Implementasi Media Film Animasi "Rafa Superhero Sesungguhnya!" Dalam Penanaman Adab Birrul Walidain pada Santri Dta Al-Ashri

Authors

  • Elsa Tresna Endah Pendidikan Agama Islam

DOI:

https://doi.org/10.29313/bcsied.v6i2.26322

Keywords:

Keywords: Animated Film; Birrul Walidain; Islamic Religious Education Learning Media; Manners; DTA Al-Ashri., Kata Kunci: Film Animasi; Birrul Walidain; Media Pembelajaran PAI; Adab; DTA Al-Ashri.

Abstract

Abstract. The decline of birrul walidain manners among children has become a major concern amid digital technology influences and suboptimal conventional lecture methods in touching emotional dimensions. Preliminary observations in January 2026 at DTA Al-Ashri, Margaasih, Bandung Regency, revealed unmaximized student enthusiasm for visual media. This study aims to describe the objectives, processes, roles, and actualization of implementing the animated film "Rafa Superhero Sesungguhnya!" in instilling birrul walidain manners. Employing a qualitative case study approach, data were gathered through in-depth interviews, participant observation, and documentation involving the institutional head, female teachers, and ten students. Data were analyzed using the interactive model by Miles, Huberman, and Saldana (2014) and validated via triangulation, member checking, and prolonged engagement. Results indicate the implementation aims to shape concrete awareness, encourage emotional engagement, and address audio-visual learning styles. The process encompasses three phases: planning, execution, and evaluation. The film performs four sequential roles: a medium of musyahadah (Al-Qabisi), a tool for qudwah through Rafa, a trigger for qalbiyah awareness, and a driver of tafaqquh connecting narratives with personal experiences following Ibn Khaldun's al-tadriij and al-tikrar principles. Conclusively, animated films effectively instill birrul walidain manners when planned integratively, proving classical Islamic pedagogical relevance in digital-era non-formal education.

Keywords: Animated Film; Birrul Walidain; Islamic Religious Education Learning Media; Manners; DTA Al-Ashri.

Abstrak. Melemahnya adab birrul walidain menjadi keprihatinan di tengah derasnya pengaruh teknologi digital dan kurang optimalnya metode ceramah serta hafalan dalam menyentuh emosi santri. Observasi awal pada Januari 2026 di DTA Al-Ashri, Margaasih, Kabupaten Bandung, menunjukkan antusiasme visual santri yang belum dimanfaatkan maksimal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tujuan, proses, peran, dan aktualisasi implementasi film animasi "Rafa Superhero Sesungguhnya!" dalam menanamkan adab birrul walidain. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi bersama kepala lembaga, ustadzah, serta sepuluh santri. Data dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014) serta diuji melalui triangulasi, member checking, dan perpanjangan pengamatan. Hasil menunjukkan implementasi bertujuan membentuk kesadaran konkret, mendorong keterlibatan emosional, serta menyesuaikan gaya belajar audio-visual santri. Prosesnya berlangsung melalui tiga fase: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Film ini menjalankan empat peran berurutan: media musyahadah (Al-Qabisi), sarana qudwah lewat karakter Rafa, pemantik kesadaran qalbiyah, dan penggerak tafaqquh yang menghubungkan narasi dengan pengalaman pribadi sesuai prinsip al-tadriij dan al-tikrar Ibn Khaldun. Kesimpulannya, film animasi efektif menanamkan adab birrul walidain secara terencana, sekaligus membuktikan relevansi kearifan pedagogis Islam klasik pada pendidikan non-formal di era digital.

Kata Kunci: Film Animasi; Birrul Walidain; Media Pembelajaran PAI; Adab; DTA Al-Ashri.

References

[1] Anam, C., & Millah, A. (2026). Peran Media Audio-Visual dalam Meningkatkan Pemahaman Agama pada Anak. Jurnal Pendidikan Islam, 12(1), 45–58.
[2] Bahri, S. (2022). Konsep Al-Ta’awwud Al-Ghazali dan Implikasinya terhadap Pembentukan Akhlak Anak. Jurnal Studi Islam dan Pendidikan, 10(2), 112–125.
[3] Dami, Z. A., dkk. (2025). Analisis Nilai Karakter Anak melalui Media Film Animasi. Jurnal Pendidikan Anak Dini Usia, 9(1), 30–42.
[4] Dewi, R. K., & Haksasi, P. (2025). Dampak Penggunaan Gawai terhadap Etika Pertuturan Anak kepada Orang Tua. Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Anak, 7(2), 88–97.
[5] Fadillah, N., & Setianingsih, R. (2023). Efektivitas Film Animasi Nussa dan Rara dalam Penanaman Akhlakul Karimah pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 15(1), 67–79.
[6] Fadlan, M., & Besti, N. (2025). Internalisasi Nilai-Nilai Islam melalui Media Animasi Edukatif. Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, 8(1), 101–114.
[7] Faqihuddin, A. (2024). Visualisasi Nilai-Nilai Agama dalam Film Animasi Anak. Jurnal Media Pembelajaran, 11(3), 205–218.
[8] Harneli, T., dkk. (2023). Evaluasi Metode Pembelajaran Adab di Lembaga Pendidikan Non-Formal. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 18(2), 140–152.
[9] Ibda, H. (2023). Perkembangan Moral Anak Usia Sekolah Dasar Menurut Teori Piaget dan Kohlberg. Jurnal Kajian Anak dan Remaja, 5(1), 15–28.
[10] Khaldun, I. (2017). Muqaddimah Ibn Khaldun. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Kosim, M., dkk. (2025). Integrasi Konsep Pembiasaan Al-Ghazali dalam Pendidikan Karakter Modern. Jurnal Pemikiran Pendidikan Islam, 13(1), 50–64.
[11] Kurniawati, E. (2025). Penilaian Autentik Ranah Afektif dan Psikomotorik dalam Pembelajaran Akhlak. Jurnal Evaluasi Pendidikan, 14(2), 175–188.
[12] Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. (3rd ed.). Thousand Oaks: SAGE Publications.
[13] Moh, A., & Nasaruddin. (2025). Makna Qaulan Kariman dalam Penanaman Adab Birrul Walidain. Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, 10(1), 89–102.
[14] Nasution, A., dkk. (2025). Pengaruh Paparan Media Digital terhadap Perilaku Sosial Anak. Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 6(2), 134–145.
[15] Nur'aini, F. (2020). Metodologi Penelitian Kualitatif dan Studi Kasus dalam Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish.
[16] Nuridayah, dkk. (2023). Pemaknaan Ayat-Ayat Birrul Walidain dalam Pembentukan Perilaku Santri. Jurnal Riset Agama, 3(2), 210–222.
[17] Ombudsman RI. (2022). Laporan Tahunan Pengaduan Masyarakat dan Perlindungan Anak. Jakarta: Ombudsman Republik Indonesia.
[18] Permana, D., dkk. (2024). Peran Pendidik dalam Memfasilitasi Diskusi Media Pembelajaran Audio-Visual. Jurnal Inovasi Kurikulum, 9(1), 77–89.
[19] Purnomo, A. (2022). Pemikiran Pendidikan Al-Qabisi: Musyahadah, Tadrib, dan Qudwah dalam Pembentukan Adab. Jurnal Historiografi Pendidikan Islam, 4(2), 150–163.
[20] Putri, A., & Nadlif, M. (2023). Analisis Semiotika Nilai-Nilai Religius pada Film Animasi Anak. Jurnal Studi Media dan Agama, 5(2), 112–124.
[21] Putri, R., dkk. (2026). Penguatan Akidah Akhlak Melalui Tontonan Edukatif Religius. Jurnal Pendidikan Agama, 12(1), 40–53.
[22] Rahayu, S., & Fanreza, R. (2024). Pengaruh Film Animasi terhadap Pembentukan Karakter Empati Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 8(2), 190–201.
[23] Rahmayanti, E., & Hermoyo, R. (2021). Teori Modelling dalam Pembentukan Perilaku Sosial Anak. Jurnal Psikologi Perkembangan, 7(1), 55–68.
[24] Risa, M. (2022). Strategi Pemilihan Media Pembelajaran Berdasarkan Gaya Belajar Peserta Didik. Jurnal Teknologi Pendidikan, 16(2), 130–141.
[25] Rizki, M., dkk. (2025). Transmisi Nilai-Nilai Moral Islam melalui Media Populer Anak. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 11(1), 80–92.
[26] Rosmawati, & Anggelina, S. (2024). Efektivitas Pendekatan Emosional dalam Penanaman Nilai-Nilai Karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 60–72.
[27] Sapitri, N., dkk. (2025). Tantangan Etika Pertuturan Anak di Era Media Sosial. Jurnal Socius, 12(1), 22–35.

Published

2026-08-21