Pesan Kritis dalam Lirik Lagu "Tak Ada Garuda di Dadaku"

  • Amanda Fauzan Rifqy Prodi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung
  • Andalusia Neneng Permatasari Prodi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung
Keywords: Semiotika, Hip-Hop, Lirik Lagu

Abstract

Abstract. This research semiotically analyzes the lyrics of the song "Tak Ada Garuda di Dadaku" written and performed by the hip-hop group Bars of Death. The aim of this study is to identify the meanings of denotation, connotation, and myth in the lyrics of "Tak Ada Garuda di Dadaku." The research employs semiotic analysis, specifically using Roland Barthes' model, to examine the lyrics of the hip-hop song. The research methodology involves observation, document analysis, and interviews with group members. The findings reveal the main denotative meaning, criticizing various aspects of economic governance and national values deemed detrimental to justice. Additionally, identified connotative meanings include criticism of social injustice, harmful foreign domination, manipulation of social values, and anomalies in the interpretation of freedom and national symbols. Lastly, the overarching mythical meaning suggests that Indonesia has lost its identity and is ensnared in injustice and foreign domination, transforming it from a prosperous nation into an oppressed one.

Abstrak. Penelitian ini menganalisis secara semiotika lirik lagu “Tak Ada Garuda di Dadaku” yang ditulis dan dilantunkan oleh grup hip-hop Bars of Death. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam lirik lagu “Tak Ada Garuda di Dadaku”. Penelitian ini menganalisis semiotika lirik lagu “Tak Ada Garuda di Dadaku” dari grup hip-hop Bars of Death dengan menggunakan model Roland Barthes. Metode penelitian dan pendekatan. Teknik pengumpulan data melibatkan observasi, analisis dokumen, dan wawancara dengan anggota grup. Hasil dari penelitian ini mengungkap makna denotasi utama mengenai kritik terhadap berbagai aspek pemerintahan ekonomi, nilai-nilai nasional yang dianggap merugikan keadilan, sedangkan makna konotasi yang dapat diidentifikasi adalah kritik terhadap ketidakadilan sosial, dominasi asing yang merugikan, manipulasi, nilai-nilai sosial, serta kejanggalan dalam pemaknaan kemerdekaan dan simbol-simbol kebangsaan. Terakhir, makna mitos utama bahwa Indonesia telah kehilangan identitas dan terperangkap dalam ketidakadilan serta dominasi asing, mengubahnya dari negara makmur menjadi negara tertindas.

References

Agato, Y. (2020, Mei 12). Menyelami Alasan Bars of Death Bubar Jauh Sebelum Merilis Kandidat Album Terbaik 2020. VICE. https://www.vice.com/id/article/7kpppd/bars-of-death-album-morbid-funk-album-terbaik-indonesia-2020

Barthes, R. (1977). Image Music Text. Fontana Press

Fazrianto, M. (2023, Februari 27). Menelusuri Jejak Karya Seni Musik Indonesia dari Masa ke Masa

Forman, M. (2002) The 'Hood Comes First: Race, Space, and Place in Rap and Hip-hop. Wesleyan University Press

Frith, S. (2007) Taking Popular Music Seriously: Selected Essays. Ashgate Publishing

Lynskey, D. (2011). 33 Revolutions per Minute: A History of Protest Songs, From Billie Holiday to Green Day.

Meyer, L. B. (1961) Emotion and Meaning in Music. University of Chicago Press.

Mulyana, D. (2008). Metode Penelitian Komunikasi. Remaja Rosdakarya.

Rose, T. (1996). Black Noise: Rap Music and Black Culture in Contemporary America. American Music, 14(2), 231.

Van Zoest, Aart., & Soekowati, A. (1993). Semiotika: tentang tanda, cara kerjanya, dan apa yang kita lakukan dengannya. Yayasan Sumber Agung.

Weber, M. (2015). The Theory of Social and Economic Organization. Simon and Schuster.

Published
2024-02-02