Epistemologi Spiritualitas Said Nursi dan Dakwah Islam Modern
DOI:
https://doi.org/10.29313/bcsibc.v6i2.25836Keywords:
Epistemologi Islam, Spiritualitas, Said Nursi, Dakwah Islam, Masyarakat ModernAbstract
Abstract. This study examines the epistemology of spirituality developed by Said Nursi, a Turkish Muslim reformer, and its relevance to Islamic da'wah in modern society. It is motivated by weakening spiritual life amid rising rationalism, individualism, and materialism, producing a crisis of meaning among contemporary Muslims. Using a qualitative library-research approach supported by interviews with eight informants who practice mountain hiking, this study analyzes Nursi's Risale-i Nur alongside secondary literature. The findings show that Nursi constructs religious knowledge by integrating revelation (wahyu) as the absolute foundation of truth, reason (akal) as the instrument for understanding revelation, and empirical reflection (tafakkur) on nature as a cosmic sign (ayat kauniyah), producing the concept of iman tahqiqi, a verified and reflective faith. Interviews show that engaging with nature strengthens gratitude and religious consciousness. The study concludes that Nursi's epistemology offers a rational, spiritual, and contextual model of da'wah addressing secularization, materialism, and the crisis of meaning in modern life.
Abstrak. Penelitian ini mengkaji epistemologi spiritualitas yang dikembangkan oleh Said Nursi, tokoh pembaru Islam asal Turki, serta relevansinya bagi pengembangan dakwah Islam di masyarakat modern. Penelitian dilatarbelakangi oleh melemahnya dimensi spiritual seiring meningkatnya rasionalitas, individualisme, dan materialisme yang menyertai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga memunculkan krisis makna hidup pada masyarakat Muslim kontemporer. Dengan pendekatan kualitatif jenis penelitian kepustakaan (library research) yang didukung wawancara semi-terstruktur terhadap delapan informan pendaki gunung, penelitian ini menganalisis karya utama Said Nursi, Risale-i Nur, beserta literatur sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nursi membangun pengetahuan keagamaan melalui integrasi tiga sumber, yaitu wahyu sebagai landasan kebenaran mutlak, akal sebagai instrumen rasional untuk memahami wahyu, dan refleksi empiris (tafakkur) terhadap alam sebagai ayat kauniyah. Integrasi tersebut melahirkan konsep iman tahqiqi, yakni keimanan yang teruji dan reflektif. Data wawancara memperkuat kerangka tersebut dengan menunjukkan bahwa penghayatan terhadap alam melalui aktivitas mendaki menumbuhkan rasa syukur dan kesadaran keagamaan pada individu modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa epistemologi Said Nursi menawarkan model dakwah yang rasional, spiritual, dan kontekstual, yang mampu menjawab tantangan sekularisasi, materialisme, dan krisis makna hidup masyarakat modern tanpa meninggalkan prinsip dasar ajaran Islam.