Paralanguage dalam Adaptasi Komunikasi Mahasiswa Pontianak di Bandung
DOI:
https://doi.org/10.29313/bcscm.v6i2.23874Keywords:
Paralanguage, Komunukasi Lintas Budaya, Adaptasi Komunikasi, Mahasiswa PontianakAbstract
Abstract. This study discusses the process of paralanguage adaptation among Pontianak students in intercultural communication in Bandung. Differences in accent, intonation, voice volume, and pronunciation became communication challenges experienced by Pontianak students when interacting with local communities in both social and academic environments. This study aims to describe the experiences of Pontianak students in adapting their paralanguage, identify the forms of paralanguage adaptation they perform, and analyze the challenges they encounter during intercultural communication in Bandung. The study employed a qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews and observations involving five Pontianak students as key informants and three additional informants for source triangulation. Data analysis used the Miles and Huberman model through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that Pontianak students experienced differences in interpreting speaking styles, intonation, and language use in daily communication. The adaptation process occurred gradually through observation, communication style adjustment, the use of Indonesian language, and involvement in Bandung’s social environment. Communication challenges included misunderstandings caused by intonation differences, difficulties in understanding Sundanese conversations, and feelings of awkwardness regarding pronunciation differences. This study shows that paralanguage plays an important role in the intercultural The findings indicate that paralanguage adaptation is a dynamic intercultural communication process involving communication style adjustment, cultural understanding, and continuous interaction with the local community in Bandung.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman mahasiswa Pontianak dalam menyesuaikan penggunaan paralanguage, mengidentifikasi bentuk-bentuk adaptasi paralanguage yang dilakukan, serta menganalisis tantangan yang dihadapi dalam komunikasi lintas budaya di Bandung. Perbedaan logat, intonasi, volume suara, dan pelafalan menjadi tantangan komunikasi yang dialami mahasiswa Pontianak ketika berinteraksi dengan masyarakat lokal di lingkungan sosial maupun akademik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman, proses adaptasi, serta tantangan paralanguage yang dialami mahasiswa Pontianak di Bandung. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap lima mahasiswa asal Pontianak sebagai informan utama serta tiga informan tambahan untuk triangulasi sumber. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Pontianak mengalami perbedaan pemaknaan terhadap gaya bicara, intonasi, dan penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Proses adaptasi dilakukan secara bertahap melalui pengamatan, penyesuaian gaya komunikasi, penggunaan bahasa Indonesia, serta keterlibatan dalam lingkungan sosial di Bandung. Tantangan komunikasi yang muncul meliputi kesalahpahaman akibat intonasi, kesulitan memahami bahasa Sunda, hingga rasa canggung terhadap perbedaan pelafalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi paralanguage merupakan proses komunikasi lintas budaya yang berlangsung secara dinamis melalui penyesuaian gaya berbicara, pemahaman budaya lokal, dan interaksi berkelanjutan dengan masyarakat Bandung.
References
Berry, J. W. (2016). Theories and Models of Acculturation. Dalam The Oxford Handbook of Acculturation and Health. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/OXFORDHB/9780190215217.013.2
Fougty, M., Bensig, R., & Ramos, A. L. (2023). Paralanguage Influences in Intercultural Communication of Foreign Nationals in Cebu, Philippines. Journal of World Englishes and Educational Practices, 5(1), 57–64. https://doi.org/10.32996/jweep.2023.5.1.6
Gani, Rita., Thaib, P. R. Raudha., & Karyanti, Rema. (2023). Padusi Minang perantauan dalam pernikahan antarbudaya : inspirasi.
Giles, H., Coupland, N., & Coupland, J. (1991). Accommodation theory: Communication, context, and consequence. Dalam Contexts of Accommodation. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511663673.001
Ilman Chiro Al Gibrani, & Arba’iyah Satriani. (2024). Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa Indonesia Menghadapi Culture Shock. Bandung Conference Series: Public Relations, 4(2), 817–825. https://doi.org/10.29313/bcspr.v4i2.14791
Miles, M., Huberman, A., & Saldana, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook. Dalam cir.nii.ac.jp. https://cir.nii.ac.jp/crid/1970023484843333791
MYHOLYNETS, O. (2019). LEXICAL UNITS DENOTING PARALANGUAGE ELEMENTS OF COMMUNICATION. Науковий вісник Ужгородського університету. Серія Філологія, 2(42), 56–61. https://doi.org/10.24144/2663-6840.2019.2.(42).56-61
Oberg, K. (1960). Cultural Shock: Adjustment to New Cultural Environments. Practical Anthropology, os-7(4), 177–182. https://doi.org/10.1177/009182966000700405
Riza Al Ghifari Suseno, & Rini Rinawati. (2024). Komunikasi Lintas Budaya pada Mahasiswa Perantauan di Universitas Islam Bandung. Bandung Conference Series: Public Relations, 4(1), 37–43. https://doi.org/10.29313/BCSPR.V4I1.10296
Salwa Tsana Shabira, & Rini Rinawati. (2023). Pola Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Perantau Asal Pontianak di Kota Bandung. Bandung Conference Series: Public Relations, 3(2), 992–998. https://doi.org/10.29313/BCSPR.V3I2.9437
Ward, C., Bochner, S., & Furnham, A. (2005). The Psychology of Culture Shock. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203992258