Makna Perjuangan Doctor Strange untuk Mempertahankan Semesta dari Ancaman Kejahatan
Abstract
Abstract. Film as one of the arts and entertainment media whose pace of development is accelerating from time to time. Film is also a communication medium that can be enjoyed by all circles of society. In films, there are messages and meanings that are then interpreted by the audience. Doctor Strange In The Multiverse Of Madness is a superhero film produced by Marvel Studios directed by Sam Raimi as the director of Multiverse of Madness replacing Scott Derrickson. Doctor strange in The Multiverse of Madnes itself, of course, has many signs or symbols that can be analyzed, one of which is related to the meaning of struggle. In this study, a qualitative method approach was used. With the Constructivist paradigm. By using Roland Barthes' semiotic theory based on the three aspects of denotation, connotation and myth, based on these aspects, the meaning of struggle emerged in the film Doctor Strange In The Multiverse Of Madness.
Abstrak. Film sebagai salah satu seni dan media hiburan yang laju perkembangannya semakin cepat dari masa ke masa. Film juga merupakan media komunikasi yang dapat dinikmati semua kalangan masyarakat. Dalam film, terdapat pesan dan makna yang kemudian ditafsirkan oleh penontonnya. Film Doctor Strange In The Multiverse Of Madness adalah sebuah film superhero yang di produksi oleh Marvel Studios yang di sutradarai oleh Sam Raimi sebagai sutradara Multiverse of Madness menggantikan Scott Derrickson. Pada film Doctor strange in The Multiverse of Madnes sendiri tentu saja memiliki banyak tanda atau symbol yang dapat dianalisis salah satunya adalah yang berkenaan dengan makna perjuangan . Dalam penelitian ini digunakan pendekatan metode kualitatif. Dengan paradigma Kontruktivis. Dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes berdasarkan ketiga aspek denotasi, konotasi dan mitos , berdasarkan aspek tersebut maka munculah makna perjuangan yang ada pada film Doctor Strange In The Multiverse Of Madness.
References
[2]Effendy, Onong Uchjana. 2007. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
[3]Wibowo. 2013. Perilaku dalam Organisasi.. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
[4]John Vivian. Teori Komunikasi Massa Edisi ke-8, (Jakarta: Kencana Media Group, 2008) cet. Ke-1, h. 6.
[5]Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005) cet. Ke-6, h. 126.
[6]Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), cet. Ke-5, h. 48
[7]Alex Sobur, Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semioti, dan Analisis Framing, Cetakan Kelima, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009),
[8]A Devito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Professional Book
[9]Mulyana, Deddy. 2013. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[10]Moleong, Lexy J. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[11]Husaina, A., Haes, P. E., Pratiwi, N. I., & Juwita, P. R. (2018). Analisis film Coco dalam teori semiotika Roland Barthes. Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, 2(2), 53-69
[12]Supiarza, H. (2022). Fungsi musik di dalam film: Pertemuan seni visual dan aural. Cinematology: Journal Anthology of Film and Television Studies, 2(1), 78-87.
[13]Ramadhan, R., & Jupriani, J. (2023). Analisis Visualisasi Film Menjelang Magrib Mengenai Tradisi Pasung Pada Orang Dalam Gangguan Jiwa Menggunakan Teori Semiotika. Jurnal Mahasiswa Kreatif, 1(6), 258-273.