Konstruksi Makna Adzan Dalam Interaksi Sosial Antara Muadzin Dan Siswa
DOI:
https://doi.org/10.29313/bcscm.v6i2.25477Keywords:
Interaksi Simbolik, Kelompok Pertemanan, MuadzinAbstract
Abstract. This study examines the construction of meaning of the adhan (Islamic call to prayer) in social interactions between muadhins and students at SMA Negeri 2 Bandung, using Herbert Blumer's Symbolic Interactionism, complemented by Interpersonal Communication Theory and Reference Group Theory to explain how meaning is negotiated through interaction and peer influence. Situated in a busy urban commercial area, the school represents a dynamic social space where religious symbols compete with academic and peer distractions. Using a qualitative case study method within a constructivist paradigm, data were collected through passive-participant observation, in-depth interviews, and documentation involving six purposively selected informants, comprising muadhins and students. Findings reveal that muadhins experience a dialectic between spiritual duty and impression management, adjusting how they perform the call to prayer to maintain credibility among peers. Meanwhile, students interpret the adhan pragmatically, often as a cue for relieving academic stress rather than a spiritual summons. Peer groups, or cliques, function as critical reference groups where the decision to pray is collectively negotiated, revealing tension between peer solidarity and religious conformity. These dynamics illustrate how religious symbols acquire socially constructed meanings, offering insights for counselors and educators on peers' role in shaping school religiosity.
Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi makna adzan dalam interaksi sosial antara muadzin dan siswa di SMA Negeri 2 Bandung, menggunakan teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer, yang dilengkapi dengan Teori Komunikasi Interpersonal dan Teori Kelompok Rujukan untuk menjelaskan bagaimana makna dinegosiasikan melalui interaksi sehari-hari dan pengaruh kelompok sebaya. Berada di kawasan komersial perkotaan yang ramai, sekolah ini merepresentasikan ruang sosial dinamis, tempat simbol keagamaan bersaing dengan tekanan akademik dan distraksi pergaulan. Dengan metode studi kasus kualitatif dan paradigma konstruktivis, data dikumpulkan melalui observasi partisipan pasif, wawancara mendalam, dan dokumentasi dari enam informan yang dipilih secara purposif, terdiri atas muadzin dan siswa. Temuan menunjukkan bahwa muadzin mengalami dialektika antara tanggung jawab spiritual dan pengelolaan kesan sosial, yang memengaruhi cara mereka mengumandangkan adzan demi menjaga kredibilitas di hadapan teman sebaya. Sementara itu, siswa memaknai adzan secara pragmatis, sering sebagai penanda untuk melepas penat dari tekanan akademik, bukan semata panggilan spiritual. Kelompok pertemanan berperan sebagai kelompok rujukan yang krusial, tempat keputusan untuk salat dinegosiasikan secara kolektif, memperlihatkan ketegangan antara solidaritas sebaya dan konformitas keagamaan. Dinamika ini menggambarkan bagaimana simbol keagamaan memperoleh makna yang terkonstruksi secara sosial, memberikan kontribusi bagi konselor dan pendidik agama mengenai peran teman sebaya dalam membentuk religiositas sekolah.
Kata Kunci: Adzan, Interaksi Simbolik, Muadzin, Kelompok Pertemanan, Keberagamaan Sekolah.
References
Blumer, H. (1998). Simbolinio interakcionizmo metodologinės nuostatos. Sociologija. Mintis Ir Veiksmas, 2(2). https://doi.org/10.15388/socmintvei.1998.2.6765
Bock, K. E., & Merton, R. K. (1969). Social Theory and Social Structure. American Sociological Review, 34(4). https://doi.org/10.2307/2091967
DeVito, J. A. (2019). The Interpersonal Communication Book (14th ed.). Pearson Education. In Sustainability (Switzerland)global (Vol. 11, Number 1).
Febriyani, Y. A., & Indrawati, E. S. (2016). KONFORMITAS TEMAN SEBAYA DAN PERILAKU BULLYING PADA SISWA KELAS XI IPS. Jurnal EMPATI, 5(1). https://doi.org/10.14710/empati.2016.15080
Fenn, R., & Geertz, C. (1974). The Interpretation of Cultures. Journal for the Scientific Study of Religion, 13(2). https://doi.org/10.2307/1384392
Goffman, E. (2016). The presentation of self in everyday life. In Social Theory Re-Wired: New Connections to Classical and Contemporary Perspectives: Second Edition. https://doi.org/10.4324/9781315775357
Kelloway, E. K., Dimoff, J. K., & Gilbert, S. (2023). Mental Health in the Workplace. In Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior (Vol. 10). https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych-120920-050527
Mead, G. H., & Morris, C. W. (2013). Mind, Self, and Society. In Mind, Self, and Society. https://doi.org/10.7208/chicago/9780226516608.001.0001
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014b). Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook. Thousand Oaks. In Sage Publication (Vol. 1304).
Mubasyaroh, M. (2017). Strategi Dakwah Persuasif dalam Mengubah Perilaku Masyarakat. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies, 11(2). https://doi.org/10.15575/idajhs.v11i2.2398
Muhtadi, A. S. (2012). Komunikasi Dakwah: Teori, Pendekatan dan Aplikasi (Edisi Pert). Simbiosa Rekatama Media.
Satriani, A., Satriani, A., & Permatasari, A. N. (2022). Enhancing the Professionalism of Muslim Journalists in Handling Disinformation and Hoaxes During the COVID-19 Pandemic. ASEAN Journal of Community Engagement, 6(2), 244–261. https://doi.org/10.7454/ajce.v6i2.1168