Bandung Conference Series: Islamic Family Law
https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIFL
<p><strong>Bandung Conference Series: Islamic Family Law</strong> merupakan wadah publikasi hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang Ilmu Hukum Keluarga Islam yang telah dipresentasikan pada Seminar Nasional UNISBA yang diselenggarakan tahunan oleh UPT Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bandung. <a title="BCSIFL" href="https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIFL" target="_blank" rel="noopener"><strong>BCSIFL</strong></a> ini dipublikasikan pertama pada tahun 2022 dengan eISSN <a title="ISSN BCSIFL" href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220214461440107" target="_blank" rel="noopener">2828-2051</a> yang dikelola dan dipublikasikan oleh <a title="UPT Publikasi" href="https://portal-publikasi.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>UPT Publikasi Ilmiah</strong></a>, <a title="unisba" href="https://www.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Islam Bandung</a>. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter<em>indeks</em> di <a title="Sitasi GS" href="https://scholar.google.com/citations?user=pKEg_DsAAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a>, <a title="Id Garuda" href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/27822" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a>, <a title="doi" href="https://search.crossref.org/?q=unisba&from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">Crossref</a>, dan <a title="DOAJ" href="https://doaj.org/search/journals?ref=quick-search&source=%7B%22query%22%3A%7B%22filtered%22%3A%7B%22filter%22%3A%7B%22bool%22%3A%7B%22must%22%3A%5B%7B%22terms%22%3A%7B%22bibjson.publisher.name.exact%22%3A%5B%22Universitas%20Islam%20Bandung%22%5D%7D%7D%5D%7D%7D%2C%22query%22%3A%7B%22query_string%22%3A%7B%22query%22%3A%22universitas%20islam%20bandung%22%2C%22default_operator%22%3A%22AND%22%2C%22default_field%22%3A%22bibjson.publisher.name%22%7D%7D%7D%7D%7D" target="_blank" rel="noopener">DOAJ</a>. Terbit setiap <strong>Maret</strong> dan <strong>September</strong>.</p>UNISBA Pressen-USBandung Conference Series: Islamic Family Law2828-2051Peran Kantor Urusan Agama di Kecamatan Cibeunying Kidul Terhadap Penyuluhan Pernikahan di Bawah Usia Menikah
https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIFL/article/view/16250
<p><strong>Abstract.</strong> Indonesia is a country based on law, in various fields, especially in marriage, where the majority adhere to the Islamic religion. Even though various institutions and laws have been established that regulate marriage, underage marriages in the modern era still often occur in various regions in Indonesia. For this reason, outreach is needed to prevent and reduce child marriage. This research aims to determine several factors behind the occurrence of underage marriages in the Bandung Kulon District KUA as well as the role of Bandung Kulon District KUA counselors in preventing underage marriages. This research uses qualitative research methods with an empirical juridical research approach. This research has the conclusion that underage marriages in the KUA of Bandung Kulon District in 2021-2022 are among the highest in the city of Bandung based on the data that researchers found. Factors that cause underage marriages to occur are lack of socialization of marriage laws, differences in understanding among the public regarding the age limit for marriage according to Islam and law, educational factors, parental factors, economic factors, arranged marriage factors, customary and cultural factors and other factors. the child's own wishes. The impacts of underage marriage include negative impacts and positive impacts. The role of KUA counselors is to provide outreach to prospective brides and grooms who are getting married to build a good household, love each other and prioritize deliberation if they encounter problems. This guidance takes the form of outreach or coming directly by attending invitations and providing counseling to the community. Marriage law regarding marriage age limits, the correct reproductive system and dangers and collaborating with local village youth leaders or village officials or other agencies.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Indonesia adalah negara yang berlandaskan hukum, diberbagai bidang terutama dalam pernikahan yang mayoritas menganut agama Islam. Meski telah terbentuk berbagai lembaga serta Undang-undang yang mengatur tentang pernikahan, namun pernikahan dibawah umur pada era modern sekarang masih banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini memiliki Tujuan yaitu untuk mengetahui beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya pernikahan dibawah umur di KUA Kecamatan Cibeunying Kidul serta peran penyuluhan KUA Kecamatan Cibeunying Kidul terhadap pencegahan pernikahan dibawah umur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian yuridis empiris, penelitian ini memiliki kesimpulan yaitu pernikahan dibawah umur di KUA Kecamatan Cibeunying Kidul taun 2021-2022 termasuk paling tinggi di Kota Bandung berdasarkan data penelitian yang ditemukan. Faktor penyebab terjadinya pernikahan dibawah umur tersebut adalah Kurangnya Sosialisasi Undang- Undang pernikahan, Bedanya pemahaman dengan masyarakat tentang batasan usia menikah menurut agama Islam dan Undang-Undang, Faktor Pendidikan, Faktor orang tua, Faktor Ekonomi, Faktor perjodohan, Faktor adat dan Budaya dan Faktor kemauan anak itu sendiri. Dampak dari pernikahan dibawah umur, diantaranya dampak negatif dan dampak positif. Adapun penyuluhan KUA adalah melakukan sosialisasi kepada calon mempelai yang akan menikah untuk membina keluarga rumah tangga yang baik, saling menyayangi dan mengedepankan musyawarah jika mendapati masalah, bimbingan tersebut berupa sosialisasi atau datang secara langsung dengan menghadiri undangan dan menghadiri penyuluhan kepada masyarakat. Undang-Undang pernikahan mengenai batasan usia nikah tentang sistem reproduksi yang benar serta bahaya dan bekerja sama dengan tokoh pemuda desa setempat atau toko desa maupun instansinya.</p>Mochammad Farihin Al-GhifariRamdan FawziYandi Maryandi
Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Islamic Family Law
2025-02-022025-02-02511810.29313/bcsifl.v5i1.16250Analisis Al-Urf dalam Hukum Islam terhadap Pelaksanaan Perkawinan Adat Nokolontigi dan Mandiupasili Dalam Perkawinan Suku Adat Kaili Kelurahan Kabonena Kecematan Ulujadi Sulawesi Tengah
https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIFL/article/view/16914
<p><strong>Abstract</strong>. Indonesia is an archipelago country because it consists of thousands of islands and has various tribes and different customs. Differences in place of residence also distinguish variations in the livelihoods of customs and habits of the community. Customs or traditions are often defined as regulations that apply in a particular society, and include various norms that govern life together. The concept of "Ada" in "Ada ri Tana Kaili" refers to customs or rules that are firmly held by the community. These rules are not only social norms, but also have binding power and must be respected by members of society. "Ada" reflects the cultural heritage and values that have been passed down from generation to generation, and is the basis for social interaction and life together in the Kaili Tribe community. This study uses qualitative research because this research is based on basic human observations. The existence of this empirical legal approach is carried out in order to find out how the procedures for implementing the Kaili tribe's traditional traditions regarding the "Nokolontigi and Mandiupasili" traditional marriage and Al-Urf's analysis of the Kalili tribe's traditional marriage traditions "Nokolontigi and MandiuPasili" in Kabonenan Village, Ulujadi District, Central Sulawesi. Applying good and in-depth communication between the author and the phenomenon being discussed to provide good information about the procedures for carrying out the "Nokolontigi and Mandiupasili" traditional marriage traditions of the Kaili tribe, as well as Al-Urf's analysis of the "Nokolontigi and Mandiu Pasili" traditional tradition in Kabonena Village. In the Kaili tribe, Nokolontigi and Mandiupasili have values, namely historical, cultural and social values. In the implementation of the Nokolontigi and Mandipasili customs, there is a lot of mixing between Islamic law and customary law. Several offerings in the form of natural plant materials symbolize the relationship between humans and the surrounding environment. The traditional traditions of Nokolontigi and Mandiupasili in weddings of the Kaili tribe in Kabonena Village, Central Sulawesi, are in line with Islamic law and contain positive values. This tradition functions to strengthen family ties, ask Allah SWT for safety, and reflects tolerance towards existing culture. The implementation of these two traditions includes al-'urf shahih, which does not change what is haram into halal.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> adat istiadat yang berbeda-beda. Perbedaan tempat tingal juga membedakan variasi dalam mata pencaharian adat istiadat dan kebiasaan masyarakat. Adat atau tradisi sering didefinisikan sebagai peraturan yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu, dan mencakup berbagai norma yang mengatur kehidupan bersama. Konsep "Ada" dalam "Ada ri Tana Kaili" merujuk pada adat atau aturan yang dipegang teguh oleh masyarakat. Aturan-aturan ini bukan hanya sekadar norma sosial, tetapi juga memiliki kekuatan yang mengikat dan harus dihormati oleh anggota masyarakat. "Ada" mencerminkan warisan budaya dan nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi landasan bagi interaksi sosial dan kehidupan bersama dalam masyarakat Suku KailiPenelitian ini penulis mengunakan penelitian kualitatif karena peneliti ini di dasarkan pada pengamatan dasar manusia. Adanya pendekatan yuridis empiris ini dilakukan agar mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaan tradisi adat suku kaili tentang perkawinan adat “Nokolontigi dan Mandiupasili” serta analisis Al-Urf terhadap tradisi adat perkawinan suku kalili “Nokolontigi dan MandiuPasili” di Kelurahan Kabonenan Kecamatan Ulujadi Sulawesi Tengah. Menerapkan kemunikasi yang baik dan mendalam antara penulis dengan fenomena yang dibahas untuk memberikan informasi yang baik tentang tatacara melangsungkan perkawinan tradisi “Nokolontigi dan Mandiupasili” tradisi adat suku kaili, serta analisis Al-Urf tentang tradisi adat “Nokolontigi dan Mandiu Pasili” Kelurahan KabonenaPada masyarakat suku adat kaili Nokolontigi dan Mandiupasili mempunyai nilai-nilai yaitu nilai sejarah, budaya dan sosial. Dalam pelaksanaan adat Nokolontigi dan Mandipasili, terdapat banyak percampuran antara syariat Islam dan hukum adat. Beberapa sesajen yang berupa bahan-bahan tumbuhan alam melambangkan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.Tradisi adat Nokolontigi dan Mandiupasili dalam perkawinan suku Kaili di Kelurahan Kabonena, Sulawesi Tengah, sejalan dengan hukum Islam dan mengandung nilai-nilai positif. Tradisi ini berfungsi memperkuat ikatan kekeluargaan, memohon keselamatan kepada Allah Swt, serta mencerminkan toleransi terhadap budaya yang telah ada. Pelaksanaan kedua tradisi ini termasuk al-‘urf shahih, yang tidak mengubah yang haram menjadi halal.</p>Andiahmad RamadhaniM. AbdurahmanEncep Abdul Rojak
Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Islamic Family Law
2025-01-312025-01-315191610.29313/bcsifl.v5i1.16914Pelaksanaan Program Kementerian Agama Nomor 758 Tahun 2021 Tentang Revitalisasi KUA Terhadap Peningkatan Kinerja Kua di Kabupaten Kuningan
https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIFL/article/view/17438
<p><strong>Abstract.</strong> Revitalization of KUA is an effort to strengthen the role of KUA not only through improving physical facilities but also improving the quality of human resources and services. This step is an important strategy that must be carried out together so that every service provided to the community is the best. Based on these problems, the purpose of this study is to determine the implementation of KUA revitalization at KUA Ciawigebang District, Kuningan Regency and to determine the impact of the implementation of KUA revitalization on the performance and services of employees at KUA Ciawigebang, Kuningan Regency. The research method used is descriptive analytical with a normative legal approach and data collection techniques are carried out through documentation studies and interviews with the Head of KUA and Employees at KUA Ciawigebang. The results of the study indicate that the Implementation of KUA Revitalization carried out at KUA Ciawigebang requires strengthening in terms of Legal Substance, Legal Structure and Legal Culture so that reform at KUA Ciawigebang can be achieved effectively, improve service quality, and strengthen the role of KUA Ciawigebang as an institution that is relevant and responsive to community needs, and the KUA Revitalization carried out aims to make KUA Ciawigebang more modern, responsive, and professional in serving the community and is able to provide an impact on high-quality services that support welfare and religious life in the community.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Revitalisasi KUA merupakan upaya untuk memperkuat peran KUA yang tidak hanya melalui perbaikan fasilitas fisik tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia dan layanan. Langkah ini merupakan strategi penting yang harus dijalankan bersama agar setiap layanan yang diberikan kepada masyarakat menjadi yang terbaik. Berdasarkan permasalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan revitalisasi KUA di KUA Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan dan untuk mengetahui dampak pelaksanaan revitalisasi KUA terhadap kinerja dan pelayanan para pegawai di KUA Ciawigebang Kabupaten Kuningan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis noormatif dan teknik pengambilan data dilakukaan melalui studi dokumentasi dan wawancara dengan Kepala KUA dan Jajaran Pegawai di KUA Ciawigebang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelaksanaan Revitaslisasi KUA yang yang dilaksanakan di KUA Ciawigebang membutuhkan penguatan dari aspek Substansi Hukum, Struktur Hukum dan Budaya Hukum agar reformasi di KUA Ciawigebang dapat tercapai dengan efektif, meningkatkan kualitas layanan, dan memperkuat peran KUA Ciawigebang sebagai lembaga yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, dan Revitalisasi KUA yang dilaksanakan tersebut bertujuan untuk menjadikan KUA Ciawigebang lebih modern, responsif, dan profesional dalam melayani masyarakat serta mampu memberikan dampak terhadap layanan berkualitas tinggi yang mendukung kesejahteraan dan kehidupan beragama di masyarakat.</p>Fauzi AlfiyasinRamdan FawziEncep Abdul Rojak
Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Islamic Family Law
2025-01-312025-01-3151172410.29313/bcsifl.v5i1.17438Analisis Putusan Hakim Nomor 4260/Pdt.G/2020/Pa.Bdg Tentang Cerai Talak Terhadap Pemberlakuan Hak Ex Officio Hakim Menurut Sema Nomor 3 Tahun 2015 Poin 10
https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIFL/article/view/17802
<p><strong>Abstract.</strong> Based on the provisions of Article 178 paragraph (3) HIR/ 189 RBG, the judge's authority to issue a decision on a case that is not requested or exceeds what is demanded by the parties. SEMA Regulation Number 3 of 2015 point 10 emphasizes that the determination of hadhanah rights as long as it is not submitted in the lawsuit/application. Based on the background above, the main problem of this study is How is the analysis of judge's decision number 4260/Pdt.G/2020/PA.Bdg concerning divorce talak against the implementation of <em>Ex Officio</em> Rights and How is the analysis of judge's decision number 4260/Pdt.G/2020/PA.Bdg concerning the judge's <em>Ex Officio</em> Rights according to SEMA Number 3 of 2015 point 10. The methodology used in this study is qualitative normative juridical. The results of the study show that first, the Bandung Religious Court judge has applied <em>Ex Officio</em> Rights specifically in divorce talak cases, namely on maintenance that is often not demanded by the wife such as mut'ah, iddah maintenance and child maintenance. The judge's decision in 2020 which was decided <em>Ex Officio</em> in determining the category of living expenses varies according to the judges' considerations. Second, if reviewed from SEMA Number 3 of 2015, the point related to the consideration of the application of the <em>Ex Officio</em> rights of judges at the Bandung Religious Court in 2020 can be strengthened again with the existence of SEMA No. 4 of 2016 and PERMA No. 3 of 2017, to emphasize the use of the provisions of Article 41 letter c of the UUP and KHI.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Berdasarkan ketentuan Pasal 178 ayat (3) HIR/ 189 RBG telah membatasi kewenangan hakim untuk menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak diminta atau melebihi apa yang dituntut oleh para pihak. Aturan SEMA Nomor 3 Tahun 2015 poin 10 menegaskan bahwa penetapan hak hadhanah sepanjang tidak diajukan dalam gugatan/ permohonan. Berdasarkan latar belakang di atas, pokok permasalahan penelitian ini adalah Bagaimana analisis putusan hakim nomor 4260/Pdt.G/2020/PA.Bdg tentang cerai Talak terhadap pemberlakuan Hak <em>Ex Officio</em> serta Bagaimana analisis putusan hakim nomor 4260/Pdt.G/2020/PA.Bdg tentang Hak <em>Ex Officio</em> hakim menurut SEMA Nomor 3 Tahun 2015 poin 10 tersebut. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukkan pertama, hakim Pengadilan Agama Bandung telah menerapkan Hak <em>Ex Officio</em> khusus dalam perkara cerai Talak yaitu pada nafkah yang sering tidak dituntut oleh istri seperti mut’ah, nafkah iddah dan nafkah anak. Adapun putusan hakim pada tahun 2020 yang diputus secara <em>Ex Officio</em> dalam menetapkan kategori nafkah berbeda-beda jenisnya sesuai dengan pertimbangan para hakim. Kedua, jika ditinjau dari SEMA Nomor 3 Tahun 2015 poin terkait pertimbangan penerapan hak <em>Ex Officio</em> hakim di Pengadilan agama Bandung tahun 2020 dapat diperkuat lagi dengan adanya SEMA No.4 Tahun 2016 dan PERMA No. 3 Tahun 2017, untuk mempertegas penggunaan ketentuan Pasal 41 huruf c UUP dan KHI.</p>Muhammad Ramdan SirojudinSiska Lis SulistianiFahmi Fatwa Rosyadi Satria Hamdani
Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Islamic Family Law
2025-01-312025-01-3151253210.29313/bcsifl.v5i1.17802Analisis pengelolaan aset tanah Wakaf terhadap kinerja Nazhir menurut hukum Islam dan UU Wakaf
https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIFL/article/view/18147
<p><strong>Abstract.</strong> As a form of worship to get closer to Allah SWT related to property, waqf is very beneficial. There are waqf land assets located in Centeng Village, Cihanjuang Village, Parongpong District, West Bandung Regency, which in its management is carried out by nazhir which is not in accordance with its obligations. So that nazhir as a manager of waqf assets has a role in the management of waqf assets. With that, the performance of the nazhir in managing waqf assets will determine the quality and quantity of the utilization of waqf assets. This study uses a normative juridical approach with a type of qualitative research, data collected by means of interviews and literature studies. Based on the results of the research, the performance of the nazhir towards its duties and obligations is not fulfilled due to the lack of knowledge about the duties of a nazhir, the lack of knowledge about the importance of waqf recording, and the lack of socialization by PPAIW or the government to the community. In Islamic law, the management carried out by the nazhir in Centeng Village, Cihanjuang Village, Parongpong District, West Bandung Regency is not in accordance with Islamic law where the nazhir does not carry out his responsibilities to carry out his duties properly by managing waqf land assets such as not doing records. Then in the Waqf Law, the management carried out by nazhir in Centeng Village, Cihanjuang Village, Parongpong District, West Bandung Regency is not in accordance with what is stated in Law Article 11 No.41 of 2004 concerning waqf.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Indonesia adalah negara yang berlandaskan hukum, diberbagai bidang terutama dalam Sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang berkaitan dengan harta benda menjadikan wakaf sangat besar manfaatnya. Ada aset tanah wakaf yang terdapat di Kampung Centeng Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung barat yang mana dalam pengelolaannya yang dilakukan oleh nazhir yang tidak sesuai dengan kewajibannya. Sehingga nazhir sebagai pengelola aset wakaf memiliki peran dalam pengelolaan aset wakaf. Dengan itu kinerja nazhir dalam mengelola aset wakaf akan menentukan kualitas dan kuantitas pemanfaatan aset wakaf. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan jenis penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan dengan cara wawancara dan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian, kinerja nazhir terhadap tugas dan kewajibannya tidak terpenuhi karena kurangnya pengetahuan akan tugas seorang nazhir, kurangnya pengetahuan tentang pentingnya pencatatan wakaf, dan kurangnya sosialisasi oleh PPAIW ataupun pemerintah kepada masyarakat. Dalam hukum Islam pengelolaan yang dilakukan nazhir di Kampung Centeng Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung barat tidak sesuai dengan hukum Islam dimana nazhir tidak melakukan tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya dengan baik dengan cara mengelola aset tanah wakaf seperti tidak melakukan pencatatan . Kemudian dalam UU Wakaf, pengelolaan yang dilakukan nazhir di Kampung Centeng Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung barat tidak sesuai dengan apa yang di sebutkan dalam UU Pasal 11 No.41 Tahun 2004 tentang wakaf.</p>Jejen JaenudinSiska Lis SulistianiRamdan Fawzi
Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Islamic Family Law
2025-02-012025-02-0151333810.29313/bcsifl.v5i1.18147