Nafkah Anak Pasca Perceraian Perspektif Q.S. Al-Baqarah:233 (Analisis Putusan No. 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby)

Authors

  • Annisa Sofi Irchamni Hukum Keluarga Islam
  • Muhammad Yunus Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung
  • Encep Abdul Rojak Fakultas Syariah, Universitas Islam Bandung

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcsifl.v6i2.26097

Keywords:

Penegakan Hukum, Nafkah Anak, Perceraian

Abstract

Abstract. The enforcement of child support obligations following divorce aims to ensure the fulfillment of children's rights despite the dissolution of their parents' marriage. In judicial practice, determining the amount of child support is often conducted despite the father's financial capacity not being fully established, requiring judges to consider statutory provisions, the best interests of the child, and the principles of Islamic law. This study aims to analyze the enforcement of post-divorce child support through the legal reasoning of judges in Decision Number 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby and its conformity with Qur'an Surah Al-Baqarah verse 233. This research employs a normative juridical method using statutory and case approaches. Legal materials were collected through library research and document analysis and were examined using qualitative legal analysis. The findings indicate that the enforcement of law in the decision is reflected in the application of statutory regulations, the Compilation of Islamic Law, and judicial consideration of the facts presented during the trial in determining child support obligations. The decision upholds the father's responsibility to provide child support and reflects the principles of bil ma'ruf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, the best interests of the child, and justice as embodied in Qur'an Surah Al-Baqarah verse 233.

Keywords: Law Enforcement; Child Support; Divorce.

Abstrak. Penegakan hukum terhadap kewajiban nafkah anak pasca perceraian merupakan upaya untuk menjamin terpenuhinya hak anak meskipun hubungan perkawinan orang tuanya telah berakhir. Dalam praktik peradilan, penetapan besaran nafkah sering dilakukan ketika kemampuan ekonomi ayah tidak diketahui secara pasti sehingga hakim dituntut mempertimbangkan ketentuan hukum positif, kepentingan terbaik bagi anak, serta prinsip-prinsip hukum Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis penegakan hukum nafkah anak pasca perceraian melalui pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Surabaya Nomor 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby serta kesesuaiannya dengan Q.S. Al-Baqarah ayat 233. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum dalam putusan tersebut diwujudkan melalui penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam, serta pertimbangan terhadap fakta persidangan dalam menetapkan kewajiban nafkah anak. Putusan tersebut pada prinsipnya telah menempatkan ayah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas nafkah anak dan mencerminkan prinsip bil ma'ruf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, kepentingan terbaik bagi anak, serta keadilan sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 233.

Kata Kunci: Penegakan Hukum; Nafkah Anak; Perceraian.

References

Afrinal, A., & Aldy Darmawan. (2022). Pemenuhan Nafkah Anak Pasca Perceraian. AHKAMUL USRAH: Jurnal S2 Hukum Keluarga Dan Peradilan Islam, 3(1), 60–70. https://doi.org/10.22373/ahkamulusrah.v3i1.5761
Az-Zuhaili, W. (2013). At-Tafsiirul-Muniir: Fil ’Aqidah wasy-Syarii’ah wal Manhaj jilid 28 (Achmad Yaz). 8.
Gunawan, R. R., & Al Amin, H. (2023). Praktek Pemenuhan Hak Nafkah Anak Pasca Perceraian Oleh Ibu Menurut Q.S. Al-Baqarah Ayat 233 (Studi Di Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah III Ngampel Kota Kediri). Jurnal Al-Qadau, 10, 204–219. https://www.hukum-hukum.com/2018/02/makna-istilah-demi-hukum.html.
Hidayatullah, M. Y., & Mustafa, A. D. (2024). Penambahan Nafkah Anak Pasca Perceraian Perspektif Teori Keadilan Gustav Radbruch. Sakina: Journal of Family Studies, 8(1), 48–63. https://doi.org/10.18860/jfs.v8i1.6482
Mestika Zed. (2008). Metode Penelitian Kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.
Muhammad Syauqi Farid, & Ramdan Fawzi. (2024). Tanggung Jawab Suami Saat Khuruj pada Kalangan Jamaah Tabligh dalam Menafkahi Keluarga. Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam, 105–112. https://doi.org/10.29313/jrhki.v4i2.5194
Peter Mahmud Marzuki. (2016). Penelitian Hukum. Prenada Media.
Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (Vol. 14). Lentera Hati.
Soenardjo. (1971). Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2018 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan, 1 (2018).
Widad, R., Syukur, M., & Mohammad Dendy Musthofa. (2025). Analisis Pertimbangan Hakim dalam Penetapan Nafkah Anak Pasca Perceraian Prespektif Keadilan Hukum (Studi kasus di Pengadilan Kraksaan). Https://Jurnal.Usk .Ac.Id/Riwayat, 3727–3742.
Yulia, N. A., Pasassung n, Ekadayanti, & Ahmad. (2024). Tinjauan Hukum terhadap Ayah yang tidak Memenuhi Nafkah Kepada Anak Pasca Perceraian. Arus Jurnal Sosial Dan Humaniora (AJSH), 4(1), 124–134. http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajshhttp://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajsh

Published

2026-08-03