Antara FoMO dan Personal branding
DOI:
https://doi.org/10.29313/bcscm.v6i2.24450Keywords:
Fear of Missing out (FoMO), TikTok, Personal BrandingAbstract
Abstract, This study aims to describe university students' experiences, interpretations, and management of Fear of Missing Out (FoMO) in the process of building digital identity and personal branding on TikTok. The research employed a qualitative method using Alfred Schutz's social phenomenology approach. Data were collected through in-depth interviews and observations of the TikTok accounts of three students selected through purposive sampling. The findings indicate that FoMO is not perceived as a uniform psychological pressure but as a subjective experience shaped by how individuals interpret their social media activities. Students actively select trends, regulate their participation, and construct digital identities based on their personal values and goals. The management of FoMO is reflected through emotional regulation, self-control, and reflective decision-making before and after content is published to maintain a balance between digital presence and personal well-being. This study concludes that FoMO extends beyond social anxiety and functions as an adaptive strategy for developing digital identity and personal branding within today's dynamic digital culture.
Absrak, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman, pemaknaan, dan pengelolaan Fear of Missing Out (FoMO) pada mahasiswa pengguna TikTok dalam proses membangun identitas dan personal branding di ruang digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sosial Alfred Schutz. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi akun TikTok terhadap tiga mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO tidak dimaknai sebagai tekanan psikologis yang bersifat seragam, melainkan sebagai pengalaman subjektif yang dipengaruhi oleh cara individu memaknai aktivitasnya di media sosial. Mahasiswa secara aktif melakukan seleksi terhadap tren, mengelola keterlibatan, serta membangun identitas digital sesuai nilai dan tujuan yang dimiliki. Pengelolaan FoMO dilakukan melalui regulasi emosi, kontrol diri, dan proses refleksi sebelum maupun sesudah konten dipublikasikan sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara eksistensi digital dan kenyamanan pribadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa FoMO tidak hanya menjadi bentuk kecemasan sosial, tetapi juga berkembang menjadi strategi adaptif dalam membangun identitas dan personal branding di tengah dinamika budaya digital.
References
Boeker, M., & Urman, A. (2022). An empirical investigation of personalization factors on TikTok. Proceedings of the ACM Web Conference 2022, 2298–2309. https://doi.org/10.1145/3485447.3512102
Dataloka.id. (2025, 23 Januari). Indonesia Jadi Negara Pengguna TikTok Terbanyak di Dunia 2025. https://dataloka.id/humaniora/4424/indonesia-jadi-negara-pengguna-TikTok- terbanyak-di-dunia-2025/
Effendi, E., Fadila, F., Sitorus, K. T., Pratama, T., & Hsb, W. A. (2024). Interaksionisme simbolik dan prakmatis. Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting, 4(3), 1088-1095.
Fardiah, D. (2025). Psikologi komunikasi: Pemahaman Fisher, 14. Bandung: Universitas Islam Bandung.
Fitriani, N. A., Firmansyah, M. I., Oktaviani, R., & Rizkyanfi, M. W. (2024). The use of social media for personal branding purposes. Jurnal Ilmu Komunikasi Acta Diurna, 20(1), 51–66.
Hasanah, H. (2016). Teknik-teknik observasi (sebuah alternatif metode pengumpulan data kualitatif ilmu-ilmu sosial). At-Taqaddum, 21-46.
Hayran, C., & Anik, L. (2021). Well-being and Fear of Missing Out (FOMO) on digital content in the time of COVID-19: A correlational analysis among university students. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(4), Article 1974. https://doi.org/10.3390/ijerph18041974
Karuni, N. P. P., Cahyani, N. P. E., & Narayana, G. A. A. D. J. (2023). Upaya pelestarian budaya asli Indonesia melalui fenomena FoMO generasi Z di media sosial TikTok menuju Indonesia emas. Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar (PILAR), 3, 418-427.
McCashin, D., & Murphy, C. M. (2023). Using TikTok for public and youth mental health—A systematic review and content analysis. Clinical Child Psychology and Psychiatry, 28(1), 279–306. https://doi.org/10.1177/13591045221106608
Nursufyana, M., & Wahyuni, I. I. (2019). Strategi personal branding Alexander Thian sebagai storygrapher melalui #LetMeTellYouAStory. Universitas Multimedia Nusantara.
Putra, Z. R., & Hayati, N. (2025). Pengaruh konten media sosial terhadap perilaku Fear of Missing Out (FoMO) untuk meningkatkan konsumerisme pada generasi Z. PJHP: Papsel Journal of Humanities and Policy, 2(2), 175–186.
Sobur, A. (2020). Filsafat komunikasi: Tradisi dan metode fenomenologi (Ed. Rev.). Remaja Rosdakarya.
Suwarno, G. R., & Rachmawati, I. (2024). Mengulik masalah self disclosure Gen-Z pada fitur Instagram close friend. Bandung Conference Series: Communication Management, 4(2), 751-757. https://doi.org/10.29313/bcscm.v4i2.14735
Samatan, N., Prakosa, A., Robingah, R., & Napsiah, N. (2024). Personal branding on social media through Peter Montoya analysis. International Journal of Advanced Multidisciplinary (IJAM), 3(1), 55–73. https://doi.org/10.38035/ijam.v3i1.
Wolfers, L. N., & Utz, S. (2022). Social media use, stress, and coping. Current Opinion in Psychology, 45, Article 101305. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101305