Nilai Ketauhidan dalam Lirik Lagu Sandaran Hati Karya Letto
DOI:
https://doi.org/10.29313/bcsibc.v6i2.24832Keywords:
Semiotika, Roland Barthes, Nilai Ketauhidan, Sandaran Hati, Dakwah Bil HikmahAbstract
Abstract. This study examines the representation of tawhid (monotheism) values in the lyrics of the song “Sandaran Hati” by Letto through the perspective of dakwah bil hikmah (preaching with wisdom). The background of this research is the growing role of popular music as a medium of meaning production for young digital-native audiences, whose engagement with religious values increasingly occurs through cultural texts rather than formal religious instruction. Using a qualitative approach and Roland Barthes’s semiotic analysis, this study dissects the lyrics through a two-order system of signification (denotation and connotation) up to the level of myth or theological ideology. Data were collected through documentation of the song lyrics and literature study of relevant theoretical sources, then analyzed by identifying signs, interpreting their connotative meaning, and abstracting the underlying myth. The results show that at the denotative level, the lyrics depict human limitation, fragility, and existential alienation within the material world. At the connotative level, the metaphor “sandaran hati” (heart’s resting place) is deconstructed from its conventional romantic meaning into a symbol of an absolute and eternal source of dependence, namely Allah SWT. At the mythical level, the song represents the value of tawhid integratively, covering the dimensions of aqidah (awareness of God’s constant presence), syariat (commitment to primordial obedience), and akhlak (tawakal, khauf, and raja’). This study concludes that popular music can function as an effective medium of soft, contemporary dakwah that reaches broad audiences without provoking psychological resistance.
Abstrak. Penelitian ini mengkaji representasi nilai ketauhidan dalam lirik lagu “Sandaran Hati” karya Letto melalui perspektif komunikasi dakwah bil hikmah. Latar belakang penelitian ini berangkat dari semakin besarnya peran musik populer sebagai ruang produksi makna bagi generasi muda digital, yang internalisasi nilai keagamaannya kini banyak berlangsung melalui teks budaya dan bukan semata melalui pengajaran agama yang formal. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis semiotika Roland Barthes, penelitian ini membedah lirik lagu melalui sistem signifikasi dua tahap, yaitu denotasi dan konotasi, hingga menyentuh tataran mitos atau ideologi teologis. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi terhadap teks lirik lagu dan studi kepustakaan terhadap sumber-sumber teoretis yang relevan, kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi tanda, menafsirkan makna konotatifnya, lalu mengabstraksi mitos yang melatarinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran denotatif, lirik lagu ini menggambarkan keterbatasan, kerapuhan, dan alienasi eksistensial manusia di dunia materi. Pada tataran konotatif, metafora “sandaran hati” didekonstruksi dari makna romantis konvensional menjadi simbol tempat bergantung yang absolut dan abadi, yaitu Allah Swt. Pada tataran mitos, lagu ini merepresentasikan nilai ketauhidan secara integratif yang mencakup aspek akidah (kesadaran akan kemahahadiran Ilahi), syariat (komitmen ketaatan primordial), dan akhlak (tawakal, khauf, dan raja’). Penelitian ini menyimpulkan bahwa musik populer dapat menjadi medium dakwah kontemporer yang halus (soft-selling) dan mampu menjangkau khalayak luas tanpa memunculkan resistensi psikologis.
References
Barthes, R. (1972). Mythologies. Macmillan.
El Madja, N. M. (2019). Pesan Dakwah Lirik Lagu “Hasbunallah” Band Ungu (Analisis Semiotik Roland Barthes). Skripsi UIN Sunan Ampel Surabaya.
Fitria, T. N. (2023). A Sufistic Interpretation in Letto’s Songs: Exploring the Relationship between Humans and God through Religious, Philosophical, and Spiritual Elements. JETLEE: Journal of English Language Teaching, Linguistics, and Literature, 3(2), 87–102.
Habibullah, H., Firdaus, D., Arina, T. M., & Nursanti, C. A. (2026). Makna Lagu’33x’Karya Perunggu dalam Perspektif Teologis. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(4), 7281–7293.
Hikmah, I. I. (2023). Pesan dakwah dalam lirik lagu “Sandaran Hati” Letto (Analisis semiotik Charles Sanders Peirce). UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kholis, N. (2018). Syiar melalui syair (eksistensi kesenian tradisional sebagai media dakwah di era budaya populer). Al-Balagh: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 3(1), 103–125.
McQuail, D. (1987). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar-2/E.
Nanda, R. P. P. (2023). Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Lirik Lagu “Aisyah Istri Rasulullah” Syakir Daulay. Communications, 5(1), 280–300.
Nasrullah, R. (2015). Media sosial perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi.
Nasution, H. (1985). Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid 1.
Nurfaujiah, S., & Rambe, I. H. (2025). PESAN DAKWAH DALAM LIRIK LAGU “PULANG (ROBBIGHFIRLII)” KARYA WALI BAND (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES). Jurnal Komunikan, 4(2), 13–33.
Rahman, M. A. (2023). Analisis Semiotika Pesan Dakwah Dalam Lirik Lagu “33x” Grup Band Perunggu. Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication, 3(2), 389–395.
Sansidar, A. N. (2020). Aktualisasi Tuhan dalam Syair: Pesan Dakwah Lirik Lagu “Sebelum Cahaya” Karya Band Letto. Kalijaga Journal of Communication, 2(1), 33–46.
Shihab, M. Q. (2007). “ Membumikan” Al-Quran: fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat. Mizan Pustaka.
Sobur, A. (2001). Analisis teks media: Suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, dan analisis framing.
Wati, T. W. T., & Ikmaliani, D. S. (2022). Representasi makna denotasi dan konotasi dalam lirik lagu Kun Fayakun (Analisis semiotika Roland Barthes). Alibbaa’: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 3(1), 73–102.
Zhuhri, M. H. (2020). Pesan Dakwah Lirik Lagu Lubang di Hati Oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh (Letto Band). Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.