Kewenangan Baznas dalam Pengelolaan Zakat Berdasarkan UU Pengelolaan Zakat

Authors

  • Zulfan Hamdan Atqiyya Ilmu Hukum
  • Fabian Fadhly Jambak Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcsls.v6i2.23828

Keywords:

Kewenangan, BAZNAS, Lembaga Amil

Abstract

Abstract. Law Number 23 of 2011 concerning Zakat Management established the National Zakat Amil Agency (BAZNAS) as an institution granted broad authority over national zakat management, encompassing planning, implementation, coordination, control, reporting, as well as guidance and supervision over Zakat Amil Institutions (LAZ). This concentration of multiple functions within a single institution raises legal questions regarding its conformity with authority theory, the principle of the rule of law, and the position of LAZ as a representation of public participation in zakat management. This research aims to analyze the conformity of the centralization of zakat management authority in BAZNAS and to examine BAZNAS's authority over LAZ under Law Number 23 of 2011, using a normative juridical method with a statutory approach through qualitative analysis of primary, secondary, and tertiary legal materials by means of content analysis. The findings show that BAZNAS's authority satisfies the element of legality, as it derives from statutory attribution, thereby fulfilling the aspect of the legitimacy of the source of authority (rechtmatigheid van oorsprong). However, the regulation has not yet fully satisfied the aspect of limitation on the exercise of authority (rechtmatigheid van gebruik), due to the absence of clear limits on the scope, substance, and supervisory mechanisms governing BAZNAS's cumulative functions—conditions that also produce a subordinative relationship between BAZNAS and LAZ, falling short of institutional equality. The study recommends restructuring the boundaries of BAZNAS's authority and separating the recommendation function from the guidance and supervision functions, in order to achieve a more proportional and accountable zakat management system.

Keywords: Authority, BAZNAS, Zakat Amil Institution.

 Abstrak. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat membentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai lembaga yang diberi kewenangan luas dalam pengelolaan zakat nasional, mencakup perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, pengendalian, pelaporan, serta pembinaan dan pengawasan terhadap Lembaga Amil Zakat (LAZ). Pemusatan berbagai fungsi tersebut pada satu lembaga memunculkan persoalan hukum terkait kesesuaiannya dengan teori kewenangan, prinsip negara hukum, dan kedudukan LAZ sebagai representasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan zakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian pengaturan pemusatan kewenangan pada BAZNAS serta mengkaji kewenangan BAZNAS terhadap LAZ berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2011, menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan melalui analisis bahan hukum primer, sekunder, dan tersier secara kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan kewenangan BAZNAS telah memenuhi unsur legalitas karena bersumber dari atribusi undang-undang, sehingga memenuhi aspek keabsahan sumber kewenangan (rechtmatigheid van oorsprong). Namun, pengaturan tersebut belum sepenuhnya memenuhi aspek pembatasan penggunaan kewenangan (rechtmatigheid van gebruik) akibat belum tegasnya batas materi, ruang lingkup, dan mekanisme pengawasan atas kumulasi fungsi BAZNAS, yang turut menciptakan relasi subordinatif antara BAZNAS dan LAZ dan belum mencerminkan kesetaraan kelembagaan. Penelitian merekomendasikan penataan ulang batas kewenangan BAZNAS serta pemisahan fungsi rekomendasi dari fungsi pembinaan dan pengawasan, guna mewujudkan sistem pengelolaan zakat yang proporsional dan akuntabel.

Kata Kunci: Kewenangan, BAZNAS, Lembaga Amil

References

al-Qaradawi, Y. (1999) Fiqh az-Zakah, Muassasah ar-Risalah, Beirut, Hlm. 37.
Asshiddiqie, Jimly. (2010) Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, Hlm. 62.
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5255).
Manan, B. (1994). Hubungan antara pusat dan daerah menurut UUD 1945. Pustaka Sinar Harapan. Hlm. 73
Hafidhuddin, D. (2002). Zakat dalam perekonomian modern. Gema Insani. Hlm. 47
Forum Zakat. (2023). Laporan kajian tentang dampak sentralisasi pengelolaan zakat. Forum Zakat.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2013). Putusan Nomor 86/PUU-X/2012 tentang pengujian Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. https://peraturan.bpk.go.id/DownloadUjiMateri/84/putusan_sidang_1537_86%20PUU%202012-telah%20ucap%2031%20Okt%202013.pdf
Solikin, N. (2021). Pengantar metodologi penelitian hukum. CV Penerbit Qiara Media.
Soekanto, S., & Mamuji, S. (2003). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Rajawali Press.
Muhaimin. (2020). Metode penelitian hukum. Mataram University Press.

Published

2026-07-15