adalah 99 siswa perempuan kelas 3-6 di <em>Bandung Islamic School</em> (BISc). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner PAQ-C untuk aktivitas fisik dan ASAQ untuk gaya hidup sedentari. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>Chi-square</em> dan <em>prevalence ratio</em> dengan 95% CI. Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik sangat rendah (80,81%), hanya 2,02% yang memiliki aktivitas fisik tinggi, dan semua responden memiliki gaya hidup sedentari ringan (100%). Usia <em>menarche</em> normal (≥11 tahun) ditemukan 28,28% responden, sementara 8,08% mengalami <em>menarche </em>dini (&lt;11 tahun). Analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan usia menarche (p = 0,94), dan hubungan gaya hidup sedentari dengan usia <em>menarche</em> tidak dapat dianalisis. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik rendah tidak berkorelasi dengan usia menarche, konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyoroti pengaruh lebih besar dari faktor genetik dan status gizi. Rendahnya prevalensi aktivitas fisik tinggi pada responden juga mencerminkan pola umum gaya hidup anak usia sekolah di wilayah urban dan meskipun semua responden memiliki gaya hidup sedentari ringan, hasil ini bisa dipengaruhi oleh karakteristik populasi penelitian yang homogen, yaitu siswa dari satu sekolah saja.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17294 Gambaran Karakteristik Pasien Dermatitis Kontak Iritan di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung Periode 2018-2023 2025-02-21T21:20:10+08:00 Kinesya Anjelice 10100121085@unisba.ac.id Deis Hikmawati deis@unisba.ac.id Rafdi Ahmed rafdiahmed@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Irritant contact dermatitis is a non-immunologic skin inflammation caused by irritant exposure. The prevalence of ICD cases is high in other countries, including in Indonesia, occurred in women, adults, housewives, and detergents as the main cause. The goal of this study is to determine the characteristics of ICD patients with retrospective methods based on the medical records of ICD patients at Muhammadiyah Hospital Bandung in period of 2018-2023. In this study, 135 ICD patients were obtained with the highest percentile in age characteristics of 66.7% of patients aged 19-59 years, 63% of female patients, 41% patients were housewives, 40% were caused by detergents, and 72.59% of these patients were given a combination therapy of antihistamines and systemic corticosteroids. Based on these results, can be concluded that ICD is way more common in women and productive age who are exposed to irritants in daily activities.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan peradangan kulit yang bersifat non- imunologis yang disebabkan oleh adanya pajanan bahan iritan. Prevalensi kasus DKI cukup tinggi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, terjadi pada perempuan, usia dewasa, ibu rumah tangga, dengan deterjen sebagai etiologi utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien DKI yang dilakukan secara deskriptif observsional retrospektif terhadap rekam medis pasien DKI di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung periode 2018-2023. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 135 pasien DKI dengan karakteristik terbanyak 66.7% pasien dengan usia 19-59 tahun, sebanyak 63% pasien perempuan, sebesar 41% pasien merupakan ibu rumah tangga, sebanyak 40% penyebab merupakan deterjen, dan sebesar 72,59% pasien diberi terapi kombinasi antihistamin dan kortikosteroid sistemik. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa DKI lebih sering terjadi pada perempuan dan kelompok usia produktif yang terpapar bahan iritan dalam aktivitas sehari-hari.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17296 Prevalensi dan Gambaran Karakteristik Pasien Miopia pada Anak di RSUD Al-Ihsan Tahun 2022-2023 2025-02-21T21:18:29+08:00 Fansya Abdil Mu'min fansyasaja777@gmail.com Bambang Setiohadji bsetiohadji@gmail.com Buti Azfiani Azhali butiazhali@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>Myopia is the most common refractive disorder in the world, causing blurred vision at a distance because light falls in front of the retina. Genetic and external factors, such as habits of close-up viewing and the use of digital devices, can influence the development of myopia. In 2020, approximately 2.6 billion people worldwide experienced myopia, and this number is expected to rise significantly by 2050, with broad impacts on quality of life, health, and global healthcare costs. This study aims to determine the prevalence and risk factors of myopia in children at Al-Ihsan Regional Hospital in 2022-2023. This research is a descriptive observational research approach cross sectional. Data collection used secondary data obtained from medical records of children who visited the eye clinic at Al-Ihsan Regional Hospital in 2022-2023. The subjects in this study were 249 children. The prevalence of myopia in 2022 will be 0.0134% and in 2023 it will be 0.0378%. It was found that 66.4% were female, with the majority aged 11-18 (91.1%). Most of the children had mild myopia (68.3%). Cases of myopia accompanied by astigmatism were found in 21.3% of children. This research shows that the prevalence of myopia will increase from 2022 to 2023. Most cases of myopia are found in teenage girls with mild degrees of myopia.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Miopia adalah gangguan refraksi yang paling umum di dunia, menyebabkan penglihatan kabur pada jarak jauh karena cahaya yang jatuh di depan retina. Faktor genetik dan eksternal, seperti kebiasaan melihat jarak dekat dan penggunaan perangkat digital, dapat mempengaruhi terjadinya miopia. Pada 2020, sekitar 2,6 miliar orang di dunia mengalami miopia, dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat signifikan pada 2050, dengan dampak yang luas terhadap kualitas hidup, kesehatan, dan biaya kesehatan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko miopia pada anak di RSUD Al-Ihsan tahun 2022-2023. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan data sekunder yang diperoleh dari data rekam medis anak yang melakukan kunjungan ke poliklinik mata RSUD Al-Ihsan tahun 2022-2023. Subjek pada penelitian ini sebanyak 249 anak. Prevalensi miopia pada tahun 2022 sebanyak 0,0134% dan pada tahun 2023 sebanyak 0,0378%. Didapatkan 66,4% merupakan perempuan, dengan mayoritas usia 11-18 (91,1%). Sebagian besar anak mengalami miopia ringan (68,3%). Kasus miopia disertai astigmatism ditemukan pada 21,3% anak. Penelitian ini menunjukan bahwa prevalensi miopia mengalami peningkatan dari tahun 2022 ke tahun 2023. Kasus miopia banyak ditemukan pada remaja perempuan dengan derajat miopia ringan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17298 Perbandingan Sputum Pasien Tuberkulosis Paru dengan dan Tanpa Diabetes yang Menggunakan OHO 2025-02-21T21:18:25+08:00 Ardira Tria Kusumah ardiratkus@gmail.com Sadeli Masria sadelimasria1945@gmail.com Julia Hartati julia@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Pulmonary tuberculosis (TB) is one of the leading infectious diseases worldwide and can be exacerbated by the presence of diabetes mellitus (DM) as a comorbidity. Effective treatment leads to negative sputum test results after the intensive treatment period or the first two months of therapy. This study aims to compare Acid-Fast Bacilli (AFB) conversion in pulmonary TB patients with and without DM comorbidity undergoing oral antihyperglycemic therapy. The research was conducted using a descriptive retrospective approach with medical record data of pulmonary TB patients at Cibabat Hospital in 2023.The results showed that of the 45 patients analyzed, the majority were male (53%), most were aged 50-59 years (44%), resided in Cimahi City (76%), and 89% had DM as a comorbidity. AFB conversion occurred in 50% of pulmonary TB patients, regardless of the presence of DM comorbidity. However, statistical analysis revealed no significant difference in AFB conversion between the two groups (p = 1.000) after performing a normality test and subsequent Mann-Whitney statistical test.This study found no difference in AFB conversion between pulmonary TB patients without comorbidity and those with DM comorbidity. This indicates that AFB conversion is determined by TB treatment and not by DM treatment. However, blood sugar control remains essential to reduce or prevent DM-related complications.</p> <p><strong>Abstrak</strong><strong>.</strong> Tuberkulosis paru (TB paru) adalah salah satu penyakit infeksi menular utama di dunia yang dapat diperburuk dengan adanya komorbid diabetes mellitus (DM). Pengobatan yang efektif akan menghasilkan hasil negatif pada tes sputum setelah periode pengobatan intensif atau dua bulan awal pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konversi Basil Tahan Asam (BTA) pada pasien TB paru dengan TB paru komorbid DM yang menjalani terapi obat anti-hiperglikemik oral. Penelitian dilakukan secara deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medis pasien TB paru di RSUD Cibabat pada tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 pasien yang dianalisis, distribusi jenis kelamin mayoritas adalah laki-laki (53%), Mayoritas pasien berusia 50-59 tahun (44%), berdomisili di Kota Cimahi (76%), dan 89% memiliki komorbid DM. Konversi BTA terjadi pada 50% pasien TB paru, baik dengan maupun tanpa komorbid DM. Namun, hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam konversi BTA antara kedua kelompok (p = 1,000) setelah dilakukan uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji statistik Mann Whitney. Penelitian ini tidak terdapat perbedaan konversi BTA pada pasien TB paru tanpa komorbid dengan TB Paru komorbid DM. Hal ini menandakan bahwa konversi BTA ditentukan oleh pengobatan TB bukan ditentukan oleh pengobatan DM. Tetapi hal ini memerlukan kontrol gula darah untuk mengurangi atau mencegah penyakit DM.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17301 Gambaran Tingkat Kebugaran pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung 2025-02-21T21:16:55+08:00 Fuad Nibros fuadnibros123@gmail.com Yuli Susanti yuli.susanti@unisba.ac.id Sandy Faizal sandyfaizal7@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> This study aims to describe the fitness levels of academic-stage students at the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung, during the 2023/2024 academic year. Physical fitness is defined as the body's ability to perform daily activities optimally without excessive fatigue, measured using the 6-minute walk test (6MWT) method. The study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach, involving 105 students as subjects. The results showed that the majority of students were in the "good" fitness category (61.8%). In conclusion, the students' fitness levels were generally adequate, reflecting good physical activity to support their academic lives.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kebugaran mahasiswa tahap akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2023/2024. Kebugaran jasmani didefinisikan sebagai kemampuan tubuh untuk melaksanakan aktivitas harian secara optimal tanpa kelelahan berlebih, yang diukur menggunakan metode <em>6-minute walk test</em> (6MWT). Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 105 mahasiswa sebagai subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada kategori kebugaran "baik" (61,8%). Sebagai kesimpulan, tingkat kebugaran mahasiswa secara umum berada dalam kategori yang memadai, mencerminkan aktivitas fisik yang baik dalam mendukung kehidupan akademik mereka.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17306 Gambaran Kontaminasi Telur Cacing STH pada Sayuran Kemangi di Pasar Cikajang 2025-02-21T21:16:52+08:00 Naila Vega Amelia Suryaman veganaila96@gmail.com Sadeli Masria sadelimasria1945@gmail.com Ismawati isma.fkunisba@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Soil transmitted helminth (STH) infection, also known as helminthiasis, is one of the most common worm infections worldwide. One of the factors that can cause helminthiasis is eating contaminated vegetables in a raw state without being washed properly first. One of the vegetables that is often consumed in a raw state is basil. This study aims to determine the description of Soil Transmitted Helminth egg contamination in basil (Ocimum basilicum) vegetables sold in the Cikajang Garut market. This research design is descriptive observational using cross sectional method. The inclusion criteria in this study were basil leaves sold in the Cikajang Garut market. The number of samples taken was 62 samples with consecutive sampling method. Examination of the sample using the sedimentation method and then analyzed using a microscope with 2 repetitions. Data analysis using univariate analysis. The results showed that the number of STH egg contamination in 62 samples was entirely negative (100%). The conclusion of this study is that there is no STH worm egg contamination in basil vegetables sold at Cikajang Market, Garut. Although there is no contamination, the cleanliness of basil vegetables to be consumed must still be considered by consumers, including washing vegetables first using running water.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Infeksi soil transmitted helminth (STH) atau disebut juga dengan kecacingan adalah salah satu infeksi cacing yang paling umum terjadi di seluruh dunia. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kecacingan adalah memakan sayuran yang sudah terkontaminasi dalam keadaan mentah tanpa di cuci dengan baik terlebih dahulu. Sayuran yang sering dikonsumsi dalam keadaan mentah salah satunya kemangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kontaminasi telur cacing Soil Transmitted Helminth pada sayuran kemangi (<em>Ocimum basilicum</em>) yang dijual di pasar Cikajang Garut. Rancangan penelitian ini adalah <em>deskriptif observasional</em> dengan menggunakan metode <em>cross sectional</em>. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah daun kemangi yang dijual di pasar Cikajang Garut. Jumlah sampel yang diambil adalah 62 sampel dengan metode <em>consecutive sampling</em>. Pemeriksaan pada sampel menggunakan metode sedimentasi kemudian dianalisis menggunakan mikroskop dengan 2 kali pengulangan. Analisis data menggunakan analisis univariate. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah kontaminasi telur STH pada 62 sampel seluruhnya negatif (100%). Simpulan pada penelitian ini adalah tidak terdapat kontaminasi telur cacing STH pada sayuran kemangi yang dijual di Pasar Cikajang Garut. Meskipun tidak ada kontaminasi, kebersihan sayuran kemangi yang akan dikonsumsi harus tetap diperhatikan oleh konsumen antara lain&nbsp; mencuci sayuran terlebih dahulu menggunakan air yang mengalir.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17319 Gambaran Perilaku Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Universitas Islam Bandung Tahun 2024 2025-02-21T21:12:20+08:00 Khansa Luthfiah khansaluthfiah.22@gmail.com Nugraha Sutadipura nugrahasutadipura@gmail.com Caecielia Makaginsar caecielia@gmail.com <p class="s16"><span class="s13"><span class="bumpedFont20"><strong>Abstract</strong>.</span></span> <span class="s15"><span class="bumpedFont20">The Healthy Living Community Movement (GERMAS) is a national program aimed at promoting healthy behaviors to prevent chronic diseases. This study aimed to provide an overview of GERMAS behaviors among administrative staff at Universitas Islam Bandung. The research was conducted from August to September 2024 using a cross-sectional design with 77 administrative staff respondents who met the inclusion criteria. Data on GERMAS behaviors were collected using a validated and reliable questionnaire. Data analysis was conducted using univariate methods to describe the GERMAS behaviors of the respondents. The results showed that the majority of respondents exhibited poor GERMAS behavior (92%). These findings highlight the need to strengthen education and promotion of the GERMAS program so that administrative staff not only recognize the program but also understand the importance of adopting healthy behaviors to support the prevention of non-communicable diseases. Further research with a broader scope is recommended to strengthen these findings</span></span><span class="s15"><span class="bumpedFont20">.</span></span></p> <p class="s16"><span class="s13"><span class="bumpedFont20"><strong>Abstrak</strong>.</span></span> <span class="s14"><span class="bumpedFont20">Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) adalah program nasional yang bertujuan untuk meningkatkan perilaku hidup sehat guna mencegah penyakit kronis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai perilaku GERMAS di kalangan tenaga kependidikan Universitas Islam Bandung. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus – September 2024 menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 77 tenaga kependidikan Universitas Islam Bandung yang memenuhi kriteria inklusi</span></span><span class="s14"><span class="bumpedFont20">dan ekslusi</span></span><span class="s14"><span class="bumpedFont20">. Data perilaku GERMAS dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan perilaku GERMAS pada responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku GERMAS yang kurang baik (92%). Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi dan promosi program GERMAS agar </span></span><span class="s14"><span class="bumpedFont20">tenaga kependidikan</span></span><span class="s14"><span class="bumpedFont20"> tidak hanya mengenal program ini, tetapi juga memahami pentingnya menerapkan perilaku sehat yang dapat mendukung upaya pencegahan penyakit tidak menular. Penelitian lebih lanjut dengan cakupan yang lebih luas disarankan untuk memperkuat temuan ini</span></span><span class="s14"><span class="bumpedFont20">.</span></span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17330 Hubungan Usia dengan Multivessel Disease CAD pada Pasien Penyakit Jantung Koroner di Rumah Sakit Al Islam Bandung Tahun 2023 2025-02-21T21:12:09+08:00 Muhammad Ghanis Fadhlurrobbi Silmy mghanisfs@gmail.com Maya Tejasari mayatejasari4981@gmail.com Umar Islami umar.islami@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Coronary Heart Disease (CHD) is a leading cause of death worldwide, with multivessel disease (MVD) being a serious condition often associated with aging. This study analyzed the relationship between age and the number and location of coronary artery stenosis in CHD patients undergoing angiography at Al-Islam Hospital Bandung in 2023. A cross-sectional design was used with purposive sampling on secondary medical record data of 117 patients. Data were analyzed using the Chi-square test. The majority of patients were aged ≥45 years (93.2%) and male (78.6%). MVD was found in 92.3% of patients, with stenosis most commonly occurring in the Left Anterior Descending artery (99.1%), followed by the Right Coronary Artery (94.0%), Left Circumflex (88.0%), and Left Main Artery (29.9%). Patients aged ≥45 years had a higher prevalence of MVD compared to those aged &lt;45 years, although this relationship was not statistically significant (p=0.057). There was no significant association between age and the location of coronary artery stenosis (p&gt;0.05). This study suggests that older age tends to increase the risk of MVD in CHD patients, although this relationship was not statistically significant. Further research with a larger sample size is needed to validate these findings.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian di dunia, dengan multivessel disease (MVD) sebagai kondisi serius yang sering terkait usia. Penelitian ini menganalisis hubungan usia dengan jumlah dan lokasi stenosis arteri koroner pada pasien PJK yang menjalani angiografi di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2023. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik purposive sampling pada data sekunder rekam medis 117 pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Mayoritas pasien berusia ≥45 tahun (93,2%) dan berjenis kelamin laki-laki (78,6%). MVD ditemukan pada 92,3% pasien, dengan stenosis paling sering di arteri Left Anterior Descending (99,1%), diikuti Right Coronary Artery (94,0%), Left Circumflex (88,0%), dan Left Main Artery (29,9%). Pasien usia ≥45 tahun memiliki prevalensi MVD lebih tinggi dibandingkan pasien &lt;45 tahun, namun hubungan ini tidak signifikan (p=0,057). Tidak terdapat hubungan signifikan antara usia dan lokasi stenosis koroner (p&gt;0,05). Penelitian ini menunjukkan usia tua memiliki kecenderungan peningkatan risiko MVD pada pasien PJK, meskipun hubungan ini tidak signifikan. Penelitian lebih lanjut dengan sampel lebih besar diperlukan untuk validasi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17342 Hubungan Anemia pada Ibu Hamil dengan Kejadian Abortus di RSUD Karawang Tahun 2021-2023 2025-02-21T21:10:37+08:00 Mutiara Thresiani thresianimutiara@gmail.com RB. Soeherman Herdiningrat drrbsoeherman@gmail.com Yudi Feriandi yudi.feriandi@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>Each year, 4.7–13.2% of maternal deaths are caused by abortion. One of the main causes of spontaneous abortion is anemia, which results from nutritional deficiencies and disrupted oxygen circulation to the uteroplacental circulation, directly impacting fetal growth in the womb. The high incidence of anemia in Karawang Regency may be one of the risk factors contributing to abortion cases. This study aims to examine the relationship between anemia in pregnant women and abortion cases at RSUD Karawang. This research is an observational analytic study with a case-control design. The subject of this study is medical record data from 80 pregnant women who visited the inpatient installation of the obstetric and gynecology polyclinic of RSUD Karawang which was divided into case and control group with the same number. The collected data were analyzed univariate and bivariate by chi square test. The results of this study were obtained that 25 pregnant women experienced anemia and 55 pregnant women did not experience anemia. Pregnant women with anemia who had abortions were 8 people and 17 people did not have abortion. In this study, it was found that there was a relationship between anemia and the incidence of abortion in pregnant women at RSUD Karawang with p-value 0,030, p-value was smaller than α (p &lt; 0,05) and it was stated that there was a meaningful relationship between anemia and abortion, OR = 0,0338 meaning that pregnant women with anemia had a chance of having an abortion 0,0338 times compared to pregnant women who were not anemic. The effect of anemia on pregnant women can cause abortion, premature labor and impaired fetal growth and development.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Setiap tahunnya, 4,7–13,2% kematian ibu disebabkan oleh abortus. Salah satu penyebab terjadinya abortus spontan adalah anemia yang disebabkan karena gangguan nutrisi dan gangguan peredaran oksigen menuju sirkulasi uteroplasenta sehingga dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Tingginya insidensi anemia di Kabupaten Karawang dapat menjadi salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian abortus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian abortus di RSUD Karawang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain <em>case control</em>. Subjek penelitian ini adalah data rekam medis dari 80 orang ibu hamil yang berkunjung di instalasi rawat inap poli kebidanan dan kandungan RSUD Karawang yang dibagi menjadi kelompok kasus dan kontrol dengan jumlah yang sama. Data yang terkumpul dianalisa secara univariat dan bivariat dengan uji <em>chi square</em>. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa 25 orang ibu hamil mengalami anemia dan ibu hamil tidak mengalami anemia sebanyak 55 orang. Ibu hamil dengan anemia yang mengalami abortus sebanyak 8 orang dan 17 orang tidak mengalami abortus. Pada penelitian ini didapatkan adanya hubungan anemia dengan kejadian abortus pada ibu hamil di RSUD Karawang dengan nilai p<em>-value </em>0.030, p-<em>value</em> lebih kecil dari α (p &lt; 0,05) dinyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara anemia dengan kejadian abortus dan OR<em> = </em>0,338 artinya ibu hamil dengan anemia berpeluang 0,338 kali mengalami abortus dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak anemia. Pengaruh anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus, persalinan prematur dan hambatan tumbuh kembang pada janin.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17364 Hubungan Aktivitas Fisik dengan Memori Jangka Pendek pada Siswa SMP PGRI 1 Cimahi 2025-02-21T21:10:20+08:00 Nisrina Alifia Fathinah Mubarok nisrinaalifia14@gmail.com Ike Rahmawaty Alie ikewaty21@gmail.com Widayanti widays007@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Physical activity data in Indonesia according to Basic Health Research (Riskesdas) data was still very lacking. High levels of physical activity tend to increase shoert term memory. Low short term memory makes it difficult for students to process lesson material, receive new information, follow learning instructions which results in decreased learning achievement. The aim of this research is to analyze the relationship between physical activity and short-term memory in students at PGRI 1 Cimahi Middle School. The subjects in this research were students aged 13-15 years. The sampling technique used random probability sampling with a total of 94 students as subjects. Data collection used research materials in the form of PAQC questionnaires and digit span tests. The data analysis used was observational analysis with a cross-sectional design. The results of the analysis showed that there was no relationship between physical activity and short-term memory (p=0.564).</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Menurut data Riset Kesehatan Dasar masih terlalu kurang. Tingginya aktivitas fisik cenderung akan mempertinggi memori jangka pendek. Rendahnya memori jangka pendek menyebabkan pelajar kesulitan dalam memproses materi pelajaran, menerima informasi baru, mengikuti instruksi pembelajaran yang mengakibatkan penurunan prestasi belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan memori jangka pendek pada siswa SMP PGRI 1 Cimahi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi berusia 13-15 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>random probability sampling</em> dengan jumlah subjek sebanyak 94 siswa. Pengumpulan data menggunakan bahan penelitian berupa kuesioner PAQC dan tes digit span. Analisis data yang digunakan adalah analisis observasional dengan desain <em>cross-sectional</em>. Hasil analisis didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan memori jangka pendek (p=0.564).</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17400 Gambaran Karakteristik dan Faktor Risiko pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Pada Tahun 2018−2023 di Rumah Sakit Al−Islam Bandung 2025-02-22T02:57:05+08:00 Daya Malika Gandara dayamalika673@gmail.com Yani Triyani ytriyani87@gmail.com Widayanti widays007@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Coronary heart disease (CHD) is a condition when there is an insufficient supply of blood and oxygen to the myocardium. Coronary heart disease is estimated to represent 32.7% of cardiovascular disease and 2.2% of overall global disease. Riskesdas data shows the prevalence of heart diseases such as CHD remained at 1.5% from 2013 to 2018. The purpose of this study was to determine the characteristics and risk factors of coronary heart disease patients in 2018-2023 at Al Islam Hospital Bandung. This research method is descriptive retrospective observational, namely data collected from medical records on patients who have characteristics and risk factors for CHD at Al Islam Hospital Bandung. The results showed that of the 493 subjects studied, the age distribution was from 25-84 years. Gender was mostly male. Blood pressure from TDS 90-217 mmhg and TDD 38-100 mmhg. Lipid profile includes LDL levels of 57-194 mg/dl, HDL levels of 41-59 mg/dl, Triglycerides of 75-346 mg/dl, total cholesterol of 145-223 mg/dl. blood glucose includes GDS of 85-425 mg/dl and GDP of 84-794 mg/dl. BMI from 17.9−26.04 kg/m2. These CHD risk factors can be prevented by changing life style, namely by doing exercise, a diet low in cholesterol, salt, and sugar. The conclusion of patients with CHD at Al Islam Hospital is that the dominant age is 65-74 years, male gender, IMT obesity 1, pre-hypertension blood pressure, optimal LDL levels, normal HDL, normal triglycerides, normal total cholesterol, normal GDS levels, and high GDP.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi ketika pasokan darah dan oksigen ke miokardium tidak mencukupi. Penyakit jantung koroner diperkirakan mewakili 32,7% dari penyakit kardiovaskular dan 2,2% dari penyakit global secara keseluruhan. Data Riskesdas menunjukkan prevalensi penyakit jantung seperti PJK tetap 1,5% dari 2013 hingga 2018. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran karakteristik dan faktor risiko pasien penyakit jantung koroner pada tahun 2018−2023 di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional retrospektif yaitu data dikumpulkan dari rekam medis pada pasien yang memiliki karakteristik dan faktor risiko PJK di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Hasil penelitian menunjukkan dari 493 subjek yang diteliti, distribusi usia dari 25−84 tahun. Jenis kelamin paling banyak pada laki-laki. Tekanan darah dari TDS 90−217 mmhg dan TDD 38−100 mmhg. Profil lipid meliputi kadar LDL 57−194 mg/dl, kadar HDL dari 41−59 mg/dl, Trigliserida dari 75−346 mg/dl, kolesterol total 145−223 mg/dl.&nbsp; glukosa darah meliputi GDS dari 85−425 mg/dl dan GDP dari 84−794 mg/dl. IMT dari 17.9−26.04 kg/m2. Faktor risiko PJK tersebut dapat dicegah dengan cara mengubah life style yaitu dengan melakukan olahraga, diet rendah kolesterol, garam, dan gula. Kesimpulan pasien dengan PJK di RS Al Islam yang dominan adalah usia 65−74 tahun, jenis kelamin laki-laki, IMT obesity 1, tekanan darah pre hipertensi, kadar LDL optimal, HDL normal, trigliserida normal, kolesterol total normal, kadar GDS normal, dan GDP tinggi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17406 Hubungan Periode Frekuensi Transfusi Darah dengan Kualitas Hidup pada Pasien Thalassemia Remaja di RSUD Al-Ihsan Tahun 2023 2025-02-21T21:08:46+08:00 Ramka Muhamad Nabil ramkamnabil@gmail.com Agung Firmansyah Sumantri dragung@gmail.com Harvi Puspa Wardani harvipuspawardani@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Thalassemia is an inherited blood disorder that falls under the group of hemoglobinopathies. Thalassemia patients must undergo lifelong blood transfusions. This condition can impair the quality of life due to both the disease itself and its treatments. Quality of life is defined as an individual’s assessment of their position in life in relation to the context of their cultural background and value system. The aim of this study was to determine the relationship between the frequency of blood transfusions and the quality of life in adolescent thalassemia patients. The research used an analytical observational method with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using random sampling techniques on adolescent thalassemia patients at RSUD Al-Ihsan who met the inclusion criteria, with a total sample size of 57 patients. Data was collected through the completion of the PedsQL questionnaire, which assesses quality of life by evaluating physical, social, emotional, and school functioning in thalassemia patients. Data analysis was performed using the fisher’s exact test. The univariate analysis results showed that most respondents (51%) received blood transfusions every 2-4 weeks, and the overall quality of life, assessed through physical, emotional, social, and school functioning, had a mean score indicating a low quality of life. The study findings revealed a significant relationship between the frequency of blood transfusions and the quality of life in adolescent thalassemia patients (p = 0.003). Frequent blood transfusions in adolescent thalassemia patients can lead to hemosiderosis, which limits their ability to lead a normal life. The emotional functioning of patients can also be disrupted, leading to feelings of sadness, anger, and worry. This psychological strain is often caused by the dependence on a strict blood transfusion schedule.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Thalassemia</em> merupakan kelainan darah bawaan yang termasuk dalam kelompok hemoglobinopati. Pasien <em>Thalassemia</em> harus menerima transfusi darah sepanjang hidupnya. <em>T</em><em>halassemia</em> dapat mengganggu kualitas hidup karena penyakitnya sendiri dan efek terapinya. Kualitas hidup didefinisikan sebagai penilaian seseorang terhadap posisinya dalam hidupnya terkait dengan konteks budaya dan sistem nilai mereka. Tujuan penelitian ini yaitu untuk&nbsp; mengetahui hubungan antara periode frekuensi transfusi darah dengan kualitas hidup pada pasien <em>thalassemia </em>remaja. Metode penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik <em>random sampling </em>&nbsp;pada penderita <em>thalassemia</em> remaja di RSUD Al-Ihsan yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah sampel sebanyak 57 orang. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengisian kuesioner&nbsp; <em>PedsQL</em> yang menilai kulitas hidup dengan melihat fungsi fisik, sosial, emosi, dan sekolah untuk menilai kualitas hidup anak <em>thalassemia. </em>Analisis data dilakukan menggunakan <em>fisher’s exact test. </em>Hasil analisis univariat menunjukkan Sebagian responden (51%) menerima transfusi darah setiap 2–4 minggu sekali, dan kualitas hidup yang dinilai dengan fungsi fisik, emosi, sosial, dan sekolah secara keseluruhan memiliki skor yang menunjukkan kualitas hidup yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan periode frekuensi transfusi darah dengan kualitas hidup pada pasien <em>thalassemia </em>remaja (p=0,003).&nbsp; Frekuensi transfusi darah yang tinggi pada pasien <em>thalassemia </em>remaja dapat menyebabkan hemosiderosis yang membatasi kemampuan pasien untuk menjalani kehidupan normal. Fungsi emosional pasien juga akan terganggu, merasa sedih, marah, dan khawatir. Tekanan psikologis ini sering kali disebabkan oleh ketergantungan pada jadwal transfusi&nbsp; darah yang padat.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17420 Hubungan Tingkat Stres dengan Siklus Mentsruasi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung 2025-02-21T21:07:09+08:00 Asy-Syifa Afrah Kusumaningrum afrahsyifaa@gmail.com Meta Maulida Damayanti meta.fkunisba@gmail.com Nurul Romadhonna nromadhonadr@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Irregular menstrual cycles in female students can be influenced by various psychological factors such as depression, anxiety, and stress. Stress experienced by female students can trigger the production of the hormone cortisol which will disrupt the hormonal balance that will affect the menstrual cycle. This study aims to analyze the relationship between stress levels and menstrual cycles in female students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University (Unisba) in the 2023–2024 academic year. This study used an analytical observational method with a cross-sectional approach, so that 105 respondents were obtained who met the inclusion criteria. The data collection technique used the DASS 42 questionnaire to measure stress and questionnaires. The results of this study showed that 22 female students (21%) experienced mild stress levels and 21 female students (20.0%) experienced menstrual cycle irregularities. There is a significant relationship between stress levels and menstrual cycles (P &lt;0.05). The significant relationship is due to psychological factors playing an important role in influencing the regularity of the menstrual cycle in female students, which indicates the need for stress management and psychological support in the higher education environment.</p> <p><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="SV">Siklus menstruasi yang tidak teratur pada mahasiswi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis seperti depresi, kecemasan, dan stres. </span>Stres yang dialami oleh mahasiswi dapat memicu produksi hormon kortisol yang akan mengganggu ketidakseimbangan hormonal yang akan mempengaruhi siklus menstruasi. <span lang="SV">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) tahun akademik 2023–2024. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>, sehingga</span> didapatkan 105 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner DASS 42 untuk mengukur stres dan kuesioner<span lang="EN-US"> siklus menstruasi</span>. <span lang="SV">Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebanyak 22 mahasiswi (21%) </span>mengalami tingkat stres ringan dan <span lang="SV">21 mahasiswi (20,0%) mengalami Ketidakteraturan siklus menstruasi. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi (P&lt;0,05)</span><em>. </em>Hubungan yang signifikan disebabkan karena <span lang="SV">faktor psikologis berperan penting dalam memengaruhi keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi, yang menunjukkan perlunya manajemen stres dan dukungan psikologis di lingkungan pendidikan tinggi.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17421 Uji Hepatoprotektif Ekstrak Etanol Bunga Cengkeh Berdasarkan Kadar AST dan ALT pada Tikus Galur Wistar yang Diinduksi Paracetamol Dosis Tinggi 2025-02-21T21:07:06+08:00 Finarsi finarsia@gmail.com Santun Bhekti Rahimah santunbr94@gmail.com Miranti Kania Dewi miranti@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>Liver damage or hepatotoxicity is often caused by exposure to toxic substances, including high doses of paracetamol. The accumulation of the toxic metabolite of paracetamol, the toxic metabolite N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI), causes hepatocyte cell damage which is characterized by increased levels of AST and ALT. This study aims to determine the hepatoprotective effect of ethanol extract of clove flowers (Syzygium aromaticum) based on AST and ALT levels in Wistar rats induced by paracetamol. This study used a post-test only control group design with 30 mice divided into five groups: normal control, negative control, and three treatment groups with clove flower extract at doses of 150, 300, and 600 mg/kgBW. Paracetamol induction was given for three days at a dose of 2000 mg/kgBW, while clove flower extract was given for 14 days. The results showed that AST levels in the normal group (140.5 ± 34.05 U/L), negative control (177 ± 57.51 U/L), and treatment 600 mg/kgBW (114.6 ± 9.07 U/ L). ALT levels in the normal group (71.67 ± 20.81 U/L) and 600 mg/kgBW treatment (68.2 ± 9.47 U/L). The Kruskal-Wallis test showed that there were no significant differences between groups (p &gt; 0.05), but there was a trend of decreasing AST levels at a dose of 600 mg/kgBW. This effect likely comes from the content of active compounds such as eugenol, which is known to have antioxidant and anti-inflammatory properties. The ethanol extract of clove flowers showed potential protective effects against liver damage due to paracetamol toxicity. Although the results obtained are not yet statistically significant, these findings indicate that the extract has the potential for further development as a hepatoprotective agent.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kerusakan hati atau hepatotoksisitas sering disebabkan oleh paparan bahan toksik, diantaranya parasetamol dosis tinggi. Akumulasi metabolit toksik paracetamol, &nbsp;metabolit toksik <em>N-acetyl-p-benzoquinoneimine</em> (NAPQI), menjadi penyebab terjadinya kerusakan sel hepatosit yang ditandai dengan peningkatan kadar AST dan ALT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hepatoprotektif ekstrak etanol bunga cengkeh (<em>Syzygium aromaticum</em>) berdasarkan kadar AST dan ALT pada tikus galur Wistar yang diinduksi parasetamol. Penelitian ini menggunakan desain <em>post-test only control group</em> dengan 30 tikus yang dibagi menjadi lima kelompok: kontrol normal, kontrol negatif, dan tiga kelompok perlakuan dengan ekstrak bunga cengkeh dosis 150, 300, dan 600 mg/kgBB. Induksi parasetamol diberikan selama tiga hari dengan dosis 2000 mg/kgBB, sementara ekstrak bunga cengkeh diberikan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan kadar AST pada kelompok normal (140,5 ± 34,05 U/L), kontrol negatif (177 ± 57,51 U/L), dan perlakuan 600 mg/kgBB (114,6 ± 9,07 U/L). Kadar ALT pada kelompok normal (71,67 ± 20,81 U/L) dan perlakuan 600 mg/kgBB (68,2 ± 9,47 U/L). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p &gt; 0,05), namun terdapat tren penurunan kadar AST pada dosis 600 mg/kgBB. Efek ini kemungkinan berasal dari kandungan senyawa aktif seperti eugenol, yang diketahui memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Ekstrak etanol bunga cengkeh menunjukkan potensi efek perlindungan terhadap kerusakan hati akibat toksisitas parasetamol. Meskipun hasil yang diperoleh belum signifikan secara statistik, temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agen hepatoprotektor.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17445 Tinjauan Efek Antiacne Ekstrak Etanol Bunga Telang (Clitoria ternatea L) 2025-02-21T21:01:11+08:00 Joko Susanto joko24259@gmail.com Lelly Yuniarti Lelly.yuniarti@gmail.com Endang Suherlan Suherlanendang@gmail.com <p><strong>Abstract</strong><strong>.</strong>&nbsp;Cutibacterium acnes is the primary bacterium responsible for acne vulgaris (AV), an inflammatory skin disease that commonly affects adolescents and young adults. Resistance to antibiotics such as doxycycline has driven the search for alternative treatments based on natural ingredients. Butterfly pea flower extract (Clitoria ternatea L.) is known to contain flavonoids, alkaloids, tannins, and anthocyanins, which have the potential to act as antibacterial agents. This study aims to analyze the anti-acne effects of ethanol extract from butterfly pea flowers. It is a literature review study on the anti-acne properties of Clitoria ternatea L., using relevant literature related to butterfly pea flowers, their composition, and their antibacterial, antioxidant, and anti-inflammatory effects, as well as their impact on acne. The extract contains flavonoids, tannins, anthocyanins, alkaloids, and phenols, which function as antioxidants, anti-inflammatory agents, and antibacterials, thus exhibiting anti-acne properties.</p> <p><strong>Abstrak.</strong>&nbsp;<em>Cutibacterium acnes</em>&nbsp;adalah bakteri utama penyebab acne vulgaris (AV), penyakit kulit inflamasi yang sering menyerang remaja dan dewasa muda. Resistensi terhadap antibiotik &nbsp;seperti doksisiklin mendorong pencarian alternatif pengobatan berbasis bahan alami. Ekstrak bunga telang <em>(Clitoria ternatea L.)</em>&nbsp;diketahui mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan antosianin yang berpotensi sebagai agen antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek antiacne&nbsp;ekstrak etanol bunga telang.&nbsp;Penelitian ini merupakan studi literatur mengenai efek antiacne bunga telang <em>(Clitoria ternatea L)</em>, literatur yang digunakan adalah literatur yang berkaitan dengan bunga telang, komposisinya dan efek antibakteri, antioksidan dan antiinflamasi, serta efeknya terhadap acne. Ekstrak bunga telang mengandung senyawa flavonoid, tanin, antosianin, alkaloid, fenol yang berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antibakteri sehingga memiliki efek antiacne.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17449 Hubungan Stres dengan Kadar Gula Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Al-Ihsan Tahun 2024 2025-02-21T21:00:51+08:00 Dean Sopyan dean.sopyan86@gmail.com R.B. Soeherman Herdiningrat drrbsoeherman@gmail.com Ratna Dewi Indi Astuti ratnawidjajadi@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> <span lang="EN-US">Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia due to cellular resistance to insulin. Proper blood glucose control is essential to prevent various health complications that can affect the entire body system. Stress is known to influence hormone regulation and glucose metabolism, and it is suspected to play a role in increasing fasting blood glucose levels. However, the relationship between stress and fasting blood glucose levels in T2DM patients remains a topic that requires further investigation. This study aims to identify the relationship between stress and fasting blood glucose levels in Type 2 DM patients at Al-Ihsan Regional General Hospital in Bandung. The study employed a cross-sectional approach, with purposive sampling used to determine the number of respondents, resulting in a total of 46 participants. Stress levels were assessed using the DASS-21 questionnaire, which has been tested for validity and reliability, while fasting blood glucose data were obtained from medical records. The results showed that the majority of respondents experienced normal stress levels (84.8%); however, most respondents had uncontrolled fasting blood glucose levels (67.4%). Data analysis was performed using the Fisher's exact test revealed no significant relationship between stress and fasting blood glucose levels (p=1.000). These findings indicate that increased fasting blood glucose levels are not solely influenced by stress but are also affected by various other factors such as an unhealthy diet, an unhealthy lifestyle, and aging.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="EN-US">Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh hiperglikemia akibat resistensi sel terhadap insulin. Pengendalian kadar gula darah yang terkontrol diperlukan untuk menghindari berbagai masalah kesehatan yang berpotensi berdampak pada seluruh sistem tubuh. Stres diketahui dapat memengaruhi regulasi hormon dan metabolisme glukosa, sehingga diduga berperan dalam peningkatan kadar gula darah puasa. Namun, hubungan stres dengan kadar gula darah puasa pada pasien DMT2 masih menjadi topik yang perlu dikaji lebih lanjut. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan stres dengan kadar gula darah puasa pasien DM Tipe 2 di RSUD Al-Ihsan Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan cross-sectional serta purposive sampling yang digunakan untuk menentukan jumlah responden, responden yang didapat berjumlah 46 orang. Penelitian tentang stres diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner DASS-21 yang telah diuji validitas dan realibilitasnya, data gula darah puasa didapatkan dari rekam medis. Sebagian besar responden mengalami tingkat stres normal (84,8%), tetapi mayoritas responden memiliki kadar gula darah puasa tidak terkontrol (67,4%). Data dianalisis menggunakan uji fisher’s exact dan diidapatkan bahwa tidak terdapat hubungan stres dengan kadar gula darah puasa (p=1,000). Hasil ini mengindikasikan bahwa peningkatan gula darah puasa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor stres, tetapi terdapat banyak faktor lain seperti pola makan yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak sehat dan bertambahnya usia. </span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17474 Hubungan HbA1c dengan Tekanan Darah pada Pasien DM Tipe 2 di RS Muhammadiyah Bandung 2025-02-21T20:59:35+08:00 Diandra Danila Ambarwati diandra.27.dd@gmail.com Samsudin Surialaga samsudin_dr@yahoo.co.id Eka Hendryanny eka_hendryanny@yahoo.com <p><strong>Abstract.</strong> Type 2 diabetes mellitus increases the risk of various vascular diseases, including high blood pressure. This study analyzed the data of 50 patients with type 2 diabetes mellitus at Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung in 2022-2023 to see the relationship between HbA1c levels and blood pressure. Data were collected from medical records using the cross-sectional method and analyzed using the Goodman test. The results showed that although most patients had uncontrolled HbA1c levels (82%) and grade 1 hypertension blood pressure (36%), there was no significant relationship between HbA1c levels and blood pressure in patients with type 2 diabetes mellitus at Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung in 2022-2023 (p &gt; 0.05).&nbsp; Other factors such as duration of type 2 diabetes mellitus, consumption of antihypertensive drugs, physical activity, and body mass index can affect blood pressure in patients with type 2 diabetes mellitus.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Diabetes melitus tipe 2 meningkatkan risiko berbagai penyakit pembuluh darah, termasuk tekanan darah tinggi. Penelitian ini menganalisis data 50 pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung pada tahun 2022-2023 untuk melihat hubungan antara kadar HbA1c dengan tekanan darah. Data diambil dari rekam medis menggunakan metode potong lintang dan dianialisis menggunakan uji <em>Goodman</em> sehingga ditemukan hasil penelitian bahwa meskipun sebagian besar pasien memiliki kadar HbA1c tidak terkendali (82%) dan tekanan darah hipertensi derajat 1 (36%), tidak ada hubungan yang signifikan antara kadar HbA1c dengan tekanan darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung tahun 2022-2023 (p &gt; 0,05).&nbsp; Faktor lain seperti durasi menderita diabetes melitus tipe 2, konsumsi obat antihipertensi, aktivitas fisik, dan indeks massa tubuh dapat mempengaruhi tekanan darah pada pasien diabetes melitus tipe 2.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17488 Peran Kondisi Fisik Rumah dalam Meningkatkan Risiko Gejala ISPA pada Balita 2025-02-21T20:58:56+08:00 Syakia Azka Mulyana syakiaazkamulyana@gmail.com Herry Garna herrygarna@gmail.com Arief Budi Yulianti budi.yulifk@gmail.com <p><strong><span lang="IN">Abstract. </span></strong><span lang="IN">Acute Respiratory Infection (ARI) is an infection caused by infectious agents that attack the respiratory system, leading to difficulty in breathing normally. ARI is a major health issue among toddlers, especially those living in developing countries. The prevalence of ARI symptom diagnosis based on the 2023 SKI (Survei Kesehatan Indonesia) was 35.7%. ARI in toddlers can be caused by several risk factors, including individual child factors, behavioral factors, and environmental factors such as the physical condition of the house, including ventilation area and housing density. This study aims to analyze the relationship between the physical condition of houses and ARI symptoms in toddlers in Ciparay Village from September to November. The study used a cross-sectional design involving 58 toddlers. Data were collected through questionnaires and analyzed using the chi-square test. The statistical test results at a significance level of α=0.05 showed no relationship between housing density (p=0.501) and house ventilation (p=0.422). The conclusion of this study is that there is no relationship between housing density and house ventilation with ARI symptoms in toddlers.</span></p> <p><strong><span lang="IN">Abstrak. </span></strong><span lang="IN">Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi yang disebabkan oleh agen infeksius yang menyerang sistem pernapasan dan mengakibatkan kesulitan bernapas secara normal. ISPA merupakan masalah utama kesehatan pada balita terutama yang tinggal di negara berkembang. Prevalensi diagnosis gejala ISPA berdasarkan SKI (Survei Kesehatan Indonesia) 2023 sebanyak 35,7%. ISPA pada balita dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko, seperti faktor individu anak, faktor perilaku, dan faktor lingkungan seperti kondisi fisik rumah dari luas ventilasi dan kepadatan hunian. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kondisi fisik rumah dan gejala ISPA pada balita di Desa Ciparay selama bulan September–November</span><span lang="IN">.</span><span lang="IN"> Penelitian ini menggunakan desain <em>cross-sectional</em> dengan melibatkan 58 balita. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan analisis menggunakan uji <em>chi-square</em>. Hasil uji statistik pada tingkat signifikan </span><span lang="IN">a</span><span lang="IN">=0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kepadatan hunian (p=0,501) dan ventilasi rumah (p=0,422). Simpulan dari penelitian ini tidak ada hubungan antara kepadatan hunian dan ventilasi rumah dengan gejala ISPA pada balita.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17532 Pengaruh Ekstrak Air Daun Kersen terhadap Nekrosis Hepar Mencit Induksi Aloksan 2025-02-21T20:57:11+08:00 Artri Nur Istiqomah artrinuristiqomah06@gmail.com Maya Tejasari mayatejasari4981@gmail.com Listya Hanum Siswanti hanumlist@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Liver damage can be triggered by oxidative stress caused by hyperglycemia, leading to the production of Reactive Oxygen Species (ROS). Alloxan is used as an agent to induce hyperglycemia, which results in liver tissue damage. Kersen leaves are known to contain flavonoids that function as antioxidants to protect liver tissue. This study employed a post-test only control group design, involving 24 male Swiss Webster mice divided into six groups. The treatment groups were administered kersen leaf aqueous extract at doses of 200 mg/kgBW, 400 mg/kgBW, and 800 mg/kgBW for 14 days after alloxan induction for 14 days. Histopathological analysis was conducted to evaluate necrotic area using Hematoxylin-Eosin (HE) staining. Administration of kersen leaf aqueous extract did not fully restore the liver to normal, but the improvement resembled the group given glibenclamide. Kersen leaves have the potential to be an effective antioxidant in reducing oxidative stress. This study indicates that kersen leaves may serve as an alternative therapy in protecting the liver from hyperglycemia-induced damage.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kerusakan hati dapat dipicu oleh stres oksidatif yang disebabkan oleh hiperglikemia, menghasilkan <em>Reactive Oxygen Species</em> (ROS). Aloksan digunakan sebagai agen untuk menginduksi hiperglikemia, yang menyebabkan kerusakan pada jaringan hati. Daun kersen diketahui mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi jaringan hati. Penelitian ini menggunakan desain <em>post-test only control group</em> dengan melibatkan 24 ekor mencit jantan jenis <em>Swiss Webster</em> yang dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok perlakuan diberikan ekstrak air daun kersen dengan dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 800 mg/kgBB selama 14 hari setelah induksi aloksan selama 14 hari. Analisis histopatologi dilakukan untuk mengevaluasi luas nekrosis menggunakan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Pemberian ekstrak air daun kersen tidak memberikan efek sampai normal, tetapi perbaikannya menyerupai kelompok yang diberikan glibenklamid. Daun kersen memiliki potensi sebagai antioksidan yang efektif dalam mengurangi stres oksidat. Penelitian ini mengindikasikan bahwa daun kersen dapat berperan sebagai terapi alternatif dalam melindungi hati dari kerusakan akibat hiperglikemia.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17555 Hubungan Durasi Paparan Streptozotosin terhadap Histopatologi Ginjal dan Kadar Kreatinin Mencit 2025-02-21T20:55:08+08:00 Amanda Wardono amanda.wardono@gmail.com Arief Budi Yulianti budi.yulifk@gmail.com Tryando Bhatara tryando.bhatara@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> The kidneys play vital role in filtering metabolic waste and maintaining the body''s balance. In diabetes mellitus, chronic hyperglycemia can damage nephrons through the production of Reactive Oxygen Species (ROS), inflammation, and redox imbalance, leading to diabetic nephropathy. This study aims to analyze the effect of streptozotocin exposure on serum creatinine levels and kidney histopathology of mice (Mus musculus). The study was conducted using 24 male BALB/C strain mice divided into 4 groups: control, acute exposure (24 hours), subacute (14 days), and subchronic (38 days). Mice were induced with streptozotocin at a single dose of 165 mg/kg body weight intraperitoneally. Blood glucose and serum creatinine levels were measured, and kidney histopathology analysis was performed to observe structural changes. Sreptozotocin significantly increased blood glucose in the treatment groups: acute (P1): 379.5 mg/dL, subacute (P2): 341.83 mg/dL, and subchronic (P3): 312.83 mg/dL Serum creatinine levels increased with the duration of streptozotocin exposure, from 0.2356 mg/dL (P1) to 0.4140 mg/dL (P3). Renal histopathologic changes included tubular necrosis, glomerular collapse, and collagen accumulation, especially in subacute and subchronic exposure. Damage was caused by Reactive Oxygen Species, inflammation. The duration of Streptozotocin exposure is positively associated with the level of renal damage in terms of function and structure. &nbsp;Conclusion based on Pearson analysis, there is a significant difference between creatinine levels and renal histopathology structure in each control and treatment group. Thus, modeling of diabetic rats can demonstrate the effects of complications on kidney damage.</p> <p><strong>Abstrak</strong><strong>.</strong> Ginjal memainkan peran penting dalam menyaring limbah metabolisme dan menjaga keseimbangan tubuh. Pada diabetes melitus, hiperglikemia kronis dapat merusak nefron melalui produksi <em>Reactive Oxygen Species</em>, inflamasi, dan ketidakseimbangan redoks, yang menyebabkan nefropati diabetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pajanan streptozotosin terhadap kadar kreatinin serum dan histopatologi ginjal mencit. &nbsp;Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 24 ekor mencit jantan galur BALB/C yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu kontrol, pajanan akut (24 jam), subakut (14 hari), dan subkronis (38 hari). Mencit diinduksi dengan streptozotosin dengan dosis tunggal 165 mg/kg berat badan secara intraperitoneal. Kadar glukosa darah dan kreatinin serum diukur, dan analisis histopatologi ginjal dilakukan untuk mengamati perubahan struktural yang diinduksi streptozotosin secara signifikan meningkatkan glukosa darah pada kelompok perlakuan: akut (P1): 379,5 mg/dL, subakut (P2): 341,83 mg/dL subkronis (P3): 312,83 mg/dL Kadar kreatinin serum meningkat seiring dengan lamanya paparan streptozotosin, dari 0,2356 mg/dL (P1) menjadi 0,4140 mg/dL (P3). Perubahan histopatologi ginjal termasuk nekrosis tubular, kolaps glomerulus, dan akumulasi kolagen, terutama pada pajanan subakut dan subkronis. Kerusakan disebabkan oleh <em>Reactive Oxygen Species</em>, inflamasi, durasi paparan streptozotosin berhubungan positif dengan tingkat kerusakan ginjal dalam hal fungsi dan struktur. Kesimpulan berdasarkan analisis Pearson correlation<em>, </em>terdapat perbedaan signifikan antara kadar kreatinin dan struktur histopatologi ginjal pada setiap kelompok kontrol dan perlakuan. Dengan demikian, pemodelan tikus diabetes dapat menunjukkan efek komplikasi pada kerusakan ginjal.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17608 Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Kadar Glukosa Darah Sewaktu Mencit 2025-02-21T20:53:32+08:00 Rifqy Aziz Atqiya atqiyarifqy@gmail.com Annisa Rahmah Furqaani annisarahmahf@gmail.com Tryando Bhatara tryando.bhatara@gmail.com <p><strong>Abstract</strong>. Dry intermittent fasting is a diet practice by refraining from consuming food and drinks according to a predetermined schedule. Based on research, there are several benefits of dry intermittent fasting including weight loss and also reducing blood glucose levels in individuals with diabetes mellitus. The purpose of this study was to analyze the effect of dry fasting on blood glucose levels in mice (mus musculus l.) fed high-fat feed. Experimental research was conducted at the Pharmacy Laboratory of the Islamic University of Bandung using 28 mice given different treatments. The results of the first examination showed significant results in group I (P = 0.030), paired groups II &amp; III (P = 0.025) and II &amp; IV (P = 0.004) then in the second examination (P = 0.003) and third (P = 0.002) also showed significant differences. These results indicate a significant difference in blood glucose levels in mice given different treatments, so that the treatment applied has a measurable effect on blood glucose levels.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Puasa intermitten kering (<em>dry intermitten fasting</em>) merupakan praktik diet dengan menahan diri dari konsumsi makanan dan minuman sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Berdasarkan penelitian terdapat beberapa manfaat dari puasa intermitten kering (<em>dry fasting</em>) meliputi dari penurunan berat badan dan juga mengurangi kadar glukosa darah pada individu yang menderita diabetes melitus. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh puasa kering (<em>dry fasting</em>) terhadap kadar glukosa darah mencit (<em>mus musculus l.) </em>yang diberi pakan tinggi lemak. Penelitian eksperimental dilaksanakan di Laboratorium Farmasi Universitas Islam Bandung menggunakan 28 mencit yang diberikan perlakuan berbeda. Hasil pemeriksaan pertama menunjukkan hasil signifikan pada kelompok I (P=0,030), kelompok pasangan&nbsp; II &amp; III (P=0,025) dan II &amp; IV (P=0,004) kemudian pada pemeriksaan kedua (P=0,003) dan ketiga (P=0,002) juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Hasil ini menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dalam kadar glukosa darah mencit yang diberi perlakuan berbeda, sehingga perlakuan yang diterapkan memiliki efek yang dapat diukur terhadap kadar glukosa darah.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17612 Karakteristik Pasien Dermatitis Kontak Alergi di RSAl Bandung (2019–2023) 2025-02-21T20:49:07+08:00 Afri Ahya Suardi 10100121086@unisba.ac.id Deis Hikmawati deis@unisba.ac.id Rafdi Ahmed rafdiahmed@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Allergic contact dermatitis (ACD) is a skin condition mediated by an immunological reaction caused by skin contact with allergens previously encountered. This study aims to describe the prevalence and characteristics of ACD patients at the Skin and Venereology Polyclinic of RSAI Bandung during the period of 2019–2023. The study used a descriptive retrospective cross-sectional method, collecting data from 58 medical records of patients who met the inclusion criteria using a total sampling approach, where data were collected without calculating a minimum sample size. The data collected included characteristics such as age, gender, occupation, predilection sites, and therapy. The results showed that the majority of patients were in the adult age group (19–59 years), accounting for 69%, with females comprising 59% of cases. In terms of occupation, housewives and non-working individuals each represented the highest percentage at 24%. The most commonly affected predilection site was the hand (29%). Regarding therapy, 78% of patients were prescribed topical corticosteroids. ACD commonly occurs in adult women who frequently use skincare products and cosmetics, as well as housewives who are often exposed to metals. This leads to an inflammatory response with symptoms such as itching, making topical corticosteroids the primary treatment. This study highlights the importance of education in selecting products free from allergenic substances to reduce the incidence of ACD.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dermatitis kontak alergi (DKA) adalah penyakit kulit yang dimediasi oleh reaksi imunologis disebabkan oleh kontak kulit dengan bahan alergen yang pernah terpapar sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prevalensi dan karakteristik pasien DKA di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSAI Bandung selama periode 2019–2023. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif <em>crossectional</em> dengan pengambilan 58 data rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan total sampel dimana data diambil tanpa perhitungan sampel minimal. Data diperoleh berupa karakteristik yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, predileksi dan terapi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada kelompok usia dewasa (19–59 tahun) sebanyak 69%, dengan proporsi jenis kelamin perempuan sebesar 59%. Berdasarkan jenis pekerjaan, kelompok ibu rumah tangga dan individu yang tidak bekerja masing-masing mencatat persentase tertinggi sebesar 24%, Lokasi predileksi yang paling sering terkena adalah tangan 29%, Dari segi terapi, kortikosteroid topikal sebanyak 78% pasien. Dermatitis kontak alergi sering terjadi pada perempuan dewasa yang banyak menggunakan produk perawatan kulit dan kosmetik, serta pada IRT yang sering terpapar logam. Hal tersebut menyebabkan terjadinya respons inflamasi dengan gejala berupa rasa gatal, sehingga kortikosteroid topikal menjadi terapi utama. Penelitian ini menunjukan pentingnya edukasi memilih produk yang mengandung bahan alergen, sehingga diharapkan dapat menurunkan kejadian DKA.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17619 Paritas, Riwayat Abortus, dan Pekerjaan Ibu Sebagai Faktor Risiko Kejadian Abortus 2025-02-21T20:48:03+08:00 Rahma Adilla adillarahma294@gmail.com Lelly Yuniarti lelly.yuniarti@gmail.com Hidayat Widjajanegara hidayatwidjajanegara@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> The number of abortions each year in Southeast Asia, including Indonesia, is 4.2 million. In Indonesia, spontaneous abortion occurs in 10–15% of 6 million pregnancies and 2,500 of them result in death. The most common factors causing spontaneous abortion are maternal factors, such as maternal age during pregnancy, high parity, multigravidity, history of abortion, maternal social behavior, and environmental factors and maternal education level. This study aims to analyze the relationship between age, parity, history of abortion, and maternal occupation with the incidence of abortion. This study is an observational study with a case-control approach. The subjects of the study were pregnant women patients in the Obstetrics and Gynecology clinic of the Al-Ihsan Regional General Hospital, West Java Province in 2020-2023. Sampling was carried out by purposive sampling using secondary data in the form of medical records. Data analysis used the chi-square test, at a confidence level of 95%. The study showed a statistical test with a p value = 0.5765 (p&gt;0.05), for the test of the relationship between maternal age and the incidence of abortion. The chi-square test of the relationship between parity and the incidence of abortion showed a p value = &lt;0.0001. The relationship between abortion history and the incidence of abortion with a p value = &lt;0.0001. The chi-square test of the relationship between maternal occupation and the incidence of abortion showed a p value = 0.0003 (p&lt;0.05). There is a relationship between parity, abortion history, and maternal occupation with the incidence of abortion, but there is no relationship between age and the incidence of abortion at the Al Ihsan Regional General Hospital, West Java Province in 2020-2023.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Jumlah abortus setiap tahunnya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia adalah 4,2 juta, di Indonesia, abortus spontan terjadi pada 10–15% dari 6 juta kehamilan dan 2.500 di antaranya mengakibatkan kematian. Faktor paling umum penyebab abortus spontan adalah faktor ibu, seperti usia ibu saat hamil, paritas tinggi, multigraviditas, riwayat abortus, perilaku sosial ibu, dan faktor lingkungan serta tingkat pendidikan ibu. Tujuan: Peneltian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan usia, paritas, riwayat abortus, dan pekerjaan ibu dengan kejadian abortus. Penelitian ini merupakan pernelitian observational dengan pendekatan kasus kontrol. Subjek penelitian adalah pasien ibu hamil di poli Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat pada tahun 2020-2023. Pengambilan sampel dilakukan secara <em>purposive sampling </em>menggunakan data sekunder berupa rekam medis<em>. </em>Analisis data menggunakan uji<em> chi-square,</em> pada tingkat kepercayaan 95%<em>. </em>Penelitian menunjukkan uji statistik dengan nilai p = 0,5765 (p&gt;0,05), untuk uji&nbsp; hubungan usia ibu dengan kejadian abortus,. Uji <em>chi-square</em> hubungan paritas dengan kejadian abortus menunjukkan nilai p = &lt;0,0001,. Hubungan riwayat abortus dengan kejadian abortus dengan nilai p = &lt;0,0001. Uji <em>chi-square</em> hubungan pekerjaan ibu dengan kejadian abortus menunjukkan nilai p = 0,0003 (p&lt; 0,05), Terdapat hubungan antara paritas, riwayat abortus, dan pekerjaan ibu dengan kejadian abortus, tetapi tidak terdapat hubungan antara usia dengan kejadian abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Al Ihsan Provinsi Jawa Barat tahun 2020-2023.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17634 Pola Resistensi Obat pada Tuberkulosis Paru dan Ekstra Paru: Dampak Komorbiditas Diabetes Melitus 2025-02-21T20:46:44+08:00 Sabrina Aziza Putri Herva sabrinaputriherv@gmail.com Usep Abdullah Husin usep.abdullahusin@gmail.com Julia Hartati juliahartati.fkunisba06@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstract. </span></strong><span lang="IN">Tuberculosis (TB) is an infectious disease that poses a significant global health challenge, especially in patients with diabetes mellitus (DM) comorbidity. DM can exacerbate TB treatment by increasing the risk of drug resistance, including monoresistance, multidrug-resistant TB (MDR), and extensively drug-resistant TB (XDR). This study aims to analyze drug resistance patterns in pulmonary and extrapulmonary TB patients with DM comorbidity. The research used a descriptive observational design with medical record data analysis. The results show that DM comorbidity influences TB drug resistance patterns, complicating treatment and reducing the effectiveness of anti-TB therapy. Factors such as blood glucose control, types of anti-TB drugs used, and interactions with diabetes medications play a critical role in treatment success. Therefore, a multidisciplinary approach is required to manage patients with DM comorbidity, including strict blood glucose monitoring and patient education to enhance adherence to therapy.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstrak. </span></strong><span lang="IN">Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang menjadi tantangan kesehatan global, terutama pada pasien dengan komorbid diabetes melitus (DM). DM dapat memperburuk pengobatan TB dengan meningkatkan risiko resistensi obat, termasuk monoresistensi, multidrug-resistant TB (MDR), dan extensively drug-resistant TB (XDR). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola resistensi obat pada pasien TB paru dan TB ekstra paru dengan komorbid DM. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan analisis data rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komorbid DM memengaruhi pola resistensi obat TB, yang dapat memperumit pengobatan dan mengurangi efektivitas terapi anti-TB. Faktor seperti kontrol gula darah, jenis obat anti-TB yang digunakan, dan interaksi dengan obat diabetes memainkan peran penting dalam keberhasilan pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan multidisiplin untuk mengelola pasien dengan komorbid DM, termasuk pemantauan gula darah yang ketat dan edukasi pasien untuk meningkatkan kepatuhan terhadap terapi.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17644 Efek Toksisitas Subkronik Paparan Zat Pewarna Tekstil Sintetis Golongan Azo Congo Red terhadap Gambaran Histopatologi Organ Hati Tikus 2025-02-21T20:45:36+08:00 Muhamad Yudistira Caesarea Anwar myudistiraca@gmail.com Ismet Muchtar Nur ismet.nur@yahoo.com Meike Rachmawati meikerachmawati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Subchronic exposure to synthetic azo dyes, such as Congo Red, has been identified as having potential hepatotoxic effects. This study aimed to analyze the impact of Congo Red azo dye exposure on the histopathological features of the liver in Wistar rats. The research employed an experimental laboratory design using a post-test only control group method. A total of 28 Wistar rats were divided into four groups: a negative control and three treatment groups receiving doses of 190 mg/kgBW, 375 mg/kgBW, and 750 mg/kgBW. The study was conducted over 89 days. Results revealed that normal, undamaged cells were observed in 22.86% of the samples, accounting for 32 microscopic fields. Histological liver damage of grade 1 (inflammation) was identified in 27.14% of the fields, representing 38 fields, while grade 2 damage (necrosis) was noted in 50% of the fields, or 70 microscopic fields. Fibrosis was absent, with 0% of fields showing fibrotic changes across a total of 140 fields. The severity of histopathological liver damage was directly proportional to the increase in dose. SGOT and SGPT levels showed no significant elevation in the treatment groups, indicating no substantial liver damage. The study concluded that exposure to Congo Red azo dye induces significant liver damage, particularly at high doses, although no evidence of fibrosis was observed during the study period. This research provides critical insights into the toxicological effects of synthetic dyes and highlights the importance of regulatory measures and protective interventions for exposed individuals.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Paparan subkronik zat pewarna sintetis golongan <em>azo dye</em>, seperti <em>Congo Red</em>, telah diketahui memiliki potensi toksisitas terhadap organ hati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak paparan zat pewarna <em>azo dye Congo Red</em> terhadap gambaran histopatologi organ hati tikus galur wistar. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group. Sebanyak 28 tikus galur Wistar dibagi menjadi 4 kelompok: kontrol negatif dan perlakuan dengan dosis 190 mg/kgBB, 375 mg/kgBB, dan 750 mg/kgBB. Penelitian ini dilakukan selama 89 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sel normal yang tidak mengalami kerusakan mencapai 22,86% dengan jumlah 32 lapang pandang, kerusakan histologi hati tikus derajat 1 berupa inflamasi mencapai 27,14%, dengan jumlah 38 lapang pandang kerusakan histologi hati tikus derajat 2 beruapa nekrosis mencapai 50%, dengan jumlah 70 lapang pandang, dan kerusakan histologis hati tikus berupa fibrosis dengan persentase 0%, dengan jumlah 0 lapang pandang dari total 140 lapang pandang. Peningkatan dosis berbanding lurus dengan derajat kerusakan histopatologi hati. Nilai SGOT dan SGPT menunjukkan tidak ada peningkatan pada kelompok perlakuan, mengindikasikan tidak ada kerusakan yang masif pada organ hati. Kesimpulan dari penelitian ini adalah paparan zat pewarna <em>azo Congo Red</em> dapat menyebabkan kerusakan organ hati yang signifikan, terutama pada dosis tinggi, namun tidak ditemukan tanda-tanda fibrosis selama durasi penelitian. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dampak toksisitas zat pewarna sintetis dan menekankan pentingnya regulasi serta perlindungan bagi individu yang terpapar.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17645 Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal pada PKL tahun 2024 2025-02-21T20:44:12+08:00 Nurul Hafni nurulhafni12062003@gmail.com Sadeli Masria sadelimasria1945@gmail.com Budiman Budiman.ikm.fkunisba@gmail.com <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> Work postures that are not ergonomic can cause musculoskeletal disorders. In Indonesia, the prevalence of musculoskeletal disorders diagnosed by medical personnel is around 11.9%, while based on symptoms, the prevalence reaches 24.7%. This disorder is also increasing in various provinces, such as in West Java. Street vendors are prone to musculoskeletal disorders due to non-ergonomic work postures and prolonged repetitive physical activity. This study aims to analyze the relationship between work posture and musculoskeletal complaints in street vendors in 2024. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach. Respondents consisted of 58 street vendors in Taman Sari Village. Data were collected using the Nordic Body Map (NBM) questionnaire and the Rapid Entire Body Assessment (REBA) method. Data analysis was performed using the chi-square test. The results showed that 80% of respondents experienced musculoskeletal disorders. Statistical analysis resulted in a P value of &lt;0.201, indicating there was no significant relationship between work posture and musculoskeletal disorders. Although the results were not significant, other factors such as workload, body mass index, age, environmental factors and work duration may have influenced the results. Further research needs to consider these factors to obtain more comprehensive results. Prevention and intervention are still needed to reduce the risk of musculoskeletal disorders.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Postur kerja yang tidak ergonomi dapat menimbulkan keluhan <em>musculoskeletal</em>. Di Indonesia, prevalensi <em>musculoskeletal disorder</em> yang terdiagnosis oleh tenaga medis sekitar 11,9%, sementara berdasarkan gejala, prevalensinya mencapai 24,7%. keluhan&nbsp; ini juga meningkat di berbagai provinsi, seperti di Jawa Barat. Pedagang kaki lima rentan mengalami keluhan <em>musculoskeletal</em> akibat postur kerja yang tidak ergonomis dan aktivitas fisik berulang dalam waktu lama. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara postur kerja dengan keluhan <em>musculoskeletal</em> pada pedagang kaki lima tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Responden terdiri dari 58 pedagang kaki lima di Kelurahan Taman Sari. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Nordic Body Map </em>(NBM) dan <em>metode Rapid Entire Body</em> <em>Assessment</em> (REBA). Analisis data dilakukan dengan uji <em>Chi-square</em>. Hasil menunjukkan bahwa 80% responden mengalami keluhan musculoskeletal. Analisis statistik menghasilkan nilai p&lt;0,201, menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara postur kerja dan keluhan <em>musculoskeletal</em>. Meskipun hasil tidak signifikan, faktor lain seperti beban kerja, indeks massa tubuh, usia, faktor lingkungan, dan durasi kerja mungkin memengaruhi hasil. Penelitian lebih lanjut perlu mempertimbangkan faktor-faktor ini untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif. Pencegahan dan intervensi tetap diperlukan untuk mengurangi risiko keluhan <em>musculoskeletal</em>.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17646 Karakteristik Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 yang Dirawat Inap di RSUD Al-Ihsan Tahun 2024 2025-02-21T20:43:05+08:00 Muhammad Naufal Ridho betternaufal@gmail.com Ratna Dewi Indi Astuti ratnawidjajadi@unisba.ac.id Susanti Dharmmika susantidharmmika@yahoo.com <p><strong>Abstract.</strong> Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease that has become a global concern due to its increasing prevalence and associated severe complications. These complications contribute to the high number of T2DM patients requiring hospitalization. This study aims to analyze the demographic, clinical, and knowledge characteristics of hospitalized T2DM patients at RSUD Al-Ihsan in 2024. A cross-sectional approach was employed, using medical records from 737 patients and the Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) completed by 53 respondents. Data analysis was performed to determine the frequency distribution of the study variables. The majority of patients were female (62.4%) with the largest age group being 40–60 years (53.2%). Most patients had neuropathy and diabetic gangrene complications (32.83%), followed by cardiovascular complications (25.78%). HbA1c levels ≥8% were found in 78% of patients, while 75.5% of respondents had a moderate level of knowledge. The mortality rate was 10.2%, with cardiovascular complications as the leading cause. The findings indicate that hospitalized T2DM patients commonly present with severe complications, high HbA1c levels, and moderate knowledge levels. Intensive health education and comprehensive management are needed to prevent complications and improve patient quality of life.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis yang menjadi perhatian global karena prevalensinya yang terus meningkat serta komplikasi serius yang menyertainya. Komplikasi tersebut berkontribusi pada tingginya jumlah pasien DM tipe 2 yang harus dirawat inap. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik demografis, klinis, dan tingkat pengetahuan pasien DM tipe 2 yang dirawat inap di RSUD Al-Ihsan pada tahun 2024. Pendekatan cross-sectional digunakan dengan data yang diperoleh dari rekam medis 737 pasien dan kuesioner Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) yang diisi oleh 53 responden. Analisis data dilakukan untuk menentukan distribusi frekuensi variabel penelitian. Mayoritas pasien adalah perempuan (62,4%) dengan kelompok usia terbanyak 40–60 tahun (53,2%). Sebagian besar pasien memiliki komplikasi neuropati dan gangren diabetikum (32,83%), diikuti komplikasi kardiovaskular (25,78%). Kadar HbA1c ≥8% ditemukan pada 78% pasien, sementara tingkat pengetahuan tergolong cukup pada 75,5% responden. Tingkat mortalitas sebesar 10,2% dengan komplikasi kardiovaskular sebagai penyebab utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien DM tipe 2 rawat inap memiliki prevalensi komplikasi berat, kadar HbA1c tinggi, dan tingkat pengetahuan yang masih perlu ditingkatkan. Edukasi kesehatan yang intensif dan pengelolaan komprehensif diperlukan untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17649 Gambaran Perbaikan Visus dan Komplikasi Pasca Operasi Katarak di RSUD Al-Ihsan Periode 2022-2023 2025-02-21T20:41:45+08:00 Keysha Wulan Gautama keysha.pink14@icloud.com Bambang Setiohadji bsetiohadji@gmail.com Purnomo poerkesja@gmail.com <p><strong>Abstract</strong><strong>. </strong>Cataracts are one of the leading causes of blindness worldwide. This condition occurs due to the denaturation of lens proteins and is associated with aging. Currently, the primary treatment for cataracts is surgery, using various techniques tailored to the patient's condition, aiming to improve the patient's vision. However, this procedure may lead to short-term or long-term complications. This study aims to describe the improvement in vision and complications among patients after cataract surgery at RSUD Al-Ihsan Bandung in 2022-2023. Methods: This research is a descriptive observational study with a cross-sectional approach. The study sample was obtained from medical records, and data were analyzed using univariate tests. Results: A total of 87 respondents were included, with the majority being male (35 patients or 40.23%). Most patients experienced moderate visual improvement after surgery, within the range of 6/18-6/60, and no patients experienced postoperative complications. Discussion: Vision improvement after cataract surgery is significantly influenced by time, gradually improving as time passes. Complications depend on the surgical technique used and the patient's adherence to routine postoperative follow-ups.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan utama di dunia. Penyakit ini terjadi dikarenakan denaturasi protein lensa dan terkait dengan faktor usia. Saat ini pengobatan utama katarak adalah dengan operasi melalui beberapa teknik yang disesuaikan dengan keadaan pasien dengan harapan perbaikan visus pada pasien, tindakan ini dapat menimbulkan beberapa komplikasi baik jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran perbaikan visus dan komplikasi pasca operasi katarak di RSUD Al-Ihsan Bandung periode desember 2022- januari 2023. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berasal dari rekam medik. Data dianalisis dengan uji univariat. Jumlah responden sebanyak 87 dengan karakteristik responden mayoritas berjenis kelamin laki-laki yang berjumlah 35 pasien (40,23%) dan mendapatkan perbaikan visus setelah operasi di rentang 6/18-6/60 (Sedang) dan tidak ada pasien yang mengalami komplikasi pasca operasi. Perbaikan visus pada pasien pasca operasi sangat bergantung dengan waktu, dan akan membaik secara bertahap seiring berjalannya waktu. Komplikasi pada pasien bergantung pada teknik operasi yang dilakukan dan rutinnya pasien dalam melaksanakan kontrol pasca operasi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17664 Hubungan Pengetahuan dan Perilaku GERMAS dengan Kejadian Hipertensi pada Staf Administrasi Umum Universitas Islam Bandung 2025-02-21T20:22:15+08:00 Namirah nnamirahh22@gmail.com Caecielia Makaginsar caecielia@gmail.com Sandy Faizal sandyfaizal7@gmail.com <p><strong>Abstract. </strong>As SDGs number 3 aims to ensure healthy lives and well-being for all at all ages. One of the goals of this SDGs is to achieve universal health services. Hypertension is the biggest cause of death with 128 cases of total deaths according to data from the Bandung City Health Center in 2022. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and GERMAS behavior with the incidence of hypertension in the General Administration Staff of the Islamic University of Bandung. This study is an observational quantitative analytic with a cross-sectional research design. The research sample used the minimum sample formula using the lemeshow formula obtained as many as 56 respondents and sampling using random sampling. The data obtained came from questionnaires and blood pressure measurements and were tested chi square using analysis through the SPSS application. The results in this study showed poor GERMAS knowledge (84%), poor GERMAS behavior (93%), and the incidence of hypertension in the non-hypertensive category (91.1%). The value shows a probability of (p=0.810) where this value is greater than (p=0.05). It can be concluded that the implementation of one's GERMAS behavior is not significantly related to the incidence of hypertension in the General Administration Staff of the Islamic University of Bandung. Respondents may have been exposed to a healthy lifestyle through counseling, books, media and others. So that indirectly they have lived a healthy life but for those who are in accordance with the recommended portion of GERMAS do not know. So that indirectly respondents are exposed and live a healthy life but only not in accordance with the portion set by GERMAS. Therefore, this supports why in this study the level of hypertension is low while the knowledge is still poor.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Sebagaimana SDGs nomor 3 yang bertujuan untuk memastikan hidup sehat dan kesejahteraan bagi semua pada segala usia. Salah satu tujuan SDGs ini adalah untuk mencapai layanan kesehatan universal. Hipertensi termasuk penyebab kematian terbesar dengan 128 kasus dari total kematian menurut data puskesmas kota bandung 2022. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku GERMAS dengan kejadian hipertensi pada Staf Administrasi Umum Universitas Islam Bandung. Penelitian ini adalah analitik kuantitatif observasional dengan rancangan penelitian <em>cross-sectional. </em>Sampel penelitian menggunakan rumus sampel minimal dengan menggunana rumus lemeshow diperoleh sebanyak 56 responden dan pengambilan sample menggunakan <em>random sampling. </em>Data yang di peroleh berasal dari kuesioner dan pengukuran tekanan darah dan di uji <em>chi square </em>menggunakan analisis melalui aplikasi SPSS. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan pengetahuan GERMAS kurang baik (84%), perilaku GERMAS kurang baik (93%), dan kejadian hipertensi dalam kategori tidak hipertensi (91,1%). Nilai menunjukkan probabilitas sebesar (p=0,810) dimana nilai ini lebih besar dari (p=0,05). maka dapat disimpulkan bahwa penerapan perilaku GERMAS seseorang tidak berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi pada Staf Administrasi Umum Universitas Islam Bandung. Responden kemungkinan sudah terpapar gaya hidup sehat melalui penyuluhan, buku, media dan lain-lain. Sehingga secara tidak langsung sudah menjalani hidup sehat namun untuk yang sesuai dengan porsi anjuran GERMAS belum mengetahui. Sehingga secara tidak langgsung responden terpapar dan menjalani hidup sehat namun hanya saja belum sesuai dengan porsi yang di tetapkan oleh GERMAS. Oleh karena itu, hal ini yang mendukung mengapa pada penelitian ini tingkat hipertensi rendah sedangkan untuk pengetahuan masih buruk.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17671 Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting di Puskesmas Caringin 2025-02-21T20:20:58+08:00 Dea Aulia Tanus deatanus940@gmail.com Yuli Susanti yuli.susanti@unisba.ac.id Yudi Feriandi yudiferiandi@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Stunting is a chronic nutritional problem that remains a major challenge in Indonesia. This study aims to analyze the relationship between mothers' knowledge of balanced nutrition and the incidence of Stunting in children under five in the Puskesmas Caringin area, Bandung City. This research used a quantitative method with a cross-sectional approach and was conducted from September to December 2024. The study sample consisted of 117 mothers with children under five, selected through random sampling. The results showed that most mothers had a good level of knowledge about balanced nutrition (60.7%), while the incidence of Stunting in children under five was recorded at 29.1%. Statistical analysis revealed a significant relationship between mothers' knowledge of balanced nutrition and the incidence of Stunting in children under five. These findings highlight the importance of improving mothers' knowledge of balanced nutrition to reduce Stunting rates. More intensive nutrition education programs, such as counseling, provision of supplementary food, and direct assistance to mothers, need to be optimized to ensure better understanding of balanced nutrition. This study provides an important foundation for developing more effective public health strategies to address Stunting in this region<span lang="EN-ID">.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstrak.</strong> Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan kejadian Stunting pada balita di wilayah Puskesmas Caringin, Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dan dilaksanakan pada bulan September-Desember 2024. Sampel penelitian terdiri dari 117 ibu yang memiliki balita yang dipilih secara random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang gizi seimbang (60,7%), sementara kejadian Stunting pada balita tercatat sebesar 29,1%. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan kejadian Stunting pada balita. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang untuk menurunkan angka Stunting. Program-program edukasi gizi yang lebih intensif, seperti penyuluhan, pemberian makanan tambahan, dan pendampingan langsung kepada ibu, perlu dioptimalkan untuk memastikan pemahaman yang lebih baik mengenai gizi seimbang. Penelitian ini memberikan dasar penting bagi pengembangan strategi kesehatan masyarakat yang lebih efektif dalam mengatasi Stunting di wilayah ini.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17696 Hubungan Hipertensi dengan Kualitas Tidur Pasien di Wilayah Puskesmas Cikakak Kabupaten Sukabumi pada Bulan Desember 2024 2025-02-21T20:19:57+08:00 Siti Zalfa Nurhasnaa sitizalfa16@gmail.com Herri S. Sastramihardja herpst099@yahoo.com Widayanti widayanti@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> Hypertension is a disease nicknamed The Silent Killer because this disease can cause various disorders in other organs, including the heart, kidneys and nervous system. The symptoms caused by hypertension vary and can affect a person's sleep quality. Sleep disorders are often experienced by people with a productive age range between 40-49 years. The purpose of this study was to determine the incidence of hypertension, the sleep quality of hypertension sufferers, and the relationship between hypertension and the sleep quality of patients at the Cikakak Health Center, Sukabumi Regency in December 2024. The research method used was observational analytic with a cross-sectional approach. The data collection technique was carried out by purposive sampling to take 195 patients. The data obtained showed. Hypertension patients who were treated at the Cikakak Health Center, Sukabumi Regency in December 2024 were 36.9%. The sleep quality of hypertension patients who were treated at the Cikakak Health Center, Sukabumi Regency, in December 2024 was 81.9% in the good category and 18.1% in the bad category. There is no relationship between hypertension and sleep quality of patients treated at the Cikakak Health Center, Sukabumi Regency in December 2024 (p = 0.472). Other factors that can affect sleep quality are disease, environment, physical exercise, fatigue and medication.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Hipertensi merupakan penyakit yang dijuluki <em>The Silent Killer</em> karena penyakit ini dapat menyebabkan berbagai gangguan pada organ lain, antara lain pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Gejala yang ditimbulkan hipertensi beragam dan dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang, Gangguan tidur banyak dialami oleh orang dengan rentang usia produktif diantara 40-49 tahun. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian hipertensi, kualitas tidur penderita hipertensi, dan hubungan antara hipertensi dengan kualitas tidur pasien di Puskesmas Cikakak Kabupaten Sukabumi pada bulan Desember 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan data dilakukan dengan <em>purposive sampling</em> untuk mengambil 195 orang pasien. Data yang diperoleh menunjukkan. Pasien Hipertensi yang berobat di Puskesmas Cikakak, Kabupaten Sukabumi pada bulan Desember 2024 sebanyak 36,9%. Kualitas tidur pasien hipertensi yang berobat di Puskesmas Cikakak, Kabupaten Sukabumi, pada bulan Desember 2024 sebanyak 81,9% termasuk kategori baik dan sebanyak 18,1% kategori buruk. Tidak terdapat hubungan antara hipertensi dengan kualitas tidur pasien yang berobat di Puskesmas Cikakak, Kabupaten Sukabumi pada bulan Desember 2024 (p=0,472). Faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas tidur adalah penyakit, lingkungan, latihan fisik, kelelahan dan obat-obatan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17698 Pengaruh Kebugaran Fisik terhadap Kelelahan pada Pekerja Tatalaksana di Universitas Islam Bandung 2025-02-21T20:18:22+08:00 Resi Samrotul Puadzi resisamrotul@gmail.com Julia Hartati julia@unisba.ac.id Ike Rahmawati Alie ikewaty21@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong>Abstract.</strong> Physical fitness is a state of the body that allows individuals to perform physical activities efficiently without excessive fatigue. However, fatigue in the work environment is a problem that is often experienced by workers. According to WHO data in 2018, the increase in mental illness in the form of severe fatigue leading to depression is the second leading cause of death after heart disease. In Indonesia, the prevalence of occupational accidents increased by 13.26% in 2022 compared to the previous year. This study aims to analyze the relationship between physical fitness and work fatigue among office boy at the Islamic University of Bandung (UNISBA) in 2024 using a cross-sectional design and simple random sampling method. Physical fitness was measured using Body Mass Index (BMI) and VO2 MAX using the Harvard Step Test (HST) method, while work fatigue was assessed using the Work Fatigue Feeling Questionnaire (KAUPK2). The results of the analysis using the Rank-Spearman test showed a very weak negative correlation (r = -0.181) and not significant (p &gt; 0.05) between physical fitness and work fatigue. The conclusion shows that increasing physical fitness does not directly reduce work fatigue.</p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong><span lang="EN-US"> Kebugaran fisik merupakan kondisi tubuh yang memungkinkan individu melakukan aktivitas fisik secara efisien tanpa kelelahan berlebihan. Namun, kelelahan di lingkungan kerja menjadi persoalan yang sering dialami pekerja. Menurut data WHO tahun 2018, peningkatan penyakit mental berupa kelelahan parah yang berujung pada depresi menempati posisi kedua sebagai penyebab kematian setelah penyakit jantung. Di Indonesia, prevalensi kecelakaan kerja meningkat sebesar 13,26% pada tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebugaran fisik dan kelelahan kerja pada pekerja tatalaksana di Universitas Islam Bandung (UNISBA) tahun 2024 dengan desain cross-sectional dan metode simple random sampling. Kebugaran fisik diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan VO2 MAX dengan metode Harvard Step Test (HST), sedangkan kelelahan kerja dinilai menggunakan Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2). Hasil analisis dengan menggunakan uji Rank-Spearman menunjukkan korelasi negatif yang sangat lemah (r = -0,181) dan tidak signifikan (p &gt; 0,05) antara kebugaran fisik dan kelelahan kerja. Kesimpulannya menunjukkan peningkatan kebugaran fisik tidak secara langsung menurunkan kelelahan kerja.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17731 Status Gizi dengan Kejadian Balita ISPA 2025-02-21T20:17:09+08:00 Trya Destiyani tria21329@gmail.com Mirasari Putri mirasari.putri@unisba.ac.id Yani Dewi Suryani yani.dewi@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> ISPA is still the cause of the highest mortality rate in children. According to WHO, worldwide the death rate of ISPA in toddlers is around ±13 million per year. According to the Ministry of Health in 2021, the number of ISPA cases in Indonesia in toddlers was 278,261 cases. Nutritional status can affect the occurrence of ISPA. Toddlers with poor nutrition tend to have decreased cellular immunity and a less than optimal immune system, making them more susceptible to infection. The purpose of this study was to determine the Relationship between Nutritional Status and the incidence of ISPA in Toddlers. This study uses a quantitative research type using observational analytic with a case control research method. The sampling technique for this study used a non-probability sampling technique with consecutive sampling type. Data analysis was carried out univariately for the distribution of respondent characteristics and bivariately with the chi-square test to assess the relationship between nutritional status and the incidence of ISPA. The results of the chi-square test obtained a probability value of (p = 0.065&gt; 0.05). In children with ISPA, 15.5% had poor-poor nutritional status, 61.9% normal nutrition and 22.6% had excess nutritional status. In children without ARI, there were 4.8% with under-severe nutrition, 72.6% with good nutrition and 22.6% with over nutrition. This concludes that there is no significant relationship between nutritional status and the incidence of ARI in toddler patients at the Purwaharja 1 Health Center, Banjar City in 2024.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> ISPA masih menjadi penyebab angka kematian tertinggi yang terjadi pada anak. Berdasarkan WHO, di seluruh dunia angka kematian ISPA pada anak balita sekitar ±13 juta&nbsp; pertahun. Menurut Kementerian Kesehatan tahun 2021 jumlah kasus ISPA di Indonesia pada balita 278.261 kasus. Status gizi dapat mempengaruhi terjadinya ISPA. Balita dengan gizi buruk cenderung memiliki imunitas seluler menurun dan sistem kekebalan yang kurang optimal, sehingga lebih rentan terkena infeksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Status Gizi dengan kejadian ISPA pada Balita. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan observasional analitik dengan metode penelitian case control. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik <em>non probability sampling</em> dengan jenis <em>consecutive sampling</em>. Analisis data dilakukan secara univariat untuk distribusi karakteristik responden dan bivariat dengan uji <em>chi-square</em> untuk menilai hubungan antara status gizi dan kejadian ISPA. Hasil uji <em>ch- square</em> diperoleh nilai probabilitas sebesar (p=0,065&gt;0,05). Pada anak dengan ISPA, sebanyak 15,5% memiliki status gizi kurang-buruk, 61.9% gizi normal dan 22.6% memiliki status gizi lebih. Pada anak tidak ISPA, terdapat 4,8% dengan gizi kurang-buruk, 72,6% gizi baik dan 22.6% gizi lebih. Hal ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada pasien balita di Puskesmas Purwaharja 1 Kota Banjar 2024.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17748 Gambaran Karakteristik Pasien TB Putus Obat di Rumah Sakit Rotinsulu 2020–2024 2025-02-21T20:14:16+08:00 Trissa Nadilla Ramadianti trissanadilla11@gmail.com Annisa Rahmah Furqaani Annisarahmahf@gmail.com Tryando Bhatara Tryando.bhatara@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and transmitted through the air. According to the 2023 Global Tuberculosis Report, 10.6 million people worldwide are infected with TB. In Indonesia, the TB treatment dropout rate in 2020 reached 19%, while the pulmonary TB cure rate in Bandung City in 2022 was only 32.27%, falling short of the target (80%). This study aims to describe the characteristics and trends of TB patients who discontinued treatment based on age and gender at Dr. H. A. Rotinsulu Pulmonary Hospital, Bandung City, from 2020 to 2024. The research employs a descriptive method with total sampling technique, involving 188 TB treatment dropout patients from medical records. Data were processed using Microsoft Excel 2019. The results show that the majority of patients were in the productive age group (95.21%) and male (71.80%) in 2020–2024. Several factors contributing to TB treatment discontinuation were identified, including high mobility, work-related stress, occupational demands, unawareness due to symptom remission, transportation difficulties, irregular TB medication adherence, and COVID-19 pandemic.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular akibat Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui udara. Menurut Global Tuberculosis Report 2023, sebanyak 10,6 juta orang di dunia terinfeksi TB. Di Indonesia, angka putus berobat TB pada tahun 2020 mencapai 19%, sedangkan angka kesembuhan TB paru di Kota Bandung tahun 2022 hanya 32,27%, di bawah target (80%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien TB putus obat berdasarkan usia dan jenis kelamin di Rumah Sakit Paru Dr. H. A. Rotinsulu Kota Bandung periode 2020–2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik total sampling, melibatkan 188 pasien putus obat TB dari rekam medis. Data diolah menggunakan program <em>Microsoft Excel</em> 2019. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berada di usia produktif (95,21%) dan berjenis kelamin pria (71,80%) pada periode 2020–2024. Terkait dari data tersebut terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pasien TB putus obat yaitu dari mobilitas tinggi, beban kerja, kesibukan pekerjaan, ketidaksadaran karena gejala mereda, kesulitan dalam sarana transportasi, ketidakaturan dalam mengonsumsi obat TB, dan pandemi COVID-19.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17772 Hubungan Paritas dengan Kejadian Kanker Serviks di Rawat Jalan RSUD Al- Ihsan Tahun 2021-2023 2025-02-21T20:13:18+08:00 Bellinda Yasmin Muhaemin bellindaym@gmail.com Hidayat Widjajanegara hwnegara@gmail.com Susan Fitriyana susan.fitriyana@unisba.ac.id <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstract.</strong> Cervical cancer is the fourth most common type of cancer among women, with 604,000 new cases reported worldwide in 2020. It is also one of the leading causes of death in women. This study aims to analyze the relationship between parity and the incidence of cervical cancer. A descriptive analytical design with a cross-sectional approach was used, utilizing data from medical records of 817 respondents at the outpatient gynecology clinic of Al-Ihsan Hospital from 2021 to 2023. The results indicated that the majority of respondents were multiparous. Statistical analysis using the Chi-square test revealed a significant relationship between parity and the incidence of cervical cancer (P &lt; 0.05). The process of parity induces changes in the cervical epithelium, which contributes to an increased risk of cervical cancer.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak.</strong> Kanker serviks ini menempati urutan keempat sebagai jenis kanker paling sering pada wanita, dengan 604.000 kasus baru di seluruh dunia pada tahun 2020. Kanker serviks salah satu penyebab kematian tersering pada wanita. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara paritas dengan kejadian kanker serviks. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan&nbsp;<em>cross-sectional</em>, menggunakan data dari rekam medis dengan jumlah sampel 817 responden di rawat jalan poli ginekologi RSUD Al-Ihsan tahun 2021-2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden paritas yaitu multipara. Hasil analitik dengan menggunakan uji <em>Chi-square</em> menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paritas dengan kejadian kanker serviks (<em>P</em>&lt;0,05). Proses paritas mengakibatkan perubahan pada epitel serviks yang berdampak pada peningkatan risiko terjadinya kanker serviks.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17807 Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Dispepsia pada Pasien Rawat Jalan RS Al-Islam Periode Tahun 2022 2025-02-21T20:12:31+08:00 Moh. Andhika Arief Wicaksana wicaksono0304@gmail.com Hidajat Widjajanegara hwnegara@gmail.com Maya Tejasari mayatejasari4981@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Dyspepsia is a condition characterized by discomfort or burning pain in the upper abdomen, which is often chronic or recurrent. In Indonesia, the prevalence of dyspepsia is quite high and can be caused by various risk factors that play a role in the onset of this digestive disorder. Dyspepsia is divided into two main groups, namely functional dyspepsia and organic dyspepsia. Functional dyspepsia does not have observable structural abnormalities, while organic dyspepsia is caused by certain medical conditions such as gastric ulcers or GERD. This study aims to determine the relationship between risk factors and the incidence of dyspepsia in outpatients at Al Islam Hospital Bandung in the period of 2022. The research method used is quantitative, with an analysis of the relationship between risk factors and the incidence of dyspepsia. The results showed that poor dietary factors had a significant relationship with the incidence of dyspepsia in outpatients. Most of the patients involved in this study had unhealthy eating habits, such as consuming fatty, spicy, and heavy foods, which are known to worsen digestive disorders. In addition to dietary factors, this study also found that stress, anxiety, and depression are risk factors that contribute to the occurrence of dyspepsia. Most patients reported high levels of stress, which affects their digestive function, including increased gastric acid production that can worsen dyspepsia symptoms.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dispepsia adalah kondisi yang ditandai dengan ketidaknyamanan atau rasa sakit seperti terbakar di perut bagian atas, yang sering kali bersifat kronis atau berulang. Di Indonesia, prevalensi dispepsia cukup tinggi dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang berperan dalam timbulnya gangguan pencernaan ini. Dispepsia dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu dispepsia fungsional dan dispepsia organik. Dispepsia fungsional tidak memiliki kelainan struktural yang dapat diamati, sementara dispepsia organik disebabkan oleh kondisi medis tertentu seperti tukak lambung atau GERD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan kejadian dispepsia pada pasien rawat jalan di RS Al Islam Bandung pada periode tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan analisis hubungan antara faktor risiko dan kejadian dispepsia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pola makan yang buruk memiliki hubungan signifikan dengan kejadian dispepsia pada pasien rawat jalan. Sebagian besar pasien yang terlibat dalam penelitian ini memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan berlemak, pedas, dan berat, yang diketahui dapat memperburuk gangguan pencernaan. Selain faktor pola makan, penelitian ini juga menemukan bahwa stres, kecemasan, dan depresi merupakan faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian dispepsia. Sebagian besar pasien melaporkan tingkat stres yang tinggi, yang mempengaruhi fungsi pencernaan mereka, termasuk peningkatan produksi asam lambung yang dapat memperburuk gejala dispepsia.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17813 Hubungan Status BPJS dengan Kegagalan Terapi Tuberkulosis Berdasarkan Data Sampel BPJS Indonesia Tahun 2019-2021 2025-02-21T20:11:26+08:00 Mochamad Azhar Nugraha azharnugraha24@gmail.com Fajar Awalia Yulianto fajar@unisba.ac.id Susan Fitriyana susanfitriyana@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) is a contagious disease and a global health concern. Indonesia has the second-highest TB burden worldwide caused by the Mycobacterium tuberculosis bacteria which can lead to severe complications particularly if treatment fails. The National Health Insurance Program (JKN) by BPJS Kesehatan has provided widespread access to TB treatment. However, differences in BPJS membership status, namely Contribution Assistance Beneficiaries (PBI) and NonPBI members, are suspected to influence treatment success rates. This study employed a retrospective cohort design, analyzing secondary data from 21,763 TB patients between 2019 and 2021. The analysis utilized the Risk Ratio (RR) method with a 95% Confidence Interval (CI) to evaluate the relationship between BPJS status and treatment success. Among the 21,763 samples, 11,209 patients (51.50%) were classified as PBI members, while 10,554 patients (48.50%) were Non-PBI members. The overall treatment success rate was exceptionally low, with only 0.6% of patients declared cured. Non-PBI patients were found to have a higher risk of treatment failure compared to PBI patients, with a Risk Ratio (RR) of 1.973 (95% CI = 1.367–2.846, p &lt; 0.05). The study shows a significant relationship between BPJS status and TB treatment failure. These findings highlight the importance of strengthening early detection programs, education, and further interventions to improve treatment success among Non-PBI patients.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan global, dengan Indonesia memiliki beban TB tertinggi kedua di dunia yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menyebabkan komplikasi serius terutama jika pengobatan tidak berhasil. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan telah memberikan akses pengobatan TB secara luas namun perbedaan status kepesertaan BPJS, yaitu Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Non-PBI diduga memengaruhi keberhasilan terapi. Penelitian menggunakan desain cohort retrospective. Data sekunder sebanyak 21.763 sampel pasien TB dari periode 2019–2021 dianalisis menggunakan metode Risk Ratio (RR) dengan Confidence Interval (CI) 95% untuk menilai hubungan antara status BPJS dan keberhasilan terapi. Dari 21.763 sampel, bahwa pasien yang memiliki status PBI sebanyak 11.209 orang atau 51,50%, sementara jumlah pasien dengan status Non-PBI sebanyak 10.554 orang atau 48,50%. Untuk tingkat keberhasilan terapi secara keseluruhan sangat rendah, dengan hanya 0,6% pasien yang dinyatakan sembuh. Pasien Non-PBI memiliki risiko kegagalan terapi lebih tinggi dibandingkan pasien PBI, dengan Risk Ratio (RR) sebesar 1,973 (CI 95% = 1,367–2,846, p &lt; 0,05). Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status BPJS dan kegagalan terapi TB. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan program deteksi dini, edukasi, dan intervensi lebih lanjut untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan pada pasien Non-PBI.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17828 Pola Resistensi Obat Tuberkulosis pada Penderita TB Paru dengan Komorbid DM di Bandung pada Tahun 2022-2024 2025-02-21T20:10:17+08:00 Ragil Santoso santoso.ragil26@gmail.com Usep Abdullah Husin usep.abdullahusin@gmail.com Julia Hartati juliahartati.fkunisba06@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Drug-resistant tuberculosis (TB) is a major challenge in global TB control, especially in patients with comorbid diabetes mellitus (DM). This study aims to examine the pattern of tuberculosis drug resistance in patients with pulmonary tuberculosis accompanied by comorbid diabetes mellitus at Al-Ihsan Hospital. This study is a descriptive observational study with a retrospective approach using secondary data from patient medical records at Al-Ihsan Hospital in 2022-2024. The study population was pulmonary TB patients with comorbid DM. The analysis was carried out descriptively to describe patient characteristics and drug resistance patterns. The results of the study, 141 patients were analyzed. The majority of patients were male (52.5%) with an age distribution dominated by productive age, 14-44 years, as much as 79%. Most patients work as laborers (59%) and have elementary school education (52%). Drug resistance is dominated by multi-drug resistance (MDR) as many as 3 cases. The conclusion of this study shows that pulmonary TB patients with comorbid DM experience drug resistance with the highest resistance pattern in MDR because resistance to first-line drugs, namely isoniazid and rifampicin, is the initial stage of drug resistance development that most often occurs due to inadequate treatment, patient non-compliance, or incomplete therapy. DM patients with poor sugar control increase the risk of developing RO TB due to immune system dysfunction. In addition, rifampicin levels in patients with low DM comorbidities reduce the effectiveness of treatment. Efforts to detect early drug resistance management must be strengthened, especially in pulmonary TB patients with comorbid DM.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) resisten obat menjadi tantangan utama dalam pengendalian TB global, terutama pada pasien dengan komorbid diabetes melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pola resistensi obat tuberkulosis pada penderita tuberkulosis paru yang disertai komorbid diabetes melitus di RSUD Al-Ihsan. Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien di RSUD Al-Ihsan pada tahun 2022-2024. Populasi penelitian adalah pasien TB paru dengan komorbid DM. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik pasien, dan pola resistensi obat. Hasil penelitian, sebanyak 141 pasien dianalisis. Mayoritas pasien adalah laki-laki (52,5%) dengan distribusi usia yang didominasi oleh usia produktif, 14—44 tahun, sebanyak 79% . Sebagian besar pasien bekerja sebagai buruh (59%) dan memiliki tingkat pendidikan SD (52%). Resistensi obat didominasi oleh multi-drug resistance (MDR) sebanyak 3 kasus. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pasien TB paru dengan komorbid DM mengalami resistensi obat dengan pola resistensi tertinggi pada MDR karena resistensi terhadap obat lini pertama, yaitu isoniazid dan rifampisin, merupakan tahap awal perkembangan resistensi obat yang paling sering terjadi akibat pengobatan yang tidak adekuat, ketidakpatuhan pasien, atau terapi yang tidak tuntas. Pasien DM dengan kontrol gula buruk meningkatkan resiko terjadinya TB RO karena terjadi disfungsi sistem imun. Selain itu, kadar rifampisin pada pasien dengan komorbid rendah DM sehingga mengurangi efektivitas pengobatan. Upaya deteksi dini pengelolaan resistensi obat harus diperkuat terutama pada pasien TB paru dengan komorbid DM.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17835 Hubungan Kecanduan Gadget dengan Kualitas Tidur pada Siswa SMP Negeri 5 Cimahi Tahun 2024 2025-02-21T20:08:11+08:00 Aisya Noor Jayusman cacaaisya68@gmail.com Usep Abdullah Husin usep.abdullahusin@gmail.com Ismawati ismawati@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>Excessive gadget use has become an increasing concern, especially among adolescents. This study aims to analyze the relationship between gadget addiction and sleep quality among students of SMP Negeri 5 Cimahi in 2024. A quantitative research method with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 162 students, selected through purposive sampling. Gadget addiction was measured using the Smartphone Addiction Scale - Short Version (SAS-SV), while sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The results showed that 66.05% of students had a high level of gadget addiction, while 77.78% had poor sleep quality. Bivariate analysis using the Chi-Square test indicated a significant relationship between gadget addiction and sleep quality (p-value = 0.021). This suggests that the higher the level of gadget addiction, the worse the students' sleep quality. The primary causes of gadget addiction include easy access to the internet, excessive screen time, and social media use before bedtime. Poor sleep quality has been linked to decreased concentration, emotional disturbances, and increased health risks. Therefore, effective interventions are necessary to mitigate the negative impact of gadget addiction on sleep, such as educating students about time management and promoting healthy sleep habits. In conclusion, gadget addiction negatively affects adolescents' sleep quality, highlighting the need for preventive strategies involving students, parents, and educational institutions.<em>&nbsp;</em></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penggunaan <em>gadget</em> secara berlebihan telah menjadi masalah yang semakin meningkat, terutama di kalangan remaja. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecanduan <em>gadget</em> dengan kualitas tidur pada siswa SMP Negeri 5 Cimahi tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel terdiri dari 162 siswa yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengukuran kecanduan <em>gadget</em> dilakukan menggunakan <em>Smartphone Addiction Scale - Short Version</em> (SAS-SV), sementara kualitas tidur diukur dengan <em>Pittsburgh Sleep Quality Index</em> (PSQI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,05% siswa mengalami kecanduan gadget tingkat tinggi, sementara 77,78% memiliki kualitas tidur yang buruk. Analisis bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecanduan <em>gadget</em> dengan kualitas tidur (p-value = 0,021). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan <em>gadget</em>, semakin buruk kualitas tidur siswa. Penyebab utama kecanduan <em>gadget</em> meliputi akses mudah terhadap internet, durasi penggunaan yang berlebihan, dan kebiasaan bermain media sosial sebelum tidur. Dampak dari kualitas tidur yang buruk termasuk menurunnya konsentrasi belajar, gangguan emosional, serta peningkatan risiko masalah kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang efektif untuk mengurangi dampak negatif kecanduan <em>gadget</em> terhadap tidur, seperti edukasi mengenai manajemen waktu penggunaan <em>gadget</em> serta kebiasaan tidur yang sehat. Kesimpulannya, kecanduan <em>gadget</em> berpengaruh negatif terhadap kualitas tidur remaja, sehingga diperlukan strategi pencegahan yang tepat bagi siswa, orang tua, dan institusi pendidikan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17836 Korelasi Antara Pertambahan Berat Badan Ibu Selama Kehamilan dengan Berat Badan Bayi saat Lahir di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2023 2025-02-21T20:05:21+08:00 Anadhira Indar Rahmani anadhiraaidrr@gmail.com Sadiah Achmad sadiah.achmad@gmail.ac.id Susan Fitriyana susan.fitriyana@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="EN-US">In Indonesia, the incidence of infant mortality attributable to low birth weight (LBW) was 22,362 cases, constituting approximately 1.32% of all infant mortalities. This position places Indonesia 76th out of 183 countries in terms of the top 50 causes of death associated with LBW. The present study aims to analyse the corellation between maternal weight gain during pregnancy and infant weight at birth at Al-Ihsan Bandung Hospital in 2023 using an analytic descriptive design and cross-sectional approach. Of the 98 pregnant women included in the study, the majority (43.9%) experienced low weight gain, with an average gain of 12.79 kg, while most babies (78.6%) were born with normal weight, averaging 2970.8 grams. The application of the Spearman rank correlation test revealed an absence of a statistically significant corellation between maternal weight gain and infant weight at birth (p = 0.939). While maternal weight gain possesses the capacity to exert an influence on infant health, it is evident that other factors, including nutritional status, diet, health services and genetics, exert a more substantial influence. The present study concludes that there is no statistically significant corellation between maternal weight gain during pregnancy and infant weight at birth, underscoring the necessity to give due consideration to other factors that may contribute to the enhancement of maternal and infant health.</span><span lang="IN">&nbsp; </span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong><span lang="EN-US"> Kasus mortalitas akibat berat bayi lahir rendah (BBLR) di Indonesia mencapai 22.362 atau sekitar 1,32% dari keseluruhan kematian bayi, menjadikan Indonesia peringkat ke-76 dari 183 negara dalam kategori 50 teratas penyebab kematian terkait BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dengan berat badan bayi saat lahir di RSUD Al-Ihsan Bandung pada tahun 2023 dengan menggunakan desain deskriptif analitik dan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Dari 98 ibu hamil, mayoritas (43,9%) mengalami pertambahan berat badan yang rendah dengan rata-rata kenaikan 12,79 kg, sementara sebagian besar bayi (78,6%) lahir dengan berat badan normal, rata-rata 2970,8 gram. Analisis dengan uji korelasi <em>rank spearman</em> menunjukkan tidak terdapat korelasi signifikan antara pertambahan berat badan ibu dan berat badan bayi saat lahir (p = 0,939). Meskipun pertambahan berat badan ibu berpotensi mempengaruhi kesehatan bayi, faktor-faktor lain seperti status gizi, pola makan, pelayanan kesehatan, dan faktor genetik lebih berperan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi signifikan antara pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dengan berat badan bayi saat lahir, sehingga penting untuk mempertimbangkan faktor lain guna meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17841 Hubungan Rinitis Alergi dengan Health-Related Quality of Life Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun 2024 2025-02-21T20:04:28+08:00 Muhammad Pasya Alfarel pasyaalfarel@gmail.com Herri S. Sastramihardja herpst099@yahoo.com Eka Hendryanny eka_hendryanny@yahoo.com <p><strong>Abstract. </strong>Allergic Rhinitis is a nasal hypersensitivity with symptoms such as runny nose, congestion, itching, sneezing that is reversible spontaneously or with treatment. Based on the Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) Guidelines 2016, there is a classification based on duration (intermittent &amp; persistent) and severity (mild &amp; moderate-severe) of symptoms. Allergic rhinitis can cause a decrease in Health-Related Quality of Life (HRQoL) which can be assessed using the Rhinoconjunctivitis Quality of Life Questionnaire (RQLQ). The purpose of this study was to determine the relationship between allergic rhinitis and HRQoL in Medical Faculty Students of Islamic University Bandung Year 2024. The method used was analytic observational with a cross-sectional design taken from primary data in the form of Score For Allergic Rhinitis (SFAR) and RQLQ questionnaires. Based on the inclusion and exclusion criteria, 96 research subjects were obtained. The research data were analyzed using chi-square. The results showed that most of the research subjects were female (71%), and most of the research subjects had allergic rhinitis (55%). Based on the classification of allergic rhinitis, most of the research subjects with allergic rhinitis were classified as moderate-severe intermittent (70%). Based on the RQLQ, the domain with the most severe impairment is nasal symptoms. Research subjects with allergic rhinitis was more impaired with more severe disorders in the classification of moderate-severe intermittent &amp; moderate-severe persistent allergic rhinitis, while non-rhinitis allergies had milder disorders. The results of the chi-square test showed a relationship between allergic rhinitis and Health-Related Quality of Life in Students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung Year 2024 (p=0.003). One of the most important aspects of allergic rhinitis can be nasal congestion which has the potential to disrupt sleep quality. This can lead to other problems such as drowsiness, fatigue, restlessness, or decreased cognitive function that impacts the thinking process, memory, and learning which affects the Health-Related Quality of Life in medical students.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Rinitis Alergi merupakan hipersensitivitas pada hidung dengan gejala seperti hidung berair, tersumbat, gatal, bersin yang bersifat reversibel secara spontan atau dengan pengobatan. Berdasarkan Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) Guidelines 2016, terdapat klasifikasi berdasarkan durasi (intermittent &amp; persistent) dan keparahan (mild &amp; moderate-severe) gejala. Rinitis alergi dapat menyebabkan penurunan Health-Related Quality of Life (HRQoL) yang dapat dinilai salah satunya menggunakan Rhinoconjunctivitis Quality of Life Questionnaire (RQLQ). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara rinitis alergi dengan HRQoL pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun 2024. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional yang diambil dari data primer berupa kuesioner Score For Allergic Rhinitis (SFAR) dan RQLQ. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan subjek penelitian sebanyak 96 orang. Data penelitian dilakuan analisis menggunakan chi-square. Hasil menunjukkan sebagian besar adalah perempuan (71%), dan sebagian besar subjek penelitian memiliki rinitis alergi (55%). Berdasarkan klasifikasi rinitis alergi, sebagian besar subjek penelitian dengan rinitis alergi terklasifikasi sebagai moderate-severe intermittent (70%). Berdasarkan RQLQ, domain dengan gangguan terberat adalah gejala hidung. Subjek penelitian dengan rinitis alergi mengalami gangguan HRQoL yang lebih berat pada klasifikasi rinitis alergi <em>moderate-severe intermittent</em> &amp; <em>moderate-severe persistent</em>, sedangkan non-rinitis alergi memiliki gangguan yang lebih ringan. Hasil uji <em>chi-square</em> menunjukkan adanya hubungan antara rinitis alergi dengan Health-Related Quality of Life pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun 2024 (p=0,003). Salah satu aspek terpenting dari rinitis alergi dapat menimbulkan hidung tersumbat yang berpotensi menganggu kualitas tidur. Hal ini dapat menyebabkan masalah lain seperti rasa mengantuk, lelah, gelisah, atau penurunan fungsi kognitif yang berdampak pada proses berpikir, ingatan, dan belajar yang berpengaruh terhadap <em>Health-Related Quality of Life</em> pada mahasiswa fakultas kedokteran.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17842 Gambaran Faktor Penyebab Ketidakpatuhan Penggunaan Alat Pelindung Mata pada Pekerja yang Mengalami Korpus Alienum di RSUD Waled Tahun 2024 2025-02-21T20:03:23+08:00 Mohamad Farras Athaya Akturusiano farrasathaya49@gmail.com Budiman budiman.ikm.fkunisba@gmail.com Dony Septriana Rosady dony.septriana@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>Corpus alienum is the most common type of eye injury, accounting for 30–40% of all eye injuries worldwide. The use of eye protection (APM) is essential for prevention, yet non-compliance remains an issue. This study aims to analyze the factors influencing non-compliance with APM use among workers with corpus alienum injuries at RSUD Waled in 2024. This quantitative descriptive study used a questionnaire as the measuring instrument. The study included 97 respondents and was conducted at RSUD Waled from October 2023 to December 2024. The study found that discomfort in using APM (79.4%) and less strict supervision (50.5%) were the main factors influencing non-compliance. Despite this, workers showed high awareness (72.2%) but only moderate knowledge (54.6%) about the risks and consequences of non-compliance. Non-compliance with APM is influenced by discomfort and lack of strict supervision. While workers have high awareness, their knowledge is still moderate, likely shaped by prior experience with corpus alienum injuries. Strengthening APM availability, enforcement, and education is crucial to improving compliance and reducing eye injury risks in workers.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Korpus alienum merupakan cedera mata yang paling sering terjadi, mencakup 30-40% dari seluruh cedera mata di dunia. Penelitian ini menganalisis faktor ketidakpatuhan penggunaan Alat Pelindung Mata (APM) pada pasien pekerja yang terkena korpus alienum di RSUD Waled tahun 2024. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan kuesioner pada 97 responden dari Oktober 2023 – Desember 2024. Hasil penelitian menunjukkan faktor utama ketidakpatuhan dalam penggunaan APM adalah ketidaknyamanan (79,4%), tidak tersedianya APM dan protokol penggunaan (34%), serta kurangnya pengawasan (50,5%). Sementara itu, tingkat kesadaran pasien pekerja tergolong tinggi (72,2%) dan tingkat pengetahuan berada pada kategori sedang (54,6%). Kesimpulannya, ketidakpatuhan dalam penggunaan APM dipengaruhi oleh faktor kenyamanan, ketersediaan, dan pengawasan. Kesadaran yang tinggi dan pengetahuan sedang diasumsikan terbentuk dari pengalaman sebelumnya dalam menghadapi cedera korpus alienum. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan, edukasi, serta ketersediaan APM untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17848 Gambaran Karakteristik Pasien Penyakit Ginjal Kronis di RSUD Kabupaten Indramayu Tahun 2020-2024 2025-02-21T20:02:33+08:00 Firdaus Kurniadipura firrdaus27kurnia@gmail.com Anita Indriyanti r.anitaindriyanti@gmail.com Yuniarti candytone26@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Chronic kidney failure is an incurable disease that requires lifelong hemodialysis therapy. The prevalence of CKD in Indramayu Regency is high, which can be seen from various risk factors such as lifestyle, comorbid diseases, age, and gender. Therefore, this study aims to describe the characteristics of chronic kidney patients in the Indramayu Regency General Hospital from 2020-2024 based on stage, gender, age, and frequency of dialysis. This research is a descriptive study using secondary data obtained from medical records, with a total of 201 patients. The results of the study showed that all chronic kidney patients in the Indramayu Regency General Hospital from 2020-2024 were in stage V. In addition, it was found that the majority of CKD patients were women, with 110 women (54.7%). It was also found that age is a factor influencing CKD patients, with the average CKD patient in the Indramayu Regency General Hospital being over 40 years old (75.6%). One of the CKD therapies, hemodialysis or dialysis, showed that from the total of 201 CKD patients undergoing dialysis, the average was 45 dialysis sessions, with a median of 24 sessions over four years. This study highlights the importance of early detection and management of risk factors in CKD patients to prevent further disease progression.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penyakit gagal ginjal kronik merupakan salah satu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan memerlukan terapi hemodialisa yang berlangsung seumur hidup. Prevalensi PGK di kabupaten Indramayu tinggi, dapat dilihat dari berbagai faktor risiko dari kasus PGK di kabupaten Indramayu yang masih tinggi, seperti gaya hidup, penyakit penyerta, usia, jenis kelamin. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran karakteristik pasien ginjal kronis di RSUD kabupaten Indramayu pada tahun 2020-2024 berdasarkan stadium, jenis kelamin, usia, dan frekuensi cuci darah. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis dengan jumlah total 201 pasien. Hasil penelitian menunjukan karakteristik seluruh pasien ginjal kronis di RSUD kabupaten Indramayu tahun 2020-2024 berada pada stadium V. Selain itu didapatkan juga faktor lain seperti jenis kelamin, yang terbanyak mengidap PGK adalah wanita yaitu 110 wanita (54,7%).&nbsp; Didapatkan juga, faktor usia yang dapat memengaruhi pasien PGK, di RSUD kabupaten Indramayu rata-rata pasien PGK berada pada rentang usia &gt;40 tahun (75,6%). Salah satu terapi PGK yaitu hemodialisa atau cuci darah, di RSUD kabupaten Indramayu tahun 2020-2024, dari total pasien 201 pasien PGK yang melakukan cuci darah didapatkan rerata 45 kali cuci darah dengan nilai tengah 24 kali dalam kurung waktu 4 tahun. Penelitian ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko pada pasien PGK untuk mencegah perkembangan penyakit lebih lanjut.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17882 Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Tamansari Tahun 2024 2025-02-21T20:01:31+08:00 Lananda Queeny Najendra lanandanajendra@gmail.com Yuli Susanti yuli.susanti@unisba.ac.id Nurul Romadhona nromadhonadr@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Breast milk (ASI) is the sole source of nutrition for infants aged 0-6 months and is recommended to continue until the child reaches two years of age. The exclusive breastfeeding coverage in Indonesia, based on WHO data in 2022, was recorded at only 67.96%. One of the factors that can affect the success of exclusive breastfeeding is the low level of support from husbands and families. This study aims to determine whether there is a relationship between husband’s support and the success of exclusive breastfeeding in the working area of the Tamansari Health Center. This research employs an observational analytic study with a cross-sectional approach, collecting primary data using a questionnaire instrument from 154 samples. The statistical test results, analyzed using the Chi-Square test, showed a p-value of 0.335 (p &gt; 0.05), indicating that the null hypothesis (Ho) is accepted and the alternative hypothesis (Ha) is rejected. This result demonstrates that there is no relationship between husband support and the success of exclusive breastfeeding. This study concludes that husband support does not significantly influence exclusive breastfeeding practices.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Air susu ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang dikonsumsi bayi berusia 0-6 bulan pertama hidupnya, yang kemudian dilanjut hingga berusia dua tahun. Cakupan ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan data yang diperoleh WHO tahun 2022, tercatat hanya 67,96%. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif diantaranya pengaruh dukungan suami dan keluarga rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Tamansari. Metode penelitian ini menggunakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em> yang mengambil data primer menggunakan instrument penelitian kuesioner kepada 154 sampel. Hasil uji statistik yang diperoleh menggunakan analisis <em>Chi Square</em>, diperoleh hasil nilai p sebesar 0,335 &gt; (nilai p &gt; 0,05) sehingga Ho diterima dan Ha ditolak, menunjukkan tidak adanya hubungan antara dukungan suami terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Penelitian ini membuktikan bahwa dukungan suami tidak memberikan pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17904 Ketahanan Masyarakat terhadap Banjir: Studi di Desa Dayeuhkolot dan Desa Buninagara 2025-02-21T19:59:04+08:00 Rosalina Nur Azizah rosalinazizah@gmail.com Siska Nia Irasanti siska@unisba.ac.id Ariko Rahmat Putra arikorp@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Floods are natural disasters that often occur in various regions in Indonesia, causing significant material and non-material losses. Community resilience in the face of flood disasters is very important to minimize the impact of flood disasters. This study aims to analyze the comparison of community resilience to flood disasters between Dayeuhkolot Village and Buninagara Village. This research used a survey method with a quantitative approach conducted in September-December 2024, with 99 respondents from each village. Data were collected through a questionnaire that had been tested for validity and reliability to measure the level of community resilience. The analysis method used in this study is Mann-Whitney statistical test to compare differences in resilience between the two villages. The results showed that the level of community resilience in Dayeuhkolot Village was predominantly in the high (94%) and medium (4%) categories, while in Buninagara Village the majority were in the high category (93%) with a variation of 5% in the medium category and 2% in the low category. The Mann-Whitney test yielded a p-value of &lt;0.001, indicating a significant comparison between the two villages in terms of flood resilience. This is due to factors in the dimensions of flood resilience such as connection and caring, resources, transformative potential, disaster management, and information and communication that influence. Dayeuhkolot Village is an urban area that shows mostly high and medium levels of community resilience to flood disasters, while Buninagara Village, which is a rural area, still has low levels of community resilience to flood disasters.</p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstrak. </span></strong>Bencana banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, menyebabkan kerugian materiil dan non-materiil yang signifikan. Ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir sangat penting untuk meminimalkan dampak dari bencana banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan ketahanan masyarakat terhadap bencana banjir antara Desa Dayeuhkolot dan Desa Buninagara. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan pada bulan September-Desember 2024, dengan responden sebanyak 99 orang dari masing-masing desa. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reabilitas untuk mengukur tingkat ketahanan masyarakat. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik Mann-Whitney untuk membandingkan perbedaan ketahanan antara kedua desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat Ketahanan Masyarakat di Desa Dayeuhkolot didominasi kategori tinggi (94%) dan sedang (4%), sedangkan di Desa Buninagara mayoritas berada dalam kategori tinggi (93%) dengan variasi 5% dalam kategori sedang dan 2% dalam kategori rendah. Uji Mann-Whitney menghasilkan p-value &lt; 0.001 yang mengindikasikan adanya perbandingan signifikan antara kedua desa dalam tingkat ketahanan terhadap bencana banjir. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor dalam dimensi ketahanan terhadap banjir seperti hubungan dan kepedulian, sumber daya, potensi transformatif, manajemen bencanan, serta informasi dan komunikasi yang turut memengaruhi. Desa Dayeuhkolot merupakan wilayah urban yang menunjukkan sebagian besar tingkat ketahanan masyarakat terhadap bencana banjir yang tinggi dan sedang, sedangkan Desa Buninagara yang merupakan wilayah rural masih terdapat ketahanan masyarakat terhadap bencana banjir yang rendah.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17905 Hubungan Beban Kerja dengan Stress Kerja Perawat ICU di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat 2025-02-21T19:58:02+08:00 Dafa Zain Kertabudhi dafazk14@gmail.com Caecielia Makaginsar caecielia@gmail.com Dony Septriana Rosady dony.septriana@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Nurses are one of the health workers who have the task and responsibility to maintain the health of patients to get through critical conditions. The high workload on nurses is one of the factors that can cause work stress which will have an impact on the nurse's work itself. This study aims to analyze the relationship between workload and work stress of ICU nurses at Al-Ihsan Hospital, West Java Province in 2024. The population of this study were nurses working in the ICU of Al-Ihsan Hospital, West Java Province in 2024 and data collection using purposive sampling based on exclusion and inclusion criteria. This study uses the Slovin formula to determine the minimum number of samples, in this study the sample was 44 people. The design of this study uses an analytical observational method with a cross-sectional approach with a research measuring instrument using a questionnaire. The data for this study came from primary data taken from the questionnaire to measure workload using a work sampling approach through a daily log and measure work stress using the Depression Anxiety Stress Scales (DASS 21) questionnaire. Data were analyzed using bivariate tests with the Fisher exact test. Of the 44 nurses, the majority experienced moderate workloads, as many as 38 people (86.4%) and experienced normal work stress (70.5%). The results of statistical tests showed that there was no significant relationship between workload and nurse work stress because the work stress experienced was not only caused by workload but could be caused by various factors such as role ambiguity such as differentiating gender, sexual harassment, conflict between roles, interpersonal factors such as poor social support, social jealousy, and lack of management attention, then it could be caused by career development, organizational structure, and could also be caused by outside work such as mixing personal problems with work.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perawat adalah merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki tugas dan memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan kesehatan pasien untuk melewati kondisi kritis. Beban kerja yang tinggi pada perawat merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan adanya stres kerja yang akan berdampak pada pekerjaan perawat itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan beban kerja dengan stres kerja perawat ICU RSUD Al-Ihsan Provinsi tahun Jawa Barat pada 2024. Populasi penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ICU RSUD Al-Ihsan Provinsi tahun Jawa Barat pada 2024 dan pengambilan data menggunakan purposive sampling dengan berdasarkan kriteria eksklusi dan inklusi. Penelitian ini menggunakan rumus slovin untuk menentukan jumlah sampel minimal, pada penelitian ini sampel berjumlah 44 orang. Rancangan penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Data penelitian ini berasal dari data primer yang di ambil dari kuesioner untuk mengukur beban kerja menggunakan pendekatan work sampling melalui daily log dan mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stres Scales (DASS 21). Data dianalisis menggunakan dengan uji bivariat dengan uji fisher exact. Dari jumlah 44 perawat mayoritas mengalami beban kerja pada kategori sedang sebanyak 38 orang (86.4%) dan mengalami yang memiliki stres kerja normal (70.5%). Dari hasil uji statistik menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stres kerja perawat dikarenakan stres kerja yang dialami tidak hanya disebabkan oleh beban kerja tetapi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti ketidakjelasan peran seperti membedakan gender, pelecahan seksual, konflik antar peran, faktor interpersonal seperti dukungan sosial yang buruk, kecemburuan sosial, dan kurangnya perhatian manajemen, lalu bisa diakibatkan oleh perkembangan karir, struktur organisasi, dan juga dapat diakibatkan dari luar pekerjaan seperti mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17917 Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang Tuberkulosis pada Penderita Tuberkulosis Paru 2025-02-21T19:56:56+08:00 Hasna Aliyah Azzahra 10100121253@unisba.ac.id Yuniarti yuniarti@unisba.ac.id Winni Maharani Mauliani winni@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) is an infectious disease that has become a global health concern, particularly in Indonesia, which ranks second in the world for the highest number of TB cases. Patient knowledge about TB is crucial in supporting treatment success, as it influences preventive behaviors and adherence to therapy. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design conducted at the Kutawaringin Health Center, Bandung Regency. The study sample consisted of 84 respondents selected through random sampling techniques. Data were collected using a questionnaire that assessed patients' knowledge of TB, covering aspects of symptoms, transmission, and treatment. Data analysis was performed univariately to describe the distribution of respondents' knowledge levels. The results showed that 63% of respondents had a good level of knowledge, 37% had a moderate level, and none had a low level of knowledge. The majority of patients understood TB symptoms, transmission methods, and the importance of adhering to treatment. Most pulmonary TB patients at the Kutawaringin Health Center had a good level of knowledge about their disease. However, health education remains essential to enhance deeper understanding and prevent non-adherence to treatment. Sustainable health education programs are expected to strengthen patient awareness in managing TB optimally.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang menjadi salah satu masalah kesehatan global, terutama di Indonesia yang menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia. Pengetahuan pasien mengenai TB sangat penting dalam mendukung keberhasilan pengobatan, karena dapat memengaruhi perilaku pencegahan dan kepatuhan terhadap terapi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan di Puskesmas Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Sampel penelitian berjumlah 84 responden yang dipilih melalui teknik random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur tingkat pengetahuan pasien tentang TB, mencakup aspek gejala, penularan, dan pengobatan. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 37% memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan tidak ada responden yang memiliki tingkat pengetahuan rendah. Mayoritas pasien memahami gejala TB, metode penularannya, serta pentingnya menjalani pengobatan secara teratur. Sebagian besar penderita TB paru di Puskesmas Kutawaringin memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai penyakitnya. Namun, edukasi kesehatan tetap diperlukan untuk meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam dan mencegah ketidakpatuhan dalam pengobatan. Diharapkan program penyuluhan kesehatan yang berkelanjutan dapat memperkuat kesadaran pasien dalam mengelola penyakit TB secara optimal.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17918 Hubungan Obesitas dan Karies Gigi pada Usia 7-12 Tahun di RSUD Al-Ihsan Bandung 2025-02-21T19:55:50+08:00 Roswanda Hadi Surya Bahari roswandabhr@gmail.com Mieke Hemiawati Satari mieke_satari@yahoo.com Febriana Kurniasari Febriana.kurniasari@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Obesity and dental caries are two significant health issues in children, intricately linked through high-sugar dietary habits and suboptimal oral health care practices . This study aims to analyze the relationship between obesity and dental caries in children aged 7-12 years at RSUD Al-Ihsan Bandung in 2023. The research employed an observational analytical design with a cross-sectional approach. A total of 258 children who met the inclusion and exclusion criteria were selected as study subjects. The findings revealed that children with obesity have a significantly higher risk of developing dental caries compared to non-obese children (P-value &lt; 0.001). This relationship is influenced by factors such as high sugar intake, low physical activity, and inadequate oral hygiene practices. This study contributes to understanding the link between obesity and dental caries and highlights the importance of preventive interventions through education on healthy eating and routine dental check-ups.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Obesitas dan karies gigi adalah dua masalah kesehatan yang signifikan pada anak-anak yang saling terkait melalui pola konsumsi makanan tinggi gula dan kebiasaan perawatan kesehatan gigi yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas dan karies gigi pada anak usia 7-12 tahun di RSUD Al-Ihsan Bandung tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 258 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menjadi subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dengan obesitas memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami karies gigi dibandingkan anak tanpa obesitas (P-value &lt; 0,001). Hubungan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pola makan tinggi gula, aktivitas fisik rendah, dan kebiasaan kebersihan gigi yang kurang optimal. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman hubungan obesitas dan karies gigi serta pentingnya intervensi preventif melalui edukasi pola makan sehat dan pemeriksaan gigi rutin.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17959 Hubungan Prematur dengan Cerebral Palsy di Rumah Sakit Al-Islam Bandung 2025-02-21T19:54:38+08:00 Aulia Zahirah Fatimah Hafidzah zahirahiraa14@gmail.com Herry Garna herrygarna@gmail.com Yani Dewi Suryani yani.dewi@unisba.ac.id <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstract</span></strong><span lang="EN-US">. Cerebral palsy (CP) is one of the clinically and socially significant non-progressive neurological disorders, often associated with preterm birth. This study aims to evaluate the relationship between preterm birth and the incidence of CP at Al-Islam Hospital Bandung for the period 2022–2024 using a retrospective approach based on medical record data. Among 519 preterm infants, 40 infants (63,5%) were diagnosed with CP, whereas only 23 infants (36,5%) out of 1,631 term infants were affected. The analysis revealed a significant relationship between preterm birth and the incidence of CP (p &lt; 0.001). An Odds Ratio of 5.838 (95% CI: 3.461–9.849) indicated that preterm infants are 5.8 times more likely to develop CP compared to term infants. This study demonstrates that prematurity is a significant risk factor for CP. Preterm infants have a higher prevalence of CP compared to term infants. These findings underscore the importance of preventive interventions, such as optimal prenatal care and improved neonatal facilities, to reduce the risk of CP in preterm infants. Further research is needed to evaluate other factors that may influence the relationship between prematurity and CP.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak</span></strong><span lang="EN-US">. <em>Cerebral palsy</em> (CP) merupakan salah satu gangguan neurologis non-progresif yang signifikan secara klinis dan sosial, sering kali berhubungan dengan kelahiran prematur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara kelahiran prematur dan kejadian CP di Rumah Sakit Al-Islam Bandung periode 2022–2024 dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis. Dari 519 bayi prematur, sebanyak 40 bayi (63,5%) mengalami CP, sedangkan dari 1.631 bayi cukup bulan, hanya 23 bayi (36,5%) yang mengalami CP. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara kelahiran prematur dan kejadian CP (p &lt; 0,001). <em>Odds Ratio</em> sebesar 5,838 (95% CI: 3,461–9,849) mengindikasikan bahwa bayi prematur memiliki peluang 5,8 kali lebih besar untuk mengalami CP dibandingkan bayi cukup bulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa prematuritas merupakan faktor risiko signifikan untuk CP. Bayi prematur memiliki prevalensi CP yang lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan. Hasil ini menekankan pentingnya intervensi preventif, seperti perawatan prenatal yang optimal dan peningkatan fasilitas neonatal, untuk mengurangi risiko CP pada bayi prematur. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi hubungan antara prematuritas dan CP.</span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/17983 Perbandingan Paritas dengan Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2023 2025-02-21T19:53:34+08:00 Widad Salsabila wisalsabila@gmail.com Sadiah Achmad achmad.sadiah@gmail.com Cice Tresnasari ctresnasari@gmail.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="EN-US">Preeclampsia is a condition that can occur in pregnant women, characterized mainly by high blood pressure and the presence of protein in the urine after 20 weeks of gestation. Various risk factors can influence the occurrence of preeclampsia, including age, parity, diabetes mellitus, obesity, and multiple pregnancies. This study aims to analyze the comparison between parity with the incidence of preeclampsia in pregnant women at RSUD Al-Ihsan Bandung. The sample selection technique used in this study is purposive sampling, with 116 research subjects. This study employs an analytical observational method with a cross-sectional approach. Data collection was carried out by recording the parity and diagnosis from patient medical records. Based on the analysis using the Chi-square test, it was concluded that there is no significant comparison between parity and preeclampsia with a p-value (p=0.977). From the result of this study, it is recommended that that women who are pregnant with their first child should consider delaying their pregnancy. For women with high parity (more than three), it is advised to use the family planning program to prevent further pregnancies.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <span lang="IN">Preeklampsia adalah suatu masalah yang dapat timbul pada wanita hamil, dengan tanda utama berupa tekanan darah yang tinggi dan terdapat protein dalam urin pada usia kehamilan 20 minggu. </span><span lang="IN">Berbagai faktor risiko dapat mempengaruhi terjadinya preeklampsia, termasuk usia, paritas, diabetes mellitus, obesitas, dan kehamilan ganda.</span><span lang="EN-US"> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan paritas dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil di RSUD Al-Ihsan Bandung. Teknik pemilihan sampel penelitian ini menggunakan <em>purposive sampling</em>, dengan subjek penelitian sebanyak 116 orang. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Pengambilan data dilakukan dengan mendata paritas dan diagnosis dari rekam medis pasien. Berdasarkan hasil analisis menggunakan <em>Chi-square test</em>, </span><span lang="EN-US">disimpulkan bahwa tidak terdapat perbandingan yang bermakna antara paritas dengan preeklampsia dengan nilai <em>p-value</em> (p=0,977). </span><span lang="EN-US">Dari hasil peneltian ini, dapat di sarankan bagi ibu hamil dengan paritas pertama untuk menunda kehamilannya. Untuk ibu dengan paritas tinggi (lebih dari tiga) disarankan untuk menggunakan program KB (Keluarga Berencana) untuk menghentikan kehamilannya. </span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18007 Kejadian ISPA dan Karakteristik Pasien ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Sepaku 1 Tahun 2024 2025-02-21T19:49:15+08:00 Ikhsan Ardianto ikhsanardiy@gmail.com R. Anita Indriyanti r.anitaindriyanti@gmail.com Siti Annisa Devi Trusda trusda_75@yahoo.com <p><strong>Abstract. </strong>Acute Respiratory Infection (ARI) is a major health issue in developing countries such as Indonesia, with a high prevalence and significant mortality risk.This study aims to describe the incidence of ARI and the characteristics of ARI patients in the working area of Sepaku 1 Public Health Center (Puskesmas) in 2024. The research employs a quantitative descriptive approach using a simple random sampling technique. Data were collected from ARI patients at Sepaku 1 Public Health Center in 2024 and analyzed descriptively. Out of a total of 100 respondents,&nbsp;62% were diagnosed with ARI, with gender distribution showing&nbsp;57% female and 43% male. The majority of respondents had a senior high school education (30%), while the least were from early childhood education (PAUD) and kindergarten. The average age of respondents was&nbsp;28.2 years, with the youngest being&nbsp;2 years old&nbsp;and the oldest&nbsp;65 years old. The high incidence of ARI is influenced by environmental factors such as&nbsp;poor ventilation, high housing density, and smoking habits within households. Additionally, environmental pollution due to construction activities is suspected to be one of the risk factors for ARI in the community in this area. The majority of ARI patients in the working area of Sepaku 1 Public Health Center are&nbsp;female, with an ARI incidence rate of 62%.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang seperti Indonesia, dengan prevalensi tinggi dan risiko mortalitas signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian ISPA dan karakteristik pasien ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sepaku 1 tahun 2024. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik simple random sampling. Data diperoleh dari pasien ISPA di Puskesmas Sepaku 1 tahun 2024 dan dianalisis secara deskriptif. Dari total responden sebesar 100 orang, sebanyak 62% responden mengalami ISPA dengan karakteristik jenis kelamin yaitu 57% adalah perempuan dan 43% laki-laki dengan tingkat pendidikan paling banyak SMA (30%) dan paling sedikit yaitu PAUD dan TK. Sementara usia responden diperoleh rata-rata usia 28.2 tahun dengan usia termuda 2 tahun dan usia tertua 65 tahun. Tingginya kejadian ISPA dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ventilasi buruk, kepadatan hunian, dan kebiasaan merokok dalam rumah. Faktor lingkungan seperti polusi akibat proses pembangunan diduga menjadi salah satu faktor risiko terjadinya ISPA pada masyarakat di daerah tersebut. Mayoritas pasien ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sepaku 1 adalah perempuan, dengan kejadian ISPA mencapai 62%.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18012 Hubungan Risiko Ergonomi dengan Keluhan CTS pada Pengupas Rajungan di Kabupaten Cirebon 2025-02-21T19:51:29+08:00 Muhamad Nicholas Munhaedi muhamadnicholasmunhaedi@gmail.com Mieke Hemiawati Satari mieke_satari@yahoo.com Raden Ganang Ibnusantosa ganang@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is a musculoskeletal disorder that frequently occurs in workers engaged in repetitive activities and poor work postures. This study aims to identify the relationship between ergonomic risk factors and CTS complaints among crab meat peeling workers in Gebang Mekar Village, Cirebon Regency. The study employs a cross-sectional design with a randomly selected sample of crab meat peeling workers. Data were collected through a brief survey covering demographic information, work history, and CTS complaints. Ergonomic assessments were conducted using the Nordic Body Map and the Visual Analog Scale. The results of the study showed no significant relationship between ergonomic risk factors such as work duration, frequency of repetitive movements, and work posture with CTS complaints among workers. Workers with non-ergonomic work postures did not have a higher risk of developing CTS compared to those with ergonomic work postures. The conclusion of the study indicates that ergonomic risk factors do not show a significant relationship with CTS complaints among crab meat peeling workers. The study suggests further assessment and intervention to ensure worker well-being.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah gangguan muskuloskeletal yang sering terjadi pada pekerja dengan aktivitas repetitif dan postur kerja yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor risiko ergonomi dengan keluhan CTS pada pekerja pengupas rajungan di Desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon. Metode Penelitian ini menggunakan desain <em>cross-sectional</em> dengan sampel pekerja pengupas rajungan yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui survei singkat yang mencakup informasi demografi, riwayat kerja, dan keluhan CTS. Penilaian ergonomi dilakukan menggunakan <em>Nordic Body Map</em> dan Skala Analog Visual (<em>Visual Analog Scale</em>). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara faktor risiko ergonomi seperti durasi kerja, frekuensi gerakan repetitif, dan postur kerja dengan keluhan CTS pada pekerja. Pekerja dengan postur kerja yang tidak ergonomis tidak memiliki risiko lebih tinggi mengalami CTS dibandingkan dengan mereka yang memiliki postur kerja ergonomis. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa Faktor risiko ergonomi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan keluhan CTS pada pekerja pengupas rajungan. Penelitian ini menyarankan adanya penilaian lebih lanjut dan intervensi untuk memastikan kesejahteraan pekerja.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18018 Hubungan Riwayat Trauma Kepala terhadap Kejadian Epilepsi pada Pasien Poliklinik dan Rawat Inap RSUD Al-Ihsan RSUD Periode Tahun 2023 2025-02-21T19:48:14+08:00 Ahmad Jorzizaidan zaidanjorzi@gmail.com R. Anita Indriyanti r.anitaindriyanti@gmail.com Mira Dyani Dewi miradyani@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Epilepsy is a chronic non-communicable brain disease that affects over50 million people worldwide. According to data from the World Health Organization (WHO), an estimated 5 million people are diagnosed with epilepsy every year. In Indonesia, there are between 700,000 to 1,400,000 cases of epilepsy, with an addition of approximately 70,000 new cases annually. This study aims to analyze the relationship between a history of head trauma and the incidence of epilepsy at RSUD Al-Ihsan for the year 2023. This analytical observational study uses a cross-sectional design, utilizing secondary data from the medical records of 148 epilepsy patients in 2023 at RS Al-Ihsan. The results of this study show a significant value of 0.000 (p&lt;0.05), indicating a meaningful relationship between a history of head trauma and the incidence of epilepsy in patients at the neurology clinic of RSUD Al-Ihsan for the year 2023. The high Odds Ratio of 18.231 indicates a very strong relationship. This study emphasizes the importance of early detection and intervention in patients with a history of head trauma to reduce the risk of developing epilepsy.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Epilepsi adalah penyakit otak kronis tidak menular yang menyerang sekitar 50 juta orang lebih di seluruh dunia<strong>. </strong>Berdasarkan data World Health Organization (WHO), epilepsi diperkirakan 5 juta orang didiagnosis menderita epilepsi setiap tahunnya. Di negara Indonesia terdapat 700.000- 1.400.000 kejadian epilepsi dengan pertambahan sebesar 70.000 kasus baru setiap tahunnya<strong>. </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan riwayat trauma kepala terhadap kejadian epilepsi di RSUD Al-Ihsan Periode tahun 2023. Metode penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional menggunakan desain cross sectional yang diambil dari data sekunder berupa rekam medis sebanyak 148 pasien epilepsi pada tahun 2023 di RS Al-Ihsan. Hasil penelitian ini didapatkan nilai signifikan adalah 0.000 (p&lt;0,05) terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat trauma kepala terhadap kejadian epilepsi pada pasien poli saraf di RSUD Al Ihsan periode tahun 2023. Hasil Odds Ratio yang besar 18,231 menunjukan hubungan yang sangat kuat. Penelitian ini menunjukkan pentingnya deteksi dini dan intervensi pada pasien dengan riwayat trauma kepala untuk mengurangi risiko berkembangnya kejadian epilepsi.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18028 Gambaran Potensi Interaksi Obat dan Keberhasilan Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis dengan Diabetes Mellitus di RSP DR.H.A Rotinsulu Tahun 2023 2025-02-21T19:47:18+08:00 M. Latif Ridfi Kamil latifridfi2@gmail.com Heni Muflihah henimuflihah@unisba.ac.id Yuke Andriane andrianeyuke@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> Tuberculosis (TB) and Diabetes Mellitus (DM) are high-prevalence diseases that affect each other, especially in terms of treatment effectiveness. Interactions between anti-tuberculosis drugs (OAT) and anti-diabetic drugs (OAD) can reduce the effectiveness of therapy, increase the risk of side effects, and trigger complications that worsen the patient's condition. This study aims to describe the potential interaction between OAT and OAD and the final results of treatment in patients with MD-TB at Dr. H.A. Rotinsulu Lung Hospital in 2023. The study used descriptive methods with patient medical record data that met the inclusion criteria and did not meet the exclusion criteria using consecutive sampling technique with a total sample size of 93 people. Potential drug interactions were analyzed using Lexi Comp software. Treatment success was categorized as successful if the final result of treatment was cured and complete.&nbsp; Unsuccessful category if the final result of treatment failed, died, was not evaluated, and drug withdrawal.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Tuberkulosis (TB) dan Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit dengan prevalensi tinggi yang saling memengaruhi, terutama dalam efektivitas pengobatan. Interaksi antara obat anti tuberkulosis (OAT) dan obat anti diabetes (OAD) dapat menurunkan efektivitas terapi, meningkatkan risiko efek samping, serta memicu komplikasi yang memperburuk kondisi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan potensi interaksi antara OAT dan OAD serta hasil akhir pengobatan pada pasien TB-DM di Rumah Sakit Paru Dr. H.A. Rotinsulu tahun 2023. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan data rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi menggunakan teknik <em>consecutive sampling</em> dengan total jumlah sampel adalah 93 orang. Potensi interaksi obat dianalisis menggunakan perangkat lunak<em> Lexi Comp</em>. Keberhasilan pengobatan dikategorikan berhasil jika hasil akhir pengobatan sembuh dan lengkap.&nbsp; Kategori tidak berhasil jika hasil akhir pengobatan gagal, meninggal, tidak di evaluasi, dan putus obat.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18043 Tinjauan Antibakteri Staphylococcus Aureus Ekstrak Etanol Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) 2025-02-21T19:46:16+08:00 Airlangga Cahya Respati cahyaairlangga@gmail.com Lelly Yuniarti Lelly.yuniarti@gmail.com Eva Rianti Indrasari evaindrasari@unisba.ac.id <p><strong>Abstract. </strong>Staphylococcus aureus is a normal flora in the human body, primarily on the skin and respiratory tract, but it can act as a pathogen when the immune system is compromised. Skin infections, bloodstream infections, endocarditis, osteomyelitis, and necrotizing fasciitis are some diseases caused by Staphylococcus aureus infections. The use of penicillin-class antibiotics has seen increasing resistance against Staphylococcus aureus. This study aims to analyze the antibacterial activity of red onion peel extract against Staphylococcus aureus. This research is an in vitro experimental study using the agar diffusion and microdilution methods. Inhibition zones, minimum inhibitory concentration (MIC), and minimum bactericidal concentration (MBC) were evaluated at various extract concentrations (20%, 40%, 60%, 80%, and 100%). Oxacillin was used as a positive control, and DMSO as a negative control. The extract showed significant antibacterial activity, with the 100% concentration producing the largest inhibition zone (14.5 mm). MIC was observed at a concentration of 60%, while MBC revealed 53 bacterial colonies remaining at a 100% concentration. However, the inhibition zone produced by the extract was smaller than that of oxacillin (27.2 mm). Ethanol extract of red onion peel demonstrated antibacterial activity that could not kill Staphylococcus aureus, indicating only bacteriostatic effects. Its effectiveness level was also lower compared to oxacillin. Further research is needed to optimize the formulation of this extract and evaluate its clinical efficacy.</p> <p><strong>Abstrak. </strong><em>Staphylococcus aureus</em> merupakan flora normal pada tubuh manusia terutama pada bagian kulit dan saluran pernafasan, namun juga sebagai patogen ketika sistem imun pada tubuh menurun. Infeksi kulit, infeksi aliran darah, endokarditis, osteomielitis, dan necrotizing fascilitis adalah beberapa penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Penggunaan antibiotik golongan penicillin mengalami peningkatan kejadian resistensi terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis daya antibakteri kulit bawang merah terhadap Staphyloococcus aureus. Penelitian ini merupakan eksperimental invitro terhadap Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi agar dan mikrodilusi. Zona hambat, konsentrasi hambat minimum (KHM), dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) dievaluasi pada berbagai konsentrasi ekstrak (20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%). Oxacillin digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri signifikan, dengan konsentrasi 100% menghasilkan zona hambat terbesar (14,5 mm). KHM ditemukan pada konsentrasi 60%, sedangkan KBM berada pada masih terdapat koloni bakteri sebanyak 51 koloni pada konsentrasi 100%. Meskipun demikian, zona hambat yang dihasilkan ekstrak lebih kecil dibandingkan oxacililin (27,2 mm). Ekstrak etanol kulit bawang memiliki aktivitas antibakteri yang tidak dapat membunuh bakteri Staphylococcus aureus, sehingga hanya memiliki efek bakteriostatik. Tingkat efektivitasnya juga lebih rendah dibandingkan oxacillin. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan formulasi ekstrak ini dan mengevaluasi efektivitas klinisnya.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18203 Karakteristik Pasien dan Kadar Bilirubin Ikterus Neonatorum Sebelum-Sesudah Fototerapi 2025-02-21T19:43:30+08:00 Febby Aulya Putri febbyap0802@gmail.com Lisa Adhia Garina Lisa.adhia@gmail.com Dicky Santosa drdickysantosamm@gmail.com <p><strong>Abstract.</strong> The type of delivery that requires certain procedures such as cesarean section, vacuum extraction, and forceps extraction is one of the risk factors for neonatal jaundice. Hyperbilirubinemia that is not treated properly can cause kernicterus, or bilirubin encephalopathy. The purpose of this study was to explore patient characteristics and bilirubin levels in neonatal jaundice before and after phototherapy. The research method used a quantitative descriptive method with a cross-sectional study design. The accessible population in this study were patients diagnosed with neonatal jaundice in medical records at RSAI Bandung in 2023. The sample selection in this study will be carried out using a purposive sampling technique. The data analysis technique used in this study was univariate to calculate the proportion obtained in each variable that had been determined based on patient characteristics. The results of this study indicate that some of the most significant characteristics in the incidence of neonatal hyperbilirubinemia at Al-Islam Hospital Bandung in 2023 were the majority of male patients. Body weight varies greatly but the highest frequency with normal birth weight indicates that patients who experience neonatal hyperbilirubinemia on average do not experience LBW or low birth weight. The type of normal spontaneous labor contributes the largest frequency and is followed by babies with caesarean section delivery. Normal Gamelli Partus also contributes a lower frequency than normal spontaneous labor with caesarean section delivery babies. Based on descriptive analysis of patients who experienced neonatal hyperbilirubinemia at Al-Islam Hospital in 2023, all of them had a discharge outcome.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Jenis persalinan yang memerlukan prosedur tertentu seperti sectio caesaria, vakum ekstraksi, dan forcep ekstraksi adalah salah satu faktor risiko untuk terjadinya ikterus neonatorum. Hiperbilirubinemia yang tidak diobati dengan benar dapat menyebabkan kernicterus, atau bilirubin encephalopathy.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi karakteristik pasien dan kadar bilirubin pada icterus neonatrum sebelum dan sesudah melaksanakan fototerapi. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional). Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah pasien yang di diagnosis ikterus neonatorum dalam rekam medis di RSAI Bandung pada Tahun 2023.Pemilihan sampel pada penelitian ini akan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu secara univariat untuk menghitung proporsi yang di dapat pada masing-masing variabel yang telah ditentukan berdasarkan karakteristik pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Beberapa karakteristik yang paling signifikan dalam kejadian neonatal hyperbilirubinemia di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2023 mayoritas pasien jenis kelamin laki-laki. Berat badan sangat bervariasi namun frekuensi yang paling banyak dengan berat badan lahir normal yang menunjukkan bahwa pasien yang mengalami neonatal hiperbilirubinemia rata-rata tidak mengalami BBLR atau berat badan lahir rendah. Jenis persalinan partus spontan normal menyumbang frekuensi terbesar dan disusul dengan bayi dengan persalinan section caesaria. Partus Gamelli Normal juga menyumbangkan frekuensi yang lebih sedikit daripada partus spontan normal dengan bayi persalinan section caesaria. Berdasarkan analisis deskriptif pada pasien yang mengalami neonatal hiperbilirubinemi di Rumah Sakit Al-Islam pada tahun 2023 seluruhnya memiliki outcome pulang.</p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18243 Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Pencegahan Infeksi Nosokomial pada Penunggu Pasien di Ruang Rawat Inap RS Rayhan Subang 2024 2025-02-21T19:42:12+08:00 Yuni Zahra Sahidah yuni.zahra2018@gmail.com Bambang Setiohadji bsetiohadji@gmail.com Titik Respati Titik.respati@unisba.ac.id <p><strong><span class="s16"><span class="bumpedFont20">Abstract.</span></span></strong> <span class="s13"><span class="bumpedFont20">Nosokomial infections can threaten patients who are hospitalized and have the potential to be transmitted to people around health facilities. The purpose of this research was to determine the correlation between the level of knowledge and attitudes with the behavior of preventing nosokomial infections in patient attendants in the inpatient room of Rayhan Hospital Subang. This research was conducted in June-October 2024 in the class 2-3 inpatient room of Rayhan Hospital Subang. This research used a quantitative method, namely observational analytic with a cross-sectional approach. Determination of research subjects using the consecutive sampling method technique obtained a sample size of 50 people. Statistical analysis was bivariate using the </span></span><span class="s17"><span class="bumpedFont20">Spearman Correlation</span></span><span class="s13"><span class="bumpedFont20"> method. The results of the research showed that the number of respondents based on the level of knowledge, attitudes, and behavior regarding the prevention of nosokomial infections was mostly well-informed 56%, had sufficient and less attitudes 34%, and had less behavior 42%. There was no correlation between knowledge and behavior in preventing nosokomial infections (p = 0.862) (p&gt; 0.05). There is a correlation between attitudes and behavior in preventing nosokomial infections (p = 0.011) (p &lt; 0.05). Conclusion, There is no correlation between knowledge and behavior, while there is a correlation between attitudes and behavior in preventing nosokomial infections in the inpatient room of Rayhan Hospital Subang. Suggestions for next research, respondents are patient attendants with an adult age category.</span></span></p> <p><span class="s13"><span class="bumpedFont20"><strong><span class="s16">Abstrak.</span> </strong>Infeksi nosokomial dapat mengancam pasien yang dirawat di rumah sakit dan berpotensi menular kepada orang-orang di sekitar fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial pada penunggu pasien di ruang rawat inap RS Rayhan Subang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Oktober tahun 2024 di ruang rawat inap kelas 2-3 RS Rayhan Subang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penentuan subjek penelitian dengan teknik consecutive sampling method didapatkan jumlah sampel 50 orang. Analisis static dilakukan secara bivariat menggunakan metode <span class="s17">Spearman Correlation</span>. Hasil penelitian didapatkan jumlah responden berdasarkan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku mengenai pencegahan infeksi nosokomial paling banyak berpengetahuan baik 56%, bersikap cukup dan kurang 34%, dan berperilaku kurang 42%. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan perilaku pencegahan infeksi nosokomial (p = 0,862) (p &gt; 0,05). Terdapat hubungan antara sikap dan perilaku pencegahan infeksi nosokomial (p = 0,011) (p &lt; 0,05). Simpulan, Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan perilaku sedangkan antara sikap dan perilaku pencegahan infeksi nosokomial di ruang rawat inap RS Rayhan Subang terdapat hubungan. Saran untuk penelitian selanjutnya, respondennya penunggu pasien dengan kategori usia orang dewasa.</span></span></p> 2025-02-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18254 Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Propolis Trigona spp. terhadap Pertumbuhan Cutibacterium Acnes 2025-02-21T19:41:06+08:00 Muhammad Faqih Ashiddiq Nursyamsi Mansyur muhammadfaqih0808@gmail.com Widayanti widays007@gmail.com Abdul Hadi Hassan abdulhadihassan@yahoo.com <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="IN">Abstract.</span></strong> <span lang="IN">Cutibacterium acnes (C. acnes) is an aerotolerant anaerobic Gram-positive bacterium that causes acne vulgaris. Ethanol extract of propolis (EEP) from Trigona spp. contains bioactive compounds with therapeutic potential and can be an alternative treatment. This study aimed to assess the antibacterial activity of Trigona spp. EEP against C. acnes using an in vitro post-test only control group design. Raw propolis was obtained from Dayeuhluhur, Cilacap, Central Java, and the inhibition zones were measured using the agar-well diffusion method. The study groups included EEP at concentrations of 12.5%, 25%, 50%, and 100%, along with positive (doxycycline) and negative (DMSO) controls. Experiments were conducted at the FMIPA Laboratory, Islamic University of Bandung (October–December 2024). The median inhibition zones were 11.7 mm (12.5%), 12.45 mm (25%), 14.3 mm (50%), and 2.1 mm (100%). EEP at 12.5%, 25%, and 50% showed strong inhibition, while 100% EEP had weak inhibition. The highest inhibition was observed at 50% EEP (14.3 mm). These findings suggest that Trigona spp. EEP has antibacterial potential and could be developed as an alternative treatment for acne vulgaris caused by C. acnes.</span></p> <p class="PROSIDING-ABSTRAK"><strong><span lang="EN-US">Abstrak.</span></strong> <em><span lang="IN">Cutibacterium acnes</span></em><span lang="IN"> atau <em>C. acnes</em> merupakan bakteri Gram-positif</span><span lang="EN-US"> anaerob</span><span lang="IN"> aerotoleran yang merupakan penyebab utama penyakit akne vulgaris. Munculnya strain <em>C. acnes</em> yang resisten terhadap antibiotik mendorong pencarian pengobatan alternatif seperti propolis, yang kaya akan senyawa bioaktif dengan potensi terapeutik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antibakteri dengan mengukur daya hambat</span> <em><span lang="IN">ekstrak etanol propolis</span></em><span lang="IN"> (EEP) <em>Trigona spp</em>. terhadap pertumbuhan C. acnes.&nbsp; Penelitian ini menggunakan metode <em>in vitro</em> dengan desain <em>post-test only control group</em>. Propolis mentah <em>Trigona spp</em>. diperoleh dari Dayeuhluhur, Cilacap, Jawa Tengah. Zona hambat EEP <em>Trigona spp</em>. diukur menggunakan metode <em>agar-well diffusion</em>. Kelompok penelitian terdiri dari kelompok konsentrasi EEP (12,5%, 25%, 50%, dan 100%), kontrol positif (doksisiklin), dan kontrol negatif (DMSO) dengan 4 kali pengulangan yang dilakukan di laboratorium FMIPA Universitas Islam bandung pada bulan Oktober – Desember 2024. Median zona hambat EEP <em>Trigona spp</em>. 12,5%, 25%, 50%, dan 100% berturut-turut yaitu 11,7</span><span lang="EN-US"> mm</span><span lang="IN">, 12,45</span><span lang="EN-US"> mm</span><span lang="IN">, 14,3</span><span lang="EN-US"> mm</span><span lang="IN">, dan 2,1</span><span lang="EN-US"> mm</span><span lang="IN">. Daya hambat EEP <em>Trigona spp.</em> 12,5%, 25%, dan 50% memiliki daya hambat kuat dan EEP 100% memiliki daya hambat lemah dengan median zona hambat terbesar pada EEP 50% (14,3 mm) sehingga, </span><span lang="EN-US">EEP</span> <em><span lang="IN">Trigona spp</span></em><em><span lang="EN-US">.</span></em><span lang="IN"> dapat </span><span lang="EN-US">dikembangkan sebagai</span><span lang="IN"> pengobatan alternatif penyakit yang disebabkan oleh <em>C. acnes</em>, terutama akne vulgaris.</span></p> 2025-02-03T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/view/18271 Gambaran Manifestasi Kutaneus Coronary Artery Disease (CAD) pada Pasien CAD Perokok 2025-02-21T19:40:00+08:00 Muhammad Fikri Dzikrullah mdejet258@gmail.com Wida Purbaningsih wida7089@gmail.com Ermina Widiyastuti ermina.widiyastuti@unisba.ac.id <p><strong>Abstract.</strong> Coronary Artery Disease is the leading cause of death worldwide, characterized by narrowing or blockage of the coronary arteries due to plaque buildup. This disease has clinical manifestations in the form of blood vessel abnormalities such as atherosclerosis and on the skin there are signs such as Xanthomata, Acanthosis Nigricans, Earlobe Crease, Livedo Reticularis, Premature Hair Graying and Nicotine Stain. Smoking is one of the risk factors for this disease. This study aims to explore the characteristics and see the picture of the cutaneous manifestations of Coronary Heart Disease in patients with Coronary Heart Disease who smoke based on the number of cigarettes consumed per day at Al-Islam Hospital Bandung. Observational descriptive study with an approach using a non-probability sample selection method in addition to the convenience sampling type at Al-Islam Hospital Bandung. Nicotine stain cutaneous manifestations were the most common, 40.30% of the total cutaneous manifestations, while the second order was Earlobe crease 38.81%. The data from this study indicate that smoking for &gt;20 years with an average frequency of cigarette consumption per day of 13 cigarettes gives rise to a trend of frequent cutaneous manifestations of CAD, the most common of which is Nicotine stain.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penyakit Jantung Koroner adalah penyebab utama kematian diseluruh dunia, ditandai dengan penyempitan atau penyumbatan arteri koroner akibat penumpukan plak. Penyakit ini memiliki manifestasi klinis berupa kelainan pembuluh darah seperti terjadinya aterosklerosis dan pada kutaneus terlihat tanda-tanda seperti Xanthomata, Acanthosis Nigricans, Earlobe Crease, Livedo Reticularis, Premature Hair Graying dan Nicotine Stain. Merokok merupakan salah satu faktor resiko penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggali karakteristik dan melihat gambaran manifestasi kutaneus Penyakit Jantung Koroner pada pasien Penyakit Jantung Koroner perokok berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsi per hari di RS Al- Islam Bandung. Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan menggunakan metode pemilihan sampel non-probability samping jenis convenience sampling di RS Al-Islam Bandung. Manifestasi kutaneus Nicotine stain paling banyak ditemukan, 40,30 % dari total manifestasi kutaneus, sedangkan urutan kedua adalah Earlobe crease 38,81 %. Data hasil penelitian ini menunjukkan bahwa merokok selama &gt; 20 tahun dengan frekuensi rata-rata konsumsi rokok per hari adalah 13 batang memunculkan tren seringnya kemunculan manifestasi kutaneus CAD, yang paling sering adalah Nicotine stain.</p> 2025-02-05T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Medical Science