Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES <p><strong>Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science </strong>merupakan wadah publikasi hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang Ilmu Teknik Industri yang telah dipresentasikan pada Seminar Nasional UNISBA yang diselenggarakan tahunan oleh UPT Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bandung. <strong><a title="BCSIES" href="https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/" target="_blank" rel="noopener">BCSIES</a> </strong>ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN <a title="ISSN BCSIES" href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220215211157946" target="_blank" rel="noopener">2828-2132</a>&nbsp;yang diterbitkan oleh <a title="UPT Publikasi" href="https://portal-publikasi.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">UPT Publikasi Ilmiah</a>,&nbsp;<a title="unisba" href="https://www.unisba.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Islam Bandung</a>. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-<em>indeks</em>&nbsp;di&nbsp;<a href="https://scholar.google.com/citations?user=rplwKrkAAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a>,&nbsp;<a href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/27929" target="_blank" rel="noopener">Garuda,</a>&nbsp;<a title="doi" href="https://search.crossref.org/?q=unisba&amp;from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">Crossref</a>, dan&nbsp;<a title="DOAJ" href="https://doaj.org/search/journals?ref=quick-search&amp;source=%7B%22query%22%3A%7B%22filtered%22%3A%7B%22filter%22%3A%7B%22bool%22%3A%7B%22must%22%3A%5B%7B%22terms%22%3A%7B%22bibjson.publisher.name.exact%22%3A%5B%22Universitas%20Islam%20Bandung%22%5D%7D%7D%5D%7D%7D%2C%22query%22%3A%7B%22query_string%22%3A%7B%22query%22%3A%22universitas%20islam%20bandung%22%2C%22default_operator%22%3A%22AND%22%2C%22default_field%22%3A%22bibjson.publisher.name%22%7D%7D%7D%7D%7D" target="_blank" rel="noopener">DOAJ</a>. &nbsp;Terbit setiap <strong>Maret</strong> dan <strong>September.</strong></p> en-US uptpublikasi@unisba.ac.id (Unang Arifin) bcsies@unisba.ac.id (Aditya Haryanto Ramdhani) Wed, 22 Jan 2025 10:59:45 +0800 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Perancangan Pengukuran Kinerja Perusahaan Menggunakan Metode Balanced Scorecard (BSC) di PT House of Rattan https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17100 <p><strong>Abstract.</strong> The industrial process for transforming raw materials into ready-to-use goods is utilized by manufacturing companies. The company must also work to meet customer needs by offering the best services, which can only be achieved by producing high-quality goods quickly. With sufficient resources, the company can rapidly develop high-quality products. To ensure optimal productivity within the company, employee performance evaluation is a necessary step toward acquiring quality resources. The final project research was conducted at PT. House of Rattan, which is an industrial company that produces furniture made from rattan. The raw materials for the bread are obtained by purchasing from local raw material depots that are abundant in Cirebon. The issue identified is that the company is still conducting performance measurements that are not integrated and balanced due to the continued use of manual methods. Performance evaluation in the company only assesses from the perspective of employees. Based on the aforementioned issues, this research will measure performance at PT. House of Rattan using the Balanced Scorecard method (BSC). The measurement results using the Balanced Scorecard (BSC) yielded proposals based on the four BSC perspectives (financial, customer, internal business processes, growth, and learning), resulting in 9 strategic initiatives: 2 initiatives in the financial perspective, 1 initiatives in the customer perspective, 2 initiatives in the internal business processes perspective, and 4 initiatives in the growth and learning perspective.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Proses industri untuk mengubah bahan baku menjadi barang siap pakai digunakan oleh perusahaan manufaktur. Perusahaan juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan menawarkan layanan terbaik, yang hanya dapat dicapai dengan memproduksi barang-barang berkualitas tinggi dengan cepat. Dengan sumber daya yang cukup, perusahaan dapat dengan cepat mengembangkan produk berkualitas tinggi. Untuk memastikan produktivitas optimal dalam perusahaan, evaluasi kinerja karyawan adalah langkah yang diperlukan menuju mendapatkan sumber daya berkualitas. Penelitian Tugas Akhir dilakukan di PT. House of Rattan yang merupakan perusahaan industri yang memproduksi furnitur dari bahan rotan. Bahan baku rotannya diperoleh dari membeli di depot-depot bahan baku lokal yang banyak terdapat di Cirebon. Permasalahan yang ditemukan yaitu, perusahaan masih melakukan pengukuran kinerja yang belum terintegrasi dan seimbang dikarenakan masih menggunakan cara yang manual. Penilaian kinerja di perusahaan hanya menilai dari perspektif karyawan saja. Dari permasalahan yang tersebut, maka pada penilitian ini akan dilakukan pengukuran kinerja di PT. House of Rattan menggunakan metode <em>Balanced Scorecard </em>(BSC). Hasil pengukuran dengan BSC mendapatkan usulan berdasarkan empat perspektif BSC (keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, pertumbuhan dan pembelajaran) didapatkan 10 inisiatif strategi, yaitu 2 inisiatif pada perspektif keuangan, 2 inisiatif pada perspektif pelanggan, 2 inisiatif pada perspektif proses bisnis internal, 4 inisiatif pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran.</p> Rifqa Aufi Zahidah, Nugraha, Dewi Shofi Mulyati Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17100 Thu, 30 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pengendalian Kualitas Jersey Sepeda dengan Metode Six Sigma https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17242 <p><strong>Abcstract.&nbsp;</strong>Convection companies that produce bicycle jerseys, t-shirts, collared t-shirts, sports uniforms, pants and hoodies, face major challenges in managing product defects. In particular, bicycle jersey products have the largest defect rate, namely an average of 8% of the 1397 products produced in a year. This is interesting to study and carry out research to improve product quality by identifying the factors that cause defects and designing improvement proposals to minimize defects in the company's bicycle jersey products. This research was carried out using the six sigma method through the Define, Measure, Analyze, Improve and control stages with jersey product research samples. Defects experienced by bicycle jersey products consist of stitching defects, ink stains, spots and cracks. This has the potential to damage the company's reputation and reduce consumer confidence, as well as affecting competitiveness in the garment industry. This approach helps identify the causes of defects using cause and effect diagrams such as human, material, machine, method and environmental factors, as well as making quality improvement proposals to reduce variations in the process. The results of this study show that the main defects, namely seam defects, ink stains and chips, will be prioritized for analysis and repair. Proposed improvements include comprehensive training for operators, regular rest breaks, clear SOPs, and regular machine maintenance. Thus, the company strives to achieve higher quality and meet company performance targets.</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Perusahaan konveksi yang memproduksi jersey sepeda, kaos, kaos berkerah, Seragam Olahraga, Celana, dan Hoodie, menghadapi tantangan utama dalam mengelola cacat produk. Terutama, produk jersey sepeda yang memiliki tingkat cacat terbesar yaitu rata-rata 8% dari 1397 produk yang dihasilkan dalam setahun. Hal ini menarik untuk dikaji&nbsp; dan dilakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas produk dengan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kecacatan serta&nbsp; merancang usulan perbaikan guna meminimasi kecacatan pada produk jersey sepeda pada perusahaan tersebut. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode six sigma melaui tahapan <em>Define, Measure, Analyze, Improve, </em>dan <em>control </em>dengan sampel penelitian produk jersey. Kecacatan yang dialami produk jersey sepeda terdiri dari cacat jahitan, noda tinta, bintik, dan krikel. Hal ini berpotensi merusak reputasi perusahaan dan mengurangi kepercayaan konsumen, serta mempengaruhi daya saing di industri garmen. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi penyebab cacat yang dilakukan dengan menggunakan diagram sebab akibat seperti faktor manusia, material, mesin, metode, dan lingkungan, serta membuat usulan perbaikan kualitas untuk mengurangi variasi dalam proses. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa cacat utama yaitu cacat jahitan, noda tinta, dan krikel, yang akan diprioritaskan untuk di analisis dan dilakukan perbaikan. Usulan perbaikan meliputi pelatihan menyeluruh untuk operator, pengaturan istirahat rutin, penetapan SOP yang jelas, dan pemeliharaan mesin yang teratur. Dengan demikian, perusahaan ini berupaya keras untuk mencapai kualitas yang lebih tinggi dan memenuhi target kinerja perusahaan</p> Salwa Nadhirah, M Dzikron , Asep Nana Rukmana Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17242 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pendekatan Lean Manufacturing pada Lintasan Produksi Family Produk Pannel PT Dirgantara Indonesia https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17245 <p><strong>Abstract.</strong> PT Dirgantara Indonesia, through the Spirit Aerosystem Division, manufactures Airbus components but faces delays in fulfilling orders due to lengthy manufacturing lead times caused by inefficiencies. To address this issue, production line improvements were carried out using a lean manufacturing approach. The improvement process involved several stages: creating a SIPOC diagram, mapping information and material flow using Value Stream Mapping (VSM) for the current state, comparing takt time and cycle time, and identifying inefficiencies through the Waste Assessment Model (WAM), which includes the Waste Relationship Matrix (WRM) and Waste Assessment Questionnaire (WAQ). Types of waste were analyzed and addressed using the 5W+1H method, followed by proposing improvements and mapping the future state with VSM. Current VSM mapping indicates that the production manufacturing lead time reaches 5,658 minutes, while processing time is only 1,812 minutes. Several workstations, such as Pre-Cutting, have cycle times exceeding takt time. WAQ results reveal that the primary types of waste include motion, inventory, defect, waiting, overproduction, process, and transportation. After implementing the proposed improvements, the manufacturing lead time is estimated to decrease by 33.52%, from 3,568 minutes to 2,372 minutes.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> PT Dirgantara Indonesia, melalui <em>Spirit Aerosystem Division</em>, memproduksi komponen <em>Airbus</em> namun menghadapi kendala keterlambatan dalam memenuhi pesanan akibat manufacturing lead time yang panjang dikarenakan inefisiensi. Untuk mengatasi masalah ini, dilakukan perbaikan lini produksi dengan pendekatan lean manufacturing. Proses perbaikan dilakukan dengan tahapan berikut : pembuatan diagram SIPOC, pemetaan alur informasi dan material menggunakan <em>Value Stream Mapping</em> (VSM) untuk kondisi saat ini, perbandingan antara <em>takt time</em> dan <em>cycle time</em>, serta identifikasi inefisiensi melalui <em>Waste Assessment Model</em> (WAM), yang melibatkan <em>Waste Relationship Matrix</em> (WRM) dan <em>Waste Assessment Questionnaire</em> (WAQ). Jenis pemborosan dianalisis dan diperbaiki menggunakan metode 5W+1H, dilanjutkan dengan usulan perbaikan dan pemetaan kondisi masa depan menggunakan VSM. Pemetaan VSM saat ini menunjukkan <em>manufacturing lead time</em> produksi mencapai 5.658 menit, sementara waktu pemrosesan hanya 1.812 menit. Beberapa stasiun kerja, seperti <em>Pre-Cutting</em>, memiliki <em>cycle time</em> yang melebihi takt time. Hasil WAQ menunjukkan jenis pemborosan utama mencakup motion, inventory, defect, waiting, over production, process, dan transportasi. Setelah usulan perbaikan diterapkan, manufacturing lead time diperkirakan berkurang sebesar 33,52%, dari 3.568 menit menjadi 2.372 menit.&nbsp;</p> Hana Maulana, Chaznin R Muhammad, Nita P.A Hidayat Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17245 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pengukuran Risiko Kerja Menggunakan Work Ergonomic Risk Assessment (WERA) pada Pekerjaan Finishing di PT Sanjaya Tekhnik https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17328 <p><strong>Abstract.</strong> Fatigue and pain in body parts experienced by workers can affect performance. This is caused by physical conditions and workloads that do not match their capabilities. Fatigue and complaints can be reduced by avoiding unnatural working postures such as squatting, bending, and having bent legs. PT. Sanjaya Tekhnik is a manufacturing company producing industrial machine spare parts. The company is currently producing Kaki Stage. The number of products produced does not meet the target, especially in the finishing process for smoothing the Kaki Stage. Based on preliminary observations, operators frequently take breaks and stretch.. The research method used in this study is quantitative. Which work risk assessed using the Work Ergonomic Risk Assessment (WERA) method. The WERA work risk assessment was conducted for the work elements of the finishing work station operator. A work risk assessment was conducted on the finishing workstation operator's working posture, focusing on the setup of the hand grinding machine, the smoothing of the Kaki Stage, and the final setup of the hand grinding machine work elements, resulting in scores of 38, 44, and 40 for each element. A work risk assessment was conducted on the finishing workstation operator's working posture..</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Kelelahan dan keluhan sakit pada bagian tubuh yang dirasakan pekerja dapat mempengaruhi kinerja. Hal tersebut diakibatkan oleh kondisi fisik dan beban kerja yang tidak sesuai kemampuannya. Kelelahan dan keluhan dapat dikurangi dengan menghindari sikap kerja yang tidak alamiah seperti berjongkok, membungkuk, dan kaki menekuk. PT. Sanjaya Tekhnik merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi sparepart mesin industri. Perusahaan saat ini sedang memproduksi produk kaki stage. Jumlah produk yang dihasilkan tidak mencapai target, terutama pada proses finishing untuk penghalusan kaki stage.&nbsp; Berdasarkan pengamatan awal, operator sering melakukan istirahat dan peregangan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengukur risiko yang dialami oleh operator di stasiun kerja <em>finishing</em>. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif. Pengukuran risiko kerja menggunakan metode <em>Work Ergonomic Risk Assessment</em> (WERA). Penilaian risiko kerja dilakukan pada elemen kerja <em>set up</em> awal mesin gerinda tangan, menghaluskan kaki <em>stage</em> dan <em>set up</em> akhir mesin gerinda tangan. Final score yang diperoleh berdasarkan ketiga elemen kerja berturut-turut yaitu 38, 44, dan 40. Berdasarkan hasil penilaian risiko kerja, diperoleh untuk ketiga elemen kerja masuk ke dalam kategori Medium. Kategori Medium yang diperoleh dari hasil penilaian risiko kerja memiliki tindakan yang perlu diselidiki lebih lanjut dan memerlukan perubahan.</p> Adisty Mutia Khaerunnisa, Nur Rahman As'ad, Yanti Sri Rejeki Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17328 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Usulan Perancangan Meja dan Kursi Ergonomi Taman Kanak-Kanak Al-Qur'an Menggunakan Metode Antropometri https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17396 <p><strong>Abstract.</strong> Less ergonomic learning facilities can cause health problems in children. The lack of learning facilities that are suitable for children's posture at TKQ Al-Hikmah can be seen from the posture of children who bend over when they are studying. This can lead to health problems in children's musculoskeletal systems. This study uses the OWAS (Ovako Working Posture Analysis System) method to determine the level of risk of injury to children's posture, and the anthropometric method to obtain the size of tables and chairs that are suitable for children's posture. Data collection was carried out in two ways, namely direct observation at TKQ Al-Hikmah and interviews The results showed that the posture of children when studying had a fairly high risk of injury, especially in the back. This study resulted in the design of ergonomic tables and chairs for children aged 4-6 years using percentiles 5 and 95.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Fasilitas belajar yang kurang ergonomis dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada anak. Kurangnya fasilitas belajar yang sesuai dengan postur tubuh anak di TKQ Al-Hikmah dapat dilihat dari postur anak yang membungkuk ketika sedang belajar. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada sistem muskuloskeletal anak. Penelitian ini menggunakan metode OWAS (<em>Ovako Working Posture Analysis System</em>) untuk mengetahui tingkat risiko cedera pada postur tubuh anak, dan metode antropometri untuk mendapatkan ukuran meja dan kursi yang sesuai dengan postur tubuh anak. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu observasi langsung di TKQ Al-Hikmah dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa postur tubuh anak pada saat belajar memiliki risiko cedera yang cukup tinggi, terutama pada bagian punggung. Penelitian ini menghasilkan rancangan meja dan kursi yang ergonomis untuk anak usia 4-6 tahun dengan menggunakan persentil 5 dan 95.</p> Agung Gumelar, Nur Rahman As’ad Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17396 Sat, 01 Feb 2025 00:00:00 +0800 Usulan Perbaikan Kecacatan Komponen Hinge FWD pada Pesawat Airbus A350 https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17521 <p><strong>Abstract.</strong> PT. XYZ is an aircraft company in Indonesia that produces aircraft components, including the Hinge FWD on the A350 aircraft. In its production process, PT. XYZ has challenges regarding component quality. This study focuses on the defects of the Hinge FWD components at PT. XYZ, using the Seven Quality Control Tools method, especially the Pareto diagram and cause-and-effect diagram. Inspections were carried out on all components, especially the Hinge FWD as many as 380 units with the result that 33 units of components were defective. The types of defects found were discoloration as many as 30 units, while the types of defects were dimension incorrect, dimension undersized, and depth slot oversized each recorded 1 unit. Determination of the priority scale was carried out using a Pareto diagram with the results of the discolouration type of defect being the highest priority, with a total of 30 defective units out of 385 units produced. The results of the analysis showed that the main factors causing component defects were caused by material, method, environment, and human factors. These factors include the quality of raw materials that do not meet specifications, non-compliance with production SOPs, dirty work environments, and operator negligence. To address these issues, proposed improvements include operator supervision, stricter raw material inspections, regular cleaning of work areas, revision of production SOPs, periodic machine maintenance, and the use of inspection checklists to improve component quality and reduce defect rates.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> PT. XYZ adalah perusahaan pesawat terbang di Indonesia yang memproduksi komponen pesawat, termasuk Hinge FWD pada pesawat A350. Dalam proses produksinya, PT. XYZ memiliki tantangan terhadap kualitas komponen. Penelitian ini berfokus pada kecacatan komponen Hinge FWD di PT. XYZ, dengan menggunakan metode <em>Seven Quality Control Tools</em>, khususnya diagram Pareto dan diagram sebab-akibat. Pemeriksaan dilakukan atas semua komponen khususnya Hinge FWD sebanyak 385 unit dengan temuan 33 unit komponen cacat. Temuan jenis kecacatan yaitu <em>discoloration</em> sebanyak 30 unit, sementara jenis kecacatan <em>dimension incorrect</em>, <em>dimension undersized</em>, dan <em>depth slot oversized</em> masing-masing tercatat sebanyak 1 unit. Penentuan skala prioritas dilakukan perbaikan menggunakan diagram pareto dengan hasil jenis cacat <em>d</em><em>iscolouration </em>menjadi prioritas tertinggi, dengan total 30 unit cacat dari 385 unit yang diproduksi. Hasil analisis menunjukan bahwa faktor utama terjadinya kecacatan komponen disebabkan oleh faktor material, metode, lingkungan, dan manusia. Faktor-faktor tersebut meliputi kualitas bahan baku yang tidak sesuai spesifikasi, ketidakpatuhan terhadap SOP produksi, lingkungan kerja yang kotor, dan kelalaian operator. Untuk mengatasi masalah ini, usulan perbaikan yang diajukan mencakup pengawasan operator, pemeriksaan bahan baku yang lebih ketat, pembersihan area kerja secara rutin, revisi SOP produksi, perawatan mesin berkala, serta penggunaan <em>checklist</em> pemeriksaan guna meningkatkan kualitas komponen dan mengurangi tingkat kecacatan.</p> Muhammad Rully Habibi Taqdim, M. Dzikron, Iyan Bachtiar Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17521 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Perancangan Business Intelligence untuk Meningkatkan Penjualan di Java Jones Clothing https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17525 <p><strong>Abstract.</strong> This study aims to develop a Business Intelligence (BI) system tailored to Java Jones Clothing to optimize sales strategies and enhance decision-making processes. By leveraging data from 2019 to 2023, the BI system integrates a Marketing Mix analysis framework (Product, Price, Place, Promotion) to offer comprehensive insights. Using Google Cloud Platform (GCP) services like BigQuery, Appsheet, and Looker Studio, data is processed through Extract, Transform, Load (ETL) methods, forming a robust data warehouse. The resulting dashboards present detailed analyses that aid in evaluating market conditions and refining promotional and pricing strategies. This approach ensures real-time control, streamlined data management, and supports effective sales strategy evaluation and implementation. The study concludes that a well-implemented BI system can significantly elevate business performance by providing actionable insights derived from comprehensive data analysis.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem Business Intelligence (BI) yang disesuaikan untuk Java Jones Clothing guna mengoptimalkan strategi penjualan dan meningkatkan proses pengambilan keputusan. Dengan memanfaatkan data dari tahun 2019 hingga 2023, sistem BI ini mengintegrasikan kerangka analisis <em>Marketing Mix</em> (Produk, Harga, Tempat, Promosi) untuk memberikan wawasan yang komprehensif. Menggunakan layanan <em>Google Cloud Platform</em> (GCP) seperti <em>BigQuery</em>, dan Looker Studio, data diproses melalui metode <em>Extract</em>, <em>Transform</em>, <em>Load</em> (ETL) untuk membentuk data warehouse yang kuat. <em>Dashboard</em> yang dihasilkan menyajikan analisis mendalam yang mendukung evaluasi kondisi pasar serta penyempurnaan strategi promosi dan harga. Pendekatan ini memastikan kontrol secara real-time, pengelolaan data yang efisien, serta mendukung evaluasi dan implementasi strategi penjualan yang efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi sistem BI yang baik dapat secara signifikan meningkatkan kinerja bisnis dengan menyediakan wawasan yang dapat ditindaklanjuti berdasarkan analisis data yang menyeluruh.</p> Gozi Shidiq Munawir, Agus Nana Supena, Djamaludin Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17525 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Implementasi Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellent untuk Memperbaiki Kinerja Perusahaan https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17600 <p><strong>Abstract.</strong> Companies need to carry out performance evaluations to face increasingly fierce competition. The research was conducted at a cargo package delivery company. One of the main performances of cargo companies is delivery delays. Research aims to overcome the problem of delivery delays.&nbsp; The research uses the Malcolm Baldrige Criteria for Excellent Performance method which includes assessing company performance based on seven criteria: leadership, strategic planning, customer focus, measurement, analysis and knowledge management, workforce focus, operations focus, and results. Primary data was collected from 38 company workers at the company branch office. The results of data processing found the lowest score on the operational focus and strategic planning criteria with an overall score of less than 500, namely the company is at the average level with the early improvement predicate level. Analysis of the findings shows that there are weaknesses in the company's operational system, especially in delivery management and supply chain management that are not yet effective. Proposed improvements to improve operational focus performance include a systematic business process improvement approach, using techniques such as Business Process Reengineering (BPR) or Business Process Improvement (BPI), companies can identify the root of the problem, design solutions and optimize operational efficiency.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perusahaan perlu melakukan evaluasi kinerja untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Penelitian dilakukan pada perusahaan pengiriman paket cargo. Salah satu kinerja utama pada perusahaan cargo adalah keterlambatan pengiriman Penelitian bertujuan untuk mengatasi permasalahan keterlambatan pengiriman. &nbsp;Penelitian menggunakan metode <em>Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellent</em> yang mencakup penilaian kinerja perusahaan berdasarkan tujuh kriteria: kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pelanggan, pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan, fokus tenaga kerja, fokus operasi, serta hasil. Pengambilan data primer pekerja perusahaan sebanyak 38 orang pada kantor cabang perusahaan. Hasil pengolahan data menemukan skor terendah pada kriteria fokus operasi dan perencanaan strategis dengan skor keseluruhan kurang dari 500 yakni perusahaan berada pada level <em>average </em>dengan jenjang predikat <em>early emprovement. </em>Analisis atas temuan menunjukan adanya kelemahan dalam sistem operasional perusahaan, khususnya dalam manajemen pengiriman dan pengelolaan rantai pasokan belum efektif. Usulan perbaikan untuk meningkatkan kinerja fokus operasi yaitu salah satunya pendekatan perbaikan proses bisnis yang sistematis, dengan menggunakan teknik seperti <em>Business Process Reengineering</em> (BPR) atau <em>Business Process Improvement</em> (BPI), perusahaan dapat mengidentifikasi akar masalah, merancang solusi, dan mengoptimalkan efisiensi operasional.</p> Elvina Sahda Salsabila, Rakhmat Ceha, M. Dzikron Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17600 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pengukuran Risiko Kerja Menggunakan REBA pada Stasiun Kerja Press https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17621 <p><strong>Abstract.</strong> Musculoskeletal Disorders (MSDs) are often experienced by workers due to non-ergonomic working postures, which can impact both worker health and product quality. CV. Nur Rahmat Teknik, as a manufacturer of heating elements, faces the issue of operator complaints regarding body pain at the press workstation. This problem arises due to operators adopting a bent posture while performing their tasks. Poor working postures, such as bending over, can lead to Musculoskeletal Disorders (MSDs), which not only affect worker health but also reduce productivity and product quality. This study employs the Rapid Entire Body Assessment (REBA) method to analyze the risk of MSDs in operator work activities. The evaluation results indicate high and very high-risk scores in several activities, including pipe setup (score 10), pressing process (score 11), and pipe storage (score 9). These findings highlight the urgent need for corrective actions to mitigate the risks faced by operators. One proposed solution is designing ergonomic work facilities to improve working posture, enhance comfort, and reduce health complaints. By implementing more ergonomic work facilities, the company is expected to create a healthier work environment, increase efficiency, and produce high-quality products. This research contributes to raising awareness of the importance of ergonomics in the workplace.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> <em>Musculoskeletal Disorders</em> (MSDs) sering dialami oleh pekerja akibat postur kerja yang tidak ergonomis, yang dapat berdampak pada kesehatan pekerja dan kualitas produk. CV. Nur Rahmat Teknik, sebagai produsen elemen pemanas, menghadapi permasalahan berupa adanya keluhan rasa sakit pada bagian tubuh operator di stasiun kerja <em>press</em>. Permasalahan ini disebabkan oleh postur tubuh operator yang membukuk pada saat melakukan pekerjaan. Postur kerja yang buruk, seperti membungkuk, dapat menyebabkan <em>Musculoskeletal Disorders</em> (MSDs), yang tidak hanya berdampak pada kesehatan pekerja tetapi juga menurunkan produktivitas dan kualitas hasil produksi. Penelitian ini menggunakan metode <em>Rapid Entire Body Assessment</em> (REBA) untuk menganalisis risiko MSDs pada aktivitas kerja operator. Hasil evaluasi menunjukkan skor risiko tinggi dan sangat tinggi pada beberapa aktivitas, yaitu <em>set up</em> pipa (skor 10), proses <em>press</em> (skor 11), dan penyimpanan pipa (skor 9). Temuan ini menegaskan perlunya tindakan perbaikan untuk mengurangi risiko yang dihadapi oleh operator. Salah satu solusi yang diusulkan adalah merancang fasilitas kerja yang ergonomis untuk memperbaiki postur kerja, meningkatkan kenyamanan, dan mengurangi keluhan kesehatan. Dengan penerapan fasilitas kerja yang lebih ergonomis, perusahaan diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan produk dengan kualitas tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya ergonomi di tempat kerja.</p> Farhan Nurhilal, Nur Rahman As'ad, Yanti Sri Rejeki Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17621 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pemilihan Supplier Lidi Nipah pada Industri Kerajinan Tangan Menggunakan TOPSIS https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17643 <p><strong>Abstract.</strong> CV. Family Handycraft, a producer of palm-based handicrafts, faces supplier selection problems that result in delivery delays and inconsistent raw material quality. This study aims to identify the supplier selection criteria needed by the company and determine the appropriate supplier selection procedure. The TOPSIS (Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution) method was used for decision-making due to its ability to consider positive and negative ideal solutions. Data were collected through interviews and questionnaires, with supplier selection criteria including quality, price, delivery accuracy, service, and payment tolerance. The results showed that PT. B is the best supplier with a preference value of 0.7636 based on TOPSIS calculations. This study recommends CV. Family Handycraft to choose PT. B as a nypa palm supplier and implement a structured and objective supplier selection procedure. It is hoped that the application of the TOPSIS method can improve operational efficiency, reduce production costs, and strengthen the company's competitive position. In addition, this study recommends building a long-term relationship with PT. B as a strategic partner.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> CV. Family Handycraft, produsen kerajinan tangan berbahan baku lidi, menghadapi masalah pemilihan pemasok yang mengakibatkan keterlambatan pengiriman dan kualitas bahan baku yang tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria pemilihan pemasok yang dibutuhkan perusahaan dan menentukan prosedur pemilihan pemasok yang tepat. Metode TOPSIS (Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution) digunakan untuk pengambilan keputusan karena kemampuannya mempertimbangkan solusi ideal positif dan negatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner, dengan kriteria pemilihan pemasok meliputi kualitas, harga, ketepatan pengiriman, pelayanan, dan toleransi pembayaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. B merupakan pemasok terbaik dengan nilai preferensi 0,7636 berdasarkan perhitungan TOPSIS. Penelitian ini merekomendasikan CV. Family Handycraft untuk memilih PT. B sebagai pemasok lidi nipah dan menerapkan prosedur pemilihan pemasok yang terstruktur dan objektif. Diharapkan, penerapan metode TOPSIS dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya produksi, dan memperkuat posisi kompetitif perusahaan. Selain itu, penelitian ini merekomendasikan untuk membangun hubungan jangka panjang dengan PT. B sebagai mitra strategis.</p> Firly Agustina, Rakhmat Ceha, M. Dzikron Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17643 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pengukuran Risiko Kerja Menggunakan Occupational Repetitive Action (OCRA) pada CV. XYZ https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17682 <p><strong>Abstract.</strong> &nbsp;Manual Material Handling (MMH) is an activity of moving objects manually, generally used in small-medium industries because it is cheap and simple. CV. XYZ is a roof tile manufacturing company, all work activities are carried out using manual labor. This study was conducted at the work station for taking raw materials, grinding clay, molding, smoothing, drying, firing, painting and packaging. The problem faced by the company is the failure to achieve production targets every month. This is caused by the high number of worker absences, either due to illness or permission. The study was conducted to reduce the risk of injury and pain complaints caused by MMH activities. Based on these problems, the method used, namely the Occupational Repetitive Action (OCRA) method, was carried out to identify work risks and design work aids that are in accordance with the dimensions of the worker's body in order to minimize the resulting work risks. The results obtained from the assessment of the level of work risk using showed that the OCRA Index value obtained in the work task of taking clay with the work element of taking clay lumps to the mill was 16.34 for the left hand and 16.49 for the right hand. Based on the classification of the OCRA Index value, this job is included in the work risk value in the red-medium risk area. Therefore, it is necessary to design clay cutting tools and handlifts to minimize the work risks that occur to workers.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> &nbsp;<em>Manual Material Handling</em> (MMH) adalah aktivitas memindahkan benda secara manual, umumnya digunakan di industri kecil-menengah karena biayanya murah dan sederhana. CV. XYZ merupakan salah satu perusahaan pembuat genteng, seluruh aktivitas kerja yang dikerjakan menggunakan tenaga manual. Penelitian ini dilakukan pada stasiun kerja pengambilan bahan baku, penggilingan tanah liat, pencetakan, penghalusan, pengeringan, pembakaran serta pengecatan dan pengepakan. Permasalahan yang dihadapi perusahaan adalah tidak tercapainya target produksi setiap bulannya. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketidakhadiran pekerja, baik karena sakit maupun izin. Penelitian dilakukan untuk mengurangi risiko cidera dan keluhan rasa sakit yang disebabkan oleh aktivitas MMH. Berdasarkan permasalahan tersebut, metode yang digunakan yaitu metode <em>Occupational Repetitive Action</em> (OCRA) dilakukan untuk mengidentifikasi risiko kerja dan melakukan perancangan ala bantu kerja yang sesuai dengan dimensi tubuh pekerja agar dapat meminimasi risiko kerja yang dihasilkan. Hasil yang didapatkan dari penilaian tingkat risiko kerja menggunakan menunjukkan bahwa nilai OCRA <em>Index</em> yang didapatkan pada tugas kerja pengambilan tanah liat dengan elemen kerja mengambil bongkahan tanah liat ke penggilingan adalah sebesar 16,34 untuk tangan kiri dan 16,49 untuk tangan kanan. Berdasarkan pengklasifikasian nilai OCRA <em>Index</em>, pekerjaan ini termasuk kedalam nilai risiko kerja pada area <em>red-medium risk</em>. Maka dari itu perlu perancangan alat potong tanah liat dan <em>handlift</em> untuk meminimasi risiko kerja yang terjadi pada pekerja.</p> Alfian Galuh Pratama, Yanti Sri Rejeki, Anis Septiani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17682 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Perancangan Lingkungan Kerja Fisik Bagian Produksi pada PT Sunrise Abadi Jaya https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17702 <p><strong>Abstract</strong>. The physical work environment at PT Sunrise Abadi Jaya, based on measurements conducted over 16 days, showed temperature results ranging from 29.0℃ to 32.5℃. According to Minister of Health Regulation No. 48 of 2016, the maximum temperature to meet health requirements is 26℃. The room humidity was recorded at 58%, whereas, according to the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 1405/Menkes/SK/XI/2002 on Health Requirements for Office and Industrial Work Environments, the ideal humidity should range between 65% and 95%. The noise level measurement was recorded at 87 dBA. Based on Minister of Manpower Regulation No. 5 of 2018, the noise exposure limit for an 8-hour workday is 85 dBA. Measurements using a Multifunction Envirometer showed lighting levels of 10.22 lux for the milling machine, 14.91 lux for the hobbing machine, and 27.56 lux for the lathe machine. According to the Occupational Safety and Health Administration (OSHA, 2010), the standard lighting requirement is 250 lux. These conditions cause the company to replace new products in accordance with the number of defective ones. The purpose of this study is to identify the physical work environment and design improvements that meet established standards. Improvements to temperature and humidity conditions include the addition of two 24-inch turbine ventilators. Natural lighting improvements involve adding 10 windows and skylight roofs, each measuring 1 m², while artificial lighting improvements include the installation of seven LED lamps.</p> <p><strong>Abstrak</strong>. Lingkungan kerja fisik di PT Sunrise Abadi Jaya berdasarkan pengkukuran yang dilakukan selama 16 hari didapatkan hasil untuk suhu 29,0℃-32,5℃, berdasarkan Permenkes nomor 48 tahun 2016 standar suhu agar memenuhi persyaratan kesehatan maksimal 26℃. Kelembaban ruangan sebesar 58%, sedangkan menurut KEP-MENKES RI No. 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, kelembaban berkisar 65%-95%. Pengukuran tingkat kebisingan sebesar 87 dBA, berdasarkan PERMENAKER No. 5 tahun 2018 batas untuk paparan kebisingan kerja adalah 85 dBA untuk waktu paparan selama 8 jam per hari. Hasil pengukuran menggunakan alat Multifungtion Envirometer pencahayaan pada mesin milling sebesar 10,22 lux, mesin hobing sebesar 14,91 lux, mesin bubut 27,56 lux, menurut (Occupational Safety and Health Administration (OSHA), 2010) mengenai standar kelistrikan adalah 250 Lux. Kondisi tersebut mengakibatkan perusahaan harus mengganti produk baru sesuai dengan jumlah yang cacat. Tujuan pada penelitian ini untuk mengidentifikasi lingkungan kerja fisik serta merancang perbaikan lingkungan kerja fisik yang sesuai standar yang sudah ditetapkan. Perbaikan lingkungan kerja fisik suhu dan kelembaban berupa penambahan turbin ventilator sebanyak 2 unit berjenis berukuran 24 inch. Perancangan pencahayaan alami menambahkan jendela ruangan dan atap skylight berjumlah 10 unit dengan ukuran 1 m2 serta pencahayaan buatan menambahkan lampu LED berjumlah 7 lampu</p> Fikri Hawari Azhar, Eri Achiraeniwati, Anis Septiani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17702 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Usulan Perbaikan Budaya Kerja Berdasarkan Metode 5S pada UKM Vanzz Mebel https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17709 <p><strong>Abstract.</strong> In running a company, it must be supported by workers who have good habits, To obtain quality workers, it is necessary to take measures to foster and train workers. The importance of worker habits affects the productivity produced. Therefore, training and coaching of workers must be carried out. Worker coaching can be done by company leaders. This Final Project research was conducted at UKM Vanzz Mebel which is a furniture company that produces chairs, tables, cabinets and so on. The problem in this company is that workers have bad habits, from bad habits workers have an impact on the company, namely experiencing delays in orders for furniture products. Bad habits such as not cleaning the sawdust that has been cut, there is no storage place for tools, production equipment is not stored in its place, the work environment is dirty and employees are not responsible for maintaining and cleaning the tools that have been used. To improve these bad habits, 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) was used. The 5S method collects data that supports the research process obtained by observation and interviews. The data collected is in the form of data on the number of equipment, raw materials, machines, and types of equipment, and types of raw materials. The 5S stages carried out include sorting, structuring, cleaning, standardizing and disciplining. The results obtained from the 5S method are the design of sorting, arrangement, cleaning, standardization and discipline at each work station. Proposals are given in the form of proposed improvements to work station layouts, proposed equipment cabinets and proposed fabric storage areas and proposed ways of disciplining workers. By conducting coaching using the 5S method, coaching will be carried out appropriately.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Dalam menjalankan sebuah perusahaan, harus didukung oleh pekerja yang memiliki kebiasaan baik, Untuk memperoleh pekerja yang berkualitas, perlu dilakukan tindakan pembinaan dan pelatihan pada pekerja. Pentingnya kebiasaan pekerja berpengaruh terhadap produktivitas yang dihasilkan. Maka dari itu harus dilakukan pelatihan dan pembinaan terhadap pekerja. Penelitian Tugas Akhir ini dilakukan di UKM Vanzz Mebel yang merupakan perusahaan mebel yang memproduksi kursi, meja, lemari dan sebagainya. Permasalahan pada perusahaan ini yaitu pekerja memiliki kebiasaan buruk. Kebiasaan buruknya seperti tidak membersihkan serbuk kayu yang telah di potong, tidak ada tempat penyimpanan perkakas, peralatan produksi tidak disimpan pada tempatnya, lingkungan kerja terdapat banyak sampah dan pegawai yang tidak bertanggung jawab untuk merawat dan membersihkan alat yang telah digunakan, dari kebiasaan buruk pekerja berdampak pada perusahaan yaitu mengalami keterlambatan pesanan produk mebel Untuk memperbaiki kebiasaan buruk tersebut maka digunakan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Mengumpulkan data yang mendukung proses penelitian diperoleh dengan observasi dan wawancara. Data yang dikumpulkan adalah berupa data jumlah peralatan, bahan baku, mesin, dan jenis peralatan, dan jenis bahan baku. Tahapan 5S yang dilakukan meliputi pemilahan, penataan, pembersihan, standardisasi dan pendisiplinan. Hasil yang diperoleh dari metode 5S adalah rancangan pemilahan, penataan, pembersihan, standardisasi dan pendisiplinan pada setiap stasiun kerja. Usulan yang diberikan berupa usulan perbaikan lay out stasiun kerja, usulan lemari peralatan dan usulan tempat penyimpanan kain dan usulan cara pendisiplinan pekerja. Dengan melakukan pembinaan menggunakan metode 5S ini maka pembinaan akan dilakukan dengan tepat.</p> Agung Brilian Priliana, Dewi Shofi Mulyati, Anis Septiani Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17709 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Perbaikan Proses Bisnis PT Indah Logistik Cargo Bekasi Timur Menggunakan BPI https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17712 <p><strong>Abstract.</strong> PT Indah Logistik Cargo East Bekasi Branch is a freight forwarding company that aims to distribute goods and documents to all regions, districts and provinces in Indonesia. One of the most widely used services by its consumers is regular land services. However, in conducting the regular land service business process, there are several activities that cause delays, so the package does not arrive on time. To overcome this delay, a Business Process Improvement (BPI) management approach is used as a continuous improvement effort to minimize the factors causing delays and improve the quality of regular ground package delivery services. Tools, which are used are Business Process Modeling Notation (BPMN), Standard Map of Mechanical Engineers (ASME), and Throughput Efficiency Test. The results of the analysis using BPMN show the 3 highest types of delays, namely, the process of recording delivery packages, inputting records, and loading delivery packages that are carried out manually. ASME is used to analyze business processes, while the Throughput Efficiency Test is used to analyze the efficiency of business processes and the causes of delays. The results of the analysis were used to design the required business process improvements using BPI. If the proposed improvements are implemented, it is estimated that the business process will experience an increase in Throughput Efficiency Test from 24% to 50%.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> PT Indah Logistik Cargo Cabang Bekasi Timur adalah sebuah perusahaan jasa ekspedisi pengiriman barang yang bertujuan untuk mendistribusikan barang dan dokumen ke seluruh daerah, kabupaten, dan provinsi di Indonesia. Salah satu layanan yang paling banyak digunakan konsumennya adalah layanan reguler darat. Namun, dalam melakukan proses bisnis layanan reguler darat, terdapat beberapa aktivitas yang menyebabkan keterlambatan, sehingga paket tidak sampai tepat waktu. Untuk mengatasi keterlambatan ini, digunakan pendekatan manajemen <em>Business Process Improvement</em> (BPI) sebagai upaya perbaikan berkelanjutan untuk meminimalisir faktor penyebab keterlambatan dan meningkatkan kualitas pelayanan pengiriman paket reguler darat. <em>Tools</em>, yang digunakan adalah <em>Business Process Modelling Notation</em> (BPMN), Peta Standar of Mechanical Engineers (ASME), dan Uji Efisiensi <em>Throughput</em>. Hasil analisis menggunakan BPMN menunjukkan 3 jenis keterlambatan tertinggi yaitu, proses mencatat paket kiriman, input catatan, dan loading paket kiriman yang dilakukan secara manual. ASME digunakan untuk menganalisis proses bisnis, sedangkan Uji Efisiensi <em>Throughput</em> digunakan untuk menganalisis efisiensi proses bisnis serta penyebab terjadinya keterlambatan. Hasil analisis tersebut digunakan untuk merancang perbaikan proses bisnis yang dibutuhkan menggunakan BPI. Apabila usulan perbaikan diimplementasikan, maka diperkirakan proses bisnis mengalami peningkatan Uji Efisiensi <em>Throughput</em> dari 24% menjadi 50%.</p> Lathifah Mawadah Aqila, Reni Amaranti, Ahmad Arif Nurahman Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17712 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pengendalian Kualitas Menggunakan Six Sigma untuk Mereduksi Kecacatan pada Produk Panel Lower https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17798 <p><strong>Abstract.</strong> This research focuses on the quality control process for panel lower production at PT Dirgantara Indonesia, aimed at reducing defects and improving process capability using the Six Sigma method. The study identifies a high defect rate, as indicated by a Defects Per Million Opportunities (DPMO) of 93,987 and a sigma level of 2.82, reflecting the need for quality improvements. A quantitative approach was employed, collecting primary data from defect records and secondary data through interviews with production personnel. The analysis utilized tools such as fishbone diagrams and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) to identify root causes of defects. The results reveal multiple contributing factors, including human errors due to production pressure, lack of preventive maintenance, material contamination, unclear Standard Operating Procedures (SOPs), and insufficient ventilation on the production floor. Proposed improvements include revising SOPs into more operator-friendly formats, implementing a regular preventive maintenance schedule, providing structured training and mentoring for operators, and enhancing production facilities by adding ventilation systems and better material handling practices. These corrective actions aim to reduce defect rates, improve process stability, and achieve higher production quality. The study highlights the importance of continuous quality improvement to meet customer expectations and enhance production efficiency.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini berfokus pada proses pengendalian kualitas produksi panel lower di PT Dirgantara Indonesia, dengan tujuan untuk mengurangi kecacatan dan meningkatkan kapabilitas proses menggunakan metode Six Sigma. Penelitian ini mengidentifikasi tingkat kecacatan yang tinggi, yang ditunjukkan oleh nilai <em>Defects Per Million Opportunities</em> (DPMO) sebesar 93.987 dan level sigma 2,82, yang mencerminkan perlunya perbaikan kualitas. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan mengumpulkan data primer dari catatan kecacatan dan data sekunder melalui wawancara dengan personel produksi. Analisis menggunakan alat seperti diagram <em>fishbone</em> dan <em>Failure Mode and Effect Analysis</em> (FMEA) untuk mengidentifikasi penyebab akar kecacatan. Hasil analisis mengungkapkan beberapa faktor penyebab, termasuk kesalahan manusia akibat tekanan produksi, kurangnya pemeliharaan preventif, kontaminasi material, SOP yang tidak jelas, dan kurangnya ventilasi di lantai produksi. Perbaikan yang diusulkan meliputi revisi SOP ke format yang lebih mudah dipahami operator, implementasi jadwal pemeliharaan preventif secara teratur, pelatihan dan pendampingan terstruktur untuk operator, serta peningkatan fasilitas produksi dengan menambahkan sistem ventilasi dan praktik penanganan material yang lebih baik. Tindakan korektif ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecacatan, meningkatkan stabilitas proses, dan mencapai kualitas produksi yang lebih tinggi. Penelitian ini menyoroti pentingnya perbaikan kualitas berkelanjutan untuk memenuhi harapan pelanggan dan meningkatkan efisiensi produksi.</p> Alif Hidayat, A Harits Nu'Man , Iyan Bachtiar Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17798 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Perencanaan Kapasitas Produksi dengan Metode Theory Of Constraints pada Konveksi https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17815 <p><strong>Abstract.</strong> Production delays at Thanksdream Garment’s pants production line, which produces jeans, stem from bottlenecks at cutting, sewing, and finishing stations. These constraints limit capacity, delay orders, and reduce profitability. The Theory of Constraints (TOC) was applied to identify and resolve these issues through steps such as identifying, exploiting, subordinating, and elevating bottlenecks.Research findings show that constraint elevation through overtime effectively increases capacity. Adding one hour of overtime to cutting station 1 raised capacity from 120,960 to 138,240 minutes, reducing workload from 111.17% to 97.35%. Sewing station 7’s capacity increased from 161,280 to 184,320 minutes, lowering workload from 110.47% to 96.74%. Finishing station 3’s capacity improved from 80,640 to 92,160 minutes, decreasing workload from 110.25% to 96.55%.These improvements enhanced efficiency, enabling timely order fulfillment. Additionally, throughput or profitability rose significantly from Rp. 647,272,300 to Rp. 713,498,700. This study highlights the importance of addressing bottlenecks to optimize production, improve efficiency, and boost profitability. By applying TOC, Thanksdream Garment successfully reduced delays, increased capacity, and achieved better operational performance.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Keterlambatan produksi di lini produksi celana Thanksdream Garment, yang memproduksi jeans, disebabkan oleh bottleneck di stasiun pemotongan, jahit, dan finishing. Kendala ini membatasi kapasitas, menunda pesanan, dan mengurangi profitabilitas. Teori Kendala (TOC) diterapkan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah ini melalui langkah-langkah seperti identifikasi, eksploitasi, subordinasi, dan elevasi bottleneck. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas melalui lembur efektif dalam meningkatkan produksi. Penambahan satu jam lembur di stasiun pemotongan 1 meningkatkan kapasitas dari 120.960 menjadi 138.240 menit, mengurangi beban kerja dari 111,17% menjadi 97,35%. Kapasitas stasiun jahit 7 meningkat dari 161.280 menjadi 184.320 menit, menurunkan beban kerja dari 110,47% menjadi 96,74%. Kapasitas stasiun finishing 3 meningkat dari 80.640 menjadi 92.160 menit, mengurangi beban kerja dari 110,25% menjadi 96,55%. Peningkatan ini meningkatkan efisiensi, memungkinkan pemenuhan pesanan tepat waktu. Selain itu, throughput atau profitabilitas meningkat secara signifikan dari Rp. 647.272.300 menjadi Rp. 713.498.700. Studi ini menyoroti pentingnya mengatasi bottleneck untuk mengoptimalkan produksi, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan profitabilitas. Dengan menerapkan TOC, Thanksdream Garment berhasil mengurangi keterlambatan, meningkatkan kapasitas, dan mencapai kinerja operasional yang lebih baik.</p> Mochammad Moransyah Dalimunthe, Chaznin R Muhammad, Reni Amaranti Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17815 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Penerapan Metode Quality Control Circle (QCC) pada Produk Tahu https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17843 <p><strong>Abstract.</strong> Defective or damaged tofu products that occur during the production process cannot be reworked; therefore, companies need to pay attention to the tofu production process to maintain the quality of the marketed products (Mulyadi, 2011). This final project research focuses on the Quality Control Circle (QCC) method and an effective way to implement it using seven tools on tofu products at CV.NJ. It was found that many product returns were due to texture defects, making the tofu damaged and unsuitable for consumption. Other customer complaints included differences in size, thickness, and mismatched tofu types with orders. The company also has not established a standard, so this study aims to determine the standard to be implemented. The results show that texture defects are the main issue, with defect rates of 90% in 2022 and 87% in 2023, caused by factors such as materials, human errors, and production methods. Improvement proposals were made using work standardization tools and control charts to monitor the production process. Control chart analysis for 2022, 2023, and their combination revealed a high amount of uncontrolled data, leading to a revision by eliminating out-of-control sample data. Since more uncontrolled data was found than controlled data, a simulation was conducted to establish control limits as company standards. The determined control limits are 0.0034 and 0.0031, with a process capability of 1, a mean of 923,521, a median of 899,699, and a mode of 885,520. By implementing and standardizing these improvement proposals, the number of product returns can be reduced.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Produk tahu cacat atau rusak yang terjadi selama proses produksi tidak dapat dikerjakan ulang, oleh karena itu perusahaan perlu memperhatikan proses produksi tahu tersebut agar dapat menjaga mutu produk yang dipasarkan (Mulyadi, 2011). Penelitian tugas akhir ini berfokus pada metode <em>Quality Control Circle</em> (QCC) dan cara efektif menerapkannya dengan menggunakan seven tools pada produk tahu di CV. NJ. Diketahui banyak pengembalian produk akibat cacat tekstur yang menyebabkan tahu rusak dan tidak layak konsumsi. Keluhan lain dari pelanggan meliputi perbedaan ukuran, ketebalan, serta jenis tahu yang tidak sesuai pesanan. Perusahaan ini juga belum memiliki standar, sehingga penelitian ini bertujuan menentukan standar yang akan diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacat tekstur menjadi masalah utama dengan tingkat cacat 90% pada 2022 dan 87% pada 2023, yang disebabkan oleh faktor material, manusia, dan metode produksi. Perbaikan diusulkan menggunakan alat standarisasi kerja dan peta kendali untuk mengontrol proses produksi. Analisis peta kendali tahun 2022, 2023, dan gabungan keduanya menunjukkan banyak data tidak terkendali, sehingga dilakukan revisi dengan menghapus data <em>sampel out of control</em>. Setelah ditemukan lebih banyak data tidak terkendali dibanding data terkendali, dilakukan simulasi untuk menetapkan batas kendali yang dijadikan standar perusahaan. Batas kendali yang ditetapkan adalah 0,0034 dan 0,0031 dengan kapabilitas proses 1, serta nilai mean 923.521, median 899.699, dan modus 885.520. Dengan menerapkan dan menstandarisasi usulan perbaikan, jumlah retur dapat dikurangi.</p> Kristal Rylla Marisa Nurhidayah, Atep Harits Nu’man, Luthfi Nurwandi Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/17843 Fri, 31 Jan 2025 00:00:00 +0800 Pengendalian Kualitas dengan TQE untuk Minimasi Cacat Produk Spring Guide https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/18083 <p><strong>Abstract.</strong> PT. Gradien Manufaktur Indonesia, a plastic manufacturing company specializing in injection molding, produces Spring Guide shock absorber protectors. The company faces defect rates of 0.54%–2.71%, exceeding the 2% tolerance, leading to increased customer returns. Issues arise from operator inaccuracy and production process challenges. This study applies the Total Quality Engineering (TQE) method to identify defect root causes and the 5W+1H approach for solutions. TQE evaluates product design, raw materials, production, defect classification, inspections, and quality control. Findings highlight issues in sample approval, reliance on visual inspection, and critical defects like short mold and short start. Recommendations include establishing an MOU for material approvals, improving raw material inspections, enhancing QC procedures, operator training, and prioritizing critical defect classifications. Implementing a Material Review Board (MRB) for documentation is also suggested. These measures aim to reduce defects, improve quality, and increase customer satisfaction.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> PT. Gradien Manufaktur Indonesia adalah perusahaan manufaktur plastik yang mengkhususkan diri dalam <em>injection molding</em> dan <em>memproduksi Spring Guide</em> sebagai pelindung <em>shock absorber</em>. Perusahaan menghadapi tingkat cacat 0,54%–2,71%, melebihi toleransi 2%, yang menyebabkan peningkatan retur pelanggan. Masalah ini disebabkan oleh ketidaktepatan operator dan tantangan dalam proses produksi. Studi ini menerapkan metode <em>Total Quality Engineering</em> (TQE) untuk mengidentifikasi akar penyebab cacat serta pendekatan 5W+1H untuk solusinya. TQE mengevaluasi desain produk, bahan baku, proses produksi, klasifikasi cacat, inspeksi, dan pengendalian kualitas. Hasil penelitian menunjukkan kendala dalam persetujuan sampel, ketergantungan pada inspeksi visual bahan baku, serta cacat kritis seperti <em>short mold</em> dan <em>short start</em>. Rekomendasi meliputi pembuatan MOU untuk persetujuan bahan, peningkatan inspeksi bahan baku, perbaikan prosedur QC, pelatihan operator, serta prioritas klasifikasi cacat kritis. Disarankan pula penerapan <em>Material Review Board</em> (MRB) untuk dokumentasi. Langkah-langkah ini bertujuan menurunkan tingkat cacat, meningkatkan kualitas produk, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.</p> Fathan Abdullah Alazhar Ridhoi, Selamat, Iyan Bachtiar Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/18083 Sat, 01 Feb 2025 00:00:00 +0800 Rancangan Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Menggunakan Metode Swift https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/18106 <p><strong>Abstract.</strong> Production activities involving machines and humans require occupational safety and health (OSH) programs to reduce risks of accidents and health hazards. OSH programs involve identifying potential hazards, assessing risks, and systematic preventive measures. Work accidents frequently occur at PT. Jidhosa Buhin Indonesia (JBI), with various incidents reported annually. For example, in 2017, a forklift accident injured two workers. In 2018, four workers were injured by falling boxes, and other incidents occurred every year until 2022, such as workers falling from ladders, being punctured by nails, tripping over bolts, getting caught in machines, and being exposed to hot liquids. These recurring work accidents cause losses to the company, including compensation costs and health impacts on workers. To reduce hazards, the company needs to implement Standard Operating Procedures (SOP) at each workstation, especially in production areas. This is crucial to creating a safe and healthy working environment for all workers.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> Aktivitas produksi yang melibatkan mesin dan manusia membutuhkan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk mengurangi risiko kecelakaan dan bahaya kesehatan. Program K3 melibatkan identifikasi potensi bahaya, penilaian risiko, serta langkah-langkah pencegahan sistematis. Kecelakaan kerja sering terjadi di PT. Jidhosa Buhin Indonesia (JBI), dengan berbagai insiden dilaporkan setiap tahun. Misalnya, pada tahun 2017, kecelakaan forklift menyebabkan 2 pekerja terluka. Pada tahun 2018, 4 pekerja terluka karena tertimpa bok kriko, dan insiden lainnya terjadi setiap tahun hingga 2022, seperti pekerja yang terjatuh dari tangga, tertusuk paku, tersandung dinabolt, terjepit mesin, dan terkena cairan panas. Kecelakaan kerja yang berulang ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan, termasuk biaya kompensasi dan dampak kesehatan pada pekerja. Untuk mengurangi bahaya, perusahaan perlu menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pada setiap stasiun kerja, terutama di area produksi. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi semua pekerja.</p> Muhammad Fakhruzzaman, Mohamad Satori, Aviasti Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/18106 Sat, 01 Feb 2025 00:00:00 +0800 Usulan Pengendalian Kualitas Produk T-Shirt dengan Menerapkan Metode Six Sigma (Dmaic) di PT. XYZ https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/18307 <p><strong>Abstract.</strong> PT. XYZ is a garment manufacturing company that produces clothing items such as jackets, hoodies, shirts, t-shirts, and pants. The company faces a problem of a significant number of defective products found on the production floor. This issue results in losses for the company, including increased time and costs, as well as reduced competitiveness. This study focuses on t-shirt products because they have the highest defect rate, with a percentage of 2.3%. The method used in this study to control the number of defective units is the Six Sigma method. Six Sigma utilizes a quality control approach that follows the DMAIC framework (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) with the integration of the kaizen approach in the "Improve" phase of the DMAIC framework.. The study found that the sub-process with the highest number of defective units is the sewing sub-process with 811 defective units, followed by the cutting sub-process with 649 defective units. The target performance or sigma capability goal should consider the company's existing capabilities and resources. The factors contributing to the high number of defective units include human factors, materials, machinery, methods, and the environment. Quality control suggestions to reduce the number of defective units include providing training for operators, displaying the production process, rechecking threads, replacing old or unfit spare parts, scheduling maintenance, creating red labels to mark unused or problematic tools implementing 5S in the company, and creating standardization and checklists.</p> <p><strong>Abstrak.</strong> PT. XYZ merupakan perusahaan konveksi yang memproduksi pakaian. Produk yang dihasilkan adalah jaket, <em>hoodie, </em>kemeja, <em>t-shirt</em> dan celana. Masalah yang dialami perusahaan masih banyaknya produk cacat yang ditemukan di lantai produksi. Hal tersebut mengakibatkan kerugian bagi perusahaan diantaranya waktu, biaya yang harus dikeluarkan bertambah dan daya saing perusahaan menurun. Penelitian ini difokuskan kepada produk <em>t-shirt </em>karena produk tersebut mengalami jumlah unit cacat terbesar dengan persentase 2,3%. Metode yang digunakan dari penelitian ini untuk mengendalikan jumlah unit yang cacat adalah metode <em>Six Sigma. </em>Metode <em>Six Sigma </em>menggunakan pendekatan dalam pengendalian kualitas yang mengikuti kerangka DMAIC (<em>Define, Measure, Analyze, Improve, Control</em>) dengan integrasi pendekatan <em>kaizen </em>dalam kerangka DMAIC yaitu <em>improve. </em>Hasil dari penelitian ditemukan bahwa sub-proses yang mengalami jumlah unit cacat terbanyak adalah sub-proses penjahitan dengan 811 unit yang cacat dan sub-proses pemotongan dengan 649 unit yang cacat. Kinerja tujuan atau kapabilitas sigma tujuan harus mempertimbangkan kemampuan dan sumberdaya yang ada di perusahaan. Faktor penyebab banyaknya unit yang cacat yaitu manusia, material, mesin, metode dan lingkungan. Usulan pengendalian kualitas untuk mengurangi unit yang cacat yaitu mengadakan pelatihan untuk operator, memberikan <em>display </em>proses produksi, pengecekan ulang pada benang, mengganti <em>sparepart </em>yang sudah tua/tidak layak digunakan, penjadwalan <em>maintenance</em>, membuat label merah untuk penanda alat yang tidak digunakan atau bermasalah, penerapan 5S di perusahaan serta pembuatan standarisasi dan daftar periksa.</p> Alfino Dwi Putra, Asep Nana Rukmana Copyright (c) 2025 Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSIES/article/view/18307 Thu, 06 Feb 2025 00:00:00 +0800