Hubungan antara Pemenuhan Fungsi Afektif dengan Koherensi Diri dalam Komunikasi Keluarga
Abstract
Abstract. A family is a group of people who live together by blood, marriage, or adoption. Lack of affection towards family members will hinder adaptive abilities. It is necessary to apply self-coherence as a representation of a better mental health condition. This study aims to determine the relationship between the fulfillment of affective functions and self-coherence in family communication. Researchers used a correlational analysis technique method using a quantitative approach. The theories used include ecological theory, attachment theory, and moral intelligence theory. With the sampling technique, namely simple random sampling of 100 people. The data collection techniques used in this study were questionnaires and literature studies. The results of this study indicate a correlation of 0.529 with a significance of 0.000 and a level of 0.05 so that r table = 0.195. So, r count = 0.52 9> r table = 0.195 means that there is a significant relationship between the fulfillment of affective functions and self-coherence in family communication.
Abstrak. Keluarga adalah sekelompok orang yang hidup secara terikat dan bersatu atas hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Kurangnya afeksi terhadap anggota keluarga akan menghambat kemampuan adaptif. Diperlukan penerapan koherensi diri sebagai representasi kondisi kesehatan mental yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemenuhan fungsi afektif dengan koherensi diri dalam komunikasi keluarga. Peneliti menggunakan metode teknik analisis korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Teori yang digunakan di antaranya teori ekologi, teori kelekatan, dan teori kecerdasan moral. Dengan teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling sebanyak 100 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan korelasi menunjukkan sebesar 0,529 dengan signifikansi 0,000 dan taraf 0,05 sehingga r tabel = 0,195. Maka, r hitung = 0,529 > r tabel = 0,195 artinya terdapat hubungan signifikan antara pemenuhan fungsi afektif dengan koherensi diri dalam komunikasi keluarga.
References
[2] Antonovsky, A. (1993). The Structure And Properties Of The Sense Of Coherence Scale. Social Science & Medicine, 36(6), 725–733. Https://Doi.Org/Https://Doi.Org/10.1016/0277-9536(93)90033-Z
[3] Apriani, R. (2019). Pendidikan Kecerdasan Moral Pada Anak Usia Dini Perspektif Pemikiran Michele Orba. Institut Agama Islam Negeri (Iain) Bengkulu.
[4] Bronfenbrenner, U. (1986). Ecology Of The Family As A Context For Human Development Research Perspectives. Developmental Psychology.
[5] Dirgagunarsa, S. (1989). Pengantar Psikologi (3rd Ed.). Penabur Sumber Widya
[6] Lambert, N. M., Graham, S. M., Fincham, F. D., & Stillman, T. F. (2009). A Changed Perspective: How Gratitude Can Affect Sense Of Coherence Through Positive Reframing. The Journal Of Positive Psychology, 4(6), 461–470. Https://Doi.Org/10.1080/17439760903157182
[7] Mccartney, K., & Dearing, E. (2002). Child Development. Macmillan.
[8] Munthe, I. S., & Raharjo, S. T. (2018). Pemenuhan Kebutuhan Afeksi Pada Anak (Peningkatan Kemandirian Dan Kepercayaan Diri Di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak-LKSA). Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 1(2), 119–123.
[9] Sukatin, S., Chofifah, N., Turiyana, T., Paradise, M. R., Azkia, M., & Ummah, S. N. (2020). Analisis Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 5(2), 77–90. Https://Doi.Org/10.14421/Jga.2020.52-05
[10] Yarber, A. D., & Sharp, P. M. (2010). Focus On Single-Parent Families: Past, Present, And Future. Bloomsbury Publishing USA Djaslim S. Intisari Pemasaran Dan Unsur-Unsur Pemasaran. Bandung: Linda Karya; 2003.